Chapter 9 : Die Hard

Keesokan paginya, Katara mengantarkan tiga orang temannya pergi meninggalkan Jang Hui. Katara memberikan Sokka bekal makanan dan berulang kali memperingatinya untuk tidak makan sembarangan dan berpandai-pandai menjaga diri. Hakoda memeluk Sokka. "Sudah saatnya kau melihat dunia, anakku."

Kemudian Katara masih cerewet. "Sokka, ingat, jangan minum minuman keras, aku tahu kau diam-diam selalu ingin mencobanya!"

Sokka menjadi kesal. "Iya, iya. Cerewet… kau ini kan adikku, bukan ibuku. Maka dari itu, jadilah adik yang baik dan jaga ayah baik-baik!"

"Dan jangan minum buah kaktus!" katanya lagi. Sokka mengeluh.

Keduanya terdiam saling pandang. Namun kemudian tatapan Katara melunak. "Aku akan merindukanmu, kakak."

Sokka tertawa ringan saat Katara memeluknya. "Hei, hei… yah… aku juga akan merindukanmu, dik."

Setelah melepaskan pelukannya pada Sokka, Katara menatap Aang. "Aang.."

Aang juga menatapnya sambil tersenyum lembut. Kemudian Katara memeluknya. "Selamat tinggal."

Kedua pipi Aang bersemu merah saat Katara memeluknya. Kedua orang itu pun pergi meninggalkan Jang Hui. Hakoda menatap Sokka sedih. "Semoga ia kembali dengan selamat."

Katara tersenyum pada ayahnya. "Jangan khawatir, ayah. Sokka lebih tangguh dari yang terlihat. Ia kakakku."

Hakoda membelai rambut putrinya. Kemudian Zuko menghampiri mereka. "Paman Hakoda, Katara, aku sudah pamit dengan seluruh warga desa, dan kini saatnya aku pamit dengan kalian."

Hakoda tertawa. Kemudian ia memberi hormat ala Negara Api. "Senang mengetahui bahwa kelak Fire Lord berikutnya adalah seorang yang mencintai rakyat."

Zuko juga membalas salam hormat Hakoda. Kemudian Hakoda segera berlalu meninggalkan putrinya berdua dengan Zuko. Namun keduanya malah bingung mau berkata apa.

"Selamat tinggal…" kata Zuko, bersamaan dengan pertanyaan Katara. "Akankah kau kembali lagi?"

Keduanya tersenyum kecil. Kemudian Zuko mengecup dahi Katara. "Selamat tinggal."

Setelah itu, tanpa menunggu respon dari Katara, Zuko dan para pengawalnya segera meninggalkan desa Jang Hui.

3 hari dihabiskan Katara dengan tidur-tiduran dengan lemas di atas kasurnya. Ia merasa mendadak semua orang pergi. Sokka yang berisik dan sarkastik, Aang yang ceria dan penuh kegembiraan, dan Zuko.

Baru setelah itu, Katara kembali bangkit dari tempat tidurnya dan kembali ke goa nya dimana ia melukis wajahnya dan kembali membersihkan sungai dan menyembuhkan beberapa warga yang terserang penyakit.

Saat Painted Lady sedang membersihkan sungai, ia melihat sekelebat bayangan hitam melesat dari pepohonan yang tidak begitu jauh darinya. Painted Lady terkejut dan bersemangat. "Blue Spirit?"

Painted Lady mampu melihat bayangan hitam itu melesat ke arah selatan. Di seberang danau di selatan, ada sebuah padang ilalang yang sangat luas. Painted Lady kali ini tak mau melepaskan Blue Spirit. Ia mengejar Blue Spirit hingga padang ilalang selatan. Painted Lady mempercepat larinya sebelum Blue Spirit menghilang di balik horizon atau pepohonan.

Dan, sesuatu sedikit mengejutkan Painted Lady.

Blue Spirit berdiri tenang di tengah padang ilalang. Ia menghadap ke arah selatan, memunggungi Painted Lady. Ia berdiri tenang di sana, tidak tergoyahkan angin kencang yang menerpanya dan ilalang di kakinya. Seakan ia menunggu Painted Lady.

Painted Lady pun berlari ke arahnya. Blue Spirit tidak bergerak. Painted Lady terus berlari menembus ilalang setinggi pinggangnya.

Setelah mereka hanya berjarak kurang dari satu meter, Painted Lady bertanya padanya. "2 tahun ini, aku baru melihatmu sekarang. Bahkan setelah masalah pabrik itu selesai, kau masih terlihat di sini.. Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini?"

Blue Spirit hanya diam tak bergeming. Namun Painted Lady masih mampu melihat gerakan kecil di tubuhnya. Gerakan manusia bernafas. Nafasnya sangat tenang dan normal. Painted Lady kembali membujuk. "Tidak apa-apa, bicaralah… aku ingin mendengar suaramu, maka aku percaya bahwa kau bukan Pangeran Zuko."

Baru setelah berkata demikian, Blue Spirit perlahan menoleh ke belakang, kepada Painted Lady. Topeng Blue Spirit menatap dingin kepada Painted Lady. Painted Lady perlahan melangkah lebih dekat lagi pada Blue Spirit dengan mata penasaran. Ia kemudian mengangkat tangannya dan menyentuh topeng itu dan mengusapnya sedikit. Topeng itu terbuat dari kayu. Seperti topeng-topeng opera lainnya.

Namun begitu Painted Lady hendak membukanya, Blue Spirit segera memeluknya dengan cepat. Kemudian ia berdesis sehingga suara aslinya tetap tersamar. "Pulanglah, Katara. Sudah jam 3 pagi. Kau pasti lelah."

Painted Lady terkejut karena Blue Spirit mengetahui jati dirinya. Dan selama ini, baru Lee alias Zuko yang mengetahui siapa dirinya. Saat Painted Lady tercengang, Blue Spirit sudah melepaskan pelukannya dan melompat, menghilang dibalik horizon.

Blue Spirit akhirnya mengetahui letak penjara tersebut. Memang betul kecurigaan Sokka. Ia terletak di perut sebuah goa di padang ilalang selatan dari Jang Hui. Blue Spirit masuk ke dalam goa itu yang makin lama semakin besar. Dan beberapa obor mulai tampak tergantung di dinding.

Tidak ada perangkap, tidak ada pintu rahasia. Karena letak goa itu sendiri sudah merupakan rahasia. Blue Spirit dengan cepat mencapai perut goa itu dan melihat penjara yang luas di perut Goa. Di sana, ada beberapa tahanan yang diikat dan dicambuki. Ada beberapa tahanan yang menjadi gila karena penjaganya sendiri lupa berapa tahun seharusnya ia dikurung. Jeritan kesakitan dan keputus asaan mewarnai tempat itu.

Blue Spirit memukul pingsan seorang penjaga dan melucuti pakaiannya. Setelah itu ia mengikatnya di sebuah penjara isolasi dan mengikatnya di sana. Mulutnya ia tutupi dengan menggunakan kain rombeng yang baud an kotor. Ia takkan bisa berteriak-teriak dan membebaskan diri saat ia bangun nanti.

Blue Spirit melepas topengnya dan menggantungkanya di bagian belakang lehernya. Setelah itu tanpa melepas pakaiannya, ia menutupi tubuhnya dengan seragam sipir penjara yang baru dijarahnya. Tak lupa ia menggunakan helmnya juga. Kini Blue Spirit dengan leluasa menjelajahi penjara tersebut.

Ia menemukan ruangan kepala penjara dan mengunci pintunya. Kemudian ia menyerang kepala penjara itu dan menempelkan tangan kirinya. "Aku pernah berkelana ke reruntuhan Sun Warriors dan dari reruntuhan itu aku belajar cara membakar organ tubuh manusia. Kalau kau tidak ingin seluruh isi perutmu menjadi steak, sebaiknya kau beritahu aku, dimana Lady Ursa dikurung."

Kepala penjara itu tidak percaya. "Itu tawanan yang penting di sini. Dan sayangnya, aku lebih takut pada Fire Lord Ozai daripada kau, maling kecil. Mana mungkin aku memberitahumu?"

Zuko membakar sedikit bagian dalam tubuh kepala penjara itu. Kepala penjara menjerit-jerit kesakitan. Kemudian ia berkata. "Baik, baik aku katakan!! Stop!!"

Zuko masih membakarnya. Kepala penjara meraung-raung. Lalu ia berkata "Lady Ursa ada di penjara basement 3, dan ia dikurung di sel nomer 13."

Zuko kemudian mengikatnya di kursi penyiksaan yang ada di ruangan kepala penjara itu. Ikatannya sangat kencang. Ia tidak lupa memasukkan sarung tangan kepala penjara itu ke dalam mulutnya sehingga ia tidak bisa bicara atau berteriak-teriak. Zuko kemudian keluar dan mengunci pintu sel ruangan kepala penjara itu. Kalau Zuko berhasil membebaskan ibunya, kepala penjara tidak mungkin melapor pada ayahnya, karena ia tadi pun mengatakan bahwa ia takut pada Fire Lord Ozai.

Zuko segera turun ke basement 3 dan mencari pintu nomor 13. Setelah melumpuhkan penjaganya dan menyeretnya masuk sel, ia pun bertemu ibunya. "Ibu!"

Lady Ursa kebingungan, tentu saja. Kemudian Zuko membuka helmnya. "Ini aku, Zuko."

Lady Ursa terharu, senang dan lega. Ia memeluk Zuko dengan penuh rasa syukur. "Bagaimana kau bisa sampai kemari, nak? Bagaimana kau bisa menemukan penjara ini?"

"Nanti saja ceritanya kalau kita sudah aman. Ayo, ibu harus ikut aku ke Ba Sing Se. Kita tinggal bersama paman Iroh dan Lu Ten!" kata Zuko yang segera memakai helmnya.

Kemudian ia melucuti pakaian sipir penjara itu dan meminta ibunya untuk mengenakannya. Setelah itu Zuko pun mengikat sipir penjara itu dan membungkam mulutnya dengan menggunakan kaus kaki sipir itu sendiri. Setelah itu Zuko mengunci pintu penjara itu dan naik ke atas.

Namun baru sampai basement 2, sudah terdengar bunyi sirene. Kepala penjara sudah bebas rupanya. Ia kemudian melepaskan Doghound kecil untuk melacak Zuko dan ibunya. Mereka menggunakan sampel aroma Lady Ursa. Zuko tetap berlari sambil menggandeng ibunya dengan berhati-hati.

Di basement 1, ia menutup pintu sel yang terbuat dari baja itu, dan lalu dari jari telunjuknya, ia mengeluarkan semburan api dan mengelas pintu baja itu sehingga besinya meleleh dan tidak bisa dibuka. Namun di pintu keluar, ia dihadang oleh 20 pasukan penjaga dengan senjata pedang. Zuko menyuruh ibunya berlindung di pojok ruangan. Kemudian ia melepas topeng dan seragam sipir penjara yang dipakainya dan mengeluarkan pedang kembarnya, mengambil posisi kuda-kuda untuk menghadapi mereka.

"Hei, itu Pangeran Zuko." Para sipir kebingungan.

"Apa yang harus kita lakukan? Kalau kita celakai dia, kita bisa dihukum Raja."

"Masa bodoh dengannya! Bukankah kepala penjara memberi kita perintah : Eliminasi siapapun dia?! Dan sudah menjadi hukum penjara ini bahwa yang kabur berarti harus mati?? Sudah, bunuh dia!!"

Zuko berputar untuk mengumpulkan udara sebagai pelumas api yang akan dikeluarkannya. Kemudian dengan sekuatnya, ia menyemburkan api dari kedua tinjunya. Para sipir yang berdiri di depan terpanggang api dan sibuk mencari air. Mereka tidak lagi memperdulikan Zuko.

Kini tinggal 17 orang. 3 orang dibelakangnya adalah fire bender, dan mereka menyembur api ke arah Zuko. Zuko melindungi tubuhnya dari dinding api. Kedua api berbenturan dan menyelamatkan Zuko. Zuko menghindari dirinya dikepung, dan dengan cepat melesat dan membelah perut dua orang sipir yang segera tergeletak ke atas lantai.

15 orang tersisa. Zuko segera berputar di atas tanah dan dari udara yang bergesek, timbul blade of fire yang tidak hanya menyayat kulit sipir penjara tersebut, namun juga membakar mereka. 4 orang down.

11 orang berdiri di hadapan Zuko. Zuko kembali mengawasi mereka dengan hati-hati. Kuda-kudanya cukup kuat dan saat dua orang dengan pedang maju, Zuko berguling untuk menghindar. Namun ia tersayat oleh dua orang di belakang dua penyerangnya. Zuko melompat mundur sambil mengayunkan senjatanya ke belakang, menciptakan Blade of Fire lain yang melumpuhkan dua orang di belakangnya, dan segera berputar lagi untuk menyerang 2 orang yang tadi berhasil melukainya. Satu orang down, namun satu lagi berhasil menghindar.

8 orang lagi yang harus dihadapinya. Zuko ekstra hati-hati. Sayatan tadi mengenai dadanya dan menyayat cukup dalam. Darah mengucur deras. Zuko memutar tubuhnya dan menyambar 5 orang yang mengepungnya. 3 diantaranya berhasil menangisnya dan membalas. Zuko melompat untuk menghindar. Saat ia melewati seorang sipir, ia mengayunkan pedangnya sehingga sipir itu tertusuk punggungnya.

Akhirnya tingal 5 orang. Begitu Zuko mendarat, ia menyemburkan api raksasa untuk memanggang orang di depannya. Tinjunya bagaikan Flame Thrower. 3 detik kemudian, seseorang dengan tubuh terbakar, menyeruak dari balik api dan menyerangnya. Zuko segera menangkisnya. 3 orang jatuh terbakar. Setelah itu Zuko beradu pedang dengan orang ini. Saat pedang mereka beradu, Zuko menyemburkan nafas apinya dan membakar helm orang itu. orang itu berlari keluar mencari sumber air sambil berteriak-teriak.

Tinggal 1 orang tersisa. Ia adalah orang yang menyuruh teman-temannya untuk membunuh Zuko dan Lady Ursa. Ia selamat karena menggunakan kedua temannya sebagai tameng yang melindungi tubuhnya dari api Zuko.

"Kau cukup tangguh sebagai seorang anak kecil. Tapi daritadi kau menyemburkan api dengan kuat dan dalam jumlah besar. Apakah kau tidak kelelahan sekarang?" tanyanya setengah mengejek.

Zuko memang terengah-engah. Ditambah lagi luka di dadanya masih mengucur deras. Kini ia merasa sedikit dingin di tengkuknya. Pertanda, darah di tubuhnya mulai menipis. Namun demi ibunya, Zuko harus mengalahkan orang ini. Ia tidak perduli seandainya ia nanti mati. Ia sudah membawa ibunya hingga mulut goa, setidaknya bila ia kehilangan nyawanya, ibunya masih bisa selamat.

Tapi bila ibunya selamat, siapa yang akan menampungnya?

Zuko tidak memikirkan orang lain kecuali Katara.

Dan orang ini segera mengayunkan kedua morning starnya kepada Zuko. Zuko menyemburkan tinju apinya. Orang itu menangkisnya. Zuko melompat mundur. Zuko bertolak dari dinding untuk menusuk orang itu langsung.

Tapi ia terlalu tangguh. Ia berkelit dan melepaskan satu ayunan yang mengenai bahu Zuko. Duri dari morning star melukai bahu kanannya. Zuko menjerit, namun masih bisa mendarat dengan mulus. Pedang di tangan kanannya terlepas karena tangan kanannya kesakitan.

Orang itu sudah mampu mendapatkan keseimbangannya kembali. Zuko tidak bisa mengendalikan tangan kanannya yang sakit, maka ia menghindarinya saja. Satu ayunan ke kepala Zuko yang tidak kena itu menghancurkan tanah.

Orang itu mengetahui bahwa Zuko menghindarinya ke belakang. Dan orang itu berbalik sambil menendang pedang Zuko yang tergeletak di lantai. Pedang itu melayang ke leher Zuko. Zuko masih punya tangan kirinya. Ia menangkisnya kuat-kuat.

TRANKK!!

Zuko terjerembab di dinding goa. Orang itu melaju sambil berteriak untuk menghancurkan kepala Zuko. Zuko melempar pedang di tangan kirinya dan menggores tangan kanannya, membuat dua jarinya terputus. Sipir kuat itu menjerit kesakitan. Zuko berdiri, mengambil kuda-kuda dan memukul perut sipir terakhir dengan kedua telapak tangannya…. Dan terdengar suara letusan-letusan kecil dari tubuh sipir itu. Tak lama, sipir itu terjatuh tak bernyawa ke lantai goa.

Zuko baru bisa bernafas lega. Lady Ursa segera mengambil pedang Zuko dan menghampiri putranya. Ia hampir menangis melihat putranya bersimbah darah. Tapi Zuko tidak terlihat kesakitan. Ia menutupi wajahnya dengan topen Blue Spirit lagi agar ibunya tidak melihatnya kesakitan. Kemudian ia mengambil pedang yang satunya lagi dan membawa ibunya pergi dari goa penjara tersebut.

Mereka berdua berlari melintasi padang ilalang selatan. Zuko merasa sangat lemas dan dingin. Darahnya bercucuran dari luka-lukanya, dan sebelah tangannya terlalu sakit untuk digerakkan. Tapi ia harus mengantar ibunya sampai ke Jang Hui baru ia merasa lega.

Tapi belum sampai ke seberang, pandagannya sudah kabur dan ia terjatuh pingsan. Lady Ursa histeris melihat putranya tumbang. Ia memeluk anaknya sambil berteriak minta tolong. Namun di sana tidak ada orang. Lady Ursa dengan putus asa memeluk anaknya sambil menangis.

Namun Lady Ursa berhenti meratapi putranya setelah seorang gadis dengan pakaian mantel, topi jerami dan tubuh penuh lukisan muncul di hadapannya dan berjongkok sambil meletakkan air pada luka Blue Spirit.