/Chapter 6/
~w~
Sasuke melangkahkan kakinya ke gereja St. Peter begitu ia keluar dari hotel tempatnya beserta rombongan JSA menginap, dan terlepas dari tatapan selamat-sebentar-lagi-kau-menikah dari teman-teman sekampusnya. Sasuke merapatkan mantel yang dikenakannya ketika angin musim dingin Swedia berhembus. Walaupun begitu, ia menyukai suasana musim dingin di Eropa. Selang setengah jam kemudian, Sasuke sudah berdiri di depan pintu gerbang gereja St. Peter, tempat ia akan melaksanakan pernikahan palsunya. Sasuke menghela napas dan melangkah masuk.
Begitu Sasuke membuka pintu gereja kuno itu, Sasuke langsung menyukai suasana damai dan tenang di dalamnya. Suara sepatunya bergema ketika ia berjalan pelan menuju ke arah altar. Ia sangat menyukai dekorasi di dalam gereja itu. Membuatnya melupakan hal-hal keduniawian dan, terutama, masalah peliknya dengan keluarganya. Mata hitam Sasuke menangkap sebuah grand piano yang tampak sudah sangat berumur tapi masih terawat di salah satu sudut ruangan dekat altar.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Sasuke menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang pendeta berdiri beberapa meter dari dirinya, dipisahkan oleh kursi-kursi panjang yang biasa diduduki orang-orang ketika sedang menjalankan misa. Sasuke sendiri tidak tahu misa itu apa secara detail, ia bukan seorang yang religius.
"Ah, tidak. Saya hanya ingin mengecek keadaan tempat ini. Saya akan melangsungkan pernikahan di sini minggu ini," jawab Sasuke.
Pendeta itu tersenyum mendengar jawaban Sasuke. "Semoga pernikahanmu berjalan dengan lancar."
'Aku harap juga begitu,' batin Sasuke. "Kalau begitu saya permisi. Saya sangat menyukai dekorasi gereja Anda," kata Sasuke, berbalik ke arah pintu masuk setelah sebelumnya mengangguk singkat pada pendeta itu.
"Tuhan memberkatimu, Nak."
Sasuke tidak membalas ucapan itu.
~w~
Ia menghabiskan seharian itu berada di luar ruangan untuk menghirup udara Eropa yang segar, berusaha mengurangi beban berat yang membuat otaknya serasa ditekan-tekan selama berbulan-bulan ini. Setidaknya kalau rencana ini sukses, masalah itu akan sirna dari hidupnya untuk selamanya. Ia akan memiliki hidup tenang, dengan satu-satunya masalah yang dimilikinya adalah menjadi pianis terkenal secepat mungkin. Tapi itu toh juga bukan masalah besar. Dengan kejeniusannya, dua tahun adalah waktu yang cukup.
Ketika jam tangannya sudah menunjukkan pukul empat sore, Sasuke menghabiskan kopi panasnya dan segera kembali ke hotel. Pertunjukkannya akan dimulai pukul sembilan malam ini. Ia harus melemaskan jari-jarinya sebelum menyentuh pianonya.
Begitu ia sampai di hotel, ia langsung menuju ke ruang rehearsal dan memainkan pianonya, melepaskan semua emosinya melalui Eroica gubahan Beethoven. Lagu yang sarat emosi menurutnya. Dan ketika selesai, terdengar suara tepukan tangan tunggal yang bergema di seluruh ruangan. Sasuke membuka matanya, merupakan kebiasaannya untuk bermain piano sambil memejamkan mata dan merasakan setiap aliran nadanya, dan mendapati Naruto duduk di salah satu kursi di ruangan itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sasuke dengan nada dingin seperti biasanya. Dan Naruto yang mengerucutkan bibirnya tanda tak senang dengan nada bicara Sasuke adalah reaksi spontan yang selalu muncul setelahnya.
"Aku tadi kebetulan lewat dan mendengar kau bermain, jadi aku memutuskan untuk nonton. Jadi hentikan sikap kasarmu yang tidak berperike-Naruto-an begitu."
Sasuke mengernyit. Ia sudah sering mendengar kata 'berperike-Naruto-an', tapi belum pernah menemukan arti yang pas untuk dicerna olehnya. Kadang memang istilah-istilah yang sering digunakan Naruto sama sekali tidak umum dan sulit dimengerti. Mungkin sebaiknya ia menganjurkan pada pemuda pirang itu untuk menerbitkan kamus berisi kosakatanya sendiri.
"Bagaimana menurutmu tadi?" tanya Sasuke, memutuskan untuk mencari penilaian daripada adu mulut dengan Naruto.
Naruto menegakkan duduknya dna tersenyum cerah, bagaikan anak kecil yang akan mendapat permen kesukaannya. Yah, walaupun anak kecil jaman sekarang sudah jarang yang senang hanya karena akan mendapat permen. Mereka lebih suka mendapat uang.
"Kau brilian!" seru Naruto, mengacungkan dua jempolnya pada Sasuke. "Aku selalu ikut terhanyut kalau kau memainkan sebuah lagu, lagu apapun itu, dan pasti kau akan tampil sempurna malam ini!" pujinya tulus.
Sasuke bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah pintu keluar sembari tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak kentara karena cara Sasuke tersenyum hanya dengan mengendurkan otot-otot wajahnya yang selama ini tegang. Jadi sebenarnya dia tersenyum atau tidak pun sama saja. Tidak ada perubahan berarti.
Naruto tergesa-gesa turun dari bangku penonton dan menyusul Sasuke. "Kau sama sekali tidak melakukan kesalahan sedikitpun!" pujinya lagi begitu ia berhasil menjejeri Sasuke. "Aku selalu suka permainanmu. Bisa membuat perasaanku tenang seperti kalau aku sedang tidur di pelukan ibu…" suara Naruto mengabur, membuat Sasuke menoleh ke arahnya dan melihat ada sedikit ekspresi sedih di wajah kecoklatan itu.
Refleks, Sasuke mengangkat tangannya hendak merangkul pemuda di sampingnya. Tapi ketika tangannya sudah begitu dekat dengan pundak Naruto, Sasuke menyadari apa yang hendak dilakukannya dan langsung menurunkan tangannya lagi. Ia mengernyit. 'Yang tadi itu apa?'
"Ah, tapi secara garis besar kau oke! Aku tak sabar ingin bermain denganmu malam ini," kata Naruto lagi, nyengir lebar pada Sasuke yang berjalan di sebelahnya dalam diam.
"Hn," tanggap Sasuke. Pikirannya sibuk dengan hal lain.
Naruto mencibir. "Kau ini, sudah dipuji habis-habisan hanya itu yang keluar dari mulutmu," keluhnya. "Aku mau ke tempat Kiba dulu deh. Sampai nanti malam." Naruto melambai singkat padanya dan berbelok di koridor, meninggalkan Sasuke yang kemudian berhenti berjalan secara mendadak. Sasuke menolehkan kepalanya, memandang punggung Naruto yang makin lama makin jauh.
~w~
Sasuke's Journal, February 8, 2009. 6pm.
~w~
Aku belum pernah bersimpati pada orang lain sebelumnya. Menurutku masalah orang lain ya masalah orang lain, masalahku sudah cukup banyak tanpa harus mengurusi masalah orang lain. Itu sangat merepotkan. Tapi bukan berarti ketika simpati itu datang aku tidak bisa mengenalinya. Seperti beberapa jam yang lalu ketika aku dan Si Bodoh itu berjalan berdua di koridor. Ketika ia berbicara tentang ibunya. Aku tahu benar kalau aku bersimpati padanya. Dan keinginan untuk bermain piano lebih banyak untuknya langsung terbersit.
Ditambah lagi, aku tahu aku jenius dan permainan pianoku luar biasa, tapi ketika Si Bodoh itu yang mengatakannya, entah kenapa efeknya jadi berbeda. Dia yang terlalu pandai memuji atau bagaimana sih? Tapi kalau Mr. Spark yang mengatakan, aku juga merasa itu sudah sewajarnya. Kurasa ke-stress-anku berdampak pada perasaanku juga. Aku jadi lebih peka.
Dan ketika aku menulis semua ini, sebuah kalimat dari dirinya kembali terngiang. 'Aku tadi kebetulan lewat dan mendengar kau bermain, jadi aku memutuskan untuk nonton.'
Yang menjadi pertanyaanku adalah, bagaimana dia tahu aku yang sedang bermain?
~w~
/Sakura & Naruto/
Sakura mendongak, ingin tahu bagaimana ekspresi wajah suaminya ketika ia membaca bagian itu, dan hatinya mencelos. Ada sedikit binar di mata biru itu. Mata biru yang sedang memandang keluar jendela, ke arah hujan yang perlahan mulai berhenti. Hujan deras yang telah berubah menjadi gerimis-gerimis kecil, dengan sedikit sinar matahari sore di antaranya.
Naruto menoleh ke arah Sakura yang berhenti membaca. Tapi binar di matanya tidak hilang. Sakit hati kembali berkunjung di hati Sakura.
"Dia mencintaimu, Naruto," kata Sakura, menyuarakan pikirannya. "Dia mencintaimu."
Naruto mendengus geli. "Kurasa tidak sejauh itu…" tanggapnya. Suaranya yang lemah sedikit terisi oleh semangat. Sakura tahu harusnya ia senang mendengar nada suara Naruto itu, tapi karena ia tahu apa yang membuatnya jadi begitu, maka sama sekali tak ada rasa senang di hatinya yang serasa teriris-iris. "Tapi aku sendiri tak pernah tahu… kalau Sasuke… pernah merasa bersimpati padaku."
Sakura memalingkan wajahnya dari Naruto. Wajah bahagia suaminya membuat hatinya makin sakit. Ia cemburu…
Naruto mengelus pelan pipi Sakura. "Kurasa kau bisa mengakhirinya saja sekarang."
Sakura kembali memandang suaminya. Tak percaya dengan kalimat yang baru saja didengarnya. Naruto tersenyum lembut pada Sakura. "Hujannya sudah berhenti. Aku tidak ingin membuatmu kelelahan."
Sakura mengerjap. "Tapi kukira kau ingin memintaku untuk membacanya sampai selesai?"
Naruto melebarkan senyumnya. "Tidak, itu sudah cukup. Seharusnya aku tidak pernah memintamu, Sakura. Aku sudah menyakitimu lebih daripada yang seharusnya." Naruto menegakkan duduknya, mendekatkan dirinya ke arah Sakura yang bergeming di sisi tempat tidurnya, dan mengecup kening istrinya. "Pulanglah, Sakura. Dan kembalilah besok dengan senyumanmu yang biasa."
Sudah sejak lama Naruto tak pernah mencium keningnya, dan ciuman tadi membuat hati Sakura terasa hangat. Ia membalas senyum suaminya dengan tulus kali ini dan bangkit berdiri sembari meletakkan buku harian Sasuke di meja kecil di samping tempat tidur Naruto. Naruto mencintainya sekarang, dan perasaan apapun yang dimiliki Naruto dan Sasuke dulu tak akan mengubah itu. Itu sudah cukup buatnya.
"Sleep well. Jangan lupa minum obatmu. Hubungi aku kalau kau butuh sesuatu. Aku akan datang," kata Sakura sambil berjalan ke arah pintu. Kata-kata yang selalu diucapkannya tiap hari sebelum meninggalkan Naruto. Naruto tersenyum dan mengangguk. Sakura sudah hendak memutar kenop pintu ketika gerakannya terhenti. Ia kembali membalikkan badannya menghadap Naruto.
"Ya?" tanya Naruto, membaca sorot mata istrinya.
"Boleh aku…"
Naruto mengangkat buku harian Sasuke dari meja kecil di sampingnya sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya. "Ini?" tanyanya lagi sembari tersenyum.
Sakura mengangguk pelan. "Boleh aku membawanya?"
"Tentu, tentu," jawab Naruto, menyodorkan buku harian itu ke arah Sakura yang langsung mengambilnya. "Aku pribadi ingin kau menyelesaikannya malam ini."
Sakura memasukkan buku itu ke dalam tasnya dengan hati-hati. "Istirahat yang cukup ya…"
"Jangan khawatirkan itu. Kau juga hati-hati di jalan."
Sakura mengembangkan seulas senyum dan berjalan keluar dari kamar rawat suaminya.
~w~
Begitu pintu bercat putih itu menutup, Naruto kembali merebahkan dirinya di tempat tidur dan menghela napas panjang, mengamati sinar matahari yang mulai tenggelam di cakrawala. Tulisan rapi Sasuke membawanya kembali ke kenangan sepuluh tahun lalu, ketika ia masih bocah. Ia mendengus geli. Sebenarnya tanpa bantuan buku harian itu pun ia masih bisa mengingat tiap detail hari-hari yang dijalaninya bersama dengan Sasuke.
Naruto membuka laci meja kecil di samping tempat tidurnya dan mengeluarkan sebuah kotak putih dari dalamnya. Ia memandang permukaan halus kotak itu yang dilapisi kain sutra sebelum membukanya. Sebuah cincin yang terbuat dari emas putih dengan ukiran garis-garis vertikal halus di permukannya. Sederhana, tapi indah. Naruto memandang cincin itu dan membiarkan pikirannya menerawang ke hari itu.
~w~
Sasuke's journal, February 13, 2009
~w~
Charity concert kami berjalan dengan sukses. Penampilan terakhir di malam tanggal 8 Februari oleh para rookie berakhir dengan gemilang. Aku bisa melantunkan nada-nada indah Chopin dengan lancar tanpa hambatan berarti dan permainan yang lain mendukungku, terutama gesekan biola Naruto. Aku sangat puas dengan performaku malam itu. Mr. Spark pun sampai kehabisan kata-kata untuk memujiku.
Aku baru sempat menulis jurnalku sekarang karena setelah pertunjukan malam itu, banyak sekali yang harus diurus. Miss Kelsey menggerecokiku dengan detail-detail kecil pesta pernikahan seperti cincin, tux, dekorasi, formulir catatan sipil dan lain sebagainya. Dan baru pagi ini aku dan Naruto selesai mencatatkan diri di kantor catatan sipil Swedia sebagai pasangan suami-suami. Aku tak bisa melupakan ekspresi wajah Naruto yang pucat pasi dan seakan mau muntah saat ia menandatangani surat nikah di bawah tatapan tajamku. Ekspresinya masih membuatku geli sampai sekarang.
Dan besok, adalah hari H-nya. Ketika aku menulis jurnal ini, aku tak henti-hentinya melirik tux putih yang akan kukenakan besok dan menduga-duga apa yang sedang Naruto lakukan di kamarnya sekarang. Mungkin ia sedang berjalan mondar-mandir sambil berdoa semoga hari esok tak pernah datang, hari ketika imejnya sebagai pemuda 'lurus' hancur berantakan di hadapan tiga ratus lima puluh orang undangan.
Kuakui, aku juga cukup tegang menghadapi esok hari. Besok adalah penentuan. Kalau aku berhasil, aku akan bebas. Kalau aku gagal, aku akan lebih terpuruk dari sebelumnya. Aku tak sabar menanti reaksi Fugaku, Mikoto dan Itachi melihatku berdiri di altar bersandingkan seorang pria.
Semoga besok berjalan lancar.
~w~
February 14, 2009.
"Wow, Sasuke, lihat ke kamera dong. Kau tampan sekali…" gumam Inuzuka seraya mengarahkan kameranya ke arah Sasuke yang sedang sibuk mematut diri di depan cermin. Ia adalah orang yang perfeksionis, dan ia tak ingin ada yang salah dengan penampilannya di hari pernikahannya, sekalipun ini hanya pernikahan palsunya.
"Kapan kau mau berhenti mengambuil gambar, Inuzuka?" desis Sasuke sebal. Inuzuka sudah berada di kamarnya sejak ia membuka mata pagi ini, terus-terusan menyorotnya dengan kamera dan ketika ia mengusirnya keluar, Inuzuka berdalih kalau pernikahannya akan jadi hal paling menarik di fil dokumenter divisinya.
Inuzuka nyengir mendengar sarkatisme Sasuke. "Jangan sebal begitu, harusnya kau berterimakasih karena aku sudah mau jadi seksi dokumentasi pernikahan istimewamu secara cuma-cuma."
Sasuke mendengus dan mengecek jam tangannya. Pukul setengah sembilan. Ia harus sudah berada di gereja dalam setengah jam. Ia menyambar mantelnya dari punggung kursi dan langsung melesat keluar kamar dengan langkah-langkah panjang, mengabaikan Inuzuka yang berlari-lari mengikutinya.
Begitu Sasuke tiba di gereja, Miss Kelsey-lah yang pertama menyambutnya. Ia mengenakan gaun putih yang sangat serasi dengan rambut pirangnya.
"Yang di sana itu," bisik Miss Kelsey begitu ia berada di hadapan Sasuke. Ia mengerling ke arah kirinya, "itu keluargamu, bukan?"
Sasuke memandang ke arah yang dimaksud Miss Kelsey dan mendapati Fugaku, Mikoto dan Itachi berdiri kaku di dekat jendela, dikelilingi oleh dua orang yang memakai setelan hitam-hitam, bodyguard mereka. Sasuke mengangguk ke arah Miss Kelsey dan langsung menghampiri mereka. Inuzuka yang semula bersemangat mengikutinya terhenti di dekat Miss Kelsey. Rupanya aura yang dimiliki keluarga Uchiha membuatnya enggan mendekat lebih dari itu.
"Sasuke," panggil Itachi ketika melihat adiknya dalam setelan tux putih.
"Kegilaan apa ini?" tuntut Fugaku ketika Sasuke berdiri di hadapannya, ia bahkan sama sekali tidak menyapa anak bungsunya itu. "Sebelumnya kau bilang ingin menjadi pianis, tapi sekarang kau malah melangsungkan pernikahan? Apa-apaan kau?"
Sasuke sama sekali tidak ciut di bawah tatapan murka Fugaku. Mikoto yang berdiri di sebelah suaminya itu mencoba menenangkan Fugaku, tapi tak terlalu berhasil.
"Sudah kubilang hidupku dan apa yang aku inginkan bukan lagi menjadi urusanmu. Aku mencintai orang ini dan aku ingin hidup bersamanya, dan aku tidak peduli apa pendapatmu tentang itu. Aku akan mengejar cita-citaku menjadi pianis dengan dia di sisiku. Bukan kalian," jelas Sasuke panjang lebar.
Urat di pelipis Fugaku berkedut. "Anak tak berguna."
Sasuke menyeringai. "Masih bagus aku mau mengundang kalian di acara pentingku. Dan setelah ini aku harap kalian tidak mengangguku lagi. Biarkan aku menjalani hidupku. Setelah pernikahan ini, aku bukan lagi Uchiha Sasuke. Aku mengganti kewarganegaraanku."
Mata Fugaku menyipit. "Sudah kuduga. Ini pasti pernikahan palsu. Kau pasti menyelenggarakan pernikahan ini untuk mengganti kewarganegaraanmu agar bisa lolos dariku. Jangan kira aku tidak tahu itu, anak sialan."
Sasuke mencelos, tapi ia sudah tahu kalau Fugaku pasti akan menduga begitu. Tapi ia tak bisa menyerah sekarang. Sasuke mendengus geli. "Apa kau tuli, Tuan Fugaku?" kata-katanya barusan membuat Fugaku membelalak marah sementara Itachi mengerjap. "Aku baru saja bilang kalau aku mencintai orang ini. Dan aku tidak asal bicara. Selamat menikmati pestanya," ucap Sasuke sinis dan berjalan ke arah altar karena upacara pernikahan akan segera dimulai. Senang rasanya bisa membuat Fugaku gusar.
Pendeta sudah bersiap di posisinya, begitu pula Sasuke. Ia merogoh saku jasnya, memastikan kotak cincinnya ada di situ. Inuzuka masih merekam gila-gilaan dengan kameranya sementara rekan-rekannya dari divisi fotografi juga tak kalah semangatnya untuk memotret tiap detail acara. Sasuke berdiri di altar, memandang pintu masuk gereja. Tak disangka dia lumayan gugup juga. Naruto dan Miss Kelsey akan memasuki pintu itu kapan saja.
Tiga.
Dua.
Satu.
Pintu gereja menjeblak terbuka dan masuklah Naruto diiringi Miss Kelsey. Naruto tampak sangat gagah dalam setelan tux putihnya yang serasi dengan milik Sasuke. Hadirin bangkit berdiri dan tersenyum bahagia memandang Naruto yang sangat tampan. Naruto membalas semua senyum yang diarahkan padanya. Sasuke mengerling Fugaku, Mikoto dan Itachi. Ia menyeringai dalam hati melihat ekspresi mereka bertiga yang seakan sedang melihat hantu.
Naruto sampai di altar dan berdiri berhadapan dengan Sasuke.
"Aku setengah berharap melihatmu memakai gaun," gumam Sasuke. Selera humornya meningkat melihat wajah-wajah shock keluarga Uchiha.
Naruto melebarkan senyumnya, tapi dengan tatapan mata mengancam.
Pendeta mulai menyampaikan kotbahnya.
"Siapa yang menyuruhmu membawa karangan bunga?" bisik Sasuke lagi, memandang sebuket bunga mawar putih di genggaman Naruto."
"Miss Kelsey," jawab Naruto. "Kurasa ia tetap ingin ada acara lempar bunga."
Mereka terdiam, masih saling memandang satu sama lain. Betapa herannya Sasuke ia betah memandang mata Naruto selama itu.
"Omong-omong," gumam Naruto. Sedikit kekhawatiran terpancar di bola matanya. "Yang tampanganya mengerikan itu keluargamu?"
Sasuke menahan tawa mendengar deskripsi Naruto dan mengangguk singkat tak kentara. Naruto mengerling tempat duduk keluarga Uchiha dan sedikit bergidik.
"Uchiha Sasuke, apa Anda bersedia menerima Namikaze Naruto sebagai suamimu dan bersumpah untuk selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, sakit maupun sehat, sampai maut memisahkan kalian?"
Sasuke merasakan rasa tak suka ketika nama belakangnya disebut. "Ya, saya bersedia."
"Dan Anda, Namikaze Naruto, apa Anda bersedia menerima Uchiha Sasuke sebagai suamimu dan bersumpah untuk selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, sakit maupun sehat, sampai maut memisahkan kalian?"
Naruto memejamkan matanya, menguatkan tekad, dan mengatakan, "Ya, saya bersedia," dengan amat pelan sehingga hanya Sasuka dan pendeta yang mendengarnya.
"Pakaikan cincin pernikahan pada jari pasangan Anda."
Sasuke merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak putih dari dalamnya. Ia memakaikan cincin dari emas putih itu di jari Naruto dan bisa merasakan Naruto sedikit bergidik ketika ia melakukannya.
"Sekarang, Anda boleh mencium pasangan Anda."
Sasuke melepaskan tangannya dari tangan Naruto dan bertukar pandang dengan pemuda di hadapannya. Mata biru Naruto membelalak ngeri. Sasuke sama sekali tidak memperhitungkan scene ini. Ia sama sekali lupa kalau di upacara pernikahan ada bagian dimana pengantin harus berciuman. Ia bisa melihat Naruto menelan ludahnya dengan gugup. Sasuke sendiri bimbang. Ia sama sekali tidak ingin mencium pria manapun, apalagi di hadapan publik. Tapi bila ia tidak melakukannya, Fugaku pasti takkan percaya…
"Sekarang, Anda boleh mencium pasangan Anda," ulang pendeta, sedikit mengernyit melihat Sasuke dan Naruto yang hanya bergeming.
Sasuke memejamkan matanya, mengutuk dalam hati, dan langsung merengkuh Naruto, membenamkan bibirnya ke bibir Naruto. Naruto sedikit meronta ketika bibir mereka bersentuhan, tapi Sasuke menekan tengkuknya kuat-kuat agar ia tidak melepaskan diri.
Setelah beberap detik yang sangat menyiksa, Sasuke melepaskan Naruto, membiarkan mata biru itu memandangnya marah dengan wajah merah padam sementara hadirin bertepuk. Fugaku yang berada di tempat duduk depan sama sekali tidak bertepuk. Ia memandang Sasuke murka dan langsung meninggalkan gereja dengan gusar. Sasuke tersenyum puas. Hidup barunya telah tiba. Dia, Namikaze Sasuke.
/tbc/
Maafkan saya yang sudah hiatus lama sekali u_u dan dengan tekad kuat, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan fic ini. Maaf kalau comeback-nya tidak terlalu bagus. Setelah sekian lama tidak menulis, butuh sedikit adaptasi. Semoga masih ada reader yang ingat ceritanya.
Ini cuma perasaan saya atau memang Sasuke jadi mirip Taekyung dan Naruto jadi mirip Minam di beberapa scene? O.o"
Dan tentang Kamus Bahasa Naruto itu, saya terinspirasi dari kisah nyata :p nyahahaha~
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Mind to review? ^^
ALWAYS KEEP THE FAITH.
