The Last Kiss

Chapter 2: Tragedi di Siang Bolong

Bleach masih punya om Tite Kubo

The Last Kiss punya aya

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena

Okkkkkk!! R&R ok!


The Last Kiss

.: Chapter Two .:

Tragedi di Siang Bolong

Mimpi-mimpi Ichigo terusik saat sinar matahari sudah menembus tirai jendelanya. Dia juga mendengar suara orang bercakap-cakap di ruang keluarga. Ada satu suara yang dia kenal sebagai suara Yuzu dan ada satu suara lagi yang dia kenal dengan suara..Rukia??? Ichigo bingung, untuk apa Rukia sepagi ini ada di rumanya? Tapi dia langsung berfikir, "Paling-paling membawakan kue", baru saja Ichigo memutuskan untuk meneruskan tidurnya, dia mendengar langkah kaki yang menaiki tangga menuju kamarnya. Ichigo langsung menuju pintu kamarnya, dan ternyata Ichigo lebih cepat dari orang yang berusaha masuk ke kamarnya sehingga dia bisa memblokir pintu agar tetap tertutup.

"Ichigo, buka donk! Aku ingin masuk!" ternyata orang yang berusaha masuk ke kamarnya adalah Rukia.

"Untuk apa kau ingin masuk ke kamarku?" sekarang Ichigo tahu apa alasan Rukia pagi-pagi sudah ada di rumahnya. Ternyata Rukia berusaha masuk ke kamarnya diam-diam selagi Ichigo tidur. "Kau ingin masuk diam-diam ya?! Kau kira aku masih tidur kan? Kan sudah ku bilang, kau tidak boleh masuk ke kamarku!"

"Memangnya kenapa? Kau kan sering masuk kamar ku! Kenapa aku tidak boleh masuk ke kamarmu! Ini tidak adil tau!!" ucap Rukia masih sambil terus mendorong pintu, berusaha agar pintu kamar Ichigo terbuka.

"Kalau aku bilang tidak ya tidak!!" Ichigo tidak mau kalah, dia masih mempertahankan agar pintu kamarnya tidak terbuka. Dengan satu hentakkan keras, dia berhasil menutup rapat pintu kamarmya diakhiri dengan suara orang menjerit.

"Aww..!" hanya itu yang diucapkan Rukia.

"Rukia..Rukia, kau tidak apa-apa kan?" Ichigo khawatir karena Rukia tidak menjawab apa-apa.

Setelah menunggu beberapa detik, Rukia masih tidak menjawab pertanyaan Ichigo. Ichigo khawatir dan langsung membuka pintu kamarnya dan dia kaget karena ternyata Rukia tidak apa-apa, malah tersenyum dan mencoba berusaha masuk ke dalam kamarnya. Ichigo langsung menutup pintu kamarnya. Rukia sendiri masih terus berusaha membukanya. Setelah terjadi dorong mendorong yang sengit, akhirnya Ichigo berhasil menutup rapat pintu kamarnya lalu menguncinya.

"Rukia, kau benar-benar keterlaluan ya!!? Aku sudah takut terjadi apa-apa padamu, tapi ternyata kau malah pura-pura supaya bisa masuk ke kamar ku!"

"Tapi kan aku hanya ingin masuk ke kamar mu!"

"Kau benar-banar egois!! Aku selalu menuruti semua kemauan mu, apapun itu. Tapi kenapa kau tidak bisa sekali saja menuruti permintaan ku!!" Ichigo berusaha mengatur nafas sebelum melanjutkan, "Aku hanya minta supaya kau tidak masuk ke kamar ku! Hanya itu!!" hening….

"Aku memang egois. Aku minta maaf Ichigo, kalau selama ini aku sudah menyusahkan mu!" ucap Rukia. Ichgo bisa mendengar suara langkah orang menuruni tangga. Ichigo sekarang jadi merasa bersalah dengan apa yang sudah ia katakan. Setelah merasa yakin bahwa Rukia sudah ada di ruang tamu, Ichigo langsung menyusulnya. Dia melompati dua anak tangga sekaligus.

"Rukia, tunggu!" ucapnya setelah berhasil mengejar Rukia, walaupun sebenarnya tidak usah dikejar karena Rukia tidak berlari.

"Ada apa?" nadanya yang memelaslah yang paling membuat Ichigo tidak tahan.

"Mmm.. aku minta maaf kalau kata-kata ku terlalu kasar!" ucap Ichigo.

"Tidak apa-apa!" jawab Rukia.

"Kalau begitu, kau mau kan aku belikan es krim?" ucap Ichigo berusaha membaik-baiki Rukia.

"Mau!!" ucap Rukia sambil tersenyum. Mereka berdua lalu berjalan beriringan menuju mini market yang terletak di ujung gang. Lagi-lagi Ichigo menikmati suasana ini. Suasana dimana hanya ada dia dan Rukia, dimana mereka berjalan berdua tanpa ada yang mengganggu. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, akhirnya mereka tiba di mini market "Sherry". Setelah membayar dua buah es krim yang diambilnya, Ichigo keluar dari minimarket, Rukia sudah menunggu di luar.

Mereka menikmati es krim saat perjalanan pulang. Sesekali Ichigo melirik Rukia, dan entah kenapa ide itu muncul begitu saja. Minggu yang cerah, apakah baik jika ia mengungkapkan perasaannya pada Rukia? Apalagi suasana sekarang ini sangat menyenangkan, mungkin itu bisa menjadi efek yang menguntungkan. Ichigo bingung harus mulai pembicaraan apa. Ichigo juga ragu bagaimana reaksi Rukia. Ah, tapi yang ada di otak Ichigo saat ini hanyalah bagaimana cara dia mengungkapkan perasaannya pada Rukia.

Setelah pergulatan batin yang sengit di hati Ichigo, akhirnya dia mantap untuk menguatkan tekadnya mengungkapkan perasaanya pada Rukia. Satu detik, dua detik Ichigo menatap Rukia, sebelum meneruskan niatnya.

"Rukia, aku ingin bicara sesuatu padamu!" ucap Ichigo seraya menghentikan langkahnya.

"Ingin membicarakan apa? Kau ini, seperti dengan siapa saja!" Rukia ikut menghentikan langkahnya. Ichigo bingung apa yang harus dia katakana? To the point atau… ah, Rukia tidak suka basa-basi.

"Mmm.. aku, aku suka padamu Rukia!"

"Aku ingin kau menjadi pacarku!" Ichigo buru-buru menambahkan karena dia tau Rukia akan berkata seperti ini, "Terus mau mu apa?" jadi ia langsung memberikan pertanyaan itu. Dan sekarang Ichigo yakin betapa bodohnya suasana saat ini. Rukia masih diam seribu bahasa, mungkin mengalahkan Orihime karena tidak bergerak sedikit pun.

"Aku, aku juga suka padamu, Ichigo," ucap Rukia. Rukia melihat sinar kepuasan di wajah Ichigo, tapi itu tidak berlangsung lama. "Tapi, aku tidak bisa menjadi pacarmu!" lanjut Rukia. Rukia tidak sanggup meneruskan kata-katanya karena dia tidak tahan melihat ekspresi wajah Ichigo.

Ichigo merasa sesuatu yang tadinya membuat hatinya senang tiba-tiba menjadi hancur bagai dihantam oleh palu yang tak terlihat. Organ-organ tubuhnya seakan-akan lenyap begitu saja dari tempatnya sehingga tak sanggup membuatnya berdiri.

"Tapi kenapa, kenapa Rukia? Kau bilang tadi kau manyukai ku! Tapi kenapa kau tidak bisa menjadi pacarku! Apa alasannya Rukia?! Beritahu aku!" paksa Ichigo sambil mengguncang-guncangkan bahu Rukia.

"Aku tidak bisa, Ichigo. Aku tidak bisa memberitahukan alasannya padamu, maafkan aku Ichigo," Rukia berusaha tidak memandang Ichigo saat berbicara.

"Kau bilang, kau menyukaiku. Kenapa kita tidak bisa mencobanya, Rukia? Kita coba dulu! Kita pasti bisa!",ucap Ichigo sambil masih terus mengguncang-guncangkan bahu Rukia. Terlihat bahwa emosi Ichigo meluap-luap. Untungnya tidak ada orang di jalan itu.

"Aku bilang tidak bisa, ya tidak bisa! Aku tidak bisa mengatakan alasannya! Dan jangan paksa aku untuk mengatakan alasannya!" Rukia mulai mengeluarkan air mata, ini terlihat dari butiran-butiran air mata yang jatuh di pipinya.

"Oh.. atau mungkin, ada cowok lain yang kau suka?! Iya kan??!" sekarang emosi Ichigo semakin menjadi-jadi. Dia terus saja memaksa Rukia.

"Ya!!! Aku memang menyukia cowok lain!! Cowok yang ku sukai bukan kau!! Dan aku tidak akan bisa jadian sama cowok itu. Puas!!" Rukia sekarang benar-benar menangis. Tapi Ichigo melihat bahwa tangisan Micca bukan karena marah atau benci, melainkan tangisan sedih, kecewa, dan pasrah. Ichigo lalu berbalik dan meninggalkan Rukia sendirian. Baru dua langkah Ichigo bergerak, tiba-tiba.

Brukk.. suara orang jatuh terdengar di belakang Ichigo.

Ichigo langsung membalikkan badannya. Dan terlihat di depannya, sosok Rukia terbaring di jalan, diam tak bergerak bagai patung. Ichigo langsung mengampirinya. Ichigo bingung apa yang harus dia lakukan. Tidak ada orang di jalan itu, hanya ada dia dan Rukia yang sekarang sedang terbaring di jalan. Ichigo langsung jongkok di sebelah tubuh Rukia. Dia bisa mendengar suara detak jantung Rukia yang terengah-engah. Hanya satu ide yang muncul tiba-tiba di otaknya. Sangat sederhana, dan Ichigo juga bingung, kenapa baru terpikirkan sekarang.

Dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia. Perlahan-lahan dia mendekatkan bibirnya ke tempat dimana bibir Rukia terletak. Pelan tapi pasti dia mendaratkan bibirnya ke bibir Rukia. Satu hembusan, dua hembusan, tiga hembusan nafasnya, Rukia mulai sadarkan diri. Ichigo mulai menjauhkan bibirnya ketika dia yakin kalau Rukia sudah membuka matanya dengan sadar.

"Kau tidak apa-apa kan, Rukia?" tanya Ichigo khawatir.

"Tidak, aku tidak apa-apa," Rukia masih terlihat pucat walaupun sekarang sudah mulai membaik. "Ichigo, kau mau apa?" tanya Rukia saat melihat Ichigo mengalungkan tangannya ke tubuh Rukia.

"Sudah, kau diam saja," ucap Ichigo. Ichigo tidak mempedulikan kekhawatiran di wajah Rukia. Dia tetap mengalungkan tangannya ke tubuh Rukia. Dia mulai mengangkat tubuh Rukia dan berjalan pulang.

"Ichigo, rumah kan masih jauh!" ucap Rukia.

"Tenang saja! Aku kuat. Apalagi kan badanmu kecil dan pendek. Hehe.." Ichigo tetap menggendong Rukia.

"Apa kau bilang! Aku tidak pendek!" ucap Rukia sambil menjitak kepala Ichigo. Ichigo tersenyum melihat Rukia. Rukia pun menjadi blush melihat senyuman Ichigo.

Akhirnya satu belokan lagi Ichigo sampai di rumah Rukia. Ichigo langsung membuka pagar dengan kakinya, kebetulan pagarnya tidak dikunci. Ichigo mendudukkan Rukia di kursi yang ada di teras rumahnya. Dia lalu memncet bel. Byakuya, kakak Rukia langsung membukakan pintu.

To be continue

Maaf.. Maaf kalau ceritanya jadi gaje..

Ay benar-benar sibuk akhir-akhir ini dengan tugas yang menggunung. Padahal baru masuk. Hiks..hiks..

Terima kasih sebesar-besarnya untuk

Haru N Kawaii chan Luph Byakun

Sevachi 'Ryuuki J'

tripleA-7sins

Kuchiki Rukia-taichou

Ichikawa Ami

Zizi Kirahira Hibiki

Kuroneko Hime-un

Aizawa Ayumu

Squarepants abarai

Hinazuka Airin

Sora Chand

The Great Kon-sama

liekichi chan

Ichirukiluna gituloh

Meong

Ripiu dari kalian semua benar-benar membuat ay lebih semangat meneruskan fic ini.

Sekarang, ripiu lagi ya..*puppy eyes*

Arigato