Eien no Hana
A/N: Chapta ke-2!
Speedy update, wakakakaka………..
-ditimpukin satu RT-
Dis: masih sama, kok….
"Dia lagi!
Kenapa aku harus bertemu dia?
Kenapa harus kurasakan lagi perih ini?
Dan sekarang, tali berdarah itu harus kembali tersambung…."
"Akira!"
Calon Bookman muda itu terus mengejar gadis berambut biru itu.
"Akira, tunggu!"
Lavi menangkap tangan gadis itu. Akira berontak.
"LEPASKAN AKU!!!!" Jerit Akira.
"Dimana Hash?" Tanya Lavi.
"Untuk apa kau tanyakan itu?!" Ketus Akira.
"Dia anakku. Dimana dia?"
Akira memalingkan wajahnya.
"Akira? Dimana Hash?"
"Hash ada di panti asuhan yang menolak keras kehadiran Exorcist." Jawab Akira pendek.
"Di panti asuhan?"
"Ya. Aku sengaja memasukkannya ke panti asuhan."
"Kenapa kau lakukan itu?" Lavi mengguncang tubuh Akira. "Kenapa tidak kau bawa saja dia kesini? Akira!"
"Semua kulakukan demi mencapai cita-citaku!"
Hening.
"Kau tak tahu seberapa inginnya aku menjadi Exorcist..... Saat aku menyadari bahwa Innocenceku sudah bangkit, aku sudah bertekad akan mengabdikan diriku sebagai Exorcist di Black Order.... Tetapi.... Kenapa kau datang ke dalam kehidupanku?! Kenapa!!"
Akira kembali menjerit dan menangis dalam sunyi. Lavi memperhatikan dengan rasa bersalah.
"Akira, maafkan aku.... Aku tak bermaksud menghancurkan kehidupanmu, serius..... Aku benar-benar sayang padamu...."
"Huh! Kata-kata yang kau ucapkan itu palsu! Kau adalah seorang BOOKMAN yang tidak mempunyai hati!"
Kata-kata itu menampar hati Lavi. Dia memang Bookman, namun tetap saja sulit mengingkari hatinya di depan Akira. Gadis itu telah dia ingat selama hidupnya.
"Akira...."
"Ehem."
Lavi dan Akira menoleh. Itu Bookman.
"Aku tak menduga kau akan bertemu nona Tendouji disini, Lavi."
"Panda...." Lavi tertegun.
Akira terdiam.
"Aku sudah mendengar semua pembicaraan kalian." Bookman menghampiri dua anak muda itu. "Dan kurasa kalian harus segera menyelesaikan masalah ini."
"Bagaimana caranya?" Tanya Lavi.
"Cuma satu cara. Kalian harus menikah."
Lavi dan Akira terkejut. "Apa?"
"Menikah. Berita ini harus ditutupi dari semuanya. Sesegera mungkin kalian harus segera menikah." Tegas Bookman.
"Tapi.... Bagaimana? Aku ini kan...."
"Anak laki-lakimu, Lavi, yang akan jadi pewarisku." Bookman menepuk pundak Lavi. "Kau dan nona Tendouji harus mengambil anak itu dari panti asuhan. Anak itu akan kubesarkan sebagai calon Bookman yang baru."
Akira terdiam. Lavi mencoba menenangkannya.
"Bagaimana, nona Tendouji? Kau setuju?" Tanya Bookman.
"Aku.... setuju."
"Lavi?"
Lavi mengangguk.
"Kalau begitu, kalian harus pergi mengambil anak itu dari panti asuhan."
Bookman berlalu, meninggalkan Lavi dengan Akira.
"Bagaimana, Akira?" Tanya Lavi.
"Aku akan pergi mengambil Hash sendiri." Tegas Akira.
"Selamat datang."
Akira memasuki gedung panti asuhan yang sederhana itu.
"Aya ada?" Tanya gadis itu pada petugas di depan.
"Aya-sama ada di dalam. Silakan masuk saja."
Akira langsung masuk ke ruang utama gedung panti asuhan itu.
"Aya."
"Ah! Akira!"
Aya, gadis bertubuh kecil dengan rambut panjang tebal berkuncir kuda itu langsung menghampiri Akira.
"Tumben kemari, Akira! Mau menengok Hash?"
"Tidak. Aku mau mengambilnya."
Aya terlihat senang. "Ooh, berita bagus! Hash pasti senang bila kembali dengan ibunya! Tunggu sebentar."
Gadis mungil itu masuk ke dalam sebuah ruangan. Tak lama kemudian dia kembali dengan menggendong bayi dalam selimut biru.
"Ini."
Akira menggendong bayi dalam buaian Aya. Bayi itu anaknya. Darah dagingnya.
Akira tersenyum sedih saat menatap bayi mungil di dalam buaiannya.
"Baiklah, Aya, kalau begitu aku pulang dulu." Pamit Akira.
"Iya! Sampai jumpa!"
Akira keluar dari panti asuhan itu. Hatinya dipenuhi rasa senang, juga getir.
"Hash...."
Air matanya kembali menetes, membasahi pipi bayi mungil yang tengah tidur itu. Merasa tergelitik, bayi itu terbangun. Matanya membuka sedikit-sedikit, kemudian menangis.
"Hash.... Kenapa? Lapar, ya? Ayo, kita pulang."
Akira mempercepat langkahnya ke Black Order. Tiba-tiba di perjalanan, dia dicegat segerombolan akuma level 1 dan 2.
"Akuma!" Akira terkejut karena serangan mendadak itu. Dia memeluk Hash erat-erat.
Akuma-akuma itu dengan cepat menyerang Akira. Akira yang tak membawa senjatanya hanya bisa berlari dan bersembunyi di balik dinding sebuah rumah tua yang hampir runtuh.
"Aduh!"
Akira tersandung. Hash lepas dari gendongannya.
"Hash!"
Akuma level 2 siap menembak Hash. Akira tak bisa bergerak.
"HASH!!!"
DUAR!
Yap!
Chapta 2!
