Based on True Story
There will be times on this journey. All you'll see is darkness
But out there somewhere. Daylight finds you. If you keep believing
So don't run. Don't hide. It will be alright
You'll see. Trust me.
I'll be there watching over you...
-Phil Collins : Look Through My Eyes
Book Two : Piece of The Lost Memory
~(ooOoOoo)~
3rd District, Kanto.
Sakura.
Friday, 13 June, 1998.
Aku yakin semua teman kelasku mengataiku sebagai gadis tidak berguna saat itu. Membuang-buang waktu hanya untuk berkumpul bersama geng yang hanya akan membawa dampak buruk bagi masa depanku. Tapi, siapapun tidak berhak menghakimi aku dan "kami" dengan kata-kata itu. Aku tahu aku berbeda. Dan sangatlah tidak mudah bagiku untuk merasakan kebebasan yang sama seperti kebebasan yang dirasakan oleh mereka yang mengatakan hal itu. "Hati"-ku mendambakan hal yang sama seperti apa yang orang-orang itu rasakan. "Hati" ini ingin kebebasan tuk bisa memilih. Kebebasan tuk memilih merdeka dari semua jeratan tali yang mengekang diriku.
Seperti biasa, aku kabur dari kelas. Selepas istirahat siang, tiba-tiba saja pager-ku berbunyi, melayangkan pesan yang sudah bisa kuduga sebelumnya. 'Mereka' akan melakukan 'aksi' lagi. Kubaca dari nada pesannya, aku tahu kalau Gaara-nii sangat marah. Ada seorang pemuda yang memasuki wilayah kami tanpa izin. Mau tak mau aku harus mengikuti keinginan Gaara-nii dalam melakukan pengejaran lagi. Tak kusangka, keinginanku untuk mengecap perasaan 'bebas' dalam sehari saja itu tak bisa. Kalau aku bilang, aku ini seperti superhero yang bekerja demi kebenaran tapi di sisi lain, aku sedang melakukan tindak kriminal lagi. Lagi. Dan lagi.
Hahh...
Aku ingin mengecap kemerdekaan. Apa itu kemerdekaan? Setiap kali aku bertanya akan hal itu, tetap saja tak ada tanda-tanda akan kemunculan jawaban pasti. Kata guruku, negara ini telah merdeka berabad silam. Tapi, yang bisa kulihat di distrik ini hanyalah kemerdekaan semu yang terpendam oleh sekam dan abu. Jadi, untuk apa aku sekolah? Toh, sekolah tak bisa menjamin aku bisa merasakan kemerdekaan penuh. Di sana aku terpinggirkan dan dibenci karena aku berbeda. Sama saja kan kalau aku tidak ke sana lagi. Seandainya ayah dan ibu tidak mendorongku tuk tetap ke tempat itu, aku takkan pernah menginjak tempat bernama sekolah itu. Takkan pernah...
Itulah catatan hidupku hari ini. Aku merasa sangat lelah. Pengejaran yang berlarut-larut itu akhirnya berakhir dengan kemenangan di pihak kami. Anak itu berhasil kami tangkap. Ia tersudut di gang sempit di suatu area yang sudah sangat kami kenal. Entah apa yang dilakukan oleh Gaara-nii bersama dengan yang lain setelahnya. Aku hanya bisa melihat dari balik punggung-punggung mereka. Tapi, bisa kupastikan satu hal. Orang itu takkan bisa keluar dari gang sempit itu tanpa satu pun luka di wajahnya. Takkan bisa.
"Hahh..."
Aku merebahkan badanku di atas padang rumput yang segar itu. Hijau. Jikalau dunia yang disebut sebagai Alice bak Wonderland yang bisa kutelusuri sesuka hati itu benar-benar ada, maka aku akan memilih tuk hidup di tempat itu selamanya. Tapi... memikirkannya hanya membuat kepalaku jadi semakin sakit. Aku membuka mata, menatap ke arah mentari, awan dan langit biru itu. Sungguh sangat tenang. Meskipun mereka berbeda satu sama lain dan warna mereka pun sangat berbeda, mereka bisa memadukan atmosfer dunia ini dengan harmonis. Lagi. Aku bermimpi tuk menjadi seperti awan, langit ataupun mentari. Hidup di antara perbedaan dan membuat kesatuan yang utuh.
Aku menutup mata, menghembuskan nafas yang panjang, dan berusaha untuk tertidur―melupakan kejadian hari ini. Aku pun memutar tubuhku ke arah kiri dan menjadikan lengan kiriku sebagai alas bagi kepalaku. Buku diary-ku kuletakkan begitu saja di samping kanan dan aku mulai tertidur lelap. Aku berusaha membawa mimpi-mimpi buruk itu tenggelam dalam ranah keputusasaan yang dalam...
Tap tap tap
Tap tap tap
Tap tap tap
Apa itu? Sepertinya aku mendengar ada suara derap langkah yang cepat. Ah! Itu pasti hanya mimpi. Ya, itu pasti mimpi. Aku masih ingin terlelap dalam tidur yang tenang di siang ini.
Tap tap tap
Tap tap tap
Suara itu mengganggu lagi. Aku mengernyitkan dahiku dan jadi sedikit kesal. Mimpi itu membuat tidurku jadi terusik! Hah? Mimpi yang membuat tidur jadi terusik? Memangnya ada ya? Refleks, aku pun langsung membuka mata. Iris jade-ku membulat lebar. Tak hanya derap langkah yang cepat, aku juga bisa mendengar suara-suara pukulan dan teriakan amarah dari arah kejauhan. Gawat. Kurasa ada peperangan lagi. Dengan sigap, aku terbangun dan membiarkan rambut pink -ku yang sungguh-sangat berantakan itu terurai begitu saja. Baju seragam sekolahku juga sudah sangat kusut. Tapi, hanya lari yang bisa kulakukan saat ini. Ya. Hanya lari.
Satu hal yang perlu kau ketahui dalam dunia yang kejam ini. Saat kau bersama dengan mereka yang sudah kau anggap sebagai saudara menjadi mangsa bagi para singa yang kelaparan, maka bertahanlah dan berusahalah untuk melawan. Tapi, di saat kau hanya seorang diri, maka yang bisa kau lakukan hanya berlari. Itulah alasan mengapa aku berlari saat ini. Dan hal itu membuatku dikenal sebagai seorang sprinter sejati. Sebelumnya, tak ada satupun orang yang mampu mengikuti kecepatan lariku ini. Pengejaran yang tadi pun berhasil karena ada aku. Dan komunitasku sering menggunakanku sebagai kunci sukses berbagai pengejaran.
Aku bisa mendengar suara derap langkah itu semakin mendekat. Sepatu-sepatu kulit khas pria mulai menguar di sepanjang jalan beraspal tepat di atas padang rumput yang kujadikan sebagai tempat tidur singgah gratis selama ini. Suara itu semakin mendekat. Dekat. Dan terlalu dekat...
"Sial!" umpatku yang disusul dengan pelarian keduaku di hari yang cerah ini.
Aku berlari dan hanya berlari. Tak ada yang bisa kulakukan selain berlari. Meskipun letih dan peluh telah membuat tubuh kecil ini merasakan sakit luar biasa amat bak ditusuk oleh beratus-ratus jarum, aku tidak peduli. Aku masih ingin hidup lebih lama di dunia ini. Aku tidak ingin menjadi mangsa sisa yang akan berakhir di kubangan kekalahan. Demi Gaara-nii yang telah mengajariku tuk bisa bertahan di dunia yang keras ini, demi ayah yang juga menjadi penuntunku menentukan visi dan misi hidupku dan...
Demi ibuku.
Kutelusuri jalan-jalan sempit beserta dengan lorong maupun gang-gang yang takkan bisa dilewati oleh pria-pria kekar dan bertubuh subur sekalipun. Dengan tubuhku yang kecil ini, aku bisa membawa diriku tuk terus berlari. Meskipun harus menabrak dan ditabrak, aku tak peduli. Aku hanya ingin berlari sejauh-jauhnya hingga suara-suara itu segera menghilang dari telingaku. Sayang, meskipun asa berkata tuk terus berlari, tubuh pun butuh oksigen dan beristirahat. Akhirnya, aku memutuskan untuk menyandarkan tubuh letih ini di balik dinding salah satu gedung rongsokan bekas pabrik gula. Aku berusaha menyeka keringat dari kening dan leherku dan mengambil nafas yang panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Fuah... fuahh..."
Aku mendongak―menatap ke arah gedung rongsokan itu. Aku mengingat satu hal. Waktu masih kecil, ayah sering membawaku ke gedung itu. Gedung itulah yang dahulu mampu memperkerjakan komunitas kami. Tapi, semenjak pecahnya perang berisukan masalah rasisme di wilayah ini, pabrik itu pun menjadi sasaran amuk massa. Mereka melemparinya dengan gelas-gelas, botol-botol yang berisikan minyak dan diberi api, dan puluhan bom.
Ayah tak bisa melakukan apa-apa. Ia pun mulai memahami meskipun ia bukanlah salah satu dari imigran gelap itu tapi tetap saja orang-orang mengatakannya sebagai pengkhianat dan sebagainya. Sebab... ayah telah menikahi ibu. Ibu yang berasal dari tanah yang berbeda dari ayah.
Kedua tangan itu terkepal. Ingin sekali rasanya aku menangis. Aku tidak bisa menyalahkan Tuhan karena dilahirkan dari dua bangsa yang berbeda. Aku sudah berjanji pada diriku tuk tidak mempertanyakan hal itu lagi. Tapi...
Tik tik tik
Air mata itu turun juga...
Tap tap tap
Tap tap tap...
Suara langkah kaki terdengar lagi. Aku menaikkan wajahku dan mengusap air mata itu. Degup jantungku mulai berdetak semakin kencang. Ritmenya persis seperti saat aku berlari memperebutkan boneka teddy bear kala ulang tahunku yang ke-tujuh. Aku mengambil nafas sedikit-sedikit namun dengan frekuensi yang lama. Aku sudah terperangkap. Aku sudah tidak bisa ke mana-mana lagi. Kalau aku berlari, maka sosok itu akan menemukanku dan menjadikanku sebagai mangsa sisa.
"Tuhan... kumohon." pintaku dengan sungguh-sungguh.
Aku berusaha mengintip dari arah belakangku. Aku bisa melihat bayangan dari pemilik derap langkah itu. Aku menahan nafas, menutup mataku kuat-kuat dan berharap pada Tuhan tuk menjadikan semuanya berakhir dengan cepat dan tak sakit. Aku pun mulai menghitung akan kepastian hal itu.
Satu.
Dua―
~(ooOoOoo)~
"Aku tahu kau bersembunyi di balik sana. Tapi, aku sedang tidak berniat melakukan apa-apa saat ini. Keluarlah. Aku menemukan diary yang kau biarkan tergeletak begitu saja di padang rumput tadi."
~(ooOoOoo)~
Tiga!
Aku membuka mataku dengan cepat. Menerima kenyataan terburuk apapun itu. Tapi saat aku membuka mata, aku bisa melihat tepat di depanku siluet bayangan panjang yang berasal dari belakangku. Matahari yang semakin bergerak kembali ke peraduannya membuat bayangan panjang itu memenuhi batas pandang mataku tepat di depan. Jantungku kembali berdetak dengan cepat.
"Keluarlah. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Kecuali jika kau memang mau membiarkanku membaca seluruh isi dari diary-mu yang cukup berwarna ini."
Gyaa! Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun tuk membaca buku diary-ku, meskipun itu ayah, ibu, bahkan Gaara-nii. Tidak sekalipun. Refleks, aku langsung memutar badanku dan menatap sosok orang yang berhasil mengejarku hingga sejauh ini. Tak kusangka ada yang bisa mengalahkan rekor lariku. Sial.
Dan jika kulihat-lihat, sosok yang kini berdiri di depanku adalah seorang pria dengan gaya maskulin, tipikal pria baik-baik yang tak mungkin bergelut dalam dunia yakuza atau sebagainya. Dan sepatunya pun terlalu mengkilap. Pasti orang yang sangat kaya.
Mataku menelurusuri dari arah bahwa hingga ke kemeja putih berlapis vest hitam yang dikenakannya. Aku tak mau melihat wajahnya sebab jika ia melihat warna iris mataku yang berbeda, adalah suatu kepastian bila pria ini akan mengakhiri hidupku di tempat ini juga.
"Kem-kembalikan buku diary-ku!" seruku tiba-tiba seraya melayangkan tanganku tepat di depannya, masih tak mau menatap ke arah wajahnya.
Aku seperti mendengar tawa kecil yang tersembunyi di balik rahangnya itu. "Naikkan wajahmu terlebih dahulu, baru kukembalikan."
"Ap-apa?" jawabku kaget. Mau tak mau kami pun saling berhadapan dan bodohnya aku, perasaan marah bercampur malu membuatku jadi lengah di depan pria ini.
Meskipun tertutupi oleh bayangan mentari yang kini semakin merendah, aku bisa memperkirakan usia pria ini. Dia mungkin saja lebih tua empat atau lima tahu dariku―ditambah lagi aku terlihat lebih pendek, jauh lebih pendek dari tubuhnya yang tinggi itu. Rambutnya berwarna hitam pekat dan terdapat garis tegas di wajahnya itu, layaknya pria yang telah mengetahui segala hal tentang betapa kerasnya dunia yang nyata ini.
"Ka-kau dari geng apa? Sa-saat ini aku sedang sendirian dan ter-terlalu lelah untuk memulai pepera―"
"Jangan khawatir. Aku bukan berasal dari geng apapun. Aku hanya orang yang lewat saja. Beberapa saat yang lalu, aku melihatmu berlari secara tiba-tiba dari padang rumput sudut kota tadi. Dan... secara tidak sengaja aku melihatmu membiarkan bukumu yang paling berharga ini tergeletak begitu saja. Kalau ada yang membacanya bukankah itu suatu hal yang kurang baik, hm?"
Dia memotong kata-kataku. Ada dua hal yang tidak kusukai dari orang ini. Pertama, dia berhasil mengejarku. Kedua, dia memotong kata-kataku. Dan kemungkinan, dia juga telah membaca isi dari buku diary-ku itu. Ah! Aku pun mengernyitkan dahi dan memasang tampang tidak suka ke arah pria itu.
"Tenang saja. Belum kubaca semua kok."
Belum dibaca semua? Bukannya itu berarti dia sudah membacanya walaupun sedikit? Gawat!
"Kemarikan buku itu! Aku tidak sudi buku itu dibaca oleh orang asing sepertimu!" teriakku padanya. Hanya saja, yang diteriaki malah menaikkan sebelah sudut bibirnya sedikit. Aku tahu itu! Itu adalah evil smirk! Dan lama ia hanya terdiam, membuat sebagian besar wajahnya kini tertutupi oleh bayang hitam oleh mentari yang akan kembali ke peraduannya.
Pria itu mengambil satu langkah ke depan dan aku pun bergerak satu langkah mundur ke belakang. Tapi betapa sialnya aku saat ini, dinding yang kugunakan untuk bersembunyi menjadi penghalang. Aku pun tak bisa bergerak bebas. Mata jade-ku berusaha mengamati tiap gerakan yang dibuatnya―alih-alih berusaha untuk mencuri kesempatan mengambil diary-ku, aku malah menatap ke arah wajahnya. Entah kenapa seperti ada magnet yang menempel di wajahnya itu sehingga membuat mataku tidak bisa berpindah tempat. Hey Sakura! Sadarlah!
"Hei."
"Hah?" tanyaku refleks karena kaget, "a-apa?"
Bisa kulihat pria di depanku menyunggingkan sebuah senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya. Senyum simpul yang terkesan biasa saja tapi seperti sebuah senyum persahabatan. Layaknya aku sudah sangat mengenal orang ini.
"Ini kukembalikan." ujarnya seraya menyodorkan diary yang nyaris semua lembarannya telah berisi akan semua luapan emosi dalam hatiku. "Sangat sulit ya?"
"Hah?" tanyaku―aku malah menampilkan wajah konyolku. Namun, cepat-cepat kutepis dan aku semakin mengernyitkan dahiku. Kuambil diary itu dari tangannya dan langsung memeluknya erat, tak ingin jadi incaran pelarian panjang untuk yang kedua kalinya.
Pria itu bergerak selangkah lagi sembari memasukkan kedua tangan dalam saku celana hitamnya itu. Ia menundukkan wajahnya sebentar sebelum menatap tajam ke arahku, "kau ini larinya cepat sekali ya? Tak kusangka ada anak perempuan sepertimu yang bisa mengalahkan kecepatan lariku. Tapi, bukankah sangat menyenangkan saat kita bisa berlari sejauh-jauhnya dari dunia yang menurut kita begitu asing tuk disinggahi?"
Apa yang dikatakan oleh orang ini? Kenapa dia tiba-tiba saja mengatakan hal-hal yang tidak bisa kumengerti dalam sekali ucapan? Aku malah semakin mengedutkan keningku, berpikir lama hanya untuk menyerap kata-katanya. Hei! Jangan salahkan aku saat aku tidak bisa memahami hal-hal yang begitu filosofis seperti itu. Aku hanyalah siswi tingkat tiga di sekolah menengah pertama. Dan aku tidak begitu menyukai sekolah.
"Awannya indah sekali ya? Seandainya saja kita bisa memilih hidup seperti awan-awan itu, pasti akan sangat menyenangkan. Aku sering melihat berbagai bentuk awan di siang hari tapi entah kenapa saat sore hari, awan-awan yang berbeda bentuk itu akan saling menyatu membentuk satu awan besar yang berwarna kekuningan. Kau tahu, saat kau bermimpi tuk bisa menggapai kumpulan awan-awan itu, maka Tuhan akan menggenggam mimpimu lebih dari yang kau kira. Namun... sepertinya Tuhan tak mau membiarkan kita terlalu banyak bermimpi."
Satu hal yang bisa kugambarkan mengenai pria misterius ini. Dia terlalu banyak berfilosofis. Seandainya aku memiliki sifat dan karakter yang persis seperti anak-anak perempuan di luar sana, yang sangat suka berteriak-teriak aneh saat melihat pria ganteng dan sebagainya, maka dalam pikiranku saat sekarang ini adalah aku ingin mengenal pria ini lebih dalam lagi. Tapi sayangnya, aku bukanlah tipe anak perempuan yang seperti itu dan aku tidak bisa terlalu banyak berkomunikasi dengan orang asing. Sebab peraturan utama dalam komunitasku ialah memperkecil pertemuan dengan orang-orang aneh.
"Oh ya, sebelum berpisah, bolehkah aku bertanya mengenai satu hal?"
"Apa?" tanyaku dengan nada yang dibuat kesal.
"Apakah kau memiliki teman?"
Pertanyaan bodoh. Aku jadi semakin terusik, "tentu saja!"
Kulihat, ia mengeluarkan senyum simpul yang sama seperti yang tadi. Dan entah kenapa pipiku malah memerah. Beberapa saat kemudian, dia bergerak selangkah lebih maju. Maju dan semakin maju. Aku berusaha untuk mundur tapi percuma saja. Kini, bisa kupastikan jarak kami tidak lebih dari satu meter saja. Apa yang diinginkan oleh pria misterius ini?! pekikku.
"Saat tangan terluka maka mata akan menangis. Saat mata menangis, maka tangan akan menyeka air mata itu. Itulah esensi dari sebuah persahabatan. Tapi sepertinya, kau sedang sendirian di padang rumput tadi. Di mana temanmu?"
Aku membulatkan mata hijauku yang cemerlang itu. Entah kenapa aku merasa jantungku seperti berhenti tuk berdetak. Pria misterius berambut hitam pekat itu menarik tangan yang terus kupakai untuk memeluk diary-ku dengan pelan. Tak kusangka, seperti ada aliran listrik yang mengalir dari sentuhannya. Dan sentuhannya sangat halus dan lembut.
"Kau menguntitku ya?" tanyaku dengan sinis, berusaha tuk menghilangkan rona merah di kedua pipiku. Tapi, ia malah mengeluarkan evil smirk-nya lagi. Dasar pria misterius yang aneh. Huh!
"Kurasa, aku tidak melakukan hal seperti itu. Aku hanya menyukai reaksimu yang sangat tiba-tiba itu. Berlari sejauh-jauhnya, seakan-akan kau seperti sedang dikejar-kejar oleh hantu atau makhluk bertaring penghisap darah yang katanya sangat cepat berlari itu."
"Kau bodoh ya? Mana ada vampir jalan-jalan di siang hari yang sangat terik seperti ini? Kecuali yang jadi vampirnya adalah dirimu sendiri." tantangku dengan nada bosan. Dengan cepat, aku pun membuang wajahku sejauh-jauhnya dari pandangannya. Dia ini menyebalkan juga. Aku tahu! Dia pasti tidak menerima kalau aku bisa mengalahkan rekor larinya yang menurutnya sangat cepat itu. Hm.
Tawa kecil yang tertutupi oleh rahangnya itu bisa kudengar walaupun samar-samar. Rupanya ia menertawai kata-kataku ya.
"Tanganmu berdarah. Aku hanya punya saputangan, mungkin bisa menyeka tanganmu ini. Kau tidak sadar ya? Ataukah karena euphoria saat berlari bak seorang sprinter, rasa sakit itu tak bisa teraba oleh sel-sel saraf tubuhmu, hm?"
Ia telah mengikatkan saputangan miliknya itu di punggung tanganku. Ah! Sakitnya baru terasa sekarang. Aneh sekali. Aku pun langsung menarik tanganku itu dari tangannya.
"Kenapa kau malah bersusah payah mengejarku hanya untuk mengembalikan diary-ku yang tergeletak itu. Dan juga... kenapa kau melakukan ini?" tanyaku seraya menunjuk ke arah tangan yang telah terikat dengan saputangan putih miliknya.
"Entahlah. Kurasa karena Tuhan ingin supaya aku bertemu denganmu hari ini. Sebab, kita takkan pernah tahu apakah hari ini kita masih bisa mengubah dunia dengan menemui orang-orang baru. Dan juga―
Siluet mentari yang membawa naungan gelapnya bayangan membuat sosok misterius ini begitu berbeda di mataku. Aku tidak paham dengan pemikirannya yang sangat tiba-tiba itu. Kami tidak saling mengenal dan aku harus menerima kenyataan bahwa kami pun berbeda. Di distrik ini, saat kau bertemu dengan anggota geng lain maka bersiaplah untuk berlari sejauh-jauhnya. Tapi entah kenapa, saat berhadapan dengan pria ini, ada hal lain yang bisa kurasakan. Hanya saja, aku tidak tahu apa itu.
~(ooOoOoo)~
―kebebasan tuk membuat pilihan."
~(ooOoOoo)~
"Bisa kutebak kalau kau bukan orang Jepang asli. Apakah salah satu dari orang tuamu berwarga negara lain?"
Aku memalingkan wajahku, tak mau menjawab pertanyaan itu. Ya. Aku tahu kalau aku memang berbeda. Tapi, aku tidak ingin dia terlalu mengetahui siapa aku dan bagaimana keluargaku.
"Maaf jika aku menanyakan hal yang terlalu sensitif seperti itu. Hanya saja, aku berharap kita bisa berteman. Aku tahu kalau aku hanya orang asing aneh yang suka berfilosofis. Begitu kan yang ada dalam pikiranmu mengenai diriku? Kurasa... dengan berteman dengan orang-orang yang berbeda, dunia akan memalingkan wajahnya yang sangat angkuh itu. Lalu, kemerdekaan yang sepenuhnya bisa diraih."
Tiba-tiba saja, saat mendengar pernyataannya itu, aku jadi ingin bereaksi. Sekali lagi, aku memeluk lebih erat diary-ku itu. Semua mimpi semu yang ingin kuwujudkan berada dalam buku itu. Dan, aku ingin ia memahami bahwa apa yang dikatakannya tidaklah seperti itu. Sama sekali tidak seperti itu.
"Hal yang tadi kau sebut sebagai kemerdekaan itu hanyalah omong kosong belaka. Apakah hanya dengan menjadi seorang teman, kau yakin kau bisa mengubah dunia yang sama sekali tak pernah berpihak pada komunitas yang berbeda dari komunitas kalian? Kau tahu. Sudah berapa banyak darah yang berceceran di jalan-jalan distrik ini hanya untuk mendapatkan sepotong kemerdekaan yang nyata? Orang-orang di luar sana mengatakan bahwa perbedaan antara warna kulit kita, iris mata kita, dan pemikiran kita adalah suatu kutukan! Makanya, mereka dengan seenaknya melakukan hal-hal keji itu!" seruku seraya mengepalkan sebelah tanganku yang tak terluka.
"A-aku benci! Aku benci dengan semua perbedaan ini! Kenapa Tuhan tidak menciptakan satu hal yang sama untuk semua manusia di dunia ini?!"
Saat ini, aku tidak mampu mengontrol emosiku. Bila sudah berbicara mengenai kemerdekaan dan kebebasan, aku seperti seekor kelinci yang menginginkan bulan penuh agar aku bisa berlari ke sana dan melupakan segala hal mengenai bumi. Tapi dicoba beberapa kali pun, hasilnya akan sama saja. Selamanya, seekor kelinci takkan pernah sampai pada bulan itu.
"Kalau kita semua sama maka apa yang bisa membuat dunia ini tampak berwarna? Karena kau yakin dengan satu hal yang sama maka kebebasan tuk mendapatkan kemerdekaan itu akan ada, apakah kau bisa menjamin dengan satu hal yang bisa menyamakan kita semua itu akan menjadikan kita memahami satu sama lain? Bukankah perbedaan itu adalah ciri dari kehidupan yang nyata? Lalu―
Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan dingin. Kata-kata itu. Ya. Kata-kata itu seolah-oleh ingin menghakimi pemikiranku tentang kehidupan yang ideal saat ini. Aku benci semua itu. Apanya yang disebut sebagai keragaman warna di dunia ini? Itu semua hanya omong kosong! Omong kosong!
―tanpa kau sadari, dunia kita bergerak dalam satu lingkar perbedaan yang saling menyatu dan membentuk berbagai galaksi dengan kesempurnaan yang nyata. Kalau kau memaksakan tuk menjadi satu hal yang sama maka kau hanya memakai topeng kebohongan yang disebut sebagai kemunafikan. Hm. Kurasa kata-kataku terlalu kasar ya? Tapi... apakah menurutmu yang disebut sebagai perbedaan itu adalah ini?"
Ia menarik tangan kiriku yang terbebas dari penghalang apapun. Ia pun memajukan sebelah tangannya dan menarik vest hitam yang menutupi kulit tangannya itu hingga terlipat ke daerah lengannya. Nampaknya, ia seperti ingin membandingkan kedua warna kulita kami. Cahaya mentari yang mulai meredup membuat perbedaan antara warna kulit kami terlihat begitu jelas. Sangat jelas.
"Warna kulitku yang putih dan warna kulitmu yang kuning? Apakah yang kau sebut sebagai perbedaan adalah hal kecil seperti ini?"
Dua tangan itu terlihat sangat berbeda. Putih dan kuning kecoklatan. Sama seperti dongeng mitologi yang selalu ibu ceritakan sebelum aku tertidur. Sebuah mitologi yang berasal dari Peru―negeri di mana ibu dilahirkan dan dibesarkan. Dongeng itulah yang menjadi awal permusuhan antara vampir dan werewolf. Hanya karena werewolf memiliki bulu jelek berwarna coklat dan vampir dengan kesempurnaannya namun begitu sombong dengan hal itu, maka permusuhan dan peperangan itu dimulai.
"Kau tak harus menjadi satu hal yang sama. Dengan perbedaan yang melekat pada dirimu maka itulah yang akan menjadikan dirimu begitu sempurna dan spesial di antara yang lain. Saat kau telah merasa bahwa kau spesial, kemerdekaan yang ingin kau dapatkan akan tergenggam di kedua tanganmu ini. Aku percaya di dunia ini akan muncul suatu bangsa di mana segala perbedaan yang akan menjadi pelangi di antara awan-awan hitam itu―
―Hahh, kurasa aku berfilosofi lagi. Pasti kau berpikir kalau aku ini orang yang juga sangat membosankan 'kan?"
Mata jade-ku membulat. Saat aku menundukkan wajahku tuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh orang itu, aku sedikit paham mengapa ibu menceritakan dongeng itu setiap kali aku akan tertidur di malam hari. Aku tahu, masih banyak manusia di luar sana, tidak hanya aku dan kami yang mengalaminya, tetapi mereka yang belum bisa memahami arti dari kemerdekaan yang sebenarnya. Seringkali hal-hal kecil saja menjadi pemicu peperangan tiada akhir antara komunitasku dengan komunitas lain di distrik ini. Hanya saja... kenapa harus aku yang mengalaminya? Kenapa?
"Sudah sore. Kurasa untuk ukuran gadis sekolah menengah pertama sepertimu, kau harus pulang ke rumahmu. Kalau terlalu lama sendirian hingga gelap menyelimuti langit, terkadang ada hal-hal yang tidak bisa kau tangani sendirian. Dan aku yakin hal-hal itu juga yang membuatmu ingin terus berlari tadi. Iya kan?"
Dahiku mengkerut tipis. Aku tidak mungkin menangis di depan orang misterius yang entah siapa namanya. Tapi, sekali lagi. Aku tetaplah seorang gadis tanggung yang tak pintar menyembunyikan emosi-emosi itu. Perlahan. Tiba-tiba saja, dari sudut mata hijau itu, sebutir air membasahi pelupuk mataku. Tapi, aku berusaha tuk tidak memperlihatkan wajah sedihku. Hanya tangis dalam galutan kebohongan yang terpatri di wajahku.
"Tenang saja. Aku tidak akan membencimu hanya karena hal-hal kecil seperti itu." ujar pria misterius itu seraya mengusap ubun-ubun kepalaku yang dipenuhi oleh rambut berwarna merah muda. "Hei. Mulai hari ini kita berteman. Kau mau kan?"
"Aku―
"Hm?"
"Aku―
Aku terdiam dan tak bisa mengatakan apa-apa. Otakku seperti tidak bisa bekerja untuk beberapa saat. Hanya gumaman aneh yang kini bisa kukeluarkan dari balik rahangku. Aku terus saja mengulang-ulang kata aku itu. Kebingungan melanda diriku ini. Ditambah lagi kini jarak kami kurang dari tiga perempat meter saja.
"Tidak perlu kau katakan. Saat kita bertemu lagi, kuharap kau sudah memahami arti dari perbedaan yang sesungguhnya. Sebab―
Sial. Aku lengah lagi. Bisa-bisanya dia menyentuh ujung daguku. Aku tahu kalau aku ini pendek tapi tidak perlu sampai mengangkat wajahku dengan cara seperti itu kan? Bisa kutebak kini pipiku yang merah karena ingin sekali marah berubah merah padam karena hembusan nafasnya yang begitu terasa di wajahku. Pria ini menyebalkan sekali. Shanaro!!
―di saat itulah, dunia akan memalingkan wajahnya yang sangat angkuh itu. Benar begitu kan? Dan... kau tidak tahu ya kalau warna matamu yang berbeda itu mirip seperti batu emerald yang konon katanya berasal dari air mata dewi Aphrodite?"
"Ha―ap-apa?" pekikku dalam hati. Ia malah mengeluarkan evil smirk-nya lagi.
Dengan cepat, aku menarik tangan yang digunakannya tadi sebagai pembanding warna kulit kami. Aku pun memalingkan wajahku sejauh-jauhnya dari wajahnya yang sekarang begitu dekat. Tapi, rona merah bak buah badam di wajahku itu belum bisa hilang. Malah akan semakin memerah. Aku pun bisa mendengar tawa aneh yang berasal dari dirinya itu dan juga evil smirk yang menjadi ciri khasnya. Arrgh!!
"Kurasa aku harus pulang sekarang, begitu pula dirimu. Ja'" ujarnya singkat seraya mulai berjalan menjauh dari tempatnya berdiri tadi.
"Heii!" teriakku. Entah kenapa aku malah memanggilnya kembali. Aku ini kenapa sih?
Dia yang kuteriaki kemudian berbalik dan menatapku dengan mata onyx-nya yang sangat cemerlang itu. Aku lalu mengambil beberapa langkah maju dan berlari kecil ke arahnya. Sebuah pertanyaan untuk diriku di saat itu. Kenapa aku memberikan buku diary yang ku tak ingin seorang pun membacanya selain diriku, pada pria misterius ini. Tiba-tiba saja aku jadi aneh begini.
"Karena kau sudah membacanya walaupun sedikit, kurasa sudah tak ada gunanya lagi menjadi rahasia. Sebaiknya kau ambil saja. Aku sudah tak ingin menulis apapun di buku itu kalau sudah ada yang membacanya. Soalnya, aku juga sudah berjanji pada diriku. Kalau hanya karena kebodohanku aku membiarkan buku itu terbaca oleh orang lain, maka buku itu sudah tak berhak kutulisi lagi. Jangan khawatir, di dalamnya aku tidak menuliskan mengenai rahasia konyol seperti anak-anak perempuan di luar sana. Bagiku, yang disebut sebagai buku diary itu adalah sebuah kisah akan keinginan paling absurd dalam diriku. Jadi―
Aku bisa melihat senyum simpul itu untuk yang ketiga kalinya. Dan senyum itu terasa mampu menaungi dan menampung semua airmata yang kukeluarkan hari ini.
"Apakah kau yakin?" tanyanya seraya melihat-lihat buku diary-ku yang sudah lusuh itu.
Aku pun mengangguk tanpa menatap ke arah wajahnya seraya melipat kedua tanganku.
"Tapi! Saat kau membacanya, pastikan agar tak ada orang lain yang juga ikut membacanya. Aku tak mau ada orang asing lagi yang ikut-ikutan membaca keinginanku itu!" seruku seraya membalikkan tubuhku dan berjalan menjauhi pria misterius itu dan lama-kelamaan aku pun berlari lagi. Aku ini aneh sekali.
Mentari itu semakin menghilang. Burung-burung gagak pun terbang kembali ke sarang-sarang mereka―membuat suara-suara kaokan yang sangat khas. Awan kemerahan berubah menjadi orange saat aku berlari sejauh-jauhnya. Aku ingin sekali bisa menjadi seekor kelinci yang bisa mencapai bulan meskipun aku tahu aku tidak akan menggapainya sekalipun. Jika keinginan itu masih ada, apakah ia akan terwujud suatu saat? Kuharap Tuhan masih mau menggenggam impianku yang besar itu, sama seperti apa yang dikatakan oleh pria misterius tadi padaku...
~(ooOoOoo)~
Kegelapan seakan mulai memakan teduhnya sinar mentari di hari itu. Benda bulat berwarna kekuningan yang disebut sebagai bulan itu mulai menampakkan dirinya di antara langit yang hitam dan keabuan itu. Deru angin tipis sedikit membawa pucuk dedaunan kering terlepas dari rantingnya. Bersama dengan itu pula, suara-suara lolongan anjing mulai menggema dan memenuhi sudut-sudut gang yang terlupakan oleh manusia. Mereka mulai mencari mangsa demi mengisi perut-perut yang lapar itu. Seorang pria yang berjalan sendirian di jalanan sepi itu mengeluarkan suara meringis kesakitan seraya memegangi abdomennya yang sedikit ternodai oleh warna merah. Ya. Warna merah itu pastilah cairan penghidup manusia dan makhuk hidup lainnya.
Darah.
Luka lebam dan bekas pukulan memenuhi tubuhnya. Baju dan celana hitam yang dikenakannya pun telah robek sana-sini. Ada satu hal yang bisa menandakan sosok pria ini, yakni lambang kipas kecil yang termotif di sudut atas punggung belakang jaket hitamnya yang sudah lusuh itu.
"Kusso!" teriaknya.
Langkah-langkahnya yang sangat sigap tadi berubah menjadi perlahan tatkala suara lolongan anjing mulai menggema lagi. Ia berhenti sebentar dan memerhatikan keadaan di sekitarnya. Angin yang berhembus di kegelapan malam itu membuat perasaannya menjadi tidak enak lagi. Ada beberapa pasan mata yang bersembunyi di balik tembok-tembok gedung rongsokan itu.
"Keluarlah! Aku tahu kalian bersembunyi!"
Maka, suara lolongan anjing itu berubah menjadi derap langkah lantang dari semua sudut jalanan sepi itu. Beberapa pria berbadan kekar mulai maju dan mengeluarkan segala macam bentuk senjata tajam yang dimilikinya. Pria berpakaian lusuh itu mengernyitkan dahinya dan menatap tajam ke arah pria-pria kekar berkulit coklat tua yang harus dihadapinya di saat itu juga.
"Apa mau kalian, hah?!"
Mereka hanya diam dan terus bergerak maju hingga si pria penuh luka itu tak bisa kabur maupun lari. Mereka mengelilinginya dan membentuk semacam lingkaran. Seorang pria pendek tiba-tiba saja muncul dari kerumunan barisan pria-pria kekar itu dan berjalan mendekati si pria yang kini telah terjebak dalam lingkaran musuh itu.
"Wah, sungguh beruntung bisa mendapati seorang anggota klan yakuza yang sangat terkenal di malam yang larut begini. Apalagi... sepertinya tanpa senjata ya? Dan juga penuh dengan luka. Hmm..."
Sebuah seringai jahat terukir di senyuman pria pendek itu. Dengan hanya menjentikkan jemarinya, semua pria kekar yang berbaris membentuk lingkaran itu maju mendekat dan semakin mendekat ke sentral lingkaran yakni ia dan si pria penuh luka.
"Hehh! Aku takkan pernah memberitahu kalian informasi apapun meskipun kalian memotong kepalaku di tempat ini sekalipun!!"
"Hm... benarkah itu? Benar-benar anak buah yang sangat loyal ya?" ungkap pria pendek itu seraya menepuk-nepuk tangannya, "bravo, bravo. Nilai seratus untukmu, Uchiha. Tapi, sayang sekali, untuk mendapatkan nilai seratus dariku itu, kau harus mati sekarang."
Pria pendek itu menjentikkan jemarinya lagi. Dan sepersekian detik kemudian seperti ada suara-suara metal yang saling bertemu dan mengiris daging yang masih segar. Tapi, entah kenapa, suara-suara metal itu berhenti sesaat; menimbulkan keributan di antara pria-pria kekar bersenjata itu.
"Aarggh!!"
Satu orang jatuh. Darah segar mengalir dari tubuhnya. Sayatan panjang terlihat di punggungnya dan membuatnya harus tersungkur jatuh tepat di tempat ia berdiri. Pekikan rasa sakit itu mampu mengalahkan lolongan serigala sekalipun. Mereka yang menyaksikannya hanya bisa terkaget dan membulatkan mata-mata mereka. Ketakutan mulai melanda dan mereka tak bisa bergerak. Satu gerakan, satu tubuh jatuh. Dan ketika semua bergerak, maka sayatan-sayatan yang berasal dari katana panjang yang tak terlihat itu akan tergores dan terlukis di tubuh-tubuh kekar itu.
"AARRGHHHH!!!"
Si pria pendek mengeluarkan bulir keringat di sudut keningnya. Ia mulai menyerap aroma kematian yang jelas di sekitarnya. Euphoria dan histeria ketakutan meracuni otaknya yang normal itu. Gema kematian melingkupi detak jantungnya dan ia hanya merinding. Pakaian mewah ala kaum borjuis yang dikenakannya kini tak berwarna putih cerah lagi, tetapi kini dihiasi dengan polkadot merah―cipratan darah.
"Hentikan. Hentikan... HENTIKAN!!! KELUAR KALIAN! A-aku tahu kalian bersembunyi di balik tembok-tembok ini! KELUARRR!" teriak pria pendek itu putus asa.
"Inilah kekuatan yang kami miliki. Klan yakuza kami bergerak di balik bayangan dan takkan pernah salah memprediksikan musuh. Kami bisa saling mengetahui keberadaan anggota kami. Kini, semua kata-katamu akan berbalik melawanmu. Bersiap-siaplah menghadapi kematianmu..."
Darah.
Fresh blood.
Dan tubuh-tubuh kaku memenuhi salah satu jalanan tersepi di distrik tiga wilayah Kanto. Di tahun ini, masalah-masalah antar geng dan yakuza seakan-akan adalah hal biasa. Kedamaian akan didapatkan bila salah satu dari mereka tidak memasuki wilayah komunitas lain. Dan adalah suatu kesepakatan bila salah satu melakukan pelanggaran, maka nyawa anggotanya harus menjadi bayarannya.
"Beristirahatlah dengan tenang."
Pria penuh luka itu melepas jaket hitam yang dikenakannya. Dengan hentakan pelan, ia menerbangkan jaketnya, menutup salah satu bangkai mayat yang sangat menyedihkan itu. Kini, lambang kipas itu akan menjadi bukti betapa berkuasanya klan yakuza milik Uchiha ini...
~(ooOoOoo)~
"Itachi-sama."
"Hn?"
"Anda pulang agak telat. Bolehkah saya tahu Anda dari mana? Setelah kejadian tadi siang, tiba-tiba saja Anda menghilang."
Pria bernama Itachi itu tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari sebuah buku berwarna-warni―tipikal buku diary milik anak perempuan. Dengan tatapan serius ia membalik-balik halaman per halaman dari buku yang menurutnya sangat menarik itu. Meskipun sang pelayan berusaha mengajaknya bicara, yang diajak bicara hanya menjawab dengan dua huruf saja, yaitu hn.
"Dua hari yang akan datang, adik dan ibu Anda akan tiba di Kanto. Semestinya jadwal kedatangan pesawat dari Zurich ke Tokyo adalah besok. Akan tetapi, mengingat cuaca di Zurich sangat buruk hari ini, maka penerbangan pun ditunda hingga lusa. Lalu, Fugaku-sama juga baru akan tiba sekitar lima atau enam hari lagi dari Macau."
"Hn."
"Kemudian―"
Tiba-tiba Itachi menaikkan sebelah tangannya, meminta agar sang pelayan tuk berhenti berbicara. Nampaknya, ia ingin menginterupsi. "Aku sedang berkonsentrasi saat ini. Kau bisa pergi sekarang, Arashi."
"Tapi Itachi-sama, ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada Anda. Hal ini mengenai salah satu anggota kita yang berhasil memasuki salah satu wilayah geng di distrik tiga pagi tadi. Hanya saja, ia berhasil tertangkap dan mendapat luka berat di seluruh tubuhnya. Apakah kita harus melakukan balasan?" potong sang pelayan.
Mendengar pengakuan dari pelayannya, Itachi mulai menegakkan kepalanya sedikit. Ia lalu meletakkan dengan pelan buku yang terus saja dibacanya dan belum berhasil diselesaikannya di atas meja santainya itu.
"Apakah hanya luka?"
"Hai'. Tapi, yang saya dengar, geng yang mendapati Shisui tadi pagi itu adalah geng yang sudah lama kita incar, Itachi-sama. Konon katanya, geng mereka adalah geng dengan pertahanan terkuat di distrik tiga. Entah bagaimana caranya, mereka bisa bertahan hingga sekarang. Semenjak peperangan
yang pecah beberapa tahun yang lalu, komunitas mereka telah diungsikan kembali ke negara asal mereka. Tetapi, sepertinya mereka kembali lagi."
"Sou ka?" tanya Itachi masih tanpa menatap ke arah pelayannya itu. Ia lalu mengambil kembali buku diary yang diletakkannya di atas meja dan mulai membalik halamannya lagi, "kita lihat dulu gerakan mereka selanjutnya. Jika masih seperti itu, maka balasan akan dilakukan. Tapi―"
Itachi terdiam sebentar. Ia memegangi dagunya sebentar sebelum kembali berucap, "keputusan untuk melakukan balasan atau tidak, tetap ada di tanganku, Arashi. Ingat itu."
Sang pelayan, Arashi, membungkuk dalam-dalam dan berjalan mundur hingga ke ujung pintu, sedikit membuat Itachi bisa bernafas lega. Setidaknya, ia bisa memenuhi janji yang disebutkan gadis berambut merah muda yang memberikan diary-nya yang sangat berharga itu pada dirinya tadi...
Monday, 3 March 1998.
―lagi. Aku harus kembali ke sekolah menyebalkan itu. Dan yang kudapatkan hanya tatapan dingin dari anak-anak itu. Siang harinya, Gaara-nii tiba-tiba datang ke kelasku dan menarikku keluar. Katanya ada hal yang sangat penting.
Saturday, 15 March 1998
―aku baru saja keluar dari sel anak-anak. Sehari di tempat mengerikan itu sama saja dengan setahun, tidak, sama saja dengan seribu tahun di dunia ini. Ibu sangat sedih saat aku keluar dari tempat mengerikan itu tapi ayah... Ayah malah berkata bahwa dia bangga padaku. Sejak saat itu, aku mulai sadar bahwa aku dibutuhkan demi komunitasku.
Thursday, 2 April 1998
―aku ingin memekikkan kalau aku ingin bebas. Bebas seperti seekor kelinci yang berharap bisa terbang ke bulan―
Wednesday, 14 May 1998
―kenapa kami berbeda? Kenapa mereka melukai kami? Kenapa orang-orang itu tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku, kami ini berbeda dari mereka? Hanya karena mereka kuat? Aku benci dengan orang-orang itu! BENCI!
Friday, 13 June 1998
―aku ingin mengecap kemerdekaan. Apa itu kemerdekaan? Setiap kali aku bertanya akan hal itu, tetap saja tak ada tanda-tanda akan kemunculan jawaban pasti. Kata guruku, negara ini telah merdeka berabad silam. Tapi, yang bisa kulihat di distrik ini hanyalah kemerdekaan semu yang terpendam oleh sekam dan abu―
Ia membalik lembaran terakhir itu. Kosong dan hanya tersisa sebuah lembaran berisi catatan tambahan. Ia membaca tiap deretan kata yang tertulis di setiap halamannya dengan seksama. Kemudian, ditutupnya sampul diary itu dan diltekkannya di atas meja kayu yang ada di depannya. Ia hanya bisa merebahkan badannya di punggung sofa yang empuk itu dan mencari-cari posisi yang nyaman untuk tidur. Rasa sakit yang amat mulai menjalar di kepalanya, begitu pula dengan hati kecilnya.
'A-aku benci! Aku benci dengan semua perbedaan ini! Kenapa Tuhan tidak menciptakan satu hal yang sama untuk semua manusia di dunia ini?!'
'Kau tahu. Sudah berapa banyak darah yang berceceran di jalan-jalan distrik ini hanya untuk mendapatkan sepotong kemerdekaan yang nyata? Orang-orang di luar sana mengatakan bahwa perbedaan antara warna kulit kita, iris mata kita, dan pemikiran kita adalah suatu kutukan!'
'Hal yang tadi kau sebut sebagai kemerdekaan itu hanyalah omong kosong belaka. Apakah hanya dengan menjadi seorang teman, kau yakin kau bisa mengubah dunia yang sama sekali tak pernah berpihak pada komunitas yang berbeda dari komunitas kalian?'
Suara itu terdengar begitu nyaring di telinga Itachi. Seberapa pun kuat dirinya tuk menahan gaungan suara-suara itu, ia tetap tak bisa tertidur. Ia lalu bangkit seraya memegangi keningnya. Kucir kecil yang selalu menjadi ciri khas pada rambutnya kini mulai terlepas tak beraturan. Wajahnya terlihat begitu lelah. Rupanya, hanya dengan berlari sejauh dua kilo tanpa henti dan beraksi di pertempuran antargeng tadi siang benar-benar menguras tenaganya.
"Kau ingin kemerdekaan kan, Sakura? Saat awan mulai menangis, di saat itulah kita akan bertemu dalam impian yang telah Tuhan genggam." ujar Itachi sambil menatap selembar foto yang menuliskan kata Sakura di belakangnya dan menampilkan sosok seorang gadis kecil berusia enam atau tujuh tahun dengan rambut merah muda yang tengah tersenyum manis seraya memegangi boneka teddy bear...
~(ooOoOoo)~
Present Time...
Angin sejuk di siang itu membuat Sakura ingin sekali lagi tertidur di padang rumput itu. Sudah sangat lama ia tak pernah ke tempat itu lagi hanya untuk sekadar menatap awan ataupun tidur siang. Chaos yang tiba-tiba terjadi di sekolahnya beberapa saat yang lalu membuatnya bisa kabur dan tidak melakukan apa-apa. Dia sudah bosan mendengar komentar dari orang-orang yang harus sekelas dengannya. Ketidakadilan yang terjadi di distrik ini bisa dibuktikan dengan kejadian pertempuran kecil dalam lingkungan sekolahnya.
"Sudah lama sekali aku tidak ke tempat ini. Tapi... aku ingin menemui ayah. Sebaiknya aku ke makam ayah atau tidur di sini ya?" tanya gadis berambut merah muda itu dalam hati. "Hm, kurasa ke makam ayah saja."
Langkahnya menuntunnya tuk mencapai sebuah tempat pemakaman umum di sudut kota distrik tiga wilayah Kanto itu. Buket-buket bunga maupun benda-benda kesukaan yang telah terpatri namanya di batu nisan itu sedikit bisa memberikan warna berbeda selain warna keabuan ataupun putih. Deretan nisan yang berdiri tegap itu dihiasi oleh warna-warna cerah seperti bunga lili kuning ataupun botol champagne yang sangat mahal. Namun, ada satu nisan yang kosong. Tak ada penghias apapun. Hanya ada dedaunan kering yang membuat warna nisan itu berbeda.
"Hai ayah. Hari ini aku datang lagi. Maaf ya kalau aku mengganggu istirahatmu terus." ujar Sakura dengan senyum sedih. "Hari ini sekolahku sedang perang. Pasti karena ada anak baru yang memasuki wilayah anak lain di sekolah. Dan... aku pun lari dari kelas. Tapi! Aku lari bukan karena aku ingin menghindari peperangan itu. Aku lari karena―
―karena aku ingin bebas."
Suara desau angin sedikit mengibas poni merah muda Sakura. Mentari yang cerah itu berubah gelap karena tertutupi oleh awan―sedikit memberikan kesan mengerikan pada tanah daratan.
"Maaf ya ayah. Aku datang tanpa membawa apapun. Yang bisa kulakukan hanya membersihkan tempat tidurmu saja." ungkapnya sambil mengambil satu persatu dedaunan kering yang mengotori nisan ayahnya itu. "Ayah. Kau tahu. Aku dan ibu sangat rindu padamu. Sudah dua tahun ya sejak kejadian itu? Kata Gaara-nii, lariku sudah bertambah cepat, berbeda seperti dua tahun yang lalu. Andai saja aku bisa berlari lebih cepat saat itu, mungkin saja... kau masih bisa ada di samping kami hingga sekarang."
Tetes air mata mulai memenuhi sudut-sudut mata jade gadis itu. Ia pun berusaha menyekanya dengan menggunakan punggung tangannya. Suara-suara ringkih dedaunan menambah kesan sunyi yang menyedihkan bagi Sakura.
"Ayah... apakah saat kita mati, kita bisa merasakan kebebasan itu? Apakah―apakah saat kita mati, maka kita bisa merasakan arti sesungguhnya dari kemerdekaan? Ayah... a-aku ingin bisa hidup bersama mereka. Aku ingin bisa menjadi teman mereka tanpa ada ikatan pengganggu yang disebut sebagai perbedaan. Aku mohon... tolong aku ayah. Ayah..."
Sakura sudah tak bisa menahan emosi itu lagi. Air mata itu tak dapat tertahankan pula. Ia, yang terus saja berusaha tuk dapat menekan rasa sedihnya tak mungkin bisa menahan begitu lama. Ia hanyalah seorang anak perempuan yang ingin merasakan kebebasan dalam memilih kehidupan yang nyata. Ia hanyalah bunga sakura yang ingin terbang bebas hingga ke bulan.
Suara tangis itu kemudian ia hentikan saat sebuah langkah sepatu dari arah belakangnya terdengar di telinganya. Ia pun berbalik dan mendapati seorang pemuda dengan rambut hitam pekat tengah menundukkan wajahnya teramat dalam tepat di salah satu nisan dari deretan nisan-nisan di pemakaman itu. Sakura merasa mengenal pria itu. Ya. Ia seperti sangat mengenalnya.
"Rambut hitam pekat... Mungkinkah dia? Tidak. Itu tidak mungkin. Dia tidak mungkin masih hidup. Tidak."
Sakura merasa sudah terlalu lama berada di kompleks pemakaman itu. Ia pun berbalik kembali dan meninggalkan nisan ayahnya.
Pria itu menaikkan wajahnya yang dipenuhi dengan luka dan goresan. Entah kenapa ia rela mengorbankan wajahnya itu untuk dipukuli oleh si Uzumaki yang dianggapnya sebagai rival terbesanya itu. Mata onyx-nya bisa mendapati seorang gadis berambut merah muda yang tengah berjalan meninggalkan kompleks pemakaman itu.
"Gadis itu... Haruno kan?"
~(ooOoOoo)~
TBC
~(ooOoOoo)~
Hore... akhirnya chappie dua keluar!!! –tebar bunga tujuh rupa–
Ada adegan ItaSaku-nya ya? Hmm... sesuai dengan permintaannya Furu. Hehehe.
Bagaimanakah menurut Anda dengan chappie dua ini? Membosankan ya? Trus, mana adegan romensnya? –kabur–
Yang ada malah adegan peperangan nggak jelas gitu. =.=a
Jadi... pertemuan antara Itachi dengan Sakura begitu ya? Belum semuanya saya kupas sih.
Mungkin hanya ini yang bisa saya persembahkan untuk para readers.
Huge thanks to : Madame La Pluie, Nakamura Kumiko-chan, ambudaff, Michisige Asuke, Smiley, hanaruppi, kakkoii-chan, Lady Arlene, Furu-pyon, Rikudou Sakura, nacchi cullen, Haruchi Nigiyama, evey charen, Ayui Nonomiya, dan ddd
RnR! ^^
