"Terkadang kita hanya membutuhkan satu kata saja untuk menjelaskan segala hal yang ada di dunia ini."

"Most people said that the distance between love and hate is not that far as everyone thought before, even it's just like a strain of hair."

-anonymous-

"You'll come back. When it's over. No need to say good bye..."

-Regina Spektor : The Call-


Book Four : One Day for All Days.

~(ooOoOoo)~

Pagi itu, langit terlihat begitu cerah dengan titik sinar mentari yang menghiasi kanvas-kanvas dunia dan siap untuk diwarnai. Suara-suara nyanyian burung-burung kenari di ranting pepohonan terrdengar begitu menyejukkan hati. Ya. Setidaknya bisa menyejukkan hati yang sebelumnya begitu penat dan sesak akan pikiran yang meresahkan. Zebra cross kini telah dipenuhi oleh para pekerja yang siap tuk menghadapi rutinitas harian mereka, tak terkecuali bagi sosok wanita ini.

Dengan langkah yang pasti, seorang wanita muda menenteng tas kerjanya sembari mendekapkan sebuah buku bergambar pria yang tengah mengacungkan selongsong senapan laras pendek ke sesosok pria dengan pakaian khas seorang Indian sejati, tepat di depan cover-nya. Senyum yang terus saja mengembang di wajahnya itu bisa menjadi harapan dan dorongan baginya tuk bisa menjalani hari ini dengan baik.

Keadaan Hiruzen High School tidak akan pernah berubah. Selama tak ada satupun siswa yang mampu menyadari arti dari persamaan dalam perbedaan, maka kondisi yang sama seperti kemarin akan terjadi lagi. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar siswa dari sekolah yang dibangun dengan cita-cita untuk menyatukan semua etnis yang ada di distrik tiga ini, akan selalu berusaha untuk tetap menjaga kehormatan komunitas mereka, bagaimanapun caranya meskipun harus membunuh manusia lain yang tidak bersalah.

Isu-isu rasis begitu terasa di sekolah ini. Setiap area sekolah memiliki penguasanya masing-masing. Bagi mereka yang merasa terasing, maka bersiaplah tuk menjadi bulan-bulanan anggota geng lain. Dan hal itu pernah terjadi pada salah satu siswa di sekolah itu. Mungkin ia bisa menyelamatkan diri hanya karena kecepatan larinya yang tak bisa diragukan itu. Tapi, bila bahaya itu harus terjadi di luar area sekolah, ia akan memiliki keluarga yang akan selalu mem-back-up-nya dari semua bahaya yang mungkin bisa menerjang dirinya itu. Dan hal itulah yang menjadi ciri khas yang dimiliki oleh komunitasnya.

Sang wanita muda yang sering dipanggil oleh Shizune itu menghentikan langkahnya tepat di sebuah pintu ruangan bertuliskan Room 203. Sambil menghirup nafas panjang-panjang, ia menggerakan jemarinya tuk menggeser pintu itu dan mengamati isi dari ruangan kelas yang sesuai perkiraannya masih sangat kosong. Siapa yang tidak akan berpikir dua kali untuk datang kembali ke sekolah itu setelah apa yang terjadi sehari sebelumnya? Namun, bagi Shizune, ia takkan pernah menyerah tuk melakukan perubahan pada anak didiknya sebelum ia benar-benar harus pergi dari sekolah itu.

"Aku harus berpikir positif. Ya. Aku harus berpikir positif." ujar Shizune―berusaha menenangkan dirinya sekali lagi. Setelah menghembuskan nafasnya dengan perlahan, ia berusaha tuk melangkah lagi dan meletakkan tas beserta buku yang diharapkannya bisa menjadi bahan stimulus respon bagi siswa-siswanya itu.

Ia memejamkan matanya sembari berusaha tuk menenangkan diri dengan duduk dengan nyaman di kursi mengajarnya. Sebentar, ia membuka-buka kembali buku yang sudah sangat lusuh itu dengan lipatan pembungkus plastiknya yang telah menebal pada bagian tertentu. Senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya dan semburat rona merah juga terlihat di kedua pipinya. Ia menatap ke satu baris noktah tinta yang terurai begitu indah. Dengan pena hitam, tulisan itu seakan mampu membawanya kembali ke masa lalu yang indah. Ya. Tentu saja buku itu adalah saksi dari semua kenangan indah yang pernah ia lalui selama ia duduk di bangku perkuliahan.

ZREET

Shizune terlonjak kaget saat menyadari ia telah diawasi oleh salah satu siswanya yang ternyata baru saja menutup pintu geser ruangan bernomor 203 itu. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis berambut merah muda dan jaket tebal seleher yang seakan-akan hampir mentupi semua lekuk tubuhnya memasuki ruangan kelas sembari memunggungi tasnya. Mata jade-nya yang se-hijau emerald terlihat begitu kosong di mata seorang Shizune. Shizune pun segera menutup kembali buku lusuh yang terus diperhatikannya dan membalas tatapan siswi pertama yang masuk ke kelasnya itu.

"Good Morning, Haruno-san." sapa Shizune dengan nada ramah. Yang disapa hanya menolehkan kepalanya dan berjalan melalui sang guru begitu saja. Ia pun melempar ranselnya di atas meja belajarnya dan duduk di kursi pada deretan paling belakang―yang juga masih terlihat begitu kosong.

Shizune terus saja mengawasi gerak-gerik siswinya yang menurutnya sangat manis itu. Namun, melihat tingkah lakunya yang tidak terlalu bersahabat, wajah manisnya seakan tertutupi oleh semacam topeng yang entah terbuat dari apa. Tanpa berpikir panjang lagi, Shizune kemudian menegakkan kembali tubuhnya dan berusaha berbicara dengan siswi yang diketahuinya pernah kabur begitu saja dari ruangan 203 di hari sebelumnya.

"Aku sangat senang dengan kehadiranmu di kelas ini, Haruno-san." ujar Shizune yang masih terduduk di kursi mengajarnya. Gadis yang dipanggil Haruno itu kemudian mengangkat wajahnya dan mengamati sosok wanita yang tengah berbicara padanya.

"Aku hanya ingin memenuhi permintaan orang tuaku saja." jawab gadis itu tanpa raut wajah apapun. Mendengar jawaban yang begitu sarkasme, Shizune hanya bisa menunduk senyum ke arahnya. Baginya, anak-anak yang kini menjadi penghuni ruangan kelas 203 adalah anak-anak yang tersesat dan belum mampu menilai sesuatu dari sisi lain dalam suatu perbedaan. Intinya, mereka hanya anak-anak polos dan lugu yang kebingungan arah dan tujuan hidup.

Tak mau memandang terlalu lama ke arah sang guru, gadis berambut merah muda itu meraih ranselnya dan merogoh-rogoh isinya―mengambil sebuah buku bersampul kertas berwarna-warni dan juga plastik yang terlihat telah begitu kusam. Ia mulai membaca buku itu dan membaca isinya. Usaha yang cukup bagus tuk membuat jarak yang jauh antara ia dan sang guru.

"Memenuhi permintaan orang tua, ya?" tanya Shizune dengan tetap tersenyum. "Itu juga bukanlah alasan yang buruk. Bisa ku asumsikan bahwa dalam hati kecilmu itu masih tersimpan sedikit kepeduliaan pada orang lain. Dan aku yakin, kau pasti sangat dekat dengan ayah dan ibu-mu kan, Haruno-san." lanjutnya―membuat gadis itu sedikit bergidik kaku.

Suara kertas yang terdengar bergesekan membuat Sakura kembali tenang. Ia membalik lembaran dalam buku tua yang dibacanya dan memancangkan kedua mata jade-nya ke tiap kata dalam baris buku yang boleh dibilang cukup usang itu. "Aku hanya peduli pada mereka yang juga peduli padaku. Dan mengenai kejadian kemarin, kurasa, aku tidak salah kan? Karena, melihat kondisi sekolah yang terlalu berbahaya seperti itu, siapapun pasti akan langsung lari dan bersembunyi."

"Kurasa juga demikian. Tapi―" ucapan Shizune yang terpotong sedikit membuat gadis itu penasaran. Dari balik sudut buku yang tengah dibacanya, ia mengintip sang guru yang tengah tertunduk. Mata jade-nya terlihat lebih sayu saat itu. Entah mengapa. "―aku percaya bahwa mereka yang tak pernah lari dari kenyataan di depan mata mereka adalah pejuang terhebat di dunia ini. Apakah kau juga memikirkan hal yang sama, Haruno-san?" sambung Shizune dengan menampilkan senyum sendunya sekali lagi.

Terkadang dengan hanya mendengarkan hal-hal kecil dan sepele, bisa membuat perasaan menjadi lebih baik. Meskipun benci yang selalu menyelimuti jiwa takkan bisa dihilangkan bahkan dengan tongkat sakti milik dewa Zeus sekalipun, masih ada sejumput kasing sayang yang mungkin mampu menyapu debu-debu kotor yang disebut sebagai benci itu. Meskipun berbeda, kasih sayang itu tetap akan lahir dan tumbuh di antara padang yang gersang.

"Kulihat, kau juga suka membaca ya, Haruno-san. Boleh kutahu buku apa yang sedang kau baca itu? Karena, aku juga sangat menyukai buku." ujar Shizune―berusaha tuk membuat suasana yang kaku itu menjadi lebih cair.

Si gadis bermata hijau cemerlang itu meletakkan buku yang sedari tadi terus menutupi wajahnya ke atas meja belajarnya. Ia mengintip sebentar ke arah sang guru sebelum memutuskan tuk menjawab. "Hanya buku tipikal anak remaja yang sangat suka berimajinasi. Kurasa, sensei tidak akan menyukainya." jawabnya dengan nada enteng sambil kembali menaikkan bukunya itu.

"Begitu ya?" kata Shizune merespon, "aku suka semua buku kok. Hm, termasuk buku novel tipikal remaja yang suka berimajinasi seperti katamu tadi. Biar kuingat dulu. Aku pernah membaca novel remaja karya Susumu Ueda yang kalau aku tidak salah, isinya mengenai kehidupan remaja Tokyo dan kekompleksitasannya. Aku juga menyukai buku terbitan lama, seperti cerita-cerita era Shogun dan Tokugawa―"

Entah kenapa, sepertinya terdapat sebuah magnet besar yang dapat menarik benda apa saja dalam nada suara sang guru. Bahkan, ia yang sebelumnya tak pernah mendengarkan kata-kata siapapun sebelumnya, kecuali kata-kata orang tuanya, kakaknya, dan anggota keluarganya, seakan terhipnotis dalam kata-katanya.

"―bagiku, buku adalah bukti peradaban manusia yang paling absurd. Segala hal bisa kau ceritakan dalam sebuah buku. Tiap lembaran kertas dan tinta yang bisa kau torehkan adalah ekspresi dari segala perasaan yang ada di dalam hatimu. Itulah mengapa sebuah buku selalu disebut-sebut sebagai instrumen pertama yang mampu menghipnotis pikiran seseorang. Di dalamnya mungkin terdapat mantra-mantra yang mampu mendistorsi siapapun agar masuk ke dalam dimensi lain. Tapi bagiku, kau tidak perlu seribu kata tuk menunjukkan kebebasanmu dalam menulis. Sebab terkadang, kita hanya butuh satu kata saja untuk menjelaskan berbagai hal yang ada di dunia ini. Bukankah begitu, Haruno-sa―"

"Panggil aku Sakura. Kalau dipanggil dengan nama marga, rasanya aneh juga." potong gadis itu tiba-tiba, seraya menutup buku yang dibacanya―membuat Shizune sedikit terkejut dan akhirnya mampu menampilkan senyum senangnya. "Dan tadi, sensei bertanya mengenai bukuku ini kan?" sambung Sakura sembari mengangkat buku bersampul kertas warna-warni dengan motif bunga sakura. Shizune pun mengangguk dalam diam.

Gadis itu terdiam sebentar sebelum memutuskan tuk mulai berbicara banyak. Tak biasanya ia mau berbicara dengan orang yang menurutnya masih asing baginya, kecuali pria misterius berambut hitam yang pernah ditemuinya sekitar dua tahun yang lalu itu.

"Buku ini bercerita mengenai―" Sakura mengambil nafas terlebih dahulu dan menghembuskannya perlahan, "―seorang anak manusia yang menyukai sesosok vampire."

Mendengar potongan resensi yang diberikan oleh Sakura, Shizune kemudian menaikkan sedikit alisnya dan tetap menampilkan wajah tersenyumnya. "Mungkin bagimu, buku ini terlalu membuang angan-angan dan imajinasi seorang anak perempuan yang sangat suka berkhayal. Tapi bagiku, aku bisa memahami bahwa bagaimanapun, entah berapa kalipun dicoba, sosok yang abadi dan tak abadi takkan pernah bisa bersatu. Terdengar konyol kan?"

"Begitu ya?" tanya Shizune. "Tapi, menurutku itu tidak konyol."

Sakura menaikkan alisnya dan menyilangkan tangan di depan dadanya, "tidak konyol? Jadi, apakah tidak konyol saat si vampire yang sangat dicintai oleh anak manusia itu mulai memusnahkan satu per satu manusia lainnya demi memenuhi rasa haus yang tak bisa ia penuhi? Apakah tidak konyol saat anak manusia itu rela melakukan apa saja agar ia bisa bersatu dengan vampire itu? Lalu, bukankah sangat konyol saat gadis manusia itu mati di tangan si vampir hanya karena ia tak bisa hidup abadi bersamanya? Tidakkah itu semua konyol?" tanya Sakura dengan nada yang semakin lama semakin meninggi.

Shizune hanya bisa tersenyum. Tiba-tiba saja, ia jadi teringat dengan perbincangan antara ia dan ayahnya semalam. Bagaimana sang ayah menjawab seluruh kekesalan hatinya saat itu. Meskipun bisa disebut bukan seperti jawaban pasti, tetapi kata-kata bijak yang didengarnya semalam cukup memberikannya kesempatan tuk bisa berpikir lebih jauh akan situasi yang tengah ditanganinya saat ini. Ya. Setidaknya bisa memberikan ide cemerlang yang ditujukan untuk mengubah sifat penghuni kelas 203 yang suka membuat blok-blok itu. Dan ide tentu saja melalui―

"Seperti yang sudah kukatakan padamu, Sakura-san. Buku hanyalah media dari semua perasaan yang tak bisa terucapkan melalui suara oleh sang penulis. Mungkin apa yang kau katakan tadi itu ada benarnya. Semuanya memang konyol. Tapi, terkadang ada hal-hal esensial yang mungkin terlupakan olehmu dalam kisah itu. Bagaimanapun juga, saat seseorang telah mengatakan sesuatu atas nama kasih sayang, maka segala perbedaan akan menjadi potongan dari kesempurnaan yang hilang. Sama seperti sebongkah diamond yang terpecah dan saling berubah warna. Namun, saat ia kembali utuh, maka kesempurnaan dari diamond itu akan kembali lagi." ungkap Shizune dengan raut wajah yang begitu tenang.

"Itu... itu bohong kan?" tanya Sakura dengan nada sedikit bergetar.

Sang guru menggelengkan kepalanya perlahan―ingin membuat sang murid memahami tiap kata yang diucapkannya tadi. Tapi, semuanya butuh proses, begitu pula dengan masalah yang seperti ini. Masalah yang disebut sebagai perbedaan paling absurd di dunia ini yaitu masalah keyakinan akan sesuatu.

"Aku tahu itu sulit, Sakura-san. Tapi, manusia tak hanya hidup dalam persamaan total di dunia ini. Semuanya butuh warna yang berbeda, tak terkecuali keinginan sang gadis manusia dalam bukumu itu tuk terus bersama dengan sosok vampire yang disukainya―"

"Lalu! Mengapa bulan dan mentari tak pernah bertemu satu sama lain?! Bukankah itu juga bukti mengapa Tuhan takkan pernah mau menyatukan dua sosok yang terlalu berbeda! Bukankah itu juga sama saja?!" potong Sakura tiba-tiba. Ia berdiri dari kursinya dan sedikit menaikkan satu oktaf suaranya. Entah muncul seperti ribuan emosi yang kini tengah bergejolak di hatinya. "Bukankah itu sama saja, hah?!"

Keheningan yang berubah menjadi perdebatan kecil itu agak membuat Shizune terkejut. Setelah semuanya agak tenang, ia pun kembali berbicara. "Mereka takkan pernah bisa bertemu karena Tuhan menginginkan mereka tuk terus menyinari gelapnya dunia di tiap waktu. Mereka mungkin berharap tuk dapat bertemu, tapi... mereka tak bisa meninggalkan begitu saja para penghuni malam maupun siang yang selalu berharap akan kehadiran mereka. Mereka pasti bukanlah sosok yang egois sehingga mereka lebih memilih tuk hidup dalam perbedaan demi hal lain yang ingin mereka lindungi."

Gadis itu terdiam. Ia terdiam kaku di tempat ia menginjakkan kakinya saat ini. Mata emerald-nya membulat dengan kedua tangan yang kini telah teremas kuat di samping tubuhnya. Emosi itu tak selamanya berarti benci ataupun marah. Terkadang emosi juga berarti sebagai kelemahan. Ya. Lemah karena hanya tangis yang bisa menghilangkan rasa sakitnya.

Ia mendorong mejanya sedikit, berusaha tuk keluar dari sempitnya ruangan kelas yang dirasakannya saat ini. Dengan wajah yang terus tertunduk, ia melangkah menuju pintu kelas. Sang guru pun bertindak. Ia pun berdiri dari posisinya dan tak ingin mengulang kesalahannya untuk yang kedua kalinya di saat ini.

"Aku hanya ingin ke toilet." ujar Sakura yang diakhiri dengan gerakan menggeser pintu oleh tangan kanannya. "Tenang saja. Aku tidak akan kabur kali ini." sambungnya.

ZREETT

Suara pintu kelas yang digeser paksa terdengar begitu jelas di sepanjang koridor sekolah yang terlihat begitu sepi di pagi itu. Melihat masih ada bekas-bekas aksi mengerikan yang terjadi di hari sebelumnya, bisa dipastikan hal itulah yang menjadi alasan mengapa hanya beberapa anak saja yang bersedia tuk kembali ke sekolah itu. Tapi, bukan pemandangan itu yang kini bisa ditangkap oleh mata milik gadis berambut merah muda itu. Kedua matanya terpancang pada sesosok manusia yang kini berdiri entah tinggal berapa centi saja jarak tubuhnya dari tubuh kecilnya. Gerakan refleks membuatnya tuk mengangkat wajahnya itu―menatap sosok yang kini tengah berdiri tegap tepat di hadapannya. Dan seketika, kedua mata jade-nya membulat lebar saat kedua ujung hidung mereka saling bersentuhan.

"Uchiha-san?"

~(ooOoOoo)~

Sakura.

Mata itu. Mata yang sama dengan mata orang itu. Tapi, entah mengapa mata sosok yang satu ini terlihat lebih kelam dan begitu―

kosong.

Siapa? Siapa orang ini? Apakah aku pernah mengenalnya? Tapi, mengapa terlihat begitu berbeda? Ataukah sebenarnya orang itu masih hidup? Apakah orang ini―

adalah dia?

Aku menatap ke dalam dua mata raven yang begitu hampa itu. Hijau dan hitam. Bukankah itu sangat terlalu berbeda? Tapi, kenapa aku seakan-akan terhisap di antara dimensi lain yang mampu diberikan oleh kedua mata hitam itu? Aku merasa seperti ada seekor ular yang menjerat baik tubuh dan suaraku saat itu. Aku hanya bisa terdiam dan berdiri kaku tepat di depan sosok yang seakan-akan pernah kukenal sebelumnya.

Suara guru yang bernama Shizune itu membuatku tersadar. Aku tersentak kaget seraya menundukkan kepala dan mengedip-ngedipkan mataku. Aku pun bisa melihat sosok itu melangkah mundur dengan cepat―mirip seperti reaksi seekor ular yang tiba-tiba saja bertemu dengan musuhnya. Aku pun mengangkat sedikit wajahku dan melihat ke arah pandangannya yang begitu tajam dan tidak terlalu besahabat.

Ia menghindar dan menatap tajam ke arahku, seperti seekor ular yang tiba-tiba saja secara tidak sengaja bertemu dengan seekor elang di antara semak-semak belukar. Sadar, aku pun melemparkan wajahku dari wajahnya. Dengan sigap, aku berlari dari-nya, bukan, aku berlari dari semua hal yang tidak bisa kupahami tentang perbedaan. Tapi, bukankah ia pernah mengajariku tentang arti dari perbedaan yang sesungguhnya? Bukankah buku itu adalah buku yang ia jadikan sebagai ganti rugi atas diary yang kuberikan padanya? Lalu, mengapa aku jadi membenci buku itu? Kenapa? Sebenarnya ada apa dengan diriku―

Aku berjalan perlahan. Perlahan. Dan perlahan. Tapi, aku lebih suka berlari. Hanya saja, entah kenapa saat ini aku seperti tak bisa menggerakkan kedua tungkaiku itu tuk melangkah lebih cepat dan lebih kuat. Aku merasa, otot-otot kakiku menjadi lemas seketika sehingga tak bisa digunakan untuk berlari. Dari sudut ekor mataku, aku bisa mendapati wajahnya yang sedikit menoleh ke arahku tapi dengan segera ia kembalikan ke posisi semula. Tatapannya begitu dingin, lebih dingin dari tatapan Gaara-nii padaku saat ia marah. Ya. Sangat dingin. Dan itu membuatku semakin yakin kalau pemilik kedua mata itu bukanlah ia.

Aku berani menjawab kalau aku―

tidak mengenalnya. Ya.

Kenapa setiap aku melihat seseorang yang memiliki rambut berwarna raven, aku jadi teringat dengan pria itu? Pria dengan penampilan sangat masculin itu. Pria baik-baik yang ternyata menjadi dalang dari sebuah pembantaian besar di distrik tiga saat itu. Pria yang juga aku ketahui mampu mengkhianati komunitasnya sendiri demi menyelamatkanku yang hanya bisa menangisi kepergian ayah tuk selama-lamanya di rumah yang kian membara oleh api itu.

Tik, tik, tik.

Bodoh. Aku begitu bodoh. Kenapa aku malah menangis di saat-saat seperti ini? Mungkin hal inilah yang menunjukkan betapa lemahnya aku saat ini. Dan, aku benci itu.

Aku tak yakin apakah ia masih hidup atau tidak. Rombongan pria-pria berjubah hitam itu bermunculan dari arah api yang semakin membara. Dan, ia menyuruhku tuk lari. Lari sebagai pengecut dan tak bisa melakukan apa-apa. Hingga saat ini, aku masih memendam rasa bersalah, tidak hanya karena kematian ayah, tetapi juga aku tak bisa melihat dirinya untuk yang terakhir kalinya. Mata jade-ku berkeliling, mengamati ke segala arah saat kejadian itu terjadi. Aku lupa satu hal. Aku nyaris menabrak seseorang saat itu. Aku tak dapat melihat dengan jelas saat kepulan asap hitam dan nyala api yang semakin berkobar itu memenuhi langit, tetapi aku yakin aku bisa menebak warna rambut anak itu. Dan lagi. Itu adalah warna hitam. Hitam dan―

Aku membulatkan mataku. Sesegera mungkin aku memutar wajahku dan menatap tajam ke arah sosok yang sudah sangat jauh dari titik pandangku. Ia berdiri sebentar di depan pintu ruangan itu dan kemudian masuk sembari memunggungi sebelah ransel hitamnya itu.

Aku semakin bertanya-tanya, apakah orang itu ada hubungannya dengan kasus pembantaian distrik tiga yang sempat menghebohkan dunia jurnalistik di Jepang saat itu? Aku tak bisa mengambil kesimpulan iya sebab semua pengikut dan anggota geng yakuza milik pria itu akan selalu menjunjung tinggi simbol keluarga besar mereka di baju ataupun jaket mereka. Tapi, orang itu, ia bahkan terlihat seperti orang yang biasa-biasa saja. Ya. Hanya terlihat seperti anggota geng jalanan yang bisa bertahan hidup hanya dengan melakukan tindak kriminal kecil ataupun berskala besar namun dapat ter-cover dengan baik.

Saat melihat pantulan wajahku di cermin toilet, aku bisa melihat betapa berbedanya aku dan ia. Tapi, kenapa ia malah memberiku suatu kemerdekaan yang tidak kuinginkan dengan cara seperti itu? Semenjak perang itu, geng-nya tak pernah lagi menyusup masuk ke dalam wilayah kami. Dan aku cukup bersyukur dengan hal itu, meskipun semakin lama musuh kami semakin banyak saja.

anna ni issho datta no ni

kotoba hitotsu tooranai kasoku shiteiku senaka ni ima wa

anna ni issho datta no ni yuugure wa mou chigau iro

semete kono tsukiakari no shita de shizuka na nemuri wo...

Ponselku tiba-tiba berbunyi. Saat kurogoh dari saku jaket tebalku, aku sedikit terkejut dengan nama yang terpampang di layar. Sepertinya ada hal penting lagi. Hah... entah kenapa saat aku menerima telpon dari orang itu, aku merasa sangat lelah sekali.

"Moshi-moshi."

"Sakura―"

"Hm. Apa ada hal yang penting, Gaara-nii?"

Untuk beberapa detik, ia tidak membalas pertanyaanku. Ia hanya terdiam. Namun, aku bisa mendengar seperti ada suara-suara lain dari arah telponnya dan itu cukup mengganggu.

"Bisakah kau keluar? Aku―aku membutuhkanmu saat ini."

"Tidak bisa. Aku sudah janji pada Mum kalau aku tidak akan kabur dari sekolah lagi. Maafkan aku, Gaara-nii." jawabku seraya melepaskan genggaman ponselku dari arah telingaku. Sesegera mungkin aku ingin menutup pembicaraan ini tapi ia memanggilku dari arah sana dengan suara yang amat keras. "Ada apa lagi, Gaara-nii?"

"Baiklah. Jika memang bibi yang memintamu. Kurasa aku pun tidak bisa melarangmu. Tapi―"

Ada yang aneh dengan Gaara-nii saat itu. Suaranya tampak aneh. Pikiranku langsung menuju ke arah yang buruk. Apakah dia berkelahi dengan anggota geng lain dan tertangkap? Ataukah ia menjadi sandera anggota geng? Ataukah juga dia sedang sakit? Kalau Gaara-nii sakit, maka akan susah sekali mengatur mood-nya yang suka berubah-ubah itu. Dan. Hanya aku yang bisa mengurusinya jika hal itu terjadi.

"Apa Gaara-nii sakit?" tanyaku dengan nada cemas. Dari arah seberang sana, aku bisa mendengar jawaban tidak darinya. Ah, yokatta.

"Sakura―" panggilnya lemah.

"Ya?"

"Berhati-hatilah dengan sekitarmu. Hanya itu yang ingin kusampaikan. Lalu, jangan lupa dengan hutang janjimu padaku."

"Hh, iya, iya. Mum akan masak banyak malam ini. Gaara-nii datang saja sebentar malam. Kalau perlu, Chiyo-baa juga dipanggil. Kurasa, beliau perlu sedikit hiburan dengan anggota keluarganya yang lain. Di usianya yang sudah tua begitu, ia hanya menghabiskan waktunya hanya untuk merajut atau menyulam. Dengan bertemu Mum dan yang lain, pasti beliau senang."

"Ya. Akan aku sampaikan. Dan―"

"Dan apa, Gaara-nii?"

Diam lagi. Ia terdiam lagi, lagi, dan lagi. Terkadang aku tidak bisa memahami jalan pikiran Gaara-nii dan hal itu sungguh agak membuatku sebal padanya. Tapi, mau bagaimana lagi. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa kujadikan sebagai sosok seorang kakak yang akan selalu melindungi dan menjagaku dari bahaya di luar sana.

"Te amo*?."

Aku bisa melihat wajahku dengan begitu jelas saat ini. Mata jade-ku membulat lebar, seakan-akan aku seperti melihat hantu yang begitu mengerikan. Tapi, aku lupa kalau ia sudah mengucapkan kata-kata itu beberapa kali padaku. Namun, entah kenapa saat mendengar hal itu kali ini, terkesan ada yang berbeda dari nada bicaranya. Dan hal itu membuatku sedikit terkejut.

"Kita bicara lagi nanti malam. Adios*."

Aku menjatuhkan lenganku begitu saja. Aku jadi terlihat lebih lemas dari biasanya dan aku pun tak bisa berkata apa-apa lebih dari ini. Aku menundukkan wajahku, melihat isi wastafel yang kini tengah kupeuhi dengan air dari kran. Di selusur wastafel, tanganku meremas kuat. Bayangan wajah yang mengabur itu kian berubah hilang saat kusapukan semua air itu pada wajahku hingga sedikit membasahi rambut merah mudaku yang terbilang tidak biasa itu.

Gaara-nii...

~(ooOoOoo)~

Suara gaduh yang cukup memekikkan telinga itu agaknya membuat sosok sang guru yang tengah menjelaskan mengenai English Grammar di depan kelas itu menjadi sangat lelah dan boleh dibilang sedikit kesal. Bagaimana tidak. Dengan suara yang entah sudah berapa volt tegangannya, tak ada satupun yang mau memerhatikannya meski hanya satu tatap ke arah papan tulis yang kini dipenuhi dengan tulisan kapur miliknya.

Saat semua siswanya telah terkumpul dalam ruangan kelas, sang guru pun menjadi sedikit tegas dengan sikapnya yang semula terlalu bijak. Ia memaksa semua siswa untuk saling berpindah tempat dan tidak bergabung dengan blok-blok mereka. Dengan nada yang bersungut-sungut, terutama caci maki dari siswa pria berambut blonde itu, mereka pun menjadi random. Tak ada yang duduk berdekatan dengan anggota mereka sehingga hal itu sedikit membuat kelas menjadi lebih tenang. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Para siswa yang bosan mulai melakukan hal iseng yang terlalu mengganggu.

Sang guru pun membalikkan tubuhnya seraya mengedarkan matanya ke segala penjuru kelas. Ia bisa mengamati seperti ada sebuah permainan kecil yang kini sedang dilakukan oleh siswa-siswanya itu. Mereka tampak mengedarkan sesuatu, mulai dari ujung belakang kiri hingga menuju ke satu titik tepat di meja paling depan baris ke-dua dari kiri sang guru.

Tawa cekikikan keluar dari tiap siswa yang mendapatkan benda yang dioper-operkan itu. Mereka seperti tak bisa menahan tawa mereka hingga aku merasa begitu terusik saat ini. Saat benda yang dioperkan itu telah menuju ke titik yang diinginkan, sang penerima terakhir tanpa menunjukkan ekspresi marah menatap sedih ke arah sebuah kertas yang sudah teremas-remas itu.

Melihat ada yang tak beres―saat semua tawa lebar itu menjadi begitu lepas―sang guru pun mendekati si murid yang kini terlihat sangat lemas itu. Ia terus saja menundukkan wajahnya dan tak berani menatap sang guru yang memintanya tuk mengangkat wajahnya. Dengan perlahan, dibukanya remasan kertas yang menjadi permainan kecil anak-anak kurang kerjaan itu. Sungguh apa yang dilakukan oleh muridnya itu tak bisa ditolerir lagi.

Sang guru menaikkan wajah seriusnya sehingga membuat ruangan bernomor 203 itu tiba-tiba menjadi hening. Ia memandang ke semua siswa-siswanya yang menurutnya sudah terlewat batas itu. Masih dengan usaha untuk menenangkan emosinya, ia kembali menatap ke arah siswa berbadan subur yang sedari tadi hanya bermain dengan postcard-postcard koleksinya.

"Maafkan aku, sensei. A-aku memang tidak berguna. A-ku memang..."

Sang guru menepuk pundak siswanya itu, berusaha menenangkan dirinya yang terlihat begitu down hanya karena selembar kertas yang berisi hal tak senonoh yang ditulis entah oleh siapa. Namun, saat si siswa mengatakan permohonan maafnya, seorang siswa lainnya yang duduk di pojok belakang tertawa lepas tanpa memerhatikan situasi. Mendengar tawa itu, sang guru pun berani bertaruh kalau dia-lah penyebab dari semua permainan itu.

"Morino-san. Apakah ini adalah perbuatanmu, hm?"

Si tersangka berhenti tertawa dan hanya menganggukan kepalanya dengan santai. "Yaa."

Dengan hentakan keras di udara, sang guru bahasa Inggris itu menaikkan kertas yang telah teremas-remas itu ke atas dan memperlihatkannya kepada semua siswanya agar mereka bisa melihat betapa buruknya gambar yang dibuat oleh siswa bernama Morino Hidate itu.

"Kau tahu maksud dari gambar ini?" tanya sang guru dengan nada yang begitu serius―membuat siswa yang lain memancangkan perhatiannya pada sang guru. "Apakah kau paham dengan apa yang kau gambar?"

"Soalnya... aku bosan dengan kelas ini, makanya daripada aku membuat keributan tidak jelas, lebih baik aku membuat lelucon saja." jawab Hidate seraya menyandarkan kepalanya pada kedua tangan yang diletakkannya di belakang kursi yang didudukinya.

Kertas itu diangkatnya lebih tinggi ke udara, hingga siapapun kini bisa melihatnya. Dengan alis yang sedikit mengernyit, sang guru kembali memerhatikan gambar yang dibuat oleh Hidate itu, "kau pikir ini adalah lelucon? Kau pikir dengan menggambarkan sosok orang seperti ini lalu kau gunakan untuk mengolok-olok temanmu, kau pikir itu adalah lelucon? Apakah ini lucu bagimu, Morino Hidate?!" seru sang guru―semakin membuat kelas itu menjadi hening.

"Kau pikir, dengan menggambarkan sosok Akimichi-san yang berbadan besar, pemalas, tak bisa bergerak cepat layaknya kura-kura, bermata sipit, dan ditambah dengan bentuk bibir yang begitu besar, kau layak dan pantas untuk mendapatkan penghargaan berupa tawa dari temanmu yang lain? Apakah menurutmu, dengan menggambarkan semua ini dan menunjukkannya pada teman kelasmu, kau sudah menganggap dirimu seperti seorang seniman?" tanya Shizune, sang guru yang kini memperlihatkan sosok dirinya yang sebenarnya di depan siswa-siswanya yang menurutnya sudah keterlaluan itu.

"Dan juga, kau bahkan menambahkan kata-kata anggota geng konyol di sudut kertasmu ini." tambah Shizune―membuat seorang Naruto menjadi kesal karenya namun ia berusaha untuk diam demi sahabatnya itu. "Kalian pikir kalian paham mengenai arti dari geng yang sebenarnya? Apakah kalian tahu kalau geng yang kalian ciptakan itu tidaklah lebih hebat dari geng yang dahulu pernah memusnahkan lebih dari dua ratus juta jiwa di Jepang ini? Kalian menganggap bahwa diri kalian lebih hebat dan bisa melakukan apa saja tanpa melihat derita orang lain yang juga ada di sekitar kalian―

―lalu, kenapa tidak kalian musnahkan saja semua orang yang tidak kalian sukai dan lakukan hal itu dengan cara yang sama seperti para sekutu lakukansaat World War? Dengan membunuh dua ratus jiwa sekaligus hanya karena mereka tidak menyukai perbedaan ideologi di antara sesama manusia di bumi ini, mereka bisa mendapatkan kekuasaan mutlak di mana-mana. Dan itulah geng yang sebenarnya. Ya. Kalian sama sekali tidak mengetahui hal itu. Sama sekali ti―"

"Sensei mengatakan bahwa kami tidak mengetahui sama sekali arti dari geng yang sebenarnya. Tapi, apakah sensei pernah merasakan apa yang kami rasakan? Tanpa sebuah keluarga besar, kami akan berakhir di sudut-sudut jalan mati tanpa membawa kehormatan apapun! Dan sensei juga tak pernah mengalami apa yang pernah kami semua alami di distrik ini!" seru seorang siswa yang duduk tepat di samping jendela kelas. Shizune bisa mengenal siswanya itu bernama Inuzuka Kiba. Sepertinya baru kali ini ia bicara, pikir Shizune.

"Ya. Aku memang tidak mengalami secara langsung apa yang kalian alami di distrik ini. Mungkin, bagi sebagian besar dari kalian akan berpikir bahwa aku menceritakan hal itu semua atas dasar baik ataupun benarnya perbuatan kalian. Tapi..." Shizune sedikit menundukkan kepalanya untuk menenangkan kembali hatinya seraya melipat kedua tangan di dadanya. "Aku kehilangan ibuku karena peristiwa rasial di distrik ini beberapa tahun yang lalu. Dan hal itu cukup menjadi sebuah pelajaran terbesar bagiku bahkan hingga saat ini." sambungnya dengan senyum sedih.

Ia mengangkat wajahnya, begitu pula dengan Chouji, siswa yang menjadi bahan olok-olokan temannya. Mereka semua seakan terbawa oleh sebuah kisah lama sang guru dan Shizune lebih menyukai keheningan yang seperti ini.

"Lihatlah gambar ini. Kalian tahu, mengapa dahulu ada sebuah geng terbesar di dunia yang mampu memusnahkan ratusan ribu bahkan jutaan jiwa yang menurut mereka terlalu berbeda dari karakteristik fisik yang mereka miliki? Itu semua karena gambar ini. Ya. Hanya karfena selembar kertas, seseorang bisa menghancurkan orang lain yang dianggapnya tidak pantas untuk berada di sekitarnya hanya karena perbedaan besar yang tidak disukainya. Mereka ingin membuat semacam dinding tinggi dan keras untuk dijadikan sebagai pembatas antara komunitas mereka dan komunitas lainnya. Bukankah itu adalah tindakan kekanak-kanakan yang tidak pantas untuk dilakukan?"

"Aku percaya bahwa tak ada satu pun dari kalian yang tidak mengikuti satu geng pun di distrik ini. Dan aku menghargainya sebab tak ada yang bisa mengubah sistem seperti itu kecuali jika kalian yang ingin memulai tuk mengubahnya." ungkap Shizune jelas.

"Aku pun bisa memahami bahwa kalian butuh keluarga kalian tuk bisa mengakui keberadaan kalian di distrik ini. Jika hanya pengakuan akan keberadaan yang kalian inginkan, kenapa kalian tidak melakukan hal yang lebih berguna? Dan bila kalian menganggap bahwa dengan satu perbedaan saja yang membuat kalian harus berkelompok-kelompok, kenapa kalian tidak membuat satu perbedaan itu menjadi seribu persamaan yang solid? Bukankah memang pada dasarnya tak ada satupun manusia di dunia ini yang sama, hm?" lanjutnya.

Mereka mendengar. Mereka sedikit membuka mata mereka mengenai kebenaran yang mereka tutup-tutupi selama ini. Bukankah memang mereka semua ingin tuk bisa bersatu dalam satu persamaan yang kuat? Hanya saja, mereka seakan terbutakan oleh pemikiran mereka sendiri. Namun, mereka seperti bisa melihat senoktah cahaya di gelapnya dimensi hampa udara itu. Dan semakin terang meskipun masih begitu sisi mata yang lain.

"Oh ya, Sakura-san." panggil Shizune tiba-tiba―membuat gadis yang sedari tadi hanya bertopang dagu itu menaikkan alisnya. "Kau suka membaca kan? Tadi, aku belum memberitahumu buku apa yang kubaca ini. Dan aku juga ingin kalian semua membaca buku ini. Sebab, buku ini bisa menjelaskan kejadian sebenarnya dari gambar buatanmu ini, Morino-san." kata Shizune seraya mengambil sebuah buku bersampul plastik yang telah lumayan lusuh dan menaikkannya ke atas.

"Semalam aku sudah menelpon bagian inventaris buku di perpustakaan sekolah ini. Dan untungnya, buku yang ingin kalian baca tersedia di sana. Aku akan ke sana setelah pelajaranku selesai dan akan kutinggalkan di ruangan ini untuk kalian bisa bawa pulang."

"Mulai saat ini, aku ingin kalian memahami sendiri mengapa kalian memilih tuk berada di komunitas kalian masing-masing. Aku ingin kalian berpikir secara rasional dan logis mengapa kalian hanya mengikuti kebiasaan lama dan tak pernah mempertanyakannya. Bukankah dengan mulai bersikap kritis akan hal itu merupakan salah satu jalan menuju kebebasan yang selalu kalian impikan?" lanjut Shizune dengan wajah serius.

Mereka terdiam lagi. Hening. Dan itu sungguh membuat perasaan bersalah pada diri Shizune saat ini. Namun―

"Kurasa, itu adalah ide yang bagus." ujar salah satu siswi berambut pirang panjang yang bernama Yamanaka Ino itu, "lagipula, daripada mengerjakan hal yang tidak-tidak, lebih baik membaca buku kan?" lanjutnya yang diakhiri dengan senyuman manisnya. "Lalu, kapan sensei akan menyuruh kita tuk menyelesaikan bacaannya?"

Shizune sedikit terkejut dengan respon yang diberikan oleh salah satu siswinya itu. Dengan perasaan lega dan sedikit senyum puas, ia pun membalas respon siswinya itu, "kapanpun bila kalian telah siap untuk menyelesaikannya."

"Mm, maksud sensei?" tanya si murid dengan wajah bingung―membuat sedikit keributan di kelas itu kembali pecah.

"Maksud sensei adalah saat kalian siap untuk memberikan komentar akan apa yang kalian baca mengenai buku ini. Aku ini mendengar apa pendapat kalian mengenai buku ini nantinya dan kuharap kalian mulai mengubah mind setting kalian akan perbedaan di dunia ini." jawabnya, "aku tidak meminta kalian tuk menjadi seperti apa yang ada di buku ini. Aku hanya ingin kalian memahami kenapa kalian sampai memilih berada di jalan yang seperti sekarang ini."

Trriiiingg...

Bunyi bel di siang itu membuat keheningan sesaat yang timbul menjadi kembali ribut. Shizune kemudian kembali ke meja mengajarnya dan membereskan semua barang-barangnya. Para siswa mulai beranjak keluar satu per satu, termasuk Chouji yang tadinya terlihat sangat lemas berubah menjadi sedikit riang lagi. Shizune terus memerhatikan setiap langkah siswanya yang keluar dari ruangan bernomor 203 itu. Namun, di saat siswa terakhir, Shizune hanya bisa tersenyum saja.

"Kuharap kau mengakui kesalahanmu, Morino-san." ungkap Shizune seraya mengembalikan kertas yang berisi gambar yang dibuatnya. "Tidak semua yang kau anggap lelucon itu adalah sesuatu yang pantas untuk dijadikan bahan olok-olokan sebab hal sekecil apapun itulah yang sering membuat kejadian seperti hari sebelumnya terjadi lagi. Kau mengerti maksudku?"

Morino Hidate mengangguk. Ia pun meraih kertas itu dan menundukkan wajahnya lebih dalam ke arah Shizune. "Gomenne, sensei. Aku sama sekali tidak memahami hal sekecil itu."

"Baguslah kalau kau menyadarinya. Setelah ini, kau ikut aku ke perpustakaan. Kita akan meminjam sekitar dua puluh buku dari perpustakaan untuk kalian baca. Aku minta tolong padamu untuk membawanya ke ruangan ini."

Dengan wajah yang sedikit malu-malu, Hidate menganggukkan kepalanya lagi. Ia lalu mengikuti langkah sang guru dari belakang. Melihat situasi yang seperti ini, Shizune sedikit merasa lega. Ia merasa bersyukur dengan hari ini, mungkin saja dengan berbicara dan meminta saran pada sang ayah di malam sebelumnya, ia bisa sedikit lebih meyakinkan dirinya tuk melakukan sesuatu yang menurutnya benar. Dan senyum merekah pun sedikit mengembang di wajahnya kala itu.

-

-

"Menurutmu? Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku tak tahu, ayah. Makanya, aku bertanya padamu. Aku tidak mengerti dengan sikap mereka. Mereka seperti ingin membuat karakter mereka seperti itu. Dan―dan, aku tak bisa menggunakan metode yang keras untuk mendidik mereka sebab―

"Jangan kau lakukan dengan cara itu, Shizu. Mereka hanyalah anak-anak yang tak mengerti mengapa mereka harus bersikap itu. Beberapa minggu terakhir ini, ayah sering menerima kasus-kasus perampokan, pencurian dan perkelahian antargeng yang berakibat buruk pada situasi sosial di distrik ini. Bahkan, kasus pembunuhan sering terjadi di mana-mana. Hahh... ayah benar-benar tak paham mengapa mereka melakukan itu. Dan kebanyakan pelaku semua tindak kriminal itu adalah para remaja tanggung ataupun anggota-anggota geng aktif yang suka membuat keonaran." ujar pria paruh baya ini seraya membuka kacamatanya dan memijit-mijit dahinya.

"Lalu... apa yang bisa kulakukan, ayah?"

"Dengar Shizu, terkadang ada hal-hal kecil yang sebenarnya bisa mengubah persepsi seorang anak terhadap dunia. Mungkin... kau bisa memulainya dengan hal yang paling kau sukai. Misalnya saja, buku. Bukankah buku adalah hal yang sangat kau sukai sejak kecil, hm?"

"Bu―buku?"

Sang ayah mengangguk―memperlihatkan wajah bijaknya sekali lagi. Rambut yang kini telah memberikan pantulan warna perak memberikan kesan akan usia yang semakin bertambah. Setelah ia menghabiskan sendok terakhir es krim vanilla-nya sebagai desert makan malam itu, seorang pria berusia kurang lebih tiga puluh tahunan baru saja menduduki salah satu kursi di samping wanita muda bernama Shizune itu.

"Bagaimana dengan perbincangan kalian? Sepertinya sangat seru ya, Shizu-chan?"

"Hei Genma, kau harus menjaga baik-baik putriku ini. Dia adalah satu-satunya putriku di dunia ini dan takkan ada yang bisa menggantikannya setelah almarhumah ibunya meninggalkan kami."

Pria itu tersenyum seraya menarik tangan sang istri yang masih begitu kalut dengan masalahnya. Ia memegangnya erat agar sang istri tak lepas begitu saja dari sisinya.

"Tenang saja, ayah. Aku pasti akan selalu berada di samping Shizu-chan hingga akhir usia kami. Dan kami sudah berjanji di depan altar pernikahan bahwa hanya maut yang memisahkan kami."

"Ya, baguslah." jawab sang ayah. "Shizu, yang bisa menyelesaikan masalahmu hanya dirimu sendiri. Dan semuanya telah kau ketahui jawabannya. Hanya saja, kau belum mengerti bagaimana harus menyikapi anak-anak itu. Mereka butuh sosok figur yang bisa membuat mereka berpikir kembali, Shizu. Dan ayah yakin, kau-lah yang bisa melakukan hal itu semua. Sama seperti ibumu yang juga sangat keras kepala itu."

Ia menaikkan wajahnya, melihat sang ayah yang berdiri seraya mengenakan kembali topi koboi yang selalu dikenakannya. Senyum kecil mulai menghiasi wajah lelahnya itu. Ia lupa bahwa ia tak sendiri. Meskipun telah kehilangan sang ibu, ia masih punya sang ayah dan Genma. Ya. Ia memang tak sendiri...

-

-

Malam itu, tak ada satupun siswa yang tidak menuruti permintaan sang guru pada mereka. Mereka mulai membaca buku itu satu per satu. Halaman per halaman. Lembar per lembar. Mereka mulai membaca dengan cara mereka masing-masing. Bahkan, bagi seorang Uzumaki Naruto yang tidak terlalu menyukai buku bisa terhisap oleh keindahakn frase dan kalimat yang terukir dalam buku yang sangat tua itu. Namun, bagi Haruno Sakura, buku adalah tubuhnya. Di sela-sela pesta BBQ malam itu, ia akan mulai menggerak-gerakkan kedua mata jade-nya di tiap lembaran kertas yang telah berwarna begitu coklat itu. Dengan secepat kilat, ia mampu menyelesaikan sembilan bab di malam itu dan saat menutup sampul bukunya, ia hanya bisa memeluk tubuh kecilnya di sofa ruang tamu yang sangat sepi itu.

"Sakura?"

Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap ke arah seorang pemuda yang berusia lebih tua beberapa tahun darinya. Pemuda itu melangkah mendekatinya dan duduk di sampingnya. Entah kenapa, seketika Sakura lalu melepaskan tubuhnya yang kini berbentuk seperti boneka salju itu dan melempar tubuh kecilnya ke arah pemuda itu.

"No llores, mi amor*." ucap pemuda itu sambil mengusap-usap kepala Sakura. Dan tangis itu pun sudah tak bisa dibendungnya lagi. Suara tangisnya yang tertahan oleh dada sang pemuda, sedikit bisa membuatnya merasa lebih baik...

Di tempat lain, desau angin sepertinya tidak memberikan dingin pada tubuh sosok ini. Ia melirik ke arah arlojinya dan berharap waktu dapat berputar lebih cepat. Lampu jalan yang ia jadikan sebagai satu-satunya sumber cahaya agar ia bisa membaca seluruh tumpukan kata pada buku itu rupanya membuat matanya begitu lelah. Ia berdiri dari kursi halte bus dan mengangkat wajahnya ke langit malam itu. Bulan penuh masih muncul di malam itu tapi mengapa ia masih merindukannya dengan begitu besarnya.

"'A wolf will never get the moon they hope but a vampire will always get what the crescent they want'. Hhh..." ujar pria itu seraya mulai melangkah menjauhi halte bus itu. "Kurasa itu salah. Vampir-lah yang sebenarnya tidak akan pernah menemukan bulan penuhnya. Sama seperti aniki..."

~(ooOoOoo)~

Esoknya, sebuah garis berwarna merah tiba-tiba saja terlihat membagi dua daerah di ruangan bernomor 203 itu. Shizune berhasil menyingkirkan semua kursi dan meja yang mengisi bagian tengah ruangan itu. Meskipun agak sedikit lelah, ia merasa senang dengan metode yang akan dilakukannya saat ini. Senyum merekah mulai menghiasi bibirnya yang berwarna peach itu.

"Kita akan melakukan apa, sensei?" tanya seorang siswa berkacamata bulat yang diketahui Shizune bernama Aburame Shino.

"Hm, kalian akan memainkan sebuah games dariku. Kalian akan terbagi dalam dua kekompok sama rata. Satu kelompok akan berdiri di sudut kiri dan yang lain akan berdiri di sudut kanan. Aku akan memberikan sepuluh pertanyaan kepada kalian dan jika kalian menjawab iya maka kalian harus maju ke arah garis itu. Tapi, kalian harus mencari pasangan masing-masing. Bila pertanyaan nomor satu hanya bisa dijawab oleh Akimichi-san dari blok kiri dan Yamanaka-san dari blok kanan maka mereka berdua harus saling berhadapan satu sama lain. Mengerti maksudku?" ungkap sang guru dengan wajah ceria.

Mereka semua menyerukan ya. Dan bagi Shizune ini adalah permulaan dari permainan kecil yang akan diberikannya pada kelas yang menurutnya spesial ini. Dengan segera, mereka semua mulai membagi dua sama rata. Sejumlah siswa berdiri di sisi kiri dan sisanya berdiri di sisi kanan. Sempat, terjadi kegaduhan yang disebabkan oleh Naruto yang tidak mau satu kelompok dengan Sasuke, tetapi Shizune memaksanya tuk berada di sisi kanan itu.

Setelah semuanya telah kembali tenang, Shizune kemudian mengambil selembar kertas yang telah berisi berbagai pertanyaan yang akan diajukannya kepada kedua sisi kelompok itu.

"Baiklah. Aku akan mengajukan satu pertanyaan sebagai permulaan. Seperti yang kukatakan tadi, kalau kalian menjawab ya, maka kalian harus menuju ke arah garis itu. Ok! Aku akan mulai, hm... pertanyaan pertama adalah—"

Shizune memulai permainan kecilnya dengan sebuah pertanyaan yang menurut siswa-siswanya terlalu konyol untuk ditanyakan. Siapakah diantara kalian yang menyukai Coca Cola?

Dengan segera, Naruto maju ke arah garis itu. Ia berhadapan dengan Yamanaka Ino. Melihat wajah Naruto yang menurutnya agak jelek, ia hanya memalingkan wajahnya dengan angkuh. Naruto-pun menjulurkan lidahnya—mengejek si gadis blonde itu. Beberapa siswa lain pun maju ke arag garis. Yang terlihat tidak menyukai pertanyaan itu rupanya hanya Sasuke dan Sakura dari sayap kiri dan sayap kanan grup itu.

Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan.

Sembilan pertanyaan dengan sukses membuat suasana yang kaku itu berubah cair dan berkesan lebih cerah. Semuanya saling tertawa dan tak ada satu pun perbedaan yang membatasi tawa itu. Shizune merasa bahwa ide yang diberikan oleh Genma padanya pada malam sebelumnya ternyata cukup berhasil membuat siswa-siswa ruang 203 itu lebih menghargai segala perbedaan yang tampak mereka lupakan.

"Baiklah, ini adalah pertanyaan terakhir dan kuharap kalian menjawab dengan jujur. Pertanyaan ini kuharap bisa membuat kalian menyadari bahwa apa yang kalian pahami mengenai segala kerusakan dan peperangan yang terjadi di distrik ini hanya akan membuat luka pada diri kalian." ujar Shizune―membuat semuanya menjadi lebih tenang. "Aku… aku ingin tahu sebuah kejujuran dari diri kalian. Dan pertanyaan terakhirku adalah siapakah dari di antara kalian yang pernah kehilangan salah satu anggota keluarga kalian tepat di depan mata kalian?"

Semuanya terdiam. Tak ada yang mau bergerak. Sebuah langkah kecil terdengar menggaung di kelas itu. Langkah lain juga mengikutinya. Pemuda berambut raven itu melangkah maju untuk yang pertama kalinya. Dengan kedua tangan yang tenggelam dalam saku black jeans-nya, ia berdiri tepat di depan garis merah yang menempel di lantai kayu ruangan itu. Semuanya terlihat membulatkan mata mereka sedikit—tak percaya dengan hal yang kini dapat mereka lihat.

Mata jade itu membulat. Ia pun berani melangkah maju. Maju. Dan terus melangkah maju hingga tepat di depan garis. Tidak. Tepat di depan pemuda itu. Kedua mata mereka saling bertemu. Namun, ia tak berani menatap terlalu lama. Ia takut dengan memori lama itu kembali berputar di dalam kepalanya. Hijau dan hitam itu bukanlah hal yang menjadi inti dari semua perbedaan itu. Hati merekalah yang tak mau menerimanya. Ya.

"Siapapun mereka, aku ingin kalian mengenangnya. Sebutkanlah nama mereka dalam hati kalian berdua. Aku yakin mereka tidaklah meninggalkan kalian semua tanpa melakukan sesuatu yag sangat berharga bagi kalian." ungkap Shizune seraya menghela nafas pendek, "dan yang lain, kuharap kalian juga melakukan hal yang sama. Meskipun bukan keluarga kalian, aku mau kalian mengenang orang-orang terdekat kalian yang telah mati demi komunitas kalian."

Mereka saling menundukkan wajah-wajah mereka. Satu per satu. Nama-nama itu terlisan dalam bibir mereka. Namun, sang pemilik mata jade itu hanya bisa menunduk dan memegangi dadanya. Ia terus menerus mengulang nama sang ayah. Sedangkan, sang pangeran yang terbuang menatap ke arah Sakura sambil mengingat wajah sang kakak…

"Ayah…"

"Itachi-nii…"

~(ooOoOoo)~

-TBC-

~(ooOoOoo)~


Dictionary :

Te amo : aku mencintaimu

Adios : sampai jumpa

No llores, mi amor : jangan menangis, sayangku.


Uwooo~~~ *dicubit Itachi-kun*

Akhirnya, ada interaksi antara siswa-siswa ini ya? Hm, hm, hm. Ada Sasuke dan Sakura juga akhirnya… wahh, senang sekali…*tebar bunga tujuh rupa*

Jadi, bisa ditebak kan di sini Gaara berperan jadi apa? Tapi, Gaara pinter banget bahasa Spanyol ya? Maklum, dia dan Sakura kan juga punya orang tua yang berasal dari Peru. Hihihi…

Lagi-lagi, saya jadi speechless. Hanya bisa berterima kasih yang sebesar-besarnya untuk : Madame La Pluie, hanaruppi, Michisige Asuka, Kuroneko Hime-Un, Furu-pyon, Akabara Hikari, Lady Arlene, dan .lost.

RnR pleaseee... *kabur*