LIGHT IS BACK AGAIN...
HWAAA! GILA NIH FIC...
HAH... SILAHKAN NIKMATI FIC INI SEBELUM LIGHT KEMBALI SEKOLAH...
MAAF KALAU PENDEK DAN GAJE. MAKIN LAMA MAKIN MEMBOSANKAN. SORRY DEH.
RATE : T
ROMANCE
"Ehm, kau mau mencoba kabur, Nona?" tanya Kakashi saat mendapati Sakura tengah menaiki tangga untuk keluar dari dinding pembatas sekolah dengan dunia luar. "kau tidak tahu, siapa aku dulu? Aku adalah... Ketua geng motor Yukihara, nona..." ucap Kakashi. Nadanya tajam. Sakura bergidik ngeri. Tapi, dia tetap acuh dengan Kakashi dengan tetap saja melanjutkan menaiki tangganya.
"Hei, kau!" seru Kakashi. Dia menghela nafas, lalu, dia langsung menggotong tangga itu beserta Sakura yang oleng. Hampir saja, Sakura terluka parah karena jatuh dari tangga yang saat itu dia baru naiki sekitar 2 meter di atas tanah. Sasuke yang berada disana dengan sigap menangkap Sakura.
"Arrgh... Sensei sialan!" bentak Sakura saat merasakan tubuhnya sedikit sakit walau sudah ditangkap Sasuke. "Kau juga, ngapain peluk aku? Dasar sial!" seru Sakura. Sasuke yang tak terima dikatai seperti itu oleh Sakura segera melepaskan Sakura dengan kasar.
_diamondlight96_
"Awwww… sakitt…" ringis Sakura. Sasuke menghempaskan tubuhnya terlalu kasar ke tanah. Tidak berperasaan. Kakashi yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
"Ya sudah… sekarang, lebih baik semuanya kembali ke kelas ya… Kita lanjutkan pelajaran matematika yang tertunda gara-gara Sakura. Err, tapi, aku antar Sakura dulu, ya! Bubar!" ucap Kakashi. Semuanya segera kembali ke kelas termasuk Sasuke yang mengawali langkahnya ke kelas dengan mendelik tajam ke arah Sakura.
Setelah semua kembali ke kelas, tinggallah Kakashi danSakura di tempat yang tadi menjadi TKP.
Kakashi berjongkok di depan Sakura. Sakura menatap Kakashi heran. Kenapa senseinya itu malah berjongkok membelakanginya?
Menyadari Sakura yang bingung, akhirnya Kakashi pun angkat bicara.
"Sakura… Naiklah ke punggungku… Kau masih kesakitan kan? Kita ke klinik sekolah…" ucap Kakashi. Sakura membelalakan matanya.
"Tidak mau!" seru Sakura ketus. Kakashi menghela nafas. 'Keras kepala juga anak ini!'batinnya kesal.
"Ya sudah… Jangan diulangi! Dan… selamat tinggal…" ucap Kakashi yang beranjak dari jongkoknya dan segera pergi meninggalkan sakura yang mengumpat tak jelas.
"grrr! Sensei itu menyebalkan sekali! Jeeezzz….!" geram Sakura. akhirnya dia berhenti mengumpat dan berjalan tertatih sendirian menuju klinik sekolah. Dia tak sadar ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dari lantai 2 sekolah itu.
"Kakashi-sensei?" sahut Ino yang sedari tadi bosan melihat senseinya diam dan melihat ke arah bawah.
"Ah… ooh… baiklah kita lanjutkan pelajarannya… Maaf anak-anak… Tadi aku melihat ada tupai yang sedang kesakitan di pohon sebelah sana… hehehe" ucap kakashi garing. Melihat ucapannya aneh, Kakashi segera melanjutkan pelajaran matematikanya.
_diamondlight96_
"Sakura-chan… kau tak apa-apa?" tanya Hinata yang kini dengan sigap membantu Sakura berjalan bersama Tenten.
"Hah… Ya, begitulah…" ucap Sakura. Lalu, dia melepaskan tumpuannya pada Tenten dan Hinata. "Aku bisa pulang sendiri… Kalian pulanglah duluan… Aku akan menunggu bis disini…" ujar Sakura. Tenten dan Hinata memandang Sakura cemas. Sakura mengerti kecemasan kedua sahabatnya ini. Lalu, dia pun menyunggingkan senyuman terbaiknya dan mengangguk. Pertanda bahwa dia sudah tak apa-apa. Berusaha meyakinkan sahabatnya.
Dengan berat hati, Tenten dan Hinata meninggalkan Sakura dengan sebelumnya menunduk dan pergi.
"Uuh… bodoh… padahal lebih enak kalau tadi diantar sama mereka… cih!" ucap Sakura. Lalu, dia pun berjalan tertatih untuk segera pulang.
Dia duduk di halte bus menunggu bus yang akan membawanya ke rumahnya. Sialnya, bus tujuannya tak pernah berhenti karena penuh dan sekarang tak ada lagi bus. Mereka tidak lewat lagi. Padahal, sudah lebih dari satu jam Sakura menunggu. Dengan berat hati, dia segera pergi meninggalkan hati sialan yang sudah membuatnya menunggu lama. Hari sudah mulai gelap. Dia pulang dari sekolah pukul 4 sore. menunggu lebih dari satu jam, sekarang sudah jam 5 sore lebih. Hari sial bagi Sakura.
Dia berjalan ke rumahnya yang cukup jauh dari sekolah. Kalau ditempuh berjalan kaki, bisa 1 jam baru sampai. Sambil melirik ke belakang berharap ada bus yang lewat. Tapi, pada kenyataannya, bus itu tak pernah datang lagi. Dengan kesal, Sakura tetap dan terus melanjutkan perjalanan sambil berdecak kesal melewati pertokoan.
"Hai nona…" ucap seseorang dengan nada mesum pada Sakura. Sakura bergidik ngeri mendapati 3 laki-laki berwajah preman bertatapan mesum yang menahannya.
"Pergi kalian! Aku harus pulang dasar bau!" bentak Sakura sekeras mungkin. Berharap ada yang menolongnya. Tapi, pada kenyataan, semua orang malah seenaknya berlalu lalang.
"Tenang, nona… Kau akan bahagia bersama kami… Ayo ikut kami… kita bersenang-senang!" ucap salah satu dari mereka. Mereka mendekati Sakura dan mencengkram lengan Sakura erat. Shit! Ini benar-benar hari terburuk Sakura. Sudah terluka, berjalan selama satu jam lebih, dihadang preman dan sekarang dia tak bisa menggunakan Taekwondonya. Mau menendang pun, tak bisa… Kakinya luka. Yang dia bisa sekarang hanya berteriak minta tolong dan meronta sekuat mungkin agar tak bisa dibawa mereka.
Usahanya gagal, akhirnya, Sakura menangis menjadi-jadi sambil tetap berteriak.
"Maaf… Bisakah kau lepaskan gadis itu?" tanya seorang laki-laki dengan rambut acak-acakan seperti duren berwarna kuning. Di kedua belah pipinya masing-masing ada 3 goresan luka.
"Apa? Kau siapanya hah?" seru salah satu preman itu. Laki-laki duren itu mendengus. Lalu, mengahmpiri mereka. Pandangan Sakura kabur karena air matanya. Membuat dia tak bisa jelas memandang penyelamatnya.
"Aku Naruto… Kalau begitu… Bersiapalah… 'mati'…" ucap Naruto dengan segala penekanan pada kata mati. Bisa terdengar oleh Sakura, preman itu mendengus kesal. Lalu, salah satu dari mereka menyerang Naruto. Dengan sigap, Naruto melawannya. Menangkis, menendang dan memukul. Gesit sekali. Itulah yang kini ada dalam pikiran Sakura.
Akhirnya, ketiga preman tadi ambruk di tangan Naruto. Naruto pun menangkap Sakura yang hamper terperosok ke tanah karena sulit untuk berdiri lagi. Lalu, membawanya ke pelukannya.
"Terimakasih…" ucap Sakura lirih. Naruto tersenyum. Err, menyeringai maksudnya.
"Hmm… Nona… Tak cukup bila kau hanya memberikan terimakasih padaku… Aku menginginkan lebih untuk jasaku ini…" jawab Naruto. Sakura mengerutkan dahinya. Lalu, tanpa Sakura dapat perkirakan dan sadari. Di tengah keramaian kota pertokoan. Di bawah cahaya lampu pertokoan. Tanpa seizing Sakura, Naruto merebut ciuman pertama Sakura. Naruto mencium Sakura dengan ganas dan penuh nafsu. Banyak orang yang berlalu lalang menghentikan langkahnya untuk sekedar melihat adegan ciuman yang panas itu.
Lidah Naruto dan Sakura beradu. Saliva menjadi penghias ciuman panas mereka. Desahan dan erangan Sakura yang seenak jidatnya keluar membuat Naruto tambah ganas. Lama mereka berciuman, sampai akhirnya, Naruto berhenti mencium Sakura karena persediaan oksigen yang kurang. Sakura yang baru sadar langsung memerah dan melancarkan tendangannya ke 'itu' nya Naruto dengan sepatu sekolahnya. Membuat Naruto meringis kesakitan. Lalu, Sakura pun pergi meninggalkan Naruto sendirian yang meringis kesakitan.
"Arggh… Sial! Dasar wanita tak tahu diri!" gumam Naruto yang berjalan tertatih memasuki klub malam. Dia pun memilih bangku dan duduk di atasnya. Memesan alcohol, dan meneguknya.
"Hei, Naruto… kau kenapa?" Tanya seorang pemuda yang bertindik banyak. Naruto mendengus.
"Huh… Tadi ada orang tak tahu diri… Huh… Pein… Adakah yang bagus hari ini?" tanya Naruto. Mendengarnya, Pein menyeringai.
"Hehehe… Kau mau one night stand lagi, Naruto?" tanya Pein. Naruto ikut menyeringai. Pein pun beranjak dari tempat Naruto. Tidak lama kemudian, dia kembali dengan seorang wanita yang cantik dan seksi.
"Ini masih gress, Naruto… sesuai…" ucap Pein. Naruto mengangguk tanda setuju. Lalu… yah… mereka menuju kamar di klub malam itu.
_diamondlight96_
"Hinata-nee… Ada Sasuke-nii tuh!" seru seorang perempuan mirip Hinata versi kecil.
"Iya, Hanabi…" ucap Hinata. "Suruh tunggu di ruang tamu saja… Kakak sedang bersiap!" lanjut Hinata.
Ya. Hari ini, malam ini. Hinata ada janji kencan dengan Sasuke ke taman bermain. Ke tropical Land (kalau di Indonesia namanya Dufan). Mereka ingin merayakan hari jadi mereka yang ke tiga bulan.
Setelah selesai, Hinata pamit pada keluarganya dan pergi bersama Sasuke. Mereka menaiki wahana-wahana disana dan membeli es krim. Lalu, setelah selesai, mereka pun duduk di bawah pohon besar disana sambil menikmati kembang api yang meluncur dengan indahnya.
"Sa, Sasuke…" sahut Hinata saat merasakan tangan Sasuke merangkul pinggangnya.
"Hn?" respon Sasuke. Padahal saat itu, Hinata wajahnya sudah sangat memerah.
"Ano… itu… err… Kita ada di tempat umum…" ucap Hinata. Sasuke tak mengindahkan perkataan hinata. Dia malah semakin menjadi dengan menelusupkan wajahnya ke daerah leher Hinata dan mengecupnya di daerah sensitive itu.
"Ahhh…" desah Hinata, geli dengan perlakuan Sasuke. "Jangan disini, Sasuke…" ucap Hinata yang tidak tahan perlakuan Sasuke. hinata menghindar. Dan itu membuat Sasuke kesal. Lalu, dia melepaskan rangkulannya dan menjauh sedikit dari Hinata.
"Kau marah?" tanya Hinata lembut. Berusaha agar dia tak menyinggung Sasuke. Sasuke menatap kembang api dengan tatapan kosong. bibirnya mulai berbicara dingin.
"Hinata… Bila tidak disini, kita tak akan pernah bisa melakukannya lagi dimanapun… Kita bermusuhan di sekolah…" ujar Sasuke tak bernada. hinata menundukan kepalanya. Merasa bersalah.
"Kau bahkan tak segan-segan menghinaku di sekolah… Kau bahkan jijik padaku di sekolah.." ucap Sasuke. Nadanya sekarang sangat mengiris hati Hinata. Hinata pun mulai menitikkan air matanya.
"Sa, Sasuke… A, aku juga sa-ngat tidak suka mengejekmu… Hatiku menangis bila aku harus menghinakanmu…" ujar Hinata menunduk memandang tanah yang basah karena air matanya. Sasuke mendekatkan dirinya dan memeluk Hinatanya.
"Hn… Lalu?" tanya Sasuke.
"Aku tak tahu…" jawab Hinata lirih. Sasuke memeluk lembut Hinatanya dan menyesap aroma dari rambutnya.
"Bagaimana kalau kita sudahi saja permainan ini? besok katakan pada semuanya, kita pacaran…" ucap Sasuke melembut. Tak biasanya. Namun, semua juga pasti begitu kan bila dengan pasangannya?
Hinata mengangguk dan mulai menikmati malam penuh kembang api tersebut.
_diamondlight96_
"Sakura? Kenapa kamu?" tanya Ino heran melihat Sakura yang semenjak tadi pagi cemberut saja.
"Iya Sakura… katakan, ada apa?" tanya Tenten mulai nimbrung. Hinata mengangguk. Sakura menatap sahabatnya, lalu, dia mulai bercerita dengan lesunya.
"Apa? Kurang ajar banget orang itu!" seru Ino. Yang lainnya mulai ikut beradu argument tentang orang yang diceritakan Sakura. Sakura juga ikut nimbrung dan mulai bergelut mempermasalahkan orang itu. Sampai pada akhirnya, dia lesu kembali di mejanya.
"Sa, sakura… jangan seperti itu… Sebentar lagi pelajaran Kakashi-sensei…" ujar Hinata. Sakura hanya mendengus pelan dan mulai berbicara lagi.
"Cih! persetan dengan sensei aneh sialan seperti dia… Aku pergi!" seru Sakura. Yang lainnya tak bisa menyetop Sakura. Karena memang Sakura itu orangnya keras kepala sekali.
Sakura membawa tasnya dan pergi keluar. Berharap tak ada yang menemukannya.
Di halaman sekolah, kali ini di dinding belakang sekolah, dia membawa tangga dan segera menaikinya. Dia sering melakukan itu. Dan baru sekali dia ketahuan. Kemarin, oleh Kakashi-gila itu.
Saat sedang asyiknya menaiki tangga dengan sekarang dia berada di ketinggian 2 meter. Tiba-tiba dia melihat bayangan Kakashi sedang berjalan sambil membawa buku kecil bersampul orange berdampingan dengan Ebisu-sensei. Sakura terkejut dan mulai berpikir. Ingin turun, gak keburu. Mau loncat, pasti sakit. Hah… pasrah yang ada. Akhirnya, Sakura memilih diam di tangga dia berpijak.
Sialnya, Ebisu mengetahui keberadaan Sakura.
"Ahhh! Kakashi! Lihat! Dia itu anak nakal dari kelasmu! X.5! Aku tak mau tahu! Aku akan melapor pada kepala sekolah! Kau yang urus bocah itu!" seru Ebisu menunjuk-nunjuk Sakura yang malah sweatdrop melihat ebisu yang seakan mengatai dirinya monyet. Ebisu segera pergi dari tempatnya. Kini hanya ada Sakura dan Kakashi. Mereka saling bertatapan. Kakashi memasukan bukunya ke kantong celananya. Lalu, kedua matanya bertatapan dengan dua mata Sakura.
"Apa yang mereka ingin aku lakukan pada gadis aneh ini?"batin Kakashi. kini, Sakura dan Kakashi terdiam cukup lama.
"Ya ampun… Apa yang mengganggu otak gadis ini sih?"batin Kakashi lagi. Lalu, entah datang dan ada dimana, dia mengambil toa dan berbicara dengan sakura.
"Err… Aku bisa melihat celana dalammu dengan jelas dari sini, kau tahu? Sangat 'memalukan'!" seru Kakashi dengan suara keras yang diperkeras dengan toanya. Sakura merenggut kesal.
"Bodoh! Yang memalukan itu kepalamu tahu! Dasar! Kau pervert-sensei!" seru Sakura tak mau kalah.
"Eh? Pervert?"batin Kakashi. Seketika wajah penuh kehangatan Kakashi menjadi wajah penuh amarah yang menggelegar. Wajahnya kini seperti setan dengan urat-urat yang berkedut.
"Hey! Kau anak nakal sialan!" seru Kakashi, kini tanpa toanya. "Apa yang kau lakukan dengan celana dalam kekanakan itu? Berpura-pura dan berbicara layaknya wanita dewasa… cih!" ucap Kakashi dosertai wajahnya yang menyeramkan. "Jika kau sedikit pintar… Kenapa kau tak turun dari tangga itu dan mendekatlah pada gurumu ini yang masih bisa tersenyum walau mempunyai murid sepertimu!" dengan wajah horornya. Lalu, dia kembali melanjutkan perkataannya. "Turun sekarang! Atau…" ucap Kakashi terputus. Dia segera menggotong tangga dan berbuat seperti kemarin. "Aku akan menjauhkanmu dari dinding!" seru Kakashi.
"Kyaaaa!" Sakura berteriak keras.
BERSAMBUNG
_diamondlight96_
GAJE
YAUDAH DEH, GINI AJA, KALAU GAK MAU REVIEW, MENDING JANGAN REVIEW...
GAK MAKSA KOK...
TAPI, MAKASIH YANG UDAH REVIEW...
PS : Maaf deh... Ini fic sebenarnya udah diupdate... Udah dari puluhan jam lalu...
Hanya saja ada gangguan mungkin...
Terus, Garisnya gak kebaca... gomen...
