Too much pressure... Too much pressure... O_O
Alah! Mikir apaan nih! Oke, selamat membaca!!
DISCLAIMER: I do not own HM charas!
--
---- (Claire's POV) ----
KREEEK
Pintu rumahku terbuka. Cliff masuk ke rumahku. "Bagaimana?"
Aku mengerutkan kening. Tak mengerti apa yang dikatakan Karen. Siapa Gray dimataku?
Cliff tersenyum kecut sambil duduk di meja makan, sama seperti aku. "Apa yang dijelaskan Karen kurang kau mengerti, Claire?"
Aku mengangguk pasrah.
"Eeee..." Cliff menggaruk belakang lehernya. "Setidaknya, kau pikirkan... Siapa Gray bagimu... Yah, itu saja yang bisa kusarankan."
"I... Iya, makasih ya Cliff!" aku tersenyum memaksa, berusaha menyembunyikan kebingunganku didepannya. "Ah... Mau tambah tehmu lagi?"
"Tak usah Claire. Sudah siang, dan aku harus kembali ke Gereja. Carter pasti sendirian." Cliff berdiri dan minta ijin pamit padaku. "Aku pergi dulu ya Claire. Kalau kau ada apa-apa, cerita saja padaku."
"I... Iya, makasih banyak ya Cliff!" aku melambaikan tangan.
Cliff sudah pulang.
Aku menghela napas. Cliff ataupun Karen takkan bisa membantu masalahku. Satu-satunya cara adalah bicara pada Gray sendiri. Namun aku tak punya keberanian. Kenapa aku sampai tak punya keberanian seperti ini?
Aku berjalan menuju rumahku, lalu duduk di tepi tempat tidur. Lalu kuhempaskan badanku ke tempat tidur.
Gray.
Dia memang cowok yang galak saat pertama kali aku berkenalan dengannya. Pertemuan pertamaku memang berjalan dengan baik saat ada dia. Dia yang dengan sukarelawan menawarkanku untuk membawakan kapak perakku saat kapak perakku selesai di-upgrade. Lalu, dia juga pernah membantuku mengartikan arti Spring Thanksgiving Festival meskipun aku harus menangis saat dia menertawakanku. Dia juga sudah membantuku membawakan Abiru ke rumah, meskipun aku harus dimarahi Gray karena aku datang disaat dia sedang dimarahi kakeknya. Dia juga sudah mengajakku ke restoran Kai meski akhirnya aku harus mabuk dan Gray membawaku ke rumah, ditambah lagi membuat Gray pingsan karena makan pancake 'beracun-karena-bukannya-masukin-gula-malah-garam'. Gray juga yang membantuku mendekatkan diriku dengan Jack, meski (kupikir) membuatnya sakit hati. Saat aku sedang menunggui Chelsea melahirkan sendirian, Gray juga langsung datang sampai ke rumahku segala. Dia juga sudah membantuku mengirimkan surat untuk Jack, meski Jack tak datang juga selama beberapa hari ini padaku. Sekarang, dia mendekatiku lagi, dan berkata 'sesuatu yang lain'.
TES
Air mataku menetes. Kenapa aku sedih? Apa yang kutangisi? Apa karena aku kasihan dengan perjuangan Gray selama ini menyadarkanku, bahwa dia menyukaiku? Sebenarnya aku tahu Gray menyukaiku, tapi kuacuhkan saja karena Gray sendiri yang bilang padaku kalau dia sudah menyerah. Apa karena aku sudah berkali-kali menyia-nyiakan perasaan Gray?
TES TES TES
Air mata terus mengalir. Hatiku terasa sakit dan panas. Apa karena... Aku menyukai Gray? Lalu, mana perasaanku pada Jack? Mana?Apa aku cuma kasihan pada Jack, bukan menyukainya? Kenapa aku egois begini? Memiliki perasaan suka... Disukai dan menyukai...
BRAKK!
Aku langsung membanting pintu rumahku dan berlari menuju toko tambang besi.
--
BRAK!
"Ya ampun, anak muda, jangan buru-buru—"
"Tuan Saibara, saya pinjam Gray sebentar saja!"
"Tunggu—"
DRAK!
Dalam beberapa detik, aku langsung menyeret Gray ke pertanianku, tak memperdulikan Gray sedang dimarahi oleh kakeknya tadi ataupun tidak.
KREK!
Aku mengunci pintu rumahku.
"Clai—Chibi-Bokujou, kamu kenapa?" tanya Gray saking kagetnya karena kuculik dadakan.
"Aku ingin bicara." Potongku. "Mengenai 'sesuatu yang lain'."
"Oh," Gray menunduk.
"Bisa kau jelaskan lebih rinci arti 'sesuatu yang lain' itu?" tanyaku sambil menangis pelan. "Aku memikirkannya mati-matian..."
"Oi, Chibi-Bokujou, tak usah sampai nangis gitu..." Gray sepertinya agak kasihan melihatku terus menangis. "Eng, baiklah, akan kucoba mengartikan 'sesuatu yang lain' itu..."
"Ceritakan."
Gray awalnya ragu-ragu harus menjelaskan apa, lalu dia mulai menceritakan segala yang terjadi diantara aku dan Gray.
"Setiap kali aku selalu memanggilmu dengan nama panggilan khususku, setiap kali aku membuatmu menangis, setiap kali aku berada di dekatmu, entah kenapa..." Gray menghela napas. "Aku selalu merasakan 'sesuatu yang lain' itu."
"Gray..."
"Setiap kali aku membuatmu tersenyum dan setiap kau memelukku, aku selalu merasakan itu..."
"G..."
"Setiap kali aku menggandeng tanganmu, aku juga selalu merasakan itu..."
Aku terus saja memperhatikan Gray. Setiap kali dia berbicara, mukanya perlahan-lahan makin merona. Aku mulai mengerti. Gray itu mencintaiku, bukan menyukaiku lagi...
"Jadi... Aku selalu merasa 'sesuatu yang lain' itu selalu muncul saat bersamamu..." Gray makin menunduk.
"Ssst," aku meletakkan jari telunjukku di mulut Gray. "Aku mengerti. Aku sudah mengerti apa yang kau bilang, Gray. Arti dari 'sesuatu yang lain' itu..."
"Ka... Kau sudah mengerti?" tanya Gray sambil menunduk lagi. Aku mengangguk.
BRAK!
Pintu rumahku tiba-tiba terbuka. Ada seseorang yang membukanya.
"Hai! Selamat siang, Claire! Mau enggak kamu..." Jack muncul dengan santainya didepan kami. Lalu dia terdiam tiba-tiba. "Kalian lagi ngapain?"
Aku dan Gray langsung berdiri berdua. Menghadap Jack.
"A... Aku cuma lagi ngobrol sama Chibi-Bokujou." jawab Gray datar sambil menundukkan kepalanya acuh. "Memangnya apa urusanmu?"
"Jelas-jelas ini urusanku!" bentak Jack. "Kenapa kamu mesra-mesraan sama Claire?!"
"Memang kenapa?! Kami Cuma bicara aja kok! Tak boleh!?" bentak Gray balik.
"Jelas-jelas enggak!" bantah Jack. "Sejak hari Claire selesai pulang dari Sunny Town, aku selalu saja tak sempat mengunjungi Claire! Rumah Claire selalu kosong saat aku ingin mengunjungi Claire! Pasti ada apa-apanya dengan kau, Gray!"
"Aku mengajaknya pergi. Memangnya kenapa?" tanya Gray dingin.
"Ka—Kau apa-apaan sih! Bukannya kamu sudah bilang padaku kalau kau menyerah mendapatkan Claire padaku? Sora juga! Tapi sekarang aku lihat kamu berduaan gini... Apa maksud dari ini semua sih?!"
"
Aku terdiam diantara debat Gray dan Jack. Kalau mereka terus-terusan berantem, bisa jadi ada perkelahian! Aku... Harus... Menghentikan mereka!
"HENTIKAN!"
Gray dan Jack menoleh padaku. Aku mulai menangis.
"Ki... Kita bicarakan baik-baik... Kita bicara bertiga, dan jangan ada yang berantem lagi... Oke?" aku lalu duduk di kursi meja makan. "Kalian berdua, duduk disini juga."
Gray dan Jack lalu duduk menghadapku.
"Oke... Kita bicarkan baik-baik, dengan apa yang terjadi dari semua ini. Jack, kau bilang, kau tak pernah sempat mengunjungiku, kan?"
Jack mengangguk.
"Biar kujelaskan, Jack." aku yang masih sesegukan mencoba berbicara. "Sebenarnya dua hari yang lalu, aku mengajakmu untuk pergi ke Mother's Hill untuk bicara. Tapi, sampai malam kutunggu, kau tak datang-datang, Jack."
"Lho? Aku justru enggak tau kalau kau mengajakku ke Mother's Hill kemarin lusa." jawab Jack heran.
"Hah? Masa sih? Gray, apa kamu sudah menaruh surat di kotak pos Jack waktu itu?" tanyaku bingung.
Gray diam.
"Gray... Jujur..." pintaku perlahan.
Gray tetap diam.
"Gray!" panggil Jack angot.
"OKE OKE!" Gray merogoh sakunya dan meletakkan sesuatu yang diambilnya di sakunya. Itu suratku! "Ini surat yang harusnya kuberikan pada kau, Baka-Bokujou. Puas?"
"Apaan tuh Baka-Bokujou?" tanyaku dan Jack.
"Chibi-Bokujou itu artinya petani cilik. Kalau Baka-Bokujou... Ya, petani bodoh." jawab Gray cuek.
"Jangan jadi kambing hitam." Aku langsung mencoba mencegah adanya berantem. "Gray, kenapa kau bohong padaku kalau kau akan mengirimkan suratku pada Jack?"
"Karena... Eee..." Gray menunduk.
"JUJUR, GRAY!" bentak Jack sambil membanting tangan kanannya di meja makanku.
"..." Gray tetap saja tak mau bicara.
"Gray,kumohon, ceritakan," pintaku lagi. "Kenapa kau tak mau melakukannya untukku...?"
"Uh..." Gray menunduk lagi. "Aku..."
"Ceritakan, Gray." suruhku lagi.
"Aku... Yah... Aku..." Gray terbata-bata. "Entah kenapa, aku tak bisa memberikan surat itu padamu, Baka...."
"Jangan panggil aku pakai 'Baka' dong. Jack!" protes Jack.
"Oke, oke, Jack," Gray menghela napas. "Aku mau jujur. Aku masih menyukai Chibi-Bokujou. Bukan menyukai, tapi, mencintai."
Jack terkejut. Aku juga terkejut.
"Gray..." aku terpana mendengar pengakuan Gray tadi. Dugaanku tepat—sangat tepat. "Kau kan sudah tahu—Kalau aku ini menyukai Jack..."
"Iya, tapi..." Gray meremas tangannya. "Aku tak sanggup—melepaskanmu, Chibi-Bokujou. Aku terlanjur mencintaimu."
"Kamu—" Jack mulai gemas meremas ujung baju Gray. "Dasar munafik! Kau bilang kau melepaskan Claire!"
"Kau yang terlalu naif! Aku yang lebih duluan menyukai Claire!" bentak Gray.
"ENGGAK! AKU DULUAN YANG SUKA SAMA CLAIRE, BODOH!"
"HENTIKAN!" teriakku. "Sudah kubilang, kita bicara baik-baik!"
Gray dan Jack diam lagi.
Aku mendekati Gray. "Gray..."
Gray mengadahkan kepalanya menatapku.
"Aku mengerti kalau kau menyukaiku—maksudku, mencintaiku, Gray... Tapi aku tak bisa menerimamu..." aku tersenyum. "Tapi kau harus belajar mengerti arti cinta yang sesungguhnya. Kau tahu kalau aku menyukai Jack. Aku menyukaimu Gray—sebagai sahabat baikku. Kau tahu kan, cinta tak selamanya harus memiliki. Itulah pelajaran yang harus kau rawat baik-baik."
Gray terdiam. Sepertinya dia mencoba mendalami perkataanku baik-baik. Dia tersenyum pelan, lalu berdiri. "Oke, Claire—maksudku, Chibi-Bokujou—maksudku..."
"Kau masih boleh memanggilku dengan panggilanmu itu kok." Aku tersenyum manis.
Gray ikut tersenyum. "Baiklah. Selamat tinggal Chibi-Bokujou... Oh ya, satu lagi. Mungkin aku akan menjadi sahabatmu—sama seperti Cliff."
Aku mengangguk.
--
---- (Jack's POV) ----
Aku bengong sampai-sampai ngiler. Hah? Serius nih ini terjadi? Enggak bisa dipercaya. Gray langsung pergi melepaskan Claire? Ini mimpi atau bukan nih?
"Jack?" panggil Claire.
Aku masih sibuk melong.
"JACK!" teriak Claire tepat di telingaku.
"ADAAAW!" teriakku lantang sambil memegang kupingku. "Aduh, sori Claire!"
"Enggak apa-apa..." Claire tersenyum padaku. "Sekarang hanya ada kita berdua. Boleh kita bicara sebentar?"
"Boleh..."
---- (Gray's POV) ----
Cinta tak harus memiliki... Chibi-Bokujou yang bilang padaku. Ya, cinta memang bisa dimiliki—bahkan bisa juga tidak. Aku tersenyum kecut. Aku memang tak bisa menang dengan Baka-Bokujou itu.
KLONTANG! KLONTANG!
"Aaaw!" teriakku lantang. Ada sesuatu menimpa kepalaku. Apaan nih?!
"Dasar bego! Géblek! Autis! Bego!" teriak orang yang ada di belakangku. Saat aku berbalik, aku melihat sesosok pria berambut silver ngambek. Sora?
"Dasar bego!" sekali lagi Sora menyerangku dengan 2 panci 'curian' ke kepalaku. "Bego! Tolol! Kenapa sih, udah nyerah, udah bikin aku juga merelakan bidadari cantikku... Kau malah ambil kesempatan?! Dasar authoress bego! Author Stress! Sarap! Bikin gue nyerah sendirian!!"
"Apaan sih? Kalau mau marah sama authornya, jangan sama aku dong! Sakit nih!" aku mencoba melindungi kepalaku dari amukan panci Sora.
"Biarin! Kamu yang licik, dapat kesempatan untuk ngedapetin bidadariku!"
"Tapi aku juga enggak berhasil kok!"
"Hah?" Sora berhenti menyerangku dengan panciku dan panci Jack. "Kamu... Gagal?"
"Ya iyalah, namanya juga patah hati..." jawabku sambil tertawa pahit.
"Yaah,setidaknya, kita senasib, kok..." Sora menepuk bahuku dengan santai. "Soulmate!"
"Apaan tuh! Hahaha!" aku tertawa.
Aku tertawa, dan terus saja diserang panci oleh Sora.
"Oh ya, ngomong-ngomong, namamu juga dari bahasa Jepang, yah?" tanyaku.
"Oh? Engga, namaku bukan Sora. Nama asliku Skye Steiner." jawab Sora menyebutkan nama aslinya.
--
Chapter ini selesai!!
Horee, tinggal satu chapter lagiii~~!!!
RnR~~~!!!!
