Julie : Halo minna, saya akhirnya update chapter 4 nih. Makasih ya yang udah REVIEW chapter 3 kemarin, ini balesannya. Ichigo, baca!

Ichigo : yang pertama dari Sacchan Linda Shirayuki. Karena banyak yang kurang nangkep ceritanya, author kita satu ini mau ngasih bocoran kalo ternyata Rui adalah Rukia.

Readers : Eh, lho, kok?*cengo*

Julie : ya begitulah, jadi Rui itu adalah Rukia. Kenapa bisa begitu? Nanti akan dijelaskan di fic entah chapter ke berapa.

Rui / Rukia : Saya yang bacain berikutnya, dari sarsaraway20, sekalian So-Chand 'Luph plenD' dan Rukia Kuchiki Kurosaki, kali ini udah panjang belum? Tapi mohon dimaklumi ya, si author emang kaya gitu orangnya, ngga bakat masuk sastra .

Julie : *ngambek*

Hitsugaya : Huh, untuk apa aku disini? *dipaksa Matsu kesini*
Julie : kamu harus bacain balesan REVIEW buat Riztichimaru!

Hitsugaya : cih, buat apaan?
Julie : Baca! Atau kamu mau dibikin dibenci Momo di fic ini? *pasang muka serem = ngancem*

Hitsugaya : psst... terpaksa deh. Ingatan Ichigo itu alurnya mundur, kali inipun si shinigami daiko itu mimpiin ingatannya lagi.

Julie : hehehe*senyum gaje*. Berikutnya Shiro-chan lagi ya yang bacain balesan REVIEWnya –killuMika 623-?

Hitsugaya : ogah * berpaling dengan muka dingin*

Julie : ya, ya, ya? *pasang muka kayak tupai*

Hitsugaya : *kesabaran habis, bekuin author* SURUH AJA TUH OC LU, SI HIKARI!

Hikari : Eh?

Julie : kalo ngga ada yang mau, saya sendiri deh yang jawab REVIEW. Maaf ya updatenya lama. Jadi, setelah ingatannya dihapus, Ichigo tetep bisa liat roh, tapi kekuatan dia disegel.

Rui / Rukia : berikutnya Ruki-chan' pipy, diatas tadi udah dibacain ama si strawberry kalo saya itu Rui, dan Rui adalah saya.

Julie : Aizawa ayumu-chan, saya akan terus berjuang membuat fic ini. Makanya, REVIEW terus ya! Ah, tadi si Shiro-chan sebut-sebut Hikari kan? Dia tuh OC disini, dia yang jadi kunci kenapa Rui itu Rukia.

Rui / Rukia : *noel-noel author*

Julie : *noleh dengan muka bingung*

Rui / Rukia : Hikari-sama bilang, dibawah aja kalau mau ngenalin dia, biar readers-san penasaran.

Julie : oke kalau emang gitu maunya Hikari. Maaf udah menyita 1 halaman dengan talk show gaje ini, ayo enjoy chapter 4!

Disclaimer: BLEACH punya tite kubo, yang saya punya Cuma fic-fic saya.

Warning :OC, OOC, maybe AU, Typo, ICHIRUKI. Don't Like, Don't Read !

SUMMARY : gadis itu ingin mengembalikan sesuatu yang telah lama dihapus, dari Ichigo.

- The mysterious girl named Hikari -

Pagi yang sama seperti pagi hari sebelumnya, cuaca yang tetap dingin, tetap masuk sekolah, dan yang paling membuat hari ini sama seperti hari kemarin bagi Ichigo adalah mimpi yang membawa kejadian yang tak pernah ia ketahui. Tapi, kali ini mimpi itu membuat Ichigo bangun dengan keringat bercucuran.

Aku berdiri sambil menggenggam pedang hitam, dan darah mengalir di setiap lukaku. Di hadapanku, berdiri seorang pria yang tak kalah berantakannya denganku, bajunya robek dan darah mengalir dari setiap lukanya.

"Hei Shinigami, kau pikir kau bisa membunuhku? Kaulah yang akan mati lebih dulu," kata pria dihadapanku.

Tanpa perintahku, mulutku bergerak sendiri, berkata, "Sombong sekali kau Aizen. Kalaupun aku harus mati, setidaknya kaupun harus mati."

Kami saling menerjang dalam waktu yang hampir bersamaan, kemudian,...

JRASH

Saling menusuk. Walaupun Aizen tertusuk pedangku ,tapi pedangnya tak menusuk tubuhku. Melainkan orang yang melindungiku, Rukia.

Aizen terbatuk darah, kemudian secara perlahan tubuhnya menjadi debu-debu yang diterbangkan angin. Aku hanya mampu menatap ketika hal itu terjadi, bersamaan dengan jatuhnya tubuh Rukia ke tanah.

"RUKIAAA."

Dan saat itulah Ichigo terbangun, saat meneriakkan nama Rukia. Tapi ketika terbangun, tak satupun suara keluar dari bibirnya, hanya ada peluh yang membasahi tubuhnya.

Untuk beberapa saat, Ichigo hanya bisa terduduk sambil mencoba mengatur nafas. "Rukia? Siapa itu Rukia?" batin Ichigo tetap berusaha mengatur nafasnya yang memburu.

"Ichi-niiii, ayo banguuuunnn!" tiba-tiba seseorang berteriak sambil menggedor pintu kamar Ichigo.

"Iya, iya. Aku sudah bangun," kata Ichigo. Disingkapnya selimut yang melindunginya dari dinginnya udara walaupun sebenarnya dia kepanasan, kemudian berjalan untuk membuka pintu kamar yang sengaja dikuncinya. "Ada apa Yuzu?" tanya Ichigo pada adiknya yang tadi menggedor kamar Ichigo.

"Ada temanmu yang datang menjemput," jawab Yuzu.

Ichigo mengerutkan dahinya heran. Yuzu yang mengerti maksud dari gerakan itu hanya mengangkat bahu tanda tak tahu menahu.

~C.c.C~

Seorang wanita berambut pirang duduk bagaikan seorang putri di sofa ruang tamu rumah Kurosaki. Ichigo yang mengira akan menemukan Keigo atau Mizuhiro di ruang tamunya hanya bisa shock dan pura-pura kenal gadis itu demi harga dirinya.

"Maaf sudah membuatmu menunggu," kata Ichigo.

"Kita berangkat sekarang?" tanya gadis itu.

Ichigo hanya mengangguk. Kemudian, mereka berdua pergi bersama diantar lambaian sapu tangan dan tingkah lebay Isshin.

"Kau siapa?" tanya Ichigo begitu mereka cukup jauh dari rumah.

"Hikari."

Ichigo mengangkat alisnya.

"Aku saudaranya Rui, dan aku yakin kau mengenal Rui," lanjut gadis itu sebelum Ichigo bisa menyela..

"Si murid baru?"

Hikari mengangguk. "Seragam ini pun bukan milikku, melainkan miliknya. Ada hal yang ingin kukatakan padamu," kata Hikari.

"Silahkan."

"Kau akan kehilangan 'dia' lagi. Sama seperti 1 tahun yang lalu, kau akan mengulang hari itu."

"Ap-?"

Sebelum Ichigo menyelesaikan kata-katanya, Hikari memotong. "Kecuali jika kau bisa mengingat 'dia' dan kekuatanmu kembali."

Angin langsung berhembus begitu Hikari menyelesaikan kata-katanya. Angin kencang itu membuat Ichigo terpaksa menutup mata agar matanya tak kemasukan debu. Dan ketika dia membuka kembali matanya, Hikari telah menghilang.

Masih bersambung! Dan jangan lupa REVIEW !

Hikari

Nama : tidak diketahui

Umur : tidak diketahui

Pekerjaan : Buronan Soul Society

Tinggi : 159 centimeter

Berat : 42 kilogram

Warna rambut : pirang, agak mirip madu

Warna mata : coklat terang, kayak mata kucing.

Hobi : jalan-jalan

Keahlian : Rahasia

Kata-kata favorit : "Gapai semua yang kau inginkan, jangan biarkan seorang pun atau apa pun menghalangi"