Maaf sebelumnya untuk keterlambatan update ^^"
/Chapter 12/
Sasuke's journal, July 20, 2010
Lima bulan berlalu sejak… yah, sejak saat itu. Aku bahkan tak tega untuk menulisnya di jurnalku. Atau mungkin aku takut sensasi itu akan kembali ketika aku menuliskannya? Sensasi di sekujur tubuhku ketika bibirku menyentuh bibirnya… Ah, sudahlah. Aku tak ingin berakhir dengan memainkan Hana's Eyes yang terasa sangat menyedihkan itu malam ini.
Aku tersenyum kecil ketika menulis judul lagu itu tadi. Ya, lagu yang langsung tercipta secara otomatis di otakku setelah insiden lima bulan lalu. Aku membuat partiturnya hanya dalam waktu kurang dari dua jam, dan setelah aku menyelesaikan rangkaian not baloknya, judul yang langsung terlintas di kepalaku adalah : His Eyes. Tapi aku tak mungkin menyerahkan judul itu ke Mr. Spark. Harga diriku tidak mengizinkannya. Maka, setelah berpikir keras selama beberapa jam, Hana's Eyes-lah yang kutetapkan menjadi judulnya. Lagu itu langsung terdengar di seantero JSA keesokan harinya, diputar silih berganti dengan Kanashimi no Yukue-ku selama jam istirahat berlangsung, setelah aku menyerahkan lagu itu ke Mr. Spark. Lagu yang sangat cocok dengan suasana hatiku selama lima bulan terakhir.
Lima bulan bukan waktu yang singkat, tapi lima bulan itu sama sekali tidak bisa membuatku menjawab semua pertanyaan yang bermunculan di benakku sejak hari itu. Oke, itu semua membuatku kesal, dan uring-uringan. Aku memang melampiaskannya dengan menciptakan banyak lagu sampai Mr. Spark sudah punya folder sendiri untuk lagu-laguku, tapi seperti kata beliau beberapa hari lalu, "Sasuke, tidak bisakah kau membuat lagu yang lebih ceria sedikit? Aku tahu kau agak emo, tapi nantinya orang-orang akan berpikir kalau kau adalah pianis patah hati, dimana lagu-lagunya hanya bisa dinikmati kalau kau sedang patah hati."
Aku nyaris mematahkan ujung pensilku. Aku sangat emosional akhir-akhir ini.
Dan bukan hanya ketidaksanggupanku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku sendiri yang membuatku kesal. Perlakuan Naruto padaku juga membuatku marah. Ia benar-benar menjaga jarak dariku setelah itu. Kami masih bercakap-cakap dan berkegiatan seperti biasa, seakan tidak terjadi apapun, tapi aku masih bisa merasakan kecanggungan yang sama yang dulu terjadi sebelum Itachi datang. Bahkan lebih parah kali ini. Naruto jadi jarang tersenyum, jarang membuat onar, tatapannya nyaris selalu kosong, dia dan biolanya sudah jadi seperti kembar siam, intinya Naruto dalam lima bulan terakhir ini bukanlah Naruto yang kukenal sebelumnya. Yang membuatku lebih frustasi adalah, aku sama sekali tak tahu apa yang ada di pikirannya!
Akan lebih mudah bagi kami, menurutku, kalau ia mau sedikit lebih terbuka. Menceritakan apa yang mengganggunya. Sikapnya akhir-akhir ini begitu aneh, seakan ia ingin pergi, tapi juga tak ingin. Dan itu membuatku lebih bingung. Aku jadi tak tahu harus bagaimana memperlakukannya. Bahasa dramatis untuk itu adalah, dia membuatku menderita. Dan itu jadi kesalahan kesembilannya.
Naruto menciptakan semacam tameng pelindung di sekelilingnya, khusus untukku. Dia benar-benar menjaga jarak. Bahkan hanya berada dalam radius lima meter di dekatku saja dia sudah seperti mau muntah. Aku ingin meninjunya, dan menghajarnya sampai mati tiap kali itu terjadi, tapi aku tak pernah melakukannya karena aku tahu aku tak benar-benar menginginkan itu. Yang kuinginkan adalah kecanggungan ini berakhir. Aku butuh penjelasan. Penjelasan apapun, tentang apa yang terjadi di otaknya, dan benakku.
Well I didn't mean for this to go as far as it did. Tapi kenyataannya ini sudah berjalan terlalu jauh. Aku hanya ingin mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya. Hanya itu.
~w~
Sasuke
Sasuke menutup jurnal hariannya dan memasang headset, mendengarkan lagu-lagu pop yang dulu sama sekali tak pernah diliriknya, melalui iPod-nya. Kebiasaannya juga banyak berubah. Ia merebahkan diri ke kasurnya ketika ponselnya berdering. Sambil menggerutu, ia melepas salah satu headset di telinganya, menggantikannya dengan ponselnya.
"Hn?"
"Kau sibuk, Sasuke?" suara Vincent, salah satu temannya sesama pianis. Orang yang, Sasuke baru tahu beberapa minggu lalu, kalau dia adalah gay tulen.
"Hn…" gumam Sasuke tak jelas.
"Bagus," tampaknya Vincent mengartikannya sebagai sesuatu yang positif. "Kau masih ingat Ducati hitamku? Yang baru kubeli bulan lalu?"
"Hn…"
"Aku berniat menjualnya." Vincent terkekeh pelan.
Sasuke mengangkat sebelah alis. Ia baru saja hendak menanyakan apa hubungannya hal itu dengan dirinya ketika Vincent melanjutkan, "Dan kau adalah orang pertama yang terlintas di benakku sebagai pembeli. Aku tahu kau sudah naksir motor itu sejak pertama kali kau melihatnya. Jadi kau mau kan?"
Sasuke tidak menjawab. Ia memang sudah naksir motor itu sejak pertama kali melihatnya, tapi sama sekali tak ada niatan untuk membelinya, walau Vincent menawarkan. Tapi suatu hal lain yang melintas di otaknya membuatnya berpikir kalau membeli motor itu sekarang adalah ide yang sangat cemerlang. Dan dalam lima detik, ia sudah menjawab, "Oke. Tapi untuk sementara waktu, aku menitipkan mobilku di tempatmu."
Sasuke tak bisa menahan diri untuk tidak menyeringai dengan pemikiran briliannya. Semoga rencananya kali ini sukses. Dan semoga dugaan Sasuke kalau ini adalah kesempatan yang bisa digunakannya untuk memperbaiki hubungannya dengan Naruto benar.
~w~
Esoknya, Sasuke mengambil motornya di tempat Vincent.
"Aku sudah mendapatkan Harley idamanku, jadi kurasa Ducati tak ada gunanya lagi bagiku," kata Vincent ketika menunjukkan Ducati-nya yang masih tanpa goresan di garasinya, diparkir tepat di sebelah Harley besar yang tampilannya sangat macho sehingga membuat Si Ducati tampak kecil dan payah, padahal Ducati itu amat sangat keren sebenarnya.
"Tapi aku tak menyangka kau akan setuju tanpa perlu bujukan," tambah Vincent, memandang Sasuke heran. Sasuke hanya meliriknya sekilas, membuat Vincent mengangkat bahu. "Yah, apapun rencanamu, itu bukan urusanku. Kau boleh bawa pulang Ducati-mu, dan mobilmu akan aman bersamaku, Tuan Pianis Nomer Satu di JSA."
Sasuke tidak berkomentar. Ia langsung menaiki Ducati-nya, tak sabar untuk membawanya pulang dan melihat apakah rencananya akan berjalan sesuai intuisinya. Tapi sebelum ia sempat meyalakan mesin motor itu, Vincent memotongnya, "By the way, kau kenal Charlotte?"
Pertanyaan itu membuat Sasuke memandang mata ungu Vincent, sembari ia berpikir siapa Charlotte yang Vincent maksud. Setelah beberapa saat, pikiran Sasuke melayang ke sosok seorang gadis berambut coklat lurus panjang yang cukup manis. Hanya satu hal yang benar-benar Sasuke ingat dari gadis itu, tatapannya tiap kali ia memandang Sasuke. Bukan, bukan tatapan mengerikan seperti yang didapatnya dari gadis-gadis kebanyakan sebelum ia menikahi Naruto, tapi tatapan yang… Sasuke pun tak bisa menggambarkannya dengan jelas. Caranya memandang Sasuke sama sekali tidak menakutkan, bahkan Sasuke belum pernah melihat tatapan jenis itu sebelumnya. Dan Charlotte adalah satu-satunya gadis di JSA yang tidak mengharapkan ia bercerai dengan Naruto atau semacamnya. Ia malah rutin menanyakan kabar hubungannya dengan Naruto, dan mendesis galak pada semua gadis yang berharap Sasuke segera berpisah dengan Naruto. Sasuke tak paham dengan kelakuan gadis itu. Tapi justru itu yang membuat Sasuke ingat namanya.
"Kurasa aku kenal," jawab Sasuke pada akhirnya.
Vincent tersenyum puas. "Bagus, ia mengadakan semacam pesta untuk merayakan ulang tahunnya besok malam. Dan dia memintaku untuk mengundangmu datang."
Sasuke mengangkat sebelah alisnya.
"Tapi aku tahu kau tidak suka hingar-bingar pesta," lanjut Vincent. "Jadi aku katakan padanya untuk tak usah terlalu berharap kau mau datang. Jadi kau tak ada beban, Sasuke." Vincent menepuk-nepuk pundak Sasuke. "Tapi ia mengatakan untuk mengajak Naruto juga kalau semisal kau mau datang."
Sasuke menyalakan mesin motornya. "Katakan padanya aku datang," katanya sebelum memacu motornya meninggalkan rumah Vincent.
~w~
Sasuke duduk tepekur di salah satu bangku di pojok kafetaria JSA sepanjang sisa siang itu. Ia memikirkan tiap detail rencananya, yang hanya berdasar intuisi itu, secara mendalam. Ia ingin semuanya berjalan baik. Ia sudah mendapatkan motornya, ia sudah memenuhi undangan Charlotte, dan langkah pertama untuk memperbaiki hubungannya dengan Naruto adalah : mengajaknya ke pesta Charlotte itu. Tujuan dari rencana samar Sasuke tidak banyak, hanya menghancurkan tameng yang dibangun Naruto dan mencairkan kebekuan di antara mereka berdua. Kalau tujuannya itu tercapai, Sasuke tidak berharap lebih. Ia sendiri belum yakin tentang sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya sejak lima bulan lalu, jadi kalau Naruto bisa bersikap biasa lagi padanya, dia sudah merasa sangat puas.
Tapi ternyata mengajak Naruto tidak semudah kelihatannya. Ia sudah melihat Naruto berkali-kali hari itu, sejak saat ia sudah kembali dari tempat Vincent setelah mengambil motor, tapi tameng yang Naruto buat tidak memudar sehingga Sasuke tidak bisa mendekat. Dan sesuatu yang terjadi di batin Sasuke juga tidak membantu. Ia terus menerus merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya tiap kali ia melihat Naruto dan berniat menyampaikan undangan Charlotte, dan sesuatu dalam dirinya itu alih-alih membuatnya menembus tameng Naruto, malah membuat seakan tamengnya jadi dobel. Dan itulah sebabnya Sasuke menyia-nyiakan kesempatan yang didapatnya hari ini.
'Apa susahnya mengajaknya ke pesta tak penting yang diadakan Charlotte? Kenapa lebih mudah bagiku untuk mengajaknya menikah dulu daripada memintanya pergi bersamaku ke pesta Charlotte?' gerutu Sasuke dalam hati. Ia mengaduk-aduk jus tomatnya dengan tenaga berlebih.
Dan saat itulah Sasuke melihat Naruto berjalan memasuki kafetaria bersama Inuzuka dan Nara. Sasuke langsung menghabiskan jus tomatnya dalam sekali teguk. Ia segera membulatkan tekad, dan berjalan menghampiri Naruto. Ia hanya ingin memperbaiki keadaan. Tidak lebih.
"Dobe," panggil Sasuke. Rasanya sudah bertahun-tahun ia tidak mengucapkan kata itu.
Naruto memandangnya. Tatapan dingin itu lagi. Tatapan kosong itu lagi.
"Bisa bicara sebentar?" dan tanpa menunggu jawaban, Sasuke sudah memberanikan diri, entah kenapa itu adalah suatu usaha yang membutuhkan tenaga besar darinya, untuk menarik Naruto menjauh dari Inuzuka dan Nara.
"Apa maumu?" gumam Naruto ketika sudah cukup jauh dari Inuzuka dan Nara. Pertahanan diri itu lagi.
"Aku tahu ini terdengar konyol," Sasuke memulai, mencoba mengabaikan Naruto yang melipat kedua tangannya di depan dada dengan gestur yang sangat mengintimidasi. 'Sial, seharusnya kau yang memasang sikap begitu, Sasuke. Bukannya dia. Tapi kau malah bersikap konyol sepertinya,' batin Sasuke jengkel. "Charlotte menginginkan kita datang ke semacam pesta untuk merayakan ulang tahunnya besok malam," kata Sasuke akhirnya. "Dan karena aku memutuskan untuk datang, maka kau juga harus datang… bersamaku." Sasuke berani bersumpah ini adalah kalimat penjelasan paling panjang dan paling menguras energi yang pernah diucapkannya di luar kelas.
Gestur Naruto mengendur. Ia memandang Sasuke, benar-benar memandang kali ini. Tampaknya kalimat Sasuke barusan telah membuat tamengnya retak. Tapi tameng yang retak belum cukup untuk membuat Naruto mengiyakan ajakan itu. Sasuke butuh satu dorongan lagi.
"Anggap saja aku sedang berusaha meminta maaf untuk kesalahanku," tambah Sasuke. "Jangan pura-pura tak peduli, Dobe. Aku tahu kau berusaha menghindariku selama lima bulan terakhir ini."
Kedua tangan Naruto yang semula terlipat di depan dada terjatuh ke sisi tubuhnya. Sasuke telah menciptakan retak besar pada tameng Naruto.
Sasuke berdecak. "Banyak sekali hal yang ingin kukatakan padamu sejak kita… yah, kita jarang berbicara satu sama lain." Sebenarnya bukan itu hal yang ingin Sasuke katakan. "Tapi mungkin kau berpikir tidak aman bagimu kalau aku membombardirmu ketika hanya ada kita berdua dan Kyuubi di rumah. Jadi aku memutuskan untuk bicara di pesta Charlotte itu saja." Sasuke menghela napas. "Ada sesuatu yang harus dibicarakan di sini, walau aku sendiri tak yakin apa itu. Tapi kuharap kau bisa membantuku."
Sasuke memandang Naruto, lega akhirnya dia bisa mengatakannya. Bagus untuk permulaan. "Kutunggu jawabanmu setelah kuliah sore ini," ucap Sasuke sembari berbalik dan melangkah pergi. "Aku hanya tak ingin tinggal serumah dengan orang yang menganggapku orang asing," tambah Sasuke tanpa memandang Naruto. Yang bisa dilakukan Sasuke sekarang hanya berharap semoga Naruto menyetujui ajakannya.
~w~
Sasuke benar-benar tak bisa berkonsentrasi pada kuliahnya selama sisa hari itu. Ia tak mengerti kenapa mendadak jawaban Naruto terasa begitu penting. Ia sama sekali tidak menyimak apa yang sedang Mr. Crane jelaskan di depan kelas, sesuatu yang berhubungan dengan tempo dan Sasuke yakin sudah pernah dibacanya di suatu tempat. Dan ketika bel tanda kuliah usai berbunyi, Sasuke langsung melesat keluar dari kelas, setengah berlari menuju ke kelas Naruto.
Dia tidak terlambat. Ketika ia sampai di ambang pintu kelas Naruto, sama sekali belum ada yang keluar, semuanya masih mengemasi barang-barang mereka, menunggu Mrs. Gaydar keluar lebih dulu. Sasuke menunggu dengan sabar, dan ketika akhirnya Naruto melangkah keluar, Sasuke tak bisa menahan diri untuk tidak menarik lengan Naruto ke arahnya, mengabaikan penolakan dari tubuh Naruto dan tatapan tak senang yang menyusul kemudian.
Sasuke buru-buru melepas pegangannya begitu mereka sudah berada di tempat parkir, tepat di sebelah Ducati Sasuke, dan jauh dari orang-orang. Dulu, menyentuh Naruto adalah suatu hal biasa, tapi semenjak lima bulan terakhir, Sasuke merasa ia akan mendapat dosa besar kalau melakukannya.
"Kau mau datang?" tanya Sasuke tanpa basa-basi.
Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Kurasa… ya."
Dan Sasuke harus menahan kakinya untuk tetap menempel di tanah karena dia nyaris saja melompat kegirangan. Apa yang terjadi dengan dirinya?
Sasuke berdehem. "Oke, kalau begitu kita pulang." Sasuke menyodorkan helm-nya pada Naruto, yang dibalas dengan tatapan penuh tanya.
"Buat apa pakai helm kalau kita naik mobil?" tanya Naruto, masih memandang helm yang disodorkan Sasuke dengan ekspresi heran.
Sasuke menyorongkan helmnya ke dada Naruto, memaksanya untuk menerimanya dan dia memakai helm-nya sendiri sambil menaiki Ducati-nya. "Aku memutuskan untuk menjual mobilku dan menggantinya dengan motor untuk meminimalisir traffic jam."
Naruto melongo ketika otaknya mulai bisa mencerna apa yang Sasuke katakan. Ia memandang Ducati Sasuke dengan mata birunya yang membulat, dan kemudian mengalihkannya ke Sasuke yang sudah menyalakan mesin motornya, siap pergi. Naruto benar-benar mengalami pergolakan batin yang amat sangat menyiksa saat itu. Tapi akhirnya Naruto memutuskan untuk mendudukkan diri di belakang Sasuke, keputusan yang sangat disesalinya ketika akhirnya Sasuke memacu motornya meninggalkan tempat parkir JSA. Ia menyesal karena keputusan itu membuatnya menyadari sesuatu yang selama ini ditolaknya.
~w~
July 22nd, 2010.
Dua dari spekulasi Sasuke berjalan lancar. Yang pertama, Naruto menerima ajakannya. Yang kedua, Naruto mempertipis tamengnya. Efek dari berkurangnya tameng yang Naruto kerahkan adalah, memudarnya tatapan frustasi yang selalu Naruto tujukan ke Sasuke setiap saat, begitu pula dengan gestur penuh intimidasinya. Yang kurang adalah, menghapus kecanggungan di antara mereka.
Sasuke menyenandungkan lagu pop yang didengarnya melalui iPod-nya. Tinggal beberapa jam lagi sebelum pesta Charlotte mulai, dan dia memutuskan untuk mengurung diri di kamar sementara Naruto bermain freesbe bersama Kyuubi di halaman. Sasuke berniat untuk datang telat ke pesta Charlotte itu, mungkin sejam sebelum pesta usai. Ia sedang sibuk memikirkan tentang apa saja yang perlu diklarifikasinya dengan Naruto malam ini, tapi kemudian dia mendengus. Kenapa hanya karena sebuah, oke tidak, dua ciuman yang dilakukannya hanya karena dorongan insting lima bulan lalu membuat keadaan jadi serba salah begini? Ia sebenarnya sudah berniat melupakan kejadian itu, tapi Naruto malah membuatnya selalu ingat dengan semua proteksi dirinya. Sikap anti-pati Naruto, tatapan-tatapan frustasi-nya, gestur intimidasinya, semuanya malah membuat ingatan itu melekat kuat di sel-sel otak Sasuke. Dan hal pertama yang akan ditanyakannya malam ini adalah, apa yang membuat Naruto bersikap seperti itu.
Seandainya saja Sasuke lebih peka.
~w~
Naruto melompat turun dari motor Sasuke begitu mereka tiba di depan rumah Charlotte yang penuh dengan hingar-bingar pesta khas remaja Amerika. Sasuke tersenyum tipis. Pilihannya untuk menitipkan mobilnya di tempat Vincent tepat. Setidaknya dengan naik motor, Naruto takkan bisa menamengi dirinya seperti yang biasa dilakukannya setiap kali dia naik mobil bersama Sasuke. Walaupun Sasuke masih bisa merasakan tubuh Naruto yang menegang tiap kali berada di boncengan, seakan mewaspadai semua gerak-gerik Sasuke.
Sasuke mendahului Naruto berjalan ke pintu depan rumah Charlotte, dan langsung membuka pintunya, mengecek seberapa ramai di dalam.
Tapi ia segera membeku begitu melihat apa yang terjadi di dalam. Naruto pun mematung di belakangnya.
Pesta itu sangat ramai. Charlotte mengundang cukup banyak orang. Tapi tak perlu seorang jenius untuk tahu jenis orang macam apa yang diundang Charlotte ke pestanya, yang bisa membuat Sasuke dan Naruto membeku di ambang pintu dengan gampangnya.
"Hai, Sasuke! Hai, Naruto!" sapa Charlotte yang mendadak muncul entah darimana. "Kalian satu-satunya pasangan yang sudah menikah di sini, jadi kuharap kalian bisa memberikan pengaruh baik kepada yang lain untuk berhenti bermain-main. Masuklah!"
Semua yang hadir dalam pesta Charlotte adalah pria, dan bahkan tanpa penanda apapun semua orang juga tahu kalau mereka… gay. Yep, Charlotte mengadakan pesta gay sebagai peringatan ulang tahunnya.
~w~
Dua menit dalam rumah Charlotte.
Sasuke dan Naruto merasa jengah. Suasana di sini benar-benar membuat bulu kuduk meremang. Sepasang cowok dimana-mana, sedang melakukan sesuatu yang bahkan Sasuke lihat pun enggan. Satu-satunya wanita di tempat itu hanya Charlotte. Sekarang Sasuke paham apa arti tatapan Charlotte padanya, gadis itu adalah pendukung kaum marginal seperti yang sedang berkumpul di pestanya ini.
"Teme…" Naruto menarik lengan jaket Sasuke, membuat Sasuke berjengit. "Kurasa aku mual. Ayo pergi dari sini."
Sasuke mengangguk dan mereka berdua menyelinap ke pintu keluar, sama sekali tidak berpamitan pada Charlotte yang asyik sendiri. Mereka berdua tidak berhenti berlari sampai mereka mencapai Ducati Sasuke. Dan tanpa dikomando, Sasuke langsung memacunya meninggalkan rumah Charlotte.
Seharusnya Sasuke sudah menduganya. Undangan yang disampaikan melalui Vincent… pesan untuk mengajak Naruto… Seharusnya ia sudah bisa menduganya sejak awal.
"Maaf tentang yang tadi," kata Sasuke, sedikit berteriak untuk mengalahkan deru angin. "Aku sama sekali tidak tahu kalau—"
"Lupakan," balas Naruto.
Dan Sasuke merasa aliran darahnya makin cepat ketika merasakan napas hangat Naruto menyapu tengkuknya. 'Sedekat itukah…'
~w~
Alih-alih kembali pulang ke apartemen mereka, Sasuke menghentikan Ducati-nya di sebuah taman berjarak kira-kira dua kilometer dari tempat Charlotte. Sama sekali tak ada orang di taman itu. Sasuke menoleh ke arah Naruto yang masih duduk di belakangnya. "Oke?" tanyanya, sangat ambigu. Tapi entah bagaimana Naruto tahu kalau yang dimaksud Sasuke adalah, "Apa tidak apa-apa bagimu kalau kita bicara di sini saja?" Dan Naruto memberikan anggukan singkat seraya turun dari motor sebagai jawaban.
Sasuke menghembuskan napas puas seraya melepas helm-nya. Ia merasa sangat perlu untuk memperlakukan Naruto dengan hati-hati akhir-akhir ini. Dia tak ingin salah langkah. Bisa-bisa semua rencananya gagal total dan Naruto tetap ingin pergi. Sasuke terhenyak selama beberapa detik. 'Bukankah seharusnya tak masalah bagiku kalau dia ingin pergi?' Sasuke meletakkan helm-nya di atas jok motornya dan menoleh ke arah Naruto, tapi Naruto yang semula masih berdiri di belakangnya sudah lenyap, pemuda itu sudah mendudukkan diri di sebuah ayunan kosong sambil menengadah menetap langit.
Sasuke hanya bisa memandang Naruto saat itu. Sama sekali tak berkedip.
Sampai Naruto menurunkan kepalanya dan mata birunya bertemu pandang dengan Sasuke. Sasuke segera mengalihkan pandang dan berjalan pelan ke arah Naruto dengan kedua tangan berada di saku celana jeans-nya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Naruto, langsung pada intinya begitu Sasuke sudah mendudukkan diri di ayunan kosong di sebelahnya.
Sasuke menoleh untuk memandang Naruto, dan merasa kalau hatinya mencelos ketika melihat Naruto sudah kembali menengadah ke langit. "Aku…" Sasuke mengarahkan pandangannya ke tanah berumput di bawahnya. "Aku hanya ingin tahu kenapa kau memberikan kesan seolah kau sedang menghindariku selama lima bulan terakhir. Sejak… kau tahu." Sasuke membiarkan kalimatnya menggantung.
Ia bisa mendengar Naruto menghela napas di sebelahnya. "Kenapa kau ingin tahu? Kurasa itu tak penting bagimu."
Sasuke kembali menoleh menatap Naruto, memandangnya dengan tatapan tajam, tak peduli pemuda itu masih belum memandangnya. "Kurasa aku yang bertanya di sini, Dobe. Jadi jawab saja dan jangan balik bertanya."
Naruto kembali menghela napas. "Entahlah."
Sasuke mengangkat sebelah alis. "Apanya yang 'entahlah'?"
Naruto mencibir, masih belum memandang Sasuke. "Entahlah, Teme. Aku juga tak tahu kenapa aku berusaha menghindarimu. Aku tak tahu jawabannya. Hanya saja instingku menyuruhku begitu."
Ini sama sekali bukan jawaban yang diinginkan Sasuke. Ia ingin penjelasan detail, bukan ketidaktahuan seperti ini. Tadinya ia berpikir kalau Naruto sudah menjawab satu pertanyaan sepele dari Sasuke barusan, masalah Sasuke juga akan selesai. Tapi ternyata dugaannya itu sia-sia. Naruto kembali menimbulkan pertanyaan baru. Ia sama tidak tahunya dengan Sasuke.
"Dan kau mempercayai instingmu begitu saja?"
"Kau ini cowok apa bukan?" cerca Naruto, tak bisa menyembunyikan nada sinis dalam suaranya. "Cowok hidup mengandalkan insting, Teme. Sebagai informasi kalau kau belum tahu."
Sasuke mendengus, mengangkat tangan kanannya untuk meninju bahu Naruto karena telah berani mengejeknya, tapi yang dilakukan tangan itu sama sekali bertolak belakang dengan niat Sasuke. Tangan kanan Sasuke malah mengacak rambut pirang Naruto pelan.
Sasuke terkesiap. Begitu pula Naruto. Ia cepat-cepat menyingkirkan tangannya dari kepala Naruto, memasukkannya ke dalam kantong jaketnya. Sasuke berdehem pelan.
Naruto menelengkan kepalanya, menatap kakinya yang diluruskan. "Hanya itu yang ingin kau tanyakan?" Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ini hanya perasaan Sasuke saja atau memang Naruto menjadi sedikit salah tingkah?
"Aku ingin tahu jawabanmu dengan jujur," Sasuke angkat bicara. "Apa yang kau rasakan ketika aku menciummu Februari lalu?" entah apa yang merasuki Sasuke hingga pertanyaan itu bisa mengalir dengan lancar. Sasuke merasakan jantungnya berhenti berdegup selama beberapa saat setelah kalimat itu terlontar dari mulutnya. Ia juga bisa merasakan tubuh Naruto menegang.
"Aku tidak merasakan apa-apa," jawab Naruto, terlalu cepat. Membuat Sasuke melupakan kegugupannya dan langsung menoleh ke arah Naruto. "Lalu kenapa kau menghindariku kalau kau tidak merasakan apapun?" todongnya.
"Sudah kubilang itu insting," jawab Naruto dengan nada mengeluh yang dibuat-buat. "Lagipula apa reaksi yang kau harapkan dari seorang cowok normal yang tiba-tiba kau cium di tengah hujan deras? Pernyataan cinta?" ejeknya.
Sasuke menyipitkan matanya. "Tapi kau sama sekali tidak menolak ciumanku, Naruto," sergah Sasuke, memanggil nama pemuda di sebelahnya dengan benar untuk pertama kalinya. "Itu sama sekali bukan reaksi yang kuharapkan dari seorang cowok normal yang kucium di tengah hujan."
Tepat sasaran.
Naruto yang semula menggerak-gerakkan ayunannya perlahan menghentikan gerakannya itu. Ia tampak membeku begitu mendengar kalimat Sasuke.
"Itu…" ia mencoba menyanggah. "Itu…" Tapi tak ada kalimat yang menyusul keluar kemudian.
"Well I didn't mean for this to go as far as it did," potong Sasuke. Sama sekali tak ingin memaksa Naruto menjelaskan. Ketaksanggupan Naruto sudah berarti banyak untuknya. "Aku hanya ingin kecanggungan kita berakhir. Bukan masalah besar kalau aku menciummu Februari lalu. Toh kita memang sudah menikah, aku berhak melakukan apapun."
Naruto memandang Sasuke dengan ekspresi horor begitu mendengar kalimat terakhirnya.
"Eh, maksudku bukan yang seperti itu. Jangan berpikir yang macam-macam," koreksi Sasuke cepat.
Naruto menghela napas, kembali menggerak-gerakkan ayunannya. Ia mulai rileks. Tapi Sasuke menyadari ada sedikit sorot sedih di matanya yang sama sekali tak Sasuke pahami.
"Kenapa?" tanya Sasuke spontan, bahkan tanpa berpikir.
Naruto menoleh ke arah Sasuke dengan tatapan penuh tanya.
"Kenapa ekspresimu selalu begitu akhir-akhir ini?" ulang Sasuke, menunjuk wajah Naruto. "Sedih, frustasi, marah, kesal, putus asa. Semuanya seakan terangkum menjadi satu. Kenapa?"
Mata biru Naruto membulat begitu mendengar detail dari pertanyaan Sasuke. "Kau bisa menerjemahkan ekspresiku sejauh itu, tapi sama sekali tak bisa menebak apa yang terjadi denganku?" Naruto menyuarakan pemikirannya.
Sasuke mengerutkan keningnya. "Tidak. Aku tidak bisa menebaknya. Apakah harus?"
Naruto kembali mencibir. "Aku tak bohong tentang perkataanku Februari lalu."
Sasuke merasa tertohok. "Bagian kau menyukai Ashley?"
"Bukan, Teme," kata Naruto. "Aku tidak menyukai gadis itu. Aku tak bohong tentang aku yang menganggapmu tak punya perasaan."
Sasuke mencegah dirinya sendiri untuk tidak ternganga di depan Naruto. "Oke," ucapnya. "Aku memang tidak punya perasaan. Terserah apa katamulah."
"Tapi ternyata kata-kataku salah," tambah Naruto kemudian. Ia tersenyum kecil, membuat Sasuke kembali ingat sensasi yang dirasakannya ketika beberapa saat lalu memandang Naruto yang sedang menengadah menatap langit. "Kau memang tidak peka, tapi kau cukup punya perasaan. Kalau kau tidak punya perasaan, kau pasti akan membiarkan kecanggungan kita terus berlangsung, dan kau juga tidak akan memperhatikan ekspresiku seperti tadi."
Sasuke merasa wajahnya memanas. Tidak cukup untuk menimbulkan rona di kulit pucatnya, tapi cukup untuk membuatnya mengalihkan pandang dari Naruto.
"Yah…" kata Naruto lagi. "Kurasa juga tak ada gunanya mendiamkanmu lebih lama dari ini. Hal itu juga membuat Kyuubi tak nyaman. Lagipula, kita berdua normal, kan?" tanyanya seraya terkekeh pelan.
Sasuke membiarkan otot-otot wajahnya mengendur dan menjawab, "Hn. Kita berdua normal."
~w~
Setelah pembicaraan mereka usai dan kebekuan mereka cair, Sasuke dan Naruto sama sekali tidak beranjak dari ayunan itu. Mereka masih di sana, membicarakan hal-hal kecil.
"Hey, Teme," ucap Naruto. "Kau masih ingat lagu yang kau nyanyikan sewaktu aku sekamar denganmu itu?"
Di luar dugaan, Sasuke sama sekali tak perlu bersusah payah untuk mengingat. Ia bahkan masih ingat detailnya. "Hn. Kenapa?"
"Apa judul lagunya?" tanya Naruto kemudian.
"Fly Me To The Moon. Versi aslinya dibawakan oleh Frank Sinatra."
Naruto mengangguk-angguk. "Aku suka lagu itu," komentarnya, tertawa pelan. "Dan aku juga sangat suka Kanashimi no Yukue-mu. Aku terus memainkannya dengan biolaku akhir-akhir ini."
"Aku juga terus memainkan Path To You All-mu akhir-akhir ini."
Fakta itu membuat mereka berdua saling bertukar pandang dan kemudian terbahak. Terbahak hanya untuk Naruto sebenarnya, Sasuke cuma mendengus geli.
"Ngomong-ngomong," kata Sasuke, seakan baru teringat sesuatu. "Dulu, waktu kita dalam perjalanan untuk charity concert di Swiss, beberapa hari sebelum pernikahan kita kurasa…" Sasuke berhenti sebentar untuk mengamati ekspresi Naruto, memastikan ia ingat kapan yang dimaksud. Setelah Naruto mengangguk, Sasuke kembali melanjutkan, "Aku sedang bermain piano di ruang rehearsal di Star Cruiser saat itu. Lalu tiba-tiba kau sudah berada di dalam ruangan, bertepuk tangan untuk Eroica-ku. Ingat?" tanya Sasuke. Naruto mengangguk lagi, cengiran lebar terlukis di wajahnya. "Yang aku ingin tahu adalah…" Sasuke memandang mata biru Naruto. "Bagaimana kau tahu pasti kalau aku yang sedang bermain di dalam ruangan itu kalau pintunya tertutup? Seingatku kau mengatakan kalau kau kebetulan lewat, kemudian mendengarku bermain lalu memutuskan untuk nonton. Jadi kau bisa mengenali permainanku hanya dengan mendengarnya? Padahal aku belum terlalu sering bermain di depanmu saat itu. Hal itu sudah membuatku penasaran selama berbulan-bulan."
Naruto mengerucutkan bibirnya dan berpikir sebelum menjawab, "Mungkin juga," gumamnya tak yakin. "Tapi seingatku saat itu, aku mendengar suara piano di koridor dan tiba-tiba saja perasaanku mengatakan kalau itu kau. Jadi aku memutuskan untuk masuk dan mengecek. Ternyata itu benar kau. Tapi entahlah," tambahnya. "Aku sudah pernah bilang kalau permainanmu memberikan rasa nyaman di sini, kan?" tanyanya sambil menunjuk dadanya, tempat jantungnya berada. "Dan perasaan nyaman itulah yang selalu kudapat tiap mendengarmu bermain. Perasaan nyaman yang tak bisa kudapat bahkan ketika aku mendengarkan permainan piano dari pianis manapun. Hanya darimu. Jadi kurasa aku pasti akan bisa menebak itu kau kapanpun kau bermain dan separah apapun permainanmu," jelasnya sambil tertawa geli. "Cukup aneh ya?"
Sasuke tak mengerti. Dia tiba-tiba merasa amat sangat bahagia begitu mendengar penjelasan Naruto barusan. Perasaan bahagia yang bahkan belum pernah dia alami seumur hidupnya. Secara refleks, sudut-sudut bibirnya terangkat ke atas dan dia mengangguk. "Sangat aneh," tanggapnya, sambil mengeluakan iPod-nya daru saku celana jeans-nya. Kebiasaan barunya untuk mendengarkan lagu-lagu pop yang sama sekali bukan alirannya muncul lagi.
Naruto mengangkat alis, mengamati Sasuke yang memasang earphone di telinganya. "Aku memperhatikan itu," celetuknya. "Kau tak pernah lepas dari iPod-mu akhir –akhir ini," intonasi Naruto sedikit berubah ketika mengucapakan 'akhir-akhir ini', membuat Sasuke tahu yang dimaksudnya adalah 'semenjak Februari lalu', "dan aku juga memperhatikan yang kau dengarkan bukan lagu klasik spesialisasimu karena kadang kau menyanyikan liriknya. Lagu klasik sama sekali tidak mempunyai lirik." Naruto menyipitkan mata birunya kali ini, masih mengamati Sasuke yang hanya tersenyum simpul sembari menyanyikan lirik lagu yang didengarnya dengan lirih. "Sebenarnya apa yang kau dengarkan?" tanya Naruto akhirnya, penasaran.
Sasuke tidak menjawab. Ia hanya melepas sebelah earphone-nya dan menyodorkannya ke Naruto. Naruto menerima itu dengan ekspresi agak heran dan memasangnya di telinganya untuk mendengar sendiri apa yang sebenarnya Sasuke dengar.
Sebuah nada lagu pop yang sangat catchy namun berkesan sedih di saat bersamaan, terdengar di telinga kiri Naruto. Sentuhan rap pada intro lagu membuat Naruto sedikit mengerutkan dahinya. Bukan berarti dia tak suka, dia suka semua jenis musik, bahkan jenis musik hard metal yang menurut sebagian orang tak layak dengar, tapi ia sama sekali tidak menyangka Sasuke bakal suka jenis musik RnB macam begini. Naruto mulai menikmati tiap alunan nadanya, yang pasti bakal terasa sangat manis bila ia memainkannya dengan biolanya. Begitu bagian rap selesai, Sasuke juga mulai menyanyikan bagian clear-nya, dan entah kenapa suara Sasuke terdengar lebih jelas di telinga Naruto daripada penyanyi aslinya.
Naruto menoleh ke arah Sasuke, ingin tahu bagaimana ekspresi Sasuke ketika sedang menyanyikan lagu itu. Ia sedikit terperangah ketika menyadari Sasuke tersenyum kecil. Sasuke masih terus mendendangkan lagu itu, dan kemudian, tiba-tiba Sasuke menoleh ke arahnya, membalas tatapannya, dan saat itu pula, lirik yang Sasuke nyanyikan adalah…
"I love you's the only beginning…"
Dan saat mereka pandangan mereka bertemu, Sasuke berhenti bernyanyi.
~w~
'Pernahkah kau merasakan waktu di sekitarmu seakan berhenti? Semuanya tiba-tiba menjadi sunyi senyap, tak ada suara yang terdengar, semuanya serasa tidak eksis. Hanya sepasang mata sebiru langit itulah yang eksis. Sepasang mata biru yang ada di hadapanku saat itu…'
~w~
Sasuke langsung melepas earphone di telinganya dengan gerakan yang sangat mendadak, membuat earphone di telinga Naruto ikut terlepas. Ia baru sadar kalau nafasnya sedikit memburu. Naruto juga langsung mengalihkan pandangannya ke arah langit di atasnya sama mendadaknya seperti Sasuke.
Sasuke merasa ada sesuatu yang menghantam jantungnya sangat keras beberapa saat lalu, tapi hantaman itu menghilang sama cepatnya dengan mulainya. Dan yang tersisa sekarang hanya jantungnya yang terus berdetak tak beraturan. Ia mematikan iPod-nya, dan mengantonginya.
Naruto bangkit berdiri. "Kurasa sudah cukup larut. Sebaiknya kita pulang. Kyuubi menunggu."
Sasuke menggumamkan 'hn'-nya seperti biasa, menyusul Naruto yang sudah berjalan lebih dulu ke arah Ducati Sasuke yang diparkir tak jauh dari tempat mereka duduk. Sasuke menyalakan mesin motornya dan menyuruh Naruto naik tanpa memandangnya, langsung memacu motornya menuju ke apartemen mereka.
~w~
Waktu serasa melayang di sekeliling Sasuke. Ia sama sekali tidak ingat perjalanan pulang. Tampaknya ada sesuatu yang telah di skip dari memori otaknya. Yang ia ingat hanya mereka tiba-tiba sudah sampai di depan pintu apartemen Sasuke di lantai tiga, Sasuke membuka kuncinya dan membiarkan Naruto masuk lebih dulu. Ia berjalan ke kamarnya sendiri setelah sebelumnya kembali mengunci pintu apartemennya, merasa seperti selongsong kosong. Benar-benar ada yang aneh pada dirinya.
Ia hendak masuk ke kamarnya ketika disadarinya Naruto menjulurkan separuh badannya keluar dari balik pintu kamarnya sendiri di seberang ruangan.
"Teme," panggilnya, membuat Sasuke menoleh. "Selamat ulang tahun," ucapnya disertai cengiran lebar, dan kemudian langsung menghilang ke dalam kamarnya.
Sasuke membeku. Mencerna tiga kata yang baru saja diucapkan Naruto dan melirik jam digital di atas perapian elektriknya. Pukul 00.01 am, tertanggal 23 Juli 2010.
Dan tiba-tiba saja Sasuke merasakan perasaan bahagia tak jelas yang baru saja dirasakannya di taman beberapa jam lalu.
~w~
Sasuke's journal, July 23rd, 2010. Dini hari.
Konyol sekali aku menulis jurnal dini hari begini. Tapi aku terserang insomnia akut. Mataku sama sekali tak mau terpejam. Yang terpikir di otakku saat ini hanyalah, menyebalkan sekali si Bodoh di kamar sebelah itu. Dia telah membuatku menderita selama berbulan-bulan, tapi bisa membuatku bahagia hanya dengan beberapa kata. Ya, dia sangat menyebalkan. Kesalahan kesembilannya ini teramat sangat menyebalkan.
/tbc/
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Saya benar-benar minta maaf untuk update yang keterlambatannya sangat tidak bisa ditolerir ini *deep bows*. Tapi kuliahku benar-benar menghambat kreativitas ==" tiap hari dibombardir laporan melulu. Kalau ingin saya kembali rajin update dan eksis di dunia fanfic, mohon doanya semoga saya bisa pindah di jurusan Komunikasi atau Sastra Jepang tahun depan. Kekekekeke X3
Dan saya juga merasa saya sudah kehilangan sentuhan ==" fic ini chemistry-nya lenyap begitu saja. Jadi saya mohon review yang membangun supaya saya tahu dimana letak kekurangan saya ^^
Fyi, adegan berbagi earphone itu terisnpirasi oleh anak pertamaku tercinta (?) Kim Jonghyun yang juga member SHINee *plak!* ^^ hehehe. Dia sering berbagi earphone kalau lagi kencan bareng pacar barunya, Shin Sekyung *malah curcol*. Dan lagu yang Sasuke dan Naruto dengarkan di adegan itu adalah lagu yang dinyanyikan oleh suamiku tercinta (?) Park Yoochun *PLAK!PLAK!PLAK!* ^^" Lagu itu judulnya 'I Love You', featuring Flowsik, track nomor 7 di album JYJ yang baru, The Beginning. *lengkap amat infonya* ^^"
Saya nggak janji bisa update chap selanjutnya dalam waktu dekat, tapi saya bisa meyakinkan teman-teman kalau fic ini sebentar lagi tamat. WKWKWKWKWK. *ketawa nista, digampar*
So, mind to review? ^^
ALWAYS KEEP THE FAITH.
"Falling in love is like falling asleep in class. You are really not planning to, but you did."
