Eien no Hana
A/N: Yooo!!!!
Ini chapta 5 Eien no Hana!
Lavi bakal makin OOC deh…. Dan Lenalee bashing juga mulai kelihatan….
Oke, oke….. Ada rikues, silahkan katakan pada saia! Sebisa mungkin saia akan memenuhi rikuesnya!
Mau jadi OC, hubungi saia!
"Kenapa?
Apa yang terjadi padanya?
Lavikah ini?
Ataukah Deak?"
"Apa yang akan kau lakukan??" Akira panik.
Lavi tersenyum manis sekali. "Aah, ayolah Aki-chan, tak usah takut begitu."
Akira mengernyitkan dahi. Secara tiba-tiba Lavi berubah 180 derajat. Ada apa gerangan?
"Kau ini kenapa sih?" Akira tak bisa bergerak.
"Aku? Aku tak apa-apa…. Memang kenapa?"
"Tapi tadi…."
"Hmm?" Lavi leihat luka di tangan Akira. "Eeh? Tanganmu kenapa? Cepat diobati!"
Akira melotot tak percaya. Lavi ini kenapa?
Meskipun begitu, dia tak bisa menolak saat Lavi menariknya untuk mengobati luka di telapak tangannya.
"Kau ini kenapa?" Tanya Lavi yang tengah mengambil kotak obat.
Akira menggeleng. "Tidak tahu…."
"Kau jatuh, ya? Sini kulihat."
Lavi menarik tangan Akira dan mulai mengobatinya.
"Kalau perih bilang, ya." Ucap Lavi penuh sayang. Akira blushing.
Lavi mulai mengobati luka di tangan Akira pelan-pelan. Akira menatap Lavi yang sekarang sangat berbeda.
'Ada apa dengan Lavi? Apakah ini pengaruh 'Eien no Hana'?'
Batin Akira ragu-ragu.
"Akira, sudah selesai. Cepat kan?"
Akira tersadar dari lamunannya. "Eh? Ah…. Iya, terimakasih…."
Akira tak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Akira…."
Akira kembali menatap Lavi. Hening.
-Lavi's POV-
Gadis ini…. Dia pemilik 'Eien no Hana'. Dia yang bisa membuat semua laki-laki gila. Dan sekarang, aku yang mendapatkannya.
Wajahnya kelihatan begitu cantik. Entah apa yang membuatnya jadi seperti sekarang.
Eh? Perasaan ini lagi…. Perasaan ingin segera mencumbunya. Selalu seperti itu. Selalu ada perasaan liar dan gila seperti ingin mencumbunya sekasar mungkin. Aku ingin dia menjerit. Memohon padaku. Menyakitinya…..
Mencumbunya seliar mungkin…..
-Normal POV-
Akira merasakan sesuatu perasaan aneh di dadanya. Perasaan takut yang aneh.
"Lavi?"
Sorot mata Lavi berubah. Mata hijau terang itu menatapnya mesum. Mata itu memeriksa setiap sudut di tubuhnya.
"La-Lavi, ada apa?"
"Ada apa? Ya tentu saja…."
Akira tak bisa bergerak. Seperti ada yang menahannya di tempat itu.
'Apa ini? Aku… tak bisa bergerak….. Hash!'
"Akira…."
Akira memejamkan matanya. Merasakan bibir Lavi menyapu lehernya. Membiarkan Lavi menyingkap gaunnya.
'Tenang saja, tak akan apa-apa. Lavi adalah suamiku sekarang, tentu takkan apa-apa bila begini.' Batin Akira, berusaha menenangkan diri.
Akira merasa darahnya membeku. Setiap sentuhan Lavi membuatnya semakin mabuk. Namun pas saat mereka hendak melepas pakaian masing-masing, alarm tanda darurat tiba-tiba berbunyi.
"Perhatian, para Exorcist! Ada serangan akuma mendadak! Sekali lagi para Exorcist, ada serangan akuma mendadak! Harap segera bersiap-siap!"
"Cih…."
Lavi segera keluar. Akira terdiam sejenak, kemudian melucuti gaunnya dan mengganti dengan seragam Black Ordernya, kemudian berlari keluar.
"Ah, Akira!"
Akira menoleh pada Reever. "Bagaimana keadaannya?"
"Kira-kira ada seratus lebih akuma dari berbagai level! Diluar ada Lenalee, Kanda, dan Exorcist-Exorcist lain!"
"Baiklah! Aku segera kesana!" Akira berlari keluar.
"Eh, hoi, Akira?! Senjatamu mana?"
"Tenang saja!"
Akira berlari cepat di lorong.
"Innocence Activate! Heavenly Guns!"
Dual tonfa milik Akira segera muncul. Warnanya keemasan dengan mata pisau di ujung tonfa.
"Heaven's Roulette!!"
Dengan segera gadis itu menembaki akuma-akuma di sekitarnya.
"Akira! Tolong bantu di sekitar sini!" Pinta Krory.
"Baiklah!"
Akira membantu Krory melawan akuma-akuma di sekitar gerbang Black Order.
"Uh, semakin lama semakin banyak!" Krory terus menyabet akuma-akuma di sekitarnya. Akira membantunya melawan akuma-akuma tersebut.
"Krory, awas!"
Akira menyatukan dual tonfa yang dipegangnya.
"SOUL SLICER!!"
Akira melempar dual tonfa itu seperti boomerang, mata pisau yang terletak di ujungnya menyembul keluar, menebas sebagian besar akuma.
"Uh!"
Akira menangkap kembali senjata kesayangannya dan memisahkannya.
"Sugoi, de aru, Akira!" Seru Krory. Akira hanya tersenyum saja lalu kembali menembaki akuma-akuma di sekitarnya.
KRAAAKK….
Dikarenakan tembakan dari akuma-akuma itu dahsyat, bagian depan gedung Black Order retak dan runtuh.
"Lho? Akiraa!!!"
BRAAKK!!!
"KYAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!"
Akira tertimpa reruntuhan gedung. Kakinya terjepit.
"Aaaahhh….."
"Akira! Akira!"
Krory dan Miranda serta Kanda segera menghampiri Akira yang terjepit. Reiya yang tengah melawan akuma bersama Allen pun segera menghampiri Akira.
"Kakak! Kakak! Kakak nggak apa-apa? Kakak!!"
"Reiya… uh….."
"Tolong! Tolong bantu kakak! Tolong!" Reiya meraung-raung meminta tolong. Segera saja semuanya mencoba menolong Akira.
"Hentikan!!" Seru Lavi tiba-tiba.
"Kau ini bilang apa, Lavi! Akira terjepit disini, masa kita mau membiarkannya!" Sergah Allen.
"Sekarang sedang ada serangan! Kita tak bias membiarkan akuma-akuma ini menyusup masuk!"
"Tapi kan…."
"Tak ada tapi-tapian! Cepat hancurkan akuma-akuma itu!"
Semua menatap pada Akira. Akira hanya tersenyum sambil berkata, "Kalian turuti saja dia. Aku tak apa-apa…."
"Baiklah…."
Para Exorcist terpaksa meninggalkan Akira dan kembali bertempur dengan para akuma. Hanya Reiya seorang yang menunggui Akira sambil terus berusaha melepaskan kakaknya.
"Kakak, bertahanlah…. Akan segera kulepaskan kakak…."
"Sudahlah Reiya…." Akira pingsan.
"KAKAAAKKK!!!!!!!"
Akira….
Kupinjamkan kekuatanku….
Meskipun nanti….
Kau akan kehilangan sesuatu sebagai imbalan untukku….
'Iya, aku janji…..'
DUAR!
Semuanya terkejut. Reruntuhan yang menimpa Akira meledak.
Kemudian, ada cahaya yang sangat terang, yang menyilaukan dan menghancurkan semua akuma yang ada….
"Akira…."
"Kakak…."
Akira membuka matanya.
"Kakak!"
Reiya segera memeluk Akira.
"Syukurlah Akira, kau masih bisa sadar." Kata Komui.
"Aku kenapa??"
"Kamu pingsan. Allen segera membawamu ke dalam."
Allen? Bukan Lavi?
"Allen?"
"Iya, Allen yang membawamu kemari."
Akira menerawang. Pastilah Lavi masih sibuk melawan akuma sehingga tidak dapat membawanya masuk, pikir Akira.
"Lavi dimana….?" Tanya Akira.
Reiya berjengit. Komui berhenti membereskan peralatannya.
"Eh? Lavi mana?"
"Lavi di kafetaria…." Jawab Reiya.
"Oh? Aku mau bertemu dengannya."
Akira berdiri dan terjatuh dari ranjangnya.
"Akira!"
Komui segera membantu Akira berdiri. "Kakimu lumpuh. Mungkin karena tertimpa reruntuhan itu."
"Lumpuh? Kalau begitu…. Aku tak bisa jadi Exorcist lagi?"
"Tidak, tidak. Aku akan segera membuatkan alat transportasi yang dapat kau gunakan kemana saja, termasuk ke tempat-tempat sulit."
"Terimakasih…."
"Reiya, bawa Akira ke kafetaria."
"Iya, supervisor."
Reiya memapah Akira ke kafetaria.
"Ah, aku mau bertemu dengannya…." Akira terburu-buru ingin masuk kafetaria.
"Kakak, hati-hati...."
Akira sempat terjatuh. Tetapi dia kembali berdiri dengan bantuan Reiya.
"Lavi...."
Pemandangan yang ditemukan Akira sat tiba di kafetaria sangat mengejutkan dirinya.
Lavi tengah makan berdua dengan Lenalee sambil bercanda dan juga terlihat mesra sekali. Akira membeku.
"Kakak..." Reiya berusaha menenangkan Akira. Takut jika dia bertindak gegabah.
Akira tak dapat menahan emosinya lagi. Dengan bantuan tongkat sapu di dekat kafetaria, dia berjalan menuju meja Lavi dan Lenalee.
"Kakak!" Reiya tak berdaya menghentikan kakaknya.
"HEH!!!"
BRAK!
Akira menggebrak meja hingga barang-barang di meja jatuh. Lavi dan Lenalee terkejut.
"Akira, kau ini apa-apaan?!" Lavi hendak menampar Akira, namun Akira menangkap tangannya duluan.
"Ternyata ini ya, alasan kau tidak membawaku saat pingsan?! HAH?!" Akira benar-benar meledak. Auranya mengalahkan aura Lavi. Lavi tak bergeming.
"JAWAAB!!!"
"Akira, tenang dulu, kau salah paham...." Lenalee mencoba melerai
"DIAM!! Dengar ya, gara-gara kamu!! Semuanya gara-gara kamu! Gara-gara kamu!!! MATI KAU!!!!!"
Akira menubruk Lenalee, menjambaki rambutnya.
"Aah.... Akira, lepaskaan...." Rintih Lenalee, berusaha melepaskan tangan Akira yang menarik-narik rambutnya dengan kasar.
"Akira, sudah, hentikan!!" Lavi mencoba melerai, namun tangan dan pipinya dicakar Akira.
"Mati... Mati saja kau! MATI SAJA KAU!!!! RASAKAN INI!!"
Akira benar-benar menghajar Lenalee dengan brutal. Lenalee mencoba melawan, tetapi serangan Akira benar-benar membabi buta dan tak memberinya celah untuk melawan balik.
"MATI!!!!"
Akira mengambil pisau di dekatnya dan bersiap menusuk Lenalee, tetapi Allen dengan cepat menangkap tangannya.
"Mau apa kau?!" Sentak Akira.
"Hentikan ini, Akira! Tak ada gunanya seperti ini!"
Mata Akira berubah perak. Allen terkejut.
"Kau berani menghalangiku?!!"
Akira mencengkeram tangan Allen, mematahkan tangannya. Allen menjerit.
"Tidak ada yang boleh menghentikanku...."
Tubuh Akira bersinar. Reiya panik.
"Itu pelepasan 'Eien no Hana'! Cepat hentikan!" Jerit gadis kecil itu.
Terlambat, tubuh Akira sudah bersinar sepenuhnya di kafetaria itu.
"KAKAK!!"
"AKIRA!!!"
Kyahahahahahahaha....
Ripiw!
