Title: This tale is the end of all our love story
-
Disclaimer: Masashi Kishimoto
-
Author: Dorky Angels
-
Rating: T
-
Warning: This story contains Yaoi no sex scenes. Not recommended for reading if you do not like.
Don't flame at me because the contents of this story. Please fill with you're comment this story.
Thanks.
-
-
INFORMATION!
UZUMAKI FAMILY
-UZUMAKI NARUTO
-UZUMAKI SAKURA
-
UCHIHA FAMILY
UCHIHA FUGAKU
UCHIHA SASUKE
-
HYUGA FAMILY
HYUGA HIASHI
HYUGA HINATA
-
AND THE STORY HAS BEGIN: CHAPTER 2
ZzzzzzzzzzzzzzZZZZZZzzzzzzzz
Are you not satisfied with the current situation?
What do you want exactly?
xxxXXXxxx
[Kediaman Uchiha]
Rumah megah itu kini berasa bagaikan di rundung awan kelam. Hinata menangis di bangku taman sedangkan Sasuke… Ia hanya ber-'Hn' ria sambil menghela nafas panjang melihat kelakuan Naruto. Sedangkan kedua ayah hanya bengong tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sasuke lalu mendekati Hinata dengan segala keberanian. Ia mendekatinya perlahan-lahan. Sasuke memandang tubuh yang kini menangis sesegukan itu. Sasuke menghela nafas. Sangat panjang sehingga ia benar-benar kehabisan nafas dan buru-buru menghirupnya lagi. Ia semakin dekat dengan sosok rapuh itu. Sesampainya di tempat tujuan, ia langsung mengambil tempat duduk di samping Hinata.
"Hinata…" Sasuke berkata, lalu ia menyentuh punggung yang gemetar itu. "Hina…"
"Berhenti! Jangan menyentuh ku!" kata-kata itu terlontar manis dari mulut Hinata. Sasuke benar-benar terkejut dengan kata-kata itu. Ia merasa seperti di tusuk seribu jarum akupunktur. Ia benar-benar seperti seorang tersangka di hadapan Hinata.
"Kenapa?" tanya Sasuke pada Hinata. Hinata menoleh padanya dengan pandangan yang mengerikan. Sasuke hanya bisa diam terpaku menatap Hinata.
"Kau tanya kenapa? Kenapa masih kau tanyakan hal itu? Kau itu adalah sumber dari masalah ini! Kau tau itu, Sasuke!" Hinata berteriak padanya dengan berlinangan air mata.
Sasuke memandang gadis yang berdiri di depannya ini dengan pandangan tidak mengerti. "Apa sih maksudmu, Hinata?"
"Sasuke, sadarlah! Aku tidak menyukaimu! Sejak dulu! Kalau saja perjodohan ini bukan karena kedua orang tua kita, aku tidak akan sudi bertunangan dengan orang sepertimu! Orang yang telah menyia-nyiakan Naruto! Kau tahu itu, Tuan Sasuke!" Hinata membentak Sasuke yang langsung membuat Sasuke membelalakkan matanya seperti sebuah telor mata sapi. Ia menatap gadis itu dengan tatapan 'jangan bercanda kau, Hinata.' Seolah mengerti tatapan Sasuke, Hinata membalas menatapnya dengan tatapan dingin.
"Apa maksudmu, Hinata?" Sasuke menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali dan membuat Hinata. Wajah stoic-nya kini berubah menjadi wajah orang yang putus asa.
"Aku tidak pernah menyukaimu Sasuke! Terlebih yang aku cintai itu hanyalah… Naruto…"
DEG!
Jantung Sasuke berdentam dengan sangat cepat dan tidak terkendali. Jantungnya serasa ingin loncat keluar dari tempatnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah rumput seakan tidak ingin melihat tatapan orang di depannya.
"Kau sudah mengerti maksudku, Tuan Sasuke?" Hinata menatapnya masih dengan berlinangan air mata. Kini Sasuke mengerti mengapa ia berusaha mati-matian membela Naruto saat Sasuke melukainya. Sasuke kini hanya memandang pantulan dirinya di kolam ikan di sisinya.
"Aku putuskan… Aku membatalkan pertunangan ini. Aku tidak ingin masa depan ku suram karena menikah dengan orang sepertimu. Permisi…" Hinata berkata tanpa Ba-Bi-Bu lagi. Sekarang Sasuke merasa dirinya benar-benar seperti sampah. Ia termenung menatap kepergian Hinata beserta ayah Hinata. Ia melihat ayahnya merunduk meminta maaf pada keluarga Hinata. Sasuke kini terdiam mematung di sana sambil merenungi kejadian yang baru terlintas 2 menit yang lalu.
xxxXXXxxx
[Kediaman Uzumaki]
"Naruto…" berulang kali wanita bertubuh ramping dan berambut merah muda itu mengetuk pintu kamar Naruto.
"Naru-chan… Buka pintunya sayang… Ini neechan… Apa kau tidak ingin bertemu dengan neechan? Naruto?" Sakura mengetuk pintu itu berulang kali. Tapi ia tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Akhirnya ia menggenggam knop pintu.
CKLEK…
"Eh? Tidak terkunci? Tumben sekali Naru-chan melakukan hal ini… Biasanya ia sangat benci jika kamarnya tidak terkunci." Sakura berdebat dengan dirinya sendiri. Kemudian ia masuk ke dalam kamar Naruto.
"Naru-chan… Neechan pulang nih…" kata Sakura seraya mencari sosok itu. Tapi ia tidak menemukan sosok pemuda berambut pirang itu berada di kamar itu.
"Ini sangat aneh… Naruto… Di mana kamu?" Sakura berteriak. Ia melangkahkan kakinya ke arah balkon kamar. Tidak ada sosok Naruto di sana. Ia menghela nafas panjang menandakan ia sangat cemas akan keadaan Naruto. Ia mencari ke segala pelosok kamar itu. Tapi nihil. Ia tidak menemukan Naruto dimana pun. Kemudian matanya tertuju ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat dengan lampu yang masih menyala.
"Naruto… Kau disana?" dengan perlahan Sakura melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi. Kemudian ia menggenggam knop pintu dan memutarnya.
"Naru…" kata-katanya terputus. Digantikan dengan teriakan panik dari Sakura. Tubuhnya menegang saat melihat sosok yang di carinya tergeletak lemah disana. Ia mendatangi sosok itu dan mencari denyut nadinya. Sangat lemah. Kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah tas yang tadi di pakainya. Dengan sigap ia mengambil ponsel dari dalam tas itu. Terdengar suara tombol yang dipencet. Lalu dengan tubuh yang masih bergetaran dan suara yang kelewat panik ia menelpon rumah sakit.
"Halo, selamat siang… Rumah sakit xxx, ada yang bisa dibantu…"
"T—TOLONG SEGERA KIRIMKAN AMBULAN KEMARI! ADA YANG SEKARAT! YA, DI JALAN EBISU SHIBUYA-KU. TOLONG SECEPATNYA!" kemudian Sakura menutup teleponnya dan beranjak ke arah kotak P3K dan mengambil beberapa perban dan kapas. Kemudian ia berlari menuju kamar Naruto dengan perasaan bercampur aduk.
xxxxXXXXxxxx
Sakura segera merobek plastik yang membungkus si-perban, kemudian ia mengeluarkan kapas dan ditetesi dengan obat anti septic lalu mengelap ringan tangan Naruto yang masih merembeskan darah segar. Ia kini menangis karena khawatir akan keadaan otouto semata wayangnya itu.
"Naruto bertahanlah… Sebentar lagi ambulan datang… Sabar ya… Jangan tinggalkan neechan disini sendiri…" katanya dengan tangan yang gemetar sambil mengikatkan perban seadanya di tangan pergelangan tangan Naruto.
xxxxXXXXxxxx
[RUMAH SAKIT…]
Sakura menunggu di depan pintu operasi. Ia menyadari bahwa adiknya itu sedang dalam keadaan sekarat. Ia menangis sejadinya saat itu. Beberapa orang disana melihatnya dengan iba, kemudian menenangkannya. Beberapa perawat di sana juga ikut membantu menenangkan Sakura yang terlihat sangat rapuh.
Beberapa saat kemudian saat Sakura mulai bisa mengendalikan dirinya sendiri, ia mengucapkan terima kasih pada semua orang yang membantu menenangkannya. Kemudian ia mengambil ponselnya dan menekan tombol lalu mencari sebuah nama yang ada disana.
"Deidara…" ia mulai berkomat-kamit memanggil nama itu. Kemudia ia mendapatkan nama yang ia cari dan mulai memanggil nomor itu melalui ponselnya.
"Hai, moshi-moshi… Nee… Ada apa Sakura-chan?" terdengar suara Deidara dari sebrang. Kemudian terdengar suara isakan dari Sakura. Deidara terheran-heran dengan suara yang ia dengar barusan.
"Sakura-chan? Ada apa? Apa ada yang menyakitimu?" Deidara berkata dengan nada panik. Ia tidak ingin terjadi hal yang buruk pada kekasihnya itu.
"N-Naruto…"
"Ada apa dengan Naruto, Sakura?" Deidara mendengar Sakura dengan seksama. Ia menunggu kelanjutan cerita Sakura.
"Naruto… Dia… Berniat bunuh diri… Sekarang dia sedang menjalani operasi. Aku sangat takut, Dei-san… Aku…"
"Sudah… Aku akan segera kesana… Dimana alamatnya?"
"Di rumah sakit xxx jalan xxx… Aku sangat takut…"
"Mohon tunggu aku, aku akan kesana secepatnya…"
Lalu terdengar suara telepon yang terputus. Sakura menutup ponsel lipatnya dan memasukkan kembali ke dalam tas. Ia masih berharap. Berharap agar Naruto kembali ke dalam pelukannya.
xxxXXXxxx
"Sakura… Bagaimana dengan keadaan Naruto sekarang?" tiba-tiba Deidara muncul dari belakang Sakura. Sakura yang tahu bahwa itu Deidara, langsung memeluknya dengan erat dan tubuh yang gemetar hebat.
"Dia m-masih di ruang operasi… Aku tidak mengerti… Ia mencoba bunuh diri di kamar mandi… Aku datang. Ia sudah sekarat… Aku bukan kakak yang baik… aku…"
"Stt… Jangan menyalahkan dirimu, Sakura. Kau adalah kakak yang terbaik bagi Naruto. Dan sekarang Tenanglah… Aku ada di sampingmu, Sakura…" Deidara membalas pelukan Sakura.
TING…
Tiba-tiba lampu di ruang operasi itu padam menandakan bahwa operasinya telah selesai. Perlahan pintu ruang operasi terbuka dan memunculkan beberapa perawat beserta dokter yang mendorong tempat tidur beroda. Di atasnya terlihat sosok tubuh kecil dengan wajah pucat sedang tertidur tenang tanpa beban. Sakura memperhatikan sosok itu dengan seksama. Ia menangis lagi. Ia tidak tahan melihat sosok yang kini terbaring lemah dan bernafas menggunakan alat bantu sebagai sumber kehidupannya. Deidara langsung memeluk tubuh itu dengan lembut.
"Ayo… Tenanglah… Setidaknya operasinya berhasil…" kata Deidara kemudian diikuti dengan anggukkan lemah dari Sakura.
xxxXXXxxx
[Di ruang rawat…]
"Bagaimana keadaannya…?" tanya Sakura pada dokter tersebut yang diketahui namanya adalah Kabuto.
"Saat ini ia masih dalam keadaan koma… Kita lihat saja dalam 24 jam kedepan… Kalau ia bisa berhasil melewati masa komanya… Ia akan selamat… Tapi…"
"Apa, Dokter?" Sakura dan Deidara menatap Kabuto dengan pandangan penuh cemas. Kabuto menutup matanya dan membenarkan letak kacamatannya. Kemudian ia menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan kedua orang itu.
"Kalau dia memutuskan untuk menyerah… Kami tidak bisa melakukan apapun… Berdoalah dan terus support dia. Semoga tuhan belum sayang padanya…" kata Kabuto lalu menepuk lembut punggung Deidara. Sakura yang mendengar penuturan sang dokter hanya bisa menangis di sana.
xxxXXXxxx
[Kediaman Uchiha…]
"Hei, Sasuke… Aku ada kejutan untukmu!!! Ha ha ha… Ini kado untuk ualgn tahunmu… Semoga kau suka…"
"Hn…"
"Kenapa ekspresimu hanya seperti itu, Sasuke? Apa kau tidak suka kado dariku?"
"Jangan menangis, Dobe…"
"Aku tidak menangis! Aku hanya sedih karena kau tidak mau menerima kado dariku. Sedangkan kado dari Hinata kau menerimanya dengan ungkapan-ungkapan romantis… Kenapa saat aku memberikanmu kado kau tidak mengucapkan sepatah kata yang membuatku bahagia?"
"Dasar, Dobe. Untuk apa kata-kata kalau kau tahu aku mencintaimu?"
"S-Sasuke… Hnnn!!! Nyaaa!! Kau membuatku malu!!"
"Hn…"
xxxXXXxxx
Sasuke termenung di meja kerjanya. Ia kembali terkenang masa-masa saat bersama Naruto. Ia kemudian menyadari satu hal. Sejak awal sampai akhir ia berpacaran dengan Naruto, tak pernah sekali pun ia membuat Naruto tersenyum puas dalam kebahagiaan. Kemudian ia menutup matanya. Ingatannya kembali terngiang akan kata-kata Hinata…
"Sasuke, sadarlah! Aku tidak menyukaimu! Sejak dulu! Kalau saja perjodohan ini bukan karena kedua orang tua kita, aku tidak akan sudi bertunangan dengan orang sepertimu! Orang yang telah menyia-nyiakan Naruto! Kau tahu itu, Tuan Sasuke!"
Ya… Ia telah menyia-nyiakan Naruto, ia tak pernah sekalipun membuat Naruto bahagia saat bersamanya. Ia selalu berselingkuh kalau Naruto tidak bisa menemaninya keluar. Ia selalu memanfaatkan tubuh Naruto saat tak ada seorang perempuan pun yang mau bersetubuh dengannya. Ia merasa dirinya terlalu brengsek sekarang. Lalu ia menerawang ke arah jendela dan melihat awan cerah hari itu.
"Naruto…" cakapnya. Entah mengapa ia merindukan pemuda ceria itu. Ia merindukan semua yang pemuda itu miliki. Ia ingin menatap mata penuh karisma itu lagi. Ia ingin. Ia ingin bertemu pemuda itu lagi.
"Sasuke… Aku mencintaimu…"
"Hn!" Sasuke tersentak terkejut ketika ada sebuah suara yang samar memanggil namanya. Ia mencari asal suara itu. Tapi ia tak menemukan satu sosok apapun di ruangan itu. Ia kemudian kembali duduk di singgasananya.
"Mungkin aku hanya kelelahan…" ucapnya dalam hati. Kemudian perlahan ia menutup matanya. Meninggalkan alam nyata dan berpindah ke alam khayalan. Ya… Ia berharap alam itu dapat menjadi pelariannya saat ini. Saat semua masalah datang bertubi-tubi.
xxxXXXxxx
"Sasuke…"
"Siapa?"
"Sasuke… Aku mencintaimu…"
"Naruto? Kaukah itu?"
"Sasuke…"
"Ah… Naruto… Aku sangat merindukanmu…"
"J-jangan Sasuke… Jangan memelukku… Karena aku tak ingin terbebani lagi…"
"Naruto, maafkan aku telah menyakitimu…"
"Stt… Sasuke… Jangan berbicara seperti itu…"
"Aku telah menyia-nyiakanmu…"
"Ya, aku tau itu Sasuke…"
"Naruto… Aku…"
"Tenanglah, Sasuke… Aku sudah memaafkanmu, bahkan sebelum kau meminta maaf padaku…"
"Naruto… Aku… Men…"
"Apa Sasuke?"
"Cinta…"
"Cinta?"
"Kamu…"
"Apa maksudmu, Sasuke?"
"Kau tetap sama, Dobe…"
"Aku tidak akan berubah… Teme…"
"Hei, sejak kapan kau memanggilku Teme?"
"Dari sekarang, sampai di pertemuan kita berikutnya…"
"Apa maksudmu, Dobe?"
"Nanti kau akan mengerti, Teme… Sekarang tenang dan tidurlah…"
"Dobe…"
"Apa Sasuke?"
"Dakara daisuki…"
"Hm… Aku mengerti, Teme… Tai suki yo… Teme…"
"Aku tidur… Selamat… Malam, Dobe…"
"Selamat malam… Sampai jumpa sampai kita bertemu lain kali, Teme…"
xxxXXXxxx
Sasuke membuka matanya. Masih disana. Di singgasananya. Ia masih duduk disana. Masih dikamarnya. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada Dobe, berarti ia hanya bermimpi. Ya, mimpi yang sangat aneh. Mimpi seperti sebuah perpisahan. Perjumpaan perpisahan terakhir. Ia menghela nafas sebelum ia memutar tubuhnya ke arah pintu yang terketuk.
"Deidara? Tumben sekali kau mendatangi kamarku…" Sasuke membuka pintu kamarnya.
"Tuan Sasuke…" Deidara berkata dengan wajah sedih. Ia sepertinya segan untuk memberi tau pada Sasuke.
"Ada apa, Deidara?" Sasuke bertanya pada Deidara dan menatapnya dengan pandangan bingung sekaligus aneh. Ia baru sekali melihat Deidara yang seperti ini.
"…" Deidara diam beberapa saat. Jeda panjang memenuhi ruangan itu.
"Katakan, Deidara…" kini Sasuke benar-benar panik.
"Naruto…" Deidara terbata. Kali ini ia tak bisa berkata apa-apa. Ia merasa ada yang salah atas semua ini. Bermula dari ia mengingat sosok Naruto terus-menerus, kemudian ada suara Naruto yang terngiang di kepalanya dan terakhir mimpi yang membuat Sasuke benar-benar merasa ada yang salah hari itu.
"Ada apa dengannya?" Sasuke memandang pemuda itu dengan tatapan penuh arti.
"Naruto koma. Hidupnya tidak akan lama lagi…"
"…"
xxxXXXxxx
-TO BE CONTINUE-
I was a girl who has many flaws ...
I'm not perfect,
So I need you as I get a bite to go ahead.
xxxXXXxxx
NyaahhH!!!!
Chappie 2 selesai!!!
R&R please…
Thanks ya udah ng-review FF aku =^.^=
Aku cinta deh sama kalian XD *pede mode on*
Gyaaa!!! POKOKNYA FEED ME WITH REVIEW!!!
SEMAKIN BANYAK REVIEW, SEMAKIN BERSEMANGAT! GANBATTE, MINNA SAN!!!
