Happy 2nd Fujoshi Independence Day!

/Chapter 8/

Naruto

Naruto mengakhiri permainan biolanya, membuka mata birunya lagi. Ia tersenyum pada dirinya sendiri dan meletakkan biola kesayangannya itu di pangkuannya. Ia menelusuri salah satu senarnya dengan jari telunjuknya, mengabaikan rasa sakit yang menusuk-nusuk setiap inchi tubuhnya. Ia sudah terlalu terbiasa dengan rasa sakit ini. Dan ia bersyukur masih memiliki Sakura, wanita yang sangat dicintainya, untuk menemaninya menghadapi semua rasa sakitnya. Yah… walaupun ia mungkin hanya membuat Sakura menderita, melelahkan wanita itu untuk selalu merawatnya setiap saat.

Naruto kembali memandang keluar jendela, tapi tatapannya tidak terfokus pada apapun, pikirannya melayang ke Sakura. Sejak ia divonis mengidap kanker ganas, Naruto sudah berkali-kali meminta Sakura untuk meninggalkannya saja. Tidak ada gunanya memiliki suami yang hanya bisa menghabiskan hidupnya di ranjang rumah sakit. Tapi gadis itu bersikeras akan selalu menemani Naruto, sampai kapanpun.

Naruto memandang cincin pernikahannya dengan Sakura. Itulah alasan kenapa dia mencintai Sakura. Dia adalah wanita tegar yang berkemauan keras. Cenderung keras kepala kadang-kadang. Ia masih ingat, kali pertama ia bertemu dengan Sakura delapan tahun yang lalu. Rentang waktu yang cukup lama. Sakura adalah mahasiswi baru JSA. Berusia tujuh belas tahun, cantik, menarik, dan cerdas. Kilau yang selalu diperlihatkan mata hijau emeraldnya kepada semua orang yang menarik perhatian Naruto, juga kilau yang tak pernah Naruto lihat lagi sejak enam bulan lalu. Naruto mendengus geli. Nyaris semua mahasiswa JSA tertarik pada kepribadian Sakura, tapi Naruto senang ia yang berhasil memenangkan hati gadis itu.

Dan sekarang pikiran Naruto kembali melayang ke buku harian Sasuke. Apakah bijaksana memperlihatkan buku harian itu kepada Sakura? Naruto menghela napas. Ia sudah terlalu lama menyembunyikan rahasia ini. Ia hanya ingin Sakura, wanita yang sangat ia sayangi, mengetahuinya. Setidaknya sebelum ajal menjemputnya. Ia tahu Sakura pasti akan sakit hati, tapi ia sendiri tak sanggup memberitahukannya secara lisan dan gamblang kepada Sakura. Dan ia sadar bukan respon Sakura-lah yang ditakutinya ketika rahasia ini terkuak, ketika kenangan akan Sasuke kembali padanya…

~w~

Sasuke's journal, November 5, 2009

Sebenarnya ini sudah berlangsung lama, tapi baru sekarang menjadi masalah bagiku. Aku sendiri tak tahu kenapa aku menjadikannya masalah untukku, seakan aku tidak ada masalah lain untuk diurusi. Ck, sangat merepotkan. Dan hal inilah yang menjadi kesalahan kelimanya yang tak bisa kulupakan seumur hidupku.

Dia membuatku khawatir.

Sial, akhirnya aku mengakuinya. Yah, walaupun lebih tepat disebut mengkhawatirkan daripada membuatku khawatir. Ah, atau pengertiannya sama saja? Masa bodohlah. Tapi sudah sembilan bulan aku bersamanya dan sulit untuk tidak mengkhawatirkan orang macam dia. Orang yang nyaris hanya makan ramen instan setiap hari. Orang yang berusaha mengajari cara membaca not balok pada Kyuubi. Orang yang bisa memainkan biolanya dengan cara yang tak bisa dilakukan orang lain. Dan orang yang selalu tertawa lebar walaupun ia pulang dengan sekujur tubuh penuh lebam dan luka.

Hal terakhir itulah yang kumaksud. Hal itu bermula setelah dua bulan pernikahan kami berlangsung. Naruto pulang dalam keadaan tidak berbentuk. Ia menyeret kaki kirinya sepanjang lantai linoleum apartemenku, mengangguku yang sedang menggubah lagu. Ketika aku keluar dari kamarku untuk menyentaknya, yang bisa kulakukan hanya mengernyit melihat kondisinya dan senyum lebarnya seakan ia pulang sambil membawa sekantung uang emas. Mata kanannya memar, ujung bibir kirinya robek, bajunya berantakan dan celana jeans-nya sobek di lutut kirinya dan berdarah, membuatnya terpaksa berjalan dengan menyeret kakinya. Aku sangat yakin dia habis dipukuli, tapi dia hanya bilang dia habis jatuh dari tangga kampus dan sambil berjalan tertatih-tatih melewatiku, ia mengucapkan permintaan maafnya karena telah mengangguku secara sambil lalu.

Aku tidak menanyainya lebih lanjut karena aku merasa tak punya hak untuk memaksanya, lagipula dia juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Aku tidak terlalu suka ikut campur masalah orang lain. Dia hanya mengambil kotak P3K dari dapur dan mengobati luka-lukanya di teras bersama Kyuubi. Dan aku mulai berlatih untuk tidak mempedulikan dari mana yang mendapat semua luka itu, walaupun kejadian itu tidak hanya berlangsung sekali itu. Ia sering sekali pulang dalam keadaan babak belur, dan aku tidak pernah berkomentar atau menaruh perhatian khusus. Tapi kali ini lain…

~w~

Sasuke

Blam.

Pendengaran Sasuke yang sedikit lebih peka dari orang lain mendengar suara pintu tertutup. Ia melirik keluar dari pintu kamarnya yang sengaja ia biarkan terbuka, dan melihat Naruto pulang dalam keadaan acak-acakan, lagi. Kemeja bermotif kotak-kotak oranyenya kotor berlumuran tanah di bagian punggung dan siku. Celana jeans -nya robek lagi, dan tampilan wajahnya juga tak kalah heboh. Sasuke yang sedang membaca partitur Maksim sambil tiduran mengangkat sebelah alisnya melihat pemandangan yang baru saja lewat itu. Ia menutup bukunya dan bangkit berdiri, keluar dari kamarnya untuk mengecek kondisi Si Pirang Tolol itu.

"Kau jatuh darimana lagi kali ini, Dobe?" tanya Sasuke dengan nada bosan, sambil menyandarkan bahu kanannya di dinding ruang tengah, memandang Naruto yang duduk bersama Kyuubi di lantai. Anjing besar itu menjilati luka-luka di wajah Naruto, sementara tuannya meringis kesakitan.

Naruto sedikit terlonjak kaget mendengar suara Sasuke, tapi senyum lebarnya langsung menyusul untuk tampil. "Tersandung di taman belakang JSA," jawabnya cepat, sigap, bahkan tanpa cengiran rasa bersalah yang biasanya muncul tiap kali ia habis melakukan kesalahan atau kecerobohan. Dan Sasuke menyadari itu.

"Oh, aku baru tahu kalau rumput empuk di taman belakang JSA itu bisa membuat kemeja dan celanamu robek, sikumu berdarah, rahangmu memar, ujung bibirmu sobek dan beberapa lebam lain di lututmu," komentar Sasuke. Mata hitamnya mengamati satu persatu luka di tubuh Naruto.

Senyuman di wajah Naruto sedikit surut. Sasuke bisa melihat tangan kecoklatan Naruto mengelus bulu lembut Kyuubi makin cepat. Hal yang sering dilakukan Si Bodoh itu kalau sedang gelisah. Sasuke menegakkan posisi tubuhnya. "Sudahlah kalau kau tak mau bilang yang sebenarnya, toh itu juga bukan urusanku," ujar Sasuke, membalikkan tubuhnya, hendak kembali ke kamarnya. "Dan kotak P3K kesayanganmu itu ada di kamarku."

Kalimat terakhir dari Sasuke membuat Naruto tahu ia takkan bisa mengobati luka-lukanya tanpa memberitahukan alasan kenapa ia terluka pada housemate-nya itu.

~w~

Sasuke melatih kelincahan jari-jarinya malam itu dengan memainkan The Flight of The Bumble-Bee versi Maksim, pianis modern favoritnya. Setelah lima kali memainkan lagu itu berulang-ulang, Sasuke menekan tuts pianonya keras-keras dengan jengkel. Naruto sama sekali tidak meminta kotak P3K darinya. Apakah Manusia Idiot itu sebegitu tidak inginnya Sasuke mengetahui kenapa ia bisa luka-luka parah begitu secara rutin?

Sasuke mengurut keningnya dan akhirnya memutuskan untuk pergi tidur. Ia tak paham kenapa Naruto yang merahasiakan sesuatu darinya sangat membuatnya kesal. Satu-satunya alasan logis yang masuk ke otaknya saat itu hanyalah, Naruto tahu segalanya tentang dia, mulai dari masalah keluarganya, lata belakangnya yang kelam, dan tampaknya semuanya yang lebih mendetail. Tapi Sasuke sama sekali tidak tahu apapun tentang pemuda pirang itu selain sifat hiperaktif dan kejeniusannya dalam memainkan biolanya. Dan Sasuke merasa itu sangat tidak adil. Ia benar-benar membenci Si Pirang Sialan itu.

~w~

"Kita akhiri kelas hari ini," kata Mrs. Gaydar, membereskan buku-buku dan kumpulan partiturnya sembari berjalan keluar dari kelas.

Sasuke keluar dari kelas paling akhir, ia tidak terlalu suka berdesak-desakkan hanya untuk keluar dari kelas. Setelah tak ada satu orang pun di ruangan, Sasuke bangkit berdiri dari kursinya di dekat jendela yang menampakkan pemandangan taman samping JSA yang sepi ketika mata hitamnya menangkap sesuatu. Pupilnya melebar, dan tanpa berpikir panjang, Sasuke langsung berlari keluar dari kelasnya, menuju ke halaman samping JSA.

'Sialan…'

~w~

Sakura

'Semua ini membuatku makin bingung…' pikir Sakura frustasi. Ia masih duduk di dapurnya yang bersih, membaca buku harian Sasuke. Tapi semakin ia membacanya, semakin banyak saja perasaan yang berkecamuk di hatinya. Pada awalnya hanya muncul perasaan cemburu dan sakit hati, perasaan wajar yang timbul pada diri seorang wanita ketika membaca tentang kehidupan pernikahan suaminya yang lalu. Sakura masih memaklumi perasaan itu. Tapi lama-kelamaan juga muncul perasaan marah dan benci, yang Sakura tak tahu karena alasan apa. Dan sekarang perasaan penasaran, bingung, dan tak mengerti juga mulai muncul.

Sakura menekap mulutnya dengan telapak tangan kanannya, membiarkan perhatiannya teralih sebentar dari buku harian. Semakin ia membaca buku harian ini, semuanya semakin terasa abu-abu. Dan cara Sasuke menuliskannya pun tidak membuatnya lebih baik. Sasuke yang memperhatikan detail-detail kecil kebiasaan Naruto yang bahkan tidak dia sadari… hal itulah yang paling membuat Sakura bingung. Ia pernah dengan tegas mengatakan pada Naruto kalau Sasuke mencintainya. Dan Naruto hanya menanggapinya dengan tawa. Sama sekali tidak menganggap hal itu sesuatu yang serius. Sakura mengernyit. Ia yakin, buku harian ini takkan menjawab satu-satunya pertanyaan yang ada di benaknya saat ini. Apa Sasuke dan Naruto saling mencintai? Respon seperti apa yang Naruto ingin Sakura dapatkan dengan membaca buku harian ini?

Sakura tahu Naruto mencintainya. Begitu pula dirinya. Ia sangat tahu itu. Bahkan tanpa diucapkan pun Sakura tahu. Tapi semua respon-respon Naruto terhadap Sasuke ini…

Sakura menghela napas. Toh Sasuke hanya masa lalu. Naruto hanya ingin Sakura tahu tentangnya dengan membaca buku ini dan seharusnya hanya itulah yang dia lakukan. Dia tak perlu bertanya-tanya tentang sesuatu yang tak ingin Naruto jawab.

Tapi Sakura menggeleng. Dia berhak tahu. Naruto telah memutuskan untuk membuka rahasianya sekarang dan dia berhak tahu detail-detailnya. Sakura melirik arlojinya. Pukul setengah empat sore. Baru setengah jam ia meninggalkan rumah sakit, tapi rasanya sudah berhari-hari. Sakura tersenyum pada dirinya sendiri. Ia terlalu merindukan suaminya. Sakura menghabiskan sisa anggur di gelasnya, menepis semua pertanyaan untuk ia utarakan besok, dan kembali menyusuri tulisan rapi Sasuke dengan mata hijau emeraldnya.

~w~

Sasuke

Sasuke tidak berhenti berlari sampai ia mencapai lorong sempit di taman samping JSA yang hanya kelihatan dari jendela kelas Mrs. Gaydar. Sasuke mengerem larinya di mulut lorong, tidak mempedulikan napasnya yang terengah-engah karena telah berlari dari kelasnya di lantai tiga.

"Dobe…" panggilnya di sela-sela engah napasnya. Ia berjalan pelan-pelan ke sosok yang diyakininya sebagai Naruto, bahkan dari lantai tiga tadi. Rambut pirangnya terlalu mencolok. Atau memang ia sudah terlampau mengenali sosok itu?

Sosok yang dipanggilnya mendongak. Ya, itu memang benar Naruto. Ia jatuh terduduk, punggungnya bersandar lemas pada tembok bata lorong yang kasar dan keras. Ada lebam-lebam baru di wajahnya, dua kancing teratas kemejanya lepas dan darah segar masih mengalir dari ujung mulutnya.

"Apa yang… kau lakukan di sini, Teme…?" tanya Naruto, suaranya pelan, tapi Sasuke bisa menangkap nada marah yang tak biasa di sana. Sasuke berhenti di samping Naruto dan berlutut di sebelahnya, mengamati luka-lukanya dari dekat, mengabaikan pertanyaan Naruto. Bibir bawah Naruto bengkak dan mata kanannya sudah bisa disamakan dengan panda. Jelas sekali Sasuke terlambat datang. Bagaimanapun lari dari lantai tiga membutuhkan waktu. Tapi kalaupun ia datang tepat waktu pun, ia tak yakin sanggup menghajar semua orang yang mengeroyok Naruto tadi.

Tanpa berkata sepatah katapun, Sasuke mengulurkan tangannya dan hendak memapah Naruto ketika pemuda pirang itu menepis kedua tangannya dengan kasar. "Pergi," ucap Naruto. Sasuke tak pernah tahu kalau Naruto juga bisa bersikap dingin seperti itu.

Sasuke menyipitkan matanya ke arah Naruto dan menekan tulang kering Si Bodoh itu pelan. Efeknya luar biasa. Naruto menjerit kesakitan dan menyingkirkan tangan Sasuke dari kakinya dengan satu pukulan yang membuat Sasuke berjengit.

"Apa-apaan kau!" tuntut Naruto, memandang Sasuke dengan ekspresi sengit sambil memegangi kakinya. "Brengsek…"

Sasuke bangkit berdiri. "Aku tak yakin kau bisa pulang dengan kaki begitu."

Naruto mengerjap mendengar nada bicara Sasuke, membuat sikap garangnya lenyap seketika. Dan ketika kali berikutnya Sasuke mencoba memapahnya, ia sama sekali tidak bisa menolak. Apakah memang begini keturunan keluarga Uchiha itu? Bisa mempengaruhi orang dengan mudah hanya melalui nada bicara dan tatapan?

Sasuke membuka pintu mobil dan mendorong Naruto yang nyaris sudah tidak bisa berjalan dengan benar secara hati-hati, kemudian dia sendiri duduk di belakang kemudi. "Aku takkan tanya apa yang membuatmu begini kali ini," kata Sasuke, menyalakan mesin mobilnya.

Naruto nyengir salah tingkah. "Kayaknya aku tidak terlalu pandai berbohong."

"Kenapa mereka memukulimu?"

Naruto terdiam selama beberapa menit, hanya memandangi jalanan di depannya sebelum akhirnya menjawab, "Mereka menganggapku aneh." Sasuke mengernyit, tapi tidak berkomentar, menunggu Naruto melanjutkan. "Dengan nama Jepang tapi tampang sangat Amerika. Belum lagi status sosialku yang termasuk dalam kalangan menengah ke bawah," Naruto menghela napas, "Dan mereka semakin gemar memukuliku setelah tahu aku sudah menikah denganmu."

Sasuke terhenyak mendengar pernyataan terakhir yang keluar dari mulut Naruto. Ia melirik Naruto dari ujung matanya, mendapati pemuda itu sedang memandang keluar jendela sehingga Sasuke tidak bisa melihat ekspresinya. Kalimat terakhir Naruto telah membuatnya merasa… bersalah?

Tetes-tetes hujan pertama mulai turun dan membasahi mobil Sasuke. Tapi Sang Pemilik mobil belum juga menyalakan mesin mobilnya. Ia masih menatap lurus ke depan dengan kedua tangan pada ban setir. 'Dan mereka semakin gemar memukuliku setelah tahu aku sudah menikah denganmu.' Kalimat yang sangat merasuk ke pikiran Sasuke.

Ia tahu kalau pernikahannya dengan Naruto, selain menyelamatkan dirinya dari ancaman keluarganya, juga akan menimbulkan dampak negatif. Dan sejauh ini, ia belum mendapat satu pun. Gadis-gadis berisik yang dulu suka berteriak-teriak histeris ketika ia lewat sudah lenyap, digantikan oleh gadis-gadis yang hanya tersenyum sekilas padanya kalau dia lewat, atau kadang-kadang menanyakan kabar Naruto karena ia kelihatan jarang bersamanya di kampus. Itu tidak menganggu Sasuke, jadi dia tidak merasa risih. Keluarganya juga tidak mencoba menghubunginya lagi. Ia memang tidak punya teman dekat di kampus, jadi dia tidak peduli apa pendapat teman-teman cowoknya padanya yang menikah dengan seorang pria. Toh Inuzuka tetap bersikap seperti biasanya, baik pada Naruto maupun dirinya.

Tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau dampak negatif itu akan dialami Naruto. Ia tidak terlalu mengenal Naruto sebelumnya, jadi dia tidak tahu kalau Naruto adalah korban bullying khas Amerika. Ia yang hidup sebatang kara di negara sebesar Amerika, harusnya Sasuke bisa menyadari kalau contoh seperti Naruto itu rawan terhadap kekerasan.

Dan tiba-tiba saja Sasuke merasa kalau ia sangat egois. Ia merasa menyesal, kenapa ia tidak mencoba mengenali Naruto lebih jauh sebelum mengajaknya menikah begitu saja? Saat melamar Naruto di kapal itu, yah, kalau itu bisa disebut lamaran, ia hanya memikirkan tentang dirinya sendiri.

"Aku mulai kedinginan, kita mau di sini terus sampai kapan?" celetuk Naruto dari samping Sasuke.

Sasuke tersadar dari lamunannya dan langsung memacu mobilnya ke apartemennya.

~w~

Begitu Sasuke menghentikan mbilnya di basement apartemennya, Naruto langsung menghambur keluar begitu saja. Kelihatan jelas dia menghindari Sasuke. Sasuke yang sedikit kaget dengan tingkah laku Naruto mengamati sosok pirang itu yang berjalan tertatih-tatih ke arah lift basement. Sasuke mengambil tasnya dari tempat duduk belakang dan bergegas menyusul Naruto.

Ia tepat waktu. Begitu pintu lift membuka dan Naruto hendak melangkah masuk, Sasuke langsung mengikutinya. Naruto tak bisa menghindarinya kali ini. Tak ada tempat untuk menghindar di lift yang ukurannya cuma sembilan meter persegi itu. Si Pirang itu berdiri diam di pojok lift yang berlawanan dengan tempat Sasuke berdiri, menunduk menatap sepatunya. Mata hitam Sasuke terus menatap sosok Naruto. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi bibirnya tak bisa membuka. Dan ketika pintu lift terbuka di lantai apartemen Sasuke, malah Sasuke duluan yang keluar dari lift, membiarkan Naruto berjalan timpang di belakangnya.

Sasuke yang bisa mendengar suara langkah kaki Naruto di belakangnya tiba-tiba merasakan sesuatu di dasar perutnya. Sesuatu yang sama sekali tidak bisa ia terjemahkan. Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya dan membuka pintu apartemennya. Ia langsung melangkahkan kaki ke kamarnya, meletakkan tasnya asal saja di atas tempat tidur, menyambar kotak P3K di atas meja di sudut kamar, dan dalam hitungan detik sudah berada di dekat pintu masuk apartemennya lagi, menunggu Naruto yang masih tertatih-tatih di luar.

Begitu Si Pirang itu membuka pintu, Sasuke langsung meraih tangannya yang ia pastikan tidak terluka atau lebam, dan memapahnya ke sofa terdekat. Sasuke bisa merasakan Naruto sedikit meronta, tapi ketika Sasuke meliriknya, ia bisa melihat kalau semakin ia banyak bergerak, wajahnya makin pucat menahan sakit. Jadi usaha Naruto dihentikan. Sasuke mendudukkan Naruto dengan perlahan di sofa, menarik meja kaca ke dekatnya, mengangkat kaki Naruto yang membuatnya pincang, dan meletakkannya di atas meja.

"Guk!" Kyuubi sudah mendengar kedatangan mereka dan berjalan menghampiri mereka dari arah dapur. Anjing besar itu naik ke sofa dan bergelung di samping Naruto, memandang prihatin ke arah tuannya. Naruto tertawa geli melihat kelakuan Kyuubi dan tangannya secara otomatis melayang ke tubuh Kyuubi untuk mengelusnya.

Sasuke melihat seluruh rangkaian kegiatan itu dan tersenyum dalam hati sembari membuka kotak P3K-nya.

"Diam dan jangan bergerak," perintah Sasuke. Ia merobek celana jeans Naruto begitu saja, supaya bisa melihat lukanya dengan jelas.

"Hei!" seru Naruto, bergerak hendak protes, tapi detik berikutnya wajahnya langsung pucat. Sasuke memberinya tatapan 'apa kubilang' yang membuat pemuda pirang itu cemberut. "Ini celanaku satu-satunya tahu…" keluh Naruto.

"Nanti kubelikan yang baru," kata Sasuke cuek, mata hitamnya masih mengamati bengkak parah pada tulang kering Naruto. "Daripada aku membuka celanamu secara paksa? Mana yang lebih kau inginkan?" tambah Sasuke lagi, meraba tulang kering Naruto selembut mungkin untuk mengecek seberapa mengkhawatirkan lukanya.

Bola mata Naruto melebar. "Er… lebih baik begini," tanggapnya, membayangkan apa yang akan dia pikirkan kalau Sasuke benar-benar membuka celananya secara paksa.

Sasuke berhenti mengamati tulang kering Naruto setelah mendapatkan hipotesanya. Tulangnya memang tidak patah atau retak, tapi bengkaknya sudah sebesar bola tenis. Sasuke berdecak dan bergegas mengambil es batu dari kulkas, membungkusnya dengan kain dan meletakkannya secara perlahan di kaki Naruto. Ia memang tidak pernah sekolah kedokteran atau semacamnya, tapi pengetahuannya tentang bidang itu juga tidak sedikit. Banyak buku-buku kedokteran di kediaman keluarga Uchiha yang selalu menjadi bacaan sebelum tidurnya waktu masih kecil.

"Ah…" Naruto mendesah lega ketika permukaan kulitnya tersentuh es batu itu.

Sasuke mengernyit ketika mendengar suara Naruto. Ia melirik Si Pirang Idiot itu. Ia sudah memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya di punggung sofa. Dan Sasuke merasakan kalau Kyuubi menatapnya. Ia balik menatap anjing besar itu, merasa ada yang aneh dengan cara Kyuubi menatapnya. Sasuke mengangkat alisnya dan menggeleng pelan. Ada yang aneh.

"Pegangi ini, Dobe," perintah Sasuke, membuat Naruto membuka matanya dan langsung memegangi buntelan es di kakinya. Sasuke mengeluarkan kapas dan antiseptik dari dalam kotak P3K dan mulai mengobati luka-luka lain di tubuh Naruto.

"Sudah berapa lama mereka memukulimu?" tanya Sasuke, mengoleskan antiseptik pada luka di kening Naruto.

Naruto meringis kesakitan. "Entahlah, aku tidak ingat detailnya."

Sasuke melirik Naruto, melihat ekspresi kosong di wajah pemuda itu.

"Bisakah kita tidak membicarakannya?" tambah Naruto.

"Guk!" gonggong Kyuubi, membuat Naruto tersenyum lagi. Setidaknya anjing itu lebih peka dari Sasuke.

Sasuke mengganti kapasnya dengan kapas baru setelah ia selesai menempelkan plester di kening Naruto, dan beralih ke robek di bagian bibirnya. Sasuke menutul-nutulkan kapasnya dengan sangat amat hati-hati, tapi Naruto tetap saja mengernyit kesakitan.

"Aku bilang diam, Dobe. Bagaimana aku bisa mengobatimu kalau begini?" sentak Sasuke, membuat Kyuubi mendengkur ketakutan.

Naruto memandangnya tak senang, ia selalu jengkel setiap kali Sasuke membuat Kyuubi ketakutan atau merasa terintimidasi. "Tapi serabut-serabut kapas itu menempel di bibirku. Dan rasanya tidak enak," balas Naruto.

"Jangan manja," gertak Sasuke sebal, tapi toh ia tetap membuang kapasnya, mengoleskan antiseptik di jari pucatnya dan menggunakan jarinya sebagai pengganti kapas.

Naruto mengerjap ketika jari Sasuke menyentuh bibirnya. Sasuke yang merasa aneh karena tiba-tiba Naruto berhenti bergerak-gerak gelisah secara mendadak menatap pemuda berisik itu.

Biru dan hitam.

Gerakan tangan Sasuke juga terhenti. Rasa aneh di dasar perutnya muncul lagi, bahkan lebih hebat dari sebelumnya. Seperti ada balon yang mengembang di sana, dan terus mengembang…

"Guk!"

Balon di dasar perut Sasuke pecah. Ia kembali menatap luka di bibir Naruto dan mengoleskan antiseptik di sana dengan tenang, seakan tidak pernah terjadi apapun. Setelah Sasuke selesai, Naruto berdehem pelan. "Biar aku yang melanjutkan sisanya," kata Naruto. "Kyuubi akan membantuku."

Sasuke mengangguk dan bangkit berdiri dari sofa, meninggalkan Naruto bersama Kyuubi dan kotak P3K.

~w~

Sakura

Mata hijau Sakura terpaku pada halaman terakhir di jurnal tanggal lima November itu. Terlalu banyak pikiran dan pertanyaan di otak serta hatinya, sehingga semuanya campur aduk dan dia tidak bisa memilah-milahnya. Semuanya terlalu abu-abu baginya.

/tbc/

Ini bukan yang terbaik yang saya punya *mengernyit* tapi saya nggak tahu harus gimana lagi mengeditnya, jadi yasudahlah… *pasrah mode*

Dan…

Thanks for all reviewers!

Karena sulit bagi saya mengakses FFn lewat PC, maka maafkan saya kalo mencantumkan 'Review Reply' di sini ^^ harap maklum ya. Soalnya provider internet saya memblokir situs ini dengan alasan : situs ini diduga mengandung pornografi u_u UNLEASH YOUR IMAGINATION.

Review Reply

Micon : nomer hape saya bisa dilihat di FB yang link-nya saya cantumkan di profil FFn saya ^^ dan masalah pair kesukaan, saya nggak ada masalah sama sekali ^^ semua orang punya selera sendiri-sendiri. Dan lagi FFn adalah ajang untuk UNLEASH YOUR IMAGINATION, jadi menurut saya sah-sah saja mau menyukai pair manapun ^^ Dan merupakan kehormatan bagi saya bisa membuat seorang penggemar het menjadi penggemar slash. Kekekeke. Welcome to the Fujoshi Area, Micon-san! ;)

Uzumaki Nawaki : arti dari 'After Kiss Goodbye'? Kekeke. Bisa diketahui nanti. *smirk, ditendang*

Intan 9095 : Kekekeke. Tentu saja semakin banyak hits TVXQ-nya. Mulai dari judul fic aja udah TVXQ banget. Kekekeke. Bahkan pennem-ku aja udah TVXQ banget pula! XDD nyahahaha~

Dew-senpai : Makasih uda baca, nee! XDDD *peluk-peluk nee sampe sesek* review pula! *peluk lagi makin erat* ehehehe, masalah 'ehem ehem' itu… saya nggak janji :p

Mind to review? ^^

ALWAYS KEEP THE FAITH.