-Cinta Pertama-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Facebook bukan punya Cha, Cha cuma punya accountnya.
Rated : T
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Pairing(s) : GrimmRuki, slight GrimmNel
WARNING : AU, OOC, rada gaje
Summary : Jika aku bertemu lebih dulu denganmu, apakah kau akan mencintaiku dan tak pernah mengingat dia lagi? Jika aku bertemu lebih dulu denganmu daripada dia, apakah boleh aku memiliki hatimu tanpa bayang-bayangnya?


Tatap aku

Genggam tanganku

Dengar ceritaku

Agar kau mengerti

Semua tentangku...


Sepertinya kejadian di hari Senin cukup untuk membuat pasangan baru Grimmjow dan Rukia beradaptasi. Bisa dibayangkan, setiap mereka dekat sedetik saja, semua mata di kelas langsung tertuju pada pasangan itu dan lontaran ejekan pun langsung terdengar. Sulit membayangkan? Kalau begitu, bayangkan saja iklan permen, yang pasangannya itu diejek oleh teman, guru, bahkan kodok percobaan. Seperti itulah kira-kira yang dijalani oleh Grimmjow dan Rukia.

Dua hari itu berlalu seperti lembaran baru untuk keduanya, Grimmjow pun agak berubah terhadap pacar barunya, lebih lembut dan, ng, bingung bagaimana harus menjelaskan apakah itu romantis ataukah Grimmjow itu laki-laki yang suka gombal? Entahlah.

Rabu, ternyata Grimmjow sakit panas. Ketika Rukia sampai di kelas, terlihat Grimmjow yang sudah datang tengah duduk di tempatnya sambil meletakkan kepalanya di atas meja, tentu saja dengan beralaskan tangannya sendiri. Rukia meletakkan tasnya, lalu menghampiri pacarnya itu.

"Kamu kenapa?" tanya Rukia malu-malu, setelah pacaran rasanya jadi agak canggung.

"Hm? Aku pusing banget," keluh Grimmjow sambil menatap Rukia.

"Udah minum obat?"

Grimmjow menggeleng, membuat Rukia menghela nafas panjang lalu memegang pipi Grimmjow dengan lembut (cieeee...). Suhu badan Grimmjow panas, tapi cowok berambut biru itu berkeringat.

"Ambilin obat aja di UKS, Ru?" usul Hiyori.

"Ya, ambil yuk, sebelum bel."

Rukia pun turun ke UKS untuk mengambil obat. Ah ya, kelas Rukia itu X-7, lokasinya di lantai tiga SMA Karakura. Sementara UKS ada di bawah, tak jauh dari gerbang sekolah, hanya tinggal berjalan beberapa langkah saja.

Setelah mengambil obat bersama Hiyori, Rukia pun kembali ke kelas dan memberikan obat demam pada Grimmjow. Grimmjow hanya menerimanya, lalu meletakkannya di saku kemejanya.

"Nanti aku minum kalo udah makan."

"Ya," jawab Rukia.

Teng tong teng tong ...

Bel tanda masuk berbunyi, dan beberapa saat kemudian Shinji-sensei, seperti yang kita tahu, guru Bahasa Indonesia yang paling rajin se-SMA Karakura, masuk ke dalam kelas. Kenapa ia disebut yang paling rajin? Karena Shinji-sensei selalu masuk kelas tepat waktu, dan jarang sekali tidak masuk mengajar di kelas.


Semua yang kau beri

Perhatian

Pengertian

Bahkan keajaiban kecil

Membuatku mengerti...


Pergantian pelajaran kedua, ternyata dengan semangatnya Renji masuk ke dalam kelas dan memberi tahu bahwa Szayel-sensei, guru Biologi nyentrik tidak masuk hari itu dan tentu saja, jam kosong. Rukia akhirnya berjalan ke tempat duduk Grimmjow lagi, dan cowok berambut biru itu kini tengah membenamkan wajahnya dengan tasnya. Rukia hanya duduk di samping Grimmjow sambil mendengarkan lagu dari handphonenya.

"Ayang," panggil Grimmjow.

"Hn? Ya, Grimm, ehn, Be?" Rukia masih belum terbiasa dengan panggilan 'Ayang' dan 'Liebe' yang diusulkan Grimmjow kemarin.

"Maaf ya."

"Untuk?"

"Gara-gara aku sakit jadi kamu yang harus nyamperin aku."

"Hahaha... Nggak usah dipikirin. Kamu bawa makanan ga? Makan dulu aja, abis itu minum obat."

"Bawa, sih."

Grimmjow mengeluarkan kue dari dalam tasnya yang ia bawa dari rumah. Rukia hanya memperhatikan cowok itu makan, menggeleng sesekali saat Grimmjow menawarkannya untuk makan. Tentu saja karena kue itu hanya sedikit, Grimmjow dengan cepat menghabiskannya.

"Ehm, kalo dirawat sama pacar sih, cepet sembuh si Grimmy," goda Mashiro.

"Gue jadi iri, nih," Gin ikut menggoda.

Grimmjow cuek saja, tengah meminum air mineralnya, sementara Rukia hanya tersipu sambil mematikan lagu dari handphonenya. Setelahnya, Grimmjow mengeluarkan obat demam yang tadi diberikan Rukia, lalu memperhatikannya ragu.

"Kenapa?"

"Obat ini, tablet. Bisa dikerus ga?"

Rukia sweatdrop hebat mendengar pertanyaan dari pacarnya itu. Obat demam biasa? Dikerus? Grimmjow ini kan sudah berusia enam belas tahun, sudah duduk di bangku SMA pula! Tapi pertanyaan tadi mungkin lebih tepat bila ditanyakan oleh anak berusia enam tahun yang baru belajar munum obat tablet.

"Di-di-dikerus?" tanya Rukia, mencoba meyakinkan kalau pendengarannya masih normal.

"Iya, obatnya kebesaran."

"Hiyori!" panggil Rukia.

"Ya?" Hiyori yang duduk tak jauh dari situ menoleh, Rukia pun menghampirinya.

"Ada obat demam anak yang sirup ngga?"

"Obat demam anak? Buat siapa?"

"Grimmjow."

"GRIMMJOW NINUM OBAT DEMAM ANAK?" Hiyori sweatdrop seketika.

"Shhht, udahlah. Dia nggak bisa minum tablet."

"Ya ampun! Udah bangkotan begitu ga bisa minum obat? Ckckck... Obatnya ngga ada yang lain lagi, Ru," Hiyori berkacak pinggang.

Rukia hanya mengangguk pelan, lalu kembali ke tempat duduk di samping Grimmjow. Dilihatnya Grimmjow masih memandangi obat demam tablet dengan ragu, namun ia penasaran ingin mencoba meminumnya.

"Coba aja telen."

"Ngga bisa, kebesaran."

"Grimm! Lo ga bisa minum obat?" tanya Renji.

"Astaga..." Gin yang tak sengaja mendengar, ikut terkejut.

Kini tempat duduk Grimmjow dikelilingi oleh Rukia, Gin, dan Renji. Grimmjow jadi semakin ragu untuk meminum obat itu.

"Udah, masukin dalam mulut, terus telen! Beres kan?" kata Gin.

"Gede ini tablet! Kalo gue mati keselek gimana?"

Rukia, Gin, dan Renji sweatdrop. Mati keselek obat? Mungkinkah? Ketiganya hanya bisa geleng kepala mendengar lontaran-lontaran pernyataan Grimmjow yang (amat) polos. Akhirnya Gin dan Renji berencana dengan cara kasar dan tidak manusiawi.

"Nah, gimana kalo kita cekokin aja?" usul Gin sambil tersenyum menyeringai.

"Seru tuh! Lo yang pegang ya!" tanggap Renji.

"Ehn, iya, iya, mending gue minum sendiri," sergah Grimmjow cepat.

"Kalo begitu, minumlah!" tantang Renji.

Dengan ragu, Grimmjow memasukkan tablet yang besarnya bahkan kurang dari setengah jari kelingking ke dalam mulutnya. Rukia masih tak habis pikir sebegitu takutnya Grimmjow meminum obat. Setelah itu, Grimmjow meminum seteguk air dari botol air mineralnya.

"Coba aaaaa, gue yakin belum di telen," cerca Gin.

"Mmm," Grimjow menutup mulutnya.

"Tuh kan! Idih amit-amit! Telen, Grimmjow!" omel Renji.

"Digigit aja deh."

"Terserah kamu, yang penting obatnya diminum," Rukia yang dari tadi diam akhirnya bicara.

Ya, saudara-saudara, akhirnya obat demam itu berhasil masuk ke tenggorokan Grimmjow setelah cowok berambut biru menyala itu menggigitnya. Bisakah bayangkan betapa pahitnya obat itu? Rukia sendiri tak henti-hentinya merasa mulutnya pahit saat melihat Grimmjow dengan santainya menggigit obat tadi.

"Aku ngga mau minum obat lagi kalo gini caranya," keluh Grimmjow.

"Kalo gitu jangan sakit," jawab Rukia sambil tersenyum.

"Lagian lo minum obat udah kayak anak umur enam tahun sih!" ejek Renji.

"Lain kali kita kasih aja obat demam anak yang sirup itu, setengah botol," usul Gin.

"Ah, lo pada emang niat ngirim gue ke alam baka!" omel Grimmjow.

Selanjutnya semua tertawa mendengar omelan polos Grimmjow. Rukia juga sebenarnya tak habis pikir, cowok seumuran Grimmjow masih juga takut minum obat demam biasa.


Saat pertama

Semua terasa menyenangkan

Apapun itu

Pertama kali kau tunjukkan

Membuatku terkesan


Pulang sekolah, kelas X-7 ada jadwal praktek kimia, yang tentu saja diikuti semua siswa sampai jam menunjukkan pukul setengah empat sore. Berkali-kali Rukia melihat Grimmjow menatapnya sambil memegang bahan percobaan di laboratorium kimia. Rukia tak keberatan saat mata violetnya bertemu pandang dengan mata biru Grimmjow, keduanya hanya tersenyum. Setidaknya Rukia tahu, walaupun tadi Grimmjow harus dipaksa dengan keras untuk minum obat, sekarang ia sudah lebih baik daripada tadi pagi.

Rukia's POV

Kelompok pertama yang selesai praktek adalah kelompokku dan teman-teman. Tentu saja. Meskipun aku tidak terlalu pintar soal kimia, tapi otak teman sekelompokku sudah pasti otak calon profesor semua. Sambil menunggu Grimmjow selesai, aku berdiri di luar laboratorium sambil mendengarkan lagu dari handphone.

"Ru," panggil Tatsuki.

"Hn?" jawabku.

"Renji udah selesai?"

"Cieee..., romantis banget sih pake acara nyariin? Ada tuh, dikit lagi selesai," godaku.

"Apa sih? Lo juga sama, baru jadian sama si Grimmy."

"Haaah, ya sudah, kita sama. Hehehe..."

"Ayang, kita turun yuk," suara Grimmjow yang baru selesai praktek cukup mengejutkanku.

"Ehn? Ia, Be," jawabku.

"Cieee... Cieee..." gantian Tatsuki yang menggodaku, aku jadi malu.

Akhirnya kami berdua berjalan turun untuk pulang, karena laboratorium kimia berada di lantai empat, lantai paling atas. Awalnya kami hanya berjalan berdampingan, tapi lama kelamaan, aku merasakan jari-jari hangat Grimmjow perlahan mencoba menelusup jari-jariku untuk menggenggam tanganku. Aku hanya tersipu, ini pertama kalinya Grimmjow menggandeng tanganku saat kami berjalan berdua.

"Ehn, sepi ya?" Grimmjow membuka pembicaraan.

"Iya, kan udah jam setengah empat," jawabku.

"Tapi di bawah rame."

"Iyalah, kan pada main bola. Kamu ada-ada aja."

"Iya, iya, cuma bercanda kok. Hmm, Yang."

"Ya?"

"Hari Sabtu kamu ada acara ngga?"

"Sabtu, ya, hnn... Kayaknya ada ekskul, deh. Kenapa?"

"Hn, nggak papa, kirain ga ada acara."

"Kamu gitu deh, bikin aku penasaran, Be."

"Hihihi... Iya, iya. Mau ngajak kamu pergi. Tapi kalo kamu ada acara, ya udah."

"Bisa sih, aku ekskul cuma sampai jam sebelas. Jam berapa?"

"Hmm..."

Tak terasa kami berjalan sudah sampai bawah, aku terpaksa dengan cepat melepaskan gandengan tanganku dengan Grimmjow karena ada seorang guru yang melintas. Sesudahnya, aku dan Grimmjow malah tertawa sendiri dengan sikap kami yang seperti salah tingkah.

Drrrrt.

Handphoneku bergetar, tanda ada SMS masuk. Aku mengambil handphone yang ku letakkan di saku kemejaku, lalu membaca SMS itu.

.

From : Ayah
Ayah udah di depan sekolah kamu.

.

Yah, ayah sudah menjemputku. Padahal sejujurnya aku ingin lebih lama bersama dengan Grimmjow, tapi ya sudahlah. Ku lihat Grimmjow, ia menunjukkan ekspresi penasaran dengan isi SMS yang masuk ke handphoneku tadi.

"Ayahku udah jemput."

"Ya udah, kita ke depan bareng, ya?" ajak Grimmjow, aku mengangguk.

"Jadi tadi jam berapa?" tanyaku.

"Kalo kamu maunya habis ekskul, gimana kalau jam satu?"

"Hmm, ya udah. Kamu nunggu aku di mana?"

"Di sekolah aja kali, ya? Jadi nggak usah bulak balik."

"Oke deh, Be!" jawabku semangat, ia hanya meresponnya dengan mengacak rambutku.

Tangan Grimmjow besar dan hangat, cukup untuk mengacak rambut hitam sebahuku. Tak lama kami berjalan, kami pun tiba di depan gerbang sekolah, dan benar saja, ayahku sudah menunggu dengan motornya di depan gerbang sekolah. Aku menoleh ke arah Grimmjow, ia mengangguk lalu tersenyum, dan aku pun menghampiri ayahku sambil melambaikan tangan ke arahnya. Ahh, aku tak sabar menunggu hari Sabtu. Yay! Yay! My first date.

TBC


Selesai juga chapter 3. Nambah gaje ya? Ya, abis pengalaman pribadi Cha memang seperti ini sih, ga mutu ya? Hehehehe... Cha kaget waktu dapet respon review yang banyak dari readers. Hontouni arigato readers! *terharu*

Grimmjow : Kenapa aku jadi selembut itu sih?

Cha : Yah, kan disesuaikan. Hihihi...

Grimmjow : Hah, sudahlah. Sana bales review, Cha!

Cha : Aye aye, sexta espada!

:: anonymous review ::

Zie-peNk :: Gimana? Apakah Grimmjow zudah terlihat yakin dengan perazaannya di chapter ini? Hehehe... Zilahkan tunggu lanjutannya di chapter depan yaa! :) Makazih udah ripiu!

avia chibi-chan :: Senpai, Cha ga bisa PM ke senpai. Hiks. :'( Ehn, iya, ini pengalaman pribadi. Hehehehe... Jadi malu. *plak!* Canggung? Lihat saja cara GrimmRuki deketan, jadi gimanaaa gitu. Hehehe... Makasih udah ripiu!

Yak! Untuk senpai-senpai author yang log in silahkan cek inbox masing-masing. Cha bales spesial pake PM. Hehehe... :)

See ya in the next chapter! Mind to RnR?