Chapter 6 : Blue Spirit Hunt
Sekalipun sudah diusir, namun para penjaga masih penasaran. Mereka ingin tahu siapa penyerang mereka, Blue Spirit dan ingin menangkapnya. Mereka tentu saja tidak terima diserang tanpa alasan, apalagi dalam keadaan mabuk. Banyak teman-teman penjaga itu mengira bahwa mereka hanya berhalusinasi dan bertengkar sendiri, tapi menyalahkan Blue Spirit.
Salah seorang penjaga itu masih penasaran. Ia kembali ke desa di malam lain dan di tempat yang sama seingatnya. Kali ini ia tidak menemukan Blue Spirit, melainkan Painted Lady. Ia mengira bahwa Painted Lady pasti mengetahui keberadaan Blue Spirit. Maka dari itu penjaga itu menyerang Painted Lady.
Painted Lady menghadapi serangan mendadak dari penjaga tersebut, terkejut. Untung ia masih sempat menghindari serangan kejutan itu. Begitu tersadar, rupanya penjaga itu adalah seorang Earth Bender. "Bagaimana mungkin seorang Earth Bender bisa berada di Negara Api?"
Penjaga itu menjawab. "Pertanyaan yang sama denganmu, nona."
Painted Lady menghindari serangan penjaga itu sekali lagi. Terjadilah perkelahian antara Water Bender dan Earth Bender. Serangan-serangan air milik katara bisa diserap oleh tanah dan menjadi tidak berarti. Dan serangan es darinya bisa ditahan oleh tameng bumi. Membuat Painted Lady terpaksa harus melarikan diri. Namun penjaga itu mengejarnya.
Ia menangkap kaki Painted Lady dengan mencairkan tanah dan menjebaknya seperti jebakan pasir hisap. Painted Lady pun tertangkap. Ia diikat dan tidak dapat melepaskan diri.
"Nah, sekarang, mari kita mulai. Aku ingin bertanya padamu, dimana Blue Spirit. Kau pasti mengetahuinya." Kata penjaga itu.
Baru saja Katara berkata "Aku tidak tahu siapa dia."
Sebuah batu dilempar ke wajah Earth Bender itu. refleksnya masih bagus. Batu tersebut berhasil ditangkapnya. Dan akhirnya penjaga itu pun berhadapan dengan Blue Spirit. Penjaga itu menjadi senang. "Akhirnya kau muncul juga, Blue Spirit. Aku takkan melupakan seranganmu tempo hari lalu. Pengecut sekali kau menyerangku saat aku sedang mabuk. Kali ini aku segar bugar dan aku bisa menangkapmu."
Perkelahian pun terjadi antara Blue Spirit dan penjaga itu. Earth Bender memang sangat kuat. Namun begitu pula dengan Fire Bender. Blue Spirit mampu memanggang serangan-serangan dari penjaga itu dan ditambah keahliannya bermain pedang kembar, membuat penjaga itu kewalahan menghadapinya. Langkah-langkah kuat dari penjaga itu ditandingi oleh kecepatan dan kebringasan serangan-serangan Blue Spirit. Akhirnya penjaga itu pun menyerah kalah dan melarikan diri.
Saat Blue Spirit hendak melepaskan belenggu yang mengikat Painted Lady, Painted Lady sudah tidak ada. Ia sudah melepaskan diri sendiri. Entah bagaimana caranya. Blue Spirit pun menyarungkan kedua pedangnya dan melompat pergi dari sana.
Painted Lady tidak sepenuhnya pergi. ia bersembunyi dibalik semak. Dan kali ini gantian dia yang mengikuti Blue Spirit. Namun karena tidak memiliki skill pengintai, akhirnya Blue Spirit dengan cepat mengetahui bahwa Painted Lady mengikutinya. Blue Spirit menghilang di balik bukit. Painted Lady berdiri kebingungan mencari-cari jejaknya.
Blue Spirit muncul tepat di belakang Painted Lady. Sejenak, keduanya saling berpandangan, karena Blue Spirit tidak mungkin berbicara, dan begitu pula dengan Painted Lady. Topeng bisa dipajang, akan tetapi suara belum tentu bisa dimanipulasi.
Painted Lady melihat ada darah menetes cukup deras dari lengan Blue Spirit. Ia hendak mengobatinya, namun Blue Spirit melangkah mundur. Kemudian ia menggeleng. Setelah itu ia menghilang. Painted Lady masuk ke goa nya untuk melepaskan topeng penyamarannya dan keluar sebagai Katara. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Blue Spirit masih mengawasinya dari balik pepohonan yang lebat.
Hari berikutnya, para penjaga masih penasaran pada kedua makhluk menyamar itu dan membawa teman untuk berpatroli di sekitar sana. Namun keberadaan mereka membuat Katara malas untuk menyamar dan Zuko beristirahat dalam kemahnya untuk mengobati lukanya. Akhirnya para penjaga tidak berhasil menemukan Painted Lady maupun Blue Spirit. Dan dalam beberapa hari, mereka menyerah mencari kedua makhluk tersebut dan memutuskan untuk menyerang dengan cara lain.
Para penjaga memasukkan bubuk racun ke dalam air limbah. Racun Maroa yang diambil dari tanaman Maroa yang tumbuh di sekitar pabrik. Racun ini hanya bereaksi pada orang-orang yang memiliki golongan darah tertentu, yang kebetulan cocok dengan golongan dara Katara dan Hakoda.
Kedua orang itu jatuh sakit. Begitu pula dengan penduduk lain yang memiliki golongan darah sama dengan mereka. Saat Zuko sedang memancing di tepi sungai, Sokka duduk di sebelahnya untuk memancing bersama. Saat itulah mereka berdua mengobrol dan Zuko mengetahui tentang racun ini.
"Racun Maroa tidak mematikan, namun apabila tidak segera ditangani, korbannya akan menjadi lumpuh." Kata Zuko.
"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau mengurus dua orang lumpuh seumur hidupku!" kata Sokka, panik.
"Racun itu memang cukup berbahaya, tapi bukan berarti tidak ada penawarnya." Kata Zuko lagi.
"Kau tahu cukup banyak rupanya. Apa kau tahu tentang penawarnya?" tanya Sokka.
Zukko mengangguk. "Penawarnya .. Teh Maroa… aku tidak yakin ia hidup di sekitar sini."
Sokka mengusap wajahnya dengan frustasi. "Akupun baru dengar ada bunga Maroa bisa dijadikan teh."
"Sebenarnya .. Aku dulu pernah terkena racun itu. Seharusnya, kalau kau punya racun Maroa, otomatis kau juga punya penawarnya." Kata Zuko.
"Oh, begitu…" kata Sokka. Kemudian ia menarik pancingnya dengan semangat karena umpannya tergigit. Tapi sayang, tali pancingnya terputus. Ia menjadi kesal. "Rahh!! Ikan membodohiku!"
Ada burung elang di atas mereka. Dan Sokka menyerangnya dengan bomerangnya. Tapi meleset. Sokka mengeluh. "Aku tidak pernah berhasil menyerang burung…."
Setelah itu Sokka sibuk menginterogasi para penduduk, siapa diantara mereka yang baru minum teh Maroa. Tapi tetap saja tidak ada yang mengaku. Karena mereka yang keracunan meminum air dari sungai yang sudah tercemar teh Maroa. Lagipula, merekapun tidak tahu kalau bunga Maroa bisa dijadikan teh. Mengetahui itu, Blue Spirit pun akhirnya menggenakan topengnya lagi dan menyusup ke dalam pabrik bermasalah itu.
Blue Spirit menduga bahwa daun teh Maroa itu pasti dicampur dengan air limbah, maka dari itu tidak ada yang sadar. Blue Spirit menyusup ke seluruh ruangan, dapur, gudang, hingga kantor para pegawai, bahkan loker-loker mereka. Ia menemukan daun teh Maroa di dapur dan mengambil semuanya.
"Ingat, pangeran Zuko, teh Maroa memang harum. Namun untuk memasaknya, air yang digunakan juga harus bersih. Atau kau akan keracunan seperti ini" kata Iroh sambil menyeduh teh. "Dengan air bersih, teh Maroa akan menjadi minuman kesehatan. Sedangkan apabila air kotor, maka Teh Maroa akan menjadi beracun."
"Argh .. lalu kenapa kau memberikanku Teh Maroa lagi? Aku keracunan teh Maroa." Kata Zuko dengan lemas.
"Justru itu. apabila air yang kau gunakan ini bersih, maka ia akan menjadi teh yang menyehatkan." Kata Iroh sambil menyerahkan secangir teh Maroa dengan air bersih untuk diminum.
Blue Spirit berhasil mengambil daun teh Maroa di dapur pabrik dan diam-diam keluar tanpa sepengetahuan para penjaga. Ia segera meluncur ke rumah Katara dan menyelinap ke dalam kamarnya. Akan tetapi ia tidak bisa masuk karena Aang sedang merawat Katara. Dan juga, mendadak ia teringat bahwa air yang ia bawa, ada di kantung air milik Katara yang dahulu dilemparkan ke wajahnya.
Akhinrnya ia datang sebagai Zuko. Untuk menghindari perhatian warga yang sudah mengetahui jati dirinya, Zuko menggunakan hood untuk menutupi wajahnya. Aang membukakan pintu untuknya.
"Hai. Ada yang bisa kubantu?" tanyanya.
Zuko memberikan Aang sekotak daun teh Maroa.
"Apa ini?" tanya Aang.
"Teh. Obat. Kau harus menyeduhnya dengan air ini." Zuko kemudian memberikan Aang sebuah kantung air. Aang kebingungan. Saat ia melihat Zuko lagi, Zuko berkata dengan wajah memelas. "Pastikan Katara meminumnya. Jangan sampai terlambat…"
Aang mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih."
Sebelum Aang pergi, Zuko kembali menariknya dan berkata "Kau tak perlu katakan siapa yang datang."
Setelah bicara begitu, Zuko langsung pergi. Aang menutup pintu rumah dan menyeduhkan teh untuk Katara dengan menggunakan air dari kantung air yang diberikan Zuko. Saat Aang membuka tutup kantung air itu, Aang terkejut melihat sinar biru yang lembut dari dalamnya. Air itu bercahaya. "Wow… air Chi… hanya water bender yang bisa membuatnya. Darimana Zuko mendapatkannya? Dia kan fire bender."
Aang meminumkan teh itu untuk Katara. Teh itu terasa pahit. Akan tetapi Aang dengan lembut membujuk Katara untuk menghabiskannya. Katara menurut dan meminumnya habis. Pada malam harinya, ia merasa baikan. Saat ia terbangun, Aang tertidur pulas di sisinya. Katara tersenyum.
Aang sangat baik. Ia selalu menungguiku. Ia bahkan meracik teh obat untukku.
Namun saat Katara melihat kotak teh itu, ia tahu bahwa teh itu berasal dari pabrik tersebut. Katara jadi terharu. Ia meresikokan nyawa dan keselamatannya demi mengambil obat untukku.
Katara mencium dahi Aang. Namun bocah itu masih tertidur pulas dan hanya berguling sedikit sambil mengigau. Katara tersenyum melihat Aang. Kemudian saat Katara hendak membereskan obat dan perkakas yang digunakan untuk menyeduh teh, Katara mendapati kantung airnya yang sudah lama ia hilangkan karena ia lempar ke wajah Zuko.
Ia ingat bahwa saat itu ia hendak menghampiri Zuko untuk menyembuhkan luka bakarnya. Tapi Zuko malah salah paham, dikira Katara hendak mencuri sesuatu di gubuknya. Setelah itu Zuko dengan kasar membuka kedok Katara, sekalipun setelah mengetahui yang sebenarnya, Zuko menyesal dan minta maaf, akan tetapi itu adalah awal dari rasa benci Katara terhadapnya. Saat itu, Katara tidak berkata apapun pada Zuko yang mengejarnya untuk meminta maaf. Katara hanya melempar wajahnya dengan kantung air yang diisinya dengan air chi.
Kini, tahulah Katara bahwa Zuko yang telah menyelinap masuk ke dalam pabrik untuk mengambil teh Maroa. Bukan Aang. Malam itu masih jam 12. Katara sudah merasa baikan, kemudian menyeduh teh untuk Hakoda dan mengobatinya.
Setelah Hakoda sembuh keesokan harinya, Katara pun memberikan teh itu untuk warga desa lain yang keracunan. Setelah semua warga sembuh, mereka pun bersenang-senang dan mengadakan pesta perayaan. Di tengah kegembiraan itu, muncullah para penjaga di pabrik dan menghancurkan kegembiraan para warga desa Jang Hui.
Mereka masih mencari Blue Spirit. Mereka sudah berani kembali karena menurut informasi, pangeran Zuko sudah tidak ada di sana. "Mana Blue Spirit?! Ia mencuri barang dari pabrik dan kami hendak menangkapnya dan memenjarakannya."
Para warga desa tidak tahu apa-apa, para penjaga pun memukuli Hakoda untuk membuat para warga bicara. Tapi mereka tidak tahu apa-apa, dan tidak bisa membiarkan Hakoda terluka. Maka mereka mengambil senjata seadanya dan melawan balik para penjaga.
Para penjaga yang kalah jumlah pun melarikan diri. Para penduduk bersorak sorai atas keberhasilan mereka mengusir para penjaga.
Para penjaga semakin penasaran pada Blue Spirit. Kemudian mereka mengawasi hutan selama beberapa hari, dan mereka mulai mendapati bahwa Blue Spirit hanya muncul pada malam hari dan ia bergelantungan di atas pepohonan, menjelajahi hutan, entah apa yang ia lakukan. Dan para penjaga pun menyusun siasat untuk menyergapnya.
Mereka sudah tahu dimana Blue Spirit sering bertengger. Tempat itu tidak terlalu jauh dari tempat biasa Painted Lady melakukan "River Dance".
Malam itu, Blue Spirit dikepung, mereka membawa jarring dan berhasil menangkap Blue Spirit. Blue Spirit berhasil melepaskan diri setelah memotong jarring itu dengan pedang kembarnya. Ia melawan sebisanya. Para penjaga itu bergabung dengan para bounty hunter dan mengeroyoknya sendirian.
Selagi Blue Spirit terdesak, mendadak mereka dihajar oleh gelombang ombak besar dan membekukan mereka. Setelah itu tampaklah Painted Lady mengamuk dan karena lokasi mereka ada di tepi sungai, hal ini membuat Painted Lady berada di atas angin. Para Bender dibekukan tangannya, dan Blue Spirit bekerja sama , menghajar mereka.
Akhirnya para penjaga dan bounty hunter itu kabur tunggang langgang. "Maafkan kami! Kami salah mencari musuh."
Setelah semua musuh mereka pergi, Painted Lady tersenyum karena ia berhasil menolong Blue Spirit. Saat ia membalikkan tubuhnya untuk menyapa Blue Spirit, Blue Spirit selesai menulis sesuatu di atas tanah dan segera menghilang dari sana. Painted Lady membaca tulisan itu.
"Aku akan berterima kasih padamu."
