Eien no Hana

A/N: Huaa…. Pegel-pegel….

Mikirin chapta selanjutnya Eien no Hana bikin capek….^_^'

Okelah, ini dia chapta berikutnya Eien no Hana!

Eien no Hana itu artinya bunga abadi….^^

Dis: sama aja ah….


"Siapa gerangan pemuda itu?

Melodi gitarnya membuatku mabuk.

Tak sadarkan diri.

Siapa pemuda misterius itu?"



Hari ini, Black Order tengah kedatangan tamu baru, seorang Exorcist dari cabang di Jepang. Namanya Kakei Shun.

Dalam sekejap dia berhasil memancing perhatian semua orang di Black Order-baik lelaki maupun perempuan-karena wajahnya yang babyface dan senyuman mautnya.

"Aah… manisnya cowok itu…." Reiya tengah memperhatikan Kakei di kafetaria. Akira sweatdrop.

"Reiya, nanti mienya dingin lho!" Allen berteriak di depan Reiya. Tapi Reiya diam saja karena dia sudah terbius pesona Exorcist baru berambut biru itu.

"Reiya…." Akira menggelitik Reiya. Tapi ternyata tidak mempan!

"Rei…."

"Permisi, boleh duduk disini?"

Semua mendongak dan JRENG!

Kakei!

"Boleh ikut duduk disini?"

"Boleh, silakan!" Nana dengan sigap mempersilakan. Jadilah Exorcist baru itu duduk di sebelah Reiya(wah, Reiya,bahagianya engkau! XD)dan makan dengan tenang.

Lavi, Allen, dan Kanda agak cemburu. Pasalnya mereka merasa kalah gara-gara aura Kakei terlalu terang-wuih!-dan Akira, Aya, serta Yuufie sibuk menatap Kakei daritadi.

"PENGUMUMAN! Bagi yang namanya Lavi, Akira, Reiya, Kakei, Aya, Allen, Yuufie, dan Kanda diharap segera ke ruangan saya! Terimakasih!"

"Dasar supervisor yang seenaknya…" Keluh Kanda, tetapi yang merasa punya nama segera menuju ke ruangan Komui.


"Ada apa?"

Komui memberikan berkas pada masing-masing orang. "Disitu sudah tercatat inti misi kali ini."

Semua serius mendalami isi misi. Tetapi Kanda tiba-tiba berteriak.

"APA-APAAN INI?? MENYAMAR MENJADI WANITA???!!"

"Iya. Ada masalah?" Tanya Komui dengan santainya.

"Tentu saja ada! Mengapa kau memberiku tugas seperti ini??"

"Karena kaulah kunci utama misi ini, Kanda-san."

"Kanda?" Yuufie angkat bicara. "Kenapa?"

"Dia akan jadi kepala pelayan."

"TAPI KAN TIDAK PERLU JADI WANITA!!" Kanda mencak-mencak lagi.

"Kau salah, Kanda-san. Tempat ini adalah sebuah asrama wanita, tentu saja kau harus menyamar."

"Kauu…"

Hampir saja Kanda memutilasi Komui jika tidak ditahan Yuufie.

"Baiklah! Semua sudah paham?" Tanya Komui sekali lagi.

"Tunggu!" Akira angkat bicara. "Kenapa aku jadi pelayan sementara Lavi jadi…. tukang cuci baju?"

"Iya. Di asrama kan semuanya dibedakan."

"Baiklah…."

"Tak ada yang ditanyakan, ya? Baiklah, semuanya siap-siap untuk berangkat!"


GEJESS…. GEJESSS….

Anak-anak agak menjaga jarak dengan Kanda. Apa pasal?

Ternyata, setelah dipaksa pakai seragam maid dan didandani layaknya seorang wanita, aura gelap Kanda jadi dua kali lipat lebih hitam dari biasa. Semua berpikir lebih baik jaga jarak daripada bertemu sang Pencipta via Mugen.

"Allen, aku lapaar…." Rengek Aya. Sama persis dengan Allen, Aya juga makannya buanyak sekalee…. Bedanya Aya gak sebinal Allen kalau lagi makan.

"Hee? Tadi kan sudah makan?" Tanya Allen.

"Iya, tapi keburu lapar lagi…. Makan dong….."

Allen tak tega juga melihat kekasihnya terus merengek seperti itu. Dia keluar kompartemen dan mencari troli makanan.

"Kak, mau beli makanan?" Tawar seorang gadis yang membawa troli makanan. Rambutnya pirang panjang dikucir dua, pakaian yang dia pakai bermodel lolita. Dia juga mengenakan stocking panjang berwarna putih, dan sepatu hitam.

"Kakak mau beli makanan?" Tawarnya.

"Iya! Iya! Aku beli semuanya ya, dik!" Allen langsung mengeluarkan uang dari sakunya yang cukup untuk membayar semua makanan yang dijual gadis itu.

"Terimakasih ya, kak!" Gadis itu terlihat senang.

"Sama-sama!"

Allen membawa troli makanan itu ke kompartemennya. Setelah Allen pergi, gadis itu menatap ke arah perginya Allen.

"Exorcist…."


"Ini ya, rumahnya?" Tanya Yuufie. Mereka sudah sampai di rumah asrama yang disebut.

"Iya." Allen bertindak sebagai leader. Dia mengetuk pintu rumah tersebut.

"Ya, sebentar."

Pintu terbuka. Seorang wanita bertampang galak menyambut mereka.

"Apakah kalian ini yang akan menjadi pelayan di sini?" Tanyanya.

"Iya…" Jawab mereka kompak. Sambil nahan jiper, tentunya.

"Hmm…. Baiklah! Aku harap kalian akan bekerja dengan baik. Masuklah!"

Mereka semua memasuki gedung bergaya Renaissance ini.

"Baiklah, silakan baca dan teliti daftar tugas kalian."

Masing-masing mengambil dan meneliti daftar tugas mereka. Kemudian menelan ludah.

"Ada masalah?" Tanya wanita itu.

"Tidak… Kami bersenang hati mengerjakannya." Jawab Allen selembut mungkin.

"Baiklah, cepat bekerja!"

Semua langsung pergi ke posisi masing-masing dan mulai bekerja.


Satu minggu berlalu. Para Exorcist yang menyamar jadi pelayan itu mulai menemukan tanda-tanda keberadaan Innocence pada seorang gadis bernama Kaitani Rie, seorang gadis lumpuh penghuni asrama itu, adik dari Kaitani Riku, anak ketua yayasan asrama tersebut.

Rie berjanji akan membantu mereka. Gadis itu pun berjanji akan menjadi Exorcist bersama mereka.

"Fuuah…. Selesai juga nyucinya." Aya meregangkan tubuhnya. "Akira, yuk balik!"

"Sebentar." Akira menaruh sikat dan sabun di rak. "Yuk."

Akira dan Aya keluar ruang cuci dan menuju kamar mereka. Kamar para pelayan terletak di belakang, dan untuk ke sana harus melewati taman belakang.

"Iih, serem ya kalau malam…." Aya mulai merinding.

"Sudahlah, toh gak bakal ada hantu." Akira tertawa kecil.

Tiba-tiba mereka melihat bayangan hitam menuju asrama. Cepat-cepat mereka bersembunyi di lorong.

"Hantuu…." Aya mulai ketakutan.

"Dodol! Itu manusia!"

Akira dan Aya kembali mengintip dan terkejut saat melihat siapa orang itu-atau lebih tepatnya, siapa bayangan itu.

"Riku?" Mereka heran berbarengan.

Ya, itu Riku. Dia nampak mengendap-endap di taman asrama, menuju sebuah kamar berbalkon.

"Itu kan kamarnya Rie-chan?" Kata Aya.

"He? Benar juga… ayo kita selidiki!"

Dua gadis itu mengendap-endap mengikuti Riku, kemudian bersembunyi di sekitar semak-semak.

Riku memanjat ke balkon, mengetuk pintu balkon. Kemudian keluarlah seorang gadis berkursi roda dari kamar. Rie.

"Riku-nii? Kenapa kau kemari? Kalau ibu asrama menemukan Riku-nii nanti kita berdua bisa dihukum." Ucap gadis berambut biru kobalt itu, agak terkejut.

"Aku ingin tahu jawabanmu, Rie."

Akira dan Aya heran. " Jawaban?"

Rie nampak blushing, lalu menggeleng. "Riku-nii, aku tidak bisa…. Kau juga tahu kan kalau kita ini kakak-adik…. Aku sayang Riku-nii tapi hanya sebagai adik, tidak lebih…."

Akira dan Aya melihat Riku mengguncang tubuh Rie.

"Kenapa, Rie? Kenapa? Padahal aku sangat menyukaimu…. Kenapa kau tidak bisa menerimaku?"

Akira dan Aya terkejut. "Suka?"

"Jangan-jangan Riku suka sama Rie?" Akira bertanya pada Aya.

"Bisa jadi…."

Kembali pada Riku dan Rie, pemuda berambut putih itu tengah memeluk Rie erat.

"Rie, jadilah milikku… akan kuberikan apapun untukmu asal kau jadi milikku."

"Riku-nii, aku tidak bisa karena….."

"Kenapa? Karena kau adikku? Ha! Kita bahkan tidak ada hubungan darah!"

Akira dan Aya terkejut mendengarnya.

"Tidak ada hubungan darah? Serius? Padahal Rie kelihatan mirip dengan Riku…." Gumam Aya.

"Jangan-jangan ada apa-apa nih…." Akira mulai menduga-duga.

Jauh di balkon, Rie berusaha melepaskan diri dari pelukan kakaknya.

"Riku-nii, lepaskan aku…. Aku tetap tak bisa menerima Riku-nii, maaf…."

"Tidak, aku tak akan melepasmu sebelum kau menerimaku!"

Rie semakin merasa tidak enak. Dia merasa sudah terlalu banyak berbohong….

"Riku-nii, aku ingin jujur padamu. Aku…. Akan menjadi Exorcist."

Riku terkejut. "Apa? Exorcist? Tidak, tidak, aku takkan mengizinkanmu! Kau ini lumpuh, kau takkan bisa bertahan menjadi Exorcist! Kehidupan seorang Exorcist itu keras, tidakkah kau tahu?"

"Aku tahu. Tapi aku sudah bertekad akan menjadi Exorcist…. Demi para manusia."

"Aku takkan mengizinkanmu!"

"Kumohon, Riku-nii! Izinkan aku mengabdikan diriku pada Tuhan sebagai Exorcist…." Rie berlutut, memohon pada kakaknya.

"Kau harus tetap disini! Aku takkan biarkan kau jadi Exorcist! Aku tak rela kau menghadapi kehidupan keras seperti itu."

"Riku-nii­! Kumohon izinkan aku…." Mohon Rie, kali ini dia menangis.

DEG!

"Kenapa, Akira?" Tanya Aya.

"Ada akuma…."

Akira dan Aya melihat ke atas. Benar saja, sekumpulan akuma level 1 berkerumun di dekat balkon Rie.

"Apa itu…" Riku bersiaga melindungi Rie.

"Itu akuma…"

"Gawaat!!"

Aya mengirimkan Timcanpy ke arah kamar pelayan. Mereka berdua langsung keluar dari semak untuk menghajar akuma-akuma tersebut.

"Mereka kan pelayan asrama?" Riku keheranan.

"Mereka adalah Exorcist…." Jawab Rie. " Merekalah malaikat Tuhan di bumi…. Dengan kristal Tuhan, Innocence…."

Riku terpaku.

"Innocence activate! Crystal Twist!"

Bongkahan kristal mengelilingi tubuh Aya, kemudian melesat menghancurkan akuma-akuma di sekitar balkon.

"Akira! Ayo!"

"Iya…"

Akira menarik nafas.

"Innocence activate…."

Gelang di tangan kanan Akira bersinar, berubah menjadi tombak. Sementara gelang di tangan kirinya berubah menjadi sayap.

"Hup!"

Akira melompat, menebas akuma-akuma di sekitarnya.

"Akira!"

Akira menoleh dan melihat Allen dkk.

"Allen! Teman-teman!"

"Mundur."

Akuma-akuma tersebut mundur. Akira merasa kenal suara dingin ini.

"Noah!" Seru Allen.

Akira berbalik.

"Rupanya pemilik 'Eien no Hana' sudah bangkit."

Akaba, Kotaro, dan seorang gadis berdiri di atas pagar. Allen merasa kenal gadis itu.

"Ah! Gadis itu...."

"Ingat, ya?" Tanya gadis itu.

"Kamu kan yang jual makanan di kereta tadi! Jadi... kau ini Noah?!" Bentak Allen.

Akaba menoleh ke arah gadis berambut pirang di sebelahnya. "Kamu menyamar jadi tukang jual makanan? Aduh Jessie sayang, bisa menyamar lebih bagus tidak sih?"

"Maaf...." Gadis bernama Jessie itu menjulurkan lidahnya, kemudian bermanja pada Akaba. Sebagian Exorcist jijik melihatnya.

"Kalian mau apa?" Tanya Allen.

"Mendapatkan 'Eien no Hana'! Itu kan ide yang smart!" Jawab Kotaro. Dengan sisir andalannya.

"Takkan kubiarkan!" Lavi langsung menyerang.

"Oh ya?"

Akaba mengarahkan gitarnya ke Akira. Kemudian memainkannya sekilas.

"Ah...."

Akira pusing setelah mendengar melodi gitar itu. Dia pingsan.

"Ah! Akira!"

Lavi berusaha menangkap Akira, namun Kotaro lebih cepat dan Akira berada dalam gendongannya.

"Cih!" Lavi mengutuk kelambatannya.

"Hei, rambut merah! Kamu ini suaminya, ya? Dengar ya! Kalau mau dia kembali, datang sendiri ke Noah Mansion! Kami tunggu!" Seru Kotaro sambil menggendong Akira.

Ketiga Noah itu pergi dengan pintu ciptaan Road.

"Lavi, gimana?" Tanya Allen.

"Baiklah....."


Nyaa....