Light...
Maaf deh cerita kali ini tak baik lagi... Bentar lagi LIGHT mau vakum... Mau di MOS nih...
ckck...
Inilah karya amburadul...
RATE : T
C-I-N-T-A
"Hey! Kau anak nakal sialan!" seru Kakashi, kini tanpa toanya. "Apa yang kau lakukan dengan celana dalam kekanakan itu? Berpura-pura dan berbicara layaknya wanita dewasa… cih!" ucap Kakashi dosertai wajahnya yang menyeramkan. "Jika kau sedikit pintar… Kenapa kau tak turun dari tangga itu dan mendekatlah pada gurumu ini yang masih bisa tersenyum walau mempunyai murid sepertimu!" dengan wajah horornya. Lalu, dia kembali melanjutkan perkataannya. "Turun sekarang! Atau…" ucap Kakashi terputus. Dia segera menggotong tangga dan berbuat seperti kemarin. "Aku akan menjauhkanmu dari dinding!" seru Kakashi.
"Kyaaaa!" Sakura berteriak keras.
_diamondlight96_
BUGH!
"Uuuhh…"
Suara bedebum keras dan erangan membuat burung-burung yang bertengger di pohon sakura yang besar itu berterbangan.
Suara debuman itu berasal dari suara Kakashi dan Sakura yang terjatuh bersamaan. Kakashi tadinya hanya mau mengangkat tangga dan menjauhkannya dari dinding. Tapi, memang sudah sial… ternyata tangga yang sekarang sangat berat. Ditambah lagi Sakura yang gak mau diam. Membuat Kakashi bingung siapa yang harus dia selamatkan… tangga? atau Sakura?
Akhirnya, Kakashi selesai berpikir dan sekarang dia menyelamatkan Sakura. Dia melepaskan tangga itu. Err, bukan di lepaskan… Tapi, dibanting. Sialnya, Sakura yang tadinya mau melepaskan tangan dari tangga itu dan terjun ke bawah, malah makin mengeratkan pegangannya pada tangga itu. Kakashi yang menyadarinya membelalakan matanya, lalu, segera mengambil tangga yang hampir jatuh itu. Tangga itu tidak jadi jatuh ke tanah. Sakura yang terkejut tiba-tiba melepaskan pegangannya dan terjun bebas ke arah Kakashi. Kakashi yang menyadari itu segera mendorong tangga menjauh dari tubuhnya. Sialnya lagi, tangga itu mengenai kaca yang diduga ruangan kepala sekolah. Tapi, Kakashi sukses menangkap Sakura.
"kau tak apa, Sakura?" tanya Kakashi mendongakan kepalanya berusaha melihat Sakura yang tengkurap di atas tubuhnya. gadis itu mengerang kecil. Sakura pun menatap mata Kakashi. Keduanya bertatapan.
'Hangat… Empuk…'batin Kakashi menyeringai mesum. Sakura yang sadar akan posisinya segera bangkit dari posisi tersebut. Sebelum bangkit sepenuhnya, dia menghentakan kepalanya. Mengadunya dengan kepala Kakashi.
"Arggh!" seru Kakashi. Kepala Sakura mengenai hidung Kakashi yang langsung mimisan. Sakura tak peduli dan langsung berdiri untuk beranjak pergi. Sayang, kakinya bengkak dan sakit sekali nyut-nyutan. Akhirnya, dia malah ambruk sendiri. Kakashi yang sadar segera menahan Sakura dan membawanya ke dalam pelukannya. Tentu saja Sakura berontak karena Kakashi seenaknya memeluknya.
"Lepaskan Baka-sensei!" seru Sakura sambil meronta. Tapi, Kakashi malah memeluknya makin erat dan makin hangat. Sakura yang lelah meronta akhirnya diam. Dan memejamkan matanya. Kakashi pun memejamkan matanya.
"Kamu ini, kenapa?" tanya Kakashi lembut seraya membelai lembut rambut pink Sakura.
"Bukan urusanmu!" bentak Sakura yang langsung beranjak dari pelukan Kakashi. Namun, Kakashi menahannya.
"Kau harus diobati…" ucapnya, lalu, Kakashi menggendong Sakura ala bridal style. Sakura yang meronta sama sekali tak dihiraukan Kakashi. Dengan mantap, Kakashi melangkah menuju klinik sekolah.
"Apa yang kau mau dariku, pervert-sensei?" tanya Sakura ketus. Kakashi yang mengobati lutut Sakura segera mendelik tajam.
"Berhenti memanggilku begitu…" ucap Kakashi. Nadanya tegas dan berwibawa. Sakura memutar bola matanya.
"Baiklah… maaf…" ucap Sakura. Kakashi tersenyum menawan. Seketika, darah Sakura berdesir kuat. Dia tercengang. Kakashi yang menatapnya segera tersenyum lebih menawan dan menggoda.
"Kenapa? kau baru tahu kalau aku itu keren ya?" sahut Kakashi membuyarkan lamunan Sakura.
"Ha? ti, tidak!" seru Sakura gugup. Kakashi terkikik geli.
"Nah, sudah selesai…" ujar Kakashi sambil menatap balutan hasil karyanya. "Kau mau tetap disini atau pergi ke kelas? Kalau mau ke kelas, aku yg antar…" lanjut Kakashi.
"Aku mau ke kelas…" jawab Sakura. Kakashi tersenyum, lalu, membawa Sakura. Menuntunnya ke kelasnya.
Sesampainya di depan pintu kelas Sakura, Kakashi pun melepaskan tuntunannya pada Sakura. Lalu, membuka pintu dan kembali menuntun Sakura ke dalamnya.
"Maaf anak-anak… Aku telat…" ucap Kakashi seraya membawa Sakura ke bangkunya. Setelah itu dia kembali menyita perhatian para murid di depan kelas.
"Semuanya! Perhatikan kesini! Err… bagaimana ya? Karena sekarang, akulah yang menjadi penanggung jawab dari kelas ini. Aku wali kelas kalian pengganti Iruka-sensei…" ujar Kakashi. Semuanya tampak mendengarkan Kakashi dengan tampang malas. "Baiklah, sekarang… Sebenarnya yang aku tahu, sekolah kita biasa mengadakan acara pentas seni antar kelas… Jadi, kalian ikut serta dalam pensi ini… Pensi akan diadakan 4 bulan dari sekarang… Kalian siapkan saja ya… Terdiri dari hiburan masing-masing kelas dan olahraga… Silahkan kalian berunding kapan pun… pokoknya nanti harus sudah siap. Baiklah, buka buku matematika kalian, lalu, kerjakan halaman 50. Yang tidak mengerti, katakana padaku…" lanjut Kakashi. Yang lainnya menghela nafas malas dan mulai mengerjakan tugas mereka.
Sedangkan Kakashi sendiri mulai mengeluarkan buku kecil bersampul orange nya.
ding… dong… ding… dong…
KEPADA HATAKE KAKASHI DITUNGGU DI RUANG KEPALA SEKOLAH OLEH HATAKE JIARAIYA… SEKALI LAGI, KEPADA HATAKE KAKASHI DITUNGGU DI RUANG KEPALA SEKOLAH OLEH HATAKE JIRAIYA
"Hah… Baiklah, kalian lanjutkan saja, aku pergi…" ucap Kakashi sambil tetap membaca buku orange itu.
Kelas yang ditinggalkan Kakashi kembali ricuh. Sedangkan kedua insan yang satu ini, malah saling mengirim pesan dengan HP mereka tanpa ada satu pun yang tahu.
From : US
To : HH
Mau sekarang kita beritahukan pada mereka?
From : HH
To : US
Aku sih bagaimana Suke-kun saja…
From : US
To : HH
Hn,
Pesan singkat pun berakhir. Sasuke sebagai ketua kelas, akhirnya berjalan ke depan kelas. Diikuti oleh Kiba, Shikamaru dan Shino. Mereka mengikuti Sasuke setelah diberi kode oleh Sasuke itu. Sakura yang merasa aneh dengan sikap teman sebangkunya yang tiba-tiba pergi ke depan kelas, langsung merundingkannya dengan teman-teman se-gengnya yang duduk berdekatan dengannya.
"Hei, si pantat ayam kenapa tuh?" tanya Sakura pada Tenten yang berada tepat di belakangnya.
"Tak tahu, mungkin dia akan membahas tentang Pensi nanti…" ucap Tenten. Sakura ngangguk-ngangguk gaje. Lalu, matanya beralih ke Ino.
"Ino… hei! Ino-pig! Bagaimana menurutmu?" tanya Sakura pada Ino yang daritadi melamun.
"Hah… tidak… Bukan urusanku…" ucap Ino. Kini, dia terlihat sedikit mirip dengan Shikamaru. Sakura melempar pandangannya pada Hinata yang terlihat gugup. Tapi, pertanyaan itu tak jadi dia lontarkan tat kala Hinata menggeleng.
pertanyaan Sakura terjawab saat Sasuke mulai membuka mulutnya untuk bicara.
"Perhatian semua…" ucap Sasuke dingin namun tegas. Semua aktifitas kini tertuju pada Sasuke.
"Ada yang ingin aku beritahu… langsung saja tanpa basa-basi…" ujar Sasuke. Dia menatap ke sekeliling kelas yang mulai senyap. Dan pandangannya tertumpu pada Hinata. Sasuke menghela nafas. "Aku sudah berpacaran dengan Hinata sejak tiga bulan yang lalu.."lanjut Sasuke mantap. Semua orang membelalakan matanya pada Hinata dan Sasuke. Sasuke tersenyum simpul. Hinata yang tak biasa menjadi pusat perhatian kini mulai gugup. Semua teman-temannya menatapnya penuh tanda tanya. Terutama teman se-gengnya. Sakura, Ino dan Tenten. Mereka menatap Hinata seolah Hinata adalah orang paling menjijikan sedunia.
"Benar itu, Hinata?" tanya Tenten yang mulai panas. Hinata menatap Tenten. Lalu, dia memejamkan matanya. Semua orang kini focus hanya pada Hinata.
1 detik…
2 detik….
3 detik…..
4 detik…
"I,itu… Sas..Sasuke bohong! Dia ngaku-ngaku! Siapa juga yang mau sama dia kan? Orangnya dingin gak gentle!" seru Hinata yang dibuat-buat. Tapi, gak ada yang menyadarinya selain Sasuke. Membuat semua siswi bersorak. Dan semua siswa segera menatap Sasuke. Meminta pertanggung jawaban atas kelakuannya yang memalukan kaum pria.
Sasuke yang merasa jengah, segera menghampiri Hinata. Lalu, dengan segera setelah dia sampai tepat di hadapan Hinata, tanpa ba-bi-bu… Sasuke langsung melancarkan aksinya. Dia mencium Hinata dengan sangat lembut, menyentuh dan hangat. Walaupun sedikit bernafsu, tapi, itu cukup membuat semua orang dalam kelas tertegun dan iri.
"Enghh… Sas… Saske… Uhhh—aahhh~~ Sasukeh…" desah Hinata disela ciumannya. Tangan Hinata yang tadi diam disampingnya, kini mulai memeluk Sasuke. Dan Sasuke semakin menekan kepala Hinata. Tak lama kemudian, Hinata pingsan.
_diamondlight96_
"Hai!" seru Kakashi kepada seseorang di balik kursi besarnya yang menghadap jendela yang pecah di sampingnya.
Dalam ruangan itu, terdapat Ebisu, Kakashi dan orang itu. Orang dibalik kursi besar itu. Jiraiya.
"Grrrr! Jiraiya-sama! Anda lihat kelakuan adik anda! Dia baru berada di sini selama 2 hari, tapi, sudah berbuat onar pada salah satu murid kita! Ah, bahkan mereka menjadi pusat perhatian para guru! Dia melakukan pelecehan terhadap muridnya sendiri! Ini tak bisa dibiarkan! Dia harus segera dikeluarkan dari sekolah ini sebelum dia-" bentak Ebisu yang dipotong oleh Jiraiya yang menangkat satu tangannya.
"Hentikan, Ebisu…" ucap Jiraiya dengan nada yang berat dan datar. Kemudian, dia menghadapkan kursinya ke arah Kakashi yang menunduk lesu.
"Maaf…" ujar Kakashi sambil menghela nafas.
"Kakashi… Aku tahu sebagai orang yang pernah melewati masa sepertimu… Aku sangat tahu. Apalagi, kau juga mesum sama sepertiku…" ucap Jiraiya mengakui sambil geleng-geleng kepala. Kakashi mengerutkan keningnya heran. "Tapi, seharusnya kau buat pengecualian untuk muridmu…" ucap Jiraiya. Kakashi mengangguk. "Lalu, soal kaca ini… Aku akan memotong gajimu…" lanjut Jiraiya. Kakashi mengangguk lagi dan segera undur diri.
_diamondlight96_
"Aku pulang…" ucap Sakura saat dia sampai ke rumahnya. Disana, dia mendapati adik dan ayahnya sedang menonton televisi. Sedangkan ibunya sedang memasak di dapur.
"Selamat datang Sakura…" ucap ibunya sambil menghampiri Sakura dengan senyuman anehnya. Sakura bergidik ngeri melihatnya.
"Kau pulang malam lagi, Sakura?" tanya sang ayah yang sedang menikmati kopinya.
"Iya, ayah… Tadi, aku harus rapat dengan anggota Taekwondo lain…" jawab Sakura. Ayahnya hanya mengangguk. Lalu, pandangan Sakura kini beralih ke arah ibunya.
"Sakura, tolong ya, belikan kecap ke minimarket di depan sana… Sekalian kamu masih pakai seragam…" ujar Nyonya Haruno itu. 'Benar kan, suasana tak nyaman tadi…'batin Sakura.
"Ibu… Aku capek…. Mau istirahat!" sahut Sakura sambil menampakan tampang lesunya.
"Sekalian… sekalian capek! Yang lain kan gak capek… biar kamu sendiri yang cape…" balas ibunya sambil tersenyum iblis. 'Tch! Enak saja… Konohamaru malah enak duduk santai… Aku? Shit! Hah… Terpaksa deh…'batin Sakura. Lalu, dia mengambil uangnya dan pergi dengan perasaan malas.
"Huah! Dasar sial! Dari sekolah aku udah syok berat ngeliat tingakh sensei! Lalu, kenyataan Hinata dengan Sasuke… Setelah itu? Apalagi ini? Apa aku ini anak mereka? Atau hanya pembantu?" gumam Sakura sambil menendang-nendang batu gak jelas.
Tiba-tiba, saat sedang asyik berjalan, Sakura mendengar suara-suara aneh dari sebuah gang. Dia berjalan mendekati gang itu. Lalu, terpampanglah sebuah pemandangan.
Seorang pria yang kemarin ditemuinya, saat ini sedang melakukan adegan -piippp- yang hot dengan seseorang? Oh shit! ini pertanda buruk.
Setelah melihatnya sekilas, Sakura segera pergi dan tak sengaja, dia terjatuh karena sebuah kayu yang entah kenapa bisa berada disitu.
Sakura meringis kesakitan. Dia memperhatikan kakinya yang sudah banyak menderita. Kini, dia baru saja menambahkan penderitaan dan luka pada kakinya itu.
Naruto –pria yang tadi tengah bercinta, segera menyudahi aktifitasnya dan berlari ke arah Sakura. Sakura yang sadar Naruto telah menyadari keberadaannya, segera mengambil langkah seribu walau dengan kaki terseok-seok…
"Sialan! Siapa dia?" gerutu Naruto sambil menendang kayu yang tadi membuat Sakura jatuh. Lalu, wajah cemasnya tak sengaja menemuka sesuatu di dekat kayu tadi berasal.
"Eh? Apa ini?" tanya Naruto dalam hati. Dia pun segera memungut kertas yang terlipat rapi itu. lalu, dia buka lipatan kertas tersebut.
"Hah? Ini…" ucap Naruto kaget. Tak lama kemudian, dia segera melipat kembali kertas itu dengan rapi dan kembali ke dekat seorang gadis yang tadi dia ajak -piipp-. Lalu, membereskan tubuhnya dan memakai kembali pakaiannya dengan rapi. Setelah itu, dia pergi dengan senyuman menghiasi wajahnya. Err, seringaian… maksudnya.
_diamondlight96_
"Err, Sasuke-kun… Ke, kenapa tadi kau menciumku di depan semua orang?" tanya Hinata pada Sasuke. Kini, mereka berdua sedang duduk di samping kolam ikan koi yang berada di halaman belakang kediaman Hyuuga. Kaki mereka diturunkan ke dalam kolam, membuat ikan-ikan koi menggigiti kecil kaki mereka.
"Hn? Kau yang memulai…" jawab Sasuke berat. Hinata menunduk memandang bulan yang bentuknya kabur dari dalam air yang memantulkannya.
"Gomen… Aku tak bermaksud begitu… Ha, hanya saja… aku… aku…" ucap Hinata gugup. Karena merasa telah menyakiti kekasihnya.
"Hn… Kau jijik padaku?" tanya Sasuke. Kini, dia memandang Hinata. Hinata segera mengalihkan pandangannya dan menatap Sasuke. Lalu, kepalanya dia gelengkan lebih keras.
"Ti, tidak… bukan begitu Sasuke-kun… ha, hanya saja… Aku tak enak dengan Sakura. Dia ma, mantan kekasihmu kan? Bu-bukan hanya itu, aku juga tak enak dengan siswi lainnya…" ucap Hinata. Jari telunjuknya kini bermain lagi. kebiasaan memang.
"Benarkah?" tanya Sasuke datar. Hinata langsung mengangguk cepat.
"Aku kira, kamu tak mau mengakuiku…" ujar Sasuke. Hinata menunduk.
"Sasuke-kun… Sa-Sakura dulu selalu bercerita tentang kalian yang manis dan pahit… Ja, jadi… aku taku mengecewakannya sebagai sahabat. La, lagipula… Laki-laki dan perempuan di kelas kita bermusuhan kan?" ujar Hinata panjang lebar. Sasuke menaikan alisnya.
"Hn… dengan begini, tak ada lagi permusuhan. Dan kau harus tahu, Hinata…" sahut Sasuke. Kini, Sasuke memegang pundak Hinata. Memaksa dengan lembut agar hinata mau menatap matanya. "Sakura itu masa lalu… kau adalah masa depanku…" ucap Sasuke. Kini, tangannya membelai lembut pipi Hinata. Sasuke tersenyum mesra. Membuat Hinata merona merah.
Sasuke mendekatkan dirinya pada Hinata. Lalu, merangkul hangat Hinata. Membawanya ke dalam pelukannya. Menyimpan kepalanya di dadanya. Lalu, menyesap hangat rambutnya. Hinata hanya terkikik pelan. Keduanya berbagi kehangatan di malam yang dingin itu. Tidak ada bintang. Yang ada hanya bulan yang membulat sempurna. Tak apa lah… Suasana ini cukup romantis kok untuk kedua insan ini. Toh mereka sudah saling melengkapi.
Tiba-tiba, Hinata sama sekali tak bergerak di pelukan Sasuke. Merasa aneh, Sasuke pun melihatnya. Ah, sudah tidur rupanya. Sasuke pun membawa Hinata ala bridal style ke dalam rumahnya. Senyuman menawan terpatri di wajah esnya.
_diamondlight96_
"Sakura… Kau lama sekali! Padahal hanya membeli kecap…" sembur Ny. Haruno pada Sakura. Sakura mencibir.
"Ibu… tadi aku ada masalah… Ya sudah… Ini, kecapnya…" sahut Sakura seraya menyerahkan kecap di tangannya pada ibunya. "Aku mau mandi…" ucap Sakura kemudian saat ibunya menatapnya heran.
"Sudahlah… Oh ya, apa kita harus memberitahukan hal itu pada Sakura?" tanya Kiseki Haruno pada istrinya, Miku haruno.
"Hmm… Aku tak tahu apakah dia bisa menerimanya atau tidak…" sahut Miku.
"Aku juga tak tega…" ucap kiseki seraya mendekati istrinya di ruang makan yang sedang menyiapkan makan malam. "Tapi, aku bingung…" ucap Kiseki sambil memeluk Miku dari belakang.
"Hmm… Ya… Aku juga merasakannya… Aku juga tak mengerti… Kenapa ayahmu mau menjodohkan cucunya dengan cucu temannya… Aneh-aneh saja…" ujar Miku.
"kalau saja aku wanita, atau anak temannya itu wanita, pasti aku yang dijodohkan…" jelas Kiseki. Miku terkikik geli.
"hihihihi… Untung saja kau pria ya… Jadi, kaulah yang menjadi suamiku…" kikik Miku. kiseki mencium kening istrinya. Lalu, keduanya duduk di meja makan. Tak lama kemudian, munculah kedua anak mereka. Haruno Sakura dan Haruno Konohamaru.
Seperti biasa, keluarga bahagia itu pun makan dengan tenang. Terkadang ada candaan yang keluar dari mulut sang Ayah. Atau bahkan Konohamaru ikut nimbrung pembicaraan Ayahnya. Sedangkan Sakura? Dia sibuk membicarakan sekolahnya dengan tanpa terputus walau sesekali tersedak.
Setelah selesai makan malam, mereka sekeluarga pun pergi ke ruang keluarga. Untuk bersantai dan sedikit membicarakan hal yang… Err, mungkin… sakral?
"Sakura… Ada yang ingin ayah bicarakan…" sahut Kiseki. Sakura menghentikan obrolannya dengan Konohamaru lalu menghadap ayahnya.
"Apa, ayah?" tanya Sakura. Kiseki menatap Miku. Miku mengangguk. Entah apa maksudnya.
"Err… Ayah… Ingin menjodohkanmu…" ucap Kiseki. Sontak itu membuat Sakura yang sedang meminum es jeruknya tersedak.
"A,apa?" sahut Sakura. kiseki menghela nafas.
"Kami akan menjodohkanmu…" ucap Kiseki sekali lagi. Kali ini lebih tegas.
Sakura membulatkan matanya tak percaya. 'Oh… hei! Ini bukan zamannya Romeo Juliet lagi! (?)'batin Sakura.
"Tak mau… Ayah saja yang dijodohkan…" ucap Sakura dingin. Kiseki mendengus.
"Tadinya emang ayah yang akan dijodohkan… Tapi, ayolah Sakura… Anak temannya kakekmu itu laki-laki… Jadi, kamu akan dijodohkan dengan cucunya teman kakek! Kakek yang menjodohkanmu!" jawab Kiseki. Sakura membulatkan matanya sempurna. Lalu, memejamkan matanya.
"Aku masih mau sekolah…" ucap Sakura. Tentu saja dia tak bisa melanggar Kakeknya. Secara, kakeknya itu yang paling dia sayangi. Oke, dia tak suka dengan perjodohan. Tapi, dia juga tak suka bila harus melanggar kakeknya. Cukuplah hal itu menjadi alasannya.
"Benarkah kau setuju?" tanya Miku menatap Sakura dalam. Sakura memutar bola matanya.
"Ya… Aku ke kamar…" jawab Sakura mengangguk malas dan melengos ke kamar. Pikirannya kini berputar.
_diamondlight96_
Siang ini sangat cerah. Matahari bersinar dengan gagah. Oh… membuat banyak orang malas saja.
"Jeezzz… Bisakah kita diam dan bersantai saja di kelas?" ucap Ino yang kini sedang berlari keliling lapangan. Rambutnya yang panjang dan pirang berkibar.
"Kau ini! Makin lama seperti Shikamaru saja…" sahut Tenten.
"Heh… berisik sekali kalian!" bentak Sakura. Tenten dan Ino yang kini berlari di depan Sakura melongo menatap Sakura. Sakura yang merasa diperhatikan acuh saja menanggapinya.
"Kenapa?" tanya Sakura.
"Kau… bad mood?" tanya Tenten. Sakura menggaguk.
"Kenapa?" tanya Hinata yang kini di belakang Sakura. "A, apa karena aku dan Sasuke?" tanya Hinata gugup. Sakura yang melihatnya menggeleng pelan.
"Lalu?" tanya Ino. Sakura menghela nafas lelah. Lalu, berhenti berlari.
"Aku dijodohkan… 3 bulan yang lalu orang tuaku mengatakannya dan aku tak suka hal itu menghantuiku tiap malam…"ucap Sakura. reflex hal itu membuat Ino, Tenten dan Hinata mengerem larinya dan membelalakan matanya.
"APA?" seru mereka bersamaan. Sakura mengangguk. Lalu, seperti biasa, teman-temannya itu ingin sekali tahu asal mulanya. Akhirnya mereka membuat Sakura berbicara. Kenapa Sakura sampai harus dijodohkan.
"Aneh… Kenapa kakekmu mau menjodohkanmu sih?" gerutu Ino. Sakura hanya menggeleng pelan. Mereka kini melanjutkan acara lari mereka. Sambil mulut Ino dan Tenten berkomat-kamit gak karuan. Ino, Tenten dan Sakura terus saja berlari. Sampai mereka merasa aneh, karena, Sasuke dan Gai-sensei meneriakan nama Hinata dan berlari ke belakang Sakura.
Ino, Tenten dan Sakura menghentikan langkahnya. Lalu, mereka melihat hinata yang pingsan di belakang mereka. Mereka segera menghampiri Hinata yang kini sedang berada di pangkuan Sasuke. Terlihat wajah Sasuke sangat cemas dan segera membawa Hinata ke klinik sekolah. Sakura dan yang lainnya mengikuti Sasuke. Shikamaru, Shino dan Kiba pun ikut ke klinik.
Di klinik ada Tsunade. Dokter sekolah yang juga istri dari Jiraiya. Akhirnya, Hinata dibaringkan di tempat tidur dan segera diperiksa Tsunade. Tsunade mengatakan bahwa Hinata mungkin hanya kelelahan. Lalu, dia menyuruh Sasuke dan yang lainnya yang sekarang berwajah cemas, untuk segera kembali ke lapangan. Tsunade menawarkan diri untuk menjadi penjaga Hinata.
"Hei Sasuke… Kau terlalu khawatir dengan Hinata…" ucap Kiba seraya merangkul pundak Sasuke. Sasuke melepaskan rangkulan Kiba.
"Hn… Diamlah…" jawab Sasuke. Dia mulai jalan mendahului Kiba. Kiba yang kesal hanya bisa melongo. Shino menepuknya dari belakang dan menggeleng. Kiba akhirnya menghela nafas.
_diamondlight96_
"Hei Anko… Menurutmu, Sakura itu seperti apa sih?" tanya Kakashi pada Anko yang kini sedang duduk di pangkuannya dan bergelayut manja. Pandangan Kakashi tetap tertuju pada anak berambut pink di tengah anak lainnya.
"Menurutku, yah… Sakura itu cerdas… Dia terampil, pintar dan aktif. Dia itu ketua Taekwondo. Kenapa?" sahut Anko. Kakashi menggeleng.
"Dia cukup aneh. Kau tahu? dia berhasil mempengaruhi teman di kelasnya. Padahal di kelas lain, pasti murid-murid akan menjerit gak jelas melihatku…" ucap Kakashi narsis. Anko terkikik.
"kau tertarik padanya?" tanya Anko. Kakashi memandang Anko.
"Tidak… Aku tak boleh melakukannya…" jawab Kakashi. Anko semakin ingin menjahili Kakashi. Kini, wajahnya dia dekatkan dengan wajah Kakashi.
"Kyaaa! Kashi-sensei! Sakura mau kabur lagi tuuuhhh…" seru beberapa murid perempuan dengan suara manja. Kakashi bergidik ngeri mendengarnya. Tapi, dia dengan segera melepaskan Anko dari pangkuannya dan melesat keluar.
Yah… Di bulan ketiganya Kakashi bekerja, dia sudah sangat dan selalu terlalu dekat dengan Sakura. Terkadang Sakura suka curhat padanya. Bahkan mereka tak seperti murid dan guru… terlalu dekat. Bahkan, Jiraiya sudah berkali-kali memperingatkannya.
Sudah kebiasaan Sakura dia suka kabur dari pelajaran. Dan hal rahasia itu, kini diketahui oleh hampir semua murid di sekolah itu. Terutama Kakashi. Biang keladi semua itu.
"Sakura… berhenti di tempatmu atau aku akan memburumu!" seru Kakashi di bawah tangga. Sakura yang mendengarnya bergidik ngeri. Dia sudah tahu kalau gurunya itu over mesum. Dengan terpaksa, dia turun tangga.
"Sakura? Kau kenapa? Biasanya kau selalu cerita padaku kalau punya masalah?" tanya Kakashi seraya merapikan rambut Sakura yang berantakan. Sakura melepaskan tangan senseinya itu.
"Bukan urusanmu!" seru Sakura. Mulutnya dia gembungkan. Sangat lucu! Itulah pikiran Kakashi.
"Sakura… Kau tak perlu segan padaku… Bahkan kita sudah seperti berteman!" seru Kakashi. Lalu, dia senyum. Membuat Sakura malu dan wajahnya memerah. Kakashi memeluk Sakura tiba-tiba. "Jangan sungkan padaku…" ujar Kakashi. Sakura yang tadinya meronta, kini menangis di pelukan Kakashi.
"Aku ingin bertemu orang tuaku… Mereka pasti khawatir padaku. Mereka pasti sedang sakit. Lalu, aku yakin adik-adikku belum makan mungkin…." isak Sakura. Kakashi mengernyitkan keningnya. 'Apa yang dibicarakan anak ini?'batin Kakashi.
"Tak mungkin… Keluarga Haruno tak mungkin kelaparan…" ujar Kakashi. Sakura menggeleng di dalam pelukan Kakashi.
"Sebenarnya… Aku asli bukan keluarga Haruno… Orang tuaku yang asli menjualku pada mereka… A-aku tak pernah terpikirkan bahwa itu akan sangat menyedihkan… Aku mau mereka lagi… Aku mau mereka…. Wa-walaupun mereka sudah menelantarkan aku…" ujar Sakura. Kakashi memeluk Sakura erat.
Kini, dia mulai mengetahui arah pembicaraan Sakura. Sakura anak angkat keluarga Haruno. Pantas saja, dia tak mirip sama sekali. Tapi, kini, Kakashi mendapat satu fakta. Haruno Sakura tak diakui keluarga kandungnya. Dia dibuang. Dan kini tinggal dengan keluarga haruno yang sudah merawatnya. Dan dari semua curhatan Sakura padanya. Dia bisa simpulkan, Sakura mendapat beasiswa adalah agar dia tidak membebani keluarga Haruno. itulah faktanya.
Kakashi melepaskan pelukannya dan membawa Sakura menuju kantin. Lalu, dia mentraktir Sakura jus jambu favorit Sakura.
"Sakura… kau ketua Taekwondo?" tanya Kakashi mengawali pembicaraan.
"Ya… kenapa?" sahut Sakura.
"Sabuk apa?" tanya Kakashi lagi.
"Merah strip 2…" jawab Sakura.
"Hmm… Aku juga Taekwondo… Hitam strip 2…" ujar Kakashi. Dari situ, mereka terus membicarakan Taekwondo. Dan mulai hari itu, mereka selalu latihan Taekwondo bersama….
_diamondlight96_
"Arrgghh! Sial! Aku telat lagi! Ini semua gara-gara Ino yang memintaku menemaninya sampai malam Cuma karena pingin bikin kostum club HOST sama maid café! Sialan… Grr! Awas kalau aku sampai dihukum!" seru Sakura berapi-api. Oh, tinggal satu menit lagi, gerbang ditutup. Ah, tidak… tinggal beberapa detik lagi… Dan… sreett… Sakura berhasil nyempil di gerbang yang tinggal terbuka sedikit itu. Selamet deh… Saat Sakura sedang berjalan santai menuju kelas, tiba-tiba, orang-orang yang kini berada di halaman depan sekolah itu berteriak aneh. Sakura yang merasa penasaran, langsung mengalihkan pandangannya.
matanya membelalak tat kala dia melihat sesuatu.
Seorang laki-laki dengan pakaian sekolahnya menaiki motor sampai motor itu terbang di atas gerbang. Dan yang lebih parahnya, orang itu mendekati Sakura setelah menyimpan motornya sembarangan. Yang sangat parahnya lagi… Dia adalah… PRIA BERAMBUT PIRANG YANG DIKETAHUINYA BERNAMA NARUTO!
"Pagi, Nona Haruno…." ucap Naruto. Sakura membelalakan matanya. kok dia tahu namanya?
"Kau… kenapa ke sekolahku? Dasar brengsek!" bentak Sakura. Naruto menyeringai setan.
"Salahkah bila aku ingin satu sekolah dengan calon istriku? Kau kan yang dijodohkan denganku?" ujar Naruto.
Pranggg… Crush… Ngek… DEGGG…
Seketika, ingin rasanya jantung Sakura keluar saat itu juga.
Hah... Udah deh... Yang mau review boleh, yang gak gapapa...
