PLOP!
Okee! Sekarang, waktunya—ah, kalian para readers pasti tahu lah. Oke, selamat membacaa!
DISCLAIMER: I do not own HM charas!!
--
---- (Claire's POV) ----
Aku baru saja selesai makan siang. Dan memberi makan hewan-hewan, tak lupa Dablim. Aku juga baru selesai menyiram tanaman. Mau tahu kenapa?
"Chibi-Bokujou!" panggil seseorang.
Yup, hari ini aku akan jalan-jalan bersama Gray. Kemarin dia mengajakku untuk pergi. Yaah, karena hari ini aku tak ada rencana apa-apa, aku bisa pergi.
"Hai, Gray!" sapaku riang. "Gimana, jadi jalan-jalannya?"
"Jadi," jawab Gray. "Yuk, kita kemping ke Mother's Hill."
HAH?! Gray bilang apa tadi? KEMPING?!
--
Gray dengan lincah mendaki bebatuan curam yang ada di Mother's Hill. Aku yang sama sekali enggak pernah kemping, hanya bisa mendaki dengan pelaaaaaaaaaaaaaaaan sekali.
"Chibi-Bokujou!" panggil Gray. Ya ampun, dia sudah setengah jalan! "Kok lelet? Aku bantu deh!" teriaknya sambil mengulurkan tangannya.
Aku langsung memegang tangan Gray. Gray langsung menarikku, karena bobot badanku yang mungkin bisa dibilang seperti menarik bantal sekilo. Aku dan Gray duduk di puncak Mother's Hill sambil melihat-lihat pemandangan. Aku mengaga kagum melihat pemandangan hijau nan asri. Ada beberapa desa lain. "Waaaah... Keren..."
"Desa yang kita lihat dibawah itu, namanya Forget-Me-Not Valley. Desa itu dikenal dengan bar dan alunan musiknya yang terkenal." tunjuk Gray ke arah desa yang hanya terdapat sedikit bangunan.
"Waaah..." pujiku kagum.
"Kalau kau lihat lebih jauh, disana ada kota, namanya Waffle Town, kota yang berada di pulau terpencil."
"Waaah..."
"Forget-Me-Not Valley udaranya bagus, karena penduduknya sedikit sekali. Bunga-bunga yang mekar disana juga bagus-bagus." jelas Gray lagi.
"Gray, kok kamu bisa tahu banyak kota-kota sih?" tanyaku penasaran.
"Aku selalu disuruh hiking bersama kakek. Dulu, waktu aku berlibur, kakek selalu memberitahuku apa saja kota-kota yang kira-kira terlihat dari atas sini." jelas Gray. "Awalnya susah, tapi perlahan-lahan aku bisa menghapalnya."
"Waaah... Gray hebat ya!" pujiku.
---- (Gray's POV) ----
"Aku tak sehebat itu..." jawabku pelan.
Namun perlahan-lahan aku berpikir. Kenapa sekarang aku selalu bersama-sama dengan Claire? Bukannya aku sudah menyerah? Tapi... Aku selalu saja merasa kesal kalau aku mengingat kalau aku mengatakan itu pada Jack. Tapi... Aku selalu merasakan sesuatu saat bersama Claire. Perasaan apa itu ya?
"Gray, kok ngelamun?" tanya Claire.
"Eh—Chibi-Bokujou, enggak ada apa-apa kok..." aku menggeleng sambil tertawa kecil.
Lagi-lagi perasaan itu muncul lagi. Saat aku memanggilnya dengan nama khususku. Saat dia mengadahkan kepalanya didepanku. Bagaikan sekuntum bunga indah yang dimiliki—yah, yang akan dimiliki—yang selalu kuinginkan.
"Aduh!" teriak Claire.
"Eh, kamu kenapa?!" tanyaku khawatir.
"Ka... Kayaknya kakiku kepelitek... Sakitt..." keluh Claire.
"Sini, biar kupijatin..." aku mendekatinya. "Kaki mana yang sakit?"
"Ya... Yang kiri..." tunjuk Claire.
Aku membuka terusan celana panjang Claire dari bawah dan memijati betis Claire yang kecil. Rapuh. Kalau saja ada sesuatu yang keras menghantamnya, bisa saja langsung patah. Ah, mikir apa aku ini.
"Gray..." Claire memanggilku.
"Ya?"
"Sudah jam berapa sekarang?" tanya Claire.
"Jam... 4 sore."
"Tanggal?"
"24 Summer—Ya ampun!" aku menepuk kepalaku.
"Kenapa, Gray?" tanya Claire lagi.
"24 Summer itu ada acara kembang api di pantai—Tak apalah, toh kita pasti bisa melihat dari ketinggian sini." Aku langsung duduk di dekat Claire.
"Wah?! Kembang api?!" Claire mengaga kagum. "Jam berapa kembang apinya dinyalakan?"
"Jam 6 sore. Tunggu saja."
Selagi menunggu, aku dan Claire berbicara banyak hal.
--2 hours later--
---- (Claire's POV) ----
Aku melongo kagum saat melihat bunga-bunga indah berwarna-warni yang menghiasi langit malam, alias kembang api. Arahnya memang dari pantai, tapi kalau dilihat dari ketinggian ini, cukup indah. Indah sekali...
"Hei, Chibi-Bokujou," panggil Gray, yang duduk di sebelahku. "Kau senang sama kembang api, ya?"
"Iya! Aku seneng banget!" jawabku sambil mengangguk riang. "Aku suka sesuatu yang berbentuk bunga! Omochikaeri~~!"
"Hah? Apa artinya tuh?" tanya Gray.
"Omochikaeri itu artinya, 'aku ingin membawanya pulang'!" jawabku ceria. "Aku sukaaa... Sekali!"
Gray tersenyum kecil. Aku juga. "Eh, Gray?"
"Hm?"
"Aku masih penasaran—Apa kau menyukaiku?"
Gray tersentak. Lalu dia tersenyum. "Aku tidak menyukaimu, Chibi-Bokujou. Tapi ada satu perasaan yang selalu mengangguku saat aku bersamamu. Itu perasaan yang lain. It's something else."
Hah? Something else? Sesuatu yang lain?
"Oh ya, Chibi-Bokujou, kau sudah bisa jalan?" tanya Gray sambil menunjuk ke arah kaki kiriku.
"Yah, lumayanlah—" aku mencoba berdiri. "Auw!"
"Wakh!" Gray langsung membantuku berdiri. Kalau tak ada dia, pasti aku sudah terbentur batu karang yang curam.
"Ma... makasih, Gray..."
Gray mengantarku sampai rumah. Huahem, lelah sekali habis kemping seharian sampai larut begini.
"Makasih sudah nganterin aku ya, Gray!" ucapku berterima kasih.
"Chibi-Bokujou," panggil Gray.
"Ya?"
"Pikirkan mengenai 'sesuatu yang lain' itu ya." Gray langsung menutupkan pintu rumahku. Aku bertanya-tanya. Apa maksud 'sesuatu yang lain' ini?
--
Aku memanggil Cliff seusai aku mengurus pertanianku. Cliff, tanpa ditunggu, langsung saja datang.
"Cliff! Makasih ya, selalu datang disaat aku membutuhkanmu," aku menuangkan teh gandum dingin padanya.
"Sama-sama Claire. Aku senang kok bisa membantumu." jawab Cliff lembut. "Kau mau cerita apa padaku hari ini?"
Cliff memang selalu bisa menjadi tempatku bercerita. Bisa dibilang—dialah diary berjalanku. Dia mau mendengarkan keluh kesahku, dia mau ikut bergembira dengan kejadian menyenangkan yang kualami, bahkan ikut sedih dengan kejadian sedih yang kudapatkan.
"Begini, Cliff..." aku memulai cerita. Kuceritakan apa yang terjadi kemarin. "... Dan Gray bilang mengenai 'sesuatu yang lain'. Apa maksud perkataannya, ya, Cliff?"
Cliff bengong.
"Cliff? Cliff? Kamu kenapa?"
"A..." Cliff bangkit dari tempat duduknya. "A—Aku panggilkan kau Karen. Dia ahli soal cinta daripada aku," ucapnya terburu-buru sambil menutupi mukanya, entah karena apa.
Setelah beberapa menit, Cliff kembali ke rumahku sambil membawa Karen, sang kembang desa, pembawa kepemimpinan, penyanyi terkenal, dan koki terparah—itu yang setidaknya pernah kudengar mengenai Karen.
"Ka... Karen ini sepupuku..." jelas Cliff sambil malu-malu. "Nah... Mendingan kau cerita yang terjadi tadi pada Karen, yah... Aku tunggu saja didepan rumah..."
KREK
"Kenapa dia..." gumamku heran.
"Biarin aja dia," Karen duduk di dekatku. "Cowok seperti Cliff selalu mengerti privasi masalah cewek. Nah, coba ceritakan apa yang terjadi padamu."
Aku bercerita lagi sambil menjelaskan apa yang Gray katakan kemarin pada Karen.
Sontak, reaksi Karen? Dia tertawa terbahak-bahak seusai aku bercerita. Aku hanya bisa membatu melihat Karen yang terus tertawa. Karen terus tertawa selama beberapa menit, membuatku makin penasaran.
"Ya ampun, Claire— Kau ini—Kau benar-benar lelet soal cinta ya," Karen menghapus air mata yang mengalir di matanya saking kerasnya dia tertawa. "Kau benar-benar tak mengerti perasaan cowok."
"Jadi maksudmu apa, Karen?" tanyaku penasaran.
"Ya ampun, Claire—Kau benar-benar polos. Sudah berapa kali kau bertanya pada Gray kalau apakah dia menyukai kamu?" tanya Karen.
"2 kali." jawabku.
"Di reaksi pertama, apa dia menangis?"
Aku mencoba mengingat-ingat. Sewaktu itu, Gray hanya menoleh dengan mata merah. Berarti dia habis menangis. Aku mengangguk.
"Apa dia mengacuhkanmu dan bilang menyerah ingin mendapatkanmu?"
Aku mengangguk.
"Apa dia mencoba sedikit demi sedikit mendekatimu?"
Aku mengangguk.
"Apa dia menjauhkan jarak saat kau bertanya lagi pertanyaan itu pada Gray?"
Aku mengangguk lagi. "Sejak kapan kau menguntitku, Karen?"
Karen langsung ngambek. "Enak aja nguntit... Dasar Claire—Kau benar-benar sudah menghancurkan harga diri dan kepercayaan Gray."
"Ta—Tapi ini bukan salahku! Aku cuma—" aku terdiam. Aku tak mampu membantah perkataan Karen. Aku yang egois, selalu ingin tahu perasaan Gray. Tapi aku masih tak mengerti soal 'sesuatu yang lain' itu.
Karen berdiri dan meninggalkanku. "Pikirkan mengenai Gray. Siapa Gray dimatamu. Oke?"
KREK.
Pintu rumahku ditutup, membiarkanku sendirian, diantara kebingungan yang amat sangat.
--
Chapter ini selesai!
Hummm... Apa ganti judul aja jadi Gray's Mining Love? -ketawa garing- -ditampol Jack-
Jack: WOI! TONGOLIN GUE DONG! UDAH 2 chapter gue enggak nongol! Gimana fans gue yang nantiin gue!!
AA: Alah, narsis kau, Jack.... -_- Oh ya, Jack, kau boleh tampil deh di chapter berikutnya.
Jack: Horeee! -loncat kegirangan-
POLP
