Eien no Hana
A/N: Gyakakakakakakakakaka…..
Saia datang lagii!!
Writer's Block kurang ajar…. Jadi susah ngepost lanjutan chapter… huhuhu T___T
Oke deh, ini lanjutan Eien no Hana! Don't like, don't read! Gak nerima FLAMES! Buat Arara sama Rin, gak usah ngesok! Toh YANG PUNYA D. GRAY-MAN bukan KALIAN! Jadi suka-suka saia mau masangin tokoh-tokohnya sama siapa! Wong yang buat ficnya juga SAIA kok!
Gak suka? SANA MINGGAT!!!
Disclaimer:D. Gray-man miliknya Hoshino Katsura-sama, bukan punya saia, apalagi ARARA dan RIN….
Chapter 8: Psyhrope Room and Holy Empire
Ruangan itu diobrak-abrik angin kencang yang datang entah darimana. Lavi berlindung di balik Tessei miliknya, berusaha bertahan agar tidak terhempas angin.
"A-Akira…."
Betapa terkejutnya Lavi saat melihat sosok di hadapannya.
Sosok yang semula cantik, menawan, dan anggun itu kini berubah mengerikan. Kulitnya berubah menjadi keabu-abuan. Mata merahnya berubah menjadi kuning emas. Di dahinya, melintang delapan stigma yang merupakan pertanda kalau dia adalah Noah.
"A-Akira…."
Sosok itu menatapnya dengan pandangan tajam yang menusuk. Dia nampak siap untuk membunuh Lavi.
"Akira…. Akira, jangan…. Akira, sadarlah…..!"
"Hahaha! Ayo, bunuh dia!" Perintah sang Noah of Pleasure pada Akira.
Akira mengayunkan pedang yang dia ambil dari baju zirah di sampingnya.
"Akira!!!!"
TRANG!!
Pedang itu mengenai benda lain yang keras. Lavi agak kaget melihat siapa di depannya.
"Yuu-chan!"
"Khe! Menangani istri sendiri saja tak bisa!!"
Kanda mementalkan pedang di tangan Akira. Gadis itu terpental cukup jauh.
"Yuu-chan…."
"Apa?! Jangan ganggu dulu!" Kanda mulai ambil posisi menyerang. "Kalau sudah begini, dia harus dibunuh."
"Apa?! Jangan, Yuu-chan! Jangan bunuh dia!" Jerit Lavi.
"Kau ini buta?! Dia bukan Akira! Dia bukan istrimu! Dia Noah!!" Bentak Kanda.
"Tetapi…. Dia…."
Saat itu, Lavi merasa tangannya ditarik seseorang.
"Kamu…. Laki-laki yang waktu itu…."
Pemuda putih itu menatap Lavi. "Kamu tidak apa-apa?"
"Iya…. Tapi…."
Pemuda itu menatap ke arah Akira. "Ah, Holy Empire sudah bereaksi…. Bookman Junior, kau mundur denganku."
"Apa?"
"Ayo cepat! Samurai itu pasti bisa menahan Akira sementara."
"Yuu-chan…." Lavi menatap Kanda.
"Sudah sana pergi! Jangan mengganggu kalau tak bisa apa-apa!" Ketus Kanda.
"Kupercayakan padamu, Yuu-chan…."
Lavi mundur bersama pemuda putih itu.
"Nampaknya kita sudah cukup jauh."
Lavi dan pemuda itu bersembunyi di sebuah ruangan tak terpakai di dalam Noah Mansion.
"Ya. Disini cukup aman."
Lavi menatap pemuda putih itu dengan sangat serius. "Beritahukan padaku, apa yang kau ketahui tentang semuanya? Eien no Hana, Psyhrope Room, Holy Empire…. Semuanya!"
Pemuda itu menghela nafas, kemudian berkata, "Baiklah. Tapi kau harus sabar mendengarkanku."
Lavi mengangguk.
"Dulu, jauh sebelum Akira bertemu denganmu…. Dia pernah hampir mati karena sekelompok akuma menyerang desanya. Saat itu aku menemukannya, dan aku bersedia memberikannya hidup dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
"Syaratnya, dia bersedia menjadi host sebuah bunga ajaib yang kumiliki…. Bunga yang dapat membangkitkan kekuatan dewi Rhea, bunga yang dapat mengunci kekuatan Millenium Earl bersama dengan 'Destroyer of Time'."
"Bunga itu…. Eien no Hana?"
Pemuda itu mengangguk. "Akira bersedia, dan kemudian aku menanamkan bunga itu padanya. Aku masih ingat jeritannya saat bunga itu beresonansi dengan tubuhnya…. Akh, aku tak tega mengingatnya."
"Lalu tentang Holy Empire?" Tanya Lavi lagi.
"Holy Empire adalah sebuah batu berisikan kekuatan kegelapan yang berasal dari kegelapan hati manusia yang terdalam. Batu itu hasil karya ilmu alchemy dari sang Noah itu sendiri, beratus tahun yang lalu. Hanya orang yang mewarisi gen dari Noah yang bisa menggunakannya untuk membuat orang lain berubah menjadi Noah juga. Batu itu batu yang mengerikan, selain berisi kegelapan hati para manusia juga berisi jiwa orang-orang yang tak terselamatkan saat menjadi akuma, kalian para Exorcist takkan tahan merasakannya. Apalagi 'Destroyer of Time' itu, yang dapat melihat jiwa orang mati yang terperangkap menjadi akuma…. Aku yakin dia akan langsung muntah hebat."
Lavi menelan ludah. "Dan tentang Psyhrope Room….?"
"Psyhrope Room…. Ruangan khusus tempat penanaman Holy Empire. Psyhrope Room memiliki kekuatan khusus untuk menyerap habis Innocence yang dimiliki dan kemudian menghancurkannya, untuk mempermudah Holy Empire beresonansi dengan tubuh korban. Tak ada yang bisa selamat dari cengkraman Psyhrope Room, tak peduli seberapa kuat Exorcist itu."
"La-lalu…. Bagaimana cara kita menyelamatkan Akira sekarang?" Lavi mulai gusar.
"Cuma satu cara…. Kita harus menghancurkan Holy Empire itu…."
"Eh? Menghancurkan Holy Empire?"
"Iya…. Tapi aku takut jika Holy Empire itu menyerap kekuatan Eien no Hana…."
"Kita tak boleh buang-buang waktu! Kita harus cepat!!" Lavi berlari keluar, kembali ke ruangan tadi.
"Tunggu!! Cih…."
Pemuda itu tak punya pilihan selain mengejar Lavi.
Lavi kembali masuk ke dalam Psyhrope Room, dan menemukan Kanda terhempas ke sisinya.
"Yuu-chan! Kau tak apa-apa?" Lavi segera membantu Kanda.
"Ugh…. Uhuk, uhuk…. Kuat sekali!" Kanda berdiri tertatih.
Lavi menatap Akira, dan Tyki.
"Akira…." Desisnya, "Aku sangat mencintaimu…. Maka izinkan aku mengurangi bebanmu!"
Lavi menerjang ke arah Akira. Gadis itu merespon dengan melawan Lavi.
"Ukkhh…." Lavi sedikit terdesak.
"Selalu saja dia."
"Eh?" Lavi mendongak.
"Selalu saja gadis itu."
"Apa ini…."
Lavi dan gadis itu beradu pandang.
"Selalu saja Lenalee dan Lenalee…. Apakah aku tak penting di matamu? Apakah aku hanya sekedar alat untukmu? Kau tak pernah melihatku…. Kau tak pernah memperhatikanku…. Kau tak pernah peduli padaku…. Lihatlah aku…. Lihatlah aku, sebentar saja…. Lihatlah aku yang mencintaimu…. Lihatlah aku yang menyayangimu…. Lihatlah aku yang bersedia berkorban apapun untukmu…. Aku…."
Lavi tertegun. Barusan tadi…. Jeritan hati Akira?
"Akira….?"
Lavi menatap Akira dalam. Untuk pertama kalinya, dia melihat jiwa Akira tersiksa, menangis hebat, penuh rasa sakit.
"Lavi…. Tolonglah aku…. Tolonglah aku disini…. Apa kau tak mau menolongku? Kau tak peduli padaku?"
"Lavi…. Selamatkan aku…. Kumohon…."
"Lavi…. Tolong aku…. Setelah itu, aku rela mati…."
"Lavi…."
"Lavi…."
Tanpa sadar Lavi meneteskan air matanya. Jiwa itu terus memanggil-manggil namanya. Jiwa itu memohon padanya. Jiwa itu mengiba padanya. Meminta untuk diselamatkan. Memohon untuk dilepaskan.
"Bahkan tersiksa pun hanya namaku yang kau panggil…. Mengapa…. Mengapa harus aku? Mengapa harus Lavi? Mengapa harus…. Lavi…."
Saat itu, pemuda putih itu datang dan memasukkan tangannya ke dalam dada Akira.
"Aku dapat Holy Empire-nya!" Seru pemuda itu. "Bookman Junior, sekarang saatnya!"
Lavi menyiapkan Tesseinya. Pemuda itu menarik Holy Empire keluar dari dalam dada Akira, kemudian melemparkannya ke arah Lavi.
"Hiban!!"
Naga api yang keluar dari palu hitam itu menelan Holy Empire, bertujuan melumatkannya.
"Che….! Mugen, Sangenshiki Byakuhakuzan!!"
Kanda ikut menerjang dengan Mugen miliknya.
"Crystal of Rhea, release!"
Pemuda itu melayangkan kristal-kristal kecil yang langsung masuk ke dalam dada Akira.
"Endless Flower, resonance! Release the power of Rhea!"
Tubuh Akira perlahan bersinar.
"The final stage is begin! Open up your eyes! The great goddess Rhea is here! The Realm of Rhea! RELEASE!!"
Fiuuh.... selese juga chapter 8...
Feel free to review! No FLAMES!
