LIGHT KEMBALI!
Oh... makasih yah buat yang udah nunggu fic ini... :))
Siapa yang udah nunggu fic ini acungkan tangannya! *gak ada yg ngacung, pundung di pojokan*
Makasih buat yang udah nyempetin baca fic aneh abal gaje gila... ini...
Warning : Jangan dibaca orang gila; Jangan review bila tak mampu (tak mampu review); penuh gaje dan OOC AU dll.
P.S. Light sengaja mempercepat jalan ceritanya... Takut readers nunggu sampai 7 tahun kemudian setelah Light bekerja... gak mungkin kan? hehehe... Bentar lagi, Light harus sekolah...
Rate : T
KakaSaku ; SasuHina ; NaruSaku
Kejadian... Aneh...
"Kau… kenapa ke sekolahku? Dasar brengsek!" bentak Sakura. Naruto menyeringai setan.
"Salahkah bila aku ingin satu sekolah dengan calon istriku? Kau kan yang dijodohkan denganku?" ujar Naruto.
Pranggg… Crush… Ngek… DEGGG…
Seketika, ingin rasanya jantung Sakura keluar saat itu juga.
_diamondlight96_
Oh, tidak… Kaki Sakura saat ini sepertinya sudah tak bertulang. Meleleh lah kakinya. Membuat tubuh Sakura terjatuh ke atas tanah.
Ini buruk. Laki-laki yang sangat dia benci karena telah merebut ciuman pertamanya… Sekarang mengaku-aku sebagai calon suaminya? Perjodohan? Oh… hell! Apa lagi itu?
Yang terparah, saat ini, banyak orang bahkan telah mengerubungi Sakura. Paling tepatnya mengerubungi Sakura dan Naruto.
"Ap..a? Ja-jangan bercanda kau dasar sial!" seru Sakura berusaha menjauhkannya dari mimpi buruknya. Naruto berdecak. Lalu, dia segera berjongkok di depan Sakura.
"Hei… kau pikir aku bercanda, Nona?" tanya Naruto seraya memegang dagu Sakura. Berusaha mempertemukan matanya dengan mata Sakura. "Dalam hidupku, aku bahkan tak pernah bercanda" ucapnya dengan nada sarkastik membuat Sakura bergidik.
"Kalau begitu, jelaskan!" seru Sakura menatap Naruto tajam. Mencari jawaban. Naruto berdecih sebal.
"Tch, cukup topengmu itu, Haruno… Aku Namikaze Naruto… Cukup? Kau pasti tahu Namikaze…" ujar Naruto memandang Sakura lemah. Dia bangkit berdiri dan diam mematung dihadapan Sakura.
Tidak mungkin Sakura tak tahu siapakah Namikaze itu. Namikaze adalah keluarga pemilik perusahaan yang sangat besar. Cabangnya ada dimana-mana. Dan, Namikaze jugalah yang membuat tidurnya selama 3 bulan tak nyaman. Dialah orang itu. Orang yang akan dijodohkan dengan Sakura.
Seketika, lamunan Sakura terhenti saat Naruto memberikan tangannya dengan maksud membantu Sakura berdiri. Sakura yang melihatnya langsung menepisnya dan pergi menjauh.
"Cih…" decak Naruto. "Menarik…" seringaian menyusulnya.
Hah… Sebenarnya Naruto tak akan pernah mau dijodohkan sih… Menurutnya dunia bebas itu menyenangkan. Hanya saja, dia tidak bisa menolak jika pasangannya itu Sakura.
"Baiklah… maaf ya aku tadi telat. Ada masalah sedikit…" ucap Kakashi. Yang lainnya hanya menatapnya malas. 'Sulitnya bergabung dengan kelas ini…'batin Kakashi.
"Perhatian semuanya…" ujar Kakashi. Kini nadanya tegas disertai senyum menawan menghiasi bibirnya. "Langsung saja, aku malas basa-basi… Hari ini, kita kedatangan murid baru… Silahkan masuk…" lanjut Kakashi seraya mempersilahkan seseorang masuk.
Oh hell… kali ini, semua mata menatap orang itu. Pakaian urakan, wajah sangar, jalannya berandal. Anak tidak baik.
Kakashi menyerahkan spidol kelas padanya. Berharap dia menuliskan namanya di papan tulis. Beruntung anak itu mau menurut. Lalu, mulai menggerakan spidol di atas papan itu.
"Namaku Naruto… Kalian cukup panggil aku dengan nama itu. Lalu, untuk yang sudah tahu margaku… Jangan panggil aku dengan marga itu. Cukup Naruto. Terimakasih…" ucap Naruto sambil tersenyum lebar.
"Kau duduk di… oh disana! Dekat meja Kiba… Disamping Kiba…" ujar Kakashi. Naruto melihat arah Kakashi menunjuk. Lalu, dia mulai menatap Kakashi.
"Sensei… Mengapa aku tak bisa di sebelah sana? Di sebelah gadis berambut pink itu? Di sana kosong kan?" tanya Naruto. Kakashi mendengus. Dia tahu benar… Naruto adalah berandalan yang sering diceritakan Sakura yang sudah merebut first kissnya… Juga sekaligus tunangannya yang baru saja dia tahu itu tadi pagi.
"Terserahlah…" sahut Kakashi malas. Naruto membungkuk dan langsung menuju samping Sakura. 'Kenapa aku yang panas ya? Hah… Sudahlah…'batin Kakashi.
"Baiklah semuanya… Kini, aku mau menanyakan sesuatu pada kalian… Tentang pensi sekolah. Bagaimana? Sudah siap? Ino kan penanggung jawab hiburannya?" tanya Kakashi langsung menoleh pada Ino. Ino berdiri dan membcakannya hasil kerjanya selama ini.
"Kakashi-sensei… Kami sudah memutuskan akan membuat hiburan maid café sekaligus host club…" ujar Ino. Kakashi tersenyum. "Lalu, kami harap, Kakashi mau ikut acara host club…" lanjutnya. Kakashi mengangguk dan tersenyum.
"Selanjutnya, olahraga…" ucap Kakashi. Pandangan matanya mengarah ke Sasuke. Sasuke berdiri.
"Sudah kami tentukan… Untuk hal individu, sudah ada perwakilannya. Sedangkan untuk kelompok telah dibentuk. Dan kami ikut Volley, Sepak bola dan basket untuk yang berkelompok…" jawab Sasuke. kakashi tersenyum puas.
"Bagus… Lalu, Naruto… Kau daftarkan dirimu pada Sasuke dan Ino…"Kakashi pun melengos pergi.
"Kau mau kemana, sensei?" tanya Sakura. Kakashi menghentikan langkahnya.
"Toilet… ada apa? Kau mau ikut?" tanya Kakashi. Sakura menggeleng sambil mencibir.
Saat ini, kelas X.5 benar-benar tak ada kerjaan. Kecuali Naruto yang sibuk mengurus keikutsertaannya.
ding… dong… ding… dong…
KEPADA SAKURA HARUNO DAN NAMIKAZE NARUTO DITUNGGU DI RUANG KEPALA SEKOLAH… SEKALI LAGI… KEPADA SAKURA HARUNO DAN NAMIKAZE NARUTO DITUNGGU DI RUANG KEPALA SEKOLAH…
Seketika, jantung Sakura berdegup kencang. Bagaimana tidak? Kini namanya disandingkan dengan nama berandal gila nyasar itu. Dengan sebal, Sakura pun angkat kaki dari kelasnya setelah dibujuk oleh sahabat-sahabatnya.
Dalam ruang kepala sekolah itu, dia melihat kedua orangtuanya, kepala sekolahnya dan seseorang tua. Siapa itu?
"Oh… Akhirnya kau sudah datang Sakura…" ucap Kiseki sambil tersenyum lembut. Sakura membalasnya dengan senyuman memaksa.
_diamondlight96_
'Hah… Aku lupa. Materi untuk pelajaran kali ini kenapa bisa ketinggalan di mejaku ya? Hah… Aku ambil saja sekarang'batin Kakashi. lalu, dia pun mulai berjalan santai ke arah ruang guru. Langkahnya yang ringan dan santai itu terhenti saat mendengar teriakan dan isak tangis dari arah ruang kepala sekolah. Merasa ada sesuatu, Kakashi akhirnya mencoba mendengarkan apa yang sedang terjadi. Singkatnya, dia menguping.
"Aku tak mau menikah muda, Ayah!" seru seorang gadis. 'Eng? Suara itu? Jangan-jangan… Sakura?'batin Kakashi. Dia semakin mempertajam pendengarannya.
"Kau harus menikah dengan Naruto. Lalu, kau bisa rahasiakan statusmu. Jiaraiya bersedia membantu. Lagipula, kau tak mempunyai pacar kan?" sahut seorang pria. Sepertinya ayahnya Sakura.
"Tapi… Ayah! Aku baru kenal dia!" seru Sakura tak mau kalah. Perdebatan dan adu argument pun terjadi antara ayah dan anak ini. Sampai akhirnya, sebuah suara memecah mereka.
"Kakek… Sepertinya… Perjodohan ini harus dibatalkan. Kami saling tidak tertarik. Lagipula, aku ingin bebas…" ujar Naruto. orang yang dipanggil Kakek itu akhirnya memejamkan matanya.
"Maaf… Ini adalah janjiku dengan Haruno Danzou… Aku, Namikaze Sarutobi tak akan membuang janjiku…" jawab sang kakek.
"Dan Sakura… sebaiknya kau harus mematuhi perintah ayahmu…" ucap Kiseki tegas. Sakura benar-benar ingin menjerit dan menangis rasanya. Dia segera mengehentakan kakinya dan pergi keluar ruangan kepala sekolah. Sedangkan Kakashi? Dia sekarang sudah berlalu ke ruang guru. Tak ingin mendengar kabar yang bahkan lebih buruk lagi. Dirinya terduduk lesu di atas kursinya.
Pikirannya masih melayang ke arah gadis pink itu. Melayang akan suatu percakapan dia akan menjadi milik yang lain. Bukan milik kakashi. Matanya menerawang ke arah jendela. Dia menatap langit yang berawan dan cerah. Dia menghampiri jendel itu. Lalu, menyampaikan tangannya disana. Tiba-tiba pandangannya menuju ke bawah. Disana dia bisa melihat ada seorang gadis tengah berlari dan… menangis?
"Hooi! Kau kenapa Sakura?" tanya Kakashi dari arah ruang guru di lantai 2. Sakura menoleh pelan, lalu, dia berlari lagi.
Merasa kesal telah diacuhkan, akhirnya, Kakashi mengejar Sakura. Dia nekat lompat dari jendela. Membuat hampir semua orang di ruang guru berteriak histeris dan terkejut.
'Pasti gara-gara tadi!'batin Kakashi. Lalu, Kakashi mengejar Sakura lagi. Terjadilah kejar-kejaran antara mereka berdua. Akhirnya, Sakura berhenti karena kelelahan. Kakashi menghampiri Sakura. Kini, mereka ada di lapangan upacara. Saa itu ada banyak orang. Ada yang sedang berlari olahraga, ada yang sedang pelajaran praktek dan disana, beberapa murid memandang mereka berdua lewat jendela kelas. Termasuk para guru.
"Hei, Sakura… Aku dengar kau akan menikah dengan si berandalan Namikaze itu… Ada apa sebenarnya?" seru Kakashi. Sakura diam tak menjawab.
"Apa yang kau pikirkan? Aku tak mengerti… Awalnya kau membencinya kan? Lalu, sekarang apa? kau menyukainya? Mencintainya?" tanya Kakashi menuntut jawaban. Sakura menunduk. Bibirnya kelu untuk menjawab. Tapi, akhirnya, dia membuka mulutnya juga.
"Orang yang tidak dapat dimengerti itu kamu sensei! Kau tahu aku menyukaimu… Aku mencintaimu. Lalu, kau menolaku. Dan sekarang? Kau seolah-olah ingin agar aku menghentikan perjodohanku. Bila itu adalah perasaan seorang guru pada muridnya, aku tak butuh itu, sensei!" ucap Sakura. Air mata mulai mebasahai pipinya. Tapi, suaranya tetap tegas. "Jika kau sudah mengerti itu, tolong jangan beri aku harapan palsu… Jangan sakiti aku lagi… Itu sudah cukup, sensei…" lanjut Sakura. Dia kembali berlari kecil meninggalkan Kakashi.
Kakashi mematung. Ya, Sakura memang pernah menyatakan cintanya pada Kakashi. Hanya saja, dia menolaknya dengan alasan tak sepantasnya guru dan murid bersatu. Padahal sebenarnya dia juga sangat mencintai Sakura.
'tidak… Ini… bukan sesuatu yang ingin aku katakana di depan semuanya… Apa yang aku lakukan dengan mengatakan ini?'batin Sakura sambil terus berlari di lapangan itu. Tiba-tiba saja, dia merasakan aura horror di belakangnya. Ternyata, kakashi tengah mengejarnya dengan kecepatan penuh. Kini, mereka berlarian lagi mengelilingi lapangan.
"KAU! BERHENTI DI SITU!" teriak Kakashi. 'ehhhh! Ada apa ini?'batin Sakura ketakutan melihat wajah sangar Kakashi. Larinya semakin cepat. "HEI KAU! KATAKAN LAGI!" seru Kakashi sangar. 'Kyaaa! Menakutkan!'batin Sakura. Wajahnya kini sudah pucat.
"Jangan kemari kau! AKU TAK AKAN MEMBIARKANMU MENDEKATIKU!" seru Sakura sambil terus berlari dengan wajah pucat. Kakashi mendecih kesal sambil tetap berlarian dengan Sakura.
"PIKIRKAN TENTANG APA YANG BARU SAJA KAU BILANG!" teriak Kakashi. Kali ini sangat keras. "BUKANKAH KAU BARU SAJA BILANG BAHWA KAU MENYUKAIKU?" teriak Kakashi lagi. 'Ap…apa?'batin Sakura. Dia tak menyangka senseinya akan mengatakan itu.
"JIKA KAMU BENAR-BENAR MENGATAKAN BAHWA KAU MENYUKAIKU… KEMUDIAN, JANGAN PERGI KE SISIPRIA LAIN SELAIN AKU!" teriak Kakashi. Sakura tercengang dan menghentikan langkahnya. Kakashi memperlambat langkahnya. "Kau… Tak akan pergi, kan? Sakura?" ujar Kakashi. Kali ini melembut.
Perkataan Kakashi barusan benar-benar membuat Sakura tercengang. Yang benar saja? Di depan semua orang seperti ini! Bukan hanya Sakura yang tercengang. Tapi, semua orang yang melihat mereka. Untung saja, keluarganya sudah pulang.
"Sial… Aku melanggarnya!" gumam Kakashi sambil menutup matanya dan memijat keningnya.
"Sakura… sebenarnya, Aku menyukaimu… Hanya saja, peraturan… Guru dan murid tak boleh bersatu… Itu semua menjadi peraturan yang menyebalkan…" ucap Kakashi lembut. Tangan kanannya masih memegangi kepalanya yang sedikit pening itu.
Kakashi mendekati Sakura. Dia berdiri 1 meter di depan Sakura.
"Ayolah Sakura… Datanglah ke sisiku dan berikan semua rasa sakitmu padaku… Semua perasaanmu… Berikan padaku…" ujar Kakashi menatap lurus mata Sakura. "Tak peduli apa yang akan terjadi… Sebagai seorang pria… Aku hanya ingin bersamamu… Sakura… Aku mencintaimu Sakura…" lanjut Kakashi mantap.
Sakura tak bisa menahan lagi. Kini, kakinya melangkah sendiri menuju ke pelukan Kakashi. Mereka berpelukan di tengah banyak orang. Mereka tersenyum senang. Orang di sekitar mereka hanya tersenyum melihatnya. Bahkan ada yang menangis.
_diamondlight96_
"Aku sudah membawa orang yang kau minta… Kepala Sekolah…" ujar seseorang berkacamata pada Jiraiya.
"Terimakasih Kabuto… silahkan keluar…" jawab Jiraiya. Kini, Jiraiya pun menatap kedua orang yang dia minta. Kakashi dan Sakura.
"Aniki? Ada apa?" tanya Kakashi. Jiraiya mendekati Kakashi.
"aku sudah mendengar kekacauan yang kau perbuat…" ucap Jiraiya. Dia mematikan lampu ruangannya. Sakura mengernyitkan keningnya heran.
"Kyaaa!" jerit Sakura saat lampu kembali menyala. Kakashinya sudah diambang nyawa. Dia sudah babak belur.
"A-aniki?" ucap Kakashi.
"Terserah kau lah Kakashi… Tapi, jangan sampai mengganggu keprofesionalanmu ya…" ucap Jiraiya seraya menghela nafas. Kakashi tersenyum dan mengangguk. Lalu, meraih Sakura ke dalam pelukannya.
_diamondlight96_
"Sakura! Kakashi sensei! Selamat ya…." ujar Tenten dan Ino. Sakura malu dan pipinya merona merah. Melihatnya, Ino dan Tenten malah makin hebat menggodanya. Perlakuan itu berhenti sampai Kakashi menyuruh mereka semua untuk duduk kembali ke tempat masing-masing termasuk Sakura.
"Yah… Kakashi sensei… Kenapa tak libur saja? Perayaan kau jadian dengan Sakura!" seru beberapa anak perempuan di kelas X.5. Kakashi tersenyum.
"Ti-Dak…" jawab Kakashi sejelas mungkin. Sakura tertawa kecil. Lalu, kelas X.5 sekarang kembali belajar seperti biasa. Sepertinya, Kakashi emang professional. Buktinya aja, saat ini dia tak membedakan Sakura dengan yang lainnya.
_diamondlight96_
"Perkenalkan nama saya Namikaze Naruto. Saya mulai sekarang masuk ke klub Taekwondo sekolah ini…" ucap seorang siswa berambut duren. Lalu, sesi pemanasan yang dimulai dengan perkenalan Naruto pun selesai. Kini, mereka semua berlatih jurus.
"Sakura… Kalau kuda-kuda pada jurus itu, begini nih…" ucap Kakashi. Lalu, dia pun membetulkan tubuh Sakura. Sakura bersemu merah. Karena, kini, Kakashi menjadi gurunya. Kalau dalam taekwondo, sabum istilahnya.
"Sabum Kakashi… Aku masih pemula… Tolong ajarkan ya…" ujar Naruto. Nadanya tak enak. Kakashi yang sebenarnya terganggu meminta izin pada Sakura. Sakura mengangguk. Lalu, Kakashi pun berlalu.
Sakura dengan sabar menunggu sambil mempraktikan jurus yang baru dia kuasai itu. Tiba-tiba, terdengarlah suara orang yang bersorak. Penasaran, Sakura pun berlari ke arah sumber suara.
Betapa kagetnya Sakura saat mendapati, kakashinya dan Naruto sedang bertanding. Tak bisa dibilang bertanding juga sih… Soalnya mereka tak pakai alat-alat pelindung. Naruto pun melawannya asal saja. Lebih tepat disebut berkelahi. Sakura pun melerai mereka. Dan mulai saat itulah… Mereka berdua menjadi serigala berbulu domba.(Maksudnya, sebenarnya hati mereka saling benci… namun image mereka tak mengatakan mereka saling benci…)
_diamondlight96_
"Hinata… Kenapa kau sekarang menjadi penghuni klinik sih?" gumam Sasuke sambil membelai lembut rambut Hinata. Tidak lama kemudian, hinata menggeliat dan bangun dari pingsannya di kelas tadi.
"Sas-Sasuke?" sahut Hinata terkejut. Sasuke tersenyum.
"Hinata… Akhir-akhir ini kamu kenapa pingsan terus sih?" tanya Sasuke. Tersirat ada nada kecemasan dalam bicaranya.
"A-aku mungkin hanya lelah…" jawab Hinata gugup. Matanya beralih dari mata Sasuke dan dia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju jendela klinik. Membuka kacanya dan mendapati udara segar membelai lembut wajahnya. Sasuke mendekati Hinata dari belakangnya, lalu memeluknya. Dagunya dia simpan di pundak hinatanya.
"Benarkah?" tanya Sasuke menggoda. Hinata terkikik dan mengangguk pelan. Lalu, Sasuke membalikan tubuh Hinata menghadapnya. Hinata membelai mesra wajah Sasuke. Dia telusuri lekuk wajah kekasihnya itu. Sempurna.
Sasuke mengeratkan pelukannya pada pinggang Hinata. Membuat dada mereka bersentuhan. Wajah mereka sangat dekat. Hembusan nafas mereka yang hangat dan menderi dapat dirasakan satu sama lain. Keduanya terbuai dalam kehangatan. Beberapa mili lagi, maka jarak bibir mereka tak ada lagi.
7mm lagi…
5mm lagi…
3mm lagi…..
dan….
"Waaaa! Apa yang sedang kalian lakukan bocah-bocah mesum?" seru guru aneh berkacamata hitam. Membuat Sasuke mendengus sebal karena ciumannya tak jadi.
"Kalian pasti sedang berbuat mesum kan?" ujar Ebisu-sensei itu dengan nada yang… menuduh. Sasuke mendelik sebal. Hinata hanya mematung. Tubuhnya panas. Wajahnya merah.
"Mana mungkin! Disini tak ada ranjang juga…" jawab Sasuke. Inilah kesalahan Sasuke. Kalau lagi salting di dekat kekasihnya, bodohnya kumat parah.
"Kau pikir ini dimana? Ini ruang kesehatan!" seru Ebisu. Hah… Sasuke menutup telinganya. Gerah.
Hinata mulai berjalan canggung ke arah Ebisu.
"Sensei… sungguh kami tak lakukan apapun kok… A-apalagi di atas kasur ini… Kami tak melakukan it… kyaaaa!" jerit Hinata histeris. Setelah itu, dia pingsan lagi. Sasuke yang khawatir segera meneriakan nama Hinata. lalu, dia pergi mencari Tsunade. Tsunade pun datang dan mereka menghiraukan Ebisu yang mematung di tempatnya.
"Bagaimana Tsunade-sama?" tanya Sasuke cemas. Tsunade pun menatap Sasuke.
"Ini aneh, jarang sekali terjadi orang yang mudah pingsan seperti ini. Mungkin dia kurang darah…" jawab Tsunade. Sasuke langsung mengambur ke arah Hinata. Lalu, dia mengambil tangan Hinata dan menciumi tangannya.
"Ada apa denganmu Hinata? Apa yang kau sembunyikan?" ujar Sasuke. Matanya menutup menahan tangis yang sebenarnya tak kuat dia tahan. Hah, image Uchiha itu harus tetap dijaga.
_diamondlight96_
bersambung
Hah... Akhirnya ngebut juga...
Makasih yang udah baca ya... Jangan bosan dengan fic abal ini...
Jarang-jarang loch... Fic Abal keren aneh gila bagus gini beredar... hahahaha...
Mau review? Makasih...
Gak mau review? Silahkan langsung lewati page ini... Jangan hiraukan tulisan reviewnya...
thanks,
