"Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia adalah hal yang dirasakan oleh hati"

-Helen Adams Keller-

"When you need me, but do not want me, then I must stay. When you want me, but no longer need me, then I have to go."

-Nanny McPhee-


Hints of NaruHina. ^^

Book Three : The Emotion.

-

-

"Aku dan kau akan menjadi kami."

-

-

~(ooOoOoo)~

Shizune.

Aku sudah tak tahan dengan semua keributan dan chaos yang terjadi di tempat ini. Tak pernah kubayangkan sebelumnya hal yang seperti itu terjadi tepat di depan mataku dan tepat di hari pertamaku bekerja sebagai seorang guru. Saat kulihat salah satu muridku saling pukul-memukul, ingin rasanya tangan ini tuk melerainya. Ingin rasanya suara yang tercekat di antara sela tenggorokan ini tuk segera meneriakkan pekikan-pekikan berupa lepaskan atau hentikan. Tapi, mataku hanya bisa membulat dengan tanganku yang juga hanya bisa teremas kuat hingga bisa kurasakan bulir-bulir keringat dari keningku jatuh dan membasahi tanah dan rerumputan di bawah sana.

Sungguh ini bukanlah hal yang kuinginkan tuk terjadi. Aku harus menggerakkan tubuh ini meski tetap saja aku merasa takut dengan mereka yang sebagian besar membawa senjata tajam maupun selongsong senapan kecil di tangan mereka. Suara gemuruh di udara memberikan tanda akan peperangan besar baru saja terjadi. Aku jadi teringat dengan salah satu buku yang pernah kubaca bertahun-tahun lalu. Buku yang berisi akan peperangan tiada akhir antara suku Apache dan warga pendatang dari Europe.

Aku melangkah sedikit. Perlahan. Dan pasti. Aku lalu mendekati kedua muridku yang saling memukul itu. Baru saja tangan ini berusaha tuk melerai, tetapi suara-suara baik sirene ambulans atau mungkin lebih tepatnya bel peringatan mobil polisi memenuhi tiap penjuru gedung ini. Saat aku berbalik, bisa kulihat dari kejauhan beberapa anak yang memenuhi lapangan tengah mulai berbondong-bondong berlari menjauhi kerumunan pasukan anti huru-hara dengan seragam mereka yang berdominasi coklat muda itu. Di tiap sisi pintu masuk, mobil-mobil polisi memenuhinya dan menderukan beberapa bunyi yang sangat memekikkan telinga.

Tanpa kusadari, kedua muridku yang saling memukul telah hilang entah ke mana. Melihat situasi itu, aku harus segera melakukan sesuatu yang bisa kulakukan saat ini. Aku harus kembali ke dalam gedung tuk berbicara dengan Tsunade-sama dan meminta penjelasan dari beliau. Ya. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini...

~(ooOoOoo)~

Basketball Court. 3rd District.

Dedaunan coklat mulai berguguran di siang yang terik itu. Sungguh fenomena alam yang tak biasa. Matahari yang kini mulai berdiri tepat di atas ubun-ubun kepala sungguh membuat perasaan peluh dan panas yang menjalar bagi siapapun, terutama bagi mereka yang hanya bisa berdiri di tengah lapangan berwarna kecoklatan itu. Lapangan itu terletak tepat di belakang sebuh kapel kecil di distrik tiga wilayah Kanto. Suara-suara lonceng kapel mulai bermain dan memberikan efek hening di siang yang terik itu.

Di setiap tiga puluh detik, satu lonceng akan berbunyi, membuat satu daun berguguran. Lama berselang hingga satu per satu dedaunan coklat mulai memenuhi area yang menjadi tempat istirahat bagi para pemain slam dunk itu. Kursi-kursi kayu menjadi wadah bagi dedaunan dan juga sebagai wadah luapan emosi seorang Uzumaki Naruto. Ia tetap tak menghiraukan suara lonceng kapel meskipun rasa sakit karena pukulan tepat di pipinya membuatnya terus berteriak tak karuan.

"Aaa... sakit!"

Satu. Dua. Tiga. Ketiga bola berwarna orange itu masuk secara bergiliran dari jarak three point. Seorang pemuda berambut nanas tengah memperkirakan jarak tembak yang terbaik tuk melakukan jump shoot. Entah memang karena keberuntungan ataukah bisa dibuktikan dengan penonjolan beberapa centi pada bagian frontale tengkoraknya, sehingga ia bisa memasukkan ketiga bola-bola itu dengan memberi nilai three point atau bahkan gaya zig-zag ala Michael Jordan, sang maestro basket dari negeri adidaya itu.

"Kusso!!"

Serpihan keripik kentang sedikit mengotori sisi lapangan yang lebih rindang, dengan pepohonan yang sedikit menutupi langit dari serbuan titik-titik sinar yang begitu menyengat di siang itu. Sambil membuka-buka beberapa postcard dengan foto-foto bangunan berarsitektur unik, pemuda berbadan subur itu selalu menyunggingkan senyumnya meskipun kumpulan postcard itu telah begitu lusuh. Senyumnya terlihat lebih lebar saat sebuah postcard dengan sobekan di ujungnya dan garis-garis hitam sebagai aksen pemanis lipatan-lipatan tua, terlihat begitu menakjubkan di kedua matanya yang sipit itu. Sebuah foto berwarna kecoklatan―lapuk karena termakan oleh usia―meluncur dari dalam postcard itu.

"Arrgh..."

Burung-burung gereja yang hinggap di pepohonan itu merasa terusik. Mereka terbang menjauh, mencari tempat yang lebih aman. Suara dentuman keras di batang-batang pohon itu pun sedikit membuat si pemuda rambut nanas dan pemuda pengoleksi postcard berbalik dan memerhatikan kondisi sahabatnya itu.

"Kupikir si burung gagak hanya terdiam begitu saja saat kau pukul, tak taunya dia juga membalas ya?" tanya si rambut nanas seraya mengambil salah satu bola dan melakukan tembakan two point yang sempurna. "Bekas pukulannya masih sakit ya?" lanjutnya dengan tatapan mengantuk seperti biasa.

"Hehh! Dia hanya memukul satu kali. Tapi sial! Kenapa rasanya sakit sekali sih?! Lihat ini! Bahkan es-nya pun sudah mencair. Aku butuh es lagi untuk menghilangkan lebam biru ini. Hei Chouji, belikan aku es di minimarket ujung jalan sana. Ini uangnya. Sisanya bisa kau pakai untuk membeli postcard yang baru. Soalnya kemarin, saat aku minimarket itu, aku melihat ada postcard bergambar lembah The Great Canyon atau apalah. Kurasa kau pasti sangat menyukainya." ujarnya dengan menambahkan cengiran kecil di akhir ucapannya. Si pemuda berbadan subur tiba-tiba saja menampilkan wajah cerahnya dan segera bergerak mengikuti instruksi pemuda blondy itu.

Melihat kelakuan sahabatnya yang seperti itu, si pemuda rambut nanas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Teriknya mentari rupanya bisa mengubah mood-nya tuk jadi seorang pemalas yang ingin cepat-cepat tidur.

"Hei, kenapa tidak ke basecamp saja sih? Aku tahu kau masih kesal. Tapi, setidaknya di basecamp ada kotak obat yang bisa mengobati luka-lukamu itu." keluhnya.

Naruto berbalik, memperlihatkan wajah kesalnya sekali lagi, masih sambil memegangi pipinya yang telah berwarna biru kehitaman, "karena kesal, aku jadi tidak bisa berpikir panjang. Entahlah. Tiba-tiba aku ingin ke tempat ini. Lagipula, kalau kita ke basecamp sekarang, si Iruka bisa melihat kita. Letak kantornya dengan basecamp tidak terlalu jauh, kau tahu itu kan? Sekarang juga jam istirahat kerja. Biasanya dia lebih memilih untuk makan siang di restoran ramen Teuchi-jii." jawab Naruto sembari mengusir beberapa dedaunan coklat dari jaket tebalnya.

"Mengenai basecamp, itu kan juga salahmu. Memilih basecamp yang berdekatan dengan kompleks pertokoan. Ah, salah. Lebih tepatnya, kau memilih basecamp yang letaknya berdekatan, bahkan sangat dekat dengan restoran paman Teuchi yang sangat terkenal itu. Kesukaanmu pada ramen tidak bisa hilang sampai sekarang ya?" ujar pemuda nanas itu sembari memutar badannya dan berjalan menjauhi lapangan basket yang sudah tak terurus lagi.

"Hoi! Kau mau ke mana, Shika?" teriak Naruto. Pemuda yang dipanggil Shika itu tidak menggubris teriakan Naruto dan malah semakin meninggalkan lapangan luas itu, "dasar dia itu. Hoi!"

"Ayo jemput Chouji. Kau ambil barang-barangnya dan kita akan ke minimarket. Aku juga harus membeli sesuatu untuk ibuku. Hahh... menyusahkan saja."

Naruto lalu mengumpulkan semua barang-barang kesayangan sahabatnya itu dan segera berlari mengikuti Shikamaru. Tak lupa juga ia lalu memasang topi NY-nya guna sedikit menutupi wajahnya dari sinar mentari yang begitu terik. Keduanya pun mulai melangkah lagi melewati area kapel yang terlihat begitu sepi. Naruto masih bisa mengingat ketika ia masih berada dalam lingkungan panti asuhan beberapa tahun yang lalu. Setiap minggu pagi, anak-anak panti akan diajak tuk membersihkan kapel dan patung-patung gips yang menghiasi taman di depan kapel. Tapi, waktu terasa begitu cepat, seakan ingin segera membuatnya melupakan semua kisah lama yang berbalut luka.

"Hei Naruto, Bukannya tidak sopan kalau kau menyebut ayah angkatmu itu dengan namanya secara langsung? Sudah bagus kan kau bisa keluar dari panti asuhan yang mengerikan itu? Tak kusangka di dunia yang konon katanya telah menjunjung tinggi hak asasi manusia, masih saja ada yang suka memukuli anak-anak kecil dengan cara seperti itu. Hahh..." ungkap si rambut nanas yang diakhiri dengan helaan nafas panjang dan sedikit membuat Naruto tersentak. Sebuah lentera masa lalu tiba-tiba saja berputar di dalam memori kepalanya.

"Soal itu... aku hanya belum terbiasa memanggilnya dengan kata 'ayah' atau 'tou-chan', 'tou-san' atau yang sebagainya. Yahh, setidaknya aku ingat namanya kan? Daripada kau. Kau selalu saja mengatakan 'merepotkan saja' pada ibumu itu. Dan! Aku berani bertaruh kau pasti tidak ingat dengan hari ulang tahun ayah dan ibumu kan?"

Shikamaru malah memajukan bibirnya dan mulai berkomat-kamit, mengatakan entah apa itu. Naruto hanya bisa tertawa namun menjadikan luka lebamnya semakin sakit saja. "Auu..."

Dedaunan hijau dan suara gemerisik di antara semilir angin memberikan efek sejuk di siang itu. Awan putih bergerak menutupi lengkung matahari yang terik―memberikan gelap yang sementara. Setelah awan itu pergi, maka terang kembali memanaskan daratan.

"Aku ingat suatu hari aku lupa mengerjakan tugas tambahan dari Suster Airi karena aku ketiduran sampai pagi. Kemudian, si nyonya gemuk yang jahat itu memukuliku dengan sapu." ujarnya tiba-tiba, seraya memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya, membiarkan luka lebam di pipinya. "Aku lari dan berlari. Hanya itu yang bisa kulakukan saat aku sendiri dan tak bisa membela diri―

―tanpa sadar aku sudah sampai di kapel ini. Beberapa kali pun aku berdoa dan meminta kebebasan dan kemerdekaan dari-Nya, tak pernah satu pun doa itu terkabul. Hingga suatu hari, aku melihat ada seorang gadis seusiaku masuk ke dalam kapel dan ikut berdoa tepat di sampingku. Saat kuperhatikan, ternyata ia adalah calon biarawati. Sekecil itu sudah jadi biarawati, pikirku, dan kuanggap itu adalah hal yang keren. Kurasa berkat bantuan doanya, aku bisa merasakan sedikit kebebasan. Yahh, walaupun dengan memukul anak geng lain itu juga bukan hal yang benar. Tapi, mau bagaimana lagi. Kalau saat itu aku tidak melakukannya, maka..."

"Kita yang mati. Begitu kan maksudmu?" lanjut Shikamaru santai. Yang bercerita hanya mengangguk pelan.

"Lalu, aku mulai mengenal gadis kecil itu. Setiap pagi, sebelum melakukan rutinitas di panti, aku akan selalu ke kapel ini, berharap aku bisa bertemu dengannya. Kau tahu, entah kenapa saat ia menemanikan berdoa, setiap doaku akan terkabul dengan cepat. Waktu itu aku memohon ingin sekali bisa belajar naik sepeda. Dan, di sore harinya, cucu si nyonya gemuk datang dan mengunjungi panti dengan sepedanya.

―diam-diam, aku meminjam sepeda cucunya tanpa sepengetahuan si nyonya gemuk. Ha ha ha. Hebat kan? Tapi, di hari aku memohon tuk diberikan kebebasan, tiba-tiba dia tak pernah datang lagi ke kapel. Sejak saat itu aku tak pernah melihatnya lagi hingga hari terakhir Iruka mengambilku dari panti. Saat kudengar dari salah satu temanku, katanya gadis itu sedang sakit hingga ia harus dibawa ke luar negri untuk melakukan pengobatan. Hanya saja, sampai sekarang pun, meski setiap hari aku selalu ke kapel ini, dia tak pernah muncul lagi. Kurasa, dia sudah lupa dengan janji itu."

"Janji? Janji apa?"

Mendengar pertanyaan Shikamaru, Naruto jadi salah tingkah dan malah mengaruk-garuk topinya tidak jelas, "hahaha, bukan janji yang istimewa kok. Hanya sebuah janji konyol yang kuutarakan secara sepihak padanya. Aneh kan?"

Shikamaru hanya menghela nafas panjang sedangkan Naruto menatap langit di siang itu seraya menyipitkan matanya yang sebiru langit itu.

Shikamaru yang mendengarkan cerita Naruto sedikit bisa merasakan rasa sakit yang dialami oleh sahabatnya itu. Namun, entah kenapa ia jadi terbengong sendiri saat dilihatnya Naruto hanya bisa berdiri mematung tepat di taman kapel. Shikamaru sedikit bingung dengan kelakuan Naruto. Ia lalu memanggilnya namun Naruto malah berjalan mendekati sesuatu, tidak, tepatnya seseorang di dekat kapel itu.

"Apa yang dilihat anak itu?"

Seorang gadis dengan pakaian ala biarawati baru saja ingin memasuki kapel kecil itu. Naruto merasa mengenalnya tapi entah kenapa seperti ada sebuah batu besar yang mencekat suara dalam tenggorokannya. Ia pun melangkah sedikit demi sedikit. Dan berlari mendekati sang biarawati.

"Hina―"

Sang biarawati berbalik, menatap ke arah Naruto dengan tatapan sendu, ditambah juga dengan senyum manisnya. "Ada yang bisa saya bantu?"

"A―a―" Naruto membuka-menutup mulutnya. Merasa dirinya terlalu banyak berharap dari kisah yang ia ceritakan pada sahabatnya, kini ia merasa sangat malu, "ti-tidak. Maaf. Sepertinya aku salah orang. Gomen."

Tangan yang tergapai itu ditarikanya kembali. Sesuatu yang mencekat suaranya tadi terasa semakin berat dan sakit. Rasanya sudah lama sekali ia masih berharap banyak untuk hal yang satu ini. Tapi, apa yang ia janjikan saat itu bukanlah suatu keharusan untuk ditepati, terlebih bila yang diinginkan untuk selalu ada tak mungkin tuk kembali lagi seperti memori masa lalu.

Dengan perlahan, Naruto melangkah mundur dan sesegera mungkin membuang wajahnya jauh-jauh dari arah biarawati itu. Tubuhnya entah kenapa menjadi kaku dan susah sekali untuk digerakkan. Ia berjalan layaknya robot yang perlu remote control agar langkahnya tidak membuatnya tersandung. Shikamaru hanya bisa menatap lelah ke arah Naruto. Meskipun dengan langkah tertatih-tatih bak baru saja dihajar oleh puluhan pria berbadan besar, Shikamaru paham kondisi Naruto yang tiba-tiba berubah seperti itu.

"Kau tak apa, Naruto?" tanya Shikamaru seraya menepuk pelan pundak Naruto.

Yang ditanya hanya mengeluarkan cengiran khasnya, "yeah. Aku tak apa. Hanya saja tiba-tiba aku jadi aneh begitu. Haha. Kurasa gara-gara pukulan si teme yang menyebalkan tadi, kepalaku jadi aneh. Apa aku gegar otak ya? Hahaha."

Tawa dan cengiran itu bisa menjadi jawaban atas pertanyaan khawatir seorang Shikamaru. Ia juga mengerti bahwa di dunia ini ada sebuah hukum di mana hanya dengan satu kata maka dunia akan berubah. Akan tetapi, hanya dengan diam, seribu pertanyaan yang bermunculan di kepala seorang manusia bisa dijelaskan dengan milyaran kata. Dan itulah yang bisa ia ketahui secara pasti dari diri sahabatnya itu.

"Hahh...kurasa dia baik-baik saja."

"Hei! Ayo kita jemput Chouji. Kurasa kita terlalu lama berjalan. Mungkin dia tersesat."

"Iya, iya. Tapi, diantara yang lain, hanya Chouji kan yang punya ingatan lebih kuat dibandingkan dia. Hahh..."

Dedaunan yang tengah berguguran oleh desau angin memberikan warna yang begitu indah tuk dinikmati di siang yang terik nan panas itu. Sinar mentari yang berwarna kekuningan dan langit yang memberikan kilau biru seperti ingin memancarkan kebahagiaan dan tawa. Akan tetapi, hal itu akan begitu sulit tuk mereka dapatkan jika mereka tak paham mengapa Tuhan memberikan warna-warna yang berbeda itu dan melukisnya di atas kanvas putih yang kosong.

Jika kanvas itu adalah hati, maka tinta yang akan memberi warna kebahagiaan dan tawa itu adalah kebebasan dalam jiwa. Sama seperti sebuah buku kosong yang berisikan lembaran kisah. Meskipun tintanya akan pudar dimakan usia, tetapi kebebasan dalam menorehkan tinta itulah yang takkan pernah mati.

"Hoahem... Hei Naruto, tiba-tiba saja aku jadi teringat akan sesuatu. Beberapa hari yang lalu, Chouji pernah bilang padaku kalau suatu hari nanti setelah postcard yang telah dikoleksinya telah melebihi seribu lembar, ia akan menukar postcard-postcard-nya itu di museum kota dengan sejumlah uang. Uang itu akan dipergunakannya sebagai modal awalnya melakukan perjalanan keliling dunia nanti. Kalau hal itu benar-benar akan terjadi, maka Chouji akan meninggalkan geng kita." ujar Shikamaru dengan memasang wajah ngantuknya sekali lagi.

"Baguslah. Dengan begitu, dia bisa melakukan apa yang diinginkannya dengan bebas." balas Naruto. "Kalau kau? Kau akan melakukan apa, Shika?"

Shikamaru sedikit memutar kepalanya, memandang sejenak ke arah Naruto yang berjalan di sampingnya. Ia lalu mengarahkan pandangannya itu ke atas langit biru dan awan putih. "Keinginanku sederhana kok. Setelah aku cukup dewasa, maka aku akan menikah dengan gadis yang biasa-biasa saja, punya dua anak, yang satu laki-laki dan yang satunya lagi perempuan. Setelah aku punya cucu nanti, aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan bermain shogi tiap hari―

yahh, itupun kalau anggota-anggota geng lain tidak merusak rencana hidupku ini. Bukannya aku ingin melawan takdir Tuhan sih tapi terkadang aku ingin sekali terlepas dari semua kondisi yang merepotkan itu. Tapi... mau bagaimana lagi. Sesuai dengan kata-katamu tadi, kalau bukan kita yang melawan maka kita yang akan mati. Lalu, kau sendiri bagaimana?"

"Aku? Hmm, aku sudah lupa aku ingin jadi apa nantinya. Karena aku takut terlalu banyak bermimpi dan berharap. Hanya saja, waktu aku masih di panti asuhan, aku pernah bertanya pada salah satu suster yang mengetahui asal-usul keluargaku. Dan saat itulah aku ingin sekali menjadi seperti dirinya. Sempat, aku juga menceritakan hal itu pada gadis yang selalu menemaniku berdoa di kapel. Tapi, apa yang kini terjadi malah berbalik 360 derajat dari apa yang kuucapkan saat itu." jawab Naruto dengan senyum pasrah.

"Hm. Aku mengerti. Tapi, boleh kutahu apa itu? Maksudku, mimpimu itu."

Naruto menenggelamkan mata birunya dalam awan putih itu. Rasa perih pada luka lebamnya tak dihiraukannya, begitu pula dengan silaunya sinar mentari di siang itu.

"Aku―"

-

-

"Uzumaki-kun, boleh aku bertanya satu hal?"

"Tentu saja!"

"Apa cita-citamu? Emm, setelah kau besar nanti, kau ingin menjadi apa?"

"Mmm, aku tidak yakin. Tapi, oh ya! Kalau Hinata-chan mau jadi apa?"

"Aku? Aku... aku... aku ingin menjadi seseorang yang bisa membantu orang lain dalam mengurangi kesusahan yang ada dalam dirinya."

"Apa itu? Aku tidak mengerti."

"Ngg. Bukan hal yang bisa dibanggakan kok! Kalau Uzumaki-kun?"

"Aku―kalau aku―aku ingin..."

-

-

"Aku ingin menjadi seperti ayahku di masa depan. Aku―"

"—aku ingin menjadi seorang dokter."

Kali ini Shikamaru yakin apa yang dikatakan oleh Naruto adalah hal yang paling mengejutkan selama ia mengenal pemuda berambut blonde itu. Ia sempat berusaha tuk memperbaiki kedua cuping telinganya agar bisa mendengar lebih jelas apa yang dikatakan oleh Naruto.

"Ap-apa? Apa katamu?" tanya Shikamaru dengan wajah tak yakin.

"Ya, ya, aku tahu kau pasti ingin menertawaiku kan? Hmm, kalau dipikir-pikir, itu memang impian yang aneh ya? Mana mungkin orang sepertiku, yang suka sekali membuat onar dan berkelahi dengan anggota geng lain, menjadi seseorang yang sangat terhormat itu? Yang aku tahu dari para suster, ayahku adalah seorang ahli medis tapi... aku tidak tahu kenapa aku bisa berakhir di panti asuhan itu. Aku pun sering bertanya pada diriku sendiri, apakah ayah membenciku ya? Makanya, dengan menjadi sepertinya, aku bisa tahu apa yang dirasakannya saat itu."

Meskipun terdengar begitu aneh di telinga seorang Shikamaru, tetap saja apa yang dikatakan oleh Naruto bukanlah sesuatu yang kosong. Dan juga, meskipun terdengar sangat sulit, masih ada sedikit keyakinan yang terpancar di balik senyum dan sinar mata Naruto mengenai impiannya itu.

"Kau masih ingat kan bagaimana geng kita bisa dikenal, meskipun tidak mendunia sih. Waktu itu, kau adalah anggota paling muda yang paling sering menerima pukulan dari mereka, maksudku para senior yang menyebalkan itu. Tapi, aku yakin dari sorot matamu itu, kau bisa mengalahkan mereka semua. Dan kau tahu apa yang terjadi, mereka akhirnya menjadikanmu sebagai seorang jenderal. Bukankah itu bukti bahwa tidak ada satupun usaha yang kita lakukan selama ini yang sia-sia? Aku memang tipe yang lebih suka berpikir akan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, tetapi terkadang tidak semua perkiraanku itu benar adanya, seburuk apapun hal itu." jelas Shikamaru panjang lebar, sedikit memberikan pencerahan bagi Naruto.

"Yeah, aku tahu itu. Makanya, aku―hei! Itu Chouji! Hei Chouji!"

Naruto berlari kecil ke arah Chouji yang baru saja keluar dari sebuah minimarket sambil menenteng beberapa kantong berisi es batu, beserta satu kantong khusus berisi plester obat, dua kaleng soda dan roti isi daging. Kedua sahabat itu kemudian mendekati Chouji dan melihat apa-apa saja yang telah dibelinya.

"Uangnya cukup kan, Chouji?" tanya Naruto sembari mengambil satu balok es batu dan menempelkannya di pipinya yang masih lebam.

"Jangan khawatir. Oh ya, ini untukmu Shikamaru dan untukmu juga Naruto." ujar Chouji seraya menyodorkan dua kaleng soda dan dua roti isi daging pada Shikamaru dan Naruto.

"Hei Chouji, bukannya uang Naruto hanya cukup untuk membeli balok es batu dan sisanya untuk kau belikan postcard kan? Kau memakai uangmu ya?" tanya Shikamaru sedikit kebingungan.

Chouji hanya tertawa kecil sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. "Tidak. Aku memakai uang Naruto kok. Aku yakin ini semua akan lebih berguna dibandingkan dengan postcard. Lagipula, kalian berdua belum makan siang kan? Jadi, kupakai saja uang sisa itu untuk membelikan plester obat untuk Naruto dan makanan untuk kalian berdua. Kalau masalah postcard, kita bisa mengumpulkannya lain kali. Iya kan?"

Naruto dan Shikamaru saling bertukar pandang sejenak. Melihat kesungguhan hati Chouji, mereka berdua langsung membuka bungkusan roti isi itu dan kaleng sodanya. Shikamaru paham akan perbedaan cara berpikir Chouji dan ia menghargainya dengan membagi dua roti miliknya dan memberikan setengahnya pada Chouji. Naruto pun melakukan hal yang sama.

"Kalian masih ingat dengan kata-kata si Jiraiya-jiijii kan?" tanya Naruto sembari mengunyah makanannya.

"Apa?"

"Hmm, bunyinya seperti ini―"

~(ooOoOoo)~

―aku dan kau akan menjadi kami."

"Dan kurasa itu adalah kita." lanjut Naruto.

~(ooOoOoo)~

Shizune baru saja memutar knop pintu rumahnya yang bergaya minimalis itu. Emosi tak tertahankan mulai berkecamuk dalam hatinya. Terlebih saat ia mendengar komentar yang diluncurkan oleh Tsunade-sama pada dirinya saat itu. Ia tak mengerti mengapa dengan begitu mudahnya sebuah institusi pendidikan yang seharusnya mampu memberikan pedoman pasti bagi siswa-siswanya dalam menjalani kehidupan seperti lepas tangan dengan kejadian di siang itu. Dengan wajah lelah, Shizune membuang begitu saja tas kerjanya dan merebahkan dirinya di atas sofa ruang tamu yang empuk itu. Efek aromatherapy yang dipasangnya di setiap sudut ruangan sedikit memberikan kenyamanan bagi tubuhnya yang lelah.

Ia membuka matanya. Melihat ke atas langit-langit ruang tamu rumahnya. Terlihat sedikit berkunang-kunang, ia lalu mengintip ke arah jam dinding berbentuk rumah di dekat kabinet ruang tamu. 4.48 p.m. Belum saatnya tuk menyiapkan makan malam, pikirnya. Merasa dunia serasa ingin jatuh tepat di atas kepalanya, ia membiarkan dirinya terlelap dalam tidur.

Dong, dong, dong

Mendengar suara bunyi jam dinding yang cukup besar, Shizune terbangun. Ia lalu kembali menatap ke arah jam namun pandangannya mengabur. Setelah berdiri dari posisi tidurnya, ia lalu mengintip ke arah arlojinya sendiri dan melihat kedua jarum jam telah membentuk garis vertikal lurus.

"Gawat. Aku tertidur hingga pukul enam. Aku harus menyiapkan makan malam untuk Gen-chan."

Dengan langkah seribu, Shizune bergerak cepat menuju dapur rumahnya. Dengan tergesa-gesa ia membuka terlebih dahulu jas kerjanya dan mengenakan celemek. Ia lalu melihat daftar menu yang tertempel di pintu kulkas berpintu tiga itu. Matanya terus bergerak-gerak, berusaha mencari menu yang bisa disajikan cepat, lezat dan cocok untuk dicicipi sebagai dinner. Maka, Shizune memutuskan untuk membuat beef lasagna dengan salad brokoli kesukaan Genma.

Tidak butuh waktu yang lama bagi seorang Shizune untuk menyiapkan kedua menu makanan itu. Untuk urusan dapur, ia tidak perlu dipertanyakan lagi. Sebelum ia memutuskan tuk menjadi istri dari seorang arsitek terkenal, Shiranui Genma, ia mengikuti kursus memasak makanan Eropa, Cina, Amerika bahkan makanan tradisional Jepang. Bukan karena ingin pamer atau apa, tetapi ia tahu meskipun waktu yang bisa diberikannya pada suaminya itu tidak sebanyak seperti seorang ibu rumah tangga bisa berikan, ia bisa memberikan waktu berkualitas dengan membuatkannya masakan-masakan lezat di setiap kesempatan yang ada.

Sebuah suara yang berasal dari oven menandakan bahwa lasagna buatanny telah matang dan siap untuk dihidangkan. Dengan sigap, Shizune mengambil sarung tangan oven dan membuka pintunya. Asap mengepul denagn aroma pasta tomat yang menggiurkan membuat senyum merekah di bibirnya. Perasaan penat yang tadinya berkecamuk dalam dirinya kini hilang begitu saja. Kalau sudah memasak, mood-nya yang buruk akan menjadi enak kembali.

Perlahan, Shizune meletakkan beef lasagna buatannya di atas pan kecil. Ia memberi beberapa tambahan di atas lasagna itu seperti petterseli dan daun mint sebagai pemanis. Ia pun menjulurkan kedua tangannya ke belakang, berusaha melepas ikatan celemek di daerah pinggangnya namun tiba-tiba saja seperti ada tangan asing yang berusaha mencegahnya untuk melepas ikatan itu.

"Hmm, seperti biasa. Masakan ala chef Shizu-chan tak ada tandingannya. Kau bisa mendaftar ke program masak di tv kalau kau mau, Shizu-chan. Dengan begitu kau pasti akan terkenal." ujar Shiranui Genma seraya memeluk istrinya dari belakang. Iseng, ia lalu mencomot satu potong lasagna yang telah dipotong oleh Shizune.

"Hei, hei, mandi dulu baru makan. Aku sudah menyiapkan air hangatnya di atas. Dan, bisakah kau melepasku sebentar saja? Aku jadi susah memotong lasagna-nya kalau kau terus memelukku, Gen-chan." tuntut Shizune seraya menyodok perut Genma dengan pelan dengan sikunya. Tiba-tiba, Genma meng-aduh kecil namun terdengar begitu dibuat-buat. Setelah melepaskan lingkaran tangannya dari Shizune, senyum iseng aneh mulai terlihat di balik wajahnya.

"Oh ya, bagaimana hari pertamamu mengajar, Shizu-chan? Apakah semuanya baik-baik saja?'' tanya Genma yang kini melingkarkan kedua tangannya di sekitar leher Shizune dan mengistirahatkan dagunya di bahu istrinya itu. Mendengar keluhan dari Shizune, Genma hanya tertawa kecil. "Shizu-chan?"

Entah kenapa memori tak menyenangkan mulai berputar di kepala Shizune. Ia berhenti tuk melakukan aktivitasnya dan meletakkan pisau yang sedari tadi digunakannya untuk memotong-motong lasagna buatanya di atas meja dengan pelan. Tangannya gemetar dan ingin sekali rasanya emosi itu ia luapkan pada satu tangis yang panjang. Melihat ada yang tak biasa pada diri Shizune, Genma lalu berusaha mengendurkan pelukannya dan memutar perlahan badan Shizune agar ia bisa menatap lebih jelas wajah istrinya itu. Ia bisa memastikan ada beberapa bulir air mata di sudut-sudut matanya yang menurutnya sangat indah itu.

"Shizu-chan? Kau baik-baik saja? Hei, ceritakan padaku, apakah ada sesuatu hal terjadi di hari pertamamu mengajar? Ataukah?''

Wajah yang terus saja tertunduk itu kini terangkat—memberikan gambaran jelas betapa ingin ia meluapkan semua kekesalan dalam hatinya dalam airmata yang ia keluarkan. Shizune pun tak bisa menahan lebih lama lagi. Ia hanya bisa menangis dalam diam. Melihat kelakuan istrinya yang tiba-tiba saja tidak biasa itu, Genma lalu mendorong kepala Shizune dan menyuruhnya menangis dalam pelukan sang suami.

Tetes-tetes airmata mulai membasahi tiap lekukan wajah Shizune kala itu. Tak hanya wajahnya, ia juga membuat kemeja biru kesukaan Genma menjadi basah oleh derai airmatanya. Sembari mengusap-ngusap kepala Shizune, Genma berusaha membisikkan kata-kata yang membuat Shizune kembali diam dan menceritakan padanya semua hal yang menjadikannya seperti ini.

"Hushh, tenanglah Shizu. Jangan menangis lagi. Kau tahu, aku yakin wajahmu jadi jelek sekali gara-gara menangis. Aku jadi ingat waktu pertama kali kau menangis untukku. Dan wajahmu, sungguh sangat jelek sekali waktu itu." bisik Genma yang diakhiri dengan kekehan kecil darinya."Maaf ya. Tapi, aku lebih suka melihat istriku tersenyum dan bahagia. Tidak seperti ini. Jadi, berhentilah menangis. Kumohon."

Mendengar permintaan Genma, Shizune kemudian bangkit dari tangisnya dan sedikit menjauhkan wajahnya dari pandangan Genma. Melihat kelakuan istrinya yang seperti itu, Genma kemudian memegang pipi Shizune seraya membuatnya saling berpandangan. "Hei, ceritakanlah apa yang ingin kau ceritakan. Aku menikahimu tidak hanya bertugas untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk menemanimu di saat kau susah, Shizu." sambungnya sembari mengelap lembut tetes airmata yang membasahi kedua pipi merah Shizune dengan kedua telapak tangannya.

Merasa segalanya telah lebih nyaman, Shizune pun berusaha tuk berdiri lebih tegap dan memancangkan kedua matanya tepat di kedua bolamata Genma. Ingin sekali ia meluapkan segalanya, namun ia takut hanya bisa menyusahkan bagi suami yang telah menemaninya beberapa tahun belakangan ini.

"Gen-chan, a-apa yang harus aku lakukan?''

"Huh? Apa yang harus kau lakukan? Apakah ada masalah dengan sekolah tempatmu mengajar, Shizu-chan?" tanya Genma sedikit kebingungan.

Kedua bolamata Shizune tetap terpancang pada kedua mata Genma, seperti ingin membaca sesuatu yang masih tersirat di balik wajah sendunya itu. Setiap gerakan matanya tak bisa lepas dari wajah sang suami dan itu membuat Genma menjadi heran. Melihat Shizune yang demikian, Genma lalu mendaratkan satu kecupan pada dahi sang istri.

"Eh?"

"Kurasa, kau hanya bingung, Shizu-chan. Tenangkan sejenak pikiranmu dan setelah itu mulailah memutuskan hal terbaik yang bisa kau lakukan nantinya. Aku yakin, sejak pertama kali aku melihatmu di saat kau melakukan kesaksian dan sedikit pembelaan di atas podium sidang waktu itu, aku berani bertaruh kalau kau memahami semua masalahmu dan tak ada satupun masalah yang tak bisa kau selesaikan, termasuk masalah saat hari ulang tahun ibuku yang sangat menghebohkan itu. Kau tahu, tak kusangka kau bisa menemukan bunga camelia putih kesukaan ibuku yang konon sangat sulit didapatkan itu dalam berbuket-buket. Saat itu, apa yang telah kau lakukan Shizu-chan? Hm?'' ungkap Genma yang sedikit bisa membuat Shizune melukiskan senyum di balik wajah sedihnya.

"Aku hanya meminta pada salah satu kenalanku yang bekerja di flower shop terkenal di Jepang. Katanya, bunga camelia putih sedang musim di kebun bunga miliknya saat itu. Jadi, dengan sedikit sogokan, erm, aku berhasil mendapatkan kurang lebih seratus tangkai bunga camelia putih secara gratis darinya.'' Jawab Shizune dengan wajah bangga, seraya meletakkan kedua tangannya pada pundak Genma.

"Kau... kau menyogok? Ckck, tak kusangka, aku menikahi seorang wanita yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diiginkannya.'' ejek Genma—membuat Shizune jadi kesal.

Shizune kemudian memukul dada Genma dengan pelan, merasa sedikit kesal dengan kata-katanya, "aku tidak menyogok dengan cara yang tidak lazim, Gen-chan. Aku menyogok kenalanku itu dengan membantunya menyebarkan pamflet toko baru mereka dan juga di setiap akhir pekan dan akhir kuliah, aku akan membantu berjualan di toko bunganya hingga penjualan mereka bisa naik lima persen berkat kerja kerasku. Itu hebat kan?''

Melihat rona wajah Shizune yang kini lebih ceria dari sebelumnya, senyum simpul muncul di balik wajah Genma. Ia pun mencubit ujung hidung istrinya itu dan sukses membuat Shizune jadi semakin kesal padanya. Shizune pun berusaha lari dari dekapan Genma namun Genma berhasil menarik pergelangan tangannya dan mampu mendaratkan satu kecupan manis di bibir istrinya itu. Shizune hanya bisa membulatkan matanya dan menjadi kaku.

"Dengan ini, kunyatakan kau harus kembali ceria seperti biasanya.'' ungkap Genma dengan nada iseng.

"Gen-chan...''

"Ya? Masih mau ya, Shizu? Sini. Ayo.'' ujar Genma dengan irama yang aneh.

Shizune pun berhasil tersadar dari hipnotis sesaat pemberian suaminya itu. Tapi, ia malah membuatnya jadi semakin kesal.

"Arrghhh...''

Genma hanya bisa tertawa lepas saat melihat sang istri berteriak kesal ke arahnya. Ia lalu kabur dari terkaman Shizune dan menaiki tangga lantai dua. Shizune pun ingin sekali mengejarnya tetapi ia jadi teringat kembali dengan peristiwa di siang itu. Di pikirannya saat ini, mungkin saja apa yang dikatakan oleh Genma adalah benar. Ia pasti mampu menyelesaikan tiap masalahnya dengan caranya sendiri.

Setelah menyajikan potongan lasagna di atas meja, beserta dengan sebotol wine putih dan semangkuk besar berisi salad brokoli, Shizune mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang tertata rapi di ruangan makan itu. Sambil terus memegangi dagunya, ia berpikir begitu lama. Memang sangatlah sulit untuk menyelesaikan masalah kebiasaan seperti itu. Dan mengubah kepribadian seseorang sama saja dengan mengubah seribu rerumputan liar menjadi bunga sakura.

Matanya berkeliling, berusaha mencari tahu apa saja yang bisa sedikit memberikan perubahan sikap pada siswa-siswanya dalam ruangan 203. Namun, ia menemui jalan buntu dan hal ini sama sekali tidak bisa membantunya. Tiba-tiba, ia menatap ke satu titik. Sebuah pigura foto berdiri di atas meja telepon di ruang makan itu telah menjadi ujung tombak jawaban atas pertanyaannya hari ini.

"Ayah.''

Shizune segera berdiri dan berjalan menuju meja telepon. Ia mengangkat wireless phone berwarna putih itu dan memencet-mencet nomor ponsel yang sudah begitu ia hapal. Baru saja Genma turun dari arah lantai dua dengan handuk kecil yang digunakannya untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Melihat wajah Shizune yang begitu serius, ia lalu mendekatinya dan menampakkan wajah bertanya.

"Aku menelepon ayah. Kurasa, hanya beliau yang bisa memahami masalahku saat ini.'' jawab Shizune dengan suara berbisik. Genma pun mengikuti alur percakapan antara istri dan mertuanya itu sembari menuangkan satu gelas wine dan meneguknya perlahan.

"Ayah?''

"Shizu? Ada apa menelepon malam-malam begini, nak?''

"Ada hal yang ingin kubicarakan padamu. Dan hal ini sangat mendesak. Bisakah kita bertemu sekarang?''

"Sekarang? Tapi, ayah masih di kantor saat ini.''

"Tapi... aku butuh saranmu sekarang, ayah. Tak bisakah kau meluangkan waktumu?''

"Hm, baiklah kalau begitu. Tunggu ayah di restoran L'France. Ayah akan sampai di sana pukul 8.30.''

"Baiklah. Aku akan datang bersama Genma, ayah. Ayah sudah lama tak bertemu dengannya kan?''

"Ya, ya.''

"Bye ayah. Aku menyayangimu.''

"Ayah juga, Shizu.''

Shizune menutup teleponnya dan bisa bernafas dengan lega. Ia kemudian duduk di kursinya kembali dan menatap ke arah Genma yang tengah mencomot lasagna buatanya.

"Gen-chan, antar aku ke restoran L'France pukul delapan ya. Aku meminta ayah untuk bertemu di sana.'' pinta Shizune. Genma pun hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya.

"Kalau itu bisa memberikan jawaban atas masalahmu, maka aku siap melakukan apa saja. Tapi sebelumnya, kita harus menghabiskan semua lasagna ini.'' jawab Genma dengan senyum simpul.

"Iya, iya.''

~(ooOoOoo)~

Sesosok bayangan hitam yang kian memanjang menghiasi jalan sempit di distrik tiga itu. Suara kepakan sayap kelelawar membuat bayangan itu terkesan seperti penguasa makhluk malam, terlebih lagi dengan kehadiran bulan yang kini tengah mengalami fase penuh. Dalam kisah mitologi kuno, di setiap bulan purnama, kehadiran sosok-sosok berkuku tajam, bertaring, dan wajah mengerikan lainnya akan hadir memenuhi tiap sudut malam. Namun, itu semua adalah mitos. Dan mitos itu belum bisa dibuktikan kebenarannya tanpa satu saksipun.

Sosok itu kini terdiam sembari menatap jauh ke arah bulan penuh. Sama seperti kisah sang werewolf yang menginginkan kehadiran bulan agar bisa menggapai orang yang sangat dikasihinya. Namun, sama seperti apa yang telah tersebut. Itu hanyalah mitos. Dan sosok ini tak percaya dengan itu semua.

"Keluarlah, Karin. Aku tahu kau bersembunyi di balik tembok itu.''

Seorang gadis berkacamata tebal dengn rambut merah menyala keluar perlahan-lahan dari balik tembok putih yang menjadi pilar batas antara distrik dua dan distrik tiga. Sambil memegangi dan memijit-mijit jemarinya, ia berjalan mendekati sosok yang masih menghadapkan wajahnya ke arah rembulan yang berbentuk begitu oval di malam itu.

"Ngg, Juugo-nii mem-memberitahuku katanya malam ini ki-kita akan berburu mangsa lagi. Lokasinya ada di sebelah selatan klub malam milik geng yakukza Akatsuki di distrik dua. Dan targetnya adalah salah satu pemilik aset terbesar di klub itu. Katanya juga, malam ini, target kita itu akan membawa uang hasil judinya ke dalam klub. Kalau misi berhasil, maka uang itu bisa kita dapatkan malam ini. A-apa kau akan ikut, Sa-Sasuke-kun?'' tanya si gadis dengan terbata-bata.

Pemuda berambut hitam itu sedikit memutar kepalanya ke arah kiri, mencuri pandang sosok gadis itu dari ekor matanya. Namun, dengan cepat dikembalikannya posisi kepalanya seperti semula dan mulai menatap ke arah bulan dan langit hitam di atas.

"Tidak.''

"Eh? A-apa maksudmu, Sasuke-kun? Biasanya kan kau selalu ikut dalam setiap kegiatan geng kita. Tapi, kenapa tiba-tiba—''

"Katakan pada Juugo kalau aku tidak akan ikut dalam misi kali ini. Ada hal penting yang harus kulakukan saat ini.'' jawab pemuda itu tanpa membalikkan tubuhnya sama sekali ke arah gadis itu.

"Eh tapi? Kalau Juugo-nii bertanya, apa yang harus aku katakan?''

"Katakan saja padanya aku sudah mendapatkan mangsaku sendiri malam ini.'' jawabnya lagi namun kini dengan tatapan yang entah kenapa terlihat begitu sedih.

Gadis itu menundukkan wajahnya sebentar sebelum kembali bertanya, "Mm, apakah ketidakhadiranmu malam ini karena ibumu ya, Sasuke-kun?'' tanya dengan nada kecil, tak ingin memancing amarah Sasuke. "Dia baik-baik saja kan? Kalau terjadi apa-apa, kau bisa membawa ibumu ke klinik milik keluargaku. Tenang saja, semuanya gratis kok.''

"Trims. Tapi, ia baik-baik saja. Hanya saja, aku tidak bisa kembali ke rumah sebelum ia tertidur. Kalau tidak, aku yakin semua gelas dan vas bunga yang ada akan dijadikannya sebagai media luapan emosinya.'' jawab pemuda itu dengan senyum simpul. "Pulanglah, Karin. Mereka akan lebih membutuhkanmu daripada aku.''

"Ng, baiklah. Aku pergi dulu, Sasuke-kun. Jaga dirimu baik-baik.''

Desau angin dingin di malam itu nampaknya tidak memberikan efek terlalu besar pada kondisi tubuh pemuda berambut raven itu. Ia tetap memandang ke arah gelapnya malam kala itu dan membiarkan angin di malam itu mengibas segala apa yang ada dalam hatinya saat ini. Hari ini adalah hari yang buruk baginya. Tidak hanya saat menerima pukulan dari rivalnya itu, entah kenapa muncul sebuah perasaan aneh dalam dirinya saat ia tiba-tiba saja mengunjungi makam aniki-nya. Dan itu sungguh sangat mengganggu pikirannya saat ini. Terlalu mengganggu.

"Itachi-nii, apa yang harus aku lakukan saat ini?"

Angin itu membawa ilalang dan sehelai kelopak kecil bunga ke arah Sasuke. Meskipun dalam gelap, ia masih bisa melihat dengan jelas benda apa yang sedang dibawa oleh angin kepadanya. Kelopak kecil bunga itu berhenti tepat di atas kepala Sasuke, beserta dengan ilalang yang juga ikut menempel. Diambilnya dan dilihatnya kedua jenis tumbuhan itu.

"Bunga sakura dan ilalang? Apakah ini jawaban darimu, Itachi-nii? Hm."

Ia membiarkan kedua bunga dan rerumputan liar itu untuk terbang lebih jauh. Angin akan membawa mereka jauh dan lebih jauh hingga pesan itu akan tersampaikan...

~(ooOoOoo)~

-TBC-

~(ooOoOoo)~


GYAAA~

Apa yang saya lakukan?!! *stres sendiri*

Saya bingung dengan chapter ini. Bingung, sebingung-bingungnya. (=.=)a

Maaf saya terlalu lama tuk mengupdate-nya. Maklum, kuliah udah masuk lagi. Sigh, pengen libur lebih lama lagi. T.T. Tapi, mau bagaimana lagi?

Nah... chapter ini Emi persembahkan untuk semua readers dan khususnya untuk Teh Iputz yang saya janjikan. Dan juga untuk Furu. ^^

Maaf, saya jadi speechless. Hanya bisa berterima kasih yang sebesar-besarnya untuk : Michisige Asuka, Furu-pyon, kakkoii-chan, evey charen, Ayui Nonomiya, Lady Arlene, Madame La Pluie, nacchi cullen, dan Akabara Hikari.