Sebelumnya, terimakasih untuk yang sudah read or review chapter sebelumnya ^^

/Chapter 13/

Naruto

Sasuke, jenius dalam musik, seorang yang sangat perfeksionis, namun sama sekali tidak peka. Naruto tak mengerti bagaimana bisa dia dikaruniai kejeniusan dalam bermusik tanpa hati yang sensitif. Naruto tertawa geli, dan kemudian menyesalinya karena itu membuat dada kanannya terasa sakit. Ia menekankan telapak tangan kanannya ke dadanya, tempat dimana paru-parunya, sumber penyakitnya, terletak. Kali ini Naruto tersenyum geli karena sesuatu yang lain, menyadari bahwa dirinya sendiri lah yang menyebabkan ia terbaring lemah dengan penyakit yang nyaris tak bisa disembuhkan lagi ini.

Naruto memandang sebuah potret berbingkai putih yang diletakkan Sakura di meja kecil di samping tempat tidurnya beberapa bulan lalu, tepat ketika ia pertama kali menjalani rawat inap di rumah sakit. Potret dirinya dengan Sakura yang sedang tertawa bersama di hari pernikahan mereka. Naruto tersenyum memandang foto itu, tiba-tiba teringat kalau Sakura selalu menjulukinya 'kereta api'. Haha. Naruto telah menjadi seorang perokok berat selama sepuluh tahun terakhir. Sepuluh tahun…

Naruto tak perlu diingatkan dengan sentilan kecil di hatinya untuk menyadari apa arti 'sepuluh tahun' itu. Perpisahannya dengan Sasuke. Ya, sudah sepuluh tahun berlalu sejak itu.

Awan mendung masih menggantung di langit, menutupi warna birunya yang sebenarnya sangat Naruto sukai. Pria pirang itu menghela napasnya, mencoba meredakan rasa sakit yang masih tetap menusuk paru-parunya.

Mungkin memang bukan keputusan yang benar untuk menyuruh Sakura membaca buku harian itu sekarang, ketika ia sedang berada di ambang kematian seperti ini. Naruto mendengus geli, menurunkan tangannya dari dadanya dan menggenggam leher biola putih yang masih tergeletak di pangkuannya. Tapi Naruto tak bisa menundanya lebih lama. Bagaimanapun Sakura harus tahu. Ia tak ingin Sakura baru tahu berahun-tahun kemudian setelah kematiannya, dari orang yang salah mungkin, dan saat itu Sakura pasti akan sangat membencinya…

Naruto tersenyum getir. Dia sangat egois memang. Dulu ketika pertama kali buku harian itu datang padanya, ia menyuruh Sakura untuk tidak menyentuhnya sama sekali. Saat itu ia tak ingin kenangannya bersama Sasuke kembali. Kenangan yang pasti akan membangkitkan sesuatu yang lain dalam diri Naruto. Ia tak siap untuk menghadapinya lagi, ketika hidupnya sudah mulai teratur. Ia memikirkan perasaannya sendiri saat itu. Begitu pula sekarang. Ia hanya tak ingin Sakura membencinya.

Naruto menghela napas. Kalau sekarang Sakura membencinya, paling tidak Naruto masih bisa memberkan penjelasan dan wanita itu masih akan mendengarnya. Barulah setelah itu ia bisa pergi dengan tenang.

Naruto memainkan jari-jarinya di atas senar biolanya perlahan. Tanpa sadar ia sudah meletakkan biola itu di pundaknya, dan memainkan Kanashimi no Yukue. 'The memories are by our side, forever and ever.'

~w~

Sasuke's journal, October 8th, 2010

Tak ada yang salah di mataku sejak Juli. Bahkan cuaca buruk musim gugur juga tidak mengangguku. Aku bahkan sudah nyaris melupakan mobilku yang masih menginap di tempat Vincent. Aku tidak berniat untuk dekat-dekat dengan orang itu, atau Charlotte, sampai beberapa tahun ke depan. Toh Naruto tidak keberatan dengan motorku. Malah kadang ia yang mengendarainya untuk jalan-jalan sementara Kyuubi berlarian di sampingnya. Ide gila, mana ada majikan yang senang melihat anjingnya kecapekan berlari mengikuti Ducati? Tapi ternyata Kyuubi lebih gila dari majikannya karena anjing itu menyukainya.

Hah. Aku sudah menghabiskan beberapa baris jurnalku untuk menulis hal tak penting tentang Naruto dan Kyuubi.

Tunggu.

Aku menyadari sesuatu.

Rupanya aku sudah menghabiskan berhalaman-halaman jurnalku hanya untuk menulis tentang Si Pirang Bodoh itu. Hahaha. Sangat menggelikan. Tidak heran kalau mungkin pada suatu hari nanti, ada yang memungut jurnalku ini di jalanan, iseng membacanya, dan mungkin akan menuangkannya dalam bentuk cerita. Siapa tahu kisah hidupku bisa jadi novel laris, atau paling tidak, sebuah fanfiction (aku tahu tulisan jenis itu sedang populer sekarang ini) yang dibaca banyak orang. Dan kali ini aku memang akan menulis tentang dirinya lagi.

Tidak, jangan salah sangka dulu, aku tidak akan menulis tentang kesalahan kesepuluhnya. Kesalahannya yang paling parah dan mengubah hidupku selamanya. Aku akan menyimpan itu untuk nanti. Kali ini aku sudah benar-benar yakin akan kesalahan terbesarnya dalam hidupku itu, dan aku tinggal menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya.

Aku tadi sedang menulis tentang tak ada yang salah di mataku sejak bulan Juli. Dan aku benar. Tapi aku tahu ada sesuatu yang salah pada bagian lain di tubuhku sejak Juli, salah satu alasan kenapa kesalahan terakhir Naruto itu masuk dalam kategori : unforgiveable.

~w~

Sasuke

Naruto merengut, membuat bibirnya sedikit lebih maju beberapa milimeter. Sasuke hanya meliriknya sekilas dari atas koran yang sedang dibacanya. Ada artikel menarik tentang satu-satunya keturunan keluarga Uchiha, keluarga terkaya se-Asia, yang baru saja melangsungkan pernikahan mewah di London dengan seorang model sekaligus penyanyi cantik dan populer dari Negeri Ginseng. Sasuke tak bisa menahan senyum geli tiap membaca kalimat-kalimat dalam artikel itu. Setahu Sasuke, Sang Mempelai Wanita lebih tua beberapa tahun dari mempelai prianya.

"Teme~"

Sasuke mengabaikan panggilan itu.

"Teme," Naruto memanggil lagi, disertai dengan melempar rubik yang baru saja Sasuke selesaikan beberapa menit lalu ke arahnya, membuat korannya melesak dan Sasuke terpaksa benar-benar menatap Naruto kali ini.

"Hn?" sahutnya malas.

"Kau berjanji akan membantuku menyelesaikan laguku minggu lalu. Tapi kau sama sekali tidak menepatinya. Kau malah sibuk membaca tentang pernikahan kakakmu," gerutu Naruto sebal. "Jangan-jangan istri kakakmu itu adalah mantan pacarmu dulu."

Sasuke melipat korannya dengan sabar, menahan dengus tawa yang sudah nyaris keluar mendengar gerutuan Naruto. "Sebagai koreksi, dia mantan kakakku, Dobe," tanggap Sasuke, meletakkan korannya di atas meja, Kyuubi langsung menggigitnya dan membawanya ke dapur. Lenyap sudah harapan Sasuke untuk menyelesaikan membaca malam ini. "Dan istri Itachi sama sekali tidak ada hubuangannya denganku. Komentarmu itu memberiku kesan kau sedang cemburu, suamiku," goda Sasuke kejam, bahkan tanpa kilat mata jahil atau ekspresi geli.

Perkataanya barusan berhadiah lemparan bola bisbol yang nyaris mengenai pelipisnya kalau Sasuke terlambat menghindar.

Naruto tersenyum sinis. "Aku tidak pernah cemburu dengan teman wanitamu, suamiku," balas Naruto. "Tapi kau benar-benar akan tahu apa yang bakal terjadi padamu kalau kau tidak membantuku menyelesaikan laguku. Sekarang." Naruto memberikan penekanan mengancam pada kata terakhirnya.

Sasuke meraih remote televisi dan menekan tombol power. "Ayolah, kau tak pernah kesulitan menyelesaikan lagu apapun sebelumnya. Bahkan tanpa bantuanku sekalipun. Dan kali ini apa yang membuatmu menjadi sebaliknya?"

Naruto meniup poni pirangnya, seraya menjatuhkan dirinya ke punggung sofa dan mendongak menatap eternit, membiarkan jawline-nya terekspos oleh mata hitam Sasuke. Sasuke sudah terbiasa merasakan denyar di dasar perutnya sekarang sehingga ia tak terlalu bereaksi.

"Entahlah…" keluhnya, terdengar jelas dia sedang frustasi. "Ada sesuatu yang menghambat. Aku benar-benar tak paham. Dan karena kau jenius, kau pasti bisa membantuku." Naruto menegakkan kembali posisi tubuhnya, cengiran lebar sudah menghiasi wajah kecoklatannya. Tapi cengiran itu langsung lenyap dan digantikan oleh tatapan penuh selidik. "Kenapa sih kau melulu menatapku seperti itu? Aku sudah memergokimu menatapku dengan ekspresi seperti itu," ia menunjuk wajah Sasuke yang langsung mengalihkan pandang, "berkali-kali selama berbulan-bulan ini. Mencurigakan tahu."

Sasuke berdehem. 'Siapa yang tidak peka kali ini eh?'

"Baiklah, baiklah, aku menyerah. Mainkan dulu lagumu, sejauh yang kau buat," kata Sasuke, mencoba mengalihkan perhatian Naruto.

Naruto kembali nyengir senang dan meraih biolanya yang rupanya sudah disiapkannya di balik sofa, langsung menggeseknya.

Sasuke menghela napas. Sebenarnya ia memang sangat ingin membantu Naruto menyelesaikan lagunya, tapi ia terus menundanya karena hasilnya pasti akan jadi seperti ini. Sasuke tak bisa memandang Naruto dengan cara yang sama sejak Juli lalu, dan itu bertambah parah kala dia sedang memainkan biola putihnya yang sangat kontras dengan kulit tan-nya itu. Sasuke selalu menderita 'Gangguan Pemusatan Perhatian dan Konsentrasi' tiap kali ia menonton Naruto bermain biola. Bukan hanya di rumah saat mereka berdua seperti ini, tapi juga di kampus, di kafetaria saat Naruto iseng bermain untuk menghibur kelompoknya, di taman di bawah pohon maple favoritnya saat ia sedang bermain untuk menghibur dirinya sendiri, di kamarnya saar Naruto sedang mencoba mengaransemen sebuah lagu, dan masih banyak momen-momen lainnya. Sasuke pasti tak bisa fokus dengan nada yang mengalun keluar dari biolanya. Walaupun ia tahu benar kalau nada-nada itu pasti sangat indah sekali. Tapi saat ini ada sesuatu yang lain yang sanggup menarik perhatiannya, sesuatu yang lebih—

"Kau mendengarkan tidak sih?"

Pertanyaan Naruto yang dilontarkan dengan nada sinis menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Sudah dua kali dalam lima belas menit Naruto memergokinya.

"Hn," gumam Sasuke.

Naruto memutar bola matanya. "Sudahlah, tampaknya kau tidak terlalu excited untuk membantuku. Aku akan menyelesaikannya sendiri saja." Naruto bangkit berdiri dari sofanya dan hendak melangkah pergi, tapi Sasuke mencekal tangannya, membuat Naruto membeku di tempat, begitu pula Sasuke.

Sasuke buru-buru melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Naruto, menyadari ia nyaris saja membuat gunung api, yang sudah selama berbulan-bulan ini bersemayam di dadanya, meletus. "Oke, aku akan fokus kali ini."

Naruto mencibir, tapi toh dia duduk juga dan kembali mengulang lagunya yang seharusnya sudah Sasuke denga daritadi kalau dia tidak sibuk sendiri dengan pikirannya.

Sasuke memilih untuk tidak memandang Naruto sementara ia bermain kali ini, melainkan terfokus pada bantal sofa di sisi kanan Naruto. Berhasil. Ia bisa mendengar nada-nada yang keluar dari biola Naruto dengan jernih, tanpa bayang-bayang pikirannya.

Naruto baru saja hendak mencapai chorus ketika ia tiba-tiba berhenti. Mata birunya membuka dan menatap Sasuke penuh harap.

Sasuke balas menatap Naruto, menyipitkan matanya. "Kutebak kau memberi judul lagu ini 'Half Moon'?" tanya Sasuke.

Mata biru Naruto melebar. "Bagaimana kau tahu?"

Sasuke mendengus dengan gaya meremehkan. "Gampang ditebak," jawab Sasuke seraya berjalan ke arah grand piano-nya di belakang Naruto. Ia membuka penutupnya dan mulai melemaskan jari-jarinya. "Aku mulai menerapkan cara pikir konyolmu yang kau gunakan untuk memberiku judul 'Kanashimi no Yukue'. Itu lumayan berhasil."

Naruto mengetuk-ngetuk dagunya dengan penggesek biola. "Tapi kan seharusnya kumpulan kata yang muncul di benak tiap orang bisa berbeda-beda untuk sebuah lagu…" ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Sasuke hanya tersenyum dalam hati.

"Oke," Sasuke mencoba mengembalikan percakapan ke topik awal. "Aku akan coba mengiringimu. Aku hanya bermain mengirimu. Ingat itu. Kau sendiri yang harus menemukan nada yang pas untuk lagumu. Yang kulakukan cuma membuka jalan untukmu."

Naruto mengangguk, ekspresinya memancarkan tekad kuat. Ia sampai bangkit dari sofa-nya dan berdiri menghadap Sasuke.

Sasuke membiarkan Naruto memulai nadanya, ia mengikuti setelah nada kelima, dan membiarkan dirinya dituntun oleh alunan biola Naruto sepenuhnya. Sasuke hanya mengiringi.

Sesekali Sasuke mengerling Naruto dari sudut matanya, dan menyadari kalau Naruto lebih rileks. Tiba-tiba saja Sasuke ingat Naruto pernah mengatakan kalau permainan pianonya membuatnya merasa nyaman, dan Sasuke tanpa sadar menyunggingkan seulas senyum.

Mereka telah melewati bagian pre-chorus tempat Naruto terhenti. Sasuke sudah siap untuk menghentikan permainannya dan menyemprot Naruto karena berhenti mendadak, tapi persiapannya sia-sia. Naruto sama sekali tidak berhenti. Ia terus melanjutkan permainannya, membuat Sasuke tetap mengiringinya dengan ekspresi heran dan kagum.

Tampaknya rileksnya Naruto berbuah baik. Mereka telah melewati bagian chorus sekarang, setiap saat Naruto akan beralih ke coda, dan benar saja. Naruto memainkan anti-klimaks yang sangat indah, dan dengan satu rangkaian nada yang membuat Sasuke terpukau, Naruto mengakhiri lagunya.

Mata birunya berbinar saat terarah ke Sasuke. "Itu tadi sangat membantu! Aku akan segera menuliskannya di partitur! Sudah kuduga kau pasti bisa membantuku!" ucapnya penuh semangat dan langsung melesat ke kamarnya. Sasuke, yang masih terkagum-kagum, bangkit berdiri dengan perlahan dan mengikuti Naruto ke kamarnya. Tapi ia tidak masuk, hanya bersandar di ambang pintu, mengamati Naruto yang sedang tekan menulis di atas buku paritur.

Dan Sasuke menyadari sesuatu. "Memangnya kau ingat semua nadanya?"

"Hn," gumam Naruto, menirukan Sasuke dengan amat sangat payah. "Kan barusan aku yang memainkannya. Masa aku langsung lupa?"

Sasuke mengerjap. Naruto baru memainkan nadanya sekali, dan dia langsung bisa menyalinnya di buku partitur, bahkan tanpa bantuan Sasuke untuk mengingatnya. Tampaknya JSA punya jenius lain yang belum disadarinya.

~w~

Sasuke menekuni buku partitur milik Naruto sore itu, ketika Sang Pemilik sedang sibuk bermain lempar-tongkat-kayu bersama Kyuubi dan dia duduk di rerumputan di halaman depan apartemennya. Sasuke mengerutkan dahinya di beberapa lagu, menyadari pilihan nada Naruto yang tidak biasa di bagian-bagian tertentu. Dan hanya satu kata yang melintas di otak Sasuke setelah membaca keseluruhan buku partitur Naruto; orange.

Ia sendiri tak tahu kenapa kata itu yang terlintas mengingat itu adalah warna favorit Naruto. Tapi kesan yang diberikan setiap lagu Si Pirang itu memang orange.

Sasuke menutup buku partitur itu dan mengamati Naruto yang sedang tertawa-tawa bersama Kyuubi, merasakan denyar familiar di dasar perutnya itu lagi. Ia tahu bahwa dulu sekali, bahkan sebelum mengenal Naruto, ia pernah merasakan feeling itu. Bedanya, perasaan itu dulu ia rasakan tiap kali ia memandang Yamanaka Ino.

Sasuke mengaitkan kesepuluh jarinya sementara dia duduk bersila, mencoba mengabaikan denyar itu, dan menyadari sesuatu; ia tak pernah melepas cincin pernikahannya dengan Naruto semenjak kunjungan Itachi tahun lalu.

~w~

Sasuke's journal, October 9th, 2010.

Entah kenapa tiba-tiba pemikiran ini melintas di benakku; sudah satu tahun lebih sepuluh bulan masa pernikahanku dengan Naruto. Menurut kontrak awal, aku akan mengajukan surat cerai padanya dalam waktu kira-kira empat bulan lagi. Atau mungkin bisa kurang dari itu.

Dan ketika pikiran itu mulai merasukiku, aku merasa kalau semua yang kurasakan selama bulan-bulan terakhir ini hanya mimpi yang takkan pernah terwujud.

~w~

Sasuke

Naruto sedang tidur-tidur ayam di sofa panjang dengan Kyuubi berada di pangkuannya sementara Sasuke sibuk menonton TV di sofa di sebelahnya. Sebenarnya Sasuke tidak benar-benar menonton TV, ia terus mengganti-ganti channel-nya, merasa tak puas dengan semua acara yang ditayangkan karena tak bisa membuatnya mengalihkan perhatiannya dari suara napas Naruto yang teratur dan dadanya yang bergerak turun naik. Sasuke mengutuk dirinya sendiri.

Tiba-tiba ponselnya berdering, membuat Kyuubi melompat turun dari pangkuan Naruto secara mendadak dan langsung berlari ke dapur. Anjing itu sedikit paranoid dengan dering ponsel. Sasuke meraih ponselnya yan tergeletak di atas meja dan menjawabnya sementara Naruto menatapnya dengan ekspresi bertanya.

"Hn?" sahut Sasuke seperti biasa.

"Sasuke, kau seharusnya lebih sopan pada dosenmu, paling tidak dengan menyimpan nomorku sehingga kau tidak terus-menerus menjawabku dengan gumaman tak jelas seperti itu."

Sasuke terkesiap begitu menyadari siapa lawan bicaranya. "Maaf, Mr. Spark."

Terdengar suara Mr. Spark terkekeh. "Kumaafkan mengingat kau muridku yang paling prestisius. Aku ada kabar bagus untukmu."

"Ya, Sir?"

Mr. Spark tertawa senang sebelum menjawab, "Seorang pianis, sekaligus komponis dan penyanyi terkenal dari Korea Selatan, Park Yoo Hwan, baru saja mengunjungiku beberapa saat lalu. Dan ia melihat-lihat folderku yang berisi kumpulan dari laguku. Dan coba tebak?"

Sasuke memilih untuk tetap diam, tahu Mr. Spark pasti akan langsung menjawab pertanyaannya sendiri.

"Tepat sekali! Ia tertarik dengan lagu-lagu gubahanmu dan memutuskan untuk merekrutmu ke dalam orkesnya. Dia menganggapmu sangat berbakat."

Sasuke membelalak. Kali ini dia benar-benar tak tahu harus berkomentar apa.

Mr. Spark tertawa lagi. "Aku sudah memberinya alamatmu dan nomor ponselmu. Mungkin dia akan menghubungimu sesegera mungkin. Dia sangat tertarik padamu."

Sasuke mencoba menyusun kata-kata selama beberapa saat. "Saya tak tahu harus dengan cara bagaimana mengucapkan terimakasih, Sir."

"Tak perlu, Sasuke. Toh aku tidak melakukan apa-apa. Kabari aku begitu dia menghubungimu. Sudah saatnya kau meninggalkan JSA dan berkarya untuk dunia luar, kid. Aku memutuskan untuk meluluskanmu begitu kau direkrut. Aku sudah bosan melihatmu terus-menerus di kelasku. Hahaha."

Sasuke benar-benar kehabisan kata-kata. "Terimakasih, Sir." Hanya itu yang bisa Sasuke katakan sebelum Mr. Spark memutuskan sambungan.

"Apa katanya?" tuntut Naruto begitu Sasuke kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Ia tentu saja sudah mendengar siapa lawan bicara Sasuke dan tampaknya dari ekspresi Sasuke, sebenarnya hanya dari sorot mata Sasuke, Naruto tahu kalau Mr. Spark memberitahukan hal besar.

"Park Yoo Hwan, kau tahu dia?" Sasuke balik bertanya.

Naruto berpikir selama lima detik sebelum menjawab, "Pemilik Cassiopeia Orchestra itu bukan? Yang terkenal itu?"

Sasuke mengangguk. "Dia mungkin akan merekrutku ke dalam tim-nya."

Mulut Naruto terbuka membentuk huruf o sebelum kemudian dia meninju udara keras-keras, "Luar biasa!" seru Naruto, bangkit berdiri dan mulai melompat-lompat di sofa sambil terbahak. "That's awesome, Teme! Park Yoo Hwan!"

Sasuke hanya menggeleng geli melihat tingkah laku Naruto yang sama sekali tidak sesuai dengan umurnya sekarang.

"Ayolah, Teme! Kau harusnya lebih ekspresif dari sekarang! Kau akan direkrut salah satu orkestra paling terkenal di seluruh dunia! Kau tak bisa terus-terusan memasang tampang stoic begitu!" Naruto masih tertawa geli, kali ini menertawakan ekspresi Sasuke yang benar-benar datar.

"Berhenti melompat, Dobe. Sofanya bisa ambruk," Sasuke memperingatkan, setengah bercanda, tapi nada geli dalam suaranya hilang seketika ketika tiba-tiba Naruto menghilang ke balik sofa disusul dengan suara 'bruk!' keras yang membuat Sasuke langsung bangkit berdiri dan berseru, "Naruto!" dengan nada cemas yang tak bisa disembunyikannya.

Ia bergegas ke balik sofa, mendapati Naruto jatuh dengan posisi tak elit di lantai berkarpet sambil memegangi pantatnya. Si Pirang itu meringis kesakitan. "Sial…" keluhnya.

Sasuke tertawa pelan sekilas.

Ringisan di wajah Naruto lenyap, digantikan senyum lebar. "Kau harus sering-sering tertawa begitu, Teme," ucapnya dari lantai.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya dan kembali memasang wajah stoic. Sasuke tidak mengomentari ucapan Naruto. Ia hanya mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Naruto bangkit. Naruto menyambut tangan Sasuke dan sudah setengah berdiri ketika Kyuubi memutuskan ini adalah waktu yang tepat baginya untuk andil.

Anjing yang sama sekali tak bisa dibilang kecil itu berlari ke arah Naruto, tepat menubruk dadanya seraya menggonggong-gonggong riang, rupanya ia masih berpikir kalau adegan yang sekarang ini adalah salah satu bagian dari euforia Naruto beberapa saat lalu.

Naruto yang kaget karena diterjang Kyuubi secara mendadak begitu kehilangan keseimbangannya. Dan Kyuubi ternyata lebih cerdik dari kelihatannya. Ia langsung melangkah mundur begitu tahu tuannya ambruk, yang tentu saja sambil menarik Sasuke ikut ambruk bersamanya.

Bruk!

Kali kedua pantat Naruto menghantam lantai berkarpet.

Kali pertama bagi Sasuke merasakan detak jantung Naruto di dadanya. Dan entah kenapa saat itu lagu yang terputar di playlist otaknya hanyalah, 'I love you's the only beginning…'

Tanpa dikomando, Naruto langsung mendorong tubuh Sasuke menjauh darinya sementara ia bangkit berdiri. Naruto langsung memberikan glare yang amat sangat mengancam ke arah anjing kesayangannya, membuat Kyuubi mendengking memelas dan bersembunyi di belakang tubuh Sasuke, yang kali ini memberinya tatapan lembut penuh kasih.

Sasuke berjanji akan memperlakukan Kyuubi lebih baik sejak saat itu. Ia hanya memiliki empat bulan.

~w~

Sakura

Sakura terbangun ketika merasakan sinar matahari yang hangat menyapu wajahnya. Ia mengerjap-erjapkan matanya selama beberapa saat sampai ia terbiasa dengan cahaya yang menyorotnya, dan kemuadian menyadari kalau ternyata semalam ia jatuh tertidur di sofa ketika sedang membaca jurnal Sasuke.

Sakura melemaskan otot-ototnya tubuhnya yang terasa pegal karena posisi tidur tak nyamannya dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ia akan datang mengunjungi Naruto setelah makan siang, setelah ia menyelesaikan jurnal Sasuke.

Ia menyalakan keran di wastafel porselennya, membilas wajahnya tiga kali dan menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Sudah lama Sakura tidak mengamati bayangannya sendiri di cermin. Ia tak ada waktu untuk itu. Pikirannya terlalu dipenuhi dengan Naruto yang sedang terbaring lemah di rumah sakit, siap pergi kapan saja. Dan baru sekarang ia menyadari kalau telah muncul lingkaran hitam di bawah matanya. Kulitnya juga tampak pucat karena terlalu stres.

Sakura menghela napas. Ia tak boleh muncul di hadapan Naruto dengan tampang seperti itu. Ia berjalan keluar dari kamar mandi, memutuskan untuk melakukan sedikit terapi untuk wajahnya. Ia ingin pikiran dan tubuhnya tetap sibuk sehingga tak ada tempat untuk Sasuke dan jurnalnya. Setidaknya ia ingin menundanya selama beberapa saat, sebelum ia sanggup membaca lembar-lembar terakhir dari jurnal itu.

/tbc/

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Songs list : Half Moon, a song by Shim Changmin. Track number 18 in The 3rd Asia Tour Concert Mirotic Live Album

Dan benar, Park Yoo Hwan yang saya cantumkan di sini itu adalah nama adik semata wayangnya suami saya tercinta, Park Yoochun u_u maafkan saya karena sama sekali tidak kreatif. *digampar*

Di luar dugaan, saya bisa menyelesaikan chap ini dengan cukup cepat! XD hehehe. Saya selalu menjadi sangat bersemangat kalau sudah mau tamat X3 kekekeke.

Nyaris tidak terjadi apa-apa di chap ini u_u gomenasai, minna… chap ini benar-benar chap yang akan saya gunakan sebagai jembatan untuk chap berikutnya. Jadi maaf kalau ceritanya sama sekali monoton. *deep bows*

Ada masukan? ^^

ALWAYS KEEP THE FAITH.