Saya nggak nyangka masih ada yang baca fic yang sudah hiatus parah ini ^^" terimakasih banyak.

Chapter 5

Sasuke hanya melirik Naruto yang sudah duduk manis di lantai sambil meringis kesakitan dan memegangi pantatnya.

"Aish~" keluhnya. Ia mengelus-elus pantatnya yang baru saja menghantam lantai. "Kau serius? Kita akan menikah dalam waktu kurang dari dua minggu?"

"Hn."

"Secepat itu?"

"Hn."

"Bagaimana persiapannya? Gerejanya? Cincinnya? Tuxedo -nya? Tamu undangannya? Dan siapa yang akan memakai gaun?"

Sasuke memutar bola matanya. Ia sangat tidak menyukai pertanyaan beruntun seperti itu. "Itu semua bisa diatur. Dan takkan ada yang memakai gaun. Itu sangat konyol. Sekarang keluar dari kabinku. Aku butuh istirahat."

Naruto bangit berdiri sambil mencibir. "Ternyata benar kata Kiba, kau menyebalkan," katanya sebelum membanting pintu menutup.

Sasuke menghela napas dan kembali menenggelamkan dirinya dalam rangkaian not balok yang sedang dibacanya.

/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Malam itu, setelah makan malam, Sasuke menemui Miss Kelsey yang bertugas mengatur semua administrasi charity concert untuk mengecek jadwal.

"Miss Kelsey," panggil Sasuke, menghampiri Miss Kelsey yang sedang duduk di lobi depan Star Cruiser.

"Ya?" tanggapnya, mendongak dari sekumpulan arsip yang sedang ditekuninya.

"Berapa lama charity concert di Swedia?" tanya Sasuke langsung pada intinya.

"Satu minggu," jawab Miss Kelsey. "Tapi untuk divisi musik hanya berlangsung tiga hari, dan giliran kelompokmu hanya di hari pertama."

Sasuke mengangguk paham. "Miss, bisa saya minta tolong?"

Miss Kelsey menatap Sasuke dengan senyum penuh tanya.

"Tolong hubungi kantor catatan sipil Swedia dan juga tanyakan gereja mana di Swedia yang bisa digunakan untuk upacara pernikahan dalam tenggat waktu selama JSA mengadakan charity concert di sana. Dan kalau bisa, tolong buatkan undangan pernikahan sebanyak tiga ratus lima puluh," kata Sasuke.

Miss Kelsey mengernyit mendengar permintaan tolong yang diajukan Sasuke. "Tunggu, memangnya siapa yang mau menikah?"

"Saya, dan Namikaze Naruto."

Sasuke tidak akan pernah melupakan ekspresi Miss Kelsey begitu mendengar jawabannya.

////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Naruto kembali memojokkan Sasuke di koridor sepi keesokan harinya seusai mereka latihan. Tampangnya benar-benar marah. Dan kali ini Sasuke tahu penyebabnya.

"Kupikir pernikahan palsu kita dirahasiakan dari publik," geram Naruto. Tangan kanannya mengepal di sisi tubuhnya, kelihatan sekali dia sekuat tenaga menahan diri untuk tidak meninju Sasuke.

Sasuke sama sekali tidak memandang wajah Naruto. "Memang dirahasiakan," jawabnya enteng.

"Dirahasiakan your ass! Semua orang di sini sudah tahu! Bahkan Mr. Spark!" serunya emosi, tepat ke wajah Sasuke.

Sasuke memandang mata biru Naruto kali ini, tetap tanpa ekspresi. "Pernikahan palsu kita memang dirahasiakan. Yang orang-orang tahu adalah kita benar-benar akan menikah. Right?"

Naruto menggeram dan melepaskan tinjunya ke dinding di belakang Sasuke, tapi Sasuke sama sekali tidak berjengit. "Apa itu masalah bagimu?" tanya Sasuke.

"Tentu saja itu masalah! Sialan kau!" seru Naruto sebagai jawaban. "Berita menggemparkan itu mempengaruhi harga diriku!"

"Maaf," tanggap Sasuke. Tidak, bukan hanya Naruto yang kaget mendengar itu, bahkan Sasuke sendiri juga terkejut ketika menyadari kata 'maaf' telah meluncur keluar dari mulutnya dengan sangat mudah. Ia tak tahu apa yang membuatnya begitu.

"Eh?" emosi Naruto langsung surut. Mata birunya sedikit melebar. Sama sekali tidak menyangka Sasuke bakal menanggapi amarahnya dengan cara seperti itu. Ia memang belum lama mengenal Sasuke, tapi menurut penilaiannya selama ini, tipe orang macam Sasuke pasti bakal langsung membabatnya dengan kata-kata sinis kalau dia berani protes tentang keputusannya.

Sasuke menghela napas. "Maaf, tapi aku benar-benar butuh alibi untuk pernikahan ini. Kalau tidak ada saksi, Fugaku takkan percaya padaku semudah itu."

Naruto menurunkan tangannya yang selama ini masih menempel di dinding. "Eh, yah... aku mengerti sih... tapi tetap saja kan... harga diriku sebagai seorang pria..."

"Harga dirimu sudah kusewa selama dua tahun," ucap Sasuke, kembali ke sikap angkuhnya yang biasa, membuat mata Naruto membelalak makin lebar. "Kalau kau tidak terima, kau bisa mundur sekarang, dan biayai hidupmu sendiri. Toh aku bisa mencari penggantimu, tapi belum tentu kau bisa mencari sumber uang semudah ini. Lagipula aku masih sanggup bertahan sebagai buron Uchiha. Dan..." Sasuke berhenti, menambah nada sinis dalam suaranya untuk menutupi sikapnya beberapa detik lalu yang menurutnya kelewat lembut, "apa kau masih sanggup bertahan dari krisis finansialmu lebih lama dari ini?"

Sasuke menabrak bahu Naruto dengan keras dan sengaja sebelum ia pergi meninggalkan koridor kosong itu. "Biaya hidup di Amerika tidak murah, bahkan kalau kau mendapat beasiswa penuh untuk kuliahmu," kata Sasuke, melangkah pergi meninggalkan Naruto.

Naruto menatap Sasuke murka. "Pantat ayam sialan berkepribadian ganda!" teriaknya kesal.

////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Naruto membanting pintu kabinnya, menjatuhkan dirinya di tempat tidur dan mengacak rambutnya frustasi.

Ia benar-benar membenci Sasuke sekarang.

Pertama, ia sudah berbaik hati mau mendekati Sasuke karena sepertinya dia butuh teman. Dan Naruto bukan tipe orang yang anti-sosial. Tapi bukannya diterima dengan senang hati sebagai teman, Sasuke malah mengajaknya menikah.

Kedua, Naruto juga bukan tipe orang yang suka memanfaatkan orang lain karena hartanya, terutama orang itu adalah temannya. Tapi pemikirannya sedikit berubah karena Sasuke telah melakukannya lebih dulu. Dan lagi, ia benar-benar butuh uang Sasuke itu. Ia dengan enggan mengakui, Sasuke benar. Biaya hidup di New York tidak murah, apalagi kalau orang tuamu tidak meninggalkan apapun buatmu.

Ketiga, Sasuke telah membuatnya berada dalam pergolakan batin yang amat sangat, padahal mereka baru kenal dua-tiga hari! Prinsip yang dipegangnya untuk selalu menolong teman ketika mereka memintanya dan selalu mempertahankan harga diri sampai kapanpun. Sasuke bisa membuatnya meninggalkan salah satu prinsipnya hanya dalam semalam. Sasuke, yang sudah dia anggap sebagai temannya walau sekarang sangat ia benci, butuh pertolongannya dengan cara menikahinya. Tapi Naruto telah menjatuhkan harga dirinya karena itu. Sebenarnya kalau Sasuke tetap merahasiakan rencana mereka, mungkin ia takkan menjadi seemosi ini.

"Sasuke menyebalkan! Teman macam apa itu!" teriak Naruto jengkel.

Ia menatap langit-langit kabinnya, dan tiba-tiba ia teringat perkataan salah satu gurunya sewaktu ia masih SMP dulu, 'Orang yang tidak menghargai prinsip adalah sampah, tapi orang yang tidak menghargai teman lebih rendah dari sampah.'

Naruto menghela napas. Kalimat yang selalu dipegangnya selama ini, kalimat yang membuatnya menghargai teman lebih dari apapun. "Kumaafkan kau kali ini, Sasuke," gumamnya. Ia mengambil biolanya yang tergeletak di meja di samping tempat tidur dan memainkan lagu favoritnya, Canon.

//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Sakura berhenti membaca. Ia tak tahu harus merasa bagaimana sekarang. Naruto mau menikahi Sasuke hanya karena finansial. Tidak ada alasan lain.

"Aku benar-benar bersyukur kau masuk ke JSA dan menjadi juniorku tanpa mendengar rumor tentang aku dan Sasuke," kata Naruto memecah keheningan. Ia tertawa pelan dan lemah. "Aku ragu apa kau akan mau menikahiku kalau tahu sejarah hidupku secara lengkap."

Sakura menggenggam tangan Naruto yang semakin lama kelihatannya semakin kurus dan lemas. "Aku mencintaimu, Naruto."

Naruto tersenyum. "Kau tampak sakit hati beberapa saat yang lalu."

Hati Sakura mencelos. Naruto benar. Beberapa saat yang lalu, sebelum ia tahu Naruto pernah mengalami masalah finansial dan segalanya, ia merasa sakit hati dan menyesal kenapa ia menikah dengan Naruto. Tapi sekarang ia merasa bersalah karena menduga Naruto, suaminya, gay.

"Maaf... itu..."

Naruto menggeleng, memotong ucapan Sakura. "Aku mungkin juga akan merasa begitu kalau aku berada di posisimu. Tapi kadang memang kita harus berhati-hati dengan dugaan kita."

Sakura memandang mata biru Naruto. Ia bertanya-tanya dalam hati, Naruto yang tertulis di tiap lembaran buku harian Sasuke adalah orang yang, menurut opini Sakura, sangat ceria dan kekanak-kanakkan. Tapi Naruto yang ia kenal juga sangat ceria, namun juga sangat dewasa. Apa yang telah mengubah suaminya?

"Naruto," panggil Sakura.

Naruto memandang Sakura, tersenyum. Senyumnya makin lama makin mendekati senyumnya yang dulu, ketika belum ada kanker yang bersarang di tubuhnya.

"Kau... kau banyak berubah..." celetuk Sakura. Ia sangat ingin tahu. Apa selama ini sikap Naruto adalah sikap palsunya? Apa dia tidak pernah menjadi dirinya sendiri ketika berada di dekatnya? "Dirimu di mata Sasuke sangat berbeda dengan dirimu yang kukenal..."

Naruto melepaskan tangannya dari genggaman Sakura dan mengelus wajah putih istrinya dengan lembut. "Perubahan itu adalah sesuatu yang wajar," tanggapnya.

Tanggapan Naruto jauh berbeda dari perkiraan Sakura, membuat Sakura tak bisa mencari tahu lebih jauh. Sesuatu dalam nada bicara Naruto melarang Sakura untuk mencari tahu. Apakah itu akan berujung pada rasa sakit yang lain? Sakura tak mau menebak-nebak kali ini. Tapi tetap saja rasa takut dan was-was melingkupi hatinya.

"Hm..." gumam Naruto, melepaskan tangannya dari wajah Sakura. "Aku cukup ingat keadaan malam itu," ucapnya, sedikit geli. "Aku selalu mengingat dengan baik saat-saat aku terbuai emosiku sendiri." ia kembali tertawa pelan. "Aku luar biasa malu dan tak hentinya mengutuk Sasuke ketika Mr. Spark mengucapkan selamat pada kami berdua di hadapan semua orang ketika rehearsal malam itu. Dan aku lebih malu lagi ketika semua orang bertepuk dan menyalami kami berdua satu-satu. Aku sampai sekarang masih heran, bagaimana bisa Sasuke tidak berekspresi sedikitpun, bahkan ketika Divisi Filmografi mengambil gambar kami. Topeng stoic-nya itu kalau dipikir-pikir memang sangat menyebalkan."

Sakura menatap Naruto selama beberapa saat sebelum akhirnya dia mengutarakan isi hatinya. "Sasuke itu... orang yang seperti apa?"

Naruto mendengus geli sebelum menjawab. "Dia tipe pria yang akan kau sukai. Tampan, pendiam, dingin, irit bicara, dan kata-kata tajam yang menusuk sekalinya dia bicara."

Sakura tersenyum geli kali ini. "Apa menurutmu aku menyukai tipe orang yang seperti itu?"

Naruto tertawa. "Tentu, kau akan sangat menyukainya sampai kau merasa ingin melemparnya dengan traktor setiap kali dia bicara."

Sakura tertawa mendengar guruan suaminya. "Dia separah itu?"

"Sebenarnya tidak juga," kata Naruto setelah tawanya reda. "Ia sangat baik di saat-saat tertentu."

Sakura menyadari sorot mata Naruto sedikit berubah ketika ia membicarakan Sasuke, tapi ia memutuskan itu hanya halusinasinya saja. Ia tak ingin ketahuan sakit hati lagi di saat kritis suaminya seperti ini. yang dia lakukan harusnya mensupport Naruto, bukan membuatnya sedih juga.

"Sakura," panggil Naruto. "Kau mau tinggal di sini malam ini, dan membacakan buku harian itu sampai selesai?"

Sakura terdiam. Ia sangat ingin terus berada di sisi Naruto, tapi ia juga tidak yakin ingin membaca buku harian itu terus. Ia sama sekali tidak menyangka Naruto akan menggabungkan dua kengininannya yang bertolak belakang itu dalam satu kalimat tanya.

"Tidak masalah kalau kau tidak mau, aku paham perasaanmu," tambah Naruto setelah melihat wajah bimbang Sakura.

Sakura menggigit bibir bawahnya, kemudian mengangguk. "Aku akan menemanimu," katanya pada akhirnya. "Kau mau aku melanjutkan membaca sekarang?" tambahnya.

"Kapanpun kau siap, Sakura."

Sakura menghela napas dan kembali membaca. Menurutnya atmosfir dalam buku harian Sasuke beda jauh dengan apa yang bergemuruh dalam hatinya sekarang.

/////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Sasuke's journal, February 8, 2009

////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

Dua minggu yang sulit di Star Cruiser berlalu. Dan Naruto yang sekarang mulai kuberi julukan 'idiot' atau 'tolol' atau 'dobe' atau 'usuratonkachi' itu bukannya meringankan kestressanku tapi malah menambahnya. Ia tidak hentinya menggerecokiku dan bahkan mulai memanggilku 'Teme', entah darimana dia mendapat kata itu. Dugaanku dari Inuzuka.

Sebelum fajar, Star Cruiser menepi di pelabuhan. Divisi Filmografi merekam gila-gilaan. Dan tidak ada lagi gadis-gadis yang terus mencoba merayuku. Itulah salah satu sisi baiknya.

Aku sudah menghubungi Itachi dan memberitahunya kalau aku akan menikah di Swedia. Dia cukup terkejut, tapi aku tidak memberitahunya dengan siapa aku menikah. Akan lebih memuaskan kalau aku melihat secara langsung ekspresi shock-nya begitu ia melihat siapa yang menemaniku di altar nanti. Dan aku juga sedikit berharap Fugaku akan langsung kena penyakit jantung atau semacamnya. Tapi kemungkinannya juga hanya sedikit sekali.

Semoga rencanaku tidak gagal.

//////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////

"Sasuke," panggil Miss Kelsey ketika Sasuke hendak keluar dari hotel sebelum jam makan siang hari itu.

Sasuke berhenti dan menunggu Miss Kelsey menghampirinya.

"Ini jadwal pertunjukkan malam ini," ucapnya seraya menyerahkan selembar kertas jadwal. "Kau bisa melihat di situ kau tampil giliran ketiga bersama kelompokmu. Tolong berikan jadwal ini ke Namikaze juga," Miss Kelsey menyerkan selembar kertas lagi.

"Terimakasih," kata Sasuke, membaca sekilas kertas jadwal yang berada di tangannya.

"Dan aku juga sudah mendapatkan jadwal pernikahanmu," tambah Miss Kelsey.

Sasuke memandang Miss Kelsey.

"Kau harus ke kantor catatan sipil pagi hari tanggal tiga belas Februari dan upacara pernikahamu akan diadakan di gereja St. Peter pagi harinya tanggal empat belas Februari."

Sasuke mengernyit mendengar tanggal pernikahannya. Empat belas Februari? Apa Miss Kelsey sengaja?

"Aku juga sudah memesankan president suit room terbaik di hotel ini untuk kau tinggali bersama Namikaze sampai kita kembali ke New York."

"Untuk apa kamar itu?" kernyit Sasuke makin dalam.

Miss Kelsey tersenyum dan menepuk bahu Sasuke sekilas. "Kalian pasti butuh privasi pasca pernikahan," katanya dan melangkah pergi.

Sasuke langsung kehilangan nafsu makannya.

"Teme!"

Sasuke yang masih mematung di lobi hotel menoleh cepat ke arah sumber suara diiringi tatapan sinis. Sejak ia kelepasan memanggil Naruto dengan sebutan 'dobe' beberapa hari lalu, Naruto juga berhenti memanggilnya dengan nama yang sebenarnya. Dan yang membuat Sasuke lebih muak, setiap kali ada orang lain tanya apa arti panggilan 'teme' pada Naruto, Naruto pasti nyengir lebar dan melirik Sasuke tajam lalu menjawab, "Itu panggilan kesayangan khusus kami berdua." Dan setelahnya, ia akan tertawa puas mendengar tanggapan lawan bicaranya yang rata-rata baka mengatakan, "So sweet..."

Kalau saja Inuzuka tidak menjadi sangat sulit ditemui akhir-akhir ini, Sasuke pasti akan mencekiknya karena telah memberitahu arti 'dobe' pada Naruto, dan mengajari kata 'teme' juga.

"Aku tadi meminta jadwalku pada Miss Kelsey, tapi dia bilang dia sudah memberikannya padamu," katanya ketika ia berhasil mencapai Sasuke.

Tanpa sepatah katapun, Sasuke menyodorkan kertas jadwal pada Naruto.

Naruto membaca jadwalnya. "Wow, kita main lumayan malam."

"Kita ke kantor catatan sipil pagi hari tanggal tiga belas dan kita menikah besoknya," kata Sasuke, singkat.

Naruto melongo. "Kita menikah tanggal empat belas Februari? Tanggal macam apa itu?"

Tepat seperti itulah yang terjadi dalam hati Sasuke ketika Miss Kelsey memberitahukan jadwal pernikahannya tadi.

"Hn. Pastikan kau tidak terlambat bangun," Sasuke memperingatkan sembari mengantongi kertas jadwalnya dan melangkah pergi keluar dari hotel seperti rencananya semula.

"Jangan pergi jauh-jauh, Teme! Kau harus cukup istirahat sampai pertunjukkan nanti malam!"

Seruan Naruto sukses membuat semua murid JSA yang sedang melewati lobi tersenyum bahagia sambil memandang Sasuke.

/tbc/

Sekali lagi, ini sama sekali bukan yang terbaik yang saya bisa T.T terutama bagian Sakura dan Naruto-nya. Saya sudah mengetik chap ini berulang kali, dan yang lain lebih parah. Sepertinya setan WB mulai menggerayangi otak saya T.T Saya juga merasa kata-kata yang saya tulis saling bertolak belakang. Dan ketika saya mencoba memperbaikinya, malah jadi janggal. Astaga.

Saya mohon kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki alurnya. Terimakasih.

Ah, faktanya, pernikahan sesama jenis di Swedia baru disahkan bulan Mei 2009. Tapi karena untuk kepentingan cerita, anggap saja Swedia sudah mengzinkannya sejak lama. Gereja St. Peter itu saya juga tidak yakin ada di Swedia, tapi itu nama gereja paling umum, jadi saya memutuskan untuk menggunakannya.

Untuk Uchiha Cute Nagheeta, Kenapa saya meletakkan disclaimer di bawah? Entahlah, saya juga nggak tahu kenapa. Mungkin sebagai ciri khas mungkin? Haha ^^"

Hai Light Saphire-chan (maaf kalau ada salah ejaan di penname, ingatan saya nggak begitu bagus), lama nggak bertemu ^^ terimakasih banyak untuk reviewnya. Itu sangat berarti.

Dan untuk Bola Sepak, maaf saya nggak mengeksplor perasaan Naruto, ^^" saya memang melakukan kesalahan. Seharusnya saya bisa memasukkan konflik batin Naruto pada waktu scene dia bersama Sakura. Pokoknya malam setelah Sasuke melamar Naruto, Naruto gelisah sendiri di kamar, bimbang dan menimbang-nimbang semua kemungkinan yang ada. Maafkan kesalahan fatal ini, dan terimakasih untuk kritiknya ^^ *deepbows*

Disclaimer : Masashi Kishimoto