Xx Tittle: This Tale is The End of All Our Love xX
Xx Disclaimer: Masashi Kishimoto xX
Xx Author: Dorky Angels/Shikigami can Cheats xX
Xx Rating: T xX
xChapter 4: Seems Like Nowdayx
xXXXx Shikigami can Cheats 2010 xXXXx
Chapter sebelumnya:
"TIDAK! Lepaskan aku! Hentikan!"
Teriakan Naruto mengagetkan Sasuke yang sedari tadi memandanginya. Ia berteriak seperti orang yang kerasukan. Berteriak tanpa henti. Terus berteriak sampai tubuhnya mengeluarkan keringat yang bercucuran.
'Tuhan… Apa yang teradi…' batin Sasuke bergejolak
"TOLONG! SESEORANG TOLONG AKU!" Sasuke berteriak melalui Intercom yang menyambungkannya langsung ke bagian resepsionis. Beberapa detik kemudian, segerombolan dokter dan perawat masuk ke dalam.
"Tolong tunggu diluar. Kami akan merawatnya. Serahkan pada kami." Kata seorang perawat. Sasuke menggangguk dan berjalan keluar. Di wajahnya terlihat begitu cemas. Kulit pucatnya semakin terlihat pucat.
"Tuhan, apa yang terjadi…" gumamnya pada dirinya sendiri. Lalu ia memukul dinding didepannya. Dari tangannya keluar darah segar perlahan. "Apa yang aku lakukan padanya…"
xxxXXXxxx
Just only you have money
Its not interesting to me
If you have a wings in your back
That's I need
Cause you're my Angels
xxxXXXxxx
"Sasuke!"
"Naru-chan."
"Hihihi… Sasuke makan es kelim lasa stlawbeli ini…"
"Tidak, Naru… Aku tidak suka rasa strawberi. Aku sudah punya yang rasa blueberi. Naru mau ngerasain es krimku?"
"Bolehkah?"
"Ini… Silahkan…"
"Umm… *lick lick*… UEEEK! Nggak enak!"
"Hahaha! Kau masih terlalu kecil untuk merasakan betapa enaknya rasa Blueberi ini…"
"Huh? Memangnya Sasuke udah tua ya?"
"Hn…"
"Hihihi… Nalu nggak takut sama det-glelnya Sasuke…"
"Hahaha! Ngomong 'R' aja masih belum bisa, sudah mencoba melawan, Naru?"
"Ih! Sasuke jelek! Bokong ayam, mahluk zombie, pengelan es dan olang paling Nalu benci!"
"Hahaha…"
xxxXXXxxx
You are my drugs
I cant life without you and I'll die slowly if you gone
xxxXXXxxx
SFX: bunyi alat jantung
Sasuke Pov
Aku duduk termenung memandangi lelaki didepanku ini. Tubuhnya tak lebih seperti boneka Pinokio yang digerakkan oleh ayahnya. Tak ada senyuman, dia seperti raga yang menunggu kapan ajal akan menjemputnya. Harusnya aku tidak melakukan hal itu. Aku adalah orang yang telah membunuhnya secara perlahan. Aku adalah mahluk keji yang pantas disamakan dengan iblis yang paling jahat. Aku… aku ini siapa?
Memang tak pantas aku mengeluh pada-Mu. Entahlah yang aku maksud 'Mu' disini siapa, Tuhan ataukah yang lain? Entahlah… Yang jelas aku… Hanya ingin Naruto kembali membuka matanya dan mengatakan, "Ohayo gozaimasu, Sasuke." Apa itu tidak bisa?
Apa aku melakukan hal yang benar-benar fatal hingga tak ada seorang pun yang bisa memaafkanku?
"Salahkan aku, Naruto… Aku memang bersalah padamu…" aku mengucap kata-kata sambil menggenggam erat tangannya. Tangan itu kini begitu ringan dan kurus. Jari-jarinya seakan berkata, 'hei anjing liar, makanlah tulang segar ini.'
"Naruto…"
"…"
"Naruto, jawab aku… Aku ingin kau tersenyum seperti dulu. Aku ingin melihat bola matamu yang memancarkan kehidupan. Aku ingin melihatmu datang memelukku dengan segudang cinta…."
"…"
"Naruto… Aku mohon… bangunlah… Maafkan aku, Naruto…"
"…"
"Please… I beging you… My honey…"
xxxXXXxxx
And I realize now
After is too late to stop
I really wanted you more than anymore
I finally realize how much your presence is very important for me
xxxXXXxxx
"Tuan Sasuke… Sebaiknya anda pulang terlebih dahulu. Anda terlihat sangat kusut. Dan satu lagi, tuan Fugaku ingin bertemu dengan anda dan membicarakan soal pertunangan anda tengan nona Hi… Hinata…" Deidara berkata pada Sasuke dengan nada yang dingin, seakan dia berkata dengan nisan yang bertuliskan nama 'Uchiha Sasuke'
"Hn… Aku akan pergi setelah Naru…"
"Tak perlu… Kau hanya… Pergi sekarang, tuan Uchiha yang terhormat…" kata Sakura menahan amarah. Sedangkan Sasuke hanya memandang teduh pada Sakura. Kali ini ucapan Sakura benar, lebih baik dia pergi dari pada menimbulkan kericuhan yang tidak penting.
"Deidara, tolong…"
"Ya, Tuan. Saya akan memberikan kabar jika Naruto telah bangun…" ucapnya yang tanpa sedikitpun menatap Sasuke yang tengah berjalan melewatinya dan menuju pintu keluar.
"Aku permisi…" ucap Sasuke lalu menghilang di balik pintu
xxxXXXxxx
I cant blame you for what happen to me
This is our love story, god written it for us
No… Not us again
But I, you and her…
xxxXXXxxx
[Naruto dream…]
"Tapi aku mencintaimu, Sasuke…" pinta Naruto pada Sasuke
"But, I'm not, my little kitsune…" ucap Sasuke –?– pada Naruto
"Aku sudah menyerahkan semuanya padamu… Bahkan hal-hal yang tidak boleh aku serahkan pada orang lain…" Naruto berlutut memohon pada Sasuke
"Oh, my dear little kitsune. Its because you're too naïve. How can I love somebody like you…" Sasuke menatap Naruto dengan tatapan dingin dan senyuman dingin yang menusuk tiap rongga di tubuh Naruto
"Okay, Sasuke. If you want that… I choose to forget your forever. I'll make you disappear from my memories. And I can happy without you…"
"Good, Naruto… Be a nice boy. Ini lebih baik, dari pada kau harus menderita karenaku, Naruto." Ucap Sasuke yang diikuti dengan senyum paling ikhlasnya –?–
"Sasuke…"
"Selamat tinggal, Naruto. Semoga kita dapat bersama lagi dan merangkai kisah kita yang baru…" ucap Sasuke yang semakin memudar. "I love you, Dobe… Forever Love…"
"I love you too… Teme…" balas Naruto yang perlahan memejamkan matanya dan tertidur. Dan tubuhnya perlahan memudar, meninggalkan dunia mimpi indahnya.
xxxXXXxxx
The Sunset has begun
Time for closed the windows
No…
Its time to sleep
Seen what are you dreaming
xxxXXXxxx
[Orang ketiga sebagai Sasuke *bener gak sih*]
Kau menatap mata yang masih tertutup itu. Kulitnya yang dulu kau lihat berwarna kecoklatan kini berubah menjadi pucat. Tidak sesegar dan seindah dulu. Bibir merah mudanya perlahan berubah menjadi pucat dan sedikit pecah karena tak ada asupan air minum. Kau memalingkan kepalamu ke arah jendela. Kau melihat pantulan buram Wajahmu. Rambut berwarna raven dengan mata yang gelap. Wajahmu dulu tak seperti itu. Dulu Wajahmu tampan tanpa adanya lingkar hitam dibawah matamu. Wajahmu tak terurus dengan adanya kumis halus yang mulai tumbuh.
Kau melihat salju yang perlahan turun melewati jendela kamar itu. "Sudah musim salju ya?" kau bertanya pada dirimu sendiri. Perlahan kau mulai bangkit dan menatap turunan anak salju itu. Kau berpikir, 'Seandainya Naruto dapat melihat salju bulan ini...' lalu kau tersenyum sedikit menatap salju yang perlahan mulai berkumpul ditanah.
"Sebenarnya sampai kapan kau mau begini, Naruto?" kau kembali menatap tubuhnya yang tertidur bagaikan putri tidur yang tertidur dan menunggu pangeran menciumnya.
"Seandainya waktu bisa aku putar kembali… Aku… Aku ingin merubah semua yang aku katakan, Naruto…" kau menatap tubuh bisu didepanmu, perlahan pandanganmu buram karena air mata yang tak mampu kau bendung lagi. Kau kembali duduk dikursimu yang berada tepat di sampingnya.
Hari ini tepat dua bulan ia tertidur dan tidak bangun. Beberapa dokter menyarankan untuk memberinya suntik mati, tapi kamu bersikeras menolaknya. Sakura tidak bisa berkata apa-apa. Kau mengamuk saat dokter itu ngotot tetap ingin memberinya suntikan itu agar dia tidak menderita. Tapi kau tahu, apa yang dia inginkan. Karena dia telah bersamamu sekian tahun.
Ingatanmu kembali saat ayahmu memanggilmu untuk menemuinya. Dengan pandangan dingin ayahmu menatapmu. Sungguh dalam hati kau ingin berteriak padanya. Mengapa dia menghasutmu untuk meninggalkan Naruto yang tidak bisa memberikan keturunan.
"Uchiha Sasuke…" ayahmu memanggilmu. Kau tertegun sesaat, lalu menoleh padanya.
"Hn…" jawabmu singkat tanpa menatap padanya
"Berapa kali aku katakan, jauhi dirimu dari Naruto. Lupakan dia pernah mempunyai hubungan denganmu." Kau memandangnya sesaat dengan amarah. Tapi bukan ayahmu namanya kalau dengan pandangan seperti itu dapat menarik semua kata-katanya.
"Tidak… Aku tidak akan pernah lagi menjauhinya. Aku… akan selalu menunggunya sampai ia terbangun." Jawabmu singkat
"Uchiha Sasuke! Berhentilah memberontak jika…"
"Jika apa? Jika masih ingin menjadi keluarga Uchiha? Apa ayah ini tidak pernah sadar? Karena sikap ayah yang selalu ingin semua yang diinginkan ayah harus terkabul, lihat kak Itachi! Karena ayah selalu memaksa dan mengkekangnya harus menjadi ini dan harus menjadi itu, dia menjadi cerminan ayah. Begitu keji dan tidak berperasaan. Ayah tau betapa sakit hatinya saat ayah memukulnya karena membolos sehari demi kebebasannya. Ayah tau? Ayah mana tau, DAN AYAH TIDAK PERNAH MAU TAU APA KEINGINAN ANAK-ANAKNYA. Karena di pikiran ayah hanyalah kekuasaan dan derajat. LIHAT SEKARANG! Apa yang terjadi atas keegoisan ayah. Ibu memilih bercerai, memang itu pilihan terbijak dari pada dia berada ditempat yang lebih kejam dari neraka!"
"UCHIHA SASUKE!" ayahmu berteriak padamu. Terdengar nada emosi dari suaranya. Kau menatapnya tajam, seakan-akan itu adalah hukuman untuknya. Kau melihat di matanya tergambar luka. Seakan-akan kata-katamu tadi adalah pisau yang merujam hatinya.
"Kau terlalu egois, ayah…" katamu dengan nada pelan. Air matamu kini jatuh, tak bisa kau kuasai lagi. Kau terduduk dihadapan ayahmu. Kau menangis. Meronta. Seakan-akan dia adalah tuhan.
"Sasuke…" ayahmu memanggilmu. Kau berusaha tidak menggubrisnya dan terus menangis seakan tak ada hari esok untukmu. Lalu beberapa saat kemudian, kau merasakan seseorang memelukmu. "Maafkan ayah, Sasuke…"
Kau di pelukkannya. Pelukan yang kau rindukan saat umurmu masih 4 tahun. Pelukan seorang ayah yang mempunyai kasih sayang pada keluarganya. "Ayah… Egois… Padamu, Itachi dan ibumu… Ayah begitu egois. Ayah terlampau buta ketika mengetahui Naruto adalah anak dari Minato. Minato… Minato… Yang pernah merebut seseorang yang hampir menjadi istri ayah dulu…" ayahmu memelukmu lembut. Kau merasakan cairan hangat membasahi bajumu. Kau menatap tubuh yang dulu tegar itu kini sangat rapuh dihadapanmu.
"Sudah… Tak perlu diceritakan…"
"Permasalahannya tak usai sampai disitu… Ibumu… Ternyata tidak pernah mencintaiku… Dia… Mencintai Minato. Karena itu…"
"Naruto bukan Minato, ayah… Dia Naruto… Hanya Naruto…" kau membalas pelukannya. Kau melihat sebersit senyum terlukis di wajah ayahmu. "Naruto tidak pernah mau menjadi cassanova seperti ayahnya. Karena dia berpikir seperti ibunya, bahwa cinta sejati hanyalah satu…" kau berkata lalu melonggarkan pelukanmu padanya
"Ayah… Aku pergi dulu…" katamu meminta izin padanya.
"Berusaha untuk dapatkan dia… Jangan seperti aku, yang hanya bisa menatap satu per satu kepergian orang-orang yang aku cinta…" ayahmu tersenyum lalu membalik tubuhnya membelakangimu. "Pergilah… Raihlah apa yang kau inginkan…" katanya padamu.
Kau tersenyum kala mengingat hari itu. Ayahmu terlihat begitu sangat plin-plan, bukan Uchiha Fugaku yang sebelumnya. "Hei, Naruto. Kau tahu aku ada cerita yang menarik untukmu…"
Kau menceritakan baris demi baris kalimat yang tertulis di buku harianmu yang kau jadikan cerita yang indah dengan otak jeniusmu. Lembar demi lembar kau baca. Kau tak berhenti untuk menceritakannya dari hari ke hari hanya untuknya. Untuk Naruto-mu. Kau menceritakan saat kau dan dia sedang bermain di taman saat berumur 7 tahun. Kau bermain kejar-kejaran dengannya. Dan tanpa sengaja dia terjatuh dan terkena kotoran ayam. Kau tertawa melihat wajah kesalnya. Karena tidak mau sendirian terkena kotoran ayam, ia melemparkannya padamu. Dan terkena di bagian rambutmu. Sejak hari itu ia selalu mengolokimu dengan pantat ayam.
Kau tersenyum, tersenyum seakan dia disana terbangun dan mendengarkan ucapanmu. Kau selalu percaya kata-kata 'orang yang koma bisa mendengar semua ucapanmu.' Kau selalu mempercayai itu, kau selalu mempercayai Naruto ada disana dan mendengarkan semua ceritamu.
"Hei, Naruto… Apa kau ingat pertama kali aku mengatakan cinta untukmu? Kau tersipu dan berteriak-teriak, "Teme gila! Pantat ayam lagi stress akut." Saat itu entah kenapa aku kesal padamu. Tapi, kemudian kau memelukku dan berkata, "Aku juga mencintaimu, Teme…" Taukah kau, Dobe… Hari itu, aku merasa aku terbebas dari semua belenggu kehidupan yang selama ini mengikatku. Karena kau, aku sangat menantikan hari esok… Dobe… Aku… Mencintaimu, selalu…" kata-katamu kau akhiri dengan air mata yang terus mengalir. Perlahan kau menatap wajah itu. Pandanganmu teralih pada matanya yang mengeluarkan beningan air. Ia menangis. Ia merasakan cintamu. Kau tersenyum dan berkata, "Aku tau, Dobe. Aku juga sangat mencintaimu. Cepat bangun ya…" kau akhiri kata-katamu, saat kau merasa matamu sangat berat untuk terbuka.
"Oyasumi… Dobe…"
TBC…
!#$!%^^#$$%!#
CERITA APA INI!
GAK NYAMBUNG ABIS =='
Entah kenapa saat saya menulis cerita ini teringat ketika saya putus dengan pacar saya ==
Kok feelnya serasa putus cinta sih ==
Terlalu terbawa suasana saya *gomen gomen*
!#$%$#$%!
Behind The Scene:
Naruto: Hoam…
Sasuke: Sudah bangun kamu =_=' lagi syuting malah tidur beneran
Naruto: Ada kesempatan kenapa nggak di pake =='
Sasuke: aku juga mau kalo disuru tidur kek gitu =_='
Author: Kau mau Sasuke? Tapi adeganmu kamu tidur di kuburan *bawa senso*
Sasuke: TIDAK, TERIMA KASIH! *ngacir*
Author: Eh? Apa aku keterlaluan ya?
Naruto: *menggeleng* entahlah… *lanjut tidur lagi*
!#$%$$!%!
Mohon kritik
Kalo ada saran mau bagaimana kelanjutan cerita ini gak apa
*biarkan melenceng dari kerangka awal, dari pada kena writer block*
Berikan saya ide senpaiiiiii~~
R
E
V
I
E
W
Please ya senpai~~
