Chapter 5 : Return to Jang Hui

Setelah kembali ke istana, Zuko mencari ibunya. Namun ia tidak menemukannya. Ia mencarinya seharian namun hasilnya nihil. Azulla mendatanginya dan mengatakan bahwa ibunya dibuang ke penjara. Namun Azula tidak tahu ia dibuang ke penjara mana. Zuko marah dan mendatangi ayahnya dan bertanya dengan marah kenapa ibunya dibuang ke penjara.

Ozai tampak acuh dan malah mengajak Zuko mengobrol tentang betapa pandainya para penjaga di istananya. Zuko marah dan berkata bahwa ia akan pergi ke Ba Sing Se dan tidak akan kembali lagi. Azula senang sekali mendengarnya. Karena ini berarti bahwa ia sungguh-sungguh akan menjadi pewaris tunggal Negara Api.

"Zuko! Jangan pergi seperti itu! kau kekanak-kanakan sekali!" bentak ayahnya. Tapi Zuko tidak perduli.

Azula menahan ayahnya. "Biarkan saja dia, ayah, setelah dia tenang juga pasti dia akan kembali lagi."

Ozai pun membiarkan anaknya pergi. "Aku ingin dia ada di sini sebagai cadangan kalau terjadi sesuatu padamu, Azula."

Azula tampak tidak senang mendengar ucapan ayahnya barusan. Pikirnya dalam hati "Bisakah orang tua ini mengontrol ucapannya?"

Zuko kini sering mengobrol dengan para penjaga, untuk mencari tahu keberadaan ibunya, dan penjara rahasia tempat ibunya dikurung. Ia mencarinya dengan gigih. Sekalipun terkadang terpikir olehnya untuk menyerah, akan tetapi memikirkan bagaimana ibunya hidup di dalam penjara, sangat tidak layak untuk wanita sebaik ibunya, Zuko kembali bersemangat mencari informasi tersebut.

Akhirnya setelah beberapa bulan mencari informasi, Zuko pun mendapatkan informasi yang diinginkannya. Melalui seorang penjaga, ia mengetahui siapa penjaga yang mengantarkan ibunya ke penjara rahasia itu. Segera, Zuko mendatanginya dan bertanya tentang penjara tersebut. Penjaga itu rupanya adalah kekasih rahasia ayahnya. Ia bersikap sombong. Namun sedikit siksaan dari Zuko membuat si penjaga gay itu tunduk.

"Baiklah, ampun..ampun.. aku akan beritahu dimana dia." Katanya.

Kemudian mereka duduk tenang. "Sesungguhnya aku tidak tahu persis lokasinya. Tapi aku disuruh mengantar ibumu hingga Post Selatan, kemudian dari sana ia akan dioper ke penjaga lain. Silahkan kau tanya pada penjaga di Post Selatan untuk informasi lebih lanjut."

Zuko segera berdiri. "Terima kasih. Dan .. kuharap kau tidak memberitahu ayah akan apa yang akan kulakukan."

Kemudian Zuko menodongkan pedangnya ke leher penjaga itu. "Kalau sampai ayahku tahu dan mempersulitku,….. aku akan merekonstruksi ulang wajahmu!"

"Tenanglah. Zz … tapi… apa yang kau lakukan setelah bertemu kembali dengan ibumu?" tanyanya.

"Bukan urusanmu. Tapi aku sudah muak berada di Negara Api." Kata Zuko sambil berlalu pergi.

Sepeninggal Zuko, penjaga gay itu terpesona. "Oh… ayah dan anak sama-sama pemarah… sungguh menggemaskan!"

Zuko menyamar sebagai pedagang minuman sementara ia menunggu kesempatan. Beruntung, ada beberapa prajurit yang mengobrol di dekatnya, berbicara tentang penjara rahasia. Melalui mereka, Zuko mengetahui bahwa keberadaan penjara itu ada di sekitar Jang Hui. Dengan demikian, Zuko pun akhirnya kembali lagi ke Jang Hui.

Saat sedang membersihkan air sungai, Painted Lady kembali melihat sosok hitam melompat-lompat di atas pohon. Sekalipun jauh, namun Painted Lady yakin bahwa sekelebat bayangan hitam itu adalah Blue Spirit. Melalui topengnya yang berwarna biru.

"Sudah lama akhirnya ia muncul lagi." Gumam Painted Lady. Namun mendadak ia tersadar dan segera berlari kembali ke rumahnya. Ia mendapati di rumahnya, Aang masih hidup dan tidak tersentuh. Bahkan tidak ada tanda-tanda sama sekali bahwa ada yang menyelinap masuk.

Demikianlah yang terjadi setiap malam sejak itu di desa kecil Jang Hui. Saat masyarakat tertidur pulas, Painted Lady membersihkan sungai dan Blue Spirit menjelajahi wilayah sekitar desa. Terkadang Blue Spirit berhenti mencari dan beristirahat duduk di sebuah dahan pohon. Ia mengamati Painted Lady sedang membersihkan air. Tatapannya gelap, tak ada yang bisa menilai apa yang ia pikirkan tentang Painted Lady. Namun ia bisa mengawasi Painted Lady selama berjam-jam.

Suatu hari, Blue Spirit mendapati bahwa ada sepasang penjaga sedang mabuk, berjalan ke arah Painted Lady. Blue Spirit segera muncul ke hadapan dua orang itu dan perkelahian kecil terjadi diantara mereka. dua orang penjaga itu tersadar dari mabuk mereka dan melarikan diri dari Blue Spirit. "Setaan..!!"

Namun tindakan Blue Spirit untuk menghindari para penjaga itu melihat Painted Lady malah berujung runyam. Kedua penjaga pabrik itu tidak terima dan datang lagi ke desa Jang Hui sambil membawa banyak temannya. Mereka mengumpulkan para penduduk desa dan kali ini mereka mencari-cari Blue Spirit.

"Mana Blue Spirit!?"

"Siapa diantara kalian yang suka main ninja-ninjaan? Bawa kemari si Blue Spirit!"

Namun tentu saja mereka tidak tahu. "Blue Spirit sudah lama tidak terlihat di desa ini. Lagipula kami tidak tahu siapa dia. Yang kami tahu, dia pernah mencoba membunuh seorang penduduk di sini."

"Aku tidak perduli! Aku tunggu 1 jam! Kalau Blue Spirit tidak juga muncul, akan kubakar rumah di sini satu persatu seperti gubuk terbengkalai itu!" setelah berkata demikian, penjaga itu melemparkan bola api yang cukup besar ke sebuah gubuk reot.

Katara tahu itu adalah tempat Lee tinggal. Ia terbelalak melihat bola api itu menghancurkan gubuk itu.

Namun bersamaan dengan meledaknya gubuk itu, Lee melompat keluar dan menyerang para penjaga pabrik itu sambil melepaskan bola-bola api. Membuat beberapa penjaga tercebur ke sungai yang kotor itu, dan kemudian menghajar habis orang yang membakar gubuknya.

Tapi teman-teman orang itu tidak tinggal diam. Mereka pun menyerang Lee sambil menggunakan Fire Bending mereka. Namun Lee melenyapkan bola-bola api itu dengan membelahnya dengan pedangnya. Setelah itu ia menyerang kapal yang sedang mereka naiki sehingga meledak dan tercebur ke sungai yang tercemar itu. Lee kembali menginjak orang yang menyerang gubuknya dan menodongnya dengan pedang. "Berisik saja daritadi! Aku salah apa?! Kenapa kau meledakkan gubukku hanya sebagai contoh?!"

"Ma, maaf, aku salah sasaran." Kata penjaga itu sambil memperhatikan wajah Lee. Tak lama ia terbelalak dan menyembah Lee. Tidak berani mengangkat wajahnya. "Pangeran Zuko! Apa yang anda lakukan di sini?"

Sial! Pikir Zuko. "Bukan urusanmu! Pergi kau dari sini!"

"Baik, baik!" penjaga itu segera pergi. Tapi Zuko teringat sesuatu. Sebelum penjaga itu menceburkan diri, Zuko menarik bajunya dan memperingatkannya. "Sampai ayahku tahu aku ada di sini, aku bersumpah kau dan keluargamu takkan hidup damai."

"Ampun. Tentu saja..!" katanya sambil ketakutan. Kemudian Zuko membiarkan para penjaga itu pergi.

Segera setelah mereka pergi, para penduduk desa mengelu-elukan dia dan mengaraknya ke balai kota. Di sana, kepala desa membujuk Zuko untuk membantu desa itu. "Tolonglah. Kau pangeran Negara Api. Mereka pasti menurut padamu. Tadi saja mereka memilih kabur daripada membalasmu."

Namun Zuko menolak. "Kalian harus berjuang sendiri. Desa ini tidak terdaftar dalam peta Negara Api. Dengan demikian, pemerintahan pusat pun tidak mengetahui bahwa desa ini ada. Maka, desa ini bukan tanggung jawab kami. Maafkan aku."

Kepala desa berusaha menahan Zuko dan menyembahnya. "Tapi kalau memang demikian, Pangeran, apa yang anda lakukan di sini?"

"Apapun itu, itu bukan urusan kalian. Tapi aku di sini bukan karena ingin menolong kalian atau sedang berlibur. Tolong mengerti. Dan jangan mencari masalah, karena pemilik pabrik itu bagaimanapun memiliki uang yang bisa memanipulasi keadilan. Dan bila itu terjadi, kalian akan menjadi lebih menderita dari sekarang." Kata Zuko sambil melangkah pergi dari balai desa.

Di luar, Katara telah menunggunya. Ekspresi wajahnya agak marah. Rupanya ia telah menguping pembicaraan mereka, dan tidak terima bahwa Zuko begitu acuh. Zuko ingin menyapanya, akan tetapi rasanya ini bukan saat yang tepat. Ia mengira bahwa Katara masih marah padanya karena ia menghapus paksa riasan di wajahnya tempo hari lalu. Maka dari itu ia hanya melewati Katara.

"Tunggu dulu, pangeran Zuko!" panggil Katara. Ia tampak marah. Zuko berhenti berjalan.

"Apa maksudmu bahwa desa ini tidak bisa mendapatkan perlindungan dari pemerintah pusat hanya karena tidak diketahui wilayahnya dan tidak terdaftar dalam peta resmi??" tanya Katara.

Zuko diam saja, ia bingung apa yang harus ia katakan kepada gadis remaja yang sedang marah-marah. Katara menghampirinya. "Kau ini pangeran. Kau orang nomer dua yang paling berkuasa di Negara mu. Kau bisa menyelamatkan kami. Bukankah tugas setiap pemimpin itu melindungi pengikutnya? Kau sudah tinggal bersama kami selama beberapa lama, kenapa kau sama sekali tidak tergerak untuk menolong? Dimana hati nuranimu?"

Zuko menatap Katara. "Aku hanya bertindak sesuai dengan prosedur yang kuingat. Lagipula, aku tidak pernah menganggap diriku sebagai pangeran."

"Bagus.. lalu kenapa kau mengantarkanku sampai Jang Hui 2 tahun lalu? Bukankah katamu, prosedurnya, begitu sampai ke pelabuhan Negara Api, kau seharusnya langsung melapor pada ayahmu sebelum melakukan apapun? Tapi kau menghabiskan beberapa bulan untuk mencari Jang Hui bersamaku dan mengantarkanku kemari … bukankah kau telah melanggar prosedur?" tanya Katara.

"Katara!" Zuko berkata dengan wajah memelas. Ia berharap gadis ini mengerti posisinya. "Tolong mengerti. Saat ini aku tidak bisa. Yang memiliki masalah besar,bukan hanya kalian."

Katara pun tidak mampu mengatakan apapun lagi untuk menahan atau membujuk Zuko menolong desanya. Segera, Zuko pergi ke tempat Sokka yang akan mengantarnya ke pintu keluar desa Jang Hui. Zuko tidak pernah terlihat lagi di desa itu. Katara kini benar-benar kecewa dan mulai membenci Zuko.