Xx Tittle: This Tale is The End of All Our Love xX
Xx Disclaimer: Masashi Kishimoto xX
Xx Author: Dorky Angels/Shikigami can Cheats xX
Xx Rating: T xX
xXXXx Shikigami can Cheats 2010 xXXXx
"Naruto koma. Hidupnya tidak akan lama lagi…"
"…"
xXXXx
Sasuke POV
Saat itu jantungku berdetak seperti saat Hinata menolak cintaku. Naruto… Koma? Itu tidak mungkin. Padahal baru saja aku liat dia kemarin. Masih sehat…
Tidak…
Dia tidak terlihat sehat sejak kau memutuskan untuk meninggalkannya, Sasuke…
"Apa katamu, Dei?" aku menanyakan sekali lagi. Mungkin pendengaranku salah. Ada yang salah dengan semua ini. Ya, ada yang salah. Dia tidak mungkin koma! Tidak!
"Itu… Ya…" Deidara sedikit gugup untuk mengatakannya. Dia bergetar. Aku tahu! Dia bohong! Dia bohong! Naruto menyuruhnya!
"WHAT THE HELL ARE YOU SAYING! Kamu membohongi tuanmu! Kamu tahu apa konsekuensinya jika kamu melakukan penipuan kepadaku!" kataku marah sambil menarik kerah bajunya. Deidara menepiskan tanganku perlahan. Kemudian ia menatapku, lalu membuang pandangannya ke arah jendela, seakan disana ada Sakura yang menunggunya pulang.
"Tidak, Tuan. Mana berani saya berbohong pada anda. Dia ada di rumah sakit sekarang. Jika anda ingin mengeceknya, aku akan mengantarkan anda ke rumah sakit dimana ia dirawat." Jawabnya
Aku terduduk lesu. Kubiarkan tubuhku jatuh lunglai di atas lantai dingin. Lantai yang Sedingin hatiku saat aku memutuskan untuk meninggalkannya. Saat aku memutuskan untuk dia menjauhiku. Sedingin tatapan mata hitam ini.
"Kenapa… Kenapa dia bisa koma?" aku menatap liar ke arah lantai. Aku tak berani menatap mata Deidara saat itu. Ya, karena aku seorang pengecut yang hanya bisa lari dari masalah.
"Dia… memotong nadinya. Sebenarnya lukanya tidak dalam. Tapi cukup untuk membunuhnya karena beban batin dan pikiran…" kata Deidara sambil menekankan kata batin dan pikiran. Mataku melebar. Kini terasa seakan-akan Deidara menghakimiku hanya dengan kata-katanya.
"Jangan katakan…"
"Tapi itu benar, tuan muda. Karenamu… Karenamu dia rela melepaskan semuanya termasuk jiwanya…"
xxxXXXxxx
Aku duduk di kursi malasku sambil menyerap semua kata-kata Deidara.
"Karenaku? Huh… Dia mau berbuat sebodoh itu?" kataku sambil tersenyum.
Bodoh…
Ya, dia memang bodoh. Itulah Narutoku…
Naruto-ku?
Bukan, Sasuke. Dia sudah bukan Naruto-MU lagi semenjak kau memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Dan lihatlah, inilah buah dari keserakahanmu. Kau ingin memiliki Hinata setelah tahu bahwa Naruto sudah tidak dapat layak digunakan lagi?
You're so mean, Sasuke-sama
Karena ketamakanmu kau mendapatkan yang sepantasnya. Kau mendapatkan hasil yang sepadan. Dan inilah. Kau akan sendiri, terperangkap dalam pikiran dan rasa bersalahmu.
"Ini… Tidak mungkin! Aku tidak bisa percaya ini! Ini tidak mungkin terjadi!"
Percayalah, Sasuke. Inilah yang terjadi…
Aku mulai menangisi kegagalanku. Kekejamanku! Aku seorang pembunuh. Ya, pembuinuh.
Aku berdiri dari kursi malas menuju bufet pakaian, ada cermin terpampang disana. Aku melihat pantulan diriku. Semakin lama aku melihatnya, semakin jijik aku merasakannya.
"Inikah si brengsek yang kau nanti cintanya, Naruto?" kataku sambil tersenyum dengan meneteskan air mata. Aku tidak dapat membendung lagi. Perasaan bersalah ini, tidak dapat di bendung lagi. Aku mengenakan pakaianku dan bersiap untuk ke rumah sakit. Setelah aku rasa semua rapi, aku memanggil Deidara dan bergegas pergi ke rumah sakit.
xxXXXxx
Naruto POV
Dingin…
Gelap… Sangat Gelap…
Aku tidak bisa melihat apapun… Dimana aku? Apakah aku sudah mati? Aku ignin seseorang menjawabku…
"Halo? Halo? Tolong nyalakan lampunya… Aku takut gelap…" teriakku. Tapi tak satupun orang menjawab. Yang aku hadapi hanyalah kegelapan.
"Apa yang harus aku lakukan…"
"Naruto…" tiba-tiba suatu suara memanggilku. Harapanku kah?
"S-siapa itu?"
"Naruto… Naruto… I want…"
"Kau siapa? Jawablah pertanyaanku…"
"I want… you…"
"apa?" tanyaku heran
"I want… you… to die…"
'APA! INI GILA! SESEORANG TOLONG AKU!'
xxXXXxx
[Rumah Sakit]
Sasuke POV
Inilah, tempat dimana Naruto dirawat. Aku menghela nafas, mempersiapkan diriku untuk teriakan Sakura untuk memarahiku. Semuanya kini terasa berakhir untukku. Bukan, bukan hanya untukku. Untuk Sakura sebagai kakaknya dan juga Deidara sebagai calon kakak iparnya.
"Menunggu untuk disuruh, Tuan muda Sasuke?" kata Deidara mengejutkanku. Aku menggeleng. Aku menghela nafas sekali lagi. Memantapkan langkahku, lalu melangkah ke dalam rumah sakit.
"Ruang nomor berapa?" tanyaku pada Deidara. Beberapa detik ia terdiam, pandangannya kosong menatapku. Lalu ia mulai berbicara singkat.
"14." Katanya dengan nada sedikit ketus
Kami menyusuri bangsal-bangsal rumah sakit. Menuju ruang yang dikatakan Deidara. Pikiranku kalut akan semua hal. Bagaimana aku menghadapi Sakura? Apa yang harus aku katakan padanya saat berhadapan dengannya? Ah, biarkan. Nanti saja aku pikirkan.
Tidak, tidak bisa aku tidak memikirkan ini. Tubuhku sedikit menegang saat aku rasa aku melihat sosok wanita berambut merah muda itu. Tatapan matanya terlihat sembab dan tajam menatap ke arahku. Aku begitu takut hingga aku tak bisa mengeluarkan kata-kata. Aku… seorang yang seorang pendosa ini… Hanya menginginkan ampunan dari kalian, apakah pantas?
"Tuan Sasuke, ini Ruang tempat Naruto dirawat…" Deidara menunjukkan ke arah pintu kayu berlapis cat hijau bernomor 14 yang bertuliskan "Uzumaki Naruto". Aku menggangguk, sesaat aku memalingkan pandanganku ke arah Sakura. Dan itulah yang aku dapatkan. Tatapan benci darinya.
"Pembunuh…" katanya pelan saat aku melewatinya. Tertusuk. Jantungku seakan tertusuk pisau dan nafasku seakan tercekat.
"Maaf…." Hanya itu yang bisa aku katakan sekarang
"Maaf tak akan membuat semuanya kembali normal, Tuan Muda…" jawabnya pelan. Lalu aku berjalan masuk. Mataku melebar saat aku melihat sosok malaikat yang dulu selalu semangat, kini terbaring lemah melawan maut. Hanya karena aku. Demi aku…
"Poor Naruto…" kataku. Lalu aku berjalan ke samping ranjangnya. Aku duduk di samping ranjangnya. Dan menggenggam tangannya. "Oh, Naruto… Kembalilah padaku…"
xxXXXxx
Naruto POV
'Seseorang! Tolong aku!'
Aku berteriak, menjerit bahkan berusaha untuk memukul sesuatu. Tapi semuanya percuma. Tidak ada hasil sama sekali. Aku terus berlari dan terus berlari tanpa henti. Sampai aku rasa nafasku sudah mulai terengah-engah. Aku ingin berhenti, tapi orang itu terus mengejarku dan tak berhenti sedikitpun!
"Oh, Tuhan! Seseorang tolong aku!" teriakku disela nafasku yang terasa semakin berat.
"Tidak akan ada yang menolongmu, Naruto. I want you died…"
Orang itu. Sosok itu sepertinya aku mengenalnya. Tapi siapa? Oh, Tuhan. Aku sangat takut sekali… tubuhku lelah. Inikah akhir dari hidupku.
"Berhentilah berlari, Naru-chan… Karena percuma saja kau berlari. Karena disini adalah tempatku. Kekuasaanku, Naru-chan…"
Stop! Hentikan ini! Apa-apaan orang ini! Aku benci ini, aku sangat membenci ini dari pada saat Sasuke meninggalkanku. Aku takut. Sangat takut pada orang ini. Aura ungu kehitaman orang itu terlihat begitu jelas, menjelaskan betapa jahat dan gelapnya orang itu.
"UGH!" aku terjatuh. Kakiku sudah tak mampu menahan tubuhku. Aku terlalu lelah untuk terus berlari. Aku… Apakah aku menyerah saja?
"Akhirnya… Apakah kau memutuskan untuk menyudahi permainan kucing-tikus kita, Naru-chan?"
Orang itu semakin mendekat. Tekanan auranya terasa begitu menusuk. Adrenalinku berpacu, dapat aku merasakan degup jantungku yang berdetak lima kali lebih cepat dari biasanya. Tubuhku bergetar saat orang itu mulai meraih leherku.
"Matilah… Matilah bersamaku… Naru-chan…"
"S-Sasuke…"
xxXXXxx
"TIDAK! Lepaskan aku! Hentikan!"
Teriakan Naruto mengagetkan Sasuke yang sedari tadi memandanginya. Ia berteriak seperti orang yang kerasukan. Berteriak tanpa henti. Terus berteriak sampai tubuhnya mengeluarkan keringat yang bercucuran.
'Tuhan… Apa yang teradi…' batin Sasuke bergejolak
"TOLONG! SESEORANG TOLONG AKU!" Sasuke berteriak melalui Intercom yang menyambungkannya langsung ke bagian resepsionis. Beberapa detik kemudian, segerombolan dokter dan perawat masuk ke dalam.
"Tolong tunggu diluar. Kami akan merawatnya. Serahkan pada kami." Kata seorang perawat. Sasuke menggangguk dan berjalan keluar. Di wajahnya terlihat begitu cemas. Kulit pucatnya semakin terlihat pucat.
"Tuhan, apa yang terjadi…" gumamnya pada dirinya sendiri. Lalu ia memukul dinding didepannya. Dari tangannya keluar darah segar perlahan. "Apa yang aku lakukan padanya…"
xxxXXXxxx To be continue xxxXXXxxx
When the night was come
I'll be there
Beware, cause' I can take your soul from your body
xxxXXXxxx
Akhirnya mulai nge-update lagi ini cerita setelah sekian lama vakumm.
Lagi nyari kerja soalnya xD
Doakan yah para reader…
xxxXXXxxx
Behind the scene:
Writer: "CUT! Yak, bagus… Nice Job, Sasuke…"
Sasuke: "…"
Writer: "Sasuke? Heu, kau tidak apa-apa?"
Sasuke: "mmmmmm *bergumam tidak jelas*"
Writer: "Sas… WAH! HEI! TOLONG! ADA YANG BUTUH PERAWATAN!"
Sasuke: "…" *tidak bisa berkata apa-apa sebab menahan tangannya yang terasa sangat ngilu sampai ke tulang sendinya*
Writer: "Kau benar-benar aktor yang berbakat Sasuke. Aku salut padamu…" *tertawa bahagia*
Sasuke: "A-awas ya kau… Penulis sialan… HEI KAU! JANGAN LUPA DI REVIEW YA! AWAS KALO NGGAK! *deathglare+chidori5watt*
