Terimakasih untuk reviewers ^^ kalian membuat semangat menulis saya kembali.

Sekali lagi, cerita ini adalah fiktif. Semua yang terjadi di sini ada dalam Alternative Universe.

Chapter 4

Sakura mendongak dari buku harian, memandang Naruto yang masih terbaring lemah. Seulas senyum yang sama sekali tidak bisa ditafsirkan oleh Sakura terkembang di wajahnya.

"Naruto... ini..." Sakura tak sanggup berkata-kata. Seorang pemuda telah melamar suaminya sepuluh tahun yang lalu, dan ia sama sekali tidak pernah tahu tentang hal ini. Naruto memang sudah bersamanya sekarang, tapi tetap saja fakta itu membuatnya shock. Ia terguncang.

Naruto menghela napas dan memandang keluar jendela, menatap rinai hujan yang tak kunjung reda.

"Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal sepenting ini padaku, Naruto?" tanya Sakura pada akhirnya.

"Aku tidak ingin menyakitimu," jawab Naruto, memandang mata hijau istrinya dengan mata birunya.

"Dan sekarang kau memilih untuk memberitahuku, dengan cara seperti ini." Sakura merasa sangat tersinggung.

"Maafkan aku," kata Naruto. "Selama lima tahun ini aku selalu memikirkan cara untuk memberitahumu, tapi aku tidak punya keberanian. Maafkan aku."

Sakura menggigit bibir bawahnya. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Apa ia harus marah? Tapi itu semua sudah berlalu, kejadian sepuluh tahun lalu...

"Apa kau menerimanya?" tanya Sakura lagi.

Naruto tertawa lirih. Tawa yang berbeda dari yang selama ini Sakura lihat. Naruto tidak pernah tertawa setulus dan selega itu, bahkan di hadapannya. Sakura merasa sedikit cemburu pada pria bernama Sasuke ini.

"Aku sudah melupakan detailnya, Sakura. Tapi aku yakin Sasuke pasti ingat. Dia memiliki daya ingat yang luar biasa," jawab Naruto, masih tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada tangan Sakura. "Bisa kau lanjutkan ceritanya?"

Sakura menatap Naruto. Ia tak yakin ia mau membaca apa yang selanjutnya tertulis di buku harian itu. Mungkin kisah cinta suaminya dengan orang lain... pria lain... ia merasa sangat dikhianati.

"Sakura, aku benar-benar minta maaf. Kumohon lanjutkanlah."

Sakura kembali menunduk. Di luar semua rasa sakit hatinya, ia memang penasaran akan masa lalu Naruto yang selama ini terlalu abu-abu baginya. Ia sudah lima tahun bersamanya, tapi Naruto terlalu sulit ditebak. Mungkin buku harian itu bisa membantunya. Lagipula membacakan buku harian itu adalah permintaan Naruto, yang tidak pernah meminta apapun padanya selama ini.

Sakura menghembuskan napas dan melanjutkan. "Sasuke's Journal, January 25, 2009..."

///////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Sasuke's journal, January 25, 2009

//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Terlalu mendadak. Aku juga berpikir seperti itu. Aku bahkan baru mengenal pemuda Namikaze ini beberapa jam. Dan entah apa yang mendorongku untuk memintanya menikahiku begitu saja, tanpa pemikiran matang. Mungkin aku memang sudah terlalu putus asa. Ha. Fugaku bisa membuatku stress tanpa susah payah.

Jadi, inilah pemikiran konyolku. Aku akan menikahi seorang pemuda Amerika. Aku bisa pindah kewarganegaraan seperti yang kuinginkan, dan jelas Fugaku pasti akan mencoretku dari daftar keluarga Uchiha. Mungkin ia masih akan menyeret pulang anak yang minggat dari rumahnya dengan cita-cita yang menurutnya tidak jelas, tapi ia takkan mungkin memulangkan seorang gay ke rumahnya. Harga dirinya akan hancur.

Aku cukup puas dengan pemikiranku ini. Tapi memang ada beberapa kendala.

Aku bukan gay. Itu jelas. Dan aku harus memastikan Namikaze bukan gay juga. Aku tak ingin hubungan ini menjadi berlarut-larut. Setidaknya aku hanya akan mempertahankan pernikahan ini selama dua tahun. Fugaku pasti akan mempunyai dugaan ini adalah pernikahan berkedok, jadi aku harus mempertahankannya cukup lama. Dua tahun. Aku yakin dalam waktu itu aku sudah menjadi pianis seperti yang kuinginkan, dan tak ada lagi alasan bagiku untuk pulang ke kediaman Uchiha.

Berikutnya.

Walaupun Namikaze bukan gay, itu juga bukan berarti dia mau. Justru yang ada malah dia akan menolak. Ini kendala yang cukup sulit, tapi aku sudah menemukan solusinya. Bagaimanapun aku ini cukup kaya.

Dan apakah rencanaku yang kelihatan hebat ini akan berhasil?

////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Namikaze mengerjap. Sekali. Dua kali. Sangat ajaib ia sama sekali tidak menjatuhkan gelasnya ke laut.

"Kau mabuk?" ia balik bertanya setelah tiga menit membisu, hanya menatap Sasuke dengan tatapan bingung.

Sasuke mendengus tertawa dan menggeleng. "Tidak. Segelas champaign tidak cukup untuk membuatku mabuk."

Namikaze menunduk menatap laut di bawahnya. Ia mengacak rambut pirangnya. "Aish~ aku harusnya tahu sejak awal..."

Sasuke mengernyit. "Tahu apa?"

"Kau gay."

Sasuke nyaris tersedak liurnya sendiri mendengar jawaban yang sangat gamblang itu.

"Harusnya aku bisa menduganya! Kau yang selalu menolak cewek... jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku tadi... aish~"

"Tunggu, aku bukan gay. Aku sama lurusnya denganmu," Sasuke membela diri.

Namikaze kembali menatapnya, lebih bingung dari sebelumnya. "Lalu ajakan untuk menikah tadi...?" Mata birunya membulat.

Sasuke menghela napas. "Sebenarnya alasannya agak rumit, Namikaze..."

Namikaze menyandarkan tubuhnya ke railing dan membuat dirinya menghadap Sasuke. "Jelaskan saja. Kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku nyaris kena penyakit jantung. Dan panggil aku Naruto saja. Tidak usah terlalu formal. Toh aku juga memanggilmu dengan nama kecilmu."

"Begini... Naruto," Sasuke memulai. "Sebenarnya namaku Uchiha Sasuke." Ia sama sekali tidak menyangka ia akan mengatakannya semudah itu pada orang yang baru saja dikenalnya. Dan belum tentu juga Naruto akan setuju untuk menikahinya setelah ia bercerita panjang lebar. Tapi entah kenapa Sasuke sudah tidak bisa menahan diri. Semua sumber kefrustasiannya selama lima bulan terakhir ini harus dikeluarkan dan Inuzuka maupun Nara bukan tipe orang yang cocok. Sebenarnya Naruto juga, tapi Naruto benar. Ia harus bertanggung jawab karena telah membuatnya nyaris kena penyakit jantung.

"Oh, kenapa kau merahasiakannya?"

Sasuke memberi Naruto tatapan sinis, menahan diri untuk tidak mengatakan, "Jangan sela aku, Dobe." Untungnya Naruto memahami arti glare Sasuke.

"Aku anak bungsu dari keluarga Uchiha. Keluarga yang sangat berpengaruh di Jepang. Tapi beberapa bulan lalu aku bentrok dengan Fugaku, ayahku. Dia sama sekali tidak menyetujui kenginanku untuk menjadi pianis. Karena itu, bisa dibilang, aku minggat ke New York dan menempuh pendidikan di JSA. Tapi Fugaku tidak gampang menyerah. Ia akan menyeretku pulang dan tidak akan membiarkan aku hidup tenang sampai aku pulang ke Jepang," Sasuke berhenti sejenak, menunggu reaksi Naruto, ia paham atau tidak.

"Aku mengerti," kata Naruto. "Tapi apa hubungannya antara masalahmu itu dengan mengajakku menikah?" tanyanya, berjengit sedikit ketika mengutarakan pertanyaannya.

"Aku sudah memutuskan untuk membuat Fugaku berhenti menggerecokiku lagi. Dan cara termudah adalah mengganti kewarganegaraanku. Dan cara paling simpel untuk itu adalah menikahi warga negara Amerika."

Naruto berdecak. "Lalu kenapa aku, Sasuke? Banyak cewek diluar sana yang mau kau nikahi!"

Sasuke menggeleng. "Menikahi wanita terlalu berisiko. Bagaimana kalau setelah aku menikah Fugaku malah merestui hubunganku dan masih akan tetap menggerecokiku? Aku ingin lepas dari titel Uchiha. Dan tentu saja Fugaku akan melupakanku begitu ia tahu aku gay, walaupun itu cuma pura-pura."

Naruto membelalak mendengar penjelasan panjang lebar Sasuke. "Tapi bagaimana kalau ayahmu itu tahu ini semua cuma pura-pura?"

"Dengar," Sasuke melanjutkan. "Dia takkan tahu. Rencanaku, kalau kau menyetujuinya tentu saja, pernikahan ini hanya akan berlangsung selama kira-kira dua tahun. Setelah itu kau bebas. Kupastikan aku sudah meraih cita-citaku dalam kurun waktu tersebut, dan Fugaku takkan menggubrisku lagi."

Naruto memandang Sasuke, sangsi.

Sasuke membalas tatapan Naruto, mencoba membuatnya yakin.

Tapi setelah tiga menit berlalu, Naruto masih tidak mengatakan apapun. Sasuke menghela napas.

"Aku juga tidak terlalu berharap kau menyetujui rencana konyol ini. Aku mau tidur. Selamat malam."

Sasuke berbalik, meletakkan gelas kosongnya di atas tumpukan kotak kayu dan kembali ke kabinnya. Sejak semula ia sudah tahu rencananya yang hebat itu tidak akan semudah kelihatannya. Apa ia harus benar-benar menikah dengan seorang gay?

///////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Sasuke baru saja keluar dari ruangan tempat dia berlatih dengan kelompoknya untuk charity concert ketika lengannya ditarik dengan amat sangat kasar oleh seseorang, menjauhkannya dari kerumunan. Ketika hanya tinggal dia dan orang yang menariknya, barulah Sasuke sadar kalau pelakunya Naruto. Ia membawa Sasuke ke koridor sepi yang jarang dilalui orang, dan barulah di sana ia melepaskan lengan Sasuke.

"Hn?" tanya Sasuke. Ia memang tidak ada kegiatan apapun setelah ini, tapi tetap saja ia ingin memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca partitur, dan ia sangat tidak suka ditarik secara mendadak begini.

"Tentang pembicaraan semalam," Naruto buka mulut, mata birunya menatap tajam Sasuke. "Kalau aku setuju, apa akan ada untungnya bagiku?" tanyanya tanpa basa-basi.

Sasuke mengernyit. "Kurasa aku cukup bisa membiayai hidupmu selama dua tahun ke depan. Memangnya apa yang kau inginkan?"

Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. "Yah... sejak orang tuaku meninggal, aku memang agak kesulitan finansial, belum lagi biaya pendidikan yang diminta JSA tiap semester. Jadi kalau kau, yah... mau menanggung semua itu... selama dua tahun... kurasa aku mau." Ia menatap Sasuke, agak salah tingkah.

Sasuke menatap Naruto. Finansial sama sekali bukan masalah baginya. Toh biaya kuliahnya gratis. Lagipula Naruto sudah menyetujui, ini satu-satunya kesempatan yang dia punya.

"Oke," kata Sasuke. "Aku akan membiayai hidupmu selama dua tahun itu."

Naruto langsung berbinar-binar. "Bagus!" serunya senang. "Eh, tapi... apa tidak ada sesuatu yang harus kita bicarakan lebih jauh? Prosedurnya mungkin..."

"Kita bicarakan di kabinku saja," kata Sasuke dan langsung melangkah pergi mendahului Naruto.

Segera setelah Naruto duduk di hadapan Sasuke di kabinnya, Sasuke memulai penjelasannya.

"Aku sudah mengatakan kalau pernikahan palsu kita hanya berlangsung selama dua tahun. Jadi aku takkan melampaui batas waktu. Kita langsung berpisah setelah itu."

Naruto mengangguk.

"Tapi jika semisal kau jatuh cinta pada seorang wanita sebelum masa pernikahan kita berakhir, aku tidak melarangmu. Itu masih menjadi hakmu."

Naruto mengangguk lagi.

"Dan di sini perlu kutegaskan beberapa hal. Kita tinggal di apartemenku, dan aku mau memakai margamu."

Naruto mengernyit. "Kenapa margaku?"

Sasuke menghela napas. "Sudah kubilang aku ingin keluar dari lingkup keluarga Uchiha kan? Sudah sepantasnya aku mengganti namaku menjadi Namikaze."

Bola mata Naruto melebar. "Jadi aku semenya?"

"Seme? Apa itu?"

Naruto tertawa geli. "Bukan apa-apa, lupakan itu. Lanjutkan saja penjelasannya."

"Kita memang tinggal serumah, tapi bukan berati kita tidur di kamar yang sama. Ini cuma pernikahan palsu. Kawin kontrak. No touching. Oke?"

Naruto tertawa lagi. "Tentu saja! Aku bahkan tidak akan kepikiran untuk menyentuh cowok."

Sasuke mengangguk puas. "Prosedur lainnya menyusul. Aku akan pikirkan itu nanti."

"Hm..." kata Naruto. "Coba aku ulangi. Kita hanya menikah selama dua tahun, kalau ada wanita yang aku suka aku boleh pergi, kau memakai margaku, aku tinggal di apartemenmu, kau membiayai hidupku, dan no touching. Benar?"

"Hn," Sasuke mengiyakan. Senang Naruto cepat paham.

"Kalau salah satunya dilanggar?"

"Tidak akan ada apapun yang dilanggar."

Naruto terkekeh. "Kau yakin sekali. Tapi aku suka itu."

"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" tanya Sasuke, bangkit berdiri dan mengambil buku partiturnya yang tergeletak di atas tempat tidur.

"Kita belum tahu apapun mengenai satu sama lain yang cukup untuk memasuki taraf pernikahan, Sasuke," celetuk Naruto.

Sasuke yang tadinya hendak merebahkan diri, membatalkan niatnya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, memandang Naruto. "Kau benar. Fugaku akan curiga kalau aku sama sekali tidak tahu apapun tentang kau."

Naruto nyengir lebar. "Kalau begitu sekarang ceritakan tentang dirimu, Sasuke."

"Kau dulu."

"Tidak, kau duluan."

"Kau lebih dulu."

"Tidak. Kau duluan. Siapa yang mengajakku menikah?"

Berhasil. Sasuke menghela napas dan meletakkan buku parititurnya di sampingnya. "Kalau itu maumu. Aku harus mulai darimana?"

"Err..." Naruto berpikir sejenak. "Tanggal lahir, hal yang disukai, hal yang tidak disukai, makanan dan minuman kesukaanmu, mantan-mantan pacarmu, film favoritmu, warna favoritmu, keluargamu, dan hal paling membahagiakan dalam hidupmu. Itu dulu."

Sasuke mengangkat alis. Tapi ia tetap menjawab. "Aku lahir tanggal dua puluh tiga Juli delapan belas tahun yang lalu. Makanan kesukaanku mungkin tomat, dan aku tidak punya minuman khusus yang kusukai. Aku juga tidak punya film favorit atau warna favorit. Dan aku belum pernah pacaran sebelumnya, jadi tidak ada yang kau perlu tahu tentang itu—"

"Apa?" potong Naruto. "Kau belum pernah pacaran selama delapan belas tahun hidupmu? Apa kau gay?"

Mata Sasuke menyipit berbahaya. "Kau sudah mengatakan itu semalam, dan aku bukan gay. Aku pernah menyukai seorang gadis dua tahun lalu, tapi kami memang tidak pernah pacaran."

Naruto nyengir lebar. "Kalau begitu ceritakan tentang dia dong."

"Kenapa kau sangat ingin tahu?" desis Sasuke. Ia benar-benar tidak suka membahas masa lalu.

Naruto mencondongkan tubuhnya ke arah Sasuke. "Kita kan bakal menikah."

Dan Sasuke lebih tidak menyukai ancaman seperti itu. Naruto ini ternyata memang menyebalkan. Sasuke benar-benar harus menyiapkan mental untuk hidup bersama cowok macam dia selama dua tahun penuh.

"Dia gadis yang baik dan cantik," kata Sasuke. Singkat, padat, dan tidak jelas.

Naruto mencibir. "Hanya itu yang bisa kau ceritakan dari wanita yang kau sukai? Astaga. Tidak ada nama?"

"Namanya Yamanaka Ino," sergah Sasuke, lama-lama merasa sangat sebal kepada Naruto. Ia merasa sedang diinvestigasi.

Naruto tersenyum puas. "Lanjutkan kalau begitu."

Sasuke menghela napas, susah payah menahan keinginan untuk tidak meninju wajah Naruto. "Aku anak bungsu di keluargaku. Aku punya seorang kakak, namanya Itachi. Aku tidak menyukai banyak hal, dan keluargaku itu adalah salah satunya," Sasuke mengerem ucapannya sebelum ia mengatakan, "Kau juga termasuk dalam daftar hal-hal yang tidak kusukai."

Naruto menopang dagunya dengan kedua kepalan tangannya, menunggu Sasuke melanjutkan.

"Hal yang kusukai cuma musik dan hal paling membahagiakan dalam hidupku mungkin saat aku bermain musik."

"Hm..." Naruto mengangguk-angguk paham. "Sekarang giliranku. Aku lahir tanggal sepuluh Oktober delapan belas tahun yang lalu. Hal yang kusukai adalah ramen Jepang. Hal yang tidak kusukai adalah saat tidak ada stok ramen Jepang instan di kulkas. Makanan kesukaanku tentu saja ramen! Dan minuman kesukaanku adalah jus jeruk. Mantan pacarku namanya Iris. Dia gadis baik, sayangnya kami harus putus karena dia melanjutkan sekolahnya di Nevada. Film favoritku ada banyak! Tapi aku sama sekali tidak suka film horor, gore, dan sejenisnya. Warna favoritku oranye," Naruto berhenti sebentar untuk mengambil napas. "Aku satu-satunya Namikaze yang tersisa. Ayah dan ibuku meninggal dalam kecelakaan pesawat tiga tahun lalu. Dan hal yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah saat aku bermain biola, makan ramen, dan masa-masa bersama orang tuaku."

Sasuke masih menatap Naruto selama beberapa detik setelah ia selesai menceritakan garis besar hidupnya. Rupanya yang ada di hidup pemuda pirang itu hanya ramen. Sasuke rasa bakal mudah menghidupinya.

Naruto mengangkat kedua lengannya dan membuatnya sebagai bantalan di belakang kepala sementara ia menjengkitkan kursinya ke belakang, membuatnya bertumpu pada dua kaki. "Jadi, kapan pernikahan palsu ini akan berlangsung?"

Sasuke merebahkan diri di tempat tidurnya sambil membaca buku partiturnya. "Kita langsung menikah begitu kita tiba di Swedia."

Dan Naruto terjatuh dengan bunyi 'brak!' keras dari kursinya.

/tbc/

Saya sudah sangat tidak sabar untuk menulis upacara pernikahan Sasuke dan Naruto, lalu masa-masa dua tahun mereka bersama itu X3

Alurnya lambat u_u saya menyadari itu, tapi sekali lagi, memangnya ini bikin ramen instan? Perasaan dua orang cowok tidak seinstan itu. Apalagi mereka berdua bukan gay. Jadi semoga readers bersabar sedikit ^^

Disclaimer : Masashi Kishimoto yang utama. Beberapa detail kecil diambil dari karya David Fincher, James Patterson, dan Tohoshinki.

ALWAYS KEEP THE FAITH.