/Chapter 9/

Sasuke's journal, December 22, 2009.

Setelah kejadian sepele bulan lalu dimana aku mengobati lukanya itu, aku merasa ada perubahan dalam hubungan kami. Aku bahkan tak tahu perubahan ini bisa dianggap perubahan bagus atau buruk. Yang aku tahu hanya banyak hal yang berubah. Kami masih saling memanggil dengan 'Teme' dan 'Dobe' seperti biasa. Kami masih tidur di kamar terpisah seperti biasa. Dan kami masih sibuk dengan instrumen masing-masing seperti biasa. Tapi, entah ini hanya aku yang menyadari atau dia juga, kami makin jarang bertengkar yang disebabkan oleh hal-hal remeh, kami hanya bicara dengan satu sama lain seperlunya, walaupun sekarang aku menyuruhnya untuk pergi dan pulang kampus bersamaku, menghindari 'teman-teman' Naruto yang suka memukul itu. Dan perubahan yang paling mencolok dari semua itu adalah, kami tak pernah menatap mata satu sama lain lagi.

Itulah kesalahan keenamnya yang takkan pernah bisa kulupakan. Ha, aku juga sebenarnya tak tahu kenapa itu bisa menjadi kesalahan keenamnya, tapi aku hanya sedang ingin menyalahkan seseorang. Dan satu-satunya yang bisa kusalahkan hanya Si Pirang Dobe itu.

Dan ketika aku sudah mulai menikmati perubahan-perubahan itu, seseorang datang, dan membuatnya kembali ke semula, bahkan lebih parah. Terimakasih banyak pada orang sialan itu.

~w~

Sasuke memainkan grand piano putih barunya yang ia letakkan di ruang tengah. Ya, ia baru saja membeli piano mewah itu sebagai hadiah natal lebih awal untuk dirinya sendiri, membuatnya punya dua piano di dalam apartemennya. Ia juga membeli biola putih yang warnanya senada dengan pianonya untuk Naruto, membuat pemuda pirang itu girang luar biasa. Biola lamanya memang masih bagus, tapi tak ada salahnya kan punya dua biola. Dan Sasuke senang karena ia berinisiatif membelikan biola itu untuk Naruto. Si Pirang itu sekarang lebih sering berada di kamarnya atau di teras, untuk memainkan biolanya dengan lagu favoritnya, Canon. Jadi instensitas gangguan yang ditimbulkan di rumah lebih sedikit.

Sasuke menekan tuts-tuts pianonya dengan lembut, memainkan lagu buatannya yang pada September lalu berhasil menarik perhatian Mr. Spark. Bahkan sebelum liburan natal tiba dua hari lalu, Mr. Spark menuntutnya segera memberi judul untuk lagu itu. Ia memang belum menemukan judul yang tepat karena ia masih ingin memperbaiki beberapa bagian yang kurang pada lagunya.

Sasuke baru saja mengakhiri lagunya ketika Naruto berlari masuk ke dalam apartemen bersama Kyuubi. Biola putihnya masih ditentengnya, daritadi dia memang bermain biola di teras. Ia terengah-engah dan menatap Sasuke, atau lebih tepatnya menatap tangan Sasuke, dengan ekspresi horor. Sasuke balas menatap rambut pirang Naruto sambil mengernyit.

"Ada apa?"

Naruto menunjuk ke arah teras, yang lebih tepat disebut sebagai balkon luas itu, dengan penggesek biolanya. Sungguh petunjuk yang sangat tidak jelas.

Sasuke bangkit berdiri dan berjalan ke arah teras, ia melongok ke bawah dari sana, ke arah halaman berumput tempat Naruto dan Kyuubi biasa main lempar tangkap freesbe, dan mata hitamnya membulat. Sebuah mobil hitam terparkir di bawah sana, dengan lambang berupa kipas berwarna merah dan putih di atas kapnya yang dapat Sasuke lihat secara jelas. Itu adalah mobil keluarga Uchiha.

Sasuke langsung menghambur masuk ke dalam rumah, menghampiri Naruto yang masih terpaku di ruang tengah. "Siapa yang keluar dari mobil itu?" tuntut Sasuke. Ya, bahkan di saat seperti ini Sasuke tetap tak bisa memandang mata biru Naruto. Dan ia tak ingin mencoba.

Naruto membuka mulut hendak menjawab ketika terdengar suara bel dari arah pintu depan. Sasuke memandang pintu apartemennya dengan tatapan tajam, tapi toh ia tetap berjalan dengan tenang ke arahnya, dan memutar kenopnya. Dan ia sedikit tersentak ketika mendapati Uchiha Itachi berdiri di hadapannya dalam setelah polo shirt abu-abu dan celana jeans yang senada, dan sebuah koper kecil di kakinya.

Sasuke mengeluarkan glare terbaiknya, walau ia tahu itu takkan mempan pada 'mantan' kakaknya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya ketus.

Alih-alih balas menyentak, Itachi tersenyum lembut. Sasuke masih ingat betul senyum itu sebagai senyum dari sosok yang sangat dikaguminya waktu kecil. "Hanya datang berkunjung, Sasuke," jawabnya lembut. Itachi memandang melewati bahu Sasuke, ke arah Naruto yang masih berdiri di samping Kyuubi, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Itachi tersenyum pada Naruto dan mengangguk sopan. Masih melongo, Naruto balas mengangguk.

Tak pernah ada yang bisa meruntuhkan kegaharan Sasuke seperti yang dilakukan kakaknya. "Atas perintah Fugaku?" tanya Sasuke, tidak seketus sebelumnya.

Itachi menggeleng. "Ayah maupun Ibu sudah tak pernah menyebut namamu. Mereka pun membakar semua barang-barangmu yang tersisa, dan mereka bahkan repot-repot mengadakan pemakaman palsu untukmu agar tersiar kabar di seluruh Asia kalau putra bungsu keluarga Uchiha telah meninggal karena kecelakaan. Kau harus lihat surat kematian palsumu," jelas Itachi panjang lebar, membuat Naruto yang mendengar semua itu melongo makin lebar. Sasuke tetap tanpa ekspresi, namun jauh di lubuk hatinya ia sangat puas. Benar dugaannya, Fugaku lebih memilih untuk menganggapnya mati daripada mengakui kalau anaknya adalah seorang gay.

"Lalu untuk apa kau kemari?" tuntut Sasuke lagi.

"Sejak kapan dilarang melakukan kunjungan? Toh aku tidak keberatan punya adik yang orientasinya berbeda dari kebanyakan orang. Aku sudah tahu kau aneh dari kecil."

Twitch. Sasuke mengernyit. Aneh? Ingin sekali dia meninju hidung Itachi karena mengatainya aneh. Naruto terkikik pelan di belakangnya. Sasuke bersumpah ia akan menghabisi Si Pirang itu begitu ia berhasil mengusir Itachi.

"Kau tidak akan membiarkanku masuk?" tanya Itachi ketika tak ada respon positif dari Sasuke.

Sasuke mendengus. "Jangan harap. Kau sudah bertemu denganku, kunjunganmu sudah selesai. Sekarang angkat kakimu dari sini dan biarkan aku hidup dengan tenang." Sasuke hendak menutup pintu apartemennya ketika tangan Itachi menahannya. Senyum di wajah Itachi sama sekali lenyap. Ia memandang adiknya lekat-lekat.

"Biarkan aku masuk, Sasuke," kata Itachi singkat. Sasuke balas menatap mata Itachi yang sewarna dengan matanya. Dan dia tahu dia takkan bisa menolak keinginan kakaknya. Itachi tipe orang yang sangat keras kepala, dan kalau Sasuke mengusirnya hari ini, ia pasti akan kembali dalam waktu dekat, dengan sosok yang lebih menyebalkan dari sekarang. Tak ada pilihan lain selain membiarkannya masuk. Dengan begitu setidaknya ketenangan Sasuke akan terjamin selama beberapa tahun ke depan sementara Itachi memutuskan untuk mengadakan waktu kunjungan lainnya.

Sasuke menyingkir dari pintu, memberi jalan pada Itachi untuk masuk. Pria berambut panjang itu mengangkat kopernya dan melangkah masuk, dengan senyum lembut yang kembali tersungging di wajahnya, sebenarnya lebih tampak seperti seringai di mata Sasuke.

"Untuk apa koper itu? Kau hanya di sini beberapa jam kan?" celetuk Sasuke sambil menutup pintu apartemennya setelah Itachi masuk.

Itachi memandang Sasuke dan Naruto bergantian. "Tentu saja aku akan menginap di sini selama beberapa hari," jawabnya ceria.

Baik Sasuke dan Naruto membeku. Dan untuk pertama kali setelah sebulan, mereka menatap mata satu sama lain, walaupun dengan tatapan ngeri. Itachi telah menghancurkan perubahan yang membuat Sasuke nyaman, hanya dalam waktu beberapa menit.

~w~

Sasuke dan Naruto benar-benar canggung sekarang ini. Mereka, bersama Itachi dan Kyuubi sedang duduk menonton televisi di ruang tengah. Adanya Itachi di tengah-tengah mereka membuat suasana benar-benar tidak nyaman. Sasuke dan Naruto berkali-kali bertukar pandang gelisah, menanti saat-saat Itachi tidak ada di dekat-dekat mereka agar mereka bisa mengatur strategi untuk menghadapi Itachi, dalam kasus ini, bagaimana cara untuk menjadi suami-suami yang akur dan bahagia. Karena kalau mereka tidak terlihat seperti itu, Itachi pasti akan sadar kalau pernikahan mereka palsu, dan bulan-bulan yang mereka lalui selama ini akan sia-sia, terutama bagi Sasuke. Ia sangat tidak ingin kembali ke keluarga Uchiha. Yah, walaupun dia sudah dianggap mati oleh hampir semua orang di Asia, tapi Fugaku pasti akan menemukan alasan untuk membuat eksistensinya sebagai Uchiha Sasuke kembali.

Itachi meregangkan otot lengannya. "Kurasa aku ingin jalan-jalan sebentar di luar," katanya seraya bangkit berdiri dari sofa. Sasuke dan Naruto langsung memandangnya antusias. Naruto mengangguk-angguk menyetujui. Itachi tersenyum pada adik iparnya itu. "Boleh kuajak Kyuubi bersamaku?"

Naruto mengangguk kuat-kuat. "Tentu saja!" Ia menepuk punggung anjingnya pelan, menyuruh Kyuubi turun dari sofa. Itachi mengelus kepala anjing itu dengan lembut dan meraih ban lehernya untuk membawanya keluar. Sasuke dan Naruto masih membeku di tempat duduk masing-masing, menunggu Itachi benar-benar keluar dari apartemen dengan tegang. Setelah terdengar suara pintu menutup, Sasuke langsung bangkit dari duduknya, mengecek, dan setelah memastikan Itachi sudah pergi, Sasuke kembali ke ruang tengah.

"Apa yang akan kita lakukan?" mata biru Naruto memancarkan sorot cemas.

Sasuke menarik napas perlahan. "Cari cincin pernikahan kita. Kita harus memakai itu selama Itachi di sini," kata Sasuke memulai. Naruto mengangguk, langsung melesat ke kamarnya dan dalam beberapa detik sudah kembali lagi dengan kotak putih yang berisi sepasang cincin. Naruto menyerahkan satu kepada Sasuke, sementara ia memakai yang lain. Warna emas putihnya sangat pas dengan kulit kecoklatannya.

"Dan yang lebih penting," Sasuke berhenti sejenak, menatap Naruto dan menguatkan tekadnya untuk berkata, "kita harus tidur sekamar."

Naruto yang hanya mengangguk pasrah menunjukkan betapa gawatnya situasi sekarang ini. Sasuke menghela napas. "Sekarang kita pindahkan barang-barangmu secepat mungkin ke kamarku." Sasuke mendahului Naruto menuju ke kamarnya.

Untungnya barang-barang Naruto sedikit, mereka berhasil memindahkannya ke kamar Sasuke dalam sekali angkut. Tapi begitu mereka meletakkan barang-barang itu di kamar Sasuke, muncul masalah baru : Sasuke adalah penggila kerapian, dan ia paling tidak suka ada sesuatu yang merusak kerapiannya, apalagi Naruto, yang terkenal jorok. Sasuke berbalik menghadap Naruto, menatap pemuda pirang itu dengan glare khasnya. "Awas kalau kau sampai berani mengotori kamarku." Naruto menelan ludah dengan gugup, tahu kalau kata-kata Sasuke bukan sekedar ancaman.

Mereka mulai menata barang-barang Naruto dalam kamar Sasuke.

Naruto mengeluarkan kotak biolanya dan meletakkannya di atas grand piano Sasuke, ia hendak beralih ke barangnya yang berikut ketika Sasuke mendadak sudah berdiri menjulang di hadapannya. "Singkirkan biolamu dari situ," geram Sasuke.

Naruto mengernyit. "Lalu aku letakkan dimana dong?" keluhnya, terlalu malas untuk mencari tempat lain.

"Pokoknya singkirkan, terserah mau kau letakkan di mana, asal jangan di atas pianoku," kata Sasuke sinis.

"Tapi kalau aku meletakkan sesukaku kau pasti mengeluh tidak rapi. Biar di situ saja deh…"

Sasuke menyipitkan matanya, memandang Naruto tajam. "Singkirkan."

Naruto mencibir. "Kalau begitu kau saja yang singkirkan sendiri. Sekalian juga tata barang-barangku sendiri, Tuan Sok Rapi," sindir Naruto, tak kalah sinis.

Sasuke mengepalkan telapak tangannya jengkel. "Kau…"

Naruto menjulurkan lidahnya ke arah Sasuke dan berjalan keluar kamar dengan wajah tanpa dosa. Sasuke segera menarik lengan Naruto dengan kasar, membuat Naruto kembali berdiri berhadapan dengannya. "Ini barang-barangmu, Tolol, jadi kau yang bertanggung jawab tentang itu."

Naruto menyeringai. "Tapi ini kamarmu, Brengsek, jadi kau yang bertanggung jawab tentang itu."

Sasuke mengeratkan pegangannya pada lengan Naruto, marah. Tak peduli itu menyakiti Naruto atau tidak. Si Tolol ini selalu bisa membuatnya naik pitam hanya dalam hitungan detik. "Atur barang-barangmu sendiri, Dobe."

"Kalau begitu aku tetap akan meletakkan biolaku di situ, Teme," balasnya keras kepala.

Pegangan Sasuke makin erat. "Jangan membantahku, Dobe."

"Jangan memerintahku, Teme." Tatapan mata Naruto mulai mengeras. Ia tidak akan menyerah diintimidasi Sasuke seperti itu.

Cengkraman Sasuke makin kuat, tak peduli jari-jarinya nyaris kebas. Ia menatap mata Naruto lekat-lekat, luar biasa marah sekarang ini. Ia harus membuat Si Bodoh ini mematuhinya, tak peduli dengan cara apapun. Ini rumahnya, dan orang yang tinggal di sini dengan biaya hidup bergantung padanya harus patuh padanya, tak peduli apapun statusnya. Napas Naruto yang satu-satu, pertanda dia juga sedang jengkel, menyapu hidung Sasuke yang sedang memikirkan kata-kata balasan agar Si Pirang Menyebalkan ini menyerah kalah.

Tunggu.

Sasuke mengerjap sekali, begitu pula Naruto.

Sasuke kembali memfokuskan dirinya, mencoba netral agar tidak dikuasai amarah. Setelah ia berhasil menganalisis keadaan, disadarinya kalau ia bisa melihat dengan jelas tanda lahir berupa tiga garis di masing-masing pipi Naruto yang nyaris tidak kelihatan dari kejauhan. Kalau ia bisa melihatnya sejelas ini berarti…

Mata biru Naruto melebar dan Sasuke langsung melepaskan cengkramannya secara mendadak. Rupanya tanpa sadar, dalam adu argumen tadi, mereka telah saling mendekat satu sama lain. Kalau Sasuke telat menyadarinya, mungkin ia sudah…

Sasuke berdehem canggung. Tidak melanjutkan alternatif adegan di otaknya. Cukup sekali melakukan itu ketika di altar dulu, tak perlu diulangi lagi dalam setting dan suasana yang berbeda.

"Letakkan saja biolamu di atas meja itu," kata Sasuke, beralih ke barang-barang Naruto yang lain. Naruto mengangguk dan segera memindahkan biolanya.

Dan dengan ini, Itachi sukses menghancurkan perubahan-perubahan lain. Ia berhasil membuat Sasuke dan Naruto berbicara lebih banyak dari seharusnya dan bertengkar karena hal-hal tak penting. Dan bahkan ia membuat Sasuke dan Naruto terpaksa tidur dalam kamar yang sama.

~w~

Sakura

Wanita itu sudah pindah dari dapurnya ke ruang tengah, dimana sekarang ia sedang meringkuk di sofa favorit Naruto dan memandang tulisan rapi Sasuke dengan mata hijau emeraldnya. Ya, dia hanya memandang tulisan Sasuke, belum berani melirik huruf berikutnya. Hatinya terasa kosong. Bahkan suara hujan yang turun lagi di luar tak bisa memenuhinya.

Tiba-tiba saja ia merasa dibohongi. Baik itu oleh Naruto, maupun Sasuke walau mereka sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Ia merasa kalau eksistensi cinta Naruto yang diberikannya selama ini palsu, hanya kedok atau pelarian atas perasaannya pada Sasuke.

Naruto memang belum pernah mengatakan secara langsung kalau ia mencintai Sasuke, dan dari buku harian Sasuke pun, Sasuke tampaknya juga tidak tahu isi hati Naruto. Tapi justru itu yang membuat Sakura bimbang. Tak ada orang lain yang mengetahui isi hati Naruto selain Naruto sendiri kan?

Selama ini Sakura yakin kalau Naruto sangat mencintainya. Tapi bagaimana kalau apa yang diyakininya itu salah? Sugesti dalam hatinya mulai runtuh perlahan-lahan. Naruto terlalu abu-abu.

Ya, di sini bukan perasaan Sasuke yang penting. Melainkan perasaan Naruto. Sakura tak akan peduli kalaupun Sasuke mau mencintai Naruto atau tidak. Sama sekali tidak berpengaruh untuknya. Tapi kalau Naruto yang mencintai Sasuke…

Sakura sama sekali tidak ingin memberikan kebencian di saat suaminya, pria yang sangat ia cintai itu, berada di tengah-tengah maut begini. Sakura mencoba menyangkalnya sekiana lama, tapi ia tahu kalau Naruto bisa pergi kapan saja. Dokter pun sudah menyerah tentang penyakitnya. Dan Sakura sangat tidak ingin mengantar kepergian Naruto dengan perasaan seperti ini…

Atau ini hanya cara Naruto agar bisa Sakura bisa merelakan kepergiannya dengan begitu mudah? Membuatnya membenci Naruto dan tidak peduli lagi padanya, membuat Sakura menjadi mudah meninggalkannya, agar Sakura tidak merasa ditinggalkan.

Sakura menatap potret dirinya dan Naruto di atas perapian. Potret mereka berdua yang sedang tertawa bahagia seusai pesta pernikahan mereka. Apakah senyum yang ditunjukkan Naruto padanya itu palsu? Buku harian ini membuat pikirannya tambah keruh. Makin banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dalam diri Sakura.

Hujan turun makin deras.

Ingin sekali Sakura kembali ke rumah sakit sekarang juga dan menanyai Naruto secara langsung. Memaksanya untuk menjawab kalau perlu. Tapi Sakura tahu, ketika ia menatap sepasang mata biru milik Naruto, semua pertanyaannya takkan terlontar, digantikan oleh senyuman.

~w~

Sasuke

Ketika Itachi kembali dari jalan-jalannya bersama Kyuubi beberapa jam kemudian, Sasuke dan Naruto sudah duduk manis di ruang tengah. Naruto memeluk bantal sofa-nya sambil menonton televisi, sementara Sasuke iseng memainkan Fly Me To The Moon dengan pianonya. Tapi ketika terdengar langkah kaki Itachi mendekat ke ruang tengah, Sasuke langsung bangkit berdiri dan mendudukkan diri di belakang tubuh Naruto, sambil merangkul pemuda itu dari belakang. Naruto bergidik, tapi diam saja. Sasuke menahan diri untuk tidak muntah.

Itachi masuk ke ruang tengah dan tersenyum melihat adiknya. "Kalian mesra sekali…" ujarnya, mendudukkan diri di sofa terpisah. Kyuubi yang biasanya selalu duduk di pangkuan Naruto kali ini benar-benar enggan mendekat. Anjing siberian husky itu lebih memilih untuk menyendiri di dekat perapian setelah sebelumnya sempat berhenti beberapa saat di hadapan Naruto. Tampaknya anjing itu menyadari sesuatu yang janggal.

Naruto melempar senyum ke arah Itachi dan meraih tangan Sasuke yang melingkar di pundaknya. Sasuke mengangkat sebelah alisnya, menekan perasaan jijik di hatinya dan berusaha bersikap senetral mungkin. Ini sudah masuk dalam perjanjian mereka beberapa saat sebelum ini. Selama Itachi ada di sini, prinsip mereka untuk no touching akan diganti dengan must touch whenever and wherever normally.

"Bagaimana kalau kita makan malam sekarang?" Naruto menawarkan, mulai risih dengan lengan Sasuke yang menempel di badannya. Sasuke langsung mengangguk mengiyakan, buru-buru menjauhkan dirinya dari Naruto dan melesat ke dapur, sebelum Naruto sempat merusak dapurnya yang bersih dan rapi.

Itachi memandang Sasuke penuh tanda tanya. "Wow, aku belum pernah melihatnya segesit itu." Naruto hanya tertawa hambar, tahu maksud Sasuke mendahuluinya karena ia pasti akan menghancurkan dapur.

Begitu mereka bertiga sudah duduk di hadapan meja makan dan Kyuubi sudah makan dari mangkuknya di lantai, Itachi membuka percakapan itu.

"Sudah berapa kali kalian berhubungan seks?"

Naruto tersedak makan malamnya sendiri. Sasuke, dalam situasi biasa pasti hanya akan melirik secara acuh, tapi kali ini ia menepuk-nepuk punggung Naruto pelan, dengan enggan.

"Apa urusanmu tentang itu? Ini bukan pembicaraan yang layak saat makan malam," elak Sasuke.

"Hm…" kata Itachi, melanjutkan makan malamnya dengan tenang seakan yang dia tanyakan barusan adalah tentang cuaca. "Bukannya aku bermaksud buruk, tapi aku punya dugaan kuat kalau kalian…" Sasuke menahan napas, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan ia dengar, "…terlalu canggung satu sama lain. Atau karena ada aku?"

Sasuke menghembuskan napas lega. Kekhawatirannya tak beralasan.

"Atau dugaan Ibu bahwa ini hanya pernikahan palsu itu benar?" tambah Itachi.

Sasuke membeku selama beberapa saat, bertukar pandang sekilas dengan Naruto yang langsung menekuni makan malamnya.

"Mikoto menduga seperti itu?" tanya Sasuke, memastikan. Ia berusaha bersikap senetral mungkin.

Itachi mendengus geli. "Ibu punya firasat kuat tentang ini. Ia masih ingat seorang gadis dari masa lalumu yang bernama Yamanaka Ino, dan Ibu masih yakin kalau kau straight. Sebegitu inginnya kah kau keluar dari keluarga Uchiha sampai mengorbankan harga dirimu, Sasuke?"

Sasuke menatap kakaknya tajam, sangat tidak suka dengan perkataan Itachi barusan. "Aku mencintai Naruto. Aku menikahinya karena itu, bukan karena ingin keluar dari keluarga Uchiha." Bohong besar. Sasuke tahu itu. Tapi tetap saja Sasuke merasakan sesuatu yang bergejolak di ulu hatinya.

Itachi mengangkat alis. "Aku akan lihat pembuktianmu."

Sasuke meletakkan garpu dan sendoknya, benar-benar teralih dari makan malamnya. "Kau ke sini hanya untuk itu?" desisnya.

Itachi tersenyum misterius. "Kalau kau benar-benar mencintai Naruto seperti omonganmu barusan, tak ada yang perlu kau khawatirkan, kan?"

Sasuke membuka mulut hendak membalas, tapi—

Brak!

Naruto telah menggebrak meja makan dan menatap Itachi, marah. Sasuke mengernyit menatap Naruto. 'Apa yang akan dilakukannya kali ini?'

"Aku tidak suka Anda membicarakanku seolah aku tidak ada di sini, Sir," geram Naruto pada Itachi. "Dan masalah kami saling mencintai atau tidak, ini pernikahan palsu atau bukan, kalau Anda mau bukti, akan kami berikan. Aku sama sekali tidak suka seseorang mengetes cintaku, tapi kalau itu yang Anda inginkan, akan kami berikan. Puas?" Naruto memberikan tekanan pada kata terakhirnya. Sasuke hanya bisa menatap Naruto tanpa berkedip. Kata-katanya begitu… menakjubkan bagi Sasuke.

Itachi balas menatap Naruto, dan kemudian melanjutkan makan malamnya. "Begitu lebih baik."

Naruto menatap Sasuke dan mengangguk menenangkan. Saat itulah Sasuke menyadari ada sesuatu yang lain. Ada sesuatu yang 'mengalir' dalam dirinya.

~w~

Naruto

Ia menatap biola putih kesayangannya yang masih ada di pangkuannya itu. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana tiba-tiba Sasuke menariknya ke toko alat musik pada suatu hari dan memintanya memilih biola mana yang ia suka. Ia hanya bisa menatap Sasuke tak percaya ketika ia bertanya 'untuk apa?' dan Sasuke menjawab 'pilih saja. Aku akan belikan untukmu.' Naruto tiba-tiba merasa kalau Sasuke adalah sahabat terbaiknya. Ia menahan diri untuk tidak memeluk pemuda stoic itu di tempat umum.

Naruto mendengus geli. Ya, hanya sahabat. Sahabat terbaiknya yang takkan pernah ia lupakan. Ikatan yang dimilikinya bersama Sasuke terlalu kuat. Terlalu kuat.

~w~

Sasuke

"Berapa lama Itachi akan ada di sini?" bisik Naruto ketika makan malam sudah selesai. Ia dan Sasuke sedang membereskan meja makan sementara Itachi di kamar mandi.

"Ia hanya bilang mungkin sampai tahun baru. Semoga dia pergi lebih cepat dari itu," harap Sasuke, memasukkan piring-piring kotor ke dalam mesin pencuci piring. Ia tak bisa membayangkan harus berakrab-akrab ria dengan Naruto selama dua minggu. Sekarang saja dia sudah merasa jengah.

Naruto menata piring-piring yang sudah bersih kembali ke raknya, menghela napas. "Mana kuliah libur lagi. Kita takkan bisa menghindarinya."

Sasuke mengangguk setuju. "Ngomong-ngomong, ucapanmu waktu makan malam tadi…"

Naruto tertawa dan menepuk-nepuk punggung Sasuke. "Keren kan ya? Aku juga beranggapan begitu," kekehnya bangga.

Sasuke menyipit memandang Naruto, menyesal ia mengungkit-ungkitnya. Ia sama sekali lupa kalau pemuda pirang di sebelahnya ini punya kepercayaan diri yang berlebih.

"Aku mau tidur lebih awal," terdengar suara Itachi yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Penerbangan dari Tokyo ke New York sangat melelahkan." Ia tersenyum pada Naruto dan Sasuke yang masih sibuk di dapur dan masuk ke kamarnya, yang tadinya kamar Naruto sebelum ia pindah ke tempat Sasuke untuk sementara.

Naruto meniup poni pirangnya, meletakkan piring terakhir di tempatnya dan mengelap tangannya dengan serbet yang tergantung di dekat wastafel. "Kurasa aku juga mau tidur." Naruto berbalik dab berjalan ke arah kamarnya, tapi ia membeku di tengah jalan, kembali menoleh ke arah Sasuke dengan ekspresi horor.

"Aku… tidur… di kamarmu?"

Shit. Sasuke sama sekali lupa tentang hal ini.

~w~

Sasuke duduk di hadapan grand piano-nya, memainkan River Flows In You dengan amat sangat canggung. Di lagu yang menurutnya sangat mudah itu, dia melakukan banyak kesalahan. Naruto duduk di sofa besar di kamarnya sambil membaca partitur lagu-lagu gubahan Bach, sesuatu yang tak pernah dilakukannya. Naruto hanya membaca partitur kalau sedang di kelas atau rehearsal resmi. Bukan tipe hal yang akan dilakukannya kalau sedang menganggur.

Sasuke melirik Naruto yang tiduran di sofa, membaca partitur dengan serius. Saking seriusnya, mata birunya hanya menatap kosong pada kertas di hadapannya. Sasuke mendengus geli, dan untuk kesekian kalinya, jarinya tergelincir. Ia lagi-lagi salah menekan tuts.

Sasuke menghela napas. 'Ayolah, gender kami sama. Tak ada yang salah hanya dengan sekamar. Kenapa aku harus merasa secanggung ini?'

Sasuke kembali berkonsentrasi ke pianonya, memainkan River Flows In You, kali ini ia berhasil mengatasi kekikukkannya dan memainkannya dengan bagus seperti biasa. Ia memang terlalu bersikap paranoid terhadap Naruto. Toh kalaupun mereka tidur seranjang juga tidak akan terjadi apapun. Sasuke bukan penyuka sesama jenis, begitu pula Naruto. Pernikahan palsu ini lama-lama juga mempengaruhi tingkat ke-stress-an mereka. Sasuke mendengus geli, terhanyut dalam permainannya sendiri. Kenapa juga ia harus takut sekamar dengan Naruto?

Mata hitamnya kembali melayang ke sosok Naruto yang masih berbaring di sofa. Kelopak matanya sudah agak turun, kelihatan jelas dia mengantuk dengan partitur yang dibacanya. Sasuke tersenyum dalam hati. Mungkin Naruto mengantuk karena pengaruh permainan pianonya juga. Karena ia telah memainkan lagu yang sama selama tiga kali berturut-turut. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk beralih ke lagu pop kesukaannya, Fly Me To The Moon. Liriknya sangat sederhana, tapi entah bagaimana itu sangat menyentuh. Sasuke menyeringai, ia sendiri tak menyangka ia bisa berpikiran romantis seperti itu. Sasuke memainkan intronya, dan bernyanyi dengan suara lirih.

Fly me to the moon
And let me play among the stars

Let me see what spring
Is like on Jupiter and Mars

In other words, hold my hand
In other words, darling, kiss me

Fill my heart with song
And let me sing for ever more
'Cause you are all I long for
All I worship and adore

In other words, please be true
In other words, I love you

Sasuke mengakhiri permainannya dan, reflek, ia melirik Naruto. Posisinya di sofa masih sama, hanya saja buku itu sudah tergeletak di dadanya dan mata birunya sudah menutup sepenuhnya. Tangan kanannya menjuntai dari tepian sofa. Dadanya bergerak naik turun secara teratur.

Sasuke tertegun menatap sosok itu.

~w~

Malam itu, Naruto masih ingat dengan jelas kalau ia bosan membaca partitur Bach. Maka ia hanya menatap kosong pada deretan not balok yang berjarak beberapa senti di hadapannya, tapi ia terfokus pada hal lain. Permainan piano Sasuke.

Sasuke memang melakukan kesalahan di awal-awal permainannya, dia menyadari itu. Ia sebenarnya tidak tahu Sasuke memainkan lagu apa. Pengetahuan musiknya tidak seluas Sasuke. Tapi dilihat dari ekspresi wajah Sasuke, yang memang diliriknya setiap beberapa menit sekali, Naruto tahu kalau pemuda itu tidak puas dengan permainannya. Sasuke selalu mengernyit dan berdecak pelan tiap kali ia melakukan kesalahan, dan Naruto menyadari itu. Walaupun begitu, ia tiba-tiba menjadi sangat menyukai lagu itu.

Kekhawatirannya mengenai sekamar dengan Sasuke sudah lenyap. Toh mereka sama-sama pria. Dan Naruto tahu Sasuke bukan gay. Sekamar dengan Sasuke sama amannya dengan sekamar dengan Kiba. Naruto mendengus geli akan tingkah konyolnya karena begitu mengkhawatirkan malam ini. Mereka ini kan cuma pura-pura menikah, pura-pura saling mencintai, dan bahkan semua kata-kata cinta yang pernah terlontar dari mulut Sasuke maupun dirinya cuma pura-pura. Tidak lebih. Ia terlalu paranoid. Kalaupun ia tidur seranjang dengan Sasuke, ia yakin Si Stoic itu takkan menyentuhnya sama sekali.

Permainan Sasuke berangsur-angsur membaik. Tampaknya ia sudah menemukan semua nada lagu itu dengan benar. Naruto benar-benar menyukai permainan Sasuke. Hanya itu hal pada diri Sasuke yang sama sekali tidak menyebalkan. Cara Sasuke bermain, setiap nada yang dihasilkannya, entah kenapa itu mengingatkannya akan sosok orangtuanya, membuatnya merasa tenang dan tentram.

Naruto merasa pelupuk matanya menjadi semakin berat. Ia tidak tahu judul lagu yang sedang dimainkan Sasuke, tapi ia memutuskan mulai sekarang akan menyebutnya Lullaby Song. Ia akan mencari cord untuk versi biolanya nanti. Mata Naruto sudah hampir terpejam ketika Sasuke mengganti lagu yang sedang dimainkannya. Dan samar-samar Naruto mendengar… Sasuke bernyanyi?

Naruto hanya sempat terjaga selama beberapa saat untuk mendengarkan suara Sasuke yang ternyata begitu lembut dan mantap ketika bernyanyi, sebelum akhirnya dia tertidur lelap.

/tbc/

Sudah mencapai empat ribu words lebih! Maafkan saya kalau kepanjangan dan malah membuat bosan. *deep bows* Dan saya baru ingat saya sama sekali tidak mencantumkan 'disclaimer' di chap-chap terakhir =.="

Review Reply

Micon : username FB saya Gretta Cassiopeia. Silakan di search aja ;)

Intan 9095 : Kekeke. Kemaren aku dapet nomer hape yang ada 9095-nya lho, ntan *smirk* (gaje banget)

Kenapa pada tanya kapan Hana To Yume update? T.T

Disclaimer : Masashi Kishimoto