Chapter 3 : The Blue Spirit

Sekitar 3 atau 4 hari setelah Aang tinggal bersama keluarga Hakoda, Katara terpaksa harus berhenti menyamar sebagai Painted Lady. Karena Aang sangat penasaran terhadap Painted Lady dan bertekad untuk menungguinya setiap tengah malam. Hingga akhirnya ia berhasil dibujuk untuk meredakan rasa penasarannya, dan berhenti keluar pada tengah malam untuk menunggui perempuan misterius itu.

Setelah Aang benar-benar berhenti menunggui Painted Lady, Katara bisa melanjutkan kembali kegiatannya selama 2 tahun ini.

Pada saat ia sedang membersihkan air sungai, Painted Lady merasa tidak tenang. Ia beberapa kali menoleh ke belakang, dimana hanya ada rerumputan, semak-semak dan pepohonan. Ia merasa bahwa ada seseorang yang sedang mengikuti dia.

Namun hingga pukul 3 dini hari, Painted Lady tidak menemukan siapapun. Secara diam-diam dan berhati-hati, ia pergi ke bukit. Dan bunyi gemerisik lemah yang hanya bisa terdengar apabila kau memasang pendengaran dengan konsentrasi penuh, terdengar tidak wajar. Menandakan seseorang memang sedang mengikutinya diam-diam.

Akhirnya di sebuah tempat, Painted Lady mengetahui pasti keberadaan penguntitnya itu, lalu dengan cepat ia menembakkan 3 bilah pisau es ke targetnya. Mengetahui 3 pisau es nya tidak tepat sasaran, Painted Lady menembakkan 3 bilah lagi ke tempat lain. Hingga akhirnya penguntit itu pun keluar dari semak, Painted Lady kembali melemparnya dengan sebilah pisau es.

Dan orang itu membelah pisau esnya dengan pedangnya. Penguntit itu lalu berdiri di atas permukaan tanah yang lebih tinggi sambil memandangi Painted Lady. Sejenak, mereka saling bertatapan, saling menilai orang di hadapan mereka.

Penguntitnya menggunakan pakaian gelap, dengan sebilah pedang di tangan kanannya, dan sebilah lagi masih tergantung di punggungnya. Ia menggunakan topeng berwarna biru yang dikenal orang-orang sebagai topeng Blue Spirit. Setelah bertatapan beberapa saat, Blue Spirit pun pergi dan menghilang dengan cepat. Painted Lady baru berani kembali ke goa rahasianya untuk kembali menjadi Katara.

Hingga saat Katara sampai di kamarnya dan berbaring, ia masih teringat akan topeng menyeramkan itu. bentuk wajah di topeng itu seperti dewa petir. Dan tentang bagaimana "ninja" itu mengikutinya, Katara menjadi penasaran apa yang ia inginkan, mengapa ia ada di sana, dan kenapa ia mengikutinya? Apakah dia Aang?

Kecurigaan utama Katara mengenai jati diri Blue Spirit adalah kepada Aang. Dikarenakan tubuh Aang yang lincah dan ringan, Katara pun yakin bahwa Blue Spirit yang pandai melompat dan menghilang itu pasti memiliki tubuh yang ringan juga.

Seharian itu, Katara sibuk mengamati gerak-gerik Aang. Aang tidak mengerti apa-apa, kebingungan sendiri kenapa Katara tampak aneh hari itu.

"Aang. Apakah kau tahu sesuatu tentang dewa petir?" tanya Katara.

"Oh, Blue Spirit maksudmu?" jawab Aang langsung dengan polosnya.

"er…" Katara menjadi bingung, kenapa Aang bisa seantusias itu.

"Dia dewa petir. Tapi aku tidak tahu apapun lagi tentangnya. Ada apa? Kau pernah bertemu dengannya?" tanya Aang.

Jangan-jangan ia hendak memancingku. Kalau dia Blue Spirit, dan ia mencurigaiku, dan kalau aku menjawab "ya" nanti dia akan mengetahui bahwa aku adalah Painted Lady.

"Tidak."

"Lalu kenapa kau bertanya soal itu?" tanya Aang.

Katara tersenyum misterius, seakan hendak menguak sesuatu dari diri Aang. "Kemarin malam aku bermimpi bertemu Blue Spirit."

"Wah gawat!" kata Aang tampak panik.

"Kenapa gawat?"

"Menurut gossip, apabila kau bermimpi bertemu Blue Spirit, maka dalam waktu dekat kau akan meninggal." Kata Aang.

Katara bagai tersambar petir saat mendengarnya. "Ah… aku butuh refreshing!"

Katara pun keluar dari rumahnya dan berjalan-jalan sebentar. Tampaknya ia tidak tahu apapun. Dan ia tidak kelihatan seperti kurang tidur. Padahal ia bangun jam 5 pagi. Sepertinya Aang bukan Blue Spirit… tapi bagaimana mungkin begitu kebetulan? Aku tidak pernah melihat orang menggunakan Blue Spirit hingga Aang muncul. Tapi sepertinya tidak mungkin Aang.

Selagi Katara berkutat dengan pikirannya, ia melihat ada seorang pemuda dengan rambut jabrik sedang bicara dengan kepala desa di rumah terbengkalai yang kecil. Di sebuah gubuk reot yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya yang meninggal dunia. Orang ini memiliki luka bakar yang sangat besar hampir di sebagian wajah kiri nya. Ia tampak seperti seorang pemarah.

Setelah orang itu akhirnya menempati rumah terbengkalai itu dan membayar sekantung uang pada kepala desa, Katara menghampiri kepala desa. "Pak, siapa dia?"

"Namanya Lee. Ia mengaku berasal dari Ba Sing Se. Ia tidak bicara banyak mengenai masa lalunya. Akan tetapi kelihatannya ia seorang penjahat." Kata kepala desa.

"Bagaimana bisa?"

"Karena luka bakar di wajahnya sangat menyeramkan." Kata kepala desa. "Dan ia memberikanku uang tunai yang langsung melunasi gubuk itu. Tidak mungkin orang kaya mau tinggal di desa ini. Dan tidak mungkin juga orang biasa mampu membayar tunai sebuah rumah, bahkan untuk gubuk kecil seperti itu."

Katara tertarik untuk menghampiri Lee. Tapi kepala desa menahannya. "Hei, mau kemana kau?"

"Aku ingin menyapanya."

"Jangan! Kita tidak tahu siapa dia. Tampaknya ia hidup cukup keras. Dan sifatnya sama sekali tidak ramah atau bersahabat. Ia bahkan berharap aku cepat-cepat meninggalkannya sendirian. Kurasa dia bukan orang baik. Sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengannya, Katara." Kata kepala desa.

"Baiklah…" Katara pun membatalkan niatnya untuk menghampiri Lee.

Katara sangat penasaran kepada warga baru desa Jang Hui itu. Karena ia yakin bahwa ia merasa familiar dengannya. Namun ia menunggu hingga beberapa hari, Lee jarang sekali keluar rumah. Bahkan hampir tidak pernah.

Pada malam itu, Painted Lady masuk ke desa karena ada seorang warga yang terkena penyakit kulit. Setelah menyembuhkannya, ia hendak kembali ke tepi sungai untuk membersihkan sungai. Namun ia melihat sekelebat bayangan hitam melompat ke atap rumahnya. Painted Lady pun segera curiga. Ia mengikuti bayangan hitam itu yang ternyata masuk ke dalam rumah Hakoda.

Painted Lady memeriksa rumahnya, dan ternyata Blue Spirit sedang menodongkan pedangnya ke leher Aang. Siap untuk memenggalnya. Painted Lady segera menyerangnya dengan cambuk air. Membuat pedang Blue Spirit terlontar ke lantai. Painted Lady pun menyerang lagi Blue Spirit itu dengan serangan cambuk lain, namun Blue Spirit tampaknya enggan berkelahi dengan Painted Lady. Ia hanya melompat dan menghindari serangan Painted Lady dan mengambil pedangnya kembali.

Sayangnya kegaduhan mereka membuat Aang terbangun. Begitu Aang terbangun, Blue Spirit pun memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Setelah Blue Spirit melarikan diri, Aang berteriak "Painted Lady!! Aku bertemu lagi denganmu!"

Painted Lady segera mengambil langkah seribu melarikan diri secepatnya. Ia berhasil menghilang dibalik rumah penduduk. Kini Katara mengetahui beberapa hal. Rupanya Blue Spirit bukanlah Aang. Bahkan ia seorang pembunuh. Tapi kenapa ia mengincar Aang? Apakah karena Aang adalah seorang avatar? Namun Katara menjadi lega bahwa Aang bukan lah si Blue Spirit.

Suatu sore, Sokka bermalas-malasan. "Ugh… Katara… kenapa kau tidak pernah masak kerang lagi?"

Pedagang kerang di desa itu adalah pedagang yang mempertemukannya dengan Aang beberapa hari lalu. Dan Katara masih membencinya. "Kerang itu jelek dan tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Lebih baik makan apa adanya saja."

Sokka merengek. "Ayolah… aku sudah lama tidak makan kerang. Ini tabunganku, besok kau beli kerang untuk makan malamku, oke?"

Katara cemberut. "Tidak."

"Ayolah adikku yang manis dan cantik…" Sokka merajuk lagi.

Katara menyerah. "Baiklah…"

Pada keesokan paginya setelah Hakoda, Sokka dan Aang pergi mencari ikan, Katara pun berangkat ke pasar untuk membeli kerang untuk kakaknya, Sokka. Begitu melihatnya, pedagang itu langsung mengejeknya lagi. "Hai, apakah kau sudah bertemu dengan si Painted Lady? Kalau sudah, aku titip tanda tangan."

Katara buru-buru memilih kerang secara asal. Ia ingin cepat-cepat pergi dari pedagang kerang itu. Pedagang itu menggodanya lagi. "Kenapa buru-buru? Aku penasaran dengan Painted Lady. Tolong ceritakan padaku, dia orang yang seperti apa. Dia setan atau hantu?"

Katara menahan rasa kesalnya. Namun sebelum ia sempat membalas ejekan pedagang kerang itu, seseorang telah mendahuluinya bertanya pada pedagang kerang. "Kau tahu sesuatu tentang Painted Lady?"

Katara dan pedagang kerang sama-sama teralihkan perhatian mereka kepada orang baru itu, Lee. Begitu melihat Lee, Katara langsung tersenyum senang.

"Wah, satu lagi korban mitos. Entahlah, nak. Bagiku Painted Lady itu hanya lelucon dan tidak nyata. Orang bisa sembuh kalau berdoa. Tapi mereka malah mengira ini karena nona hantu aneh yang tidak pernah kulihat sama sekali. Aku sudah tinggal di desa ini 40 tahun lebih. Tapi belum pernah sekalipun bertemu dengan makhluk aneh itu. jadi, Painted Lady itu bohongan!"

Lee tampak kecewa. Ia menunduk. "Sayang sekali. Padahal aku sedang mencarinya untuk meminta bantuan."

"Bantuan apa?" tanya Katara.

Pedagang kerang itu menyela. "Jangan dengarkan mitos! Kau hanya akan diberikan harapan palsu!"

Lee memandang Katara. Kemudian ia memandang kerang-kerang di tas belanjaannya. Lalu Lee mengajarinya cara memilih kerang. Dalam hati, Katara bukannya mendengarkan instruksi Lee, namun merasa senang. Tidak kusangka ia kembali lagi ke desa ini! Tapi untuk apa? Dan .. luka bakar di wajahnya, aku hampir tidak mengenalinya lagi. Apa yang terjadi dengannya?

Setelah itu Lee pergi meninggalkan Katara dan pedagang kerang. Sepeninggalnya, pedagang kerang menggoda Katara. "Wah… barusan saat ia mengajarimu cara memilih kerang yang baik dan enak untuk dimakan, aku seperti melihat pasangan pengantin baru! Hei, nona, daripada mengurusi Painted Lady, lebih baik kau berkencan dengannya. Cari pacar, cari pergaulan! Hahaha..!"

Katara semakin dongkol dibuatnya. Ia segera membayar kerang-kerang tersebut. Namun sebelum ia pergi, pedagang kerang memanggil Katara. "Katara! Tunggu!"

Katara pun kembali. Pedagang itu berkata "Tolong kau pergi ke rumah orang baru itu. Dan tolong berikan ini padanya. Tadi pagi sekali ia mampir untuk membeli ikan ini. Tapi karena sedang habis, jadi kuminta dia menunggu. Dan tadi dia pasti mampir untuk mengambil ikannya. Entah karena dia lupa atau tidak melihat ada ikan yang memang sengaja kusembunyikan untuknya. Tolong berikan ikan ini padanya. Aku tidak enak, dia sudah membayar ikan itu sebelumnya."

Katara mengambil ikan itu dan berjalan ke gubuk kecil dan reot yang kini ditinggali Lee. Perlahan ia mengetuk pintu gubuk tersebut. Sudah beberapa menit ia mengetuk pintu, tapi tidak ada orang yang membukakan pintu. Sungguh membuang waktu. Akhirnya Katara memutuskan untuk pulang.

Baru saja ia membalikkan badannya, Lee sudah berdiri persis di belakangnya. "Ada apa?"

"Eh, anu .." Katara terkejut dan salah tingkah. Kemudian ia menyerahkan ikan yang digenggamnya itu kepada Lee. "Pedagang kerang tadi memintaku untuk memberikan ini padamu."

Lee menerimanya. "Terima kasih."

Kemudian ia melangkahi Katara dan masuk ke dalam gubuknya. Katara merasa bingung, kenapa ia begitu dingin dan seakan tidak ingin bicara dengan siapapun sekarang? Dahulu saat terakhir bertemu dengannya, ia masih seorang yang memang agak pemarah dan serius. Tapi setelah mengajaknya bicara, tidak sulit membuat dirinya mau membuka diri. Ia masih mau berbicara dengan orang lain 2 tahun lalu. Tapi kenapa sekarang tidak?

Katara yakin bahwa Lee benar-benar adalah pangeran Zuko yang dua tahun lalu membantunya mencari desa Jang Hui. Namun Katara masih memikirkan luka bakar di wajah Zuko. Ia ingin tahu apa penyebabnya, kenapa ia kembali ke Jang Hui dan tidak mau bicara dengan siapapun? Dan terlebih lagi, ia tinggal sendirian, apakah ia terurus baik?

Malam itu, sebagai Painted Lady, Katara mengambil seguci air bersih dan memasaknya. Setelah itu ia mengalirkan energy Chi ke air tersebut sehingga air itu menjadi obat. Setelah itu Katara memasukkan air itu ke sebuah kantung air dan mulai bergerak ke desa.

Katara perlahan membuka pintu gubuk tersebut. Tidak dikunci. Beberapa lubang di dinding gubuk itu membuat cahaya bulan masuk ke dalam gubuk sehingga berfungsi sebagai penerangan. Namun Lee tidak ada di sana. Selagi ia kebingungan, Lee sudah berdiri di ambang pintu, seperti sedang menunggu kedatangannya. "Jadi kau Painted Lady…"

Namun saat melihat Lee yang tampak garang, Painted Lady merasa tidak nyaman dan pergi melarikan diri dari gubuk itu. Lee mengejarnya. Painted Lady menyebrangi sungai sampai ke seberang dengan menciptakan balok es dan membawanya berenang ke seberang dengan ilmu Water Bendingnya. Lee adalah seorang Fire Bender, dan ia menyebrangi sungai seperti sedang mengeluarkan jet dari kakinya.

Sampai ke seberang, Painted Lady tidak melihat ada bola api dengan cepat menghantam punggungnya. Painted Lady terjerembab ke atas tanah atas serangan tersebut dan Lee dengan cepat memegang kedua tangannya dan duduk di atasnya. Dengan demikian, Painted Lady tidak bisa berkutik.

"Memang seperti namamu. Kau melukis wajahmu." Kata Lee. Ia kemudian mengusap wajah Painted Lady untuk menghapus riasannya untuk melihat wajah aslinya. Painted Lady tidak bisa berbuat apa-apa. Saat sebagian riasannya terkuak, Lee terkejut dan melompat mundur.

"Katara..!!" katanya.

Painted Lady berdiri dan membelakangi Lee yang terkejut. Air mata bergulir di pipinya.

Lee merasa sangat bersalah. "A…aku minta maaf… aku kira kau hendak mencuri sesuatu dariku.."

Lee kemudian memegang bahu Katara untuk membalikkan tubuhnya. "Aku tidak bermaksud buruk…bahkan sampai sekarang aku masih belum tahu kenapa kau mengunjungiku. Aku tidak sakit."

Katara melempar kantung air yang sudah ia persiapkan tadi untuk menyembuhkan luka bakar di wajah Lee ke wajahnya. Lee menangkapnya sebelum terjatuh ke tanah.

"Air apa ini?" tanya Lee.

Begitu dibuka, Lee bisa menyaksikan air tersebut bercahaya biru dan lembut. Tahulah ia bahwa air itu adalah air obat. Katara mengambil topi jerami Painted Lady dan berjalan pergi meninggalkan Lee. Sadarlah Lee bahwa Katara hendak menyembuhkan luka bakar di wajahnya.

"Katara, tolong jangan begitu!" panggil Lee. Tapi Katara seakan tidak mau mendengarnya. Ia menghilang dari pandangan, dan Lee menyerah.

Setelah itu Lee kembali ke gubuknya dengan cara yang sama saat ia menyebrangi sungai. Begitu sampai di gubuk, Lee membuka sebuah bilah kayu di lantai. Di dalam sana terdapat satu setel pakaian berwarna gelap dan topeng Blue Spirit. Setelah itu Lee menghela nafas lega. Namun wajahnya masih tampak sedih. Ia merasa bersalah kepada Katara. Setelah itu ia duduk dan meminum air obat itu sedikit.

Ia teringat kembali betapa kasarnya dia tadi. Dan ia mengeluh penuh penyesalan.

Kalau pun ia seorang pencuri atau berniat buruk, ia tidak perlu sekasar itu.