Chapter 2 : Sasuke

Sasuke's journal, January 11, 2009

//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Aku tidak punya banyak hal yang kuanggap berharga dalam hidupku. Aku tak punya keluarga yang kucintai, aku tidak punya teman yang kusayangi dan bahkan hidupku tidak berarti banyak untukku. Tapi itu bukan berarti 'semua' hal sama sekali tidak berharga bagiku. Hanya diadia yang bisa membuatku benar-benar memahami dan merasakan makna kalimat, 'we realize something precious after we lose it'. Hanya sederetan kata-kata sederhana, namun butuh dua tahun bagiku untuk benar-benar mengerti artinya. Dua tahun bersamanya.

Semua itu berawal ketika usiaku mencapai delapan belas tahun, dan aku memutuskan untuk pergi dari rumah orang tuaku, kalau mereka masih bisa disebut orang tua. Aku tidak meninggalkan rumah tanpa alasan. Dan yang menjadi alasan utama adalah, aku muak. Aku muak dianggap tidak ada di tempat yang disebut rumah itu. Dan kalaupun mereka menyadari keberadaanku, mereka hanya akan memperlakukanku seakan aku ini lebih rendah dari manusia. Bahkan ibu yang melahirkanku pun tidak lebih baik.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuang keluargaku sebelum mereka melakukannya lebih dulu. Sekarang, tak ada lagi Uchiha Sasuke.

/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Ponsel Sasuke berdering. Ia meliriknya sekilas, tapi terlalu malas mendekatkannya ke telinga, sehingga ia hanya menekan tombol loudspeaker-nya saja.

"Sasuke?" suara yang ia kenali sebagai suara kakaknya, Itachi

"Hn," jawabnya malas, tak peduli Itachi mendengarnya atau tidak. Ia masih sibuk menekuni sederetan not-not balok di hadapannya.

"Sasuke, kau benar-benar yakin dengan apa yang kau lakukan? Ibu mengkhawatirkanmu," kata Itachi.

Sasuke sama sekali tidak menanggapi, melainkan menambahkan beberapa nada lagi di kertasnya.

"Sasuke," panggil Itachi, mengharapkan respon yang lebih baik dari adiknya. "Kau tahu? Ayah sebenarnya menyayangimu, ia hanya tidak tahu bagaimana menunjukkannya…"

Sasuke mendengus geram, dan meletakkan penanya. "Oh, memanggilku dengan nama Itachi selama delapan belas tahun itu salah satu bentuk rasa sayangnya ternyata? Mengharukan," tanggapnya sarkastis.

Itachi terdiam mendengar kata-kata adiknya. "Yah… setidaknya ia sudah memanggilmu dengan benar sekarang…"

Sasuke berdecak kesal. "Sudahlah, Itachi. Berhenti membujukku untuk pulang karena aku takkan pernah mau. Biarkan aku menjalani sisa hidupku dengan tenang tanpa bayang-bayang Uchiha sialan itu…"

"Sasuke," tegur Itachi, tidak senang dengan perkataan Sasuke. "Tapi kau tidak perlu bersikap kekanakkan dengan meninggalkan Jepang segala kan? New York terlalu jauh, Sasuke…"

"Dan apa pedulimu?" sergah Sasuke, sekarang memelototi ponselnya seolah-olah ponselnya adalah jelmaan kakaknya. "Hidupku tadinya lumayan baik-baik saja. Kau anak emas Fugaku, hanya kau yang dipandangnya, itu sudah cukup buatku. Aku sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Tapi lalu kau dan mulut besarmu mengacaukan segalanya. Kenapa kau bilang pada Fugaku aku bercita-cita jadi pianis, hah?" tuntut Sasuke, mengeluarkan segala unek-uneknya.

"Sasuke itu…"

"Kalau kau ingin aku pergi dari rumah, bilang saja baik-baik. Aku akan melakukannya dengan senang hati, Itachi. Aku takkan menghalangi jalanmu menjadi pewaris Uchiha."

"Sasuke!" bentak Itachi. "Aku tidak pernah menginginkanmu pergi dari rumah. Kau adikku, Sasuke."

Sasuke mencibir. "Sudah terlambat mengatakan itu, Itachi. Uchiha Sasuke kecilmu sudah tidak ada."

Itachi menghela napas perlahan. "Ayah hanya ingin masa depanmu terjamin, Sasuke. Memangnya apa yang bisa kau dapat dengan menjadi seorang pianis seperti kenginanmu?"

"Masa depanku bukan urusan kalian lagi."

Itachi menambahkan, "Kau sudah hampir lima bulan di sana sekarang. Dan lihat apa yang kau dapat? Aku belum dengar satu kemajuan pun darimu."

"Sama seperti masa depanku, hidupku di sini juga bukan urusan kalian lagi."

"Sasuke, k—" Itachi hendak mengatakan sesuatu, tapi tampaknya ponselnya sudah direbut lebih dulu darinya karena detik berikutnya yang bicara adalah orang lain. "Pulang, sekarang. Tinggalkan mimpimu menjadi seorang pianis yang tidak berguna itu. Aku tidak menghendaki anakku jadi banci."

Sasuke tahu yang berbicara sekarang adalah Fugaku. "Sayangnya aku bukan anakmu lagi," balas Sasuke, susah payah menahan emosinya, tidak terima ayahnya sendiri menghina cita-citanya.

"Aku bilang, pulang sekarang, anak sialan. Jangan membantahku."

Kedua tangan Sasuke terkepal erat di pangkuannya. "Sayangnya, aku tidak akan pernah mematuhi keinginanmu."

Terdengar Fugaku menggeram marah. "Kau dididik untuk menjadi pewaris keluarga Uchiha! Dan kau tak akan pernah bisa mengingkarinya! Darah Uchiha mengalir di setiap pembuluh darahmu dan menjadi pianis banci tidak akan pernah menghapusnya. Aku akan menyeretmu pulang ke Jepang kalau perlu. Camkan itu."

Sasuke mendengus, dan langsung mematikan ponselnya. Ia menghela napas panjang, mencoba menetralkan emosinya. Ia tak mengerti kenapa sekarang, setelah ia benar-benar berniat untuk membuang keluarganya, mereka malah memintanya untuk kembali. Sasuke mengurut keningnya, mood-nya untuk menulis lagu sudah lenyap. Ia menyeringai ketika menyadari alasannya. Keluarga Uchiha adalah keluarga terkemuka di seluruh Asia, pemilik dari Uchiha Corporation yang merajai tangga perekonomian Asia. Apa kata orang-orang kalau tahu anak bungsu dari keluarga beradab itu kabur dari rumah? Sasuke tertawa pelan. Tentunya Fugaku menginginkan kepulangan bukan karena dia benar-benar menyayangi Sasuke.

'Aku akan menyeretmu pulang ke Jepang kalau perlu. Camkan itu.'

"Shit…" keluh Sasuke ketika teringat ancaman Fugaku. Itu bukan ancaman kosong. Ia tahu itu. Fugaku selalu mengatakan itu padanya berulang kali. Walaupun ia mengganti nomor ponselnya dan pindah rumah setiap hari, dan memang itulah yang dilakukanya selama ini, ia yakin Fugaku masih bisa menemukannya. Jaringan Fugaku terlalu luas. Tinggal menunggu waktu. Sekarang saja Itachi sudah bisa melacak nomer ponsel barunya.

Tidak cukup hanya Sasuke yang membuang keluarganya. Ia harus membuat keluarganya membuangnya juga. Tapi bagaimana?

////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Sasuke bangun pagi-pagi keesokan harinya dan langsung berangkat ke Juilliard School of Art, sekolah seni bergengsi yang menjadi alasan kenapa dia memilih New York sebagai tempat minggatnya. Setidaknya kalau ia ingin benar-benar menjadi seorang pianis, ia harus memperoleh pendidikan yang meyakinkan untuk itu. Ia tidak ingin setengah-setengah.

Pikirannya kembali melayang ke percakapan dengan ayahnya semalam. Ia harus membuat Fugaku benar-benar muak padanya, dan minggat dari rumah rupanya tidak cukup. Ia sudah memiliki rencana sebenarnya, tapi itu terlalu rumit, dan ia masih memikirkan cara untuk mempermudahnya.

"Sasuke!"

Seseorang memanggilnya begitu ia memasuki halaman depan JSA. Sasuke menoleh. Inuzuka Kiba dan salah seorang senior yang hanya setahun lebih tua dari dia dan Inuzuka, Nara Shikamaru. Sasuke memang merahasiakan nama belakangnya, jadi tidak heran semua orang di sini memanggilnya dengan nama kecilnya. Mengatakan 'aku Uchiha Sasuke' sama saja membuat ia diseret pulang lebih cepat.

Sasuke berhenti, menuggu Inuzuka dan Nara menghampirinya. Memang tidak banyak orang Jepang di New York, apalagi JSA, tetapi Sasuke bersyukur ia bukan satu-satunya. Walaupun ia memang tidak begitu dekat dengan mereka.

"Tumben kau datang pagi-pagi?" sapa Inuzuka, dengan cengiran lebarnya. "Tapi memang sebaiknya begitu, aku ada berita bagus."

"Hn?"

Inuzuka menarik keluar selembar pamflet dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada Sasuke. Sasuke membacanya.

"JSA akan mengadakan charity concert di Swedia bulan depan! Dan akan diadakan audisi untuk mahasiswa tahun pertama yang ingin tampil di acara itu. Kau ikut kan, Sasuke?" tanya Inuzuka bersemangat.

Sasuke menatap Inuzuka. Tentu saja dia ikut. Ini kesempatannya untuk melakukan debut. Mungkin kalau ia sukses dalam charity concert ini, Fugaku akan berhenti menggerocoki hidupnya. Walau ia tahu itu hanya dugaan kosong. Fugaku bukan tipe orang yang gampang menyerah.

_Tsuzuku_

A/N: Ini adalah chapter 2 yang sudah diedit ^^

Disclaimer : Masashi Kishimoto, Tohoshinki, David Fincher, James Patterson