A chapter before the end of the story.

/Chapter 14/

October 9th, 2010

Masih di hari yang sama, dengan mood Sasuke yang benar-benar berbeda. Baru beberapa jam lalu ia menerima telepon dari Mr. Spark kalau dia mungkin akan direkrut oleh komponis ternama, baru beberapa jam lalu dia merasakan euforia yang teramat sangat besar bahwa cita-citanya seumur hidup mungkin akan terwujud hanya dalam hitungan minggu; dia akan merintis karir di dunia profesional.

Dan sekarang dia harus terbangun dengan kenyataan; cita-citanya mungkin akan terwujud sebentar lagi, tapi hasratnya akan kandas begitu saja, bahkan sebelum ia mulai berusaha untuk memenuhinya.

Dan karena itulah sekarang Sasuke memainkan grand piano-nya yang ada di ruang tengah seperti kesetanan, mencoba untuk tidak mengasihani, atau bahkan mengutuk dirinya sendiri. Sementara Naruto yang tentu saja tidak memahami apa yang sedang bergejolak di dada Sasuke, membaca majalah dengan tenang di sofa dalam ruangan yang sama, menganggap Sasuke, yang bahkan tidak memberi jeda untuk permainannnya barang semenit pun itu, sedang terlalu bersemangat untuk latihan karena dirinya bakal segera terjun ke dunia pro.

Sasuke baru saja menyelesaikan Hana's Eyes, dan langsung memasuki intro lagu lain.

"Apa judul lagu yang ini?" celetuk Naruto tiba-tiba. Ia mendongak dari majalah yang sedang dibacanya, menatap Sasuke.

Sasuke yang bahkan tidak berhenti bermain saat jam makan malam, membiarkan Naruto makan malam sendiri bersama Kyuubi, langsung menghentikan tarian jari-jari pucatnya di atas tuts-tuts piano. Ia tidak membalas tatapan Naruto. "Like Now," jawab Sasuke singkat.

"Hm…" Naruto mengangguk-angguk, sama sekali tidak memberikan komentar lain, kembali menunduk menatap majalahnya.

Sasuke menghela napas, melanjutkan lagunya yang terputus. Ia tak mengerti kenapa ia bisa sefrustasi ini. Ia menganggap dirinya akan baik-baik saja Januari tahun lalu, ketika ia meminta Naruto untuk menikahinya. Ia merasa semuanya akan berjalan lancar sesuai dengan rencananya yang tampak matang. Keluarganya membuangnya, ia bisa menekuni hidupnya sebagai pianis dengan tenang, dan setelah semuanya beres, Sasuke akan berpisah dengan Naruto. Farewell. Sederhana. Tapi pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada sesuatu yang lebih kompleks yang bahkan tak bisa Sasuke jelaskan dengan kemampuan otaknya yang di atas rata-rata.

Yang Sasuke paham, ia hanya ingin tetap seperti sekarang ini.

Seperti sekarang, ketika ia bermain piano di ruang tengahnya di apartemennya di New York.

Seperti sekarang, ketika ia mulai menyadari kalau ia bisa memandang dunia dengan sudut pandang yang lebih baik ketika bersamanya.

Seperti sekarang, ketika ia bersama Naruto.

Secara refleks, Sasuke mendongakkan kepalanya untuk menatap Naruto ketika pikiran tentang pemuda pirang itu melintas di benaknya. Dan saat itulah Sasuke melihat kalau Naruto sama sekali tidak membaca majalahnya. Ia hanya menunduk memandang lembar yang terbuka di atas pahanya, dengan sorot mata yang membuat Sasuke menghentikan gerakkan jemarinya.

Naruto yang tidak protes karena Sasuke berhenti bermain menandakan kalau ia terlalu sibuk dengan pikirannya.

"Dobe," panggil Sasuke. Yang dipanggil tidak menyahut, masih tetap menunduk. "Dobe," panggil Sasuke sekali lagi dengan volume yang lebih keras. Naruto langsung menoleh ke arahnya dengan cepat dan nyengir lebar, menghapus ekspresi ganjil di wajahnya beberapa saat lalu.

"Ya?" tanyanya dengan nada riang.

Sasuke meneliti ekspresi Naruto selama beberapa saat. 'Apa yang tadi dipikirkannya?'

"Teme?" panggil Naruto kali ini, merasa sedang dikerjai Sasuke karena pemuda emo itu sama sekali tidak menjelaskan kenapa tadi dia memanggilnya.

"Nope," jawab Sasuke dan menggeleng pelan. Naruto memandang Sasuke heran. Tidak biasanya Sasuke membuang-buang kata seperti itu. Sasuke selalu bicara seperlunya.

Sasuke kembali menekan tuts-tuts pianonya, memainkan lagu yang baru ia selesaikan kemarin, If I Could Stop The Time. Seperti keinginan Sasuke sekarang ini. Seandainya kata-kata itu bukan sekadar judul. Seandainya Sasuke benar-benar bisa menghentikan waktu.

"Boleh aku mengakui sesuatu?" ucap Naruto ketika Sasuke mengakhiri If I Could Stop The Time. Rupanya pemuda pirang itu terus mengamati Sasuke sepanjang lagu.

Sasuke langsung mendongak cepat ke arah Naruto, disertai dengan jantungnya yang terasa berdetak berkali-kali lebih cepat. 'Apa yang ingin diakuinya? Oh, ayolah, Sasuke, kau tidak bisa berharap banyak…'

"Hn," tanggap Sasuke, mencoba menenangkan dirinya. Ia menurunkan kedua tangannya dari atas tuts karena takut tergelincir, jari-jarinya gemetar lumayan hebat saat ini, menanti dengan tegang kalimat apa yang akan terlontar dari mulut Naruto.

"Aku tahu ini terdengar konyol," Naruto memulai. "Kita… yah… kita akan berpisah dalam beberapa bulan." Sasuke mencelos. Ternyata bukan hanya dia yang memikirkan tentang itu. Naruto mengangkat bahu dan tertawa getir. "Aku tahu aku sudah membuatmu sangat sebal, aku takkan heran kalau kau ternyata punya catatan tersendiri tentang seberapa besar kau membenciku."

'Oh ya, aku memang punya catatan tersendiri untuk itu.'

"Tapi…" ia melanjutkan, "aku cuma ingin mengakui kalau…" Naruto tampak ragu sesaat, "kalau aku tak ingin kau melupakan ini semua."

Sasuke terkesiap. Naruto juga tampaknya menyesali kalimat terakhirnya.

"Oke, aku tahu aku terdengar amat konyol," aku Naruto, terselip nada putus asa dalam kalimat barusan. "Tapi… yah… aku cuma ingin mengakui itu. Kalau semisal kau—"

"I promise not to forget," potong Sasuke, membuat Naruto membelalakkan mata birunya. Sasuke tersenyum kecil pada Naruto, tak terlalu berharap kalau Naruto menyadari ia sedang tersenyum padanya. Tapi ternyata Naruto juga tersenyum, kemudian terkekeh pelan.

Naruto baru saja meminta Sasuke untuk tidak melupakannya. Oke, konteks kalimatnya memang lain, tapi itulah yang Sasuke tangkap. Naruto tidak ingin ia melupakan dua tahun terakhir bersamanya, Naruto tidak ingin ia melupakannya.

Sasuke memandang jemarinya yang tergeletak di atas pahanya, dan menyadari kalau telapak tangannya berkeringat. Ia mendengus geli karena kegugupannya yang tak penting. Sasuke melirik jam digital di atas perapian elektriknya. Pukul 00.01 dini hari. Tanggal 10 Oktober.

Sasuke segera mengalihkan pandangannya ke Naruto yang masih terkekeh-kekeh sendiri, geli dengan pengakuan yang menurutnya konyol barusan, sambil kembali membaca majalahnya dengan sorot mata yang jauh berbeda dengan sorot matanya beberapa saat lalu.

"Dobe," panggil Sasuke lagi. Ia sudah meletakkan kesepuluh jarinya di atas tuts piano.

Naruto mendongak dengan tatapan bertanya.

"Happy birthday." Itu adalah kali pertama dalam hidup Sasuke untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada seseorang. Ia biasanya tidak mempedulikan hal-hal remeh semacam itu.

Naruto menelengkan kepalanya, tampak sedikit bingung sebelum akhirnya dia memandang jam digital di atas perapian dan tertawa. "Aku masih ingat aku mengucapkan selamat ulang tahun untukmu Juli lalu di waktu yang sama," ucapnya di sela-sela tawanya. "Kebetulan yang menarik," tambahnya. "Trims, Teme."

Sasuke mengangguk, menggerak-gerakkan jarinya di atas tuts. "Dan aku juga punya sesuatu untukmu," kata Sasuke lagi. Ia menekan tuts piano-nya dengan perasaan yang sangat berbeda dari beberapa saat lalu, kembali memainkan sebuah lagu hasil aransemennya yang memang sudah cukup lama ia selesaikan, namun sama sekali belum diberinya judul.

Ia sesekali melempar pandang ke arah Naruto di sela-sela permainannya, sementara Naruto duduk diam di sofa, mengamatinya dengan serius dan senyum penuh kekaguman. Atmosfer dalam lagunya yang ini, menurutnya, sangat aneh. Ceria, sekaligus sedikit melankolis di saat bersamaan. Ia belum pernah membuat lagu dengan atmosfer tidak jelas seperti itu sebelumnya.

Sasuke tersenyum kecil ketika melihat sorot mata Naruto yang tampak berbinar di beberapa bagian lagu yang menurutnya sangat indah. Dan ketika Sasuke selesai, Naruto bangkit dari sofa dan bertepuk riuh.

"Aku belum pernah dengar lagumu yang itu sebelumnya!" ucapnya bersemangat.

Sasuke menutup grand piano-nya. "Yang itu tadi hadiah ulang tahunmu," tanggapnya seraya bangkit berdiri dari duduknya juga.

Tepukan Naruto berhenti dan ia sedikit melongo. "Untukku? Wow…" gumamnya, merasa tersanjung. "Apa judulnya?" tanyanya dengan senyum lebar.

Sasuke berpikir selama beberapa detik, dan menjawab, "Orange and Blue." Ya. Itu judul yang sangat cocok untuk lagu itu.

Naruto memandang Sasuke. "Bukannya orange itu warna favoritku dan biru juga sepertinya adalah warna yang menjadi ciri khasmu walau kau mungkin tidak terlalu menyukainya?" tanya Naruto, sedikit heran dengan judul yang dipilih Sasuke.

Sasuke hanya memandang Naruto dengan sedikit senyum di wajahnya ketika Naruto menanyakan itu. Ia berjalan ke arah kamarnya, namun sebelumnya ia berhenti di hadapan Naruto. "Karena itulah aku memutuskan itu judul yang tepat untuk lagu tadi, Dobe. Orange and Blue," jawab Sasuke absurd, mengacak rambut pirang Naruto sekilas sebelum menghilang ke balik pintu kamarnya.

Naruto hanya terbahak mendengar penjelasan Sasuke.

~w~

Sasuke's journal, January 2nd, 2011.

Ketika kau sangat mengharapkan datangnya sesuatu yang sangat kau idam-idamkan, tampaknya waktu berjalan seribu kali lebih lambat daripada biasanya. Tapi sebaliknya, ketika kau takut akan datangnya sesuatu, dan berharap waktu akan melambat agar kau bisa menunda datangnya sesuatu itu, maka waktu justru akan berjalan seribu kali lebih cepat dari biasanya.

Itulah yang sedang terjadi padaku. Tampaknya baru kemarin aku memainkan Orange and Blue di hadapan Naruto, tapi ternyata Oktober sudah berlalu dengan cepat. Aku menerima undangan dari Cassiopeia Orchestra pada pertengahan November, dan sudah resmi menjadi anggotanya sehari setelah Natal. Mr. Spark juga memberitahu jadwal wisudaku akan berlangsung pada bulan Januari, yang berarti akan berlangsung dalam waktu dekat ini.

Tapi semua itu hanya terlihat seperti hal-hal sepele di mataku sekarang. Beberapa hari lalu, ketika aku memberitahu Naruto aku akan diwisuda bulan ini, Naruto bersorak dan memberiku ucapan selamat dengan hebohnya, lalu mengatakan, "Mungkin hari wisudamu adalah waktu yang tepat untuk itu."

Aku tak perlu bertanya lebih jelas apa maksudnya. Ia menginginkan hari wisudaku sebagai sebagai hari perceraian kami juga. Dan saat itu aku bahkan tak punya kata-kata untuk membuatnya tetap tinggal seperti dulu, ketika aku menciumnya di bawah hujan. Maka aku hanya bisa mengangguk, menatap senyum lebarnya, mengamati sedikit kesedihan di mata birunya.

Aku tak bisa terus menerus membohongi diriku sendiri seperti ini. Aku tahu apa yang kurasakan, dan aku juga tahu apa yang Naruto rasakan. Tak perlu ungkapan verbal. Tapi kami tak bisa merealisasikannya. Tak akan pernah bisa.

Sejak Oktober itu, semuanya tak pernah sama bagi aku dan dia. Aku sudah kehilangan kekuatan untuk terus menutupi apa yang kurasakan tiap kali memandangnya, tepat di hari ketika ia memintaku untuk tidak melupakan saat-saat bersamanya. Aku sudah tidak bisa menutupinya lagi.

Aku benar-benar berharap semuanya tidak berjalan sejauh ini. Aku tak menyangka aku akan menciptakan suatu kondisi dimana aku sangat tidak ingin membiarkannya pergi.

Banyak hal terjadi sejak Oktober itu. Kyuubi sudah tidak berlarian di apartemen kami (betapa aku sudah meleburkan egoku ke dalam kata 'kami') lagi sejak Natal. Naruto memutuskan untuk memberikan anjing kesayangannya itu kepada Inuzuka yang mendapat beasiswa penuh untuk memperdalam studinya di sekolah khusus perfilman Australia. Dan sejak tak ada lagi Kyuubi, Naruto mulai mengepak barang-barangnya.

"Aku akan pindah ke Korea Selatan begitu proses wisudaku selesai," kataku saat itu, mengamati Naruto yang memasukkan koleksi komiknya ke dalam sebuah kardus. Aku menolak mengatakan 'proses perceraian kita'. "Kau tak perlu berkemas. Kau bisa memakai apartemen ini selama kau mau."

Naruto mengabaikan tawaranku, ia hanya nyengir lebar dan menyahut, "Aku tak bisa."

Saat itu egoku menahanku untuk mengatakan, "Kau harus tetap tinggal di sini, Dobe. Jadi aku akan selalu bisa menemuimu kalau aku kembali dari Korea." Aku tahu Naruto ingin benar-benar berpisah dariku. Ia memutuskan untuk pindah juga karena tak ingin bertemu denganku lagi.

Mungkin sebaiknya memang aku membatalkan perceraian ini saja. Toh kalau kami tidak bercerai, segalanya mungkin akan lebih baik. Aku tak perlu kehilangan dia. Tapi sekali lagi, egoku menahanku. Aku terikat ucapanku dua tahun lalu, perjanjianku dengannya, yang dulu tampak sangat mudah untuk ditepati. Aku tak bisa memintanya tetap tinggal untuk yang kedua kali.

Tidak bercerai mungkin akan membuat segalanya lebih baik. Tapi perceraian adalah yang terbaik. Aku tak tahu apa perasaanku ini akan bertahan selamanya. Bagaimanapun perasaan bisa berubah kan? Aku tak ingin ketika aku tetap mempertahankan pernikahan ini, lalu perasaanku memudar, dan kami harus berpisah dengan cara yang jauh dari kata damai. Aku tak ingin itu terjadi. Maka tak ada cara lain.

~w~

Sakura

Sakura menghapus air matanya yang menetes, berusaha menghentikan tangisnya. Tapi semakin ia mencoba untuk berhenti, air matanya malah mengalir makin deras. Sakura tertawa pahit. Ia tak menyangka akhir dari jurnal itu malah akan membuatnya menangis. Ia masih ingat di awal ketika ia membaca jurnal ini, ia merasa sangat marah dan sakit hati.

Sakura berusaha menahan isaknya, dan memasukkan jurnal Sasuke yang sudah selesai dibacanya ke dalam tas, bersiap untuk mengunjungi Naruto di rumah sakit. Ada beberapa hal yang ingin ditanyakannya.

~w~

Sakura membuka pintu kamar rawat Naruto, mendapati suaminya sedang duduk bersandar pada ranjangnya yang bagian kepalanya sedikit ditegakkan. Naruto tersenyum menyambutnya ketika ia masuk, kelihatan begitu rapuh, membuat Sakura nyaris tak bisa menahan air matanya untuk tidak mengalir keluar lagi. Alih-alih terisak, Sakura membalas senyum Naruto dan langsung mendudukkan diri di samping suaminya. Naruto menggenggam tangan Sakura begitu ia duduk, dan Sakura balas menggenggam tangan kurus itu.

"Kau sudah selesai membacanya?" tanya Naruto.

Sakura mengangguk. Air matanya kembali muncul di permukaan, teringat apa yang tertulis di akhir jurnal Sasuke.

"Aku bertaruh pasti banyak hal yang ingin kau tanyakan padaku sejak kemarin," kata Naruto, mencoba bergurau. Sakura hanya tertawa pelan, masih tak tega melihat kondisi pria yang sangat dicintainya itu. "Kalau begitu tanyakanlah," lanjut Naruto, "dan aku akan menjawab."

Sakura menggigit bibir bawahnya dan menatap mata biru Naruto yang tampak lebih damai dari biasanya. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Naruto, ragu selama beberapa detik sebelum akhirnya menanyakan apa yang menganggu pikirannya sejak pertama kali membaca jurnal Sasuke, "Dimana Sasuke sekarang?"

Naruto tersenyum, ia mengelus punggung tangan Sakura dengan ibu jarinya dengan gerakan melingkar, kebiasaannya sejak lama. "Aku tak tahu, Sakura. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi padanya atau dimana dia sekarang sejak ia berbalik pergi dariku di taman itu pada bulan Januari, sepuluh tahun yang lalu."

"Tapi dia harusnya menjadi pianis terkenal kan?"

Naruto mengangguk. "Tapi kami sama-sama tahu kami tak ingin saling berhubungan lagi sejak saat itu. Jadi dia mengganti nama panggungnya, memastikan tak ada satu orang pun yang tahu identitas aslinya. Aku tak tahu ia mengganti namanya jadi siapa."

"Kau tidak punya dugaan siapa dia?"

Naruto tersenyum dan menggeleng. "Aku tak ingin tahu, Sakura. Itu sebabnya kita tidak tinggal di New York, atau Asia. Itu sebabnya aku memilih untuk menetap di Irlandia, bersamamu. Aku ingin melupakannya."

'Aku ingin melupakannya.' Sakura mengulang kalimat terakhir Naruto dalam hati. Suaminya benar-benar mencintai Sasuke.

"Tapi dia tahu dimana kau tinggal… dia mengirimkan jurnalnya padamu."

Naruto tertawa, pelan dan lemah. "Mencari tahu keberadaanku bukan suatu hal yang sulit. Aku masih tetap kontak dengan Kiba sampai sekarang. Dan Sasuke mengenal Kiba, dia bisa bertanya padanya. Atau arsip JSA. Dia bisa mencari tahu lewat mana saja. Bukan sesuatu yang sulit." Naruto menghela napas. "Aku juga bisa melakukannya kalau aku mau. Tapi ketidaktahuan kadang merupakan yang terbaik." Naruto menatap mata hijau Sakura, tatapan penuh kasih yang terpeta jelas dalam ingatan Sakura, "Lagipula, aku bersamamu sekarang."

"Dia tidak pernah mencoba untuk menemuimu." Itu bukan pertanyaan, lebih merupakan tuduhan. Dan Naruto menyadari nada bicara Sakura itu.

"Kami hanya tak ingin menguak masa lalu. Kami sama-sama punya kehidupan masing-masing. Mungkin kemunculan salah satu dari kami hanya akan merusak apa yang sudah tertata dengan baik."

Sakura menghela napas. "Apa kau masih mencintainya?"

Butuh waktu lama bagi Naruto untuk menjawab pertanyaan yang satu itu. Tapi Sakura lega Naruto tidak langsung menarik tangannya, yang masih menggenggam tangan Sakura, begitu ia menanyakan hal itu. Naruto menghembuskan napas berat sebelum menjawab, "Once you love someone, you'll always love them no matter what."

Sakura sudah bisa menduga jawaban itu, tapi ia tetap merasakan pisau besar menyayat hatinya.

Naruto mengelus pipi Sakura dengan tangannya yang bebas sebelum melanjutkan, "Tapi aku juga mencintaimu. Kau tahu itu. Dia hanya masa laluku. Satu bab dari buku kehidupanku. Dan aku senang kau menjadi bab terakhir dari buku kehidupanku yang sebentar lagi akan selesai," ucap Naruto, memaksakan seulas senyum.

Sakura terkejut mendengar ucapan Naruto. Ia menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Kau akan sembuh. Aku memang bab terakhir, tapi buku kehidupanmu takkan selesai dalam waktu dekat. Kau akan tetap ada di sampingku."

Naruto hanya tersenyum getir. Tidak menanggapi perkataan istrinya. "Ada lagi yang ingin kau tanyakan, Sakura?"

Sakura menghela napas lagi, menahan airmatanya. "Pada Februari 2010… ketika kalian…" Sakura membiarkan kalimatnya mengambang. Naruto hanya mengangguk, memberi isyarat pada Sakura untuk tidak usah melanjutkan sisa kalimat itu dan langsung meneruskan ke kalimat berikutnya, tahu Sakura tak sanggup. "Yah… waktu itu kau berkata kau ingin pergi darinya. Aku membaca semua itu dari sudut pandang Sasuke, aku tak tahu apa kau pikirkan saat itu. Apa kau benar-benar ingin pergi?"

"Ya, aku benar-benar ingin pergi," jawab Naruto tegas, bahkan tanpa memikirkannya lebih dulu. Membuat Sakura sedikit terperangah. Naruto tersenyum geli. "Setelah membaca berhalaman-halaman jurnal itu, kau pasti menarik kesimpulan kalau cowok brengsek satu itu tidak peka sama sekali," candanya. "Sebenarnya aku sudah menyadari kalau aku memiliki perasaan lain terhadapnya jauh sebelum itu. Aku sudah menyadari apa yang bergolak di dadaku tiap aku memandang mata hitamnya itu sejak dia datang padaku ketika aku habis dihajar segerombolan berandal. Aku sudah tahu dengan jelas apa yang kurasakan, dan makin jelas ketika ia dengan telaten mengobati luka-lukaku. Bahkan mungkin Kyuubi sudah menyadarinya sebelum aku," tambahnya, ia tertawa pelan karena gurauannya sendiri, "jadi saat itu aku benar-benar ingin pergi. Aku benar-benar frustasi saat itu. Dia tak tahu tentu saja, aku selalu menunjukkan sikap hiperaktif yang dibencinya setiap aku berada di hadapannya. Aku frustasi karena aku berada begitu dekat dengan orang yang kusukai namun tak bisa mengatakan aku menyukainya. Saat itu aku berpikir kalau dia pasti tidak akan memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi ciumannya…" Naruto terhenti sesaat, menyadari Sakura berjengit ketika Naruto menyebutkan kata 'ciuman', "yah… apa yang dilakukannya untuk membungkamku nyaris mengubah pikiranku. Aku nyaris sepenuhnya yakin kalau mungkin dia juga merasakan hal yang sama terhadapku. Aku nyaris percaya.

Tapi kemudian keraguan kembali menyergapku. Karena itulah aku menanyakan padanya kenapa dia melakukan itu padaku. Tapi ia sama sekali tidak bisa menjelaskan. Ia malah menyerangku lagi." Naruto tertawa pahit. "Dia benar-benar brengsek. Kemudian aku bersikeras untuk tetap pergi. Ciumannya yang kedua kali entah kenapa malah meyakinkanku untuk pergi saja sebelum aku tenggelam terlalu dalam. Mungkin saja saat itu hanya emosi sesaatnya. Aku tak berani ambil resiko untuk tetap tinggal, dan tersiksa dengan apa yang kurasakan. Aku bisa gila.

Tapi ternyata ia malah mempertahanku. Dan aku tak bisa terus bersikeras karena aku tahu jauh di lubuk hatiku yang terdalam bahwa aku juga ingin tetap bersamanya." Naruto mengakhiri penjelasannya.

Sakura terdiam selama beberapa saat. "Jadi itu sebabnya kau bersikap dingin padanya selama berbulan-bulan setelah itu?"

Naruto mengiyakan. "Dan usahanya untuk mencairkan kebekuan di antara kami benar-benar berhasil. Caranya menatapku malam itu…" Naruto tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia mengalihkan pandangannya dari mata hijau Sakura.

Sakura menarik napas dalam-dalam. Rahasia yang Naruto sembunyikan darinya selama bertahun-tahun benar-benar membuatnya terguncang. Masa lalu suaminya sangat jauh dari apa yang ada di bayangannya selama ini.

"Kalian tahu kalau kalian saling mencintai, tapi kalian tetap memilih untuk kehilangan. Apa kalian bodoh?" gurau Sakura, tertawa getir. Naruto tersenyum simpul. "Kau tahu dialah orang bodohnya, Sakura. Aku sudah memberinya kesempatan untuk tidak pergi saat itu, tapi ia mengabaikannya." Naruto kembali menatap mata Sakura. "Dan itu juga adalah hal baik, karena kalau kami tidak berpisah saat itu, aku takkan pernah mengenalmu."

Sakura tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum mendengar kalimat terakhir Naruto. Naruto mengangkat tangannya dan mengelus rambut Sakura dengan lembut. "Mungkin aku akan sangat merindukanmu juga di sana."

Sakura menatap tajam suaminya, mengabaikan ambiguitas dalam perkataan Naruto barusan. Kalimat itu mengandung makna bahwa selain merindukan Sakura, Naruto pasti akan sangat merindukan orang lain, yang Sakura tahu siapa itu secara pasti. "Kau tidak akan pergi. Aku mencintaimu. Kau harus tetap tinggal."

Naruto tertawa. "Kadang kekeraskepalaanmu mengingatkanku pada Sasuke Teme."

Sakura tersenyum geli mendengar panggilan Naruto untuk Sasuke. Kecemburuannya sudah menguap entah kemana. Ia mulai merasa bersimpati pada suaminya dan Sasuke, yang dengan lapang dada rela melepas cinta mereka begitu saja. Bahkan tanpa air mata.

"Apa kau sama sekali tidak ingin bertemu Sasuke?"

"Hm…" Naruto menimbang-nimbang jawabannya sebelum akhirnya memutuskan untuk berkata, "Tentunya aku sangat ingin bertemu dengannya lagi. Tapi aku ragu dia masih mengingatku. Kami sudah kehilangan kontak lebih dari sepuluh tahun. Dan dia mengirim jurnal itu empat tahun yang lalu. Itu sudah lama sekali."

"Kau sendiri yang bilang daya ingat Sasuke kuat, Naruto."

Naruto hanya tersenyum untuk membalas pernyataan Sakura.

"Kenapa kau tidak langsung membaca jurnalnya sewaktu pertama kali sampai?"

Naruto sudah menduga Sakura akan menanyakan hal ini. "Saat itu aku hanya berpikir kalau kau juga harus tahu tentang itu. Jadi aku menunggu, sampai aku benar-benar siap untuk menyerahkan jurnal itu padamu. Maaf kalau ternyata aku baru siap sekarang."

Sakura menggeleng, menolak permintaan maaf Naruto. "Ah, dan Sasuke menyelipkan ini di balik sampul belakang jurnalnya. Kupikir ini pasti untukmu." Sakura menyodorkan kertas yang sudah menguning termakan usia ke arah suaminya. Kertas itu terlipat rapi, khas Sasuke. Naruto menerimanya dan membuka lipatannya. Itu adalah sebuah halaman dari buku partitur. Terisi not-not balok yang tersusun rapi, yang Naruto kenali sebagai tulisan tangan Sasuke. Di atas partitur itu, di bagian yang kosong, tertulis 'After Kiss, Goodbye'. Naruto mengamati rangkaian nada-nadanya dan ia merasa ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya. Membuat pelupuk matanya juga terasa panas dan berair.

Tanpa Naruto sadari, Sakura sudah bangkit dari sisi tempat tidurnya untuk mengambil biola putih kesayangan Naruto. Ia menyerahkan biola beserta penggeseknya itu kepada suaminya. "Kau tahu aku buta nada. Di jurnal memang tertulis Sasuke itu jenius dalam musik, tapi aku takkan percaya sampai aku mendengar sendiri lagu buatannya. Kalau tidak keberatan aku ingin mendengarnya."

Naruto tertawa, tawanya sedikit bergetar. Ia mengambil biolanya dan memosisikannya di bahunya sementara partiturnya ia letakkan di pangkuannya. Ia menatap Sakura. "Kalau kau tidak keberatan, aku ingin kau duduk di sisi lain tempat tidurku yang dekat dengan jendela agar kau bisa mendengarkan lagu ini sambil menikmati pemandangan di luar sana. Dublin tampak indah sekali hari ini."

Sakura tersenyum dan menuruti permintaan suaminya. Ia mendudukkan diri di dekat jendela dan memandang keluar. Naruto benar. Dublin tampak luar biasa indah hari ini. Matahari yang sedang tenggelam tampak di horizon, memberikan pencahayaan sempurna bagi Dublin. Telinga Sakura menangkap nada pertama dari biola Naruto. Ia menoleh ke arah suaminya yang sedang memainkan lagu Sasuke dengan penuh penghayatan. Sakura sudah sering mendengar permainan biola suaminya, tapi ia merasa kalau ini adalah permainannya yang paling menakjubkan. Sasuke pasti memang membuat lagu itu untuk Naruto. Orang lain takkan bisa memainkannya sebagus itu.

Sakura kembali melayangkan senyum ke arah suaminya ketika Naruto mengerlingnya. Naruto membalas senyum itu. Sakura mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dan ia menyadari kalau suasana di luar, dimana matahari nyaris terbenam dan segerombolan burung dara yang lepas landas ke arah cakrawala, mirip dengan suasana di hari perpisahan Sasuke dan Naruto. Itukah sebabnya Naruto memintanya untuk menikmati pemandangan sore ini?

Brak.

Terdengar sesuatu yang keras menghantam lantai. Sakura langsung menoleh ke arah suaminya, menyadari bahwa biola yang disandangnya sudah jatuh di lantai marmer rumah sakit dan patah, sementara kedua tangan Naruto terkulai lemas di sisi tubuhnya. Kedua matanya terpejam. Langit biru itu telah tertutup. Selamanya.

Sakura takkan pernah mendengar akhir dari lagu itu.

~w~

Air mata Sakura sudah kering. Ia sudah menangis selama berhari-hari, menghabiskan seluruh persedian air matanya. Saat ini ia hanya bisa berdiri diam di samping nisan suaminya. Namikaze Naruto. Sahabatnya. Keluarganya. Cintanya.

Ia tak ingat sudah berapa lama berdiri di situ, mengabaikan angin musim gugur yang amat dingin. Para pelayat sudah pergi sejak lama. Hanya Sakura yang tersisa. Ia mematung di situ, tak mengucapkan apapun, tak menangis, tak mengatakan apapun.

/tbc/

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Songs list : Hana's Eyes (by Maksim). Like Now (as known as Jigeumcheorom by DBSK). If I Could Stop The Time (as known as Toki Wo Tomete by Tohoshinki). Orange and Blue (judul asli : Summer Shade, Kanon Air Piano Arrange Album Re-Feel). After Kiss, Goodbye (as known as Kiss Shita Mama Sayonara by Tohoshinki)

Oke. Chapter depan tamat. ^^ hehehe. Akhirnya saya memasukkan lagu yang saya jadikan judul fic ini.

Mind to review? ^^

ALWAYS KEEP THE FAITH.