Chapter 8 : Power and Responsible

Para oknum pabrik memutuskan untuk melaporkan kerusuhan yang mereka alami ini kepada pemilik perusahaan. Pemilik perusahaan segera datang ke sana 2 hari kemudian dan marah-marah saat mendengarkan cerita lengkapnya. Ia mengatai para petugasnya tidak berguna karena tidak bisa menyingkirkan penduduk desa itu.

"Menurutku, kenapa kita tidak membayar mereka saja untuk pergi meninggalkan desa?" tanya seorang oknum.

Pemilik perusahan marah lagi. "Bodoh! Aku akan rugi kalau kulakukan itu! Untuk apa aku keluarkan uang kalau memusnahkan mereka perahan-lahan saja bisa?"

"Tapi ada 3 orang di sana yang melindungi desa itu. Mengakibatkan keamanan kami terancam."

"Siapa? Kenapa 3 orang saja tidak bisa kalian bereskan? Bukankah aku sudah mengeluarkan cukup uang untuk menyewa bounty hunter?" tanya pemilik pabrik.

"Mereka adalah Painted Lady, Blue Spirit dan Avatar."

Pemilik pabrik terkejut. "Avatar ada di desa itu?"

Para oknum mengangguk. Pemilik pabrik tersenyum. "Aku kenal seorang bounty hunter jagoan yang bisa menghentikan Avatar…"

Keesokan harinya, Aang mencari-cari Zuko di tempat kemarin ia menemukan kemahnya. Ada bekas api unggunnya, tapi tidak ada tanda-tanda orang berkemah di sana. "Zuko sudah pergi…"

"Barangkali dia kabur melihat kemarin ada begitu banyak bounty hunter yang menyerbu kita. Dasar pengecut!" kata Katara dengan kesal.

"Aku heran kenapa dia masih ada di sini, sedangkan ia sendiri tidak mau mengurusi kita?" pikir Sokka.

Aang dengan sabar berkata. "Dia memiliki urusan yang sangat berat. Kalaupun aku menjadi dia, barangkali aku akan berpikir sama dengan dia."

Baru selesai berkata demikian, sebuah sinar melesat ke arah Aang. Untunglah refleks Aang cukup baik sehingga ia berhasil menghindari serangan tersebut. Sokka dan Katara bersembunyi di balik batu sementara Aang masih menghindari serangan-serangan tersebut.

Sekilas, Aang melihat kepada penyerangnya. Seorang lelaki botak dengan mata yang menembakkan laser dari dahinya. Aang menyerangnya dengan jurus-jurus anginnya. Namun semuanya seakan tidak berarti bagi orang itu. "Gila!"

Katara menyerangnya dengan menggunakan pisau es, namun orang itu mampu menangkisnya seperti pasir. Dan dengan marah, ia ganti menyerang Katara. Sokka mendorong Katara sehingga gadis itu selamat. "Lari, Katara! Berpencar!!"

Ketiga orang itu berpencar, namun combustion man mengincar Aang. Saat Katara menyerangnya, Combustion Man ganti menyerang Katara. Namun saat ia menyerang katara, Aang menyerangnya. Combustion Man akhirnya focus menyerang Aang saja.

Pemilik pabrik mengawasi mereka dari atas tebing. Dari kejauhan. Melihat ledakan-ledakan tersebut, ia tertawa senang. "Combustion man adalah orang yang sangat tangguh dan kuat. Ia tidak banyak bicara, tapi sekali melaksanakan tugasnya, ia tidak terhentikan!"

Para oknum yang berdiri dibelakangnya ikut tertawa-tawa. "Anda memang cerdas, tuan."

"Begitu aku berhasil menyingkirkan Avatar, aku bisa menindas warga desa itu hingga mereka tidak tahan dan satu persatu meninggalkan desa itu, dan pabrik ini menjadi milikku." Katanya dengan senang.

Mendadak ada sebuah suara asing menegurnya dari belakang. "Maaf, tapi tampaknya kau harus segera menutup pabrikmu itu."

Pemilik pabrik marah. "Siapa itu yang bicara dengan lancang?!"

Begitu melihat siapa yang berbicara, pemilik pabrik terkejut dan gemetar. "P, Pangeran Zuko? Apa yang anda lakukan di tempat terpencil … dan tidak terdaftar dalam peta ini?"

"Apa yang aku lakukan, tanyamu?" tanya Pangeran Zuko dengan marah, kemudian menatap seorang pegawai dibelakangnya. "Bacakan apa yang ia lakukan."

"Tuan Kyoshu, anda telah melanggar hukum undang-undang Negara perihal ijin mendirikan bangunan nomer 14, pasal 1. dimana anda tanpa surat ijin dari Negara, telah diam-diam membangun sebuah pabrik yang tidak jelas tujuannya.

Dan nomer 30 pasal 2, perihal ijin mendirikan bangunan, dimana anda tidak melaporkan pembangunan pabrik ini, sementara sudah tercatat, pabrik ini dibangun sejak 5 tahun lalu, berdasarkan penyelidikan agen rahasia kami.

Selanjutnya nomer 2 pasal 3, perihal kemanan lingkungan, dimana oknum-oknum pabrik anda menjadi tidak terkendali dan terbukti beberapa kali mencelakakan rakyat kecil yang tidak bersalah. Diantaranya dengan usaha meracuni penduduk dengan menggunakan Maroa, tindak kekerasan dan terorisme dan serangan terhadap rakyat sipil.

Kemudian pelanggaran nomer 22 pasal 4, perihal lingkungan hidup, dimana pabrik anda yang melanggar hukum tanpa ijin dan tidak jelas tujuannya itu telah merusak kehidupan yang sudah terlebih dahulu ada sebelum bangunan anda didirikan.

Lalu pelanggaran nomer 23 pasal 4, dimana juga mengenai lingkungan hidup, bahwa pabrik anda telah mengkontaminasi satwa yang hidup di perairan."

"Anda salah paham, yang mulia. Tidak mungkin saya melakukan itu semua.." katanya memohon ampun.

"Kau tahu Blue Spirit?" tanya Pangeran Zuko.

Kini pemilik pabrik menjadi lebih panik dari sebelumnya. "A, ada apa dengannya?"

"Dia itu agen ku!" kata Zuko. "Aku memerintahkannya untuk menyelidiki kalian. Semua bukti yang ia miliki ada di kantor, dan akan dikuak pada saat pengadilan kalian semua."

Kemudian Zuko berkata lagi pada pegawainya. "Tolong beritahu aku total dari konsekuensi yang harus ia tanggung."

Pegawai itu mengkalkulasikan dan kemudian ia berkata "Pelanggaran pasal 1 minimal tuntutan 5 tahun penjara, pasal 2 bisa minimal 5 tahun penjara, pasal 3 minimal 12 tahun penjara, dan pasal 4 minimal 10 tahun penjara per satu kasus. Jadi total bisa minimal 42 tahun masa penjara. Belum lagi biaya ganti ruginya …"

Sebelum ia menyelesaikannya, pemilik pabrik itu buru-buru bicara. "Ampuni aku! Usiaku sudah 60 tahun. Sebentar lagi aku pensiun. Aku tidak mungkin menghabiskan sisa hidupku di dalam penjara. Aku berjanji akan melakukan apapun bila anda bersedia memaafkan aku, pangeran! Ampuni aku, aku akan bertobat."

Pangeran Zuko bertanya pada pegawainya. "Bisakah diampuni?"

"Tergantung kemurahan hati anda, pangeran, berhubung kasus ini belum di ajukan ke pengadilan resmi." Kata pegawai itu.

"Kau tolong kembali ke kantor pusat. Apabila hingga besok sore kau tidak mendengar kabar dariku, maka kau laporkan saja kasus ini ke pengadilan." Kata Zuko.

Pegawai itu mundur dan pergi ke kota.

"Aku sudah mengajukan desa Jang Hui untuk didaftarkan dalam pendataan Negara Api. Bila sampai saat itu tiba, kami menemukan pabrikmu di sini, sekalipun kau bunuh aku dan pegawai itu, kau tetap tidak akan bisa menyelamatkan dirimu dan kekayaanmu." Kata Pangeran Zuko.

"Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Pertama, bongkar pabrikmu. Kedua, bendaharaku akan menghitung biaya kerugian yang kalian sebabkan dan kalian harus membayarnya."

"Bagi desa itu? biarkan aku menghitungnya sendiri, yang mulia." Pemilik pabrik itu memohon.

Zuko segera menyela nya. "Bukan kerugian untuk desa itu saja. Tapi kerugian bagi Negara Api! Tidakkah kau sadar bahwa kau telah mencemari sungai milik Negara?"

Pemilik pabrik itu hanya bisa mengeluh. Zuko melanjutkan. "Ketiga, kau harus berjanji untuk menaati aturan yang berlaku lain kali bila ingin mendirikan pabrik lain. Keempat, jangan pernah mengusik lingkungan hidup dan warga Negara lain lagi."

Pemilik pabrik itu bertanya. "Tapi aku tidak perlu masuk penjara?"

"Tergantung." Kata Zuko.

"Tergantung apa?"

"Tergantung apakah combustion man yang kau bayar itu melukai teman-temanku yang kalian serang itu atau tidak!!" kata Zuko sambil menunjuk ke arah ledakan-ledakan yang membakar hutan itu.

Pemilik pabrik menjadi panik. Ia lalu memerintahkan para oknumnya untuk menegur combustion man dan menyuruhnya berhenti.

Saat itu Aang, Katara dan Sokka sedang terdesak. Sokka kemudian melesatkan bomerangnya ke arah mati combustion man. Akan tetapi serangannya meleset dan malah membunuh elang combustion man. Sokka berteriak gembira karena akhirnya ia berhasil membunuh seekor burung. "YAY!! BOOMERANG!!"

Akan tetapi itu malah membuat Combustion man semakin mengamuk dan tidak terhentikan lagi.

"Arghh… Boomer, Aang..?!" keluhnya.

Bahkan saat para oknum itu menghalanginya, combustion man malah memukuli mereka. Melihat itu, pemilik pabrik menjadi panik. "Ah tidak! Hari tuaku terancam! Apa yang harus kulakukan!?"

Zuko pun melepas jubahnya dan menolong ketiga temannya. Ia tidak mungkin menyamar jadi Blue Spirit, karena bila ia lakukan itu, pemilik pabrik akan mengetahui bahwa ia adalah blue spirit, dan resikonya, ia bisa kelepasan bicara. Ia tidak ingin Katara tahu bahwa ia adalah Blue Spirit, karena Katara membencinya, namun ia tidak membenci Blue Spirit. Ia tak mau Katara juga membenci alter egonya.

Kini Combustion Man melawan pangeran Zuko yang bersenjatakan fire bending saja. Zuko tidak mau menggunakan broadsword kembarnya karena ia tidak mau gerakkannya terbaca dan membuat Katara sadar. Ia hanya melawan combustion man dengan tangan kosong dan fire bending.

Tapi combustion man terlalu kuat. Zuko seperti anak kecil dibuatnya. Zuko tidak bisa mendekatinya, Combustion man pandai menjaga jaraknya. Dan berkali-kali Zuko ditangkap dan dilempar ke tanah atau pohon.

"Pangeran Zuko!" seru Sokka dengan terkejut.

"Zuko? Kenapa ia bisa tiba-tiba muncul?" tanya Aang terkejut.

Katara merasa kacau. Di satu sisi, ia masih marah pada Zuko, tapi di sisi lain, ia senang karena Zuko muncul untuk melawan Combustion man. Akhirnya Katara mengambil air dari sungai dan digunakannya untuk melawan Combustion man. Combustion Man menghindari dinding es yang akan menimpanya itu dan memukulnya balik ke pelemparnya. Katara tertabrak dinding esnya sendiri dan tersungkur di lantai. Aang segera berlari ke arahnya dan memapahnya. "Katara!"

Zuko menjadi marah. Namun sisi positifnya, combustion man teralihkan sebentar sehingga Zuko bisa meraih tangannya dan meletakkan tangan kirinya di perut combustion man. Lalu dengan energi chi nya, Zuko memanggang organ-organ tubuh Combustion man. Karena tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, maka dibutuhkan lebih banyak energy kali ini. Combustion man pun akhirnya rebah tak bernyawa di atas tanah. Zuko sangat keletihan.

Sokka memapahnya. "Kau tidak apa-apa?"

Nafas Zuko terengah-engah. Ia merasa pusing karena energinya terkuras. Namun ia segera menenangkan diri dan memulihkan kondisinya. Sementara itu, Katara sudah bisa berdiri dari lukanya yang tidak berarti. Ia mendatangi Zuko. "Zuko .. terima…"

Zuko sudah memotong ucapannya. "Katara. Terima kasih."

Katara terkejut. "Ha? Kenapa kau yang berterima kasih padaku?"

Zuko memberi salam khas Negara api. Tangan kiri terkepal, di atasnya telapak tangan kanan terbuka, kemudian membungkuk. Dengan sopan, Pangeran Zuko menjelaskan. "Terima kasih karena telah memintaku untuk tidak egois dan memanfaatkan kekuatan yang kumiliki. Aku selama ini terlalu mementingkan kepentinganku sendiri, dan menutup mata dari mereka yang sesungguhnya membutuhkan pertolonganku….. aku merasa begitu pengecut karena aku seharusnya bisa menolong mereka lebih awal."

Katara memeluknya penuh kelegaan. "Aku kira…. Sudah tidak ada harapan lagi bagi kami. Terima kasih."

Petang itu, pemilik pabrik dipulangkan dan pabrik di kosongkan. Para oknum yang bertugas didata dengan lengkap dan setelah itu mereka dipulangkan untuk menunggu keputusan Pangeran Zuko. Setelah itu, Zuko mengirimkan surat lewat kurir untuk pegawai pengadilan yang tadi dipulangkannya lebih awal. Surat itu berisi pengampunan, dan memberi kesempatan bagi pemilik pabrik untuk memperbaiki diri. Namun Zuko juga meminta untuk menyimpan data-data, catatan dan barang buktinya bila sewaktu-waktu pemilik pabrik itu berbuat onar atau melanggar kesepakatan.

Setelah itu, malam harinya, para warga Jang Hui mengadakan pesta perayaan untuk berterima kasih pada Zuko. Mereka optimis pada Zuko yang mereka yakini kelak akan menjadi Fire Lord mereka yang baik dan perduli pada rakyat sipil seperti mereka.

Saat para warga dewasa bersenang-senang dan mabuk, Zuko menghampiri Aang yang sedang berdiri di beranda lalu membungkuk berterima kasih. "Terima kasih Avatar. Karena telah menyadarkanku…"

Aang tersenyum senang. "Sama-sama. Aku juga harus berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan nyawaku."

Zuko tersenyum. Ia dan Aang lalu mengobrol-ngobrol dengan akrab seperti saudara. "Kalau kau Avatar, maka berarti kau kakek dari ibuku, dan membuatmu menjadi kakek buyutku?"

Aang meralat. "Bukan aku. Tapi kehidupanku yang dahulu."

"Masih bisakah aku memanggilmu kakek buyut?"

Mereka berdua tertawa-tawa. Kemudian saat pembicaraan menjadi lebih serius, mereka membicarakan kemungkinan dimana letak penjara yang menyekap ibunya berada. Sokka tidak sengaja mencuri dengar, dan ia berkata sambil duduk di antara mereka. "Hei, beberapa hari lalu saat aku sedang iseng berjalan-jalan di padang rumput selatan, agak jauh dari sini, aku melihat ada sebuah goa tersembunyi. Dan dari sana terdengar suara-suara. Entah suara raungan orang atau hanya suara angin saja…. Tapi kurasa itu cukup menyeramkan."

"Barangkali aku harus memeriksanya." Kata Zuko.

"Mau kutemani?" tanya Aang.

"Tidak perlu. Ini urusan ku pribadi. Dan kurasa tempat itu bukan tempat aman. Bisa membahayakan keselamatanmu, Avatar." Kata Zuko.

"Hei, tidak usah sungkan kalau kau butuh bantuan. Aku memiliki banyak waktu luang. Lagipula, bukankah kau ini cicit ku? Aku harus menyelamatkan cucuku juga." Kata Aang bergurau. Membuat Zuko tertawa.

"Bukankan katamu para Penggembara Angin sedang perang saudara?" tanya Sokka.

Aang langsung murung. Kemudian ia menunduk dan berpikir. Akhirnya dengan wajah optimis, ia berkata kepada dua orang temannya. "Aku akan kembali ke kampung halamanku kalau begitu."

Sokka menjadi bersemangat. "Aku ikut! Kapan kau akan berangkat?"

"Mungkin besok."

"Cepat sekali?" tanya Zuko.

Aang mengangguk. "Aku telah belajar sesuatu di sini. Aku bisa memperjuangkan kampung halaman orang lain, tapi kenapa tidak dengan kampung halamanku sendiri? Aku akan menyelesaikannya. Apalagi aku adalah seorang Avatar. Sudah menjadi tugasku."

Sokka mengeluarkan botol minuman. "Kalau begitu, mari kita toast."

Aang dan Zuko mengangkat gelas mereka dan toast. Sokka kemudian berkata. "Setelah kita semua selesai dengan urusan dan tugas masing-masing, bagaimana kalau kita berkumpul lagi di sini?"

"Untuk apa?" tanya Zuko. Ia ingin hidup damai di Ba Sing Se dan tak ingin kembali lagi kemari. Karena ikan-ikan di sini membuat perutnya mulas.

"Karena ini adalah tempat yang mempertemukan kita. Tempat ini sangat berarti bagiku. Mengenalkanku pada seorang Avatar…." Sokka menepuk bahu Aang. Kemudian ia menepuk bahu Zuko dengan tangannya yang lain. "…dan cicitnya."

Mereka tertawa-tawa lagi. Zuko melihat katara di ruangan sebelah. Ia sedang bercanda dengan teman-teman perempuan sebayanya. Kemudian ia tersenyum.