Chapter 2 : The Painted Lady

2 tahun telah berlalu sejak Katara akhirnya tiba di Jang Hui. Setiap hari ia bangun pagi-pagi untuk memasak makanan bagi kakak dan ayahnya. Dan saat kakak dan ayahnya pergi mencari ikan, ia tidur di rumah hingga sore hari. Setelah itu ia terbangun untuk memasak makan malam.

Pada malam hari, pukul 12, ia berpura-pura tidur dan menyelinap keluar kamarnya, lari ke bukit, menuju sebuah goa. Di goa tersebut terdapat ruangan, terdapat sebuah cermin dan perkakas dandan. Kemudian Katara mendandani dirinya seperti legenda di desa itu, sebagai Painted Lady.

Setelah itu, Katara berkeliling desa untuk menyembuhkan orang-orang sakit yang bisa ia sembuhkan secara diam-diam. Biasanya sampai pukul 3 dini hari. Tapi apabila tidak ada yang butuh penyembuhan hari itu, Katara pergi ke tepian sungai dan membersihkan sungai dari kotoran dengan menggunakan kemampuan Water Bendingnya.

Setelah pukul 3 dini hari, ia kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya.

Ada alasan kenapa Katara mau repot-repot menyamar. Pertama, ia tahu kalau orang-orang mengetahui kemampuan penyembuhannya, maka mereka akan terus datang ke tempatnya dan membuatnya repot sendiri. Kedua, ia tidak mungkin memamerkan kekuatan Water Bendingnya di hadapan umum. Ketiga, ia lebih suka bekerja diam-diam untuk membuktikan bahwa ia tulus melakukan tindakan baiknya, tanpa mengharapkan ketenaran atau nama baik dengan memanfaatkan kemampuan Water Bendingnya.

Selama 2 tahun, ia terus melakukan itu. Kabar mengenai Painted Lady sempat menghangat dikalangan masyarakat desa. Rupanya ada yang memergoki Painted Lady sedang "menari" atau "berdansa" dengan air di tepi sungai. Air sungai menjadi bersih sementara waktu, namun kembali kotor pada siang harinya, karena pabrik kembali beroperasi.

Dan ada juga yang memergoki Painted Lady sedang menjamah seorang warga yang sakit, di kemudian hari, warga itu sembuh. Semua orang menghormati Painted Lady, akan tetapi Sokka mentertawakannya. "Dia bodoh juga. Buat apa dia membersihkan air setiap hari kalau pada siang harinya dikotori pabrik lagi? Kalau aku jadi dia, aku akan menghampiri pabrik itu dan menghancurkannya."

Dengan demikian, malam itu Katara menyusup ke dalam pabrik dan menghancurkan mesin-mesinnya dengan kemampuan Water Bendingnya. Pabrik itu memang sempat tidak berfungsi selama satu minggu. Namun setelah itu, sekelompok penjaga mendatangi desa tersebut dan membuat onar. Mereka adalah sekelompok Fire Bender dan mereka membakar sebuah rumah milik seorang warga sebagai peringatan bagi warga tersebut agar tidak macam-macam lagi dengan mereka.

Katara awalnya kesal dan ingin menghajar para penjaga pabrik itu agar mereka bungkam. Sempat ia mendatangi mereka para penjaga malam dalam bentuk Painted Lady. Akan tetapi para Fire Bender itu terlalu banyak untuknya. Painted Lady beruntung bisa lolos dari kejaran mereka. Dan setelah itu, dalam waktu beberapa minggu lamanya, Painted Lady menjadi buronan. Namun tidak lama mereka pun melupakannya, setelah Katara berhenti menyamar menjadi Painted Lady.

Para warga menjadi sedih dan kehilangan Painted Lady. Mereka berharap Painted Lady tidak dibunuh. Dan mereka merindukannya. Karena itu Katara tetap melanjutkan perannya sebagai Painted Lady, namun ia tidak berani lagi mendatangi pabrik tersebut.

Pada suatu malam, saat Painted Lady sedang membersihkan sungai, ia menemukan seorang anak kecil sedang pingsan di tepi sungai. Anak kecil itu kurus dan memiliki kaki yang kecil. Ia juga berkepala botak dan memiliki panah berwarna biru keabuan pada kepala, kedua tangan dan kedua kakinya. Painted Lady pun tertarik dan menghampiri anak kecil itu. Lalu setelah mengetahui anak itu masih hidup, Painted Lady menolongnya mengeluarkan air dari paru-parunya hingga ia kembali sadar.

Begitu tersadar, anak kecil itu langsung berterima kasih. "Kau … telah menolongku. Terima kasih banyak."

Painted Lady hanya tersenyum dan kemudian berlari pergi meninggalkan anak kecil itu.

Bocah itu adalah Aang, seorang avatar dari Penggembara Angin yang melarikan diri dari tempat tinggalnya karena takut terlibat dalam perang sipil. Aang sangat penasaran pada perempuan yang menolongnya malam itu. Ia menunggu pagi tiba dan mendatangi desa Jang Hui dan mengumpulkan informasi mengenai perempuan misterius yang semalam menyelamatkan nyawanya.

"Dia pasti Painted Lady!" kata seorang pedagang ikan di pasar.

"Siapa dia?"

"Dia suka menolong warga desa. Ia juga membersihkan air sungai yang tercemar. Ia sangat baik. Tapi tidak ada seorangpun yang mengenalnya. Apakah ia manusia atau arwah, kami juga tidak tahu." Kata pedagang itu.

Kebetulan Katara sedang berada di dekatnya dan mendengar obrolan mereka. Tadinya ia diam saja. Tapi setelah pedagang itu berkata "Menurutku dia hanya setan kurang kerjaan yang hanya iseng ingin mencari simpati bagi warga desa. Dia pasti akan memakan warga satu persatu setelah kami semua percaya penuh padanya."

Katara merasa tersinggung dan berkata dengan sedikit tajam "Hei, kupikir dia bukan setan. Dia pasti orang baik dan berniat untuk menolong kalian semua tanpa pamrih!"

Namun pedagang itu sok pintar. "Ah, kau pasti salah satu dari sekian orang yang telah termakan oleh Painted Lady. Ha ha ha.."

"Kau bicara seakan dia hendak berniat buruk bagi kalian." Kata Katara dengan sedikit kesal.

"Oh tidak, Painted Lady pasti orang baik yang dikirimkan surga untuk membantu kita semua, bukan? Kalau dia memang berniat baik, ia pasti mau merampok harta di pabrik itu dan memberikannya pada warga sebagai ganti rugi." Kata pedagang itu.

"Kata siapa? Jangan sembarangan menuduh ya!" hardik Katara dengan galak.

"Hei, memangnya kau ini siapa? Apa kau pernah ketemu dengannya? Aku kasihan padamu, berhasil dipengaruhi orang gila dan aneh itu." kata pedagang itu dengan nada mengejek.

Katara tidak jadi belanja di tempatnya. Ia pulang sambil marah-marah. Ia menyadari Aang masih mengikutinya dan membentaknya. "Mau apa kau? Mengejek Painted Lady lagi?"

Aang terkejut dan menggeleng "Tidak, tidak. Aku hanya ingin bertanya padamu mengenai Painted Lady. Ia menyelamatkan nyawaku semalam. Dan aku ingin bertemu dengannya untuk berterima kasih."

Katara melunak melihat wajah polos Aang. "Ow, bagus sekali niatmu. Tapi tidak pernah ada yang melihat Painted Lady dari dekat. Bahkan berbicara dengannya. Sebaiknya kau lupakan saja. Anggap saja dia sudah menerima ucapan terima kasihmu."

"Tapi aku ingin bertemu dengannya lagi. Dan kurasa kau cukup mengenal Painted Lady. Apakah kau tahu sesuatu tentangnya?" tanya Aang.

Katara berkeringat dingin. "Oh, tentu saja tidak. Kan sudah kubilang tadi, tidak pernah ada yang mengaku pernah berbicara dengannya."

"Kalau begitu, berarti aku yang pertama kali melihat wajahnya sedekat itu?" tanya Aang. "Setelah kuingat-ingat kembali, wajahnya tidak jelek … aku yakin ia adalah manusia! Dan ia pasti …"

Katara buru-buru mengalihkan percakapan Aang, atau ia akan semakin menemukan petunjuk sendiri mengenai Painted Lady. "Maukah kau makan siang di rumahku? Siang hari aku sendirian di rumah. Akan menyenangkan kalau ada yang menemaniku makan siang sambil mengobrol."

"…Baiklah.." kata Aang.

Selama makan siang, Katara tidak membiarkan Aang membicarakan mengenai Painted Lady. Sebaliknya, Katara menanyakan bagaimana Aang bisa sampai di Jang Hui, padahal desa itu benar-benar terpencil bahkan tidak terdaftar dalam peta Negara Api milik pangeran Zuko sekalipun.

"Hmm .. namaku Aang. Aku adalah seorang Air Bender dari suku penggembara Angin. Sesungguhnya, aku seorang avatar." Kata Aang.

Ok, bagus. Setelah aku menemukan bahwa kakekku adalah orang penting di Suku Air Utara, aku dirampok penjagaku sendiri, kemudian makan ditraktir dan berjalan dengan dua orang pangeran Negara Api, bahkan bertemu dengan putra mahkota kerajaan Api, Iroh,mencium Pangeran Negara Api, kini aku makan siang dengan seorang Avatar …

Katara merasa pusing dengan takdirnya. Ia tersenyum sendiri sambil bertopang dagu. "Wow.. kau seorang Avatar rupanya. Apa yang kau lakukan di sini? Sedang berjalan-jalan?"

Aang melanjutkan ceritanya. "Di tempat aku lahir sedang terjadi perang saudara. Maka dari itu, mereka memberitahuku lebih cepat 4 tahun dari yang seharusnya bahwa aku seorang Avatar. Tak lama kemudian kuil udara tempat aku lahir diserang dan aku pun diadopsi keluarga kepala suku penggembara. Tapi berbagai pembunuhan terjadi, seakan mereka sedang memperebutkan aku. Aku merasa seperti piala bergilir…."

"Ya ampun…"

"Karena itulah .." Aang mengeluh. "Aku lari ke Negara Api dan berkelana. Tapi di tengah jalan aku kelaparan dan uangku dicuri orang. Aku terpaksa mencuri makanan. Tapi aku kurang pandai mencuri. Mereka memergoki aku dan aku kabur. Setelah itu aku berhasil lolos dari kejaran mereka karena bersembunyi di gorong-gorong.

Aku memutuskan untuk mengikuti alur selokan tersebut. Kemanapun jalan keluarnya, aku sudah pasrah. Tapi tanpa kuduga… aku keluar di sebuah tempat yang sangat sepi. Seperti ruangan bawah tanah. Dan setelah berjalan beberapa jauh, aku mulai mendapati ada beberapa ruangan.

Iseng, aku pun membuka ruangan itu satu persatu. Tanpa sengaja, aku memergoki dua orang lelaki sedang bermesraan."

Katara tersedak. Ia buru-buru minum dan memuntahkan apa yang menyangut di tenggorokkannya. Setelah tenang, ia berseru. "Kau memergoki pasangan gay?!"

"Lebih buruk dari itu.." lanjut Aang. "Pasangan gay itu ternyata adalah Fire Lord Ozai! Ia sangat marah begitu melihatku memergokinya dan mengejar-ngejar aku seperti setan yang menyemburkan api dengan ganasnya.

Tapi aku lagi-lagi berhasil melarikan diri. Rupanya selokan itu membawaku ke ruang bawah tanah istana. Setelah berhasil kabur, aku bersembunyi beberapa hari di bangunan kosong yang terbengkalai. Baru setelah suasana menjadi tenang, aku memberanikan diri untuk keluar dari tempat persembunyianku.

Tapi ternyata .. Fire Lord Ozai sedemikan nafsunya untuk menangkapku. Ia sudah menyebarkan poster untuk menangkapku. Untunglah wajahnya tidak mirip, tapi anak panah ini adalah pertanda khas dariku, dan gara-gara ini, sekelompok bounty hunter pun mulai mengejar-ngejar aku.

Aku tidak bisa makan atau tidur dengan tenang, mengingat betapa besarnya reward yang akan diberikan bagi yang berhasil menangkapku atau mayatku. Akhirnya ada seorang bounty hunter yang sangat hebat. Ia dan anakbuahnya mengejar aku sampai ke sini. Akhirnya mereka menyambarku dengan petir dan aku pun terjatuh ke dasar jurang.

Begitu sadar, Painted Lady ada di hadapanku. Aku yakin aku takkan hidup apabila tidak ada Painted Lady."

Katara terpingkal-pingkal mendengar petualangan Aang sampai ke desanya. Kemudian ia berkata "Aku tidak menyangka kalau ternyata ayah Zuko seperti itu."

"Zuko?" tanya Aang.

"Tidak apa-apa. Lupakan." Kata Katara dengan cepat.

Tak lama setelah itu, Hakoda dan Sokka pun pulang. Mereka rupanya sedang bergembira hari itu. Tangkapan mereka sangat banyak dan mereka membawa beberapa pulang untuk dimasak. Karena itulah Hakoda dan Sokka menyambut Aang dengan gembira. Ditambah lagi Aang yang supel dan periang, setelah mengetahui alasan kenapa Aang ada di Jang Hui, Hakoda dan Sokka pun menerima Aang tinggal di rumahnya. Namun Aang hanya menceritakan mengenai rahasia besar Fire Lord itu kepada Katara. Sejak itu Aang tinggal bersama keluarga Katara.