/Chapter 10/

Sasuke's Journal, December 31, 2009

Hari-hari yang kulalui hanya bersama Naruto dan Kyuubi sudah cukup buruk. Tak pernah sekalipun terlintas di pikiranku, bahkan di imajinasiku yang paling liar, kalau akan ada kedatangan seorang Uchiha Itachi juga. Sekarang hidupku benar-benar buruk. Sudah sepuluh hari Itachi menetap di apartemenku, dan ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang ke Jepang. Entah apa yang mencegahnya. Firasatku mengatakan dia menantikan sesuatu dan dia takkan pergi sampai yang dinantikannya itu tiba.

Ide untuk mengusirnya selalu terlintas berkali-berkali. Tapi seperti kata Itachi, percuma saja mengusirnya sekarang. Ia pasti akan menemukanku lagi, dan malah membuatku makin kesal. Jadi satu-satunya cara adalah menunggunya pulang dengan sendirinya. Seandainya saja Itachi lebih terbuka dan memberitahuku apa yang dinantikannya sehingga aku bisa membantunya, untuk pulang lebih cepat tentunya.

Mungkin ia jatuh cinta dengan wanita Amerika? Haha. Aku terlalu stress sehingga bahkan pikiranku melantur.

Tapi keberadaan Itachi benar-benar membuatku jengah, bahkan Naruto terlihat sangat tidak nyaman. Satu-satunya yang menikmati kehadiran Itachi hanya Kyuubi, karena anjing itu akrab sekali dengannya.

Naruto pernah bilang pada suatu malam sebelum kami pergi tidur (hei, jangan salahkan aku dengan adanya adegan seperti ini, Itachi membuat kami harus tidur sekamar, ingat?) kalau ia bertemu Itachi dalam keadaan tidak begini, tidak menjadi suamiku maksudnya, mungkin ia akan sangat menyukainya, karena sosoknya sangat dewasa. Benar-benar figur seorang kakak yang baik. Tapi aku, ia menatapku sinis ketika mengatakan ini, membuat segalanya tampak lebih buruk.

Aku hanya menggumamkan 'hn'-ku dan memejamkan mata untuk tidur.

Intinya, Itachi benar-benar menguras waktu dan tenagaku. Setiap dia ada, aku harus berpura-pura mesra dengan Naruto, menggenggam tangannya, mencium puncak kepalanya, merangkulnya, tidur seranjang dengannya setiap malam. Astaga, benar-benar derita batin.

Dan aku sama sekali belum menemukan judul yang tepat untuk laguku. Itachi merusak inspirasi. Aku baru saja menyadari kalau aku lebih membenci Itachi daripada Naruto, dan itulah kesalahan yang masih kuhitung sebagai kesalahan keenam Naruto. Dia bisa menjadi jauh lebih baik, jauh lebih baik daripada keluargaku.

~w~

Naruto menguap dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia memutar posisi tubuhnya di kasur sehingga tidak lagi menghadap tembok, dan langsung memgerjap kaget. Wajah tidur Sasuke hanya berada beberapa inchi dari wajahnya sendiri. Nafas Sasuke yang teratur tampak begitu tenang dan damai. Ia benar-benar tengah tertidur lelap. Naruto mendudukkan dirinya dan mengernyit memandang Sasuke. Lengan kiri pemuda stoic itu menutupi matanya sementara tangan kanannya tergeletak di atas perutnya. Dadanya bergerak naik turun seirama dengan napasnya. Naruto mengangkat alis. Ia tahu Sasuke sangat jaim ketika dia sadar, tapi ia tak pernah menyangka kalau 'suami'-nya itu juga bisa terlihat keren waktu tidur, bahkan dengan gaya yang sederhana seperti itu. Kalau dirinya sih, sudah tidak usah diragukan lagi. Air liur di mana-mana dalam posisi tubuh yang tidak elit.

Naruto mendengus geli dengan pemikirannya barusan dan turun dari tempat tidur sepelan mungkin agar tidak membangunkan Sasuke. Ia keluar dari kamar dan langsung melenggang ke dapur, dimana Kyuubi biasa tidur. Tapi Itachi sudah ada di sana.

"Oh, eh, hai, pagi…" sapa Naruto canggung. Itachi sudah lebih dari seminggu di sini tapi kehadirannya tetap membuat Naruto jengah.

Itachi yang sedang berjongkok di depan Kyuubi yang sudah diberinya sarapan, mendongak dan tersenyum pada adik iparnya. "Pagi," balasnya. "Kau tidak usah repot membuat sarapan seperti biasanya. Semuanya sudah kusiapkan di meja makan."

Mulut Naruto membulat membentuk huruf 'o' sementara mata birunya memandang ke arah meja makan yang sudah tertata rapi. Beberapa saat kemudian sesosok dalam balutan boxer biru dan kaus putih polos berjalan melewatinya dan langsung mendudukkan diri di meja makan.

Naruto mencibir ke arah Sasuke yang sudah memakan telur dadarnya tanpa basa-basi, ia menoleh ke arah Itachi, "Sarapan, aniki," tawarnya, dan mendudukkan diri di sebelah Sasuke.

Itachi mengangguk pada Naruto dan menatap pasangan itu. Naruto meletakkan semua tomatnya di piring Sasuke dan nyengir lebar. Sasuke menatap Naruto dan mengacak rambut pirang pemuda itu. Itachi tersenyum. 'Sedikit lagi'.

~w~

Siang itu, ketika salju turun agak deras, Sasuke, Naruto dan Itachi hanya duduk menonton televisi di ruang tengah seperti biasa dengan perapian yang dinyalakan lebih hangat dari biasanya. Tangan Sasuke berada di punggung kursi di belakang tubuh Naruto, memainkan rambut pirang Naruto yang menjuntai dengan jari telunjuknya, sementara Naruto menyandarkan punggungnya pada tubuh Sasuke, memeluk bantal.

Itachi melirik pemandangan itu dan tersenyum kecil. "Malam tahun baru ini kalian mau kemana?"

Pertanyaan yang salah. Karena Sasuke menghentikan gerakannya pada rambut Naruto dan Naruto sendiri menegakkan posisi duduknya. Sesuatu yang sudah diduga Itachi.

Sasuke dan Naruto saling lirik. Tahu kalau mereka menjawab dengan 'tidak kemana-mana' itu akan menjadi jawaban yang sangat konyol mengingat ini malam tahun baru pertama mereka sebagai pasangan yang sudah resmi. Bahkan malam Natal kemarin saja mereka terpaksa melakukan sesuatu yang tidak biasa, yang bisa membuat mereka mual-mual kalau mereka harus mengingatnya.

"Err…" Naruto melirik Sasuke tak yakin, berharap Sasuke ada ide cemerlang yang tidak terlalu memuakkan.

"Mungkin kami akan ke Central Park. Di sana bakal ramai," jawab Sasuke cepat. Ia sedikit menggeser posisi tubuhnya sehingga tidak lagi bersentuhan dengan tubuh Naruto.

Itachi mengangguk puas. "Bagus, aku akan jaga rumah bersama Kyuubi malam ini. Selamat bersenang-senang."

Sasuke dan Naruto bertukar pandang. Mereka terpaksa pergi malam ini. Sialan.

~w~

Sasuke dan Naruto sudah duduk manis di dalam mobil Sasuke malam itu. Mereka bersiap pergi. Naruto melambai ke arah Itachi yang mengantar sampai ke lantai dasar ketika Sasuke menjalankan mobilnya. Tapi begitu mereka berbelok di tikungan dan Itachi sudah hilang dari pandangan, Sasuke memarkir mobilnya di tepi jalan.

"Kita tidak akan benar-benar pergi ke Central Park kan?" keluh Sasuke. Sebenarnya ia sudah berniat untuk mencari judul yang tepat untuk lagunya yang harus diserahkan ke Mr. Spark begitu liburan usai. Tapi rencananya gagal total karena Itachi. Sekarang ia lebih membenci kakak satu-satunya itu daripada pemuda berisik yang duduk di sebelahnya ini.

Naruto merapatkan jaket yang dikenakannya, karena udara memang dingin sekali. Tangan Sasuke otomatis melayang ke tombol pemanas di mobilnya, menaikkan intensitas suhunya agar jauh lebih hangat. "Terserah deh kemana, yang penting menyingkir dulu dari dekat-dekat kakakmu selama beberapa jam ke depan."

Sasuke memandang jalanan yang agak lengang di depannya. Kalau dia benar-benar ke Central Park, Sasuke sangat tidak suka keramaian. Tapi kalau mereka hanya berdiam diri di sini, Naruto-lah yang akan mati bosan. Sasuke menghela napas dan menyalakan mesin mobilnya, hanya satu tempat yang ada di pikirannya sekarang.

~w~

Sakura

Hujan yang turun tidak kunjung berhenti. Sakura sudah kehilangan emosinya. Hatinya sudah lelah. Ia telah terlalu banyak berspekulasi. Ia memutuskan untuk menyimpan semua perasaannya rapat-rapat dulu sebelum mengetahui akhir dari jurnal ini. Bukan saatnya berpikir dengan hati sekarang. Ia harus menggunakan otaknya. Ia tak ingin menghakimi Naruto dan Sasuke begitu saja. Mungkin Naruto membutuhkan penilaiannya secara objektif

Pandangan Sakura melayang ke cincin kawinnya, yang disematkan Naruto di jarinya lima tahun lalu. Pertemuan pertamanya dengan Naruto bisa dibilang tidak istimewa. Ia sedang berjalan keluar dari aula tempatnya berlatih ballet, dan melewati kelas kosong dimana Naruto sedang memainkan biolanya dengan sangat amat indah. Pemandangan itu masih melekat di pikiran Sakura, bahkan sampai sekarang. Ekspresi Naruto yang tampak begitu sedih… namun indah. Sakura mendengus geli. Hanya ada dua kata yang terlintas di otak Sakura saat itu, painfully beautiful.

Sakura tertegun. 'Apa saat aku melihat Naruto waktu itu… dia masih bersama Sasuke? Atau ekspresi sedih yang ditunjukkannya saat itu…'

Sakura menggeleng pelan. Ia sudah berjanji pada dirinya tidak akan mengambil keputusan secara sepihak sekarang. Walaupun semuanya begitu abu-abu.

~w~

Sasuke

Sasuke menghentikan mobilnya di tempat parkir JSA, membuat Naruto mengamati sekelilingnya sambil mengernyit.

"Dari semua tempat yang bisa terpikir olehmu, kau memilih kampus?" sindirnya, sambil melepaskan sabuk pengaman. Sasuke tidak membalas ucapannya itu. Ia turun dari mobilnya, dan berjalan mendahului Naruto menuju ke gedung JSA, tempat divisi musik terletak.

Naruto berjalan beberapa langkah di belakangnya dengan kedua tangan berada dalam saku jaketnya. "Memangnya kau punya kunci masuk gedung?"

Sasuke, tentu saja, tidak menanggapi pertanyaan itu. Ia tetap berjalan di depan dengan satu tekad, kalau dia tidak bisa menghabiskan waktunya dengan bermain piano semalaman di apartemennya karena ada Itachi, maka ia akan mencari tempat lain dimana ia bisa melakukan itu, tak peduli Naruto suka atau tidak. Sasuke mencongkel salah satu jendela dengan pisau lipat yang selalu dibawanya dengan sangat profesional, membuka daun jendelanya, dan melompat masuk dengan santai seakan dia masuk melalui pintu depan setelah sebelumnya berjalan melintasi red carpet, membuat Naruto melongo di belakangnya. Walaupun begitu, Naruto tetap mengikutinya.

"Kau ini pernah kerja sebagai maling atau bagaimana?" tanya Naruto setelah ia mendarat dengan mulus di lantai marmer koridor JSA. Sasuke lagi-lagi hanya diam. Pemuda stoic itu berjalan dengan tenang ke arah ruang musik yang terletak di lantai dasar, melakukan hal yang sama dengan daun pintunya seperti pada jendela tadi, dan langsung melesat ke arah grand piano di salah satu sudut ruangan.

Naruto mendengus. "Seharusnya sudah kuduga." Pemuda pirang itu melangkah ke sudut yang berlawanan dengan Sasuke, hendak mendudukkan diri di lantai kosong untuk menonton Sasuke semalaman ketika mata birunya menangkap figur sebuah biola di rak. Naruto nyengir dan mengambil biola itu.

Sebelum Sasuke sempat memulai nada pertama lagunya, Naruto sudah memotongnya, "Hei, Teme, coba dengar ini."

Panggilan itu membuat Sasuke mendongak ke arah Naruto yang berdiri di samping jendela, hanya diterangi cahaya bulan musim dingin. Naruto memosisikan biola itu di pundaknya, tersenyum lembut sambil memejamkan matanya, dan mulai menggesek biola itu.

Seluruh bulu kuduk Sasuke meremang begitu Naruto memainkan nada pertamanya. Sama sekali tak ada yang melintas di otaknya, seolah pikirannya macet. Sasuke belum pernah mendengar lagu yang dimainkan Naruto sebelumnya, tapi ia tak peduli. Gaya Naruto memainkan biolanya memang berbeda dengan orang kebanyakan karena pemuda pirang itu hiperaktif. Tubuhnya tak pernah bisa diam. Naruto selalu bemain biola dengan gestur yang khas, seolah ia juga sedang memainkan drama dari lagu itu. Sangat menjiwainya. Pupil mata Sasuke melebar ketika ia merasakan darah dalam tubuhnya berdesir. Ia merasakan hasrat kuat di dadanya untuk menggerakkan jemarinya dan mengiringi permainan biola Naruto saat itu juga, tapi tubuhnya mengkhianati hatinya. Maka Sasuke memejamkan matanya dan mencoba larut dalam setiap nada yang dihasilkan Naruto.

"Bagaimana menurutmu, Teme?" tanya Naruto begitu ia selesai.

Sasuke membuka matanya dan memandang cengiran lebar Naruto. Lagu tadi masih begitu mempengaruhinya. Ia masih belum bisa menggerakkan tubuhnya secara benar dan ia belum bisa menemukan suaranya untuk menjawab pertanyaan Naruto.

Naruto kembali meletakkan biola itu di raknya. "Aku memberinya judul Path To You All. Aku membuat lagu itu minggu lalu, dan kau orang pertama yang mendengarnya."

Sasuke mulai bisa merasakan tubuhnya lagi. Ia berdehem pelan. "Aku merasa tersanjung."

Naruto nyengir makin lebar dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Jadi, bagaimana menurutmu? Kalau cukup bagus, aku akan menggunakannya untuk tes awal semester akhir bulan ini."

Sasuke menunduk memandang jari-jari pucatnya yang masih diam di atas tuts putih piano. Ia berusaha untuk tidak memandang Naruto terlalu sering. Entah kenapa itu membuatnya jengah, menimbulkan perasaan tak enak di hatinya yang tak bisa ia tafsirkan.

"Kurasa kau akan lulus dengan nilai sangat bagus di tes itu kalau kau benar-benar menggunakan lagu tadi," jawab Sasuke, kaget karena suaranya sedikit bergetar. Sesuatu telah mempengaruhinya.

Naruto mengerjap. "Wow, benarkah?"

"Hn."

Naruto tertawa. "Baru kali ini kudengar kau memujiku begitu."

Sasuke menelan ludahnya dengan gugup. Suara tawa Naruto menimbulkan dampak hebat di rongga dadanya. 'Sial… jangan sekarang. Tidak, ini tidak boleh…'

"Nah, karena kau sudah menjadi pendengarku yang baik, aku akan menjadi pendengarmu yang baik juga. Mainkan pianomu, Teme." Naruto mendudukkan dirinya di lantai linoleum, menanti Sasuke mulai bermain.

Sasuke menghembuskan napas pelan, berusaha mengembalikan kondisi dirinya. Ia menekan salah satu tuts dengan jari telunjuknya agar ia tersadar dari entah apa yang membuatnya trans beberapa saat lalu, dan ketika ia sudah yakin, Sasuke memulai.

Ia sudah memainkan lagu ini berulang kali, ia hapal setiap nadanya dan bisa memainkannya sambil tidur sekalipun, tapi sesuatu pada dirinya, yang mempengaruhi hatinya sekarang menimbulkan perasaan berbeda ketika nada-nada yang dihasilkannya mencapai telinganya. Semuanya terasa lima kali lebih indah. Sasuke tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum dalam hati. Tuts-tuts piano tampak lebih menyenangkan untuk ditekan sekarang. Ia seperti merasakan euforia yang tidak biasa. Sesuatu yang belum pernah dialaminya sebelum ini. Sasuke mendongak dari jemarinya yang bergerak lincah di atas tuts dan tanpa sengaja tertatap olehnya mata biru Naruto yang memandangnya lekat-lekat.

Dan Sasuke merasakan 'sesuatu' menghantam rongga dadanya. Sasuke segera mengalihkan pandangannya, merasa kaget karena ia merasa… enggan?

Sasuke mengakhiri permainannya dengan sempurna dan mendapat applause dari Naruto. Pemuda pirang itu mengacungkan kedua ibu jarinya ke arahnya sambil tersenyum lebar. "Luar biasa! Sial, aku bahkan tak bisa menemukan kata yang tepat untuk mengutarakan betapa bagusnya lagu tadi…" Naruto berdecak tak puas pada dirinya sendiri. "Kau beri judul apa lagu tadi?"

Sasuke bangkit berdiri dari kursi di depan grand piano hitam itu dan mendudukkan diri di hadapan Naruto. Kali ini tubuhnya tidak mengkhianati hatinya, melainkan rasionalnya.

"Belum berjudul. Mr. Spark memintaku untuk menyerahkan judul lagunya begitu liburan usai, tapi aku tidak ada ide. Itachi merusak segalanya."

Naruto terbahak. Sensasi aneh kembali muncul pada diri Sasuke.

"Kau ada ide?" tanya Sasuke, mencoba meminimalisir sensasi itu.

Tawa Naruto terhenti secara tiba-tiba ketika pemuda pirang itu mengernyit menatap Naruto. "Kau tidak biasanya minta pendapat pada orang lain, apalagi padaku." Sebenarnya bukan hanya Naruto yang merasa aneh. Bahkan Sasuke pun merasa kalau itu amat sangat aneh.

"Bagaiman kau bisa memberi judul pada lagumu yang tadi itu dengan begitu mudah?" tanya Sasuke lagi.

"Hm…" Naruto memainkan jari-jarinya sambil menjawab, "Entahlah. Tapi aku tak pernah mengalami kesulitan dan memberi judul pada lagu. Yang menyusun rangkaian nadanya kan kita sendiri, judul bisa kudapat dengan merasakan setiap nada yang dihasilkan dengan sungguh-sungguh, dan biasanya setelah aku selesai memainkan lagu itu secara keseluruhan, akan ada kelompok-kelompok kata yang melintasi otakku. Aku hanya perlu mengambil kelompok kata yang tepat, dan, zap! Jadilah kata-kata itu sebagai judul laguku," jelas Naruto panjang lebar. "Memangnya kau tidak begitu?"

Sasuke mengangkat sebelah alisnya mendengar penjelasan gamblang Naruto, dan menggeleng pelan, membuat Naruto memajukan bibirnya beberapa senti ke depan, tampak tak puas.

Sasuke berdehem lagi. "Kalau begitu, kau sudah mendengar laguku secara keseluruhan tadi. Kelompok kata apa yang melintas di otakmu, Dobe?"

Naruto mengernyit, memandangi ujung-ujung jarinya. "Er… menurutku gambaran lagunya terdengar seperti… seseorang yang mempertanyakan apakah kesedihan yang pernah melandanya akan datang lagi atau tidak. Bukan berarti ia berharap kesedihan itu akan datang lagi… ia justru ingin hal itu menghilang selamanya dari hidupnya, tapi ia juga tak bisa mencegah dirinya untuk selalu bertanya-tanya."

Sasuke terpaku memandang Naruto. Tepat seperti itu. Lagu itu adalah refleksi dari perasaan Sasuke selama beberapa bulan terakhir ini. Naruto bisa menangkap semua kata hatinya hanya dalam sekali dengar.

Naruto mengangguk, menyetujui pendapatnya sendiri. "Kelompok kata pertama yang melintas di otakku adalah whither grief."

"Kanashimi no… yukue…?" ulang Sasuke, dalam bahasa Jepang. Bahkan ketika ia mengucapkan kalimat itu, ia sudah merasa kalau judul itulah yang selama berminggu-minggu ini dicarinya.

"Eh? Itu bahasa Jepangnya? Sepertinya terdengar lebih bagus dalam bahasa Jepang," komentar Naruto, tersenyum lebar.

Sasuke mendengus geli dan mengacak rambut pirang Naruto. Naruto mengerjap mendapat perlakuan seperti itu dari Sasuke. Seharusnya hal itu hanya didapatnya ketika Itachi ada di dekat-dekat mereka…

Sasuke bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. "Sebentar lagi pergantian tahun. Kembang apinya terlihat jelas dari danau di belakang kampus."

Naruto masih duduk diam di lantai, memandang punggung Sasuke. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi dalam diri pemuda emo itu.

~w~

Naruto

Entah kenapa ia selalu merangkum semua itu dalam satu kata yang disebutnya 'ikatan'. Terlalu ambigu memang. Kata itu memiliki arti berbeda-beda bagi setiap orang. Tapi hanya kata itu yang terlintas di otaknya tiap kali dia mengenang dua tahun yang dilaluinya bersama Sasuke.

Naruto mendengus tertawa.

Biarlah orang-orang mempunyai persepsi yang berbeda tentang apa itu 'ikatan'. Dan biarlah hanya ia yang tahu apa arti kata 'ikatan' bagi dirinya, atau dalam bahasa Sasuke, kizuna.

~w~

Sasuke's journal, January 1 , 2010. At 01.30 am.

Semuanya terasa berjalan begitu cepat setelahnya. Kami hanya duduk diam di tepi danau, menatap ke langit cerah berbintang, menanti munculnya kembang api yang menandakan pergantian tahun. Dan ketika bunga-bunga api pertama muncul di langit, aku yang melihat pantulannya di mata biru Naruto merasa kalau pemuda pirang hiperaktif ini telah melakukan kesalahan ketujuhnya yang takkan pernah kulupakan seumur hidupku.

Kesalahan kelimanya adalah membuatku khawatir. Kesalahan keenamnya adalah ia membuat perubahan dalam hidupku yang teratur. Dan sekarang setelah kita tiba pada kesalahan ketujuhnya dari sepuluh kesalahannya, aku makin enggan untuk menuliskannya. Tapi… yah, dia membuatku memperhatikannya. Itulah kesalahannya.

P.S

Begitu kami sampai di rumah dini harinya, ternyata Itachi masih terjaga di ruang tengah sementara Kyuubi tertidur di karpet di bawahnya. Ia menatap kami berdua lekat-lekat selama beberapa saat, membuat kami berdua sedikit bingung kenapa harus ditatap seperti itu, dan kemudian ia bangkit dari sofa sambil tersenyum, yang tampaknya terlihat seperti senyum penuh kelegaan.

Dia menepuk bahuku sekilas sebelum masuk ke kamarnya dan mengatakan kalau ia akan kembali ke Jepang pagi itu juga. Kelihatannya sesuatu yang dinantikannya sudah tiba. Aku merasa tolol sekali saat itu karena tak tahu makna dari sorot matanya.

/tbc/

Chapter kemarin benar-benar kepanjangan. Harusnya jatah kemunculan Itachi itu cuma satu chapter. Tapi karena saya bakal sangat merasa berdosa pada SasuNaru kalau jatah kemesraan mereka saya skip begitu saja, jadi saya biarkan diri saya untuk melebihi kuota. Hehe.

Dan kali ini chapternya sengaja saya bikin pendek! YA~HA! *digiles*

Ah, ya, karakter Itachi memang terlalu misterius. Kenapa ia mendadak pulang ke Jepang? Ada yang punya dugaan? Kekeke. Yang bisa menjelaskan dengan benar apa sebenanya tujuan Itachi mengunjungi Sasuke di New York akan mendapat hadiah review dari saya! XD Happy guessing! *smirk*

Beberapa saat yang lalu sempat dihebohkan dengan teknologi RedBotton. Semoga teknologi itu tak pernah bisa berbahasa Indonesia.

Review Reply

Dew-nee : Er… saya juga nggak tahu pasti kapannya O.o *ditampol*

Thanks for all reviewers and readers!

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Mind to review? ^^

ALWAYS KEEP THE FAITH