Disclaimer: BLEACH punya tite kubo tuh.
Warning :OC, OOC, AU, Typo, ICHIRUKI. Don't Like, Don't Read !
SUMMARY : Semua orang bisa melakukan apa saja demi tujuan mereka, bahkan sebuah tujuan sepele seperti mengatakan 'I love you'
Chapter 10
- I love you -
Hari demi hari berganti, waktu terus berjalan hingga tak terasa sudah sekitar 3 bulan sejak kehadiran Rui. Ingatan semua teman-temannya, kecuali Ichigo, telah kembali seluruhnya.
Rui kini pun kembali menjadi Rukia, yang telah mengetahui hampir seluruh hal mengenai masa lalunya, kecuali apa tujuannya meminta Hikari untuk menunda kematiannya. Yang dia tahu pasti adalah dia meminta Hikari menunda kematian abadinya karena dia sudah tak memiliki kesempatan hidup yang kedua.
Ichigo pun sedikit demi sedikit mulai kembali ingatannya, dia sendiri sudah tahu bahwa Rukia berharga baginya dari mimpi pertama yang dia lihat, betapa dia begitu bersedih melihat bahwa dia tak bisa melindungi Rukia.
Ingatan milik Ichigo kini berputar pada saat dimana dia menyelamatkan Rukia dari eksekusi. Ingatan yang membuatnya semakin menyesal tak bisa menyelamatkan Rukia di Hueco mundo.
"Jangan memaksakan diri," begitu kata teman-temannya, entah apa tujuan mereka mengatakan itu, tapi jelas ada tujuan dibalik kata-kata itu.
"Aku tidak memaksakan diri, tapi kan tidak adil kalau hanya aku yang tak tahu apa yang terjadi sesungguhnya," kata Ichigo pada teman-temannya ketika mereka semua memaksanya untuk tak mencoba mengingat.
Dan ketika dia mengatakan kalimat itu, semua teman-temannya terdiam kemudian menyerah, dan langsung pergi dengan wajah tak bersemangat,… dan berduka?
Ah, Ichigo dan Rukia kini juga sudah mengetahui siapa Byakuya dkk sebenarnya, para Shinigami.
Dan sekarang, kedua orang yang berada dalam kenangan membingungkan itu sedang dalam perjalanan ke sekolah.
"Rukia, kenapa kau memanjangkan rambut?"
Rukia menoleh ke belakang, memandang Ichigo yang memandang ke samping. "Kenapa ya?" Tanya balik Rukia sambil memegangi poninya. "Kurasa sih ini kerjaannya Hikari-sama."
Ichigo memandangnya sekarang. "Dan bagaimana caranya kau menjadi lebih tinggi sepuluh cm dalam waktu sekitar setahun?"
Rukia kini hanya mengangkat bahu.
"Ah, aku binguuuung," kata Ichigo sambil mengacak-acak rambutnya dengan tangan kanan.
"Aku juga bingung. Aku tak mengerti tentang diriku sendiri, maupun tentang Hikari-sama," kata Rukia.
"Kalau dia sih tak perlu kau bingungkan."
"Hmm,.."
Ichigo maju dua langkah menuju tempat Rukia kemudian mengacak-acak rambut gadis itu. "Aku berangkat duluan ya, Rukia. Berpikirlah sepuasmu," kata Ichigo sambil tersenyum.
Oh, wajah Rukia memerah. Sayang sekali Ichigo melewatkannya.
Selepas kepergian Ichigo, Rukia masih berdiri di tempatnya dengan wajah merah padam dan pose yang tak berubah.
"Kau kenapa, Shinigami mungil?" sebuah suara bertanya, membuat Rukia refleks berbalik.
"Hikari-sama?" seru Rukia tak percaya ketika melihat seorang gadis berambut pirang yang memakai pakaian Gothloli hitam putih dan membawa payung yang serasi dengan pakaiannya. "Apa-apaan pakaian itu?"
"Kau tak suka? Padahal kukira ini cocok untukku," kata Hikari sambil melirik pakaiannya.
"Bukan begitu, hanya saja itu terlalu mencolok," kata Rukia.
"Dan jangan pedulikan ini sekarang, bagaimana dengan ingatanmu?"
Rukia merona merah dalam sekejab.
"Aku, aku belum tahu," jawabnya tergagap.
Hikari melihat Rukia dengan tajam, dan Rukia jadi berpikir bahwa pandangan mata bisa membunuh ada benarnya.
"Kenapa wajahmu merona? Aneh sekali," pertanyaan Hikari tersebut bagaikan pisau yang menancap di jantungnya.
Lalu dengan wajah merah dan terbata-bata Rukia berkata, "I-itu, aku hanya baru saja berpikir, apakah mungkin dulu itu aku me-menyukai Ichigo."
"Selangkah menuju tujuan, Rukia," batin Hikari, sebuah senyum licik terukir di bibirnya.
"Ah, aku berangkat dulu ya, aku tak mau terlambat," kata Rukia setelah melirik jam tangan berbentuk kelinci miliknya.
"Aku masih sabar menunggu lho, Rukia," kata Hikari ketika Rukia mulai tak terlihat oleh pandangan. "menunggu saat perasaanmu bisa mengalahkan takdir." Dan kemudian Hikari menghilang.
.
.
Bel SMA Karakura berbunyi nyaring, terlalu nyaring malah, pikir Ichigo. Dengan biasa saja Ichigo merapikan bukunya, kemudian menjemput Rukia di kelas sebelah.
"Apakah Hikari Rui ada?" Tanya Ichigo pada salah seorang teman sekelas Rukia.
"Oh," gadis itu menoleh ke belakang, mencari-cari Rukia. "Dia sudah pulang," katanya.
"Ah, terima kasih ya," kata Ichigo kemudian beranjak pergi.
"Kemana anak itu?" batin Ichigo. Kemudian terpikirlah oleh Ichigo untuk ke tempat itu.
.
.
"Rukia, ternyata kau memang ada disini ya," kata Ichigo ketika menemukan Rukia berada di tepi sungai Karakura, tempat ibu Ichigo dulu meninggal.
"Oh, Ichigo, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Rukia.
"Mencarimu," jawab Ichigo.
Rukia langsung memandangnya dengan dahi berkerut.
"Hmmph, kenapa kau memandangku begitu?" Tanya Ichigo. "Kau jadi mirip denganku."
"Tidak, aku hanya bertanya-tanya kenapa kau sampai terpikir mencariku kemari."
Ichigo diam seketika. "Iya, ya, kenapa ya?" Ichigo bingung sendiri. "Apakah mungkin ingatanku tiba-tiba muncul sendiri seperti ini ya? Beberapa kali yang seperti ini pernah terjadi sih."
Aku ingin-
Sebuah kata-kata terlintas di pikiran Rukia.
"Dan sekarang, aku jadi ingat kalau kaulah yang telah,… menghentikan hujan dihatiku," kata Ichigo.
Aku ingin dia tahu-
Lagi-lagi, dan sadarlah Rukia bahwa itu adalah tujuannya meminta Hikari memberinya waktu sebagai manusia, yang harus dibayar dengan ingatannya. Dan dengan kemampuan Hikari, Rukia berhasil meminta teman-temannya untuk membagi ingatan mereka kepadanya melalui mimpi.
"Dan kau jugalah yang telah memberiku kekuatan, kan?"
Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku mencintainya
Rukia memandang Ichigo tidak percaya. Jadi, selama ini dia memang mencintai Ichigo, dan meminta Hikari mengembalikannya sebagai manusia serta membuat kekacauan hanya agar dia bisa mengatakan pada Ichigo bahwa dia mencintai pria itu?
"Ada apa Rukia?"
Rukia menggeleng. "Tak ada apa-apa."
Aku tak peduli apapun, aku hanya ingin menyampaikan perasaanku, bahwa aku mencintainya, mencintai Ichigo.
"Akhirnya, tantangan terakhir sudah menanti di depan mata," kata Hikari tak jauh dari sana.
T B C
Chapter depan tamat.
Dan kenapa ada yang berpikiran bahwa Ichigo akan mati? Saya tak pernah memberi petunjuk seperti itu.
Dan saya bisa pastikan ini adalah ending campuran, sad + Happy. Gimana bisa begitu? Itu rahasia author.
Yup, ayo di RnR terus sampai chapter terakhir.
Balesan REVIEW :
Yuki-ssme : Thanks For RnR. Nasibnya Happy Ending kok.
Ruki Yagami : Thanks For RnR. Buat kamu seorang, akan kujelasin entar lewat PMs.
So-Chand 'Luph pLend' : Thanks For RnR. Udah diapdet, dan teruslah me-RnR.
Aizawa Ayumu : Thanks For RnR. Tenang aja bu, ntar Happy Ending kok.
Sarsaraway20 : Thanks For RnR.. Happy Ending kok. Kalau masih bingung, tanya aja, ntar aku jelasin lewsat PMs.
aRaRaNcHa : Thanks For RnR. Aduh, kok bisa berpikiran Sad Ending semua sih, Happy ending kok.
Avia chibi-chan : Thanks For RnR. Kalau dari chapter ini belum ngerti, ntar aku jelasin lewat PMs.
Oke, sekian dan teruslah me-RnR fic ini.
Julie V.
