Chapter 10 : Dreams of Fire

Mereka membawa Blue Spirit ke tepi danau. Disana ia dibaringkan. Nyawanya masih bisa diselamatkan. Untunglah staminanya cukup besar sehingga masih bisa bertahan. Tidak ada yang saling berbicara. Painted Lady ingin sekali membuka topeng Blue Spirit yang sedang tidak sadarkan diri. Akan tetapi ia ingin Blue Spirit sendiri yang membuka topengnya. Ia tidak ingin memaksa.

Saat matahari terbit, kekuatan Blue Spirit pun berangsur-angsur kembali. Dan ia menjadi cukup kuat untuk membuka matanya dan terbangun. Namun begitu menyadari ada Painted Lady sedang duduk diam bersama ibunya, Blue Spirit melarikan diri. Painted Lady memanggilnya. "Tunggu!"

"Kejarlah. Ia memang pergi, tapi ia takkan jauh." Kata Lady Ursa sambil tersenyum pada Painted Lady. Painted Lady pun membalas senyum Lady Ursa. Ia melepaskan topi jeraminya dan menyusul Blue Spirit masuk ke dalam hutan untuk mencarinya. Entah di atas pepohonan atau di balik semak.

Painted Lady kemudian memanggil Blue Spirit yang entah bersembunyi dimana. "Aku hanya ingin berterima kasih padamu! Kau selalu membantuku, tapi kau tidak pernah berbicara denganku."

Painted Lady berjalan menelusuri hutan. Tak lama, ia menoleh ke atas. Blue Spirit ada di sana, sedang menatapnya. Akhirnya Blue Spirit berayun dan berdiri di hadapan Painted Lady. Kemudian ia berkata "Urusanku di sini sudah selesai. Kau takkan melihatku lagi. Jadi kupikir kita tidak usah berbicara sekalian."

Painted Lady berkata dengan sedih. "Tapi katamu, kau akan berterima kasih padaku."

"Aku sudah berterima kasih padamu." Kemudian Blue Spirit membuka topengnya perlahan.

Katara pun tersenyum dan berkata "Benar. Kau telah berterima kasih padaku."

Zuko tersenyum dan mengangguk. Dan dengan gerakan yang sangat cepat, Katara segera menggenggam tangannya erat-erat. Karena ia merasa bahwa Zuko akan segera melompat dan menghilang lagi. "Kenapa kau terus mengawasiku?"

"Perasaanmu saja." Jawab Zuko sambil memalingkan wajahnya perlahan dengan sedikit tersipu.

Katara menggeleng. "Aku terus "menari" karena aku melihat topengmu di balik dahan pohon. Terpantul dari bayangan air yang kuangkat…"

Pipi Zuko memerah. Ia tidak bisa menjawab. "Kemarin kau berkata selamat tinggal, tapi kau muncul lagi. Sekarang kau pun berkata takkan kemari lagi. Apakah kau akan kembali lagi?"

Zuko tidak pernah menjawabnya. Awalnya ia hanya menatap Katara saja. Namun kemudian ia membelainya, mengetahui Katara menyambut tangannya, Zuko akhirnya memeluknya dengan hangat. Zuko sesungguhnya terlalu pemalu untuk mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata. Namun saat Katara menciumnya, Zuko membalas kecupannya dengan lembut namun sungguh-sungguh.

Setelah sebuah kecupan hangat yang singkat, Zuko menarik wajahnya sambil tersenyum lebar. Katara tertawa kecil dan riang. Kemudian ia berkata "Titip ibuku sementara waktu."

Zuko kali ini melompat pergi dan menghilang dengan ramah. Katara mengajak Lady Ursa ke rumahnya dan menyambutnya seperti ibunya sendiri. Hakoda cukup ramah padanya.

Zuko ternyata pergi ke pelabuhan untuk mempersiapkan kapal pelayaran ke Earth Kingdom beserta passport palsu. Beberapa hari kemudian, seorang pemuda dengan pakaian kuning kecoklatan datang ke Jang Hui untuk menjemput Lady Ursa.

Katara mengantar Zuko cukup jauh sehingga beberapa kali Zuko menyuruhnya kembali. "Awas tersesat nanti."

"Aku sudah 2 tahun lebih tinggal di sini. Bagaimana mungkin aku bisa tersesat?" tanya Katara.

Zuko menyerahkan topeng Blue Spiritnya pada Katara dan berkata. "Sudah, sampai di sini saja. Pulang sana."

Katara menerimanya. Lalu Zuko berkata padanya. "Selamat tinggal. Terima kasih atas segalanya."

Kemudian Zuko melambaikan tangannya dan berjalan mengiringi ibunya yang juga melambaikan tangannya dengan ramah pada Katara. Zuko tidak pernah menoleh lagi ke belakang.

Pabrik itu sudah dihancurkan, dan kini warga desa sudah mengetahui bahwa Katara adalah sang Painted Lady. Seorang earth bender datang ke Jang Hui untuk membantu Katara membersihkan sungai yang tercemar. Kini segalanya menjadi lebih mudah. Saat Katara mengangkat air, earth bender itu memisahkan tanah yang terkandung di dalamnya. Karena tak ada tambahan polusi lagi setiap hari, maka desa itu menjadi cepat bersih.

Dan tak lama, seorang inspektur datang ke Jang Hui untuk mendata desa tersebut. Tak lama kemudian, desa itu diresmikan oleh gubernur setempat dan terdaftar sebagai daerah Negara Api. Sejak itu, Jang Hui dapat dilihat di peta Negara Api yang terbaru.

6 bulan telah berlalu sejak Jang Hui diresmikan sebagai daerah Negara Api. Secara rutin, satu bulan sekali, seorang inspektur datang untuk mengontrol dan mengawasi daerah tersebut.

Keadaan sudah membaik di Jang Hui. Para penduduk mendirikan patung Painted Lady terbuat dari kayu. Di pajang di tengah kota. Dan pedagang kerang dengan malu-malu meminta maaf pada Katara. "Sekarang kau melihat sendiri Painted Lady di hadapanmu."

Pedagang kerang masih membuat alasan. "Mereka bilang dia semacam arwah, mereka tidak mengatakan bahwa Painted Lady seorang water bender…."

"Apapun itu, kau telah berhasil memancing amarahku." Kata Katara sedikit mengambek.

"Ampun… aku hanya menggodamu." Kata pedagang kerang sambil menyeringai. Kemudian ia menyerahkan sekeranjang kerang untuk Katara. "Nih. Katanya Hakoda suka makan kerang rebus? Aku berikan untukmu. Tapi hari ini saja ya. Lain kali kau tetap harus bayar."

Katara senang. "Baiklah. Terima kasih."

Baru saja Katara hendak pergi, pedagang itu memanggilnya. "Katara!"

"Ya?" Katara menoleh kepadanya.

"Lalu…. siapa itu Blue Spirit?" tanya pedagang kerang itu.

Katara tersenyum lembut. "Aku yakin orangnya tidak suka dibicarakan."

Kemudian Katara meninggalkan pedagang kerang itu dan pulang ke rumahnya. Semua penduduk menghormati dan mencintainya begitu mengetahui ia adalah Painted Lady. Mereka sangat berterima kasih karena telah menyelamatkan mereka dari banyak penyakit aneh dan penyakit kulit. Terkadang Katara menerima sedikit barang atau makanan dari penduduk sebagai rasa terima kasih mereka padanya. Sekalipun tidak semua hadiah diterimanya, namun Katara harusnya penuh kebahagiaan.

Ya. Saat ia sendirian, ia tidak bisa tersenyum. Ia hanya menerawang dan menghela nafas. Ia sedih karena Zuko benar-benar tidak kembali lagi. Terpikir olehnya untuk mencarinya di Ba Sing Se. Tapi Katara tidak mau meninggalkan ayahnya sendirian. Dan saat ia hendak masuk ke dalam rumahnya, ia menginjak sebuah sandal asing.

Katara kebingungan sandal milik siapa ini?

Kemudian ia masuk ke dalam rumahnya dan melihat Hakoda tampak aneh. Ia seperti terkejut akan kedatangan putrinya. "Banyak sekali kerang itu. Untuk apa?"

"Pemberian pedagang kerang." Kata Katara.

Hakoda sangat bersemangat dan melihat-lihat kerang yang besar-besar dan gemuk itu. "Wah… kapan kau akan memasaknya?"

Namun perhatian Katara tidak pada Hakoda atau pun kerang tersebut. Ia sibuk melihat-lihat rumah, melongok-longok, penasaran itu sandal milik siapa. "Nanti pasti kumasak… ayah, apakah ada tamu? Sandal siapa itu didepan?"

"Sandal apa? Itu sandal baru pemberian tetangga." Kata Hakoda yang masih asik melihat-lihat kerang. Katara mengeluh. "Baguslah… terkadang aku merasa lebih baik bila mereka tidak tahu siapa aku. Aku merasa pemberian mereka begitu berlebihan."

"Tidak apa-apa, nak. Yang penting kita tetap sama seperti dahulu dan tidak menjadi congkak." Kata Hakoda.

Katara membuka pintu kamarnya dengan lemas. Ia ingin segera membaringkan diri di atas kasurnya. Namun ia terkejut setelah melihat Zuko berdiri di sana sambil memandangi topeng Blue Spiritnya yang dipajang di dinding kamar Katara. Zuko menatap Katara dan tersenyum. "Hai. Ba Sing Se terlalu luas dan sumpek. Tapi masih memiliki tempat untukmu dan ayahmu. Kau mau pindah ke sana?"

Emosi Katara meluap saat ia melihat Zuko. Ia segera memeluk Zuko dengan erat sambil menjawab pertanyaannya. "Tidak!"

Zuko menyambut pelukan Katara sambil melanjutkan "Sayang sekali… aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, tapi aku sudah punya pekerjaan enak di Ba Sing Se."

"Kalau begitu tetaplah tinggal di sana." Kemudian Katara melepaskan pelukannya. "Kau selalu diterima di sini."

Katara membawa Zuko berjalan-jalan melihat-lihat bagaimana Jang Hui akhirnya. Air Jang Hui tidak lagi bau dan berwarna coklat. Dan Zuko tidak lagi sakit perut saat makan ikan di Jang Hui. Mereka tidak perlu lagi takut keracunan teh Maroa. Saat mereka melihat patung Painted Lady, Zuko menggoda Katara. "Sepertinya dia terlalu tinggi."

Mereka sangat menikmati saat-saat bersama. Tidak terlalu mengekspos perasaan mereka, cukup dengan tatapan, mereka sudah saling mengungkapkan perasaan mereka sehingga seorang anak kecil yang melihat mereka, tersenyum sendiri dan bertanya pada ibunya. "Ibu, katanya Painted Lady adalah kekasih Blue Spirit. Apakah lelaki itu Blue Spirit?"

Ibunya menjadi malu karena anaknya bicara terlalu keras. Ia tersenyum malu pada Katara dan Zuko dan berkata pada anaknya. "Bukan, nak. Itu Pangeran Zuko."

Para penduduk tidak pernah melihat Blue Spirit dan Painted Lady bermesraan atau berpacaran. Tapi mereka berspekulasi sendiri bahwa Blue Spirit pasti kekasih Painted Lady. Karena berdasarkan kisah yang beredar tidak dari mulut Katara, Blue Spirit tampaknya selalu mengawasi Painted Lady, dan Painted Lady selalu mendukung Blue Spirit saat mereka sedang terkena bahaya. Tentu saja mereka tidak terang-terangan menanyakannya pada Katara. Hanya sekadar gossip.

Setelah ibu dan anak itu pergi, suasana diantara Katara dan Zuko menjadi kaku. Mereka tidak berani saling menatap lagi. Namun kemudian Zuko menggenggam tangan Katara. "Ada tempat lain yang menarik di sini?"

Katara pun membawa Zuko kembali berkeliling desa. Sesekali ada anak kecil yang berlari terlalu riang sehingga terjatuh dan kakinya terluka. Katara berjongkok dan menyembuhkannya. Anak kecil itu berterima kasih dan kembali berlari-lari.

Akhirnya mereka sampai di reruntuhan gubuk milik Zuko yang diledakkan oleh oknum pabrik dulu. Zuko memperlihatkan tempat ia menyembunyikan pakaian Blue Spiritnya. "Di sini aku menyembunyikannya. Tepat dimana kau berdiri saat itu."

"Pantas kau sangat panik." Katara tertawa.

Zuko berdiri dan menghampirinya. "Maaf, aku kasar sekali saat itu."

"Aku mengerti. Kau sedang memikirkan ibumu. Merahasiakan sesuatu itu adalah beban yang cukup berat." katanya dengan lembut.

Zuko mengambil tangan Katara dan mengecupnya. Mereka berdua kembali berpelukan dan berciuman.

Di luar sana, Hakoda melihat mereka, dan mengeluh sambil tersenyum. "Kaya… aku merindukanmu.."