Chapter 4 : The Reason

Selama 2 tahun itu banyak kejadian yang dialami oleh Zuko. Setelah tiba kembali di istana dan bereuni dengan keluarganya lagi, yang menyambut Zuko dengan hangat hanyalah Lady Ursa, ibunya. Ayahnya, Ozai tidak terlalu memperdulikannya. Bahkan ia sibuk meeting dengan rekan-rekannya dan tidak bisa diganggu sama sekali. Sementara itu Azulla merasa terancam ke dudukannya sebagai calon pewaris tahta, melihat Zuko sudah meningkatkan kemampuan Fire Bendingnya.

Azulla terus mencari gara-gara dengan Zuko. Ia tahu Mai, temannya, menyukai Zuko dan berusaha mendekatkan mereka berdua. Awalnya Zuko terpikat akan kecantikan Mai. Tapi lama kelamaan keduanya sering berselisih paham dan bertengkar terus menerus. Niat tulus Zuko terkadang diartikan negative oleh Mai dan selalu salah paham. Hal ini membuat Zuko lelah dan akhirnya mengabaikan Mai.

Karena itulah Mai seringkali bertengkar dengan Zuko. Dan pertengkaran mereka akhirnya mengganggu Azula yang sedang bermeditasi untuk mengatur Fire Bendingnya. Karena tidak tahan setiap hari ribut-ribut terus, Azula akhirnya membela Mai. Azula pun bertengkar dengan Zuko. Dalam pertengkaran itu, Azula menembakkan api biru ke wajah Zuko dan melukai mata kirinya.

Terluka seperti itu membuat Lady Ursa marah besar pada putrinya. Dan karena Ozai sangat membela Azulla, maka hal itu akhirnya membuat kedua orangtuanya bertengkar. Zuko kemudian merenung. Ia kemudian berencana untuk kembali ke Ba Sing Se dan tinggal bersama paman Iroh. Ia mengajak serta ibunya, tapi Lady Ursa tidak mau meninggalkan sisi suaminya.

Baru saja Zuko hendak kembali ke Ba Sing Se, hendak pamit pada ayahnya, ia mendapati seisi istana sedang mengejar-ngejar seorang bocah Air Bender yang berhasil kabur. Fire Lord Ozai tampak sangat marah. Dan sejak itu ia melampiaskan kekesalannya pada Lady Ursa. Zuko selalu membela ibunya dan ditantang Agni Kai oleh ayahnya. Tapi Zuko membentaknya "Tidak perlu sampai Agni Kai!"

Dan ayahnya pun tidak serius menantangnya Agni Kai. Mengetahui ini, Zuko berpikir bahwa ayahnya jadi kejam begitu pasti karena Aang. Kemudian setelah terakhir kali Zuko melihat ayahnya memukul ibunya, Zuko bertanya pada ayahnya. "Kalau aku bunuh Aang, apakah kau mau berjanji untuk tidak memukuli ibu lagi?"

"Coba saja" jawab Fire Lord.

Setelah itu, Zuko segera berangkat untuk melacak Aang. Ia berhasil melacak Aang saat ia sedang makan di kedai kecil tempat biasa para bounty hunter berkumpul. Dari sana, ia berhasil mengetahui keberadaan Aang di desa Jang Hui. Dan dengan demikian, sampailah Zuko di desa Jang Hui. Dan kini, hampir setiap malam ia muncul untuk membunuh Aang. Dan hampir setiap malam pula Painted Lady selalu menjaga Aang. Dan Blue Spirit tetap tidak mau melawan balik Painted Lady. Ia kabur setiap kali Painted Lady muncul. Lucunya, Aang sama sekali tidak tahu bahwa ada seseorang yang berusaha membunuhnya selama ini. Ia hanya tahu bahwa hampir setiap malam, Painted Lady mengunjunginya.

Tak lama kemudian, di pabrik terjadi sebuah peristiwa. Seorang janitor di pabrik itu bertengkar dengan seorang penjaga buruh pabrik pada saat makan siang, dan penjaga itu dibunuh oleh si janitor. Janitor tersebut ditangkap dan dipenjara di ruangan kecil di sana. Namun keesokan harinya saat hendak dibawa ke penjara sesungguhnya, Janitor tersebut sudah hilang.

Para penjaga segera mencarinya, dan mereka menduga bahwa janitor tersebut pasti lari ke desa Jang Hui yang terletak di sungai tempat mereka membuang limbah. Dengan segera, para penjaga segera menyerbu desa itu.

Sesampainya di sana, mereka memukuli kepala desa agar orang yang menyembunyikan si janitor segera keluar dan menyerahkan tawanan mereka pada mereka. Tidak ada yang berani menolong kepala desa. Karena mereka adalah sekelompok Fire Bender dewasa yang kejam.

Ditengah ketakutan dan putus harapan dan jeritan kepala desa yang dipukuli, Aang pun muncul dan menyelamatkan kepala desa. Ia menghajar para penjaga itu tanpa menggunakan Air Bendernya agar tidak ada yang mengetahui bahwa ia seorang avatar. Dan para penjaga itu menjadi ketakutan pada kekuatan Aang yang dibantu oleh Sokka. Mereka pun akhirnya melarikan diri setelah penjaga lain datang dan memberitahu teman-temannya bahwa si Janitor telah ditemukan di sebuah hutan.

Seluruh desa selamat dan berterima kasih pada Aang. Mereka mengelu-elukan Aang dan berpesta merayakan keselamatan mereka hari itu. kini Aang semakin terkenal dan dicintai oleh warga desa Jang Hui. Dan ini membuat Blue Spirit semakin kesulitan membunuh Aang.

Suatu malam yang sepi, Blue Spirit kembali menyelinap ke kamar Aang. Namun Aang menghadangnya di pintu kamarnya. "Aku telah mengamatimu dari 3 hari lalu… kau selalu datang ke kamarku, berusaha membunuhku, hingga akhirnya Painted Lady muncul, kau kabur. Sebenarnya kau ini siapa? Kenapa ingin membunuhku?"

Blue Spirit tertegun mengetahui bahwa selama ini Aang ternyata mengetahui apa yang ia lakukan. Kemudian ia mengangkat senjatanya dan menantang Aang berduel.

"Aku tidak mau menyakitimu. Painted Lady pun berusaha membunuhmu, tapi kau tidak melawannya balik, sekalipun ia seringkali membuatmu terluka. Kau orang baik, kau tidak ingin melukai sembarangan orang." Kata Aang. Karena Blue Spirit mengangkat senjata, maka ia pun mengambil kuda-kuda menghadapi Blue Spirit.

Tanpa bicara apapun, Blue Spirit hanya memandangi Aang dengan matanya yang gelap. Aang pun maju untuk menguji kemampuan Blue Spirit. Di ruangan sempit itu, Blue Spirit mampu mengimbangi Aang. Ia berhasil menahan serangan Aang sambil menunggu kesempatan untuk menyerang balik. Dan saat Aang berhasil memukul pinggangnya, Blue Spirit pun berhasil melukai tangannya. Tangan Aang tersayat sedikit. Sayatan tidak berarti.

"Menurutku kau bukanlah pengecut. Aku yakin kau pun sesungguhnya bisa menandingi Painted Lady. Tapi kau memilih untuk tidak menantangnya. Entah kenapa. Tapi aku juga akan bertindak sama denganmu." Kata Aang.

Blue Spirit kembali menyerang Aang. Tapi kali ini Aang bertindak sama dengan Blue Spirit saat menghadapi Painted Lady. Aang hanya menghindari serangan Blue Spirit.

"Tampaknya aku bersalah padamu. Tolong katakan padaku, kenapa kau mengincarku? Apakah kau seorang bounty hunter?" tanya Aang sambil melarikan diri ke atap rumah. Blue Spirit pun mengejarnya hingga atap rumah.

Dan di sana, rupanya para penduduk terjaga dan menunjuk Blue Spirit "Itu dia disana! Dia hendak membunuh Aang!!"

Para penduduk melempari Blue Spirit dengan batu dan apapun yang bisa mereka lempar.

"Pergi!"

"Jangan ganggu Aang!"

"Aang orang baik!"

"Mati saja kau!"

Dengan demikian, Blue Spirit melepaskan sebuah semburan api yang tidak ganas, hanya untuk mengalihkan perhatian para penduduk sementara waktu untuk beberapa detik lamanya. Sementara itu, ia menatap Aang, kemudian melompat pergi meninggalkan Aang.

Tidak bisa. Para penduduk mencintainya. Tapi bagaimana dengan ibu? Baiklah, aku akan membujuk ibu agar tinggal bersama paman Iroh dan Lu Ten di Ba Sing Se. kita berempat akan memulai hidup baru di sana. Bagaimanapun caranya, ibu harus setuju.

Sejak saat itu, tidak ada yang sadar bahwa Lee sudah tidak berada di desa tersebut.