/Chapter 7/

Sakura

Sakura nyaris saja menjatuhkan gelas anggur yang dibawanya ketika ia membaca bagian terakhir di halaman tertanggal empat belas Februari itu. Naruto… suaminya… berciuman dengan pria lain. Ia meletakkan gelas anggur di tangan kanannya secara perlahan di atas meja marmer di dapur rumahnya dan berusaha mengatur napas. Ia bahkan tak bisa mendeskripsikan perasaannya sekarang. Semuanya begitu campur aduk, marah, cemburu, kesal, penasaran, semuanya bercampur menjadi satu. Ia tahu pernikahan yang terjadi sepuluh tahun lalu itu hanya sandiwara, tapi…

'Toh wanita lain pasti juga pernah merasa begini ketika bertemu mantan pacar suaminya atau semacamnya,' pikir Sakura. Mata hijaunya menatap nanar ke tulisan rapi Sasuke. Entah sejak kapan ia mulai membenci pemilik buku harian ini. Sakura menghela napas. 'Tapi wanita lain belum pernah bertemu mantan suami dari suaminya kan? Apalagi membaca tentang masa lalu mereka seperti yang aku lakukan.'

Sakura masih menatap buku harian itu lekat-lekat, penuh amarah. Ia sangat tidak menyukai Sasuke, tanpa alasan yang jelas. Dan sudah berkali-kali ia menanamkan kebencian itu tiap ia membaca kata demi kata yang tertulis di buku harian. 'Semoga aku tidak pernah bertemu dengan Sasuke ini.'

Sakura membalik halaman buku harian itu, dan melanjutkan membaca.

~w~

Sasuke's journal, March 1, 2009.

Seharusnya aku memberi judul Namikaze Sasuke's journal di awal jurnal ini, tapi entah kenapa aku juga mulai enggan dengan nama itu. Baru dua minggu aku tinggal bersama Naruto di apartemen tetapku (ya, sekarang aku sudah tidak nomaden lagi, Uchiha benar-benar sudah membuangku) tapi urat di pelipisku pasti selalu bereaksi negatif tiap kali mendengar nama pemuda pirang itu disebut. Dia lebih menyebalkan daripada keseluruhan keluarga Uchiha digabungkan.

Apa yang melintas di pikiranmu begitu kau mendengar kata oranye? Segar, cantik dan enak dipandang? Tiga kata itu sama sekali tidak ada artinya kalau kau sudah tinggal selama dua minggu bersama Namikaze Naruto. Pemuda penggila oranye itu membuat imej warna oranye jadi hancur berantakan dan identik dengan jorok, berisik, dan hiperaktif.

Tapi, sisi baiknya, ia cukup tahu diri kalau aku sedang latihan dan berusaha berkonsentrasi membaca partitur.

Dan setelah jurnal ini, aku tak yakin apa aku bisa menjalani hidup selama dua tahun ke depan. Itu bakal jadi dua tahun yang amat sangat panjang.

~w~

Sasuke

GEDUBRAK!

Sasuke memejamkan matanya, berusaha menahan emosi dan mengutuk dalam hati. Ia meletakkan penanya dan menutup buku partiturnya seraya bangkit berdiri dan segera keluar dari kamarnya. Suara berisik yang memecah konsentrasinya itu tadi pasti berasal dari suaminya tersayang.

"Apa yang kau lakukan?" sentak Sasuke begitu mendapati Naruto jatuh terduduk di bawah rak buku, dengan buku-buku besar koleksi Sasuke menjatuhi tubuhnya. Ia meringis tanpa dosa ke arah Sasuke yang berdiri menjulang di atasnya dengan glare yang luar biasa.

"Ehehe…" cengirnya, berusaha bangkit berdiri, membuat buku-buku di atas tubuhnya kembali berjatuhan ke lantai dengan suara keras. Sasuke memejamkan matanya habis sabar. Ia sudah sangat ingin sekali mengusir pemuda ini dari apartemennya kalau kontrak yang telah diucapkannya dua minggu lalu tidak menahannya. Selama ini ia berpikir Naruto-lah yang bakal tidak betah tinggal bersamanya mengingat Sasuke adalah seorang perfeksionis dengan pribadi yang sangat bertolak belakang dengan Naruto. Tapi ternyata ia salah. Naruto telah mengacaukan aturan-aturan hidupnya dalam sekejap, dan sama sekali tidak merasa bersalah.

"Apa yang kau lakukan?" geram Sasuke kali ini. Kedua tangannya telah terkepal di sisi tubuhnya, berusaha keras untuk tidak meninju Naruto.

Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal dan memandang Sasuke takut-takut, masih nyengir salah tingkah. Sasuke mengangkat sebelah alisnya, menunggu penjelasan yang rasional. Tapi…

"Guk!"

Suara tidak familiar itu membuat mata hitam Sasuke melebar.

"Guk!"

Dan sebelum Sasuke sempat berkomentar apapun, seekor anjing siberian husky setinggi paha Naruto telah muncul entah dari mana, dan menggonggong riang ke arahnya. Anjing itu mengelus-eluskan kepalanya ke paha Naruto dan Naruto membungkuk penuh tawa untuk balas mengelus dagu anjing itu dengan tangannya.

"Apa itu?" suara Sasuke telah bergetar saking marahnya.

Naruto memandang Sasuke tak mengerti. "Ini anjing, kan?" Naruto balik bertanya.

Sasuke kembali meng-glare Naruto. "Aku tahu itu anjing, Dobe," bentaknya kesal. "Maksudku, apa yang hewan itu lakukan di rumahku?"

Naruto tertawa dan memeluk anjingnya dengan sayang. "Kurasa terlalu sepi kalau cuma kita berdua di apartemen sebesar ini, jadi aku dan Kiba memutuskan untuk membeli Kyuubi."

Sasuke menyipitkan mata memandang anjing berukuran medium dengan bulu yang sangat tebal dan halus berwarna hitam dan putih itu, heran dengan pemilihan nama yang mungkin berasal dari Kiba. "Dia yang menjatuhkan buku-bukuku?"

Naruto nyengir minta maaf. "Aku tadi ingin menunjukkan Kyuubi padamu, tapi dia malah lari-lari dan waktu aku mengejarnya, aku menabrak rak bukumu. Hehehe."

"Guk!"

Urat di pelipis Sasuke menegang.

"Ayo, Kyuubi! Beri salam pada Teme!"

Twitch. Urat di pelipis Sasuke bertambah satu. "Perkenalkan aku dengan nama yang benar, Dobe."

"Guk!"

Naruto mengabaikan kalimat Sasuke. "Lihat ini, Teme. Matanya persis punyaku ya?"

Mau tidak mau, Sasuke melirik mata anjing yang dipanggil Kyuubi itu dan menyetujui dalam hati. Mata biru safir yang sama persis dengan milik Naruto. Hanya lebih bulat.

"Guk!" Kyuubi menggonggong lagi, menjilati pipi Naruto. Naruto tertawa geli.

"Ayo, Kyuubi, jangan ganggu Teme. Kita main di halaman saja," ajak Naruto, bangkit berdiri dan menarik ban leher Kyuubi, membawa anjing itu ke halaman. Dan entah karena dorongan apa, Sasuke mengikuti Naruto. Ia berdiri bersandar di ambang pintu melihat Naruto yang sedang sibuk bermain lempar tangkap sambil tertawa-tawa.

Sasuke mengernyit. Ia sama sekali tidak menyukai hewan, apalagi anjing, karena menurutnya binatang itu berisik. Tapi kenapa tadi ia tidak meminta Naruto menyingkirkan anjing itu? Karena dia tidak tega? Alasan konyol. Ini rumahnya, ia berhak melakukan apapun. Sasuke menggeleng pelan. Yang penting anjing itu sudah aman bermain-main di luar dan dia bisa melanjutkan pekerjaannya menggubah lagu lagi dengan tenang.

Sasuke membalikkan badannya dan masuk lagi ke dalam rumah. Begitu ia mencapai ruang tengah, ia membeku. Matanya membelalak menatap buku-buku yang masih berserakan di lantai. Ia menggertakkan giginya marah dan menggeram, "Dobe sialan…"

Dan akhirnya, Sasuke menghabiskan sepanjang hari itu untuk membereskan ruang tengahnya. Partiturnya terlupakan.

~w~

Malam harinya, Sasuke duduk diam di sofa dengan secangkir kopi panas di hadapannya dan buku partitur serta pena di tangannya. Ruang tengahnya sudah rapi dan bersih, dan Naruto serta Kyuubi sedang bermain dengan bola karet di lantai.

Kekesalannya pada Naruto menguap setelah ruang tengahnya bersih lagi.

"Dimana anjing itu tidur?" celetuk Sasuke, masih menekuni buku partiturnya. Ia sedang membuat lagu untuk dipresentasikan di ujian praktek dengan Mr. Spark beberapa minggu lagi.

Naruto mendongak dan memandang Sasuke tak senang. "Dia punya nama, Teme."

Sasuke memutar bola matanya. "Baiklah, dimana Kyuubi tidur?"

"Di kamarku tentu saja!" jawab Naruto senang, memandang Kyuubi penuh sayang.

Sasuke menghela napas lega. Ia sudah takut kalau-kalau Naruto akan menyuruhnya tidur dengan anjing besar itu. Bisa rusak malamnya. Sasuke menghabiskan kopinya dan bangkit berdiri. "Aku mau tidur."

"Ucapkan selamat tidur pada Teme, Kyuubi," kata Naruto.

"Guk!"

Sasuke memandang Naruto dan Kyuubi, dan ia tak bisa untuk tidak tersenyum sepanjang perjalanan dari ruang tengah ke kamarnya.

~w~

Naruto

Naruto masih memandangi cincin di tangannya. Cincin yang sekarang sudah sangat tidak pas di jarinya mengingat ia telah kehilangan banyak berat badan sejak ia divonis mengidap kanker. Sekarang, detail-detail kecil hidupnya bersama dengan Sasuke mulai bermunculan di otaknya.

Malam setelah pernikahan itu, dimana ia terpaksa tidur di sofa karena Miss Kelsey memaksa mereka tidur sekamar, dan karena Naruto kalah dalam adu argumentasi, ia terpaksa merelakan Sasuke yang tidur di kasur. Belum lagi pertengkaran-pertengkaran kecil mereka yang sebenarnya selalu bermula dari hal sepele, tapi berujung adu teriak dari depan pintu kamarnya dan kamar Sasuke yang memang berhadapan. Dan Kyuubi pasti akan ada di tengah-tengah mereka, mengaing-aing, minta mereka berhenti saling teriak.

Naruto tertawa geli. Tak terasa sudah sepuluh tahun.

Ia memandang keluar jendela, mengira-ira bagaimana keadaan Sasuke sekarang. Naruto menghela napas. Ia ingin sekali melihat orang itu lagi, setidaknya sebelum ia mati… Naruto tersenyum getir ketika merasakan rasa sakit menusuk-nusuk tubuhnya. 'Kanker ini makin lama makin parah.'

Naruto membungkuk dan mengambil biolanya yang sengaja ia letakkan di bawah tempat tidurnya agar ia bisa mengambilnya kapanpun tanpa kesulitan. Dengan hati-hati, ia mengeluarkan biolanya dari kotaknya dan menopangnya di bahunya. Naruto memejamkan mata dan mulai menggesek biolanya, memainkan lagu favoritnya, Canon.

~w~

Sasuke's journal, September 12, 2009

Ini sudah kelewat batas. Aku baru tujuh bulan hidup dengannya dan aku sudah ingin membunuhnya berkali-kali. Ia sudah membuat tujuh bulan terakhir dalam hidupku ini dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, yang kalau kubuat daftarnya, tidak ada buku manapun yang cukup untuk menampungnya. Tapi ada sepuluh kesalahannya yang takkan kulupakan seumur hidupku.

Pertama, keberisikannya. Aku masih bisa menolerir itu. Aku sudah memasang peredam suara di kamarku, jadi keberisikannya cukup bisa kuatasi dengan mengurung diri di kamar.

Kedua, kejorokannya. Yang ini sudah agak membaik. Ia jorok sekali pada waktu pertama kali dia datang, tapi sekarang setidaknya dia mempersempit area joroknya hanya di kamarnya saja dan tidak menyebarkannya keluar. Walau kadang memang dapur jadi berantakan sekali kalau dia habis membuat ramen instan. Aku sampai sekarang tidak mengerti bagaimana dapur bisa menjadi seperti kapal pecah kalau kau hanya membuat ramen instan yang hanya membutuhkan air panas dan cup ramen-nya.

Ketiga, Kyuubi. Aku sudah pernah bilang kalau aku tidak menyukai hewan, dan aku cukup sulit beradaptasi dengan yang ini. Pernah suatu kali aku pulang dari kampus dan Naruto tidak ada di rumah, meninggalkan Kyuubi sendiri bersamaku. Itu bagaikan mimpi buruk. Anjing besar itu tak hentinya memintaku untuk menemaninya bermain entah-apa yang biasanya dia lakukan bersama Naruto. Dan ketika aku mencoba menelepon Si Pirang Tolol itu, ponselnya tidak aktif. Dan akhirnya aku menyerah. Aku meninggalkan buku partiturku untuk menemani Kyuubi bermain di halaman. Walaupun sebenarnya yang kulakukan hanya duduk di kursi sambil melemparkan tongkat hitam yang kutemukan di bawah kolong tempat tidur Naruto. Tapi, ehem, aku menikmatinya. Menemani Kyuubi memberikan sudut pandang baru buatku. Dan setelah selama setengah tahun melihat ada seekor anjing besar yang menyambut kepulanganku kalau Naruto sedang tidak ada di rumah mulai membuatku terbiasa dengan keberadaannya.

Tapi kesalahan keempat Si Tolol itu benar-benar membuatku marah.

~w~

Sasuke memainkan pianonya dengan hati-hati pagi itu. Ia ada ujian praktek dengan Mr. Spark siang ini. Bukan berarti dia belum siap, dia hanya ingin menciptakan melodi yang sempurna dan dia sama sekali tidak ingin melakukan kesalahan. Masalahnya lagu yang akan dibawakannya kali ini adalah lagu ciptaannya sendiri, dan dia ingin memberikan kesan pertama yang baik. Kalau Mr. Spark menilainya bagus, itu akan sangat berarti.

Sembari menggerakkan jari-jarinya dengan lincah di atas tuts-tuts pianonya, Sasuke mengamati partiturnya, kembali meneliti tiap detail suara yang dikeluarkannya. Ia sudah memainkan lagu ini berkali-kali dan untungnya ia belum menemukan satu kesalahan pun. Sasuke menyeringai puas dan membalik halaman buku partiturnya, bersiap memasuki bagian klimaks dan antiklimaks lagunya.

Deg.

Jari-jarinya membeku di atas tuts piano. Halaman. Partiturnya. Hilang.

Sasuke menyambar buku partiturnya dan mengamatinya dengan seksama, takut kalau-kalau ia salah menulis di halaman lain. Tapi ketika ia sudah membolak-balik keseluruhan bukunya hingga lima kali dan tidak menemukan sepuluh halaman terakhir yang berisi klimaks dan ending lagunya, emosinya memuncak. Ia mengutuk pelan dan kembali memelototi bukunya seakan dengan begitu sepuluh halaman terakhirnya akan kembali, dan saat itulah ia menyadari ada bekas sobekan di bukunya. Tangan Sasuke bergetar, emosi mengusai dirinya. Ia melirik aroljinya. Tinggal dua jam lagi sebelum ujiannya mulai. Kalau diperhitungkan dengan lama perjalanan yang ditempuhnya dari apartemennya ke kampus, waktunya hanya tinggal satu jam lima belas menit. Tidak cukup untuk menulis ulang semua bagian yang hilang.

Sasuke menggeram marah dan mengurut keningnya frustasi. Siapa yang telah berani mengambil halaman partiturnya? Sepuluh halaman yang merupakan penentuan hidup matinya di hadapan Mr. Spark hari ini?

Sasuke memasukkan buku partiturnya ke dalam tas dan menghambur keluar kamar, mendapati Naruto yang sedang bermain dengan Kyuubi di ruang tengah. Ia tidak ada kuliah hari ini.

"Dobe, kau…" Sasuke tadinya hendak menanyakan pada Naruto apa ia melihat sobekan partiturnya ketika mata hitamnya menangkap pemandangan mengerikan di ruang tengah. Kyuubi sedang bermain-main dengan bola-bola kecil yang terbuat dari kertas. Sasuke membelalak dan tanpa mempedulikan seruan Naruto maupun gonggongan Kyuubi, ia mengambil salah satu kertas yang sewarna dan setekstur dengan halaman partiturnya, dan membukanya. Pupilnya makin melebar ketika ia menyadari itulah halaman yang hilang.

Sasuke mengalihkan pandangannya ke Naruto yang balas menatapnya dengan tampang penasaran.

"Darimana kau mendapat ini?" suara Sasuke merendah. Kesabarannya sudah habis.

Naruto yang tahu kalau Sasuke sedang marah besar tampak sedikit menciut. Ia merengkuh Kyuubi ke dekatnya. "Eh, entahlah…" jawabnya pelan. Tapi ekspresi Sasuke setelah mendengar jawabannya membuat Naruto merasa kalau ia harus mengatakan penjelasan lain. "Kertas-kertas itu sudah berserakan waktu aku datang, dan untuk membuat Kyuubi senang aku membuatnya jadi bola-bola kecil…" Wajah Sasuke tanpa ekspresi, tapi Naruto tahu dari kedua tangan Sasuke yang terkepal kalau suaminya itu sedang menahan diri untuk tidak mencekiknya.

Sasuke menghela napas, berusaha mengerem emosinya. Sekarang tak ada waktu untuk memberi pelajaran pada Si Pirang Tolol ini. Ia harus mengejar waktu untuk ujiannya. Sasuke berjongkok dan mulai mengambil semua sisa-sisa dari partiturnya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Dan tanpa sepatah katapun, ia meninggalkan ruangan.

Naruto masih bergeming di ruang tengah, tangan kanannya mencengkram ban leher Kyuubi. Anjing hitam itu juga sama sekali tidak mengeluarkan suara, hewan berinsting tajam itu tahu kalau sekarang adalah saat yang genting.

Dan baru pertama kali dalam hidupnya, Naruto merasa kalau dia adalah orang paling tolol sedunia.

~w~

Sasuke mendudukkan diri di belakang setir mobilnya, masih berusaha meredam emosinya dengan mengatur napasnya. Kedua tangannya mencengkram setir erat-erat. Setelah yakin ia takkan secara acak menusuk orang yang lewat di dekat mobilnya untuk sekadar meluapkan emosinya, ia melepaskan tangannya dari setir dan mulai mengeluarkan kertas-kertasnya yang sudah kucel dari dalam tasnya. Dengan kesabaran tingkat tinggi, Sasuke meratakan kertas-kertas itu dan memasukkannya ke dalam buku partiturnya.

"Sialan…" gumamnya. Ia juga merasa tolol kenapa tidak menyalin not-not balok itu di tempat lain. Semoga Mr. Spark bisa menolerirnya untuk melaksanakan ujian dengan partitur yang terlepas dari bukunya dan kucel. Dan semoga Mr. Spark memberinya waktu untuk menyalinnya sebelum diserahkan.

Setelah semuanya tertata dengan rapi, Sasuke kembali memasukkan bukunya ke dalam tas dan menyalakan mesin mobilnya ketika seseorang mengetuk kaca pintu mobilnya. Naruto.

Sasuke hanya melirik Naruto yang memasang tampang khawatir dan tidak enak, dan langsung memacu mobilnya, tak peduli Naruto masih berada dekat dengan bodi mobil dan itu bisa membuatnya terpelanting. Ia benar-benar membenci cowok pirang itu. Sasuke melirik spion dalam mobilnya dan mendapati Naruto masih berdiri di tempatnya semula, memandang mobil Sasuke dengan ekspresi yang tak kelihatan karena terlalu jauh dari jarak pandang Sasuke. Sasuke menginjak pedal gasnya makin dalam, berharap semoga dua tahun cepat usai.

~w~

"Kau kelihatannya sedang tidak enak badan, Sasuke," komentar Mr. Spark begitu Sasuke masuk ke ruang ujian dengan tampang masam.

"Saya baik-baik saja, Sir."

Mr. Spark memandang Sasuke tak yakin. "Kau murid terbaik yang aku punya. Aku tak ingin emosimu membuatmu gagal dalam ujianmu."

Sasuke menarik napas pelan. "Tidak masalah, Sir. Saya baik-baik saja," Sasuke meyakinkan, mendudukkan diri di belakang grand piano di tengah ruangan yang menghadap Mr. Spark dan menyenderkan buku partiturnya sejajar dengan matanya. "Sir?" panggil Sasuke. Mr. Spark mendongak dari clipboard-nya. "Karena insiden kecil, saya tidak bisa mengumpulkan partitur saya sekarang, jadi saya minta tambahan waktu sampai sore ini untuk menyerahkannya."

Mr. Spark tersenyum pada anak didiknya. "Tidak masalah, tidak masalah. Yang penting kau ujian sekarang. Partitur bisa menunggu."

Sasuke mengangguk dan mulai menekan tuts piano di hadapannya. Semua emosinya bagaikan terserap lenyap. Sasuke mulai menikmati tiap alunan nadanya dan membiarkan dirinya terbuai ke dalamnya. Yang ada di otaknya sekarang hanya lagu itu. Sasuke membiarkan emosinya sedikit bermain di beberapa nada, dan itu membuat lagunya sedikit berbeda daripada yang seharusnya, tapi ia menyukai hasilnya. Jari-jari pucatnya bergerak lincah di atas tuts, tanpa melakukan kesalahan sedikitpun. Ia mulai memejamkan matanya, membiarkan feeling-nya mengalir…

Sasuke menekan tuts paling ujung, mengakhiri seluruh lagunya. Ia mengerjap satu kali, menatap kosong ke depan. Tepuk tangan Mr. Spark terdengar seperti berasal dari permukaan air sementara ia berada di dalam air. Ia yakin… ketika ia memejamkan mata tadi… ada nada lain yang diputar di otaknya dan itu adalah… 'biola Naruto…?'

"… suke? Sasuke?"

Sasuke terhenyak. "Ah, maaf, Sir?"

Mr. Spark tersenyum geli. "Kupikir tadi kau kerasukan Beethoven atau apa. Permainanmu brilian sekali! Aku belum pernah mendengar nada yang terdengar begitu murni seperti tadi. Sangat inspiratif. Musik seperti itulah yang akan mengubah dunia. Dan begitu mendengar nada pertamamu tadi, aku langsung gatal ingin menulis lirik untuk lagumu."

Sasuke mengangguk, tanda berterimakasih atas pujian dosennya itu.

Mr. Spark berdecak. "Kalau digabungkan dengan vokal yang kuat dan sedikit sentuhan biola, akan jadi sempurna. Aku menunggu partiturnya sore ini di kantorku," kata Mr. Spark lagi seraya bangkit dari kursinya. "Ah, dan tentu saja kau lulus ujian dengan nilai sempurna," tambahnya.

Sasuke bangkit dan membungkuk pada Mr. Spark ketika beliau meninggalkan ruangan. Sasuke menyeringai puas ketika Mr. Spark sudah pergi dan memasukkan buku partiturnya ke dalam tas. 'Tentu saja, bagaimana mungkin halaman yang hilang mengacaukan ujianku?' batinnya sambil keluar dari ruang ujian.

Sasuke memutuskan untuk duduk di rumput di bawah sebuah pohon besar yang cukup rindang untuk menyalin partiturnya. Daun-daun berguguran dari atasnya, mangsa empuk untuk divisi Fotografi dan Seni Lukis. Sasuke mengeluarkan pensil dan buku partitur baru dan mulai menyalin, mengabaikan suara 'cklik cklik' dari kamera para fotografer di sekelilingnya. Sasuke baru menulis setengah halaman ketika ingatannya melayang ke suara biola Naruto yang tadi diputar di otaknya ketika ia ujian, dan ujung pensilnya berhenti bergerak.

Sasuke menatap deretan not balok di hadapannya. Sebenarnya bukan pertama kali ini suara biola Naruto menghantuinya, ia juga membuat lagu ini dengan membayangkan kalau Naruto mengiringinya. Entah sejak kapan gesekan dawai yang dihasilkan Naruto begitu mempengaruhinya. Sasuke menggeleng pelan dan melanjutkan pekerjaannya.

Sasuke sudah kembali terbenam ke dalam rangkaian not baloknya yang rapi dan hendak mulai menulis untuk bagian reff ketika sesuatu yang hangat menyentuh bahu kirinya. Sasuke menoleh dan mendapati Naruto sudah membungkuk di sebelahnya, menempelkan satu cup kopi hangat ke bahunya sementara dia sendiri memegang satu. Senyumnya mengembang begitu Sasuke menoleh ke arahnya.

"Apa maumu?" sentak Sasuke. "Jangan ganggu aku. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya."

Tapi bukannya pergi Naruto malah mendudukkan diri di sebelah Sasuke dan meletakkan dua cup kopinya di atas rumput. Suara 'cklik cklik' kamera terdengar lebih ramai dari sebelumnya.

"Aku sangat menyesal untuk buku partiturmu. Aku minta maaf. Kalau sebelumnya aku tahu yang disobek Kyuubi itu adalah halaman penting milikmu, aku pasti akan mencegahnya. Maafkan aku," ucap Naruto, menunduk memandang kakinya. "Itu salahku, jadi kau jangan marah pada Kyuubi. Marah saja padaku."

Sasuke yang tadinya berniat mengabaikan semua omongan orang di sebelahnya ini langsung mengurungkan niatnya. Walaupun ia sama sekali tidak memandang atau merespon Naruto, tapi ia mendengarkan.

"Mulai sekarang aku berjanji akan menjauhkan Kyuubi darimu atau dari barang-barangmu. Aku akan menjaganya dengan baik. Maafkan aku," tambah Naruto lagi. "Atau mungkin lebih baik aku menitipkannya pada Kiba agar—"

"Sudahlah," potong Sasuke. Ia masih ingat ia sangat marah pada Naruto dan hewan peliharaannya beberapa saat lalu, tapi sekarang semuanya sirna.

Naruto memandang Sasuke.

"Kau tak perlu minta maaf. Bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga seharusnya membuat salinannya," akhirnya Sasuke menanggapi. Ini sama sekali bukan sifatnya dan Naruto tahu itu, tapi Naruto sama sekali tak bisa berkomentar tentang Sasuke yang mendadak lembut dan pemaaf begini karena dia sangat terkejut. Bahkan Sasuke pun merasa sedikit janggal.

"Jadi aku dimaafkan?" Naruto memastikan, takut kalau kata-kata halus Sasuke barusan merupakan awal dari perintah semacam "bunuh Kyuubi" atau "kuliti Kyuubi" atau "terjun saja kau dari atap JSA" dan lain sebagainya.

Sasuke kembali melanjutkan tulisannya. "Hn."

Naruto nyengir lebar yang tertangkap oleh ekor mata Sasuke. Ia menyodorkan salah satu kopinya ke Sasuke. "Ini, sebagai tanda permintaan maafku."

Sasuke memandang kopi itu selama beberapa saat sebelum akhirnya menerimanya.

"Semoga dua tahun ini cepat selesai!" kata Naruto, membenturkan cup kopinya ke cup Sasuke pelan.

Dan saat itulah Sasuke menyadari adanya sedikit kontra di otaknya.

~w~

PS.

Ha. Tak ada yang istimewa dari minum kopi di bawah pohon yang daunnya sedang berguguran di bulan September. Tapi kenyataanya aku selalu melakukannya selama sepuluh tahun terakhir ini.

/tbc/

Disclaimer : Masashi Kishimoto

PS yang di akhir itu adalah catatan tambahannya Sasuke! nyehehehe.

Chap ini words-nya kebanyakan ==" maafkan kalau readers jadi bosen karena itu *deep bows* Dan yang menjadi perhatian saya adalah, kenapa banyak yang berpikir kalau Sasuke itu mati? Saya sendiri aja nggak tahu dengan nasibnya :p *digampar*

Sebagai informasi, lagu yang dibuat Sasuke di chap ini, itu aslinya adalah lagu yang dinyanyikan oleh Kim Junsu, Kanashimi no Yukue ^^

Terimakasih buat para reviewers yang mendorong saya untu melanjutkan fic ini ^o^ I love you all, guys…

Mind to review? ^^

ALWAYS KEEP THE FAITH