Chapter 2: Untitled

Disclaimer : (akhirnya inget juga) Yugioh punya Kazuki Takahashi, one piece punya Eichiro Oda, twilight punya Stephenie Meyer dan lagu marie punya domba kecil juga bukan punyaku.

Warning : OOC akut. Seperti judulnya, GAJE. Fem!chara. Ngambil beberapa scene dari beberapa buku dan manga. Cross dressing, dan kalau gak suka dengan percintaan yang benar-benar lebay, sangat disarankan untuk tidak membaca fic ini.

Rate : M+ (for blood, adult themes, kissing, bahasa nano-nano and sexual contents)

Genre : Romance/Drama

Setting : Eropa abad pertengahan

Pair :Fem!SetoxJou, slight Fem!AtemxYugi, and other (Cuma selintas)

Penggantian nama dan umur :

Seto Kaiba = Seth Lilianne Roselord, 26 tahun

Jounochi = Joey Philip Black, 18 tahun

Atem = Atem Lameru Black, 216 tahun

Yugi = Yugi Ecrad Black, 255 tahun

(catatan : rupa mereka masih seperti orang berumur 15-16 tahun, penyebabnya bisa di baca di cerita)

_-_-_-_Untitled_-_-_-_

Joey's POV

Meeting

Aku meregangkan otot-ototku, sudah siap untuk berkeliling lagi. Kugosokkan tubuhku yang berlumuran darah ke tulang-tulang beruang yang tadi kusantap dan mulai berlari menyusuri hutan. Pohon cemara, burung hantu, kelelawar, beruang, rusa dan bulan. Hanya itulah yang kutangkap oleh mataku selama perjalanan. Bahkan yang diterima oleh hidung dan kedua telingaku hanya suara aliran sungai di ujung hutan, suara jangkrik, dan bau hewan-hewan –yang menurut penciumanku sangat menggiurkan, tapi tetap saja membosankan. Aku mendesah. Dengan ini mungkin sudah ke 4 kali dalam setahun aku berhasrat melolong sendirian sepanjang malam tanpa henti, mengeluhkan hal yang biasanya ku syukuri karena tidak memilikinya. Kawanan. Aku memperlambat lariku. Berpikir sejenak, memikirkan keuntungan bila aku bergabung dalam suatu kawanan. Jika aku berada dalam kawanan setidaknya ada teman seperjalanan. Tapi hanya itu saja keuntungannya bagiku. Masuk kedalam kawanan berarti aku harus tunduk pada seorang alpha.Kata 'tunduk' itu benar-benar seperti lumpur bagiku. Belum lagi hal-hal yang berada dalam pikiranmu, yang mau atau tidak mau kau bagi akan diketahui oleh anggota kawanan, seperti papan pengumuman yang berada di pusat kota. Aku mendengus. Lebih baik mengosongkan pikiran itu dari kepalaku sebelum aku mati membusuk karenanya. Setelah 3 jam mengitari hutan , aku berlari ke sebuah gua kecil yang letaknya hanya 500 meter dari sini. Syukurlah pakaian yang taruh di gua ini tidak hilang. Kupejamkan mataku dan mulai berkonsentrasi. Kurasakan tubuhku terguncang hebat dan aku merasakan tubuh manusiaku lagi. Setelah memakai bajuku, aku memutuskan untuk pergi ke kota sebelah. Dengan cepat aku berlari menuju kota –walau aku tidak sedang terburu-buru, melatih otot-otot kaki kan' tidak ada salahnya. Ternyata butuh waktu 15 menit berlari untuk sampai di kota yang bernama 'Moonside Valley' yang berjarak kira-kira 10 kilometer dari tempatku tadi. Dengan pelan kutelusuri sepanjang jalan kota. Rumah-rumah yang berjejer rapat, lampu-lampu yang menerangi setiap sudut kota, suara langkah kaki kuda –aku meringis mendengar suara hewan yang satu itu, mengingatkanku pada perburuan pertamaku yang konyol ketika aku diinjak-injak oleh sekelompok kuda liar dan yang aku dapatkan hanya kuda hitam tua yang sekarat– dan suara dengkuran penduduk kota berdendang di telingaku. Untuk sesaat rasa bosanku hilang oleh suasana yang lain –jika di bandingkan dengan hutan tadi. Tapi tidak sampai setengah jam aku berada di sini ketika kelima pancaindra merasa malas untuk menikmati tempat ini. Aku menggeram. Walau sudah 2 tahun menjalani hidup sebagai werewolf, tetap saja aku belum bisa mengatur hasrat menjelajah –atau itulah yang di katakan Mako, 'serigala air' yang mengajariku cara hidup werewolf. Menurutnya, hasrat menjelajah memang sifat alami kami. Ingin menggunakan semua pancaindra untuk sesuatu yang baru dan yang terpenting adalah adrenalin. Menjelajahi, mengamati, kemudian mendapatkan pertarungan yang keras bagaikan darah yang berada dalam tubuh para werewolf . Tentu saja dalam artian ini, akan sangat sulit sekali mengendalikan perasaan itu –dan ternyata memang benar. Hanya ada 1 cara untuk menekan hasrat itu –walau tidak sepenuhnya – yaitu dengan cara imprint. Jika seekor werewolf terkena imprint, maka objek imprintnya akan menjadi pusat perhatian werewolf itu, begitu pula sebaliknya. Seperti menangkap 3 burung dengan 1 batu. Kau menjadi jinak, meneruskan keturunan, dan mendapatkan pendamping hidup. Imprint. Yeah, bagaimana aku bisa lupa. Hal itulah yang menjadi masalah utamaku 2 bulan belakangan. Hampir di setiap ada kesempatan, aku meluangkan waktu untuk memperhatikan setiap wanita yang tertangkap oleh mataku. Dari gadis bangsawan cantik-tapi-sombong yang memamerkan gaun emas sutra serta perhiasan yang dipakainya, gadis manis pemintal benang, anak perempuan yang menjual jeruk, sampai wanita gendut penjual daging. Aku memang pernah tertarik pada beberapa wanita, tetapi setelah itu tidak ada yang aneh denganku.

Aku mempercepat jalanku. Kembali memfokuskan pendengaran, berharap menemukan sesuatu yang lain –pastinya bukan suara langkah kaki kuda atau ocehan Mako tentang imprint yang sejak tadi membebani kepalaku. Tidak lama kemudian, aku mulai mendengar desiran ombak dan suara orang-orang yang . . . tertawa? Mungkin sedang ada pesta pantai. Kakiku bergerak dengan cepat. Tidak ada salahnya 'kan aku ikut bergabung?

Aku bersembunyi di antara atap rumah penduduk. Oke, ada 2 kesalahan dalam analisaku tadi. Pertama, ini lebih mirip pelabuhan daripada pantai, jika tidak ada rumah-rumah penduduk di dekatnya. Dan kedua, tidak ada pesta di sini, kecuali bagi para bajak laut yang sedang asik merebut harta penduduk dan mengeluarkan tawa seperti suara kuda sekarat. Aku mengamati mereka lebih tajam. Jumlah para bajak laut itu mungkin sekitar 60 orang dan ada seseorang berpakaian tail coat usang berwarna coklat tua sedang memerintah merekayang wajahnya pernah kulihat. Aku teringat pada daftar mangsaku dan segera membukanya. Clovis de Lavina, seorang bajak laut berharga 5 juta berry. Memang belum sekalipun aku pernah memburu orang yang berharga di bawah 10 juta berry, tapi mungkin menghabisi dia dengan 60 awaknya mungkin bisa memuaskanku. It's time to work!

Dengan cepat aku turun dan langsung meninju awak bajak laut terdekat. Tetapi baru kusadari kalau orang itu sudah terluka ketika kupukul. Tampak bekas sayatan pedang yang masih baru. Dengan cepat aku menoleh ke samping dan menemukan seorang pemuda –kalau dilihat dari cara berpakaiannya, sih– dengan tinggi badan yang hanya mencapai leherku, rambut coklat lembut, dan bermata biru bagaikan azuri. Untuk sesaat seperti ada banyak tali berbeda warna yang melilit tubuhku. Tetapi yang aku rasakan bukanlah sesak yang membunuh, melainkan kelembutan yang menenangkan.

"Lambat sekali seranganmu tadi, anjing bodoh." Aku tersentak. Seluruh tubuhku memanas, tapi lagi-lagi seperti ada yang menahanku untuk meledakkan amarah. Begitu sadar aku melihat sudah ada 5 anggota bajak laut lain yang rubuh, dan bibir 'pemuda' itu membentuk seringaian mengejek. Aku terima 'undangan perlombaan' itu. Dengan sekali pukul, kuhabisi 2 orang awak bajak laut di depanku. 2-6. Itu baru permulaan. Akan kutunjukkan siapa yang lebih hebat.

(skip time – 10 minutes later)

Aku menggertakkan gigi. 28-32 untuk kekalahanku, serta 'pemuda' itu juga yang lebih dulu menghabisi kaptennya. Dan hal ini mungkin tidak akan terjadi kalau aku lebih berkonsentrasi pada targetku. Bukannya aku menyangkal, tapi sejak tadi aku hanya menggunakan hidungku untuk mengetahui posisi lawan-lawanku, sedangkan indra penglihatanku hanya tertuju pada si pemilik mata biru itu. Bagiku dia seperti perangkap. Aku melihat pada dirinya tali-tali yang –dalam pikiranku– mengikat tubuhku. Tapi sekarang aku bisa membaca warna pada tali-tali itu. Kuat, rapuh, sepi, cerah, dingin, gelap, manis . . . anggun . . . cantik . . .

"Kenapa kau bengong? Apa tadi kau memaksakan diri untuk mempercepat gerakmu sehingga kau tidak punya tenaga lagi untuk berpikir, anjing?" Dia tersenyum sinis, tapi aku tidak bergeming. Ada 3 hal yang telah kuabaikan. Pertama, dari pemuda itu tercium bau vampir. Seharusnya aku menjauh darinya kalau tidak mau mati karena kehabisan darah. Tetapi yang membuatku bingung, bau manusia juga ada padanya, suatu fenomena yang aneh. Yang kedua, suara rendahnya seperti dibuat-buat –walau dalam hal ini aku benar-benar harus memfokuskan pendengaranku, karena kalau hanya didengar sekilas tidak ketahuan– hal itu membuat kecurigaanku bertambah kuat kalau dia itu bukan laki-laki. Dan yang terakhir, ada bau kayu manis yang tercium dari tubuhnya, dan itu semakin memikatku.

"ANJING BODOH! Kau ini sudah benar-benar menjadi batu ya?" Dia kehilangan kesabaran. Aku menggeram.

"Joey Philip Black! Itu adalah namaku dan jangan panggil aku bodoh!" Suaraku meninggi, tetapi entah kenapa tidak bisa mengeluarkan seluruh emosiku. Seperti ada yang menahan untuk melakukannya, agar dia tidak terluka. Tidak, mungkin lebih tepat akulah yang menahan diriku sendiri. Dia mendengus dan bersiap untuk pergi.

"Namamu?" dia menoleh kembali, dan terdiam sesaat. Hei, pertanyaanku tidak susah untuk dijawab kan'?

"Seth" itulah nama yang terlontar dari mulutnya. Seth, Seth, Seth. Nama itu seperti melayang-layang di atas kepalaku, dan yang membuatku heran aku menyukainya. Aku menghela nafas, lalu dengan cepat berlari menuju rumahku. 'Seth punya domba kecil . . .' aku nyengir. Ternyata nama orang menyebalkan itu bisa jadi lagu yang bagus juga.

Friend

( 2 months later )

"Ternyata kita bertemu lagi, Seth" Sapaku. Dia menggeleng.

"Wah, senang bertemu denganmu, Joey. Kau sedang bertamasya ya?" tanyanya dengan nada sakratis, namun tangannya terlihat sedikit gemetar. Dia hanya menguji kewarasanku. Memang tidak salah sih, kalau kau menyapa orang lain dengan caraku tadi ketika kebetulan bertemu disaat sedang dekat dengan target –apalagi kalau target itu berharga 140 juta berry dan memiliki 10 bawahan yang masing-masing memiliki harga diatas 15 juta, orang yang kau sapa pasti mengira kau ini gila.

"Sebenarnya sih ingin, tapi aku sudah ada janji dengan orang yang berharga 140 juta dan 10 kurcacinya." Kataku sambil bersiap untuk keluar dari tempat persembunyian, dia menahanku.

"Jangan bilang kau mau kesana dan langsung menyerang mereka begitu saja!" Aku mendengus kesal. Apa dia pikir aku tidak bisa menangani mereka sendirian?

"Aku sudah biasa bertempur melawan yang seperti ini!" aku menggeram. Well, tidak sepenuhnya benar, sih. Sejauh ini target tertinggi yang pernah kukalahkan hanya seorang buronan bernilai 97 juta.

Dia mendesah. Raut wajahnya seperti kelelahan mengurusi anak berumur 4 tahun yang idiot.

"Memang kau punya rencana yang lebih baik?"

"Bisa dibilang sekarang hanya aku yang punya rencana, ya 'kan mutt ?" Great. Sekarang aku punya panggilan baru. Tapi dia benar, aku tidak punya rencana apapun. Selama ini aku hanya menggunakan insting.

"Baiklah Master-yang-tahu-semua, katakan apa rencanamu." Dia menyeringai. Fuck. Ini pertama kalinya aku harus mengerjakan apa yang harus dilakukan dalam 'berburu'.

(Skip time – 2 hours later)

Setelah mengalahkan target dan kesepuluh bawahannya –Sebenarnya aku malas mangakuinya, tapi rencana Seth memang hebat – aku pergi ke sebuah bukit yang terletak di sebelah tenggara tempat ini. Bulan purnama yang bertengger sempurna, benar-benar cocok bersanding dengan tarian rumput yang lembut di padang rumput ini. Aku duduk di antara rerumputan, mencabut beberapa diantaranya, dan pelan-pelan membuka kepalan tanganku yang di penuhi helaian rumput agar mereka terbang terbawa angin. Senyum miris tersungging di bibirku. Kebiasaan memang susah untuk dihilangkan.

"Siapa?" Aku menoleh. Seth. Sesaat kupikir dia amnesia sehingga lupa namaku. Tapi aku sadar dia tidak melihatku, tapi apa yang aku lakukan. Siapa yang sedang aku kenang.

"Orangtuaku" Aku meringis saat mengatakannya, membuatku ingat tentang peristiwa itu. Ayah dan Ibu . . . Mereka jatuh . . . tidak bergerak dan dingin . . . Dan yang aku lakukan hanya berlari . . . berlumuran darah ayah, ibu, dan dari luka tebasan di dadaku. Berlari seperti orang gila . . . mencari bantuan, sampai pandanganku memburam dan terjatuh. Aku gagal menyelamatkan mereka.

Aku bisa melihat sirat matanya berubah. Mirip dengan tatapan yang diberikan oleh orangtua angkatku, dipenuhi rasa bersalah dan kasihan. Aku benci dikasihani, itu hanya menunjukkan kalau aku lemah. Aku merasakan tatapan dari pemilik rambut coklat itu –walau aku tidak suka untuk mengakuinya– seperti sebuah pelukan yang menenangkan. Dan anehnya malah aku yang merasa bersalah sekarang.

" Hei, jangan menatapku seperti itu terus! Peristiwanya sudah lama sekali –12 tahun itu waktu yang lama bukan?– lagipula tidak lama setelah itu aku mendapatkan orangtua angkat, kok! Mereka sangat baik padaku." Dan fakta aneh yang perlu dicatat yaitu orangtua angkatku itu vampir. Mereka juga tahu kalau aku ini werewolf –bahkan sebelum aku menyadarinya– dan aku benar-benar disayang oleh mereka. Benar-benar kenyataan yang sinting mengingat pertumpahan darah antara werewolf dan vampir sudah melegenda, bahkan di antara manusia biasa sekalipun.

Sorot matanya melembut. Bibirnya sedikit membentuk senyuman, yang membuatku ikut tersenyum.

"Untuk ukuran seseorang yang disayang oleh orangtuanya, kau terlihat terlalu urakan." Candanya. Tapi harus kuakui, perkataannya itu memang benar. Aku memang bukan tipe orang yang memperhatikan kerapihan diri.

"Sebenarnya aku sudah berpisah dengan mereka. Kau tahu, seorang pria dewasa butuh petualangannya sendiri 'kan?" kataku mantap, walau ada satu alasan lagi bagiku –bukan alasan utamaku, sih–. Atem, ibu angkatku. Dia memang sangat sayang padaku, tapi selalu memperlakukanku seperti anak kecil. Aku bisa mengerti naluri keibuannya yang sangat besar , tapi ketika aku berumur 14 tahun dan dia masih menceritakan kisah khayalan dari buku bergambar saat aku akan tidur, rasanya kebanggaanku sebagai laki-laki hancur berkeping-keping.

"Memang kau pria dewasa? Bukannya ANJING?" godanya. Aku pura-pura menggeram, tapi aku terhenti ketika mendengarnya tertawa. Tawanya memang dikarenakan dia puas mengejekku, tapi yang sampai ketelingaku seperti alunan musik yang harmonis. Halus, bahkan lebih halus daripada tawa ibuku.

Mungkin berteman dengannya adalah sesuatu hal yang bagus.

Fears, Tears

(Skip time : 6 months later)

Jantungku berusaha menyeimbangkan iramanya. Di depanku ada 5 tubuh yang tidak sadarkan diri. Ternyata para penjaga kastil ini benar-benar hebat, bahkan dengan kemampuan tubuhku yang cepat menyembuhkan diri saja, aku harus beristirahat dulu. Kalau aku melewati lorong bawah tanah, aku akan sampai ke tempat penyimpanan senjata, menyalakan api di sana dan BAM! Satu bangunan besar yang meledak cukup untuk mengalihkan setengah dari penjaga yang ada di sini. Seth masuk lewat utara, membuka rute tercepat untuk masuk ke kamar Francis Ceil Howard, target berharga 207 juta. Sebuah seringaian terbentuk di bibirku, mengingat ini adalah perburuan terbesar yang akan kami lakukan.

Kugerakkan tubuhku, bersiap untuk melakukan misi. Tapi tiba-tiba nafasku tercekat, jantungku terpacu jauh lebih cepat dan pandanganku mengabur. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, dan yang aku mengerti hanya perasaan panas membakar di dalam diriku. Marah. Dendam. Terluka. Gagal. Perasaan itu terus mencambukku. Dengan cepat kubawa tubuhku. Aku tidak tahu kemana aku berlari atau kenapa aku seperti ini. Aku bahkan tidak memikirkannya sama sekali, karena pikiranku dipenuhi oleh seseorang.

Seth . . .

Kakiku berhenti di sebuah lorong sempit. Hanya cahaya bulan yang memasuki sela-sela tembok yang menjadi penerangan lorong ini. Tapi aku bisa melihat dengan jelas sosoknya. Seth. Pandanganku mulai menjelas. Aku mendekatinya, tapi yang aku lihat membuat perasaanku lebih berkecamuk. Tubuhnya gemetar, rapuh. Cakarnya ternoda oleh darah seseorang. Terlihat bekas cabikan di kedua kakinya. Butiran air mata jatuh kepipinya yang putih. Dari mata azuri yang sembab, aku bisa melihat kemarahan dan perasaan terluka di dalamnya. Dan suara tangisannya yang sunyi. Suara tangisan seorang wanita. Wanitaku.

Panas di dalam tubuhku memuncak. Aku mendengar gerakan orang lain agak jauh di depan kami. Di depan tembok yang hamper runtuh, berdiri seorang lelaki berambut merah dengan coat biru muda yang rusak. Francis Ceil Howard, aku tidak lupa dengan wajahnya yang menjijikan. Terlihat bekas 3 cakaran yang dalam pada dada lelaki itu. Tubuhku sudah tidak sabar untuk menghancurkan pria itu.

"hmm, ternyata ada seekor anak anjing yang datang kesini. Penghisap darah itu temanmu 'kan?" pertanyaannya yang lebih tepat disebut pernyataan karena tidak ada keraguan pada suaranya. Aku menggertakan gigi. Baru 10 detik aku bertemu pria ini dan dia sudah membuatku muak!

"Benar ya? Kalau begitu kau beruntung sekali, kau punya teman yang . . . menggiurkan. Padahal aku baru 'menyentuhnya' sedikit, tapi dia langsung mencakarku. Kecantikan itu memang liar, apa kau setuju?" Kata-kata yang dilontarkannya membuatku mendidih. Seth berlari kearahnya, akan menyerangnya. Tapi aku segera berubah menjadi serigala dan mendorong Seth kebelakangku, mengisyaratkannya untuk tidak menyerangnya. Aku melakukannya bukan karena aku takut dengan si brengsek itu, tapi aku tidak ingin melihat Seth terluka. Sekarang akulah yang berlari menerjang pria itu. Sekarang yang aku inginkan adalah mengantarkannya kepada kematian.

"Kau ingin bermain juga rupanya anjing kecil!" Katanya dan sesaat kemudian dia berubah menjadi seekor singa yang ukurannya lebih besar dariku. Aku tidak peduli. Pandanganku menjadi gelap. Yang kurasakan hanyalah cakaran yang bertubi-tubi mengarah kepadaku. Dan itu mulai terhenti ketika aku menancapkan taring ke lehernya. Dia memberontak dan membenturkanku ke tembok. Si keparat itu menancapkan taringnya ke bahuku. Ku gunakan badanku untuk menindihnya. Gigitannya terlepas dan aku langsung menggigit lehernya. Memutarnya. Aku merasakan detak jantungnya melemah dan dia seperti meneriakkan maaf, yang tentu saja tidak aku gubris. Aku terus mengoyak lehernya, hingga akhirnya aku sadar kalau kepalanya sudah terlepas. Tubuhku kembali menjadi manusia. Aku langsung berlari kearah Seth. Dia tergeletak lemah, tidak sadarkan diri. Luka disekujur tubuhku masih terasa sakit, tapi kupaksakan diri untuk membawa tubuhnya yang kecil dan lari secepat mungkin.

Bitter Past

Kulihat dia perlahan-lahan bergerak, membuka matanya yang seindah lautan lepas. Aku membantunya untuk bangun, tapi dia menepis tanganku. Sorot matanya menegang.

Tanganku dengan cepat menyentuh tangan Seth yang hampir sama dinginnya dengan es. Telapak tangan kami bertemu. Secara otomatis aku menutup kedua mataku. Aku tidak tahu apa atau bagaimana aku melakukannya, tapi setelah aku membuka mata aku tidak berada di rumahku lagi. Tetapi apapun ini, ada getaran dalam tubuhku yang mengatakan kalau ini ada hubungannya dengan Seth.

Aku melihat sebuah pedesaan dan di sana ada sebuah rumah luas yang indah. Taman yang dipenuhi oleh bunga mawar dalam berbagai warna sangat memikat penglihatanku. Didekatnya seorang wanita bernyanyi dengan suara yang lembut dan familiar untukku. Aku menatapnya lekat-lekat. Rambut chestnut sepunggung, gaun berwarna coklat muda yang sederhana –walau tetap indah kalau dia yang memakai–, sepasang mata azuri yang memikat dan bau kayu manis yang khas. Seth adalah wanita itu. Dia jauh lebih cantik dibandingkan dengan taman itu. Tetapi belum lama aku melihatnya, pemandangan di sekitarku berubah menjadi gelap.

Aku mendengar suara tangisannya, diikuti oleh suara gemerincing rantai. Tiba-tiba pemandangan di sekitarku berubah. Di sampingku ada banyak orang yang duduk di kursi penonton dan rebut menyebutkan jumlah uang. Di depanku terdapat sebuah panggung dan yang membuat nafasku tercekat adalah wanita yang berada di atas panggung itu. Seth. Gaun coklat muda yang di kenakannya rusak. Ada bekas cambukkan di kedua tangannya. Wajahnya menunduk, sebuah rantai mengikat leher dan kedua kakinya. Damn it! Kenapa pada saat seperti ini tubuhku tidak bisa digerakkan?

"400 juta untuk wanita cantik itu!" semua orang yang ada di sana terdiam, terkejut dengan angka yang dikeluarkan oleh seseorang. Sekarang aku benar-benar berharap bisa meloncat dan mencopot kepala orang itu.

"Baiklah para tamu yang terhormat! Seth Lilianne Roselord, mawar biru dari Domalesca telah terjual pada Lord Gandall !" Akh! Omongan sampah itu membuatku gila. Tubuhku masih terasa kaku, tapi lagi-lagi di sekelilingku menjadi gelap.

Aku sudah tidak lagi berada di tempat yang busuk itu. Aku berharap tidak menemukan ingatan Seth yang lebih buruk dari ini. Ternyata aku salah besar. Sekali lagi kulihat dia menangis, bahkan menjerit. Dan wajah pria yang membelinya itu sangat menjijikan. Dipenuhi nafsu yang bengis. Sebuah cap yang baru diangkat dari kobaran api itu ditempelkan kepunggungnya. Jeritannya membuat nafasku tertahan. Pemandangan itu menyayatku. Sakit, marah, dendam. Semuanya bertumpuk. Aku merasa benar-benar tidak berguna sekarang.

Tiba-tiba sebuah ledakan terdengar tidak jauh dari tempat ini. Sesaat perhatian si keparat itu teralihkan. Kesempatan itu dia gunakan untuk merebut cap itu dan memukulkannya ke kepala pria itu. Dengan cepat, dia mengambil sebuah jubah dan berlari menjauh dari tempat menggenaskan ini. Tapi tepat dihadapannya ada sesosok liar yang bertaring. Aku mendengar tawanya yang gila. Vampir muda. Aku teringat apa yang pernah diucapkan Yugi padaku. Jika seseorang baru menjadi vampir, gairahnya akan memangsa darah manusia benar-benar tidak bisa ditahan. Dan di sinilah aku, hanya bisa menjadi penonton ketika Seth diserang oleh vampir itu. Kudengar detak jantungnya melemah, nafasnya terganjal. Pandanganku mulai meredup.

Seth . . .

"AAKH!" aku kembali, tapi tidak membuatku bertambah baik. Aku ingin mengamuk. Ingin membunuh siapapun yang melukainya. Air mataku mengalir deras. Seluruh badanku gemetar. Tanganku memegang erat pergelangan tangannya.

"Walau dilihat berapa kalipun, kau tidak akan mengerti." Katanya mencoba sakratis, namun yang terdengar hanya seperti ungkapan rasa sedih dan kepahitan yang menghancurkan 'dinding' yang dia buat. Dinding untuk bertahan hidup, berlindung dari kenyataan dirinya sendiri.

Kedua tanganku melingkari tubuhnya yang ramping. Membenamkannya ke tubuhku. Kurasakan sesaat tubuhnya menegang, terkejut. Tapi kemudian melemas dan membiarkan aku memeluknya. Pelukkanku adalah respons untuk pernyataannya. Secara otomatis tanganku mendekapnya lebih erat, sesuai dengan perintah dari pikiranku. Mataku terasa berat. Semua peristiwa yang kulihat seperti kertas-kertas yang melayang cepat di hadapan mataku dan aku tidak bisa melihat dengan jelas satu katapun dari kertas-kertas itu. Singkatnya, aku tidak mengerti semuanya. Terjadi begitu cepat. Menusuk dan membawaku ke dalam kegilaan. Mataku terkatup. Mencoba untuk tenang. Tapi lagi-lagi wangi kayu manis yang memikat malah membuatku terlalu tenang. Tidak sampai 10 detik, aku sudah mengeluarkan dengkuran yang cukup besar untuk membuat semua orang yang ada didekatku merasa terganggu. Lupa kalau dalam dekapanku masih ada pemilik sepasang mata azuri yang tertindih oleh badanku.

Imprinted

Taringku terus mengoyak daging rusa jantan yang baru kutangkap. Ah, menjadi werewolf memang benar-benar menyenangkan. Saat aku sedang menikmati isi perut binatang malang ini, aku mendengar langkah kaki yang sangat familiar. Dan tentu saja, sangat kusukai.

"Sudah selesai dengan makan malammu, mutt?" Seth duduk di dekatku. Seringaian terbentuk di wajahnya. Aku berpura-pura menggeram. Sebenarnya sampai sekarang aku sangat bersyukur, setelah 2 bulan sejak peristiwa itu dia kembali seperti biasanya, Seth yang menyebalkan –sialnya aku tidak keberatan dengan sikapnya itu–.

" Perutku sudah lebih terisi sekarang." Lolongku. Mulutnya terbuka sedikit, tapi kemudian tertutup lagi dan tangannya yang lembut memainkan kepala rusa jantan tadi. Sementara aku menyelesaikan transformasiku.

"Kau memang benar-benar anjing. Berantakan sekali cara makanmu." Aku mendengus mendengar komentar sadisnya. Ternyata butuh waktu sedikit lebih lama untuk bisa kebal dengan kebiasaannya yang satu ini.

"Kalau begitu, apakah kau bisa mengajariku cara makan yang benar, nona?" Tantangku. Badannya segera bangkit dan semakin mendekat kepadaku.

"Aku bertaruh kalau aku tidak akan memuncratkan darah hewan seperti kau. Itu akan merusak gaun baruku." Jemarinya yang dingin mengitari dadaku yang berlumuran darah mangsaku tadi. Aku membeku. Seperti racun, tetapi ini menyenangkan. Mataku secara perlahan menatap wajahnya.

Hanya satu kata yang bisa kubaca jelas dipikiranku. Kacau.

Rambut coklat lembut yang mengeluarkan wangi kayu manis, mata azuri yang terlihat sangat dalam, dan kulitnya yang pucat membuat detak jantungku menjadi normal. Aku merasa tenang sekaligus pusing. Dia selalu menjadi pemeran utama di pikiranku. Semua yang aku rasakan dengan cepat terekam dan melekat di kepalaku. Gerakan, suara, amarah, dan yang terpenting adalah . . .

Kebahagiaannya. Aku tidak boleh gagal dalam melindunginya. Lagi. Aku menyeringai. Geli pada pikiranku sendiri yang mungkin terkesan . . . berlebihan. Tapi aku tidak bisa menyangkalnya.

"Joey?" Shit, aku memang tidak mau menyangkalnya.

"Hei, mutt! Otakmu membeku la–" Dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Aku mencium bibirnya dengan halus. Kurasakan kedua lengannya terlingkar dileherku dan membalas ciumanku. Tidak lama, aku menarik diri untuk bernafas. Damn it! Padahal aku kuat tahan nafas selama 1 jam. Atau mungkin kami memang sudah berciuman selama itu? Dahiku mengerinyit. Merasa kagum sekaligus bingung pada diriku sendiri yang –untuk pertama kalinya– menganggap 1 jam adalah waktu yang cepat.

"Apa alasanmu?" meskipun memalingkan wajahnya, aku bisa melihat semburat merah muda muncul di pipi Seth saat melontarkan pertanyaan itu.

" I, love you . . .?" kataku tidak yakin. Jujur saja aku takut dengan reaksinya nanti.

" Joey . . ." Wajah kami kembali bertemu. Bibirnya membentuk senyuman. Dengan sorotan cahaya bulan benar-benar membuatnya semakin indah.

"Ya?" Cengiran terpasang di wajahku sekarang. Tangannya yang dingin menyentuh dadaku dan …

*BUKK* Sebuah pukulan telak mendarat di perutku. Aku terpental, dan mendarat dengan 'sukses' ketika aku membentur sebuah pohon cemara –dan gilanya, pohon itu juga rubuh. Ada 2 hal yang jadi pikiranku sekarang. Harga diri sebagai laki-laki hancur dan sebuah nama ejekkan untuk Seth. Gorila. Gorila betina yang cantik.

Oke, kalau pukulan itu berarti penolakan seharusnya aku merasa sedih, bukannya memikirkan lelucon!

"Kau ini tidak romantis, ya?" Sebuah suara yang lembut menyadarkanku. Aku menengadah keatas dan menemukan wanita pemilik mata azuri itu sedang duduk di atas perutku.

"huh?" Aku berusaha untuk mencerna kata-katanya.

"Anjing bodoh . . ." Nadanya yang halus sangat kontras dengan kata-katanya membuat seringai kemenangan di wajahku.

"Jadi . . .?" godaku. Dia berpindah, berbaring di sampingku.

"Kau akan jadi bawahanku lebih lama lagi, mutt." Jujur, aku belum terbiasa dengan panggilan itu. Tapi perasaan itu langsung hilang ketika dia menciumku.

Imprint itu ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang kukira.

Lie

Hanya ada dua kata yang bisa kukatakan sekarang. Dia bohong. Bohong kalau aku tidak romantis, kalau aku ini bau, kalau aku ini bodoh. Karena faktanya dia berada dipelukkanku, dengan wajah yang merona merah membelai rambutku dengan lembut dan mempererat pelukkannya. Mungkin sudah sejak 5 jam yang lalu sejak cincin emas putih berukirkan naga dan mawar yang bertengger di jari manisnya, dan kami tetap seperti ini. Saling mempererat pelukkan. Aku menyanyikan sebuah lagu tidur untuknya. Yang bisa dibilang memalukan, karena berakhir dengan dengkuran besarku.

Marriage

"Kau benar-benar aneh mate. Benar-benar aneh." Mako menepuk pundakku. Aku mengangkat sebelah alisku.

"Ayolah Joey! Kau pasti tahu maksudku 'kan? Aku bisa mengerti tentang orangtua angkatmu yang vampir. Tapi kalau werewolf menikah dengan vampir? Beri aku alasan yang rasional kenapa kau mau menjadi suami dari wanita yang suatu saat bisa saja menghisap darahmu?" Aku nyengir.

"Ada dua. Aku mencintainya dan hal imprint itu. Dia itu sama seperti orangtuaku, mereka baik pada para werewolf. Kalau dia itu maniak darah seperti yang kau katakan, kau dan Mai tidak mungkin mau jadi walinya. Ya 'kan ayah mertua?" Mako merinding mendengar kata 'mertua' dariku. Aku tertawa.

"Sejak kapan kau jadi sopan begitu, bayi anjing?" Aku menggeram. Sekarang giliran aku yang harus mendengarnya tertawa puas, tetapi kemudian dia berhenti. Aku mengerutkan kening. Suatu hal yang luar biasa untukku melihat serigala air itu berhenti tertawa dengan cepat.

"Sejak pertama kali bertemu dengannya aku merasa ada yang aneh. Kenapa ada sebagian bau manusia di dalam tubuhnya?" Pertanyaan itu menyentakku. Suatu hal yang baru kupikirkan lagi. Bagaimana kalau fenomena itu adalah pertanda buruk?

"Ya, memang sebuah fenomena yang langka. Jujur sebagai vampir sendiri aku baru melihatnya dua kali." Sebuah suara yang familiar mengejutkanku. Yugi, ayah angkatku. Mata violetnya yang tenang seperti mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja. Biasanya ini ampuh untuk menenangkanku, tapi kali ini aku tetap belum bisa tenang. Dia menatap mataku. Seakan bisa membaca masalah yang melayang-layang di kepalaku. Dia tersenyum.

"Tidak apa-apa, Jo. Bau manusia dan vampir tercium dari tubuhnya karena dia hanya setengah vampir. Terjadi karena daya tahan tubuh manusia itu cukup kuat untuk menahan efek racun vampir agar tubuhnya tidak terinfeksi seluruhnya." Mako mengangguk, sepertinya menangkap apa maksud Yugi. Tapi menurutku penjelasannya belum cukup.

"Lalu, apa yang akan terjadi dengan Seth?" Aku menggeram tidak sabar.

"Kekuatan dan daya tahan Seth sedikit di bawah para vampir yang tubuhnya membeku dengan sempurna. Misalkan jika vampir utuh bisa hidup sampai umur 600 tahun, mungkin dia hanya bisa hidup sampai setengahnya. Dan walaupun tidak bertambah tua, tubuhnya masih bisa berubah. Kalau dalam artian lain, dia bisa hamil." Rasanya penjelasan Yugi membuat beban dipikiranku terbang lepas. Tapi sesaat kemudian aku baru sadar kalau aku kehilangan seseorang.

"Ayah lihat Seth?" Yugi tertawa kecil mendengar pertanyaanku, sedangkan Mako terlihat siap meledakkan tawanya.

"Atem, Mai dan seorang wanita berkulit gelap membawanya untuk mengajarinya tentang . . . aku juga tidak terlalu mengerti percakapan mereka, tapi kurasa mereka berbicara tentang 'kehamilan', 'hukuman', 'make-up', 'masakan' dan 'suami'. Tapi aku yakin kau tidak mau mendengarnya." Aku mengangguk mantap. Pembicaraan perempuan memang selalu terdengar membingungkan. Tapi sedetik kemudian wajahku kembali menekuk. Damn it! Seharusnya aku didampingi istriku sekarang!

"Haha, sepertinya ada anak anjing yang merindukan 'nona'nya, haha!" Aku menggertakkan gigi, lalu mengambil sepotong chesse cake dan menyumpalnya ke mulut serigala air itu.

"Hei, Joey! Boleh aku ikut bergabung?" Aku menoleh. Duke Delvin, satu-satunya manusia dalam pesta kecil ini, dan juga orang yang paling menyebalkan kedua dalam hal tertawa setelah Mako.

"Yep, selamat datang di pesta para bujangan, Duke!" Kataku sakratis. Dan hasilnya, perlu 3 chesse cake lagi untuk membuat suasana kembali tenang.

"Aku tidak menyangka kalau kau punya bakat melawak juga, anak anjing!" Aku hanya bisa mencibir sebagai responsnya, sedangkan Duke menatapku seakan mengatakan 'sepertinya-aku-melewatkan-sesuatu'.

"Oh ya, kemana Isis?" Aku berusaha mengalihkan perhatian. Menjadi bahan lelucon di hari pernikahanmu sendiri itu benar-benar tidak enak.

"Dia pergi bersama istrimu dan 2 wanita lainnya untuk melakukan 'pembicaraan khusus' atau apalah . . ." Aku menampar dahiku sendiri atas jawabannya yang diterima. Benar-benar mirip dengan yang dikatakan yugi.

Tunggu dulu . . .

"Ayah, kau benar-benar hebat. Sangat. Hebat" Kataku dengan nada penuh kagum. 3 lelaki yang berkumpul denganku memasang wajah bingung.

Aku menoleh ke pria bermata emerald itu dengan wajah setengah serius. "Duke. Yugi, ayahku. Telah menyebut Isis, istrimu. Wanita berkulit GELAP." Seketika mulut Duke mengeluarkan bisikan 'wow', sedangkan Mako dan ayahku semakin mengerutkan kening. Aku menatap mata Duke, kemudian pria itu mengangguk mantap.

"Aku. Duke Delvin, suami dari Isis Ishtar Delvin, menyebutnya 'wanita berkulit coklat' sebagai bagian dari puisi cintaku padanya, dan akhirnya tulang lengan, bahu, rusuk dan kakiku patah serta sebagian rumah kami hancur selang 1 jam dia selesai membaca puisi dariku. Kau benar-benar mendapat perlindungan dari Tuhan, bung." Mulut Yugi menganga, tidak percaya. Sedangkan tubuh Mako merinding, seakan-akan habis mendengar cerita hantu terseram.

"Wow, ternyata ada yang serangannya lebih 'hebat' dari Atem." pernyataan ayah membuatku harus mengunyah 2 kue tart sekaligus untuk menahanku agar tidak tertawa. Aku tidak menyangka seorang Yugi Ecrad Black, vampir yang cukup disegani dan berwibawa ini bisa juga takut pada istrinya.

"Dan kabar buruk untukmu Joey, Isis bilang dia akan mengajarkan hal itu pada istrimu." Seringai kemenangan terukir di wajah Duke, sedangkan aku hanya bisa menghela nafas berat.

"Seharusnya Isis tidak usah repot-repot mengajarinya. Seth sudah SANGAT terlatih menghajarku."

"Mungkin semua perempuan dilahirkan dengan kekuatan itu. Mereka memang makhluk yang paling misterius." nilai sempurna untuk Mako. Yup, perempuan memang paling sulit ditebak.

"Tapi merekalah yang paling kita cintai . . ." Pernyataan ayah membuat suasana hening sesaat, lalu tawa yang seirama terdengar dari kami. no matter who they are, they fill most of our lifes.

Hard and easy

(skip – 3 years and 6 months later)

violet lilac,honey tulip, golden rose, night-sky orchid, dan crystal lily. Seikat besar bunga berada aman di tanganku selagi aku berlari pulang ke rumah –atau kalau dilihat dari luas dan arsitekturnya kau bisa menyebutnya sebagai kastil. Aku tidak yakin sudah menyusunnya dengan benar, karena aku sendiri tidak terlalu tertarik pada tumbuhan dengan kelopak yang melekat itu. Aku tersenyum kecil, Seth pasti akan menyukainya.

Aku sampai di depan gerbang rumahku. Kakiku secara otomatis mengikuti penciumanku, menuju kamar tidur kami yang berada di lantai dua. Baru 2 langkah tubuhku berada dikamar, cengiranku berubah menjadi senyuman nervous. Sebenarnya yang kulihat tidak ada yang aneh. Hanya seorang wanita –yang semakin hari semakin cantik– sedang memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin. Dan biasanya, aku langsung memeluknya dari belakang, mencium rambut chestnutnya –yang biasanya menjalar keleher dan dagu – dan aku akan mendapat balasan berupan tinju kecil di pipi serta ciuman di hidungku. Tapi sayangnya, 3 bulan belakangan ini bukanlah situasi yang BIASA. Oh, God. Mungkin sekarang belum terlambat untuk la–

"Joey?" suaranya terlalu lembut untuk ditolak. Seperti terhipnotis, tubuhku mendekat kearahnya. Senyuman tegang masih bertengger di wajahku dan tanganku menggenggam erat bunga-bunga yang kukumpulkan. Sepertinya ada beberapa tangkai bunga yang sudah sedikit patah. Fuck.

"Ada apa, cannelle1?" Tanyaku dengan nada yang, err . . . dibuat tenang. Sepertinya berhasil, karena wajahnya yang langsung menekuk. terkadang aku merasa sedikit kesulitan mempunyai istri yang selalu to the point. Rasanya aku ingin menelan segalon air liurku sendiri.

"Apakah aku bertambah gendut?" Bagus, Joey. Selamat datang ke acara 'jawab-apapun-kau-tidak-akan-beruntung'. Jika aku bisa menjawab jujur, tentu saja aku akan bilang kalau dia tidak bertambah gemuk sama sekali. Tubuhnya tetap indah dan ramping –kecuali di daerah perut karena sekarang sedang didiami oleh calon anggota keluarga kami yang baru. Tentu saja kami sangat senang dengan berita kehamilan istriku. Tapi pertanyaan itu mulai dilontarkan Seth ketika dia mulai . . . ngidam. Mungkin istriku khawatir mengkonsumsi darah 2 ekor rusa dan daging 1 ekor beruang. Padahal jika sedang sangat lapar, aku sendiri bisa menghabiskan seekor bison, sapi, dan kambing gunung sekaligus. Jadi, menurutku itu tidak masalah.

"Joey!" Geez, aku tidak punya banyak waktu. Sekarang aku harus memilih antara bicara jujur kalau dia itu tidak gendut dan dia akan memarahiku selama 3 jam atau aku akan berbohong dan bilang 'Seth, mungkin kau agak sedikit berisi' lalu wanita pemilik mata azuri akan menghabisiku. Tapi yang harus diingat, kalau pilihan manapun yang aku pilih pasti nanti malam aku akan berakhir di sofa. Pertanyaan ini sudah 34 kali dia lontarkan padaku, jadi sebanyak itu juga aku tidak bisa menjadikan tubuhnya sebagai bantal tidur.

Dia mengerucutkan bibirnya, menungguku untuk mengeluarkan suara. Tapi yang kulakukan hanya memperhatikannya. Pink. Seperti strawberry cream. Lembut, manis, dan adiktif. Hanya itu kata-kata yang melayang di otakku.

"Joey Philip Black! Apa ka–" Aku tidak bisa mendengar kata-katanya lagi. Mulutku telah melumat bibirnya. Bunga yang kubawa tadi jatuh kelantai begitu saja. Kulingkarkan kedua tanganku kepinggangnya dan membenamkan wanita berambut chestnut itu ke tubuhku. Tidak lama, kami berdua melepaskan diri. Semburat merah muncul di pipinya, sedangkan mulutku membentuk sebuah cengiran besar. Kata-kata yang kupikirkan tadi benar-benar cocok untuknya.

"Bodoh." Aku tersenyum mendengar kata itu. Kata itu sekarang lebih terdengar sebagai pujian karena tubuhnya yang dingin kembali merapat dengan tubuhku.

Yup, satu kemenangan untuk Joey Philip Black.

New

(Skip time – 4 months later)

"Bisakah kau berhenti berputar-putar dan melolong seperti anjing gila, Joey?" Mako berusaha menghentikanku dengan menghadangku.

"Maaf, Mako. Sekarang aku tidak bisa melakukannya." Jawabku dengan nada sedikit gemetar. Lalu melanjutkan ritualku. Berputar-putar. Mencakar dinding. Melolong tidak jelas.

Sebuah detak jantung baru terdengar di telingaku. Dengan ini anak kelima kami sudah keluar. Jeritan Seth masih terdengar jelas. Getaran-getaran suara itu membuatku merinding, tetapi pada saat yang bersamaan aku tidak bisa mendiamkan tubuhku. Sebuah ide muncul dalam benakku untuk menghilangkan perasaan aneh ini. kuputar badanku dengan cepat dan menggertakkan gigi, tepat di depan 'serigala air' itu.

"Maaf, Mate. Aku benar-benar sedang tidak ingin berkelahi." kata-katanya mengejutkanku. Padahal biasanya, dia suka mengajak kami untuk bertarung. Tapi sekarang kejutan itu tidak bisa membuatku senang sekarang.

"Ayolah, Mako. Anggap saja ini sebagai re-match 3 bulan yang lalu." Mako langsung memperlihatkan giginya, bersiap untuk menyerang. Bagus, akhirnya dia terpancing.

"Make it good, Joey." Dengan itu, aku langsung berlari kearah Mako. Tapi tiba-tiba gerakanku terhenti, atau bisa dibilang dihentikan. Aku menengadah keatas. Kutemukan wajah ayah yang dihiasi senyuman.

"Jo, proses kelahirannya sudah selesai. Mereka benar-benar lucu. Tidak mengherankan sekarang kenapa Atem begitu menginginkan anak." Kata-katanya membuatku ingin melompat. Dengan cepat aku bertransformasi menjadi manusia. Aku tidak bisa menunggu satu detikpun. Kakiku dengan cepat membawaku kelantai tiga kastil, keruangan tempat persalinan diadakan. Kubuka pintu dengan keras. Aku melihat Atem menempelkan telunjuknya kebibirnya. Memberi isyarat padaku untuk tidak berisik, tapi aku tidak mempedulikannya. Mataku sekarang tertuju pada mereka. Seth sedang berbaring, tetapi sepertinya tenaganya sudah memulih. Dengan cepat, aku berlari kesampingnya. Didekat wanita bermata azuri itu ada 6 bayi kami, di balut oleh selimut yang hangat. 4 dengan selimut merah jambu dan 2 dengan selimut biru.

"That must be hard." Aku mengecup kening Seth. Senyum mengembang di bibirnya.

"Itu bayaran yang kecil di bandingkan dengan yang kita dapatkan, Joey." Aku mengangguk. 6 anggota keluarga baru memang membuat semua pengorbanan terlupakan.

"Kau akan menjadi ayah yang benar-benar bodoh." ejeknya. Dan balasanku adalah sebuah ciuman di bibirnya.

"Dan kau akan menjadi ibu yang mengagumkan gorilaku yang manis." Sebuah tinju mendarat di bahuku. Kami berdua tertawa bersama.

Everything will be new, yet same.

**The End**

Footnote : cannelle artinya kayu manis.

Am : Akhirnya . . . fic gaje ini . . . jadi juga . . . *robotic mode on*

Im : Oyabun, ini reviews buat chapter 1 . . .

Am : HUAHAHA! REVIEW-REVIEW MUAH! *death kiss for reviewers*

Yugi : dasar gila . . .

Am :*mukul yugi pake buku fisika super tebel* ehem, oke saatnya balas review . . .

to Aki Kadaoga :

Am : Kyaa! Arigatou Aki-san! Kupikir fic ini gak bakalan ada yang minat. menurut imajinasi saya sebagai author yang miring ini, atem itu makhluk yang mirip-mirip vampir, tapi cuma berubah dan tidak terkendali saat bulan purnama merah. Arigatou juga untuk ngingetin disclaimernya. lanjutan Fic Crimson Droplets nya ku tunggu ^^. Kalau endingnya, menurut saya itu cuma khayalan atem aja, maklum dia 'kan rada-rada . . .

Atem : *ngelempar palu, centong nasi, gergaji dan mobil ke arah author* Apa maksud lo, heh author SINTING!

Am : Ngelempar satu benda lagi ke gue, gue cium suami lo!

Atem : *Froze mode on*

to The-Reverend Messiah :

Am : *blow super duper kiss* TANG KIUUU ^^

Im : Oyabun, nih obatnya *nyekokin 2 karung pil ke mulut Am*

Am : tes-tes-tes. Saya juga suka puzzle-shipping dan suka ketika Atem menjadi gila (^_^)

Atem : *siap-siap ngelempar mobil*

Am : Taro tuh mobil! *monyongin bibir, siap-siap nge death-kiss Yugi*

Atem : Hiks . . .

Am : *Devil Laugh*

to The Fallen Kuriboh :

Am : *bows 24 jam non-stop* Ich Liebe Dich ! Jujur saya juga suka bagian yugi dicabik-cabik Atem . . .

Yugi : Hiks, kau belum lihat kekuatan yang sesungguhnyai *cries*

Atem : *Celurit ditangan* apa maksudmu aibouku tersayang?

Yugi : Mak-maksudku, ATEM CANTIK, SEKSI KAYAK JULIA ROBERT!

Atem : Anak manis *smile sweetly*

Am : ng? apa tadi anda bilang Vincent-sama? KYAA VINCENT-SAMA!

Im : Oyabun, ini obat dosis keduanya *nyuntikin cairan morphin 3 galon ke Am*

to Kanna Ayasaki :

Am : *di sinari cahaya lilin* hiks . . . anda benar-benar baik mereview saya. . .

Im : ngg . . . oyabun . . .

Am : Oh, maaf. Tebakan anda benar sekali. Selamat (^_^). Bonus 6 anak Seto dan Joey lagi!

Seto(masih jadi cewek) : APA MAKSUD LO, HAH! *nembakin author pake Ak-47*

Am : *jadiin Joey sebagai perisai*

Joey : Akh! *mati karena kena banyak peluru*

Seto : *pingsan*

Am : Yes! akhirnya Seto jadi janda juga (^_^)

to Lost-Matryoshka:

Am : *lompat-lompat di atas mayat Joey* TERIMA! KASIH!

Im : *hilang kesabaran* WOI AUTHOR GEBLEK! LU DI SINI BALES REVIEW BUKAN MAEN!

Am : *gulp* O-oke. Jika anda suka puppyshipping, mudah-mudahan anda menyukai chapter ini.

Im : Dan kalau para readers mau nebak siapa 6 anak mereka, hints-nya yaitu 4 anak perempuan dan 2 anak laki-laki. 2 anak perempuan itu Fem!chara dan beserta 1 anak perempuan lagi itu chara dari Yugioh! GX, sedangkan yang lainnya karakter lainnya dari Yugioh.

Im : Akhir kata, Review please XD