"Beside the sea. When the waves broke. I drew a heart for you in the sand…"

-B'Witched : To You I Belong-

The owner of your heart is only you.

-anonymous-


Book Five : To Know Each Other.


~(ooOoOoo)~

Sasuke.

Bagi siapapun, perbedaan memang adalah hal yang sangat sulit untuk diterima. Ya. Tidak hanya aku tapi semua orang yang telah membusuk di distrik ini. Aku benci dengan semua perbedaan yang selalu menjadi batas paling absurd dari sebuah komunitas. Bak penghalang di sebuah medan perang antara werewolf dan vampire. Ah. Membicarakan mengenai kedua makhluk malam itu, aku teringat dari satu halaman terakhir dalam buku yang diberikan Ms. S pada kami. Sungguh panggilan aneh. Kalian mungkin tak mampu memahami cara kami, para penghuni Room 203, memberikan penghargaan terhadap seorang pendatang baru. Tapi, segala hal di dunia ini tak selamanya butuh alasan kan? Aku, tidak, kami memanggilnya demikian karena—

itu adalah penghargaan yang pantas dimilikinya setelah hari itu.

Buku itu adalah bukti dari keegoisan manusia. Sebuh sisi yang akan selalu melekat pada seorang manusia dan hal itu tak bisa lagi dihindari atau pun dihilangkan. Di malam itu, saat aku mampu menyelesaikan semua bab yang tulisannya terpatri paling besar diantara semua lembaran kertas lainnya, ada satu hal yang mampu membuatku terus bertanya-tanya. Sang author menyelipkan sebuah pertanyaan yang kemudian akan dijawab oleh semua pembaca karyanya itu.

'Pikirkan dirimu adalah salah satu dari tokoh imajiner di bawah ini. Satu, kau adalah vampire. Dua, kau adalah werewolf. Tiga, kau adalah manusia. Dan terakhir, kau bukan siapa-siapa.'

'Setelah kau memilihnya, bisakah kau menerima kenyataan bahwa kau adalah sesuatu yang hidup dengan yang lainnya? Bisakah kau membuka matamu bahwa kau butuh mereka? Tapi, saat kau memilih tuk tidak menjadi siapa-siapa, maka kau adalah mereka yang paling dibutuhkan oleh yang lainnya. Tahukah kau mengapa hal itu terjadi?'

Aku tahu itu. Aku tahu dengan pasti jawabannya. Hanya saja, aku tak berani menjawab pertanyaan sang author saat itu. Mungkin karena aku takut kalau aku salah atau juga aku takut menjadi diriku sendiri.

'Hal itu terjadi karena saat kau menjadi bukan siapa-siapa, maka mereka akan kehilangan akan dirimu. Kau akan dirindukan oleh mereka. Bahkan, di saat kau mati, maka ketiadaan dalam dirimu itulah yang menjadikanmu berbeda dari yang lainnya. Lalu, kau diciptakan oleh pencipta yang sama. Dan hal itulah yang paling absurd. Tak ada satupun dari pilihan-pilihan itu yang tidak memiliki link ataupun rantai. Karena, yakinlah pada dirimu bahwa dunia ini bisa berputar oleh semua perbedaan yang telah diciptakan-Nya dengan begitu sempurna...'

Kenapa kata-kata itu seolah ingin menjelaskan sesuatu yang tak bisa kupahami hingga sekarang? Karena keinginan untuk menjadi berbeda itulah yang menjadi penyebab kematian orang itu kan? Aku sudah tahu itu. Dan aku benci karenanya. Aku pun harus sampai mengemis di saat detik-detik terakhir hidupnya saat itu. Teriakan amarahku bahkan tak didengarnya. Ia tetap berada di tengah-tengah kobaran api itu demi hal konyol berupa kebebasan. Dan orang itu berakhir tepat di depan mataku dan di depan mata ibuku...

Ms. S.

Kurasa, ia adalah sosok yang mampu mengubah persepsi kami. Aku ingin mengelaknya, tetapi mata hijau itu seakan mampu mengubah tatapan kosongku selama ini. Di balik mata hijau itu tersimpan sebuah memori besar yang telah mati namun terlihat masih sangat hidup di saat airmatanya jatuh tepat di hadapanku. Airmata. Sudah berapa lama aku tak pernah lagi menjatuhkan airmata itu. Sudah berapa lama ya? Mungkin sudah sangat lama sekali.

Ms. S.

Ya. Itu semua adalah hal kecil yang bisa kami berikan. Kalian mungkin bertanya-tanya mengapa aku terus saja mengatakan kami. Mungkin orang-orang akan mengatai kami dengan kata insane atau stupid kids karena kami bagaikan iblis di kelas kami sendiri. Iblis? Mungkin. Tapi, tidak semua iblis berharap selamanya tuk menjadi demikian kan? Sama seperti apa yang dikatakan oleh kakekku saat aku baru saja kembali dari perjalanan panjangku bersama ibu. Tidak. Lebih tepatnya saat ia meninggalkanku, meninggalkan kami, meninggalkan dunia ini selamanya.

Kata kakek, dunia ini hanyalah seperti selembar kertas yang masih sangat kosong. Putih. Tak ada noda. Ketika tiba suatu masa saat Sang Pencipta kertas itu menginginkan sebuah warna, maka kertas itu sedikit demi sedikit mulai ternoda. Mungkin noda itu akan dimulai dengan hitam atau mungkin kuning. Kau tahu maksud kakekku ini kan? Hitam saat malam mulai menutupi putihnya dunia itu dan kuning saat pagi menginginkan adanya pergeseran bagi sang malam yang seakan ingin melahap semua bagian dari kertas itu.

Lalu, warna lain pun turut dicoba oleh-Nya. Mungkin, sedikit hijau atau biru, yang akan memberikan bentuk yang aneh dan sangat mengherankan bagi kertas itu. Maka, kertas itu pun akan bergejolak. Ia tak menginginkan warna lain. Namun, Ia tetap bersikeras tuk mewarnai kertas yang dimiiki-Nya, sehingga gejolak-gejolak penolakan itu akan berubah menjadi langit dan tanah bersama dengan rerumputannya.

Hitam dan kuning pun tak sendiri lagi. Mereka tak hanya berdua lagi di kertas kosong itu.

Orange, ungu, nila, merah, dan—

mereka pun saling menyatu meski tahu mereka berbeda di atas kertas putih yang tidak menginginkan adanya perbedaan dalam tubuhnya.

Aku menertawai diriku sendiri. Dan aku pun menertawai mereka yang tak bisa melihat maksud di balik segala hal yang telah Ia berikan bagi dunia ini. Mungkinkah saat kakek menceritakan hal itu padaku, ia menginginkan sesuatu yang hanya bisa dijelaskan melalui semua kata-katanya itu? Dan mungkinkah... Itachi-nii telah mengetahuinya? Tapi... mengapa demi sebuah kebebasan yang absurd, harus ada sebuah pengorbanan yang riil? Hal itulah yang membuatku benci akan perubahan meskipun terkadang perubahan itulah yang akan menjadi akar dari semua jawaban yang kami cari selama ini—

~(ooOoOoo)~

"Mungkin kalian sendiri bisa memahami maksud dari permainan ini. Aku tahu kalian tidaklah bodoh seperti yang semua guru-guru itu katakan pada kalian dan juga padaku—

aku, aku ingin jawaban dari salah satu dari kalian mengenai apa yang kalian rasakan setelah aku memberikan permainan kecil ini pada kalian."

Pemuda itu mengangkat wajahnya, membuat gadis berambut merah muda yang berdiri di depannya sedikit tersadar dengan tangis yang terus menggelayuti dirinya saat itu. Bulir-bulir air mata yang membasahi kedua pipi merahnya terlihat sangat jelas di depan wajah pemuda itu. Namun, seperti biasa, tatapannya akan kosong dan hampa. Tapi, tersirat jelas adanya sebuah kesedihan yang mendalam dari kedua mata itu.

"Jarak perbedaan di antara kami sangatlah tipis, sensei."

Sang guru tersenyum. Jawaban singkat itu cukup memberikan sebuah bukti kuat baginya akan kondisi para penghuni kelas bernomor 203 itu. Kini, tak ada lagi penghalang baginya tuk tidak melakukan sesuatu demi mereka, semua siswa-siswi Room 203 ini.

"Kau benar sekali, Uchiha-san."

Mereka semua tertegun dan terdiam dengan keheningan itu. Mereka yang telah mengeluarkan bulir airmata itu menghapus sedikit demi sedikit airmata dari wajah mereka. Sebuah kenyataan pahit seakan meracuni dan menjalar di setiap aliran darah tubuh mereka. Kata-kata itu berhasil mengubah pemikiran mereka. Dan entah kenapa, titik-titik mentari menusuk masuk melalui jendela ruangan itu dan bersinar lebih terang dari biasanya.

"Aku mungkin bisa memakai helaian rambut untuk mengganti plester merah itu. Tapi, kurasa tidak akan bagus. Haha." ujar sang guru dengan sedikit lelucon.

"Tapi... hal yang sesungguhnya tidaklah berasal dari plester merah, tali, ataupun helaian rambut. Semuanya berasal dari hati kalian masing-masing. Kalian akan memahami satu hal yang paling esensial dari kenyataan akan kondisi kelas kalian. Jika kalian masih ingin hidup lebih lama lagi demi apa yang kalian perjuangkan, maka berusahalah untuk terus bertahan hidup, sekeras apapun itu. Tapi, aku ingin kalian bertahan hidup dengan cara yang bisa memberikan kehidupan lain demi manusia di sekitar kalian. Tak hanya angota keluarga di komunitas kalian, tetapi juga demi sahabat-sahabat kalian."

"Kalian paham dengan maksud dari kata-kataku ini, kan?" lanjutnya.

Satu per satu dari mereka mengangguk pelan. Kini, mereka memahami mengapa timbul berbagai peperangan tiada akhir di distrik wilayah Kanto. Tentu jawabannya sangat singkat, yakni perbedaan. Tetapi, bukankah di balik semua peperangan itu tersimpan sebuah keinginan tuk tetap bertahan hidup? Bertahan tuk tetap hidup bersama dengan mereka yang sama dengan diri kita. Bertahan tuk tetap hidup dari kenyataan bahwa mereka berbeda. Dan bertahan tuk tetap hidup dari kematian.

Salah satu dari peghuni ruang 203 itu menaikkan tangannya ke atas, berusaha meminta penjelasan yang lebih detail pada sang guru. Dengan pertanyaan itu, sang guru pun tersenyum cerah untuk yang pertama kalinya dalam kelas unik ini...

"Bisakah sensei memberi tahu kami apa yang harus kami lakukan saat ini? Erm, maksudku—"

"Mm, menurutmu, apa yang harus kita lakukan, Inuzuka-san? Adakah dari kalian yang memiliki ide apa yang bisa kita lakukan sekarang? Ataukah mungkin ide akan permainan lain yang bisa kita lakukan?"

Mereka menjadi ribut. Entah mungkin karena berbagai macam ide yang keluar dari pikiran mereka sehingga mereka saling membagi ide-ide itu dengan teman-teman mereka yang berdiri di samping maupun sebelah mereka. Tapi, keributan itulah yang diinginkan oleh Shizune saat itu. Di saat mereka sudah tak canggung lagi tuk berbicara satu sama lain meskipun masih banyak dari mereka yang terdiam di sudut kelas.

Mata Shizune terpancang pada Naruto yang dengan begitu semangatnya mengutarakan hal-hal yang ingin dilakukannya saat itu ataupun permain-permainan konyol yang singgah di otaknya pada salah seorang siswi bercepol bernama Ten-Ten. Sedangkan Shikamaru hanya menyandarkan tubuhnya di jendela dan menguap lebar—membiarkan Rock Lee yang diketahuinya berkebangsaan sama dengan Ten-Ten berbicara dengan suara super keras tepat di depan wajah ngantuk Shikamaru itu. Shizune tersenyum. Ya. Ia tersenyum. Bukan senyum palsu yang harus ditebarkannya saat berbicara dengan murid-muridnya di hari sebelumnya.

Namun, ada satu hal yang mengganggunya.

Kedua siswa yang masih saja saling berhadapan di garis merah itu tidak saling berinteraksi. Bahkan, mereka hanya diam satu sama lain. Saat sang siswa melangkah mundur dan menjauhi sang siswi, tiba-tiba saja siswi itu mengangkat wajahnya dan memanggilnya. Hal yang dikhawatirkan oleh sang guru kini bisa teratasi.

"Tung-tunggu! Kurasa kita harus saling bertukar ide mengenai apa yang ditanyakan oleh sensei tadi, sama seperti yang dilakukan oleh yang lainnya. Menurutmu.. apa yang bisa kita laku—"

"Menurutmu?"

Siswi berambut merah muda itu sedikit melebarkan mata hijaunya. Entah karena ucapannya terpotong oleh pemuda itu atau ada hal lain yang membuatnya terkejut. Mungkin karena interaksi itu. Sebelumnya mereka tak pernah saling berkomunikasi semenjak kedatangan pemuda itu untuk yang pertama kalinya di Hiruzen High School. Pemuda itu memang bukanlah penduduk asli dari sekolah di distrik tiga wilayah Kanto itu. Menurut berita yang tersebar, ia adalah pendatang dari distrik satu. Distrik satu adalah distrik yang sangat terkenal di antara semua distrik di Kanto. Hal itu disebabkan oleh sistem yakuza yang masih melekat kuat. Hanya saja, ada yang aneh dengan kedatangan pemuda itu. Sangatlah tidak lazim bagi penghuni distrik satu yang juga sangat terkenal dengan kemewahannya, bersekolah di tempat yang boleh dibilang masih berada di dunia ketiga itu.

Semua siswa dan siswi sekolah itu terkejut dengan kedatangan pemuda ini saat itu. Namun, ada satu orang yang tidak memperlihatkan reaksi apapun. Orang itu adalah—

"Kurasa, mereka sudah memiliki banyak ide. Aku hanya akan mengikuti apa yang kuanggap menarik untuk dilakukan."

"Kalau begitu, berpikirlah. Takkan ada yang memahami apa yang kau suka jika kau tak menagatakannya kan? Lagipula, tembok pembatas yang menjadi sekat paling tebal di kelas ini telah diruntuhkan oleh Ms. S."

"Miss S?"

"Ya. Ms. S. Mulai sekarang, aku akan memanggil sensei dengan panggilan itu. Itu adalah ideku saat ini. Menurutmu bagaimana, Uchiha-sa—"

"Sasuke. Cukup Sasuke."

"Baiklah, 'cukup Sasuke'." kata gadis itu sembari melipat tangan di dadanya.

"Tak perlu menambah embel-embel –kun, –san, dan sebagainya. Hal itu yang perlu kau ingat, Haruno—"

"Sakura. Cukup Sakura. Sama seperti yang kau katakan tadi, Sasuke. Tak perlu embel-embel –chan, –san, dan yang lainnya. Situasi ini tetap tidak akan mengubah apa-apa di antara komunitas kita masing-masing."

"Kurasa begitu. Dan tetap seperti itu hingga kapanpun."

"Ya, tentu saja."

Sekali lagi. Hitam dan hijau saling bertemu. Laksana rerumputan hijau dan malam yang kelam. Atau mungkin saja emerald dan onyx. Kedua warna yang terlihat begitu kontras. Namun, saat disatukan mungkin akan menjadi warna yang begitu indah.

"Hoi... kurasa gadis ini punya sebuah ide besar di kepalanya!" teriak Sasuke tiba-tiba—masih memancangkan kedua mata onyx-nya pada batu emerald itu. Sedangkan yang disinggung hanya membulatkan kedua matanya dan mulai salah tingkah.

Maka, mereka terdiam dan mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Pemuda berambut blonde yang begitu semangat itu menjadi kusut seketika saat didengarnya suara milik orang yang paling dibencinya sepanjang masa terdengar keras memenuhi seisi ruangan itu. Mau apa sih si baka-teme itu? Pikirnya kesal.

"Kata gadis ini, mulai saat ini, ia akan memanggil sensei dengan nama Miss. S!"

Semuanya melongo dan terkaget dengan apa yang mereka dengar saat itu. Namun, hening sesaat itu berubah saat salah satu dari mereka bertepuk tangan dan yang lainnya pun mengikuti.

"Miss S?! Wow! Kurasa itu nama yang bagus!" seru Rock Lee, si anak rambut bob yang tidak kalah semangatnya dengan Naruto.

"Ya. Kurasa juga begitu." ujar Yamanaka Ino sambil menyisir rambut pirang panjangnya dengan jemarinya yang lentik

"Miss S! Miss S! Miss S!" seru Chouji dengan menampilkan wajahnya yang entah kenapa telah dipenuhi dengan keringat.

Keributan yang lebih besar mulai terdengar lagi di sepanjang penjuru ruangan itu. Sang guru yang juga tak kalah terkejutnya hanya bisa tertawa kecil dengan nama kecil yang diberikan oleh siswa-siswinya itu padanya. Ia begitu senang dengan apa yang kini terjadi dengan penghuni Room 203 yang diketahuinya dipenuhi dengan anak-anak putus asa dan mengalihkan keputusasaan itu dengan cara yang salah.

"Sudah kukatakan kan apa yang ingin kau katakan? Jadi, kita impas dengan bertukar ide tadi."

"Dasar. Itu sama saja dengan kau mencuri ideku."

Pemuda itu hanya melemparkan wajah tanpa dosa ke arah gadis itu. Ia lalu berbalik dan memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku celananya. Perlahan, ia melangkah menjauhi garis merah dan mata hijau yang dengan begitu cepatnya berubah itu. Tapi, dari sudut hatinya yang masih disinari oleh cahaya harapan, ia menginginkan agar mata itu masih hidup hingga kapanpun, tidak seperti mata onyx-nya yang kini seakan telah mati.

~(ooOoOoo)~

Hari itu berlalu dengan sedikit lebih mudah dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Shizune kini merasa dibutuhkan saat ini. Ia dibutuhkan oleh mereka, para penghuni Room 203. Dan mereka pun menginginkan Shizune tuk tetap berada di sekolah itu, tidak, tapi untuk tetap berada di kelas mereka hingga mereka lulus nanti. Meskipun demikian, sistem ataupun metode mengajar Shizune yang terbilang unik itu akhirnya terdengar juga hingga ke telinga guru-guru lainnya. Sama seperti aroma harum yang disebarkan oleh sekuntum mawar meskipun ia disekap dalam penjara tak berventilasi sekalipun.

Mereka resah dengan tindakan Shizune yang terlalu halus pada siswa-siswi tak-beres di Room 203. Menurut mereka, anak-anak bermasalah sama saja seperti kucing liar. Butuh waktu dan proses yang lama untuk menjinakkan mereka kalau dengan cara seperti itu. Oleh karenanya, mereka mulai memikirkan cara yang lebih efektif, yaitu dengan menghukum atau menge-judge kebodohan dan kenakalan mereka. Dengan begitu, mereka akan malu dengan semua perlakukan semena-mena itu.

Malu?

Hal itu tentu tidak akan membuat anak-anak itu malu, bahkan mereka akan terus mengulangi kenakalan-kenakalan itu meski dengan ratusan atau ribuan kali hukuman sekalipun. Takkan ada yang bisa menghentikan semua tindakan di luar batas itu selain diri mereka sendiri. Ya. Dan hal inilah yang menjadi dasar berpikir seorang Shizune. Ia yakin akan pendiriannya yang sudah tetap itu. Kalau perlu, ia akan bergerak sendiri meskipun pada kenyataannya ia bukanlah seorang guru tetap di sekolah itu. Sewaktu-waktu ia bisa dimutasi ke tempat lain, apakah itu di sekolah yang lebih baik dari kondisi di Room 203 atau mungkin lebih buruk.

Bagi Shizune, tak akan menjadi masalah bila ia harus meninggalkan sekolah itu asalkan dengan sebuah kepastian yang bisa digenggamnya hingga ke akhir hayatnya kelak.

Sungguh kepastian itu bukanlah hal yang sulit untuk diberikan sebab pada dasarnya ia memang hanyalah seorang guru. Dan layaknya seorang guru, maka takkan ada hal lain yang lebih membahagiakan selain melihat seulas senyum siswa-siswinya ketika berakhir di sekolah ini dan keberhasilan mereka tuk mampu menjadi sesosok manusia dengan karakter yang kuat dan berhasil di masa depannya.

Benar tak ada hal lain selain itu yang diinginkannya saat ini.

Mimpi dan harapan itu seakan mengetuk alam bawah sadarnya kala ini. Ia bisa melihat wajah-wajah itu tersenyum padanya dan itu cukup membuatnya bahagia saat ini. Gaun tidur satin yang dikenakannya terasa begitu lembut saat ini, bahkan bantal yang dirasakannya begitu keras di malam-malam sebelumnya tiba-tiba saja berubah empuk. Tak lupa juga dengan kedua lengan yang terus saja melingkar dari arah belakangnya. Bukankah hidupnya sudah menjadi lebih baik? Ataukah masih ada yang kurang?

Mungkinkah itu adalah—

seorang anak.

Sebelumnya, Shizune berharap dan bermimpi tuk diberikan sesosok malaikat mungil padanya. Namun, Sang Pencipta seakan belum mengizinkannya tuk memeluk mimpi dan harapan lamanya itu. Ia tak hentinya berharap dan bermohon hingga sudah berapa banyak derai airmata ia tumpahkan di setiap sesi doa yang dilakukannya di kuil setiap akhir pekan. Bahkan, seorang Shiranui Genma pun takkan pernah berhenti mendukungnya.

Ialah satu-satunya orang yang mengerti betapa besarnya keinginan sang istri tuk bisa menghadirkan sosok malaikat kecil itu di pelukannya. Dan tangis itu hanya akan semakin menyayat hatinya di kala isak itu berubah menjadi kemarahan. Akan tetapi, Genma mencoba tuk membuat sang istri tuk mengubah amarah tak berkesudahan itu menjadi sebuah tawa. Ya. Tawa yang hanya bisa dihadirkan oleh seorang Shiranui Genma pada Shiranui Shizune.

Sekali lagi, Shizune terbangun dari tidur malamnya. Ia membuka matanya perlahan dan memandang ke arah jendela kamar yang menampilkan tayangan layar hitam dengan sedikit kerlipan sinar kuning. Sesaat kemudian, ia melirik ke arah jam weker automatic yang berdiri di meja kecil samping tempat tidur mereka. Pukul 2 p.m. Terlalu pagi untuk memulai aktivitas apapun selain makan atau ke toilet tentunya. Kedua mata lelahnya tertutup untuk sementara waktu tapi ingatan itu membuat ia harus kembali membuka kedua kelopak matanya.

Ia melepas lingkaran lengan Genma di sekitaar abdomen-nya—berupaya agar tidur sang suami tak terganggu olehnya. Setelah lepas, barulah Genma mencari posisi lain dan kini memeluk guling yang terabaikan sejak tadi. Melihat kelakukan Genma yang seperti anak kecil, Shizune hanya bisa tersenyum kecil dan bergerak pelan mendekatinya. Ia lalu mendaratkan kecupan singkat di dahi Genma dan hal itu cukup membuatnya bisa mendengar bunyi purr lemah.

"Dia ini lucu sekali."

Perlahan, Shizune melangkah menuju balkon kamarnya. Gorden putih yang terlihat berkibar seraya angin mulai berhembus lembut sedikit membuat tubuhnya menggigil. Ia mengusap-usap telapak tangannya dan memeluk tubuhnya karena dinginnya angin malam saat itu.

Mata sayunya terlihat tengah memandang ke arah langit yang begitu hitam dengan kerlipan bintang mungil. Tak ada bulan malam ini dan itu sungguh membuatnya kesepian. Biasanya, di kala ia tengah melewati berbagai hal sulit, ia akan menatap bulan hingga bulan itu menghilang dan tergantikan oleh matahari. Intinya, ia akan terbangun di tengah malam dan tak bisa tertidur lagi hingga pagi menjelang.

Ia kembali mengingat hari-hari yang telah dilaluinya di Hiruzen High School. Banyak hal yang bisa ia pelajari dari sekolah itu. Dan ia benar-benar harus memperjuangkan apa yang kini telah dipegangnya, sesulit apapun itu, meski saat itu Tsunade-sama tampak tak setuju ketika ia menjelaskan kepada nyonya besar itu mengenai keberhasilan mengajarnya pada kelas 203.

"Saya yakin dengan cara saya yang seperti sudah saya jelaskan tadi, anak-anak di kelas 203 itu bisa sedikit berubah, Tsunade-sama."

"Anda boleh saja mengatakan itu akan berhasil, Shizune-san. Tapi, apakah Anda tidak mendengar cerita lain mengenai kelas-kelas yang sama dengan kelas itu di sekolah ini pada tahun-tahun sebelumnya? Meskipun demikian, saya sangat senang dengan kedatangan Anda di sekolah ini. Tetapi, bukan berarti, Anda berhak mengubah sistem dan metode yang selalu kami berikan bagi anak-anak nakal itu."

"A-anak-anak nakal? Apakah kata-kata itu yang bisa mewakili pengelihatan Anda mengenai para murid di kelas istimewa itu, Tsunade-sama? Mereka melakukan kenakalan-kenakalan tersebut hanya karena mereka tak punya wadah untuk mengeluarkan segala kekesalan mereka. Mereka seakan terlalu cepat tuk dibuat mengerti akan segala situasi buruk di distrik ini.

Saya rasa, mereka adalah kumpulan dari anak-anak yang sangat luar biasa dan akan sangat baik bila mereka dididik dengan sebuah proses yang menyenangkan bagi mereka. Dengan begitu, segala kemampuan mereka akan tergali dan mereka pun akan menjadi sosok anak yang memiliki karakter yang kuat dan lebih dari anak-anak lainnya."

"Mengatakan hal itu pun, Anda tetap tidak akan bisa mengubah sistem yang sudah berlaku sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu di sekolah ini, Shizune-san. Mungkin, aku bisa tergugah dengan kata-kata Anda. Tetapi... yang berhak mengubah segala metode yang telah ada itu hanyalah Direktur Divisi Pendidikan Wilayah Kanto. Bahkan aku pun akan sangat sulit melakukan hal itu meski aku adalah seorang Kepala Sekolah di sekolah ini."

"Tapi..."

"Aku paham dengan apa yang tengah Anda rasakan, Shizune-san. Almarhum kakek buyutku mendirikan sekolah ini juga atas dasar seperti itu. Aku diajari oleh ayahku tuk terus memegang prinsip kakek buyutku sampai kapanpun. Beliau selalu mengatakan hal ini padaku.

'Terkadang ada sebuah hal yang bisa memecah sebuah tradisi kuno'. Dan itulah yang bisa membuatku mengerti akan pemahaman Anda akan kelas itu, Shizune-san. Anda tahu, kelas itu baru dibuka sekitar tujuh tahun yang lalu. Saat itu, aku belum menjabat sebagai kepala sekolah dan ayahku-lah yang berinisiatif tuk membuat kelas itu. Kata beliau, kelas khusus itu akan diisi oleh anak-anak spesial dari distrik ini. Tapi, saat kulihat-lihat, bagian mananya yang spesial, bahkan kalau boleh dibilang malah memperparah kondisi di sekolah ini. Saat kuperhatikan, kata spesial yang disebutnya kala itu adalah kumpulan anak-anak yang berasal dari berbagai komunitas di distrik tiga ini."

"Begitu ya?"

"Kuharap, Anda bisa memahami hal yang sudah aku sebutkan tadi, Shizune-san. Oh ya, mungkin Anda bisa berkonsultasi mengenai hal ini pada Hatake-san. Jika Anda butuh ide untuk mengajar di kelas itu, kurasa, untuk urusan mengatur tingkah laku murid, Hatake-san-lah ahlinya. Sepertinya, dia sedang mengajar di ruangan 105."

"Hm, saya rasa sudah cukup juga saya menjelaskan mengenai metode itu pada Anda. Saya permisi dulu. Selamat siang, Tsunade-sama."

"Ya." jawab sang kepala sekolah. "Ah! Sepertinya ada yang harus aku katakan pada Anda, Shizune-san."

"Ya?"

"Sebenarnya, aku akan menempatkan Anda di ruangan 105 saat itu. Tapi, saat aku mendengar jawaban Anda selama sesi interview sebelumnya, aku mengubah pikiranku dan malah menempatkanmu di kelas spesial itu. Dan aku pun tak jadi menempatkan Hatake-san di ruangan 203 padahal menurutku, keahlian mengajar kalian sama. Hanya saja, dalam jawaban Anda saat itu, aku yakin Anda-lah yang lebih mampu melaksanakan prinsip ayahku itu."

Sekali lagi Shizune tersenyum saat mendengar kata-kata Tsunade selepas istirahat siang hari itu. Meskipun ia masih tak setuju dengan cara Shizune memperlakukan siswa-siswi di ruangan 203, masih ada sedikit harapan akan keyakinannya itu tuk mengubah apa yang kini terjadi di kelas yang diasuhnya untuk setahun ke depan. Namun, ia baru teringat akan sesuatu hal. Siang itu, ia tak jadi melaksanakan apa yang disarankan oleh Tsunade. Karena terlalu senang, ia langsung beranjak ke arah perpustakaan dan mencari buku-buku yang bisa menjadi referensi mengajarnya. Padahal saat itu, ada sepasang mata yang terus saja memerhatikannya semenjak kedatangannya yang pertama kali di sekolah itu. Dan sepasang mata onyx yang terlihat selalu lelah itu takkan pernah lepas dari setiap langkah Shizune...

"Kau terbangun lagi ya, Shizu-chan?"

"Ge-Gen-chan?"

"Hn. Dasar kau ini. Kau bisa masuk angin kalau terus-terus berdiri di depan balkon hanya dengan memakai gaun tidurmu saja. Ini, pakailah." ujar Genma sembari membungkus tubuh sang istri dengan sebuah mantel tidur yang lebih tebal.

"Maafkan aku, Genma."

Ada yang aneh dengan kata-kata Shizune saat itu dan hal tersebut bisa dirasakan oleh Genma. Saat sang istri mulai memanggilnya tanpa menggunakan embel-embel apapun, berarti ada suatu masalah yang mengganggu pikiran istrinya saat itu.

"Apa ada masalah lagi, Shizu? Bukannya tadi kau bilang, ideku tentang garis-garis merah kemarin berhasil dengan sukses kan? Lalu, apa yang membuatmu jadi tidak tenang lagi, Shizu?"

"Iya. Itu berhasil kok. Hanya saja—

Genma memeluk sang istri dari belakang. Hanya dengan memeluk sang istri, pasti segala hal yang menyusahkan sang istri bisa tertangani. Melihat Shizune yang sudah merasa agak nyaman, Genma kembali membisikkan sesuatu hal tepat di telinga sang istri—membuat Shizune sedikit merinding.

"Kalau masalah 'malaikat kecil' itu lagi, masih banyak waktu untuk melakukannya, Shizu-chan. Jadi, jangan khawatir ya."

"Bukan itu. Aku tahu kok, kita tidak boleh menyerah. Hanya saja... kali ini, aku jadi semakin khawatir dengan kelas yang aku asuh saat ini. Aku khawatir mereka tidak berubah menjadi apa yang aku harapkan..." kata Shizune dengan nada lemas sembari mengeratkan lingkaran lengan Genma di sekitar abdomen-nya.

"Hei, kau tahu tidak. Seorang guru itu tak pernah berharap agar anak-anak yang diasuhnya berubah menjadi seperti apa yang diinginkannya. Seorang guru hanyalah media untuk anak-anak itu bisa tumbuh menjadi apa yang mereka inginkan dengan cara yang benar. Itu adalah tugasmu yang sebenarnya, Shizu-chan. Bukannya ayah juga mengatakan hal yang sama waktu itu, hm?" jawab Genma sambil meletakkan dagunya di atas pundak Shizune.

"Ng, ya. Kurasa kau benar. Maaf. Aku hanya terlalu banyak berpikir."

"Yakinkan dalam hatimu kalau semua ini bisa kau lalui dengan baik, Shizu-chan. Aku percaya akan hal itu. Jadi, kau juga harus percaya ya." ujar Genma dengan suaranya yang lembut.

"Ngg. Ya. Arigatou ne, Gen-chan."

"Iya, iya." jawab Genma, yang diakhiri dengan satu kecupan di cuping telinga Shizune. Rona merah dengan cepat menjalar mulai dari tempat kejadian perkara hingga ke seluruh permukaan wajahnya. "Hei Shizu-chan. Kau masih ingat kan dengan satu kata yang aku ucapkan saat pesta kelulusanmu beberapa tahun yang lalu? Kau masih ingat tidak?" tanyanya dengan nada penuh tuntutan.

Shizune mengangguk pelan. Ia pun menyandarkan kepalanya di pundak Genma dan berusaha tuk menghirup aroma udara malam saat itu.

"Iya. Aku masih ingat kok." jawabnya lelah. Kedua matanya pun kini mulai tertutup sayu.

"Lalu... waktu itu, aku bilang apa, hm?"

"Hmm, kenapa tidak kau katakan sendiri, Gen-chan?" balas Shizune dengan senyum simpul.

"Dasar kau ini. Baiklah, baiklah. Aku bilang sekali lagi ya. Ehem! Ne, Shizu-chan, ai-shi-te-ru." ucap Genma sembari mengecup hangat ubun-ubun kepala Shizune. Shizune pun semakin mengeratkan pelukan sang suami yang semakin lama semakin melonggar itu.

"Aishiteru mo, Genma-senpai."

Malam itu, meskipun tak ada bulan dan hanya dihiasi dengan beberapa butir bintang saja, masih ada kehangatan lain yang akan menyinari dinginnya udara. Segala hal yang diresap oleh daratan basah berubah hangat kala mentari pagi mulai menggantikan gelapnya malam yang melahap semua bagian langit. Putih. Ya. Langit itu sama seperti selembar kertas kosong dan tak ternoda. Namun, berkat pantulan sang lautan ataupun mungkin refleksi dari spektrum cahaya yang bisa terjangkau oleh mata manusia, langit itu pun berubah biru dan menjadi terang dalam sekali pancaran...

"Aishiteru yo..."

~(ooOoOoo)~

"Ibu... Ibu baik-baik saja kan?"

Mata onyx itu menyelinap dan memandang ke sekeliling sebuah kamar kecil berukuran 4 x 5 meter itu. Tak ada satupun perabotan ataupun hiasan apapun yang bisa memberikan nuansa lain di kamar itu. Hanya cat putih polos dengan sedikit kerutan hitam di atas dasar warnanya. Langit-langit atap kamar yang terbuat dari plavon putih biasa itu juga memperlihatkan kondisi yang sama. Sedikit kerutan hitam dan noda besar berwarna keabuan menjadi tanda sudah beberapa kali kamar itu harus menjadi korban kekejaman air hujan yang terkadang turun membasahi daratan distrik tiga.

Mata itu juga menelusup ke sekitar ranjang yang sudah begitu peyot. Tatapannya berubah sedih. Ia mendekati sosok yang kini terbaring lemas di atas ranjang itu. Ia semakin mendekat dan mendekat, lalu melihat ke arah seorang wanita paruh baya yang tengah tertidur pulas. Posisi tidur wanita itu terlihat menelungkup ke arah kiri, seakan tengah memandangi dinding yang tepat berada di depan wajah sosok itu.

Sekali lagi, ia teringat dengan memori lama yang bergerak terus-menerus di dalam kepalanya itu bak sebuah lentera yang diterbangkan oleh angin masa lalu.

"Itachi... Itachi..."

Nama itu terus saja disebut oleh sosok wanita itu dalam tidurnya. Dan selama itu pula, rasa sesak seakan menjalar di paru-paru pemilik mata onyx itu. Ia tak tahu harus bagaimana lagi demi menyembuhkan kondisi psikis sang ibu yang semakin lama semakin memburuk.

"Kenapa kau melakukan hal ini pada ibu, Itachi-nii? Kenapa?"

Pertanyaan itu seakan menjadi keputusasaan terbesar yang melingkupi diri pemuda itu. Apa yang bisa ia rasakan saat ini hanyalah kehampaan semu yang terpendam dalam kegelapan hatinya. Terkadang, ia ingin sekali bisa kembali ke masa lalu, kemudian mengubah masa lalu itu. Tapi, ia tetaplah seorang manusia biasa dengan berbagai rahasia yang terus disimpannya dan tak ada yang mengetahuinya selain ia, anggota geng-nya dan juga sang ayah. Bila kekuatan tuk mengubah masa lalu bisa didapatkan dengan cara apapun juga, ia akan mendapatkannya meski harus mengorbankan jiwanya. Hanya demi sang ibunda yang masih mengalami tekanan psikis saat melihat persamaan wajah sang adik dengan sang kakak.

"Itachi... Itachi... Jangan ke tempat itu, nak. Jangan... Jangan tinggalkan ibumu ini. Dan juga adikmu..."

Tik, tik, tik.

Airmata itu turun dan membasahi lantai kayu kamar sempit itu, melalui selusur wajah tampannya dan jatuh bak tetesan hujan. Jelas air itu bukanlah air hujan. Air itu adalah hasil dari semua kesedihan yang kian menumpuk di hati sang pangeran terbuang ini. Dan kali ini... tetes-tetes airmata itu adalah tetesan airmata pertama yang berhasil dikeluarkannya semenjak hari terakhir ia mendapatkan luka torehan di wajahnya oleh lemparan gelas sang ibu padanya.

Tatapannya masih kosong dan hampa. Meskipun airmata itu turun begitu saja dari sudut-sudut matanya obsidiannya, tak ada satupun emosi yang bisa terlihat dari wajahnya itu. Tak ada. Seakan-akan ia tengah menatap ke arah bola dunia yang terus berputar dan mampu membuatnya terdiam.

Ia menghapus airmata yang telah memenuhi garis imajiner panjang yang dimulai dari ekor matanya dan berakhir di ujung tulang rahangnya. Ia kemudian mendekati sang ibunda dan menarik selimutnya yang nyaris tidak lagi menutupi tubuh kurusnya. Diletakkannya selimut itu hingga rasa hangat mulai menjalar di tubuh sang ibunda. Sesekali ia melirik ke arah wajah sang ibunda yang begitu tirus. Entah sudah berapa malam ia habiskan hanya untuk meneriakkan nama putra sulungnya. Dan di malam-malam itu pula, pemuda ini akan terus berjaga. Jika tidak, maka sang ibunda mungkin akan mengakhiri hidupnya di saat itu juga.

Ia melirik ke arah sebuah buku yang telah dibacanya habis hanya dalam waktu empat jam saja. A Secret of Apache Tribes dan Love for The Holocaust Victim. Sudah dua buku yang berhasil ia selesaikan dalam minggu ini. Ms. S sepertinya mengetahui hal yang disukai pemuda itu. Meskipun di sekolah maupun di kelas, ia tampak malas menyentuh buku-buku pelajaran yang semuanya hanya berisi dengan teks saja, sebenarnya seorang Uchiha Sasuke adalah pemuda tanggung yang sangat suka membaca. Menurutnya, ia bisa melihat sebuah dunia yang berbeda melalui buku-buku itu dan hal itulah yang menjadi alasan mengapa ia menyukai buku.

Sebuah bel listrik berbunyi di flat kecil yang disewa oleh pemuda itu. Ia melangkah menuju pintu dan memutar kuncinya. Tak perlu baginya tuk mengintip ke arah bulatan kaca kecil yang tertempel di bagian tengah atas pintunya sebab ia sudah bisa memerkirakan tersangka utama yang menekan tombol bel flat-nya itu.

"Ng, kon-konbanwa Sasuke-kun. A-apakah kau sedang sibuk sekarang?"

Karin. Gadis berambut merah menyala dengan kacamata tebal yang membingkai dua buah matanya yang sering berkedip-kedip malu saat menatap lurus ke arah pemuda bernama Sasuke itu. Itulah tersangka utama yang kini berbicara padanya.

"Ibuku sudah tertidur tapi aku harus tetap menjaganya. Kapanpun ia bisa histeris lagi."

"Be-begitu ya? Sebenarnya, ada yang—ngg..."

"Kenapa Karin?" tanya Sasuke sedikit menaikkan alisnya sebelah saat kepala Karin seakan ingin memberikan suatu tanda pada Sasuke. Sasuke mengikuti arah pandang Karin saat itu dan menelengkan kepalanya ke kiri. Pemuda itu bisa mendapati tiga lelaki tengah berdiri dengan gaya aneh di tangga gedung flat itu.

"Ngg... sebenarnya, Suigetsu-kun, Juugo-san, dan Kabuto-san yang memintaku tuk membujukmu ikut dalam penyerangan kali ini. Tapi..."

Sasuke menggunakan sebelah tangannya tuk meminta Karin menyingkir dari hadapannya. Karin pun bergerak ke samping, memberikan ruang bagi Sasuke tuk berjalan keluar dari pintu flat-nya dan menemui ketiga lelaki yang sudah menungguinya.

"Hoi Sasuke! Sudah sebulan ya kita tidak melakukan pengejaran lagi? Kenapa wajahmu jadi pucat begitu sih? Mirip seperti kepiting rebus, kau tahu itu? Hahaha..." ungkap salah satu dari ketiga lelaki yang wajahnya agak mirip seperti ikan hiu.

"Jangan katakan hal itu seakan-akan kau juga tidak pernah berwajah pucat seperti itu, Suigetsu." balas yang lainnya, yaitu seorang pria berkacamata bundar dengan kuciran kecil di rambutnya.

"Mau apa kalian ke sini? Sudah kukatakan aku sedang istirahat dari penyerangan untuk dua bulan. Kondisi ibuku semakin memburuk akhir-akhir ini dan kuputuskan untuk tetap berada di flat dan bekerja di bengkel milik pria tua bernama Sakumo Hatake itu. Hh, kalian tak tahu ya? Polisi semakin aktif melakukan pengejaran balasan akhir-akhir ini. Ya, tentu saja. Polisi-polisi itu sudah mencium gerak-gerik kalian akhir-akhir ini." jawab Sasuke dengan senyum sinisnya. "Makanya, aku juga tak ingin mengambil resiko yang besar."

Pemuda berwajah mirip ikan hiu itu memutar-mutar kepalanya, berusaha mencari pembelaan atas pernyataan Sasuke padanya dan juga yang lainnya. Akan tetapi, dua pemuda yang lainnya seakan tidak memerhatikan aktivitasnya itu.

"Kurasa perhitunganmu memang sangat tepat, Sasuke. Tapi... sekarang kau butuh uang kan?" tanya pemuda berkacamata itu sembari mengangkat kacamatanya dari bagian sinus-nya.

"Uang? Kurasa tidak. Kau tidak tahu kan terkadang aku juga bergerak sendiri. Dan terkadang, kakekku sedikit membantu secara diam-diam." jawab Sasuke sambil melipat lengan di dadanya.

Pemuda bernama Kabuto itu menaikkan salah satu ujung bibirnya dan mengeluarkan seringai aneh di wajahnya. "Oh, maksudmu Uchiha Madara-sama ya? Ckck, tak kusangka kau masih saja tak bisa lepas dari kakek yang sangat kau sayangi itu ya? Hahh... bukannya sudah bagus kami masih mau menerimamu sebagai anggota di geng ini meski dengan statusmu yang sekarang ini ne, Uchiha Sasuke-sama?"

"U-Uchiha Sasuke-sama?! Apanya yang –sama? Dia itu tak ada bedanya dengan kita, Kabuto-san!" seru Suigetsu sembari menunjuk-nunjuk wajah tanpa emosi Sasuke. "La-lagipula! Kontribusinya bagi geng kita tidaklah sebanyak dengan apa yang telah kulakukan selama ini demi geng!"

"Hentikan Suigetsu!"

Pria lain yang terlihat lebih tinggi dan berlengan agak kekar akhirnya mengeluarkan suaranya. Ia terus saja terdiam dari tadi dan kini giliran ia berbicara. Kabuto pun mempersilakan pria berambut merah jabrik itu untuk menenangkan Suigetsu yang mulai terbakar emosi.

"Bisakah kau diam sedikit, Suigetsu? Aku tahu kau juga telah melakukan banyak hal demi geng kita. Tetapi, tetap saja kita harus menghormati Uchiha Madara-sama yang banyak membantu geng kita selama ini meskipun beliau melakukannya secara diam-diam. Itu seua dilakukan oleh beliau agar klan Uchiha tak mengetahuinya." jelas Juugo—mampu membuat Suigetsu berdecak kesal dan mengalihkan wajahnya menjauh dari wajah Sasuke. "Dan kau juga, Sasuke-san. Kuharap kau mengerti dengan kondisi kita sekarang. Menurutku, Uchiha Madara-sama juga tak menginginkan adanya perpecahan dari geng yang dibentuknya dengan tujuan untuk menya—"

"Tak perlu sampai kau sebutkan akan tujuan geng ini, Juugo. Aku sudah paham itu." potong Sasuke. "Lalu, mau kalian apa?"

Bayangan hitam yang terlihat seperti memakan seluruh bagian wajah dari pria berkacamata itu sedikit tersinari oleh sorot lampu koridor flat itu. Ia melangkah maju ke arah Sasuke. Dengan senyum aneh yang terhias di wajahnya itu, ia menatap lekat-lekat ke dalam mata onyx milik Uchiha yang terbuang itu.

"Singkat saja, Sasuke."

"Hn?"

"Kami—kami butuh darahmu..."

~(ooOoOoo)~

Sakura.

Api. Merah. Darah. Tangis. Dan teriakan amarah.

Semuanya terlihat begitu nyata di dalam mimpiku malam ini. Setelah menyelesaikan bab ke-sepuluh dari buku pemberian Ms. S yang kedua itu, dengan cepat, aku bisa tertidur lelap di atas sofa ruang keluarga rumahku.

Love for The Holocaust Victim adalah buku yang kuharap bisa kuselesaikan malam ini. Baru saja aku membaca di bagian saat gadis bernama Anne itu melarikan diri dari kejaran bariton prajurit bengis dan seorang gadis kecil lainnya yang kemudian menyelamatkan hidup Anne. Entah kenapa, kisah itu seakan mampu membawa diriku berada pada posisi gadis itu saat ini? Apakah perjuangan Anne dalam menentukan sesuatu yang ia katakan sebagai keadilan akan sama seperti diriku kelak? Aku yakin, gadis bernama Anne itu akan tetap hidup demi keadilan dan kebebasan yang terus dicarinya hingga saat ini.

Lagi-lagi pria itu mendatangi mimpiku. Bukannya ia sudah meninggalkanku begitu saja? Lalu, kenapa ia terus saja menghantui mimpi-mimpiku ini? Aku hanya ingin melewati malam ini dengan tidur yang nyenyak. Kalau saja Mum tidak mengelus-elus ubun-ubun kepalaku saat itu, mungkin saja aku tidak akan bisa tertidur hingga pagi.

Aku tak yakin kapan penyakit ini muncul pada tubuhku. Ya. Sebuah penyakit tak bisa tidur. Meskipun terdengar konyol tapi sungguh terasa sangat tidak enak. Aku merasa, semenjak kejadian di hari itu, aku menjadi gadis penderita insomnia berat. Dan hal itu sungguh mengganggu kesehatanku akhir-akhir ini. Dan juga, akan berakibat buruk dengan kecepatan lariku.

Dalam mimpi itu... tak hanya ia yang muncul. Tetapi juga... pemuda berambut spike yang bermata kelam itu.

Sosok pemuda itu seakan mem -prototype-kan sesosok karakter dalam buku yang tengah kubaca saat ini. Ya. Dia adalah Andrew Louie D'Lamanc. Seorang bangsawan Perancis yang nyaris menjadi korban holocaust di Jerman. Dengan sifat dinginnya, ia mampu menjatuhkan kekuasaan absurd pria berkumis tipis itu di salah satu barak penyiksaan. Ia pun lari hingga akhirnya ia bertemu dengan Anne di salah satu rumah besar milik seorang jenderal baik hati yang menampung semua korban selamat dari peristiwa holocaust itu. Bersama, mereka pun berusaha mengubah keotoritarian penguasan Jerman dengan cara mereka sendiri.

Tapi, ia tetaplah seorang pemuda berambut spike yang bermata hampa dan kelam. Dan juga, aku hanyalah seorang Haruno Sakura yang mampu berlari jauh dengan kecepatan bak kuda mustang. Itu menurut Gaara-nii.

Takkan ada yang berubah kecuali kami yang mengubahnya sendiri...

Sama seperti yang dikatakan oleh pria itu saat kencan konyol pertama kami.

Aku pun terbangun. Mata emerald-ku terbuka lebar dan berusaha tuk mengedarkan pandanganku itu ke segala arah. Denyut jantungku semakin bertambah kencang, begitu pula dengan aliran nafasku yang semakin cepat. Aku seakan terikat oleh tali keras yang mengelilingi tubuhku saat ini. Mimpi itulah yang selalu membuatku terbangun di tengah malam. Dan kurasa, aku butuh udara malam, hingga kuputuskan tuk keluar dari rumah tanpa sepengetahuan Mum demi sehela aroma udara malam yang menyejukkan.

Sweater tebal khas musim dingin pemberian Gaara-nii semakin kueratkan di sekitar tubuh kecilku. Angin tengah malam memang terasa begitu dingin. Jalan-jalan di seputar wilayah kami begitu sepi bak kota mati. Hanya ada lolongan anjing lapar di sudut-sudut gang tapi hal itu tidak membuatku takut sama sekali. Hanya satu hal yang bisa membuatku takut. Dan hal itu adalah mati dalam kesendirian.

Tak terasa aku sudah melangkahkan kakiku di perbatasan wilayah. Aku melihat sebuah tugu besar yang terbuat dari marmer putih menjadi batas tegas akan wilayah kami dengan komunitas lainnya. Tapi, aku tak peduli. Aku tetap melangkah menerobos wilayah lain yang bukan hak komunitasku. Di malam yang begitu sepi ini, aku hanya bisa terus berjalan hingga tubuhku sendiri yang meminta tuk berhenti.

Aku sampai di sebuah jalan sempit dengan ruko-ruko yang berdiri tegak di samping kanan-kirinya. Hanya sepi dan hening yang bisa terasa di jalan itu. Namun, indera pendengaranku takkan pernah lengah dalam menangkap suara sekecil apapun, meskipun itu adalah suara langkah-langkah kecil seekor tikus got. Dan kini, aku bisa mendapati beberapa langkah milik manusia terdengar melalui jalan sempit itu, entah sudah berapa meter dari jarak tempatku berdiri sekarang ini.

"Aku harus sembunyi. Kalau lari, mereka pasti bisa mendengar suara langkahku."

Dan aku pun bersembunyi di dalam lorong sempit yang sedikit memisahkan antara ruko yang satu dengan yang lainnya. Lama aku terdiam di tempat itu meskipun gelap semakin memakan bayanganku. Suara langkah itu semakin terdengar dan terdengar jelas—membuatku bersembunyi di sudut paling dalam dari lorong sempit itu.

Satu.

Dua.

Tiga.

Aku mulai berhitung akan kemungkinan kemunculan siapapun. Sinar lampu jalan yang remang membuat pantulan siluet bayangan panjang mulai terlihat dari arah pandangku. Meskipun samar-samar, aku masih bisa mendapati adanya bayangan panjang yang berjalan di jalan itu dan kurasa sosok itu tak sendiri melainkan ada sekitar dua, tiga atau empat orang. Dan kurasa, ada empat orang.

Mereka berjalan dalam sepi. Tak ada percakapan apapun. Sungguh bukan tipikal anggota gengster di distrik tiga. Ataukah jangan-jangan mereka adalah yakuza? Aneh. Yakuza hanya ada di distrik satu dan buat apa anggota yakuza distrik satu bermain-main di distrik yang bukan wilayah kekuasaan mereka? Lalu, mereka itu apa?

Aku semakin mengeratkan bagian leher sweater tebal yang kukenakan. Angin dingin yang berhembus itu sedikit membuatku menggigil. Aku ini memang bodoh sekali. Apa yang kulakukan di malam-malam begini hingga melewati wilayah komunitas lain? Tapi, saat aku mengutuk kebodohanku sendiri, entah kenapa, mataku seperti bisa menangkap sebuah pemandangan tak asing. Ya. Sangat tak asing dan sangat kukenal. Hanya dari bentuk rambut sosok itu, aku bisa tahu siapa dia. Mungkinkah sosok pemilik bayangan terakhir itu adalah—

"Sasuke?"

~(ooOoOoo)~

-TBC-

~(ooOoOoo)~


Author's Note :

Hmm. Untuk sebuah penjelasan kecil saja, mengenai dua judul buku yang tertulis dalam fic ini, sumpah itu semua cuma karangan saya aja. Kalaupun kebetulan ada yang sama judulnya maka itu tidak disengaja. Dan juga nama-nama yang bermunculan dalam buku itu cuma fiktif belaka. :p

Mm, aneh ya Karin di sini? Biasanya kan dia selalu menjadi karakter cewek agresif, tapi jadi penakut kayak Hinata gitu. Hahahaha... *digigit Manda-nya Orochin*. Mengenai hubungan geng-nya Sasuke dengan kakeknya itu... apa ya? Ngg...

Ah! Di sini Sasuke cukup menderita ya? Ha-ha-ha. Gara-gara baca naruto chapter 484, saya jadi pengen bunuh Sasukeee... , *dibantai Sasuke's fans*

Dan... oh iya! Sekedar informasi, ternyata, saya bisa menyelesaikan fic ini dalam waktu sehari saja. Hahaha... *dilempari panci*. Dan saya ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya buat mas Harry-Gregson-Williams. Berkat instrumen-instrumen 'penyejuk hati' yang diciptakan dan diaransemennya, fic ini berhasil saya tulis dengan alur yang mengalir begitu saja sampai-sampai gak jelas gitu akhirnya... XD

Yosh! A lot of thanks to : Ayui Nonomiya, Liya_anak_baik, Madame La Pluie, Furu-pyon, Michisige Asuka, Akabara Hikari, weniu, Mrs Shiranui, kiren-angel-lost, evey charen.

RnR lagi yaaa~~~ *dilemparin jeruk*