Eien no Hana
A/N: Balik lagi meski rada telat!
Bagi para OC, harap bersabar sampai chapter berikutnya, ya!
Ok…. Ini dia….
-TARARARAAAAMMM!-
Chapter 3 Eien no Hana!
-ditimpuk se RW-
Oya, salah tulis.... Ini bukan Kanda bashing, tapi Lenalee bashing.... Maklum, saia cemburu berat sama dia. Nempel mulu ama Lavi....
-bawa2 tonfa, aura gelap muncul-
"Kenapa?
Hal ini…. Terjadi padaku.
Hal yang membuat ayah dan ibuku bercerai.
Kenapa pula dia selalu menyakiti aku?
Padahal aku masih mencintainya….."
"HASH!"
DUAR!
Akira tak berani melihat. Namun didengarnya, Hash masih menangis.
"Akira, kau tak apa-apa?" Tanya sebuah suara lembut. Akira mendongak.
"Le--Lenalee!"
"Kau tidak apa-apa,kan?"
Akira mengangguk. Dia cepat-cepat berdiri dan mengambil Hash.
"Hash, syukurlah kau tidak apa-apa…."
Akira menciumi bayi itu.
"Kita kembali saja sekarang. Nampaknya akuma-akuma tadi sudah mundur." Ajak Lenalee pada Akira.
Akira menampik uluran tangan Lenalee. "Aku bisa sendiri."
Lenalee agak terkejut juga dengan sifat dingin Akira, namun dia tak memikirkannya dan kembali tersenyum. "Ya, sudah. Mari."
Akira berjalan di depan Lenalee sambil menimang Hash anaknya.
'Aku tak rela…. Aku tak rela bila dia merebut Lavi….'
Batin Akira sembari memeluk Hash erat-erat.
"Nona Tendouji, apa kau baik-baik saja?" Tanya Bookman setelah Akira dan Lenalee tiba di HQ.
"Iya. Aku tidak apa-apa." Jawab Akira pendek.
"Baguslah." Bookman menghembuskan nafas lega.
"Akira!" Kali ini giliran Lavi yang menghampiri. Akira melirik dingin.
"Hash bagaimana?" Lavi mencoba bersikap ramah.
"Baik saja." Jawab Akira sambil berlalu.
"Akira!"
Lavi mengejar Akira. "Biarkan aku melihat Hash."
Akira hanya diam saja.
"Ya? Boleh, ya." Mohon Lavi.
"Baiklah."
Akira memberikan bayi dalam buaiannya kepada Lavi.
"Ah…. Hash, ini ayah…."
Selagi Lavi sibuk menggoda Hash, Akira menoleh ke luar jendela.
"Jadi, kita benar-benar akan menikah?"
"Tentu saja."
Akira menundukkan kepalanya.
"Jadi.... aku akan kehilangan Hash?" Tanyanya lagi dengan nada yang getir.
"Mungkin. Kemarin kita kan sudah janji pada si Panda."
Akira berusaha menahan air mata yang akan keluar.
"Kapan pernikahannya?"
"Besok."
"Secepat itu?" Akira menatap Lavi tak percaya.
Lavi mengangguk.
Tiba-tiba Akira merebut Hash.
"Lho? Akira?" Lavi kaget. "Aku belum bermain dengannya."
"Besok kau akan bermain dengannya."
Akira berlari menuju kamarnya.
"Kakak!"
Reiya bangkit dari kursinya. "Darimana?"
"Mengambil Hash."
"Buat apa?"
Akira tak kuat memberitahu Reiya perihal pernikahannya yang mendadak itu. Dia hanya mampu menangis lagi.
"Kakak...."
"Maafkan aku, Rei.... Maaf...."
Reiya tak mengerti apa yang kakaknya bicarakan, namun dia juga hanya bisa memeluk untuk menenangkan kakaknya.
"Reiya tahu.... Kakak yang sabar...."
Akira tetap tak bisa menghentikan air mata yang membasahi pipinya.
"Jika gadis brengsek itu.... merebut Lavi.... takkan kumaafkan.... takkan pernah kumaafkan.... meski harus melepas 'Eien no Hana'....." Akira meracau.
"Eeh?! Jangan! Nanti kakak bisa mati!!" Cegah Reiya. "Kalau kakak mati, siapa yang jaga Reiya...."
"Maaf ya, Reiya...." Akira tersenyum di sela isak tangisnya. "Aku tak punya pilihan lain jika gadis sialan itu merebut Lavi...."
"Kakak...." Air mata mulai menggenangi mata Reiya.
"Maaf ya Rei.... Kalau aku melepaskan 'Eien no Hana'...."
Mereka bertangisan bersama.
Keesokan harinya, Akira mendapati dirinya ada di ruang rias khusus pengantin. Dia mengenakan wedding dress yang sangat indah. Rambut birunya ditata dengan sangat rapi, dibentuk model gulungan dengan hiasan bunga di atasnya. Dia juga mengenakan high heels warna putih dengan tali. Tangannya diselubungi sarung tangan putih. Dia mengenakan tiara yang berkilau. Ditambah lagi, make-up tipis yang dipakaikan padanya, membuatnya tambah anggun.
"Cantiknya!" Komentar Miranda Lotto, salah seorang Exorcist di Black Order. Dia yang bertugas mengurus Akira.
"Terimakasih." Senyum tipis terbentuk di wajah Akira.
"Wah, sebentar lagi waktunya." Kata Miranda yang melirik jam dinding di ruang rias. "Ayo, Akira! Kita segera bersiap ke tempat!"
"Iya."
Akira mengikuti Miranda keluar ruang rias. Meskipun ini hari yang indah, Akira sama sekali tak bisa tersenyum karena Reiya tidak mau keluar kamar.
Di permulaan Virgin Road, Akira melihat Lavi yang sudah kelihatan tampan dengan tuxedo hitamnya. Lavi pun tersenyum ke arahnya.
Akira memaksakan sebuah senyum di bibirnya.
Dentang bel tiga kali menandakan upacara pernikahan dimulai. Chorus wedding mulai dikumandangkan. Lavi menggandeng Akira, membawanya berjalan bersama di Virgin Road dan Reever menyambut mereka.
Jenderal Froy Tiedoll bertindak sebagai pendeta. "Baiklah. Pada hari ini, kita akan mengahdiri persatuan dua jiwa menjadi satu."
Aula hening.
"Bersediakah anda, Lavi Bookman Junior, menerima Akira Tendouji sebagai istri, mencintainya, dan melindunginya, mendampinginya di saat susah maupun senang,menjaganya di saat sakit maupun sehat, dan membesarkan anak kalian dengan penuh cinta menurut agama?" Tanya jenderal Tiedoll pada Lavi.
Lavi mengangguk. "Ya. Saya bersedia."
"Bersediakah anda, Akira Tendouji, menerima Lavi Bookman Junior sebagai suami, mencintainya, mematuhinya, mendampinginya di saat susah maupun senang,menjaganya di saat sakit maupun sehat, dan membesarkan anak kalian dengan penuh cinta menurut agama?" Tanya jenderal Tiedoll pada Akira.
Akira mengangguk sekilas. "Ya. Saya bersedia."
"Apakah wakil menerima pasangan Lavi Bookman Junior dan Akira Tendouji sebagai suami-istri yang sah tanpa adanya pernyataan yang memberatkan?"
Yuzu, sahabat Akira, dan Bookman mengangguk dan menjawab bersama. "Sah."
"Dan apakah saksi menerima pasangan Lavi Bookman Junior dan Akira Tendouji sebagai suami-istri yang sah tanpa adanya pernyataan yang memberatkan?"
Reever yang bertindak sebagai saksi mengangguk. "Sah."
"Dengan begitu, saya nyatakan kalian sebagai suami istri." Jenderal Tiedoll mengangkat tangan atas mereka, memberkati mereka berdua.
Nana, adik Allen, maju ke depan dan memberikan kotak beludru warna merah pada Lavi. Kemudian Lavi mengeluarkan cincin dari dalamnya, kemudian memasangkannya bergantian dengan Akira. Lalu, mereka pun berciuman.
Banyak yang menyadari bahwa Akira meneteskan air mata. Namun tak ada yang menyadari, air mata itu bukanlah air mata kebahagiaan. Melainkan air mata ketakutan, sedih, dan derita.
Setelah selesai menandatangani akte pernikahan, Lavi dan Akira berjalan keluar. Akira melempar wedding bouquet-nya ke belakang dan para gadis dengan sigap berebut mendapatkannya.
"Yeei! Aku dapat! Aku dapat!" Teriak Yuufie kegirangan. Dia tersenyum ke arah Yuu Kanda, kekasihnya. Pemuda cantik itu balik tersenyum yang sukses membuat Yuufie buta saking silaunya.
Lavi dan Akira tiba di kamar pengantin. Mereka akan berganti pakaian untuk resepsi.
"Akira, kau tak mengucapkan sepatah kata pun dari tadi." Lavi mengomentari Akira yang dari tadi diam saja.
Akira duduk di tepi ranjang. "Apa yang harus aku katakan?"
"Heh...."
Lavi mendekati Akira di ranjang. "Jangan-jangan kau gugup karena ini malam pertama kita, kan?"
Akira mendelik. "Tidak! Ini bukan malam pertama kita!"
"Iya, iya, aku tahu...."
Lavi mengarahkan tangannya menuju pinggang Akira. Akira sedikit terangsang, tetapi dia gengsi.
"Dengarkan aku, Akira Tendouji."
Lavi menolehkan wajah Akira kasar ke arahnya. Akira terdiam, namun matanya sudah memerah lagi.
"Kenapa matamu, hendak menangis lagi? Dasar cengeng." Cela Lavi. Kemudian dia mencengkeram wajah Akira semakin kasar, ditambah dia juga mengeluarkan silet dari saku celananya.
"Jangan pernah berharap akan ada cinta di pernikahan kita. Aku tak pernah sekali pun menyukai dirimu. Kau akan kugunakan sebagai alat untuk memberiku keturunan yang unggul, sebagai calon Bookman yang hebat. Kau masih mempunyai 'Eien no Hana', kan?"
Akira tak menjawab.
"Jawab aku!" Lavi menggoreskan silet di pipi Akira hingga pipi gadis itu mengeluarkan darah yang masih segar. "Kau masih punya 'Eien no Hana'?"
Akira masih tak menjawab. Nampaknya Lavi semakin kesal. Pemuda itu menggoreskan silet lagi di pipi Akira.
"Kau masih punya 'Eien no Hana'?" Lavi mengulangi pertanyaannya.
"I--iya...." Akira menjawab dengan gemetar.
"Bagus."
Lavi menjilati darah di pipi Akira. "Kau harus menuruti semua perintahku."
Akira merasakan tubuhnya gemetar. Diam-diam Lavi mengeluarkan pisau lipat kecil dan menusuk paha Akira dengan itu.
"Aduhh!" Akira mengaduh. Gaun putihnya dengan segera berubah jadi merah darah.
"Luka segitu saja kau sudah mengaduh. Bukannya ada 'Eien no Hana'? Lukamu akan sembuh dalam sekejap."
Akira tak berani berkata apa-apa.
"Huh!"
Lavi menghempaskan Akira ke atas ranjang dengan kasar. "Aku mau kau segera siap untuk resepsi. Jangan tunjukkan wajah sedihmu! Dan juga, cepat sembuhkan lukamu itu."
Akira tak berani lagi menatap Lavi sampai pemuda itu membanting pintu saat keluar. Akira kembali menangis.
Nampaknya menangis sudah jadi menunya setiap saat.
"Tolong aku..... tolong aku, siapa saja, tolong aku....." Rintih Akira dalam sunyi. Tiba-tiba dia mencium wangi bunga plum. Dia mendongak.
"Merasa tersiksa, Akira?"
"Ka--kau...."
YAAAHHHAAAA!!!!!!!!!!!
Gak kepikiran juga sih mau buat Lavi jadi kejam kayak gitu. Namanya juga fic angst!
Dikasih review ya! Sankyuuu!!!
Note: buat Reiya, saia nyontek sumpah pernikahannya yaa....
