Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua yang saya tulis di sini, sama sekali berbeda dengan yang ada di dunia nyata. Jadi anggap saja New York-nya itu paralel dengan New York yang sebenarnya. Soalnya saya memang belum pernah kesana sih ^^ dan lagi, karena set-nya di New York, sangat tidak mungkin bagi saya untuk memakai nama Jepang sebagai nama semua tokoh. Karena itu saya memakai OC. Banyak sekali OC di fic ini. Watch out ^^.
Chapter 3
Sasuke hadir di auditorium utama hari itu bersama mahasiswa tahun pertama lainnya untuk mengikuti audisi. Ia sama sekali tidak menghiraukan mereka, walaupun beberapa gadis yang ada di dekatnya tak pernah berhenti mencuri pandang ke arahnya disertai dengan senyuman-senyuman menggoda yang menurutnya sangat menganggu. Baik di Jepang maupun di New York ternyata sama saja.
Mata hitamnya menatap lurus ke panggung auditorium, mengamati seorang pemuda berambut pirang mencolok yang sedang memainkan Canon menggunakan biolanya dengan penuh penghayatan. Sasuke mengakui permainan orang itu sangat bagus. Sasuke belum pernah melihatnya di JSA sebelumnya, tapi dilihat dari kumpulan gadis di depannya yang terus memandangnya dengan tatapan memuja, Sasuke rasa ia cukup populer.
Pemuda itu mengakhiri permainannya dan membungkuk ke arah para dosen yang bertindak sebagai juri, dan turun dari panggung. Inuzuka yang ternyata ada di dekat panggung langsung menyapanya dengan senyuman ramahnya. Sasuke mengangkat alis, tidak menyangka Inuzuka mengenalnya.
"Sasuke."
Namanya dipanggil. Sasuke bangkit dari duduknya dan langsung naik ke panggung, mendudukkan diri di hadapan grand piano yang ada di sana. Ia sama sekali tidak merasa gugup.
"Hm, Sasuke ya..." kata Mr. Spark, dosennya di kelas piano. "Murid tahun pertama, bergabung dengan JSA empat bulan lalu. Sangat handal di bidangnya. Termasuk dalam kelas jenius," ia membacakan profil Sasuke. "Ayo kita lihat apa yang kau punya."
Sebelumnya Sasuke berniat memainkan Fur Elise untuk audisinya, tapi entah kenapa, setelah melihat permainan biola pemuda pirang tadi, keinginan untuk memainkan Canon juga terbersit di benaknya. Sasuke menarik napas pelan dan langsung menekan tuts-tuts piano itu, memainkan Canon -nya. Ia tidak begitu ingat lagunya, tapi Sasuke memainkan pianonya sambil memejamkan mata, mengingat setiap nada yang keluar dari biola pemuda tadi, dan menggubahnya dengan pianonya. Itu sangat berhasil. Ia sama sekali tidak kehilangan detail-detail kecilnya.
Sasuke mengakhiri permainannya dengan sangat sempurna. Ia membuka mata, menoleh ke arah Mr. Spark dan kolega-koleganya dan mengangguk singkat.
Mr. Spark mengangkat alis. "Itu tidak seperti Canon yang kuingat," komentarnya.
Sasuke tidak membalas komentar itu. Ia sangat tahu Canon -nya tadi benar-benar berbeda.
"Hm," Mr. Spark meneruskan. "Canon-mu yang tadi itu membuatku merasa kau seolah-olah mengiringi permainan biola peserta sebelum ini."
'Memang begitulah yang terjadi,' pikir Sasuke, sedikit geli.
"Tapi kau membawakannya dengan sangat luar biasa! Selamat, Sasuke. Kau ikut ke Swedia," kata Mr. Spark, tersenyum lebar.
Sasuke bangkit berdiri, membungkuk singkat pada dosennya itu dan langsung keluar dari auditorium. 'Sama sekali tidak sulit'.
//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
Sehari sebelum keberangkatannya ke Swedia, Sasuke sedang mengemasi barang-barang yang akan dibawanya. Ia sedikit kaget setelah menerima jadwal charity concert dan mendapati bahwa konsernya sendiri masih diadakan dua minggu lagi setelah keberangkatan. Ia sempat bertanya-tanya kenapa harus berangkat dua minggu sebelum hari H. New York-Swedia tidak sejauh itu. Tapi ia mendapatkan jawabannya begitu ia bertanya ke lobi. JSA akan berangkat ke Swedia naik kapal pesiar, Star Cruiser. Kapal mewah yang penumpangnya adalah kalangan menengah ke atas. JSA cukup kaya untuk itu. Tapi pertanyaan kembali muncul di benak Sasuke. Kenapa harus naik kapal kalau ada yang lebih cepat?
"Divisi Filmografi ingin membuat film dokumenter tentang charity concert ini, lengkap dengan perjalanannya. Dan menurut mereka kalau naik pesawat, itu sama sekali tidak berkesan. Jadi mereka sengaja meminta agar perjalanan ini dilakukan dengan kapal," Inuzuka menerangkan, dia adalah mahasiswa Filmografi.
Sasuke tidak mengomentari penjelasan itu, tapi bukan JSA namanya kalau tidak menghambur-hamburkan uang. Untungnya Sasuke mengajukan aplikasi untuk progam beasiswa ketika mendaftar di sini, jadi dia bebas biaya apapun. Walaupun ia sangat kaya raya, dan itu bukan uang ayahnya. Kakeknya, Uchiha Madara, mewariskan sejumlah besar uang padanya ketika beliau wafat dengan pesan 'gunakan uang ini untuk meraih cita-citamu', pesan yang ia pegang sampai sekarang. Ya, Sasuke masih kaya raya karena hartanya sama sekali tidak tersentuh oleh Fugaku, tapi ia tetap tidak ingin menghabiskan uang itu begitu saja. Hidupnya masih panjang sebelum ia jadi pianis sukses dan punya penghasilan sendiri.
Sasuke selesai mengepak dan merebahkan diri di tempat tidurnya. Sudah sebulan ini Sasuke pindah-pindah apartemen melulu, dan sekarang ia sengaja tidak memakai ponsel. Ia sudah lelah menjadi buron keluarganya sendiri. Seminggu lalu ia nyaris di seret pulang oleh segerombolan pria yang memakai setelan hitam-hitam, suruhan Fugaku. Tapi untungnya dia bisa meloloskan diri dari mereka.
Sasuke mengurut keningnya, frustasi. Ia kehabisan ide. Ia tak mau menghabiskan sisa hidupnya dengan terus melarikan diri. Ia harus berbuat sesuatu. Tapi satu-satunya cara yang terpikir olehnya hanya mengganti kewarganegaraannya. Fugaku takkan mengakuinya sebagai anak lagi kalau ia sudah resmi menjadi warga negara Amerika Serikat. Sayangnya, itu tidak semudah kelihatannya. Birokrasinya sangat rumit. Dan Sasuke benci birokrasi. Ia sendiri sangat muak ketika ia mengurus visa dan paspornya.
Sebenarnya ada cara yang lebih mudah : menikah dengan warga negara Amerika. Tapi yang benar saja, ia belum mau menikah di usia segini. Lagipula, bagaimana kalau ternyata setelah menikah, Fugaku merestuinya dan bukannya membuangnya dari keluarga Uchiha, ia malah menyambutnya dengan senang hati? Masalahnya akan jadi lain. Ia tidak mau ambil resiko.
Sasuke menghela napas dan memutuskan untuk tidur. Masalah ini akan dipikirkannya nanti setelah charity concert.
//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
Hanya ada lima orang mahasiswa tahun pertama yang lolos audisi dari Divisi Musik. Sasuke tidak heran ketika melihat bahwa pemuda pirang pemain biola itu adalah salah satunya. Bagaimanapun permainannya sangat brilian.
"Akhirnya kau datang juga, Sasuke!" sambut Inuzuka, menyerahkan kamera yang sedang dibawanya kepada Nara, membuat pemuda berkuncir satu itu mengeluh dalam bahasa Jepang, "Mendokusei."
"Kapan divisimu mulai merekam?" tanya Sasuke.
"Tepat setelah kapalnya berangkat! Kau sudah lihat kapalnya belum? Luar biasa! Menakjubkan! Sangat besar, dan mewah, dan awesome, dan segalanya!" kata Inuzuka bersemangat. "Nah, itu tanda keberangkatan! Ayo naik, Sasuke!"
Sasuke menarik kopornya, menyerahkannya pada petugas sementara ia memasuki kapal. Ia setuju dengan Inuzuka kali ini, kapalnya sangat luar biasa. JSA berani membayar mahal untuk ini.
Mr. Spark mengumpulkan semua peserta yang jumlahnya hanya tiga ratus orang, tiga belas orang di antaranya adalah mahasiswa tahun pertama, di aula utama untuk memberikan pidato singkat. Dialah yang bertanggung jawab untuk charity concert tahun ini.
"Selama perjalanan yang cukup panjang ini, diharapkan kalian semua tidak berhenti untuk berlatih. JSA selalu memberikan yang terbaik di tiap konsernya dan tidak menolerir kegagalan. Untuk itu, setiap malam seusai makan malam, diadakan rehearsal di aula utama ini untuk melatih kemampuan kalian. Jangan anggap rehearsal sebagai permainan. Semuanya wajib berpakaian resmi saat rehearsal, dan anggap itu adalah konser yang sebenarnya. Berikan yang terbaik. Selamat menikmati perjalanan," ucapnya. Semua peserta bertepuk. Sasuke hanya menepukkan tangannya satu dua kali sebelum ia melesat keluar dari aula utama dan langsung mencari kabinnya, menghindari fans-nya yang makin lama makin banyak.
//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
Rookie mendapat giliran pertama tampil malam ini.
Lima orang dari Divisi Musik yang Sasuke ketahui terdiri dari dirinya, dan empat orang yang ia tidak ingat namanya walaupun baru berkenalan siang ini, memutuskan untuk membawakan lagu Chopin sebagai pembukaan. Ia berlatih bersama mereka siang ini dan merasa cukup puas. Pemuda berambut pirang mencolok itu melakukan kesalahan berkali-kali karena terlampau gugup, tapi secara keseluruhan dia bagus.
Sasuke mengeluarkan tux hitamnya dari dalam kopor dan mengenakannya. Tepat ketika ia selesai, seseorang mengetuk pintuk kabinnya.
Sasuke membukanya dan mendapati Inuzuka berdiri di luar sana, lengkap dengan tux putih dan kamera yang selalu dibawa-bawanya. Ia nyengir lebar. "Tampaknya kau sudah siap, Sasuke! Kelompokmu tampil pertama malam ini! Semangat!" katanya sambil menepuk-nepuk bahunya dan kemudian langsung pergi ke kabin sebelah.
Sasuke mengangkat alis. Inuzuka memang tipe orang seperti itu. Tidak heran kalau ternyata dia mengenal semua orang yang ada di JSA.
Sasuke turun untuk makan malam dan begitu dia memasuki ruang makan, semua cewek di sana langsung menjerit histeris melihat penampilannya yang luar biasa dengan tux-nya.
"Kyaaa~!"
"Apa semua orang Jepang setampan dia?"
"Dia tampan sekali!"
Sasuke hanya memutar bola matanya dan memilih untuk duduk di meja paling pojok, menghindari keramaian. Ia makan secepat dia bisa, dan langsung keluar lagi ke aula utama, mempersiapkan diri. Ia tidak kaget melihat teman-teman sekelompoknya sudah ada di backstage, dengan alat musik masing-masing.
Pemuda berambut pirang berjalan mondar-mandir dengan gugup sambil menenteng biolanya. Ia tersenyum kaku pada Sasuke ketika ia lewat, senyum yang tentu saja tidak akan mungkin dibalas oleh seorang Sasuke.
"Kau datang, Sasuke," sapa seorang gadis yang selalu memiliki raut wajah keibuan. Sasuke tidak ingat namanya, tapi gadis itu juga memainkan biola. Sasuke menilai permainan wanita itu di bawah Si Pirang, tapi cukup lumayan.
Sasuke hanya mengangguk singkat padanya. Hanya lima orang rookie yang tampil sebagai pertunjukkan pembuka kali ini. Seorang pianis, dua orang pemain biola, seorang pemain bass, dan seorang gitaris. Sama sekali tak ada konduktor. Membawakan lagu Chopin sedikit nekat memang, tapi Sasuke yang sudah berpengalaman mengubah nada-nada, dengan kilat membuat partitur untuk semua alat musik siang ini. Hasilnya, tidak mengecewakan. Julukan rookie jenius yang sudah melekat padanya selama tiga bulan terakhir ini bukan omong kosong. Yang perlu di khawatirkan hanya Si Pirang. Ia selalu melakukan kesalahan kalau gugup, dan Sasuke terus berharap ia akan main sebagus saat audisi.
Pukul sembilan. Mr. Spark dan salah satu dosen wanita, Mrs. Gaydar, memasuki backstage dengan pakaian yang sangat serasi. Mr. Spark menghampiri mereka berlima. "Rehearsal akan dimulai dalam dua menit. Tunjukkan yang terbaik yang kalian punya. Kalau kalian main jelek, bisa saja aku membatalkan hasil audisi kemarin yang berarti : kalian tidak akan main di charity concert. Sampai bertemu di luar." Ia tersenyum dan langsung keluar untuk membawakan acara bersama Mrs. Gaydar.
Si Pirang menelan ludah begitu mendengar perkataan Mr. Spark. Si gadis pemain biola menenangkannya, mencoba membuatnya tidak terlalu gugup. Kalau Si Pirang gagal, itu mungkin juga berarti menjadi kegagalan semuanya.
Sasuke bangkit berdiri dari tempat duduknya selama satu jam terakhir. "Jangan lakukan kesalahan," katanya singkat dan langsung keluar ke panggung, diikuti yang lain.
Sasuke mengambil posisi di balik grand piano -nya. Secara tidak langsung, ia juga memiliki peran sebagai konduktor malam ini. Setelah penonton selesai bertepuk, ia menekan tuts-tuts pianonya sebagai nada pembuka, diikuti oleh alat musik lain. Ia terus memberikan isyarat kepada yang lain selama lagu dimainkan, memastikan semuanya bermain bagus.
Sampai insiden itu terjadi. Sepertinya gitaris jarinya tergelincir, dan Sasuke tahu ia akan merusak semua gubahan lagunya, sudah terlambat untuk memperbaiki. Sasuke hanya bisa menatap gitaris dengan tatapan tak senang. Tapi ternyata dugaannya salah. Bahkan sebelum Sasuke menyadarinya, nada-nadanya kembali teratur seperti semula. Sasuke mengangkat alisnya. Ia menatap Si Pirang. Entah sejak kapan ia telah mengambil alih posisi gitaris dengan biolanya, membuatnya mengalun lebih indah dari sebelumnya. Untungnya semua yang ada di panggung menyadari perubahan itu dengan cepat. Gitaris mengambil nada dengan mengiringi biola Si Pirang, meninggalkan posisinya. Dan ritme kembali berada di tangan mereka.
Permainan selesai. Sasuke bangkit berdiri bersamaan dengan tepuk tangan meriah dari penonton. Ia langsung menatap Mr. Spark yang sejak tadi menonton di deret paling depan. Pria paruh baya itu mengangguk dan melempar senyum padanya. Sasuke membalas anggukan itu. Setidaknya tidak ada satupun yang dikeluarkan dari tim.
Mereka berlima turun dari panggung, tepukan penonton masih belum berhenti.
"Itu tadi keren sekali, Sasuke!" puji Inuzuka yang entah sejak kapan sudah ada di backstage. "Hebat! Kau pasti akan sukses di charity concert nanti!" ia menepuk-nepuk bahu Sasuke dan setelah tidak mendapat respon lain dari Sasuke selain lirikan dan anggukan, ia beralih ke yang lain.
Sasuke keluar dari backstage dan hendak memasuki aula utama dari pintu depan ketika serombongan gadis-gadis dengan gaun malam yang tampak mahal berlarian ke arahnya.
"Sasuke! Kyaaa~!"
Sasuke membelalak ngeri dan membatalkan niatnya menonton rehearsal kelompok lain malam ini. Ia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat dan melesat pergi dari tempat kejadian sebelum ia dimakan oleh karnivora berwujud wanita Amerika itu. Kemampuan fisiknya yang memang dilatih sejak kecil membuatnya bisa melarikan diri dengan mudah. Segera saja ia sudah berada seorang diri di atas geladak kapal, bersandar pada railing besi, menatap langit malam dan membiarkan angin laut meniup rambutnya. Untung saja Star Cruiser adalah kapal yang sangat besar. Akan butuh berjam-jam bagi gadis-gadis tadi untuk menemukannya.
"Sasuke?"
Sasuke menoleh, melihat Si Pirang dengan tux putihnya yang mirip punya Inuzuka berjalan menghampirinya dengan dua gelas champaign di tangannya.
Ia tersenyum dan menyodorkan salah satu gelas kepadanya. Sasuke menerimanya.
"Aku cukup deg-degan di panggung tadi," katanya, membuka topik pembicaraan. "Morell mungkin terlalu gugup sampai melakukan kesalahan seperti itu." ia tertawa pelan. "Untung kita bisa memperbaikinya."
Sasuke melirik ke Si Pirang ketika ia mengucapkan kalimat terakhirnya. Sangat aneh bagi Sasuke ia sama sekali tidak mengucapkan, "Untung aku bisa memperbaikinya." melainkan mengganti kata 'aku' dengan 'kita'. Sasuke belum pernah bertemu orang yang serendah hati itu selama hidupnya.
"Dan kau brilian, Sasuke!" pujinya, mata birunya berbinar-binar seperti anak kecil. "Aku saja masih sangat sulit membuat partitur untuk ala musikku sendiri untuk disesuaikan dengan alat musik lain. Tapi kau dengan cepat sanggup membuat partitur untuk lima alat musik sekaligus! Luar biasa!" Ia meneguk champaign-nya.
Sasuke menyadari sesuatu. Pantas saja dia dekat dengan Inuzuka. Mereka sepertinya sama berisiknya.
"Bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" tanya Sasuke.
Ia tertawa. "Aku melihatmu diuber-uber banyak sekali cewek tadi. Dan aku memutuskan untuk mengikutimu saja. Suasana di aula utama masih membuatku tegang." Ia menghabiskan sisa champaign -nya. "Aish~ harusnya aku bawa satu botol tadi, bukannya dua gelas," keluhnya.
"Ngomong-ngomong," lanjutnya, "Kau benar-benar tidak punya nama belakang? Atau kau sengaja merahasiakannya?" tanyanya.
Sasuke meliriknya lagi. Siapa dia berani-beraninya menanyakan hal seprivasi itu? "Tidak, aku memang tidak punya marga."
Lawan bicaranya mengangguk-angguk paham. "Kau tidak punya pacar?"
Sasuke mengangkat alis. Pertanyaan macam apa itu? Ia menghabiskan champaign -nya dalam sekali teguk, dan menggeleng sebagai respon atas pertanyaan itu.
"Aku juga keturunan Jepang lho..."
Sasuke menoleh.
"Almarhum ayah dan ibuku adalah orang Jepang, tapi karena aku dilahirkan di Amerika, maka kewarganegaraanku juga Amerika," jelasnya.
"Aku turut berduka cita untuk orang tuamu," tanggap Sasuke.
Ia tertawa dan mengibaskan tangannya. "Trims, tapi itu tidak perlu. Kejadiannya sudah lama sekali," balasnya. "Sebenarnya bisa saja aku melepas kewarganegaraan Amerikaku dan kembali ke Jepang, tapi itu percuma. Aku sudah tidak punya kerabat lagi."
"Kau tinggal dengan siapa di sini?"
"Aku tinggal di apartemenku sendiri," jawabnya. "Kau boleh mengunjungiku kapan-kapan kalau kau mau. Kau harus mengajariku banyak sekali tentang musik. Kau mahasiswa tahun pertama yang sudah menguasai ilmu senior. Aku tidak akan heran kalau kau lulus lebih cepat."
Sasuke tidak menanggapi.
"Kau sendiri?" tanyanya lagi. "Kau tinggal dengan siapa di Amerika, Sasuke?"
"Sendiri."
Mulutnya membulat membentuk huruf 'o'. Tapi kemudian ia tertawa. "Kau harusnya cari pacar. Untuk merawatmu atau semacamnya begitu."
Sasuke mendengus.
"Aku tidak bercanda!" serunya, tahu Sasuke menganggap konyol omongannya. "Akan lebih mudah kalau ada wanita di sisimu. Dan kau pasti tidak kesulitan mendapatkannya. Cewek-cewek jaman sekarang lebih suka tipe cowok yang irit bicara."
Irit bicara? Sasuke mendengus tertawa.
Si Pirang langsung tersenyum sangat lebar sambil menatap wajahnya, membuat Sasuke sedikit jengah. "Kenapa?" tanya Sasuke.
"Aku berhasil membuatmu tertawa, walaupun memang cuma sebentar sih. Tapi setidaknya aku berhasil," jawabnya jujur.
Sasuke mengernyit. "Apa ini semacam taruhan atau apa?"
Si Pirang menggeleng. "Tidak kok. Aku cuma melihatmu jarang tertawa saja. Sepertinya kau tidak menikmati hidupmu dengan ekspresi menakutkan yang kau tunjukkan setiap hari begitu. Tapi saat kau main piano, ekspresimu sedikit lebih enak dilihat," katanya.
Sasuke menatap Si Pirang dengan penuh tanda tanya. Ia sama sekali tidak paham kenapa ada orang yang mengamatinya sedetail itu.
"Kau sendiri," Sasuke memutuskan untuk angkat bicara. "Kenapa kau tidak cari pacar? Kulihat cukup banyak penggemarmu."
Si Pirang membelalak. "Aku bukan tipe orang yang mencari pacar untuk sementara begitu. Sama sekali tidak enak untuk kedua belah pihak."
Sasuke kembali menatap Si Pirang, dan kali ini ia ingat namanya. Namikaze Naruto. Kenapa ia bisa melupakan nama Jepang yang unik begitu?
Sasuke mengalihkan pandangannya ke arus laut di bawahnya. Tersenyum singkat ketika sebuah pemikiran melintas di otaknya. Pemikiran yang sangat konyol. Tapi mungkin itu satu-satunya cara yang bisa berhasil membuatnya dibuang oleh keluarganya sendiri.
Angin lau bertiup dan Sasuke kembali menoleh ke arah Namikaze. "Hei, apa kau mau menikah denganku?"
/tbc/
Maafkan saya. Saya adalah mahasiswa Biologi yang sama sekali buta nada, jadi maaf kalau detail tentang alat musik dan teman-temannya sangat parah u_u tapi seperti yang sudah saya tekankan di atas, ini adalah cerita fiksi. Kalau ada beberapa pengetahuan tentang musik, tolong beritahu saya ^^
Dan saya tahu ini bukan yang terbaik yang saya punya. Saya akan terus memperbaikinya.
Disclaimer : Masashi Kishimoto. James Patterson. Tohoshinki. David Fincher.
Mind to review? ^^
ALWAYS KEEP THE FAITH.
