Eien no Hana
A/N: Yap! Chapter 4 Eien no Hana!
Buat yang nungguin Vampire Lines, maaf ya…. Untuk sementara gak akan update dulu! Karena hiatus ide buat Vampire Lines…..
-dilempar laptop-
Pairing, masih sama….
Warning: dark, angst, OC, OOC, dan yang pasti….. GAJHE!
-dihajar rame2-
Udahlah, mari kita tonton chapta 4 Eien no Hana!
Dis: Masih sama ah…..
"Dia datang!
Entah kenapa tubuhku ikut bergetar…..
Dia yang menanamkan Eien no Hana padaku….."
"Merasa tersiksa, Akira?"
"Ka--kau…."
Seorang pemuda berpakaian putih menghampiri Akira.
"Kenapa wajahmu?"
Pemuda itu mengusap wajah Akira dan lukanya tertutup dalam sekejap.
"Terimakasih."
"Nampaknya pahamu juga terluka."
Pemuda itu mengusap paha Akira juga. Dan lukanya pun menutup dalam sekejap, sama seperti luka di pipinya.
"Terimakasih banyak…."
Pemuda itu menatap Akira dengan rasa kasihan. "Sebenarnya kau ini kenapa, Akira?"
"Tidak apa-apa." Akira menjawab dengan suara parau karena dia habis menangis.
"Kamu menangis lagi, ya? Hm?"
Pemuda itu mengelus wajah Akira yang kemerahan. "Kau tak cocok jika menangis."
Akira sempat blushing sebentar, namun dia kembali tertunduk.
"Suamiku bisa marah jika melihatku seperti ini."
"Suamimu? Maksudmu pemuda berambut merah yang barusan keluar?"
Akira mengangguk pelan. "Dia menginginkan 'Eien no Hana' yang kau berikan…."
"Untuk apa?"
"Dia menginginkan keturunan yang unggul dengan menggunakan 'Eien no Hana' yang kupunya....."
Pemuda itu memainkan rambut Akira yang terjuntai.
"Ketahuilah, Akira. Memang itu resiko yang diterima olehmu sebagai host 'Eien no Hana'. Karena keunggulan itu..... Cobalah bersabar sedikit lagi."
Pemuda itu mendekap Akira. Gadis itu merasa aman, tenang, dan hangat.
"Entah kenapa aku selalu merasa hangat dalam dekapanmu.... Hash...."
Akira nyaris saja terlelap ketika pintu menjeblak terbuka.
"Akira! Lama sekali kau.... Oh, bagus ya. Selingkuh di hari pernikahan kita."
Akira terkejut. "Lavi?!"
"Siapa dia?" Tanya Lavi dingin.
Akira tak mampu menjawab. Tiba-tiba, pemuda yang dipanggilnya 'Hash' tadi berdiri menantang Lavi.
"Jadi kau suami Akira?"
"Memangnya kenapa?"
'Hash' dan Lavi saling melempar tatapan tajam. Akira yang menyadari situasi semakin panas cepat-cepat melerai.
"Hash, lebih baik kau pergi saja dulu." Suruh Akira.
"Baiklah. Jaga dirimu, Akira."
'Hash' pergi lewat jendela sebagaimana dia datang. Setelah 'Hash pergi, barulah Lavi menginterogasi Akira. Dengan cara kasar, tentunya.
"Siapa laki-laki itu?"
"Bukan urusanmu dia siapa!"
"Ooh, bukan urusanku? Tentu saja itu URUSANKU!"
PLAK!
Akira tersungkur ke lantai setelah ditampar Lavi. Gaun putihnya kotor terkena debu di lantai.
"Dengar, Akira!"
Lavi menindih Akira kasar, menempelkan silet di pipinya. "Kalau aku lihat laki-laki itu datang lagi, kau dulu yang akan kuhabisi!"
"Kau...."
"Mau melawan?"
Akira terdiam. Beku.
"Dengar? Jika aku lihat laki-laki itu mendatangimu lagi, kau yang tanggung hukumannya! Mulai besok, kau akan kukurung di kamarku agar laki-laki itu takkan bisa mengunjungimu lagi! Ingat itu!"
Akira mulai menangis. Tubuhnya bergetar.
"Jangan menangis!" Sentak Lavi. "Aku tak suka melihatmu menangis seperti itu."
"Aku.... tak bisa...."
"Makanya diam!"
Lavi menghempaskan Akira ke lantai. Akira menangis lagi.
"Sudah, berdiri! Hapus air matamu!"
Akira tak bisa berdiri. Dia juga tak bisa berkata-kata. Hanya isak tangis yang keluar dari bibirnya.
"Berdiri!"
Lavi menarik Akira hingga dia berdiri. Akira menatap suaminya dengan mata yang basah.
"Hentikan. Jangan menatapku seperti itu!"
"Maaf...."
"Cepat siap-siap!"
Lavi mendorong Akira kasar hingga dia terjatuh lagi.
"Uh....uuh...." Akira merintih kesakitan. Tangannya berdarah.
"Kenapa kau?"
Lavi menjambak rambut Akira. "Sakit? Hm?"
"Sakit.... lepaskan aku...."
"Hmm."
Lavi menggoreskan silet di telapak tangan Akira yang tengah berdarah. Akira merintih.
"Sakiitt...."
"Ini pelanggaran pertamamu!" Lavi menarik rambut Akira semakin keras. "Kalau kau melakukan pelanggaran lagi, aku akan lebih keras padamu!"
"Maafkan aku..... Lepaskan aku...."
"Hmph."
Lavi melemparkan Akira seenak hatinya. Akira tersungkur lagi, kepalanya nyaris mengenai ujung pintu kamar mandi.
"Cepat ganti baju! Aku tunggu."
Akira berusaha berdiri meski kakinya bergetar. Dia mengambil gaun untuk resepsi di lemari dan pergi menuju kamar mandi dengan tertatih.
"Tunggu, Akira."
Akira menoleh dan menemukan Lavi mendekatinya, kemudian menahan tangannya di dinding.
"Ada apa?"
Lavi mencium Akira tiba-tiba. Kasar dan penuh nafsu.
"Tak perlu ke resepsi."
Lavi menarik tangan Akira dan melemparnya ke atas ranjang, lalu menindihnya.
"Eeh?"
"Mau, kan? Hm?"
Akira terkejut. Kenapa?
GYAA....
Gajhe!
Ripiw dong!
