Hehe, nongol juga akhirnya. Updet nih! The last chap!!

Tak kusangka malah ada yang minta yaoi Ishi-Ulqui. Aku nggak bisa buat yang begituan. Sebisanya aja ye? Udah mau lebaran, kasian kalo Ichi di buat menderita terus. Bakalan ada yang aneh lagi di sini! Maaf kalo tidak sesuai request and mengecewakan!! –sujud2-

OK. Let's!!

Puasa ala anak Kos

Chapter 3

By Raeru Nikaido

Siang yang lumayan panas seperti biasanya. Suasana yang lumayan damai bagi seorang pengangguran. Sama halnya dengan Ichigo sekarang ini. Dia hanya bersantai dengan teman-temannya yang lain. Mereka berkumpul di depan kamar Ichigo. Renji sibuk menjadi satria bergitar dengan suaranya yang bisa membelah bumi dan langit. –emang udah kebelah kale!- yang kontan membuat para cewek tepar sambil nutupin telinga dan para cowok ngungsi di tenda darurat bencana alam.

Males dengerin suara Renji yang merdu sekali bagaikan radio rusak dan cuma paus yang bisa tahan denger suaranya -paus aja ampe terdampar-, para cewek pergi shoping, yang tentu saja dipimpin oleh Matsumoto, emang siapa lagi ratunya kalau bukan dia. Semangatlah para cewek mengekor Matsumoto ke Mall. Maklumlah namanya juga lebaran, cewek selalu butuh baju baru. Itu kalau cewek normal. Kalau Tatsuki ama Soi Fong mana mungkin punya acara shoping begituan. Paling alasan mereka sebenarnya ya kesempatan lari dari suara Renji tadi.

"Haduh, kok jadi sepi gini? Para cewek pergi semua gara-gara elu Ren!" Yumi jadi linglung sedetik tak melihat Matsomoto. Tidur bangun lagi, duduk berdiri lagi, jalan ke sana jalan ke sini. Sampe Ulqui dan Ishida yang lagi serius baca buku kuliahnya jadi pusing, bukan karena materinya tapi karena ngliat Yumi.

"Kok gue!! Sirik banget sih ama temen yang punya bakat nyanyi! Ntar kalo gue terkenal nggak akan melupakan kalian kok! Iya kan, Ichi?" Renji menepuk-nepuk dadanya yang busung dengan bangga.

"Hmm…. Iya Rukia aku janji akan selalu ada di sisimu…." Ichigo menjawab pertanyaan Renji yang dilihat dari sisi manapun jawaban tersebut emang nggak nyambung. Setelah mereka puas bercengok ria, mereka bisa ber 'ohh' lega. Ternyata matanya merem.

"Wah, parah loe Ichigo!! Kerjaannya molor terus kalo puasa. Semangat dikit napa?"

Berjam-jam sudah mereka melakukan hal-hal yang tak penting. Setengah hari sudah mereka melewati masa pengangguran bersama. Bukan nganggur nggak punya kerjaan, tapi sekarang hari minggu. Kuliah juga libur donk….

SIING….. sepi banget…

"Uwaa… bowling gue lama-lama di sini!!" ke-frustasi-an Renji memecah kesunyian.

"Hah, bowling? Maksud loe?" Yumichika yang linglung jadi tambah linglung.

"Ya, ampun Ren… yang bener boring bukan bowling. Gue yang setengah sadar aja tau!" Ichigo ternyata adalah satu-satunya orang yang memahami bahasa alien Renji.

"Baka!" Ishida dan Ulqui kompak. Bakat juga mereka berdua jadi anggota paduan suara.

"Iye iye!! Udah, buruan kita walking-walking!! Loe juga cepetan bangun. Jangan molor mulu! Cepet melek!" Renji nglempar gitar ke arah kepala Ichigo. And… DUKK!! Tepat sasaran juga si Renji itu! Emang di mana and kapan aja, kepala Ichigo nggak pernah selamet.

Jadilah mereka jalan-jalan tanpa arah. –nubruk dong?- Yaa… mereka hanya berjalan mengikuti arah angin. Mungkin mereka akan pergi ke barat mencari kitab suci. –apaan lagi tuh?-

"Heh, lepasin! Aku nggak mau ikut kalian! Kalian mau nyulik aku ya?" seorang anak kecil di seret oleh segerombolan orang yang kelihatannya brutal. Mereka menyeret anak itu ke gang buntu tak jauh dari TKP.

"Eh eh, ada anak kecil yang mau diculik tuh? Gimana nih?" Yumi narik-narik baju Renji.

"Ayo kita liat!! Ntar kalau tu anak diapa-apain gimana?" Renji paling nggak bisa membiarkan kejahatan terjadi. Kayaknya baru aja dia tadi jadi satria bergitar, sekarang dia jadi satria bertato di jidat.

"Apa? Lha kalau nanti malah kita yang diapa-apain gimana? Aku nggak mau wajahku ini terluka! Kita pura-pura nggak liat aja!" Yumichika menghentikan Renji yang berlari ke arah TKP.

"Huh, dasar payah! Pulang saja sana! Kami bisa mengatasi ini tanpa kau!" Ishida ketus.

"Yang namanya pahlawan tidak akan lari dalam situasi apapun." Ulquiorra mengepalkan tangan pertanda siap bertarung. Dia anak sastra kali ya bisa dapat semboyan kayak gitu.

"Emang elu pahlawan? Nggak usah sok cool! Sok jadi pahlawan pula!" Yumi nggak terima diremehkan dua orang yang sok dalam segalanya alias couple yang patut ditanyakan kejelasan hubungannya.

"Dasal Pleman! Pelampok!" anak kecil itu meronta berusaha melepaskan diri dari orang yang bertubuh besar dan rambutnya disemir hijau. Sedangkan orang berambut putih yang senyum-senyum gaje, mengambil uang dari saku anak itu.

Ichigo dkk ngintip dari ujung gang.

"Eh, anak itu ternyata si bocah celat ya!!" Ichigo tiba-tiba teringat seseorang ketika melihat anak berambut putih itu lebih dekat.

"Loe kenal ma tu anak?"

"Gimana sih loe, Ren? Tu anak yang membawa malapetaka bagi gue! Gara-gara dia gue jadi sekarat! Siapa ya nama tu anak? Lupa…" Ichigo garuk-garuk kepala berusaha mengingat nama anak kecil itu. Yaa, kalau udah pikun ya pikun aja Ichi, Ichi…

"Hei, kalian cepat lepaskan anak itu!" tanpa dikomando, Ulquiorra menampakkan diri di depan para preman dengan sikap menantang. Ishida mengikuti di belakang.

"Wah. Kapan mereka ada di sana? Belum nyusun strategi juga. Cari mati aja!" Ichigo kelimpungan sendiri memikirkan apa yang akan terjadi.

"Sial! Gue kalah cepat ma mereka!" Renji sih cuma pengen nunjukin otot besarnya doang.

Terlanjur Ulquiorra dan Ishida menampakkan diri, apa boleh buat Ichigo dan Renji juga ikut menampakkan diri. Kecuali Yumichika tentunya. Dia tetep ngumpet di ujung gang.

Cukup lama mereka saling menunjukkan sorot mata yang tajam. Pandangan mata mereka tak beralih dari lawan. Kalau diartikan menjadi kata-kata, mungkin mereka akan berkata 'Kuhajar Kau!!'

"Kau… kau bukankah Ulquiorra?" makhluk berambut hijau yang biasa dipanggil Gimmjow ternyata mengenali Ulquiorra.

"Ya. Jadi kau masih ingat padaku?"

"Mana mungkin kami melupakan orang yang pernah mejadi anggota kami. Bukankah begitu ketua?" Grimm menoleh ke arah orang yang dipanggilnya ketua itu.

"Lama tak bertemu ya? Kenapa kau tiba-tiba menghilang dari kami?" si ketua bernama Aizen mulai angkat bicara dengan topik yang agak berat.

Dengan mendengar percakapan tiga orang ini, bisa disimpulkan bahwa Ulquiorra Schiffer adalah mantan preman. Ichigo dan Renji cengok karena tak menyangka orang yang rajin, pinter dan alim -???- bernama Ulquiorra adalah mantan preman. Si rambut putih Hitugaya hanya bisa celingukan tak mengerti arah pembicaraan.

"Maaf saja aku sudah tobat. Aku sudah tidak mau lagi malakukan perbuatan-perbuatan kriminal lagi. Sejak bertemu Ishida, aku menyadari segalanya." Ulqui emang orang terhormat. Kata-katanya aja teratur banget. Beda dengan Ichigo, Renji dan Yumi yang 'elu-gue, elu-gue'. Dan ternyata Ishida adalah pahlawan bagi Ulqui. –suasananya jadi agak romance-

"Kapan nih berantemnya? Kok nostalgila terus?" Renji nggak sabar ingin segera baku hantam dengan tiga orang preman itu.

"Nostalgia, Ren… payah lu!"

Mereka malah sibuk dengan urusannya sendiri. Sama sekali tak menyadari telah melupakan sesuatu, yaitu sang korban pemalakan, Hitugaya. Merasa menjadi orang terlupakan dan tak dipedulikan, Hitsugaya meloloskan diri dengan mudah walau disertai sakit hati.

"Eh, mau ke mana kau?" Ichigo menarik tangan Hitsugaya saat berpapasan.

"Tentu aja pulang. Memangnya mau ke mana lagi!?" Hitsugaya ngambek stadium akhir. Namanya juga anak-anak, pengenya diperhatikan terus.

"Uangmu gimana?"

"Haha… aku kan anak olang kaya, lumahku besal, uangku juga banyak! Ya udah telima kasih untuk bantuan yang ke dua kalinya. Ja!!" pergilah si rambut putih tanpa beban sedikitpun. (A/N: silakan bahasanya Shiro diterjemahkan sediri –ga bertanggung jawab-)

"Dasar tu anak emang selalu bikin repot gue!"

"Ya udahlah yang penting dia inget kebaikan loe, Ichi." tumben Renji bisa mikir normal.

Berakhirlah peristiwa gaje dengan gaje pula. Entah seperti apa kelanjutan nostalgia antara Ulquiorra dengan para preman itu, nggak ada yang mau tau lagi. Ya udah deh pada pulang semua...

-

-

»------«

19.00

Malam ini rame banget. Banyak anak-anak beserta orang dewasa jalan arak-arakan sambil bawa obor. Nggak ketinggalan juga suara bedug yang dipukul tanpa henti sedari tadi. Maklumlah besok udah lebaran. Jadi sekarang pada takbiran dulu.

Ichigo dan yang lain nggak ikut kegiatan kayak gitu. Toh besok mereka juga pada mudik ke kampung mereka masing-masing. Jadi mereka mengadakan pesta kecil-kecilan untuk perpisahan sementara.

"Eh, ini apaan?" tanya Ichigo pada gadis di sampingnya.

"Ya jagunglah masa pisang?" jawab Rukia

"Jagung kok kaya gini? Mana jagungnya? Kok udah bersih?"

"Hehe… buat makan kelinciku. Yang jual wortel udah mudik duluan jadi aku nyabut jagung di kebun Pak Haji Urahara." jelas Rukia dengan senyum polos seperti biasa.

'Ini cewek, udah nyuri masih aja nunjukin wajah tak berdosa… meskipun begitu, aku tetap cinta padamu Rukia!' batin Ichigo sambil cengar-cengir sendiri.

"Heh, Ichi ada apa?" Rukia nepuk bahu Ichigo yang membuat Ichigo kaget.

"Eh, Ah nggak apa-apa! Kita cari lagi yuk!" Ichigo menggandeng tangan Rukia.

Seperti itulah kencan ala Ichigo dan Rukia. Sama sekali nggak ada yang modal. Kencan yang sederhana namun bahagia. Walau hanya dapat bersama saat menuai jagung. So sweet~

Tentu saja hasil panen jagung Ichigo dan Rukia nggak sia-sia. Giliran Renji yang bertindak.

"Eh, ini jagung mau diapain nih?" Renji memilah-milah jagung yang bertumpuk di depannya.

"Diapain ya? Mm… dibakar ajalah! Kayaknya enak tuh." Rukia ambil keputusan. Jadilah Renji, Ichigo dan Rukia bakar jagung di halaman kos mereka. Inoe ikut gabung. Kalau Yumi nggak usah ditanya lagi. Pastinya dia lagi ama Matsumoto. Yang lain sibuk dengan sohib-sohibnya. Tatsuki dengan Soi Fong. Ishida dengan Ulquiorra. Entahlah mereka lagi ngapain.

OK, setelah sibuk urusan masing-masing, saatnya menikmati jagung bakar ala Ichi, Ruki, Ren dan Inoe. Entah mateng, mentah, setengah mateng, setengah mentah, atau malah kelewat mateng alias gosong. Yang makan nggak pada protes tuh. So, sukseslah acara bakar-bakaran jagungnya.

-

-

»------«

Suasana yang damai di suatu pagi. Lantunan shalawat tak berhenti dikumandangkan. Lebaran telah tiba!!

Lengkap sudah satu bulan mereka melaksanakan ibadah puasa. Setelah satu bulan mereka menahan lapar, haus dan hawa nafsu, akhirnya tiba juga hari raya Idul Fitri. Hari yang identik dengan silaturahmi.

Usai Ichigo dkk melaksanakan sholat Id di masjid terdekat, mereka saling berjabat tangan. Memohon maaf atas segala perbuatan nista yang telah mereka lakukan selama ini. Senista-nistanya mereka, setidaknya mereka sadar untuk saling minta maaf dan memaafkan di hari yang suci ini. Mereka juga sudah sungkem dengan pemilik kos, Pak Haji Urahara. Keliatannya aja sok alim dan sopan, padahal pengen dapet salam tempel. Alhasil, mereka keluar dari rumah Pak Haji Urahara dengan tangan kosong. Di hari yang suci seperti ini kok punya pikiran jelek yang berkedok silaturahmi jelas tak akan terkabulkan.

"Kenapa kita harus berpisah setelah persahabatan yang kita jalin begitu indah…hiks…" Inoe nangis lebay.

"Aduh, kamu itu apa-apaan sih? Kita cuma berpisah sebentar aja. Minggu depan kita juga udah balik ke sini lagi!" Tatsuki merangkul Inoe.

"Matsumoto, jangan lupakan aku…." Yumi nggak kalah lebay. Matsumoto menjawabnya dengan sebuah tonjokan tepat dimuka Yumi. Seperti biasa, Yumi ngguling-ngguling sambil nutupin mukanya.

"Mm, teman-teman. Aku pergi dulu! Byaku-nii sudah menjemput! Ja…!!" Rukia melambaikan tangan kemudian berbalik ke arah kakaknya yang sudah menunggu di gerbang.

"Rukiaa!! Jangan pergi! Aku ikut!!" Ichigo tak rela berpisah dengan Rukia. Kalau situasinya kayak gini, kesannya Rukia pergi jauh meninggalkan Ichigo.

"Heh, mau ke mana loe? Loe harus pulang bareng gue! Enak aja loe ngikut Rukia! Nggak setia kawan banget sih loe!!" Renji narik baju Ichigo yang pengen lari ngejar Rukia.

"Kalian ini memang berlebihan! Padahal cuma masalah mudik aja pake acara tangis-tangisan and romance-romance'an!" Soi Fong males.

"Kita pergi sekarang!" Ishida dan Ulquiorra kompak lagi. Kebersamaan mereka memang tak bisa diragukan. Jangan-jangan mereka juga berbagi desa tempat mereka berasal?

Berpisahlah mereka di tempat kos yang penuh kenangan ini menuju kampung halaman masing-masing. Tak lupa mereka sungkem dengan orang tua juga kakek dan nenek bagi yang masih punya.

-

-

-THE END-

»------«

Tambah gaje aja! Kuakhiri saja sampai di sini! –harakiri-

Puasanya udah selese. Libur lebaran juga udah tiba. Aku juga mau mudik!! Siapa yang mo ikut?? –Siiing~ tak ada jawaban-

Tak lupa saya ucapkan terima kasih dan maaf pada seluruh penghuni Fanfiction yang terhormat. Saya banyak dosa~ -harakiri lagi-

RnR!!!