This is the last one. Thanks for all readers and reviewers yang sudah setia membaca fic ini, dan memberikan saran-saran yang bagus ^^ thank you so much!
/Chapter 15/
January 11th, 2011
Sasuke turun dari panggung wisudanya setelah memberikan pidato singkat tanpa senyum dan menerima ijazah kelulusannya. Ia menghindari euforia anak-anak lain yang juga diwisuda hari itu, ia yang termuda di antara mereka tentu saja, dan mencari Naruto di antara kerumunan. Sasuke memandang berkeliling dan melepas topi yang menghalangi pandangannya. Ia tak menemukan sosok yang dicari-carinya dalam ruangan.
Ia bergegas keluar sembari melepas toga yang dikenakannya karena membuatnya susah bergerak cepat, tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang karena ia dengan percaya diri melepas toga di tengah jalan. Ia masih tak menemukan Naruto di sekitar situ. Maka ia berlari ke tempat parkir dimana ia memarkir mobilnya, berharap Naruto sedang menunggu di sana. Tapi ternyata tak ada siapapun di sana. Mobilnya kosong.
Sasuke berdiri di samping mobilnya, mengatur napasnya yang sedikit terengah. Dimana sebenarnya Naruto?
Sasuke mengerling jok depan mobilnya dan melihat ada amplop coklat besar tergeletak di sana. Sasuke langsung mengenali amplop itu. Amplop yang berisi berkas perceraian mereka berdua. Ia membuka pintu mobilnya dengan terburu-buru, melemparkan toga, ijazah dan topinya ke jok belakang, lalu mengambil amplop itu. Sasuke membukanya dengan sangat cepat, mengecek sesuatu. Dan ia berhenti di lembar dimana Naruto seharusnya membubuhkan tanda tangannya sebagai persetujuan. Seharusnya Sasuke sudah menduganya, tapi hatinya tetap terasa mencelos ketika melihat tanda tangan Naruto benar-benar tergores di sana. Ia kembali memasukkan kertas-kertas itu ke dalam amplop dan melemparkannya ke jok belakang bersama perlengkapan wisudanya. Sasuke memandang berkeliling tempat parkir.
Naruto pasti belum jauh. Ia masih melihatnya sewaktu ia mengakhiri pidatonya tadi. Masa Si Pirang Tolol itu tega meninggalkannya bahkan tanpa mengucapkan kata perpisahan?
Sasuke mengunci mobilnya lagi dan kembali melanjutkan pencariannya. Ia benar-benar mengelilingi JSA yang sangat luas itu, memicingkan matanya ke segala arah, mencari-cari sosok Naruto. Ia sudah hampir putus asa ketika dilihatnya seorang pemuda dengan rambut pirang mencolok, yang menjinjing tas olahraga berukuran sedang, berjalan melintasi taman depan JSA ke arah pintu gerbang. Tak salah lagi, itu Naruto.
Tanpa pikir panjang, Sasuke langsung berlari ke arah sosok itu, tidak menggubris sekawanan burung dara, yang sedang mematuk-matuk rerumputan untuk mencari cacing, terbang ketakutan karena derap langkahnya. Sasuke berhasil menyusul Naruto tepat pada waktunya, sebelum ia keluar dari JSA.
"Dobe…" engah Sasuke, berhenti tepat di depan Naruto.
Naruto yang kaget karena Sasuke tiba-tiba muncul di depannya berhenti melangkah. "Teme? Ngapain kau di sini?" tanyanya heran. Seharusnya Sasuke tidak berada di sini. Seharusnya setelah pidato tadi, Sasuke akan langsung pulang ke apartemennya, tidak menghiraukan Naruto lagi. Naruto memang tidak berniat mengucapkan selamat tinggal.
"Kau tahu aku akan berangkat ke Seoul besok pagi," kata Sasuke ketika napasnya sudah kembali normal. "Dan kau sama sekali tidak ingin mengucapkan selamat jalan atau apa?" sindirnya.
Naruto tertawa kikuk, membetulkan letak tas olahraganya yang disandangnya di bahunya. Memang hanya itu barang bawaannya. Propertinya yang lain sudah berada di apartemen barunya, di tempat yang tidak Sasuke ketahui, sejak minggu lalu. "Kurasa kau tidak ada waktu untuk mendengar ucapan selamat jalan dariku. Kau kan harus packing dan lain sebagainya, Teme."
"Berhenti bicara," sergah Sasuke kasar. "Omong kosong, Dobe."
Dan Naruto tak lagi menyamarkan sorot sedih di matanya dengan cengirannya yang dibuat-buat. Mereka sudah melewati tahap untuk tidak saling menyembunyikan perasaan lagi. Mereka sudah tahu isi hati satu sama lain. "Kau tak mungkin menyusulku ke sini hanya untuk mendengar ucapan selamat tinggal dariku kan?" tanya Naruto.
Sasuke terdiam. Ia sebenarnya juga tak tahu untuk apa ia repot-repot mencari Naruto. Mereka sudah bercerai. Sasuke akan terbang ke Seoul besok pagi. Naruto akan menjalani kehidupannya sebagai pria normal lagi. Habis perkara. Tak ada yang perlu diucapkan.
"Kau benar-benar yakin takkan mencariku setelah ini?" Sasuke mencoba menemukan topik pembicaraan. Ia ingin mengulur waktu sampai perpisahan yang sebenarnya terjadi.
"Aku akan tak terlihat bagimu. Dan kau juga harus menjadi tak terlihat bagiku," Naruto menegaskan.
Sasuke menatap mata biru Naruto lekat-lekat. Keraguan kembali merayapi hatinya. Apa ini yang benar-benar dia inginkan? Bagaimana kalau ternyata perasaannya pada Naruto takkan pernah berubah? Bagaimana kalau ternyata nantinya ia akan menyesali keputusannya ini?
"Tak akan ada yang perlu disesali, Teme," ucap Naruto tiba-tiba, seakan membaca pikiran Sasuke. "Aku tahu kau masih cukup bisa berpikir jernih sehingga tidak akan bunuh diri karena ini, dan aku pun begitu." Naruto tersenyum masam. "Ini yang kau inginkan, Teme. Menjadi pianis profesional. Kau tak butuh aku untuk itu."
'Aku membutuhkanmu, Dobe. Aku sangat membutuhkanmu. Kau tahu itu.'
"Dan aku akan kembali melanjutkan hidupku yang sempat sedikit kacau gara-gara kau," Naruto mendengus geli, "dan aku juga tak butuh kau untuk itu."
'Bohong, Dobe. Kau membutuhkanku seperti aku membutuhkanmu. Kita sama-sama tahu tentang itu.'
"Yah… tapi memang kelihatannya aku akan menjadi amat sangat tidak sopan kalau pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun." Naruto tersenyum pada Sasuke. Senyumnya benar-benar tulus kali ini, tidak menyembunyikan apapun. "Jadi…" Naruto menatap mata hitam Sasuke lekat-lekat. "Terimakasih untuk semuanya."
Sasuke mengabaikan kalau mereka saat ini berada di tempat umum. Ia menarik Naruto ke dalam rengkuhannya dan mengeliminasi jarak di antara mereka berdua. Naruto sangat terkejut hingga menjatuhkan tas yang disandangnya, membuat segerombolan burung dara yang berada di sekitar mereka terbang pergi.
Sekali lagi, Naruto merasakan bibir Sasuke mengunci bibirnya.
Naruto sama sekali tak bisa menolak kali ini. Mungkin ini adalah kali terakhir Sasuke menciumnya. Maka ia hanya memejamkan matanya, dan membalas ciuman Sasuke.
Sasuke benar-benar menumpahkan seluruh perasaannya lewat ciuman itu. Ia tak bisa menutupi kesedihannya lagi. Ia benar-benar tak ingin hubungan mereka berakhir. Hubungan yang bahkan mereka tak tahu kapan mulainya. Kata cinta tak pernah terucap secara verbal di antara mereka. Tapi ia sendiri tak mungkin bisa mempertahankan hubungan ini kalau ia tak yakin bahwa perasaannya tidak akan pernah berubah.
Sasuke mengeratkan pelukannya pada tubuh Naruto, belum mengakhiri ciumannya. Aroma citrus yang menguar dari tubuh Naruto menuntun otak Sasuke untuk kembali mengingat masa dua tahun bersama Naruto yang terasa amat sangat singkat. Ia masih belum melupakan ekspresi terkejut di wajah Naruto ketika ia memintanya untuk menikah dengannya dulu, caranya mengatakan kalau permainan piano Sasuke selalu membuatnya nyaman, tawa lepasnya yang begitu khas, caranya bermain biola yang selalu membuat Sasuke terpesona, sorot mata tajamnya ketika ia sedang bertekad melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, ciuman pertama mereka di tengah hujan…
Naruto memberikan dorongan kecil di dada Sasuke, membuat Sasuke menjauhkan dirinya. Mata biru Naruto terasa begitu dekat sekarang. Sasuke melepaskan pelukannya sementara Naruto mengambil tas olahraganya yang terjatuh.
"Kau rupanya lebih suka melihatku mati kehabisan napas daripada melihatku pergi ya?" gurau Naruto sambil terkekeh geli, membuat Sasuke ikut tertawa pelan.
Naruto tersenyum melihat tawa Sasuke. "Sering-seringlah tertawa seperti itu, Teme," ucapnya.
Sasuke membalas senyum Naruto, benar-benar tersenyum pada pemuda di hadapannya itu. Tak ada satupun di antara mereka yang bicara, hanya menatap mata satu sama lain.
Naruto tahu ia mungkin takkan pernah bisa melupakan pemuda yang selalu dianggapnya brengsek ini. Ia bisa saja tetap tinggal di sisi Sasuke selama beberapa waktu ke depan, sampai akhirnya perasaan Sasuke terhadapnya berubah, dan Si Brengsek itu benar-benar meninggalkannya. Tapi ia terlalu pengecut. Ia takut nantinya ia yang akan terpuruk saat itu. Ia takut kalau ia tak mampu bangkit. Lagipula, siapa yang akan menjamin berapa lama Sasuke sanggup bertahan? Sepuluh tahun? Lima puluh tahun? Atau mungkin perasaan Sasuke sudah akan berubah esok pagi? Atau beberapa jam lagi? Tak ada yang menjamin. Bahkan mereka tak pernah benar-benar mengutarakan perasaan mereka secara verbal…
Tiba-tiba tatapan Naruto mengeras. 'Tak ada salahnya mencoba, kan?'
"Teme," Naruto buka mulut, membulatkan tekad untuk mengatakan, "I just need three words. Say it. And I'm yours."
Sasuke terhenyak. Tiga kata? Apa yang harus dia ucapkan? Apa maksud Naruto?
Sasuke balas menatap mata biru Naruto. Ia bisa melihat adanya sedikit pengharapan dan tekad di sana. Pengharapan kalau Sasuke akan mengucapkan tiga kata yang Naruto inginkan. Sementara Sasuke sama sekali tak tahu tiga kata apa yang harus dia katakan. Sasuke memutar otaknya selama beberapa saat, mencoba menganalisis perkataan Naruto, menggali setiap detail memori di otaknya, tiga kata… hanya tiga kata yang Naruto inginkan dan mereka mungkin tak akan berpisah. Apa jenis kata yang dimaksud Naruto? Sasuke sama sekali tidak bisa menebak apa yang diinginkan pemuda pirang di hadapannya ini. Tak bisakah Naruto memberinya pentunjuk tentang apa yang ingin dia dengar?
Namun alih-alih menanyakan apa maksud sebenarnya dari pemuda pirang itu, yang terlontar dari bibir Sasuke adalah, "We shall never see each other again, I think. Farewell." Hanya itu yang bisa Sasuke ucapkan. Dan Sasuke kembali tersenyum pada Naruto. Senyum yang hanya ia tujukan pada pemuda itu, sambil mengacak rambut pirang Naruto seperti kebiasaannya. Sasuke tahu bukan itu yang ingin Naruto dengar darinya, bisa dilihat dari sorot mata Naruto yang memudar begitu kalimat perpisahan itu terucap. Tapi Sasuke juga tak mungkin meminta waktu untuk berpikir lebih lama kan?
Naruto nyengir lebar mendengar jawaban Sasuke. Ia sudah menduganya. Jadi setidaknya ia tidak terlalu kaget dengan ucapan Sasuke itu. Sasuke bukan orang bodoh yang takkan paham maksud perkataannya tadi. Dan kalau Sasuke sama sekali tidak mengatakan tiga kata yang ia maksud, maka…
"Sayonara," kata Naruto, sengaja mengucapkannya dalam bahasa ibu Sasuke.
Sasuke mengangguk pelan, ia sebenarnya masih berharap Naruto akan memaksanya mengucapkan tiga kata yang sama sekali tidak Sasuke pahami maknanya itu. Ia menatap Naruto, mencoba mencari tanda-tanda Naruto akan menjelaskan apa maksudnya dengan kalimat yang lebih mudah dimengerti, tapi usahanya sia-sia. Yang bisa Sasuke baca dari sorot mata Naruto sekarang hanya kata perpisahan. Maka ia berjalan pergi meninggalkan Naruto, kembali ke arah tempat parkir di mana mobilnya terletak. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans-nya, menatap jalan setapak dari bebatuan yang ditelusurinya. Saat itu, Sasuke bertaruh dalam hati, kalau dalam hitungan ketiga Sasuke menoleh ke tempat Naruto berdiri tadi dan dia masih ada di sana, maka ia akan membatalkan perceraian itu. Resikonya akan ia tanggung nanti.
Satu. Sasuke mulai menghitung.
Dua. Jantung Sasuke berdegup kencang penuh harap.
Tiga. Sasuke berhenti berjalan, langsung membalikkan tubuhnya ke arah pintu gerbang JSA.
Dan tidak ada siapapun di sana. Naruto benar-benar sudah pergi kali ini. Sasuke tersenyum getir, kembali berjalan ke arah tempat parkir. That's all. Dua tahun sudah berlalu dengan amat cepat. Dan hanya beginilah. Only a simple kiss to make this story ends. After kiss, goodbye…
Sasuke mendongak menatap langit biru di atasnya. Tiga kata. Ia tak paham maksud Naruto itu. Tapi mana mungkin perkataan Si Dobe itu tak dimengerti olehnya?
~w~
Sasuke's journal, January 12th, 2011.
Aku menulis ini dalam penerbanganku ke seoul.
Aku masih tak menyangka semuanya akan berakhir secepat ini. Pagi ini aku terbangun dan keluar dari kamar, langsung menuju ke kamarnya untuk membangunkannya seperti yang biasanya terjadi selama dua tahun. Tapi tak ada siapapun di kamarnya. Aku hanya bisa meringis dan kembali menutup pintu kamar itu.
Rasanya benar-benar janggal sarapan sendirian di dapurku pagi ini. Padahal selama bertahun-tahun sebelum mengenal Naruto, aku selalu sarapan sendirian. Tapi setelah dua tahun bersamanya, rasanya kebisingan di pagi hari itu adalah hal yang biasa. Bahkan aku juga mulai merindukan Kyuubi, siberian husky yang memiliki mata biru yang sama dengannya. Satu-satunya saksi tentang apa yang terjadi denganku dan dia.
Kurasa sekarang sudah saatnya untuk menulis tentang kesalahan kesepuluh seorang Namikaze Naruto.
Kesalahan pertamanya adalah keberisikannya. Keberisikan yang mulai kurindukan.
Kesalahan keduanya adalah kejorokannya. Yang ini sudah sepaket dengan keberisikannya. Aku tidak terlalu merindukan yang ini. Haha.
Kesalahan ketiga adalah Kyuubi. Aku baru saja menulis kalau aku merindukan anjing ini. Semoga ia baik-baik saja bersama Inuzuka. Mungkin aku akan menengoknya kapan-kapan.
Keempat, keteledorannya. Mungkin rambutnya akan berubah warna jadi hitam kalau ia kehilangan sifatnya yang satu ini.
Kelima, dia membuatku khawatir. Bahkan sekarang pun aku sudah mengkhawatirkannya.
Keenam, dia membuat perubahan dalam hidupku. Dan dia juga bisa menjadi lebih baik dari keluargaku. Aku membencinya karena ini. Dia sangat menyebalkan kalau melakukan itu.
Ketujuh, dia membuatku memperhatikannya. Setelah dipikir-pikir, ternyata aku ingat dengan jelas kebiasaan-kebiaasan kecilnya seperti meniup poninya, mengelus Kyuubi kalau sedang gugup, nyengir salah tingkah kalau habis melakukan kesalahan yang membuatku marah, caranya memakan ramen instan yang menurutku terlalu berlebihan, gesturnya tiap kali dia bermain biola, dan masih banyak lagi. Aku terlalu memperhatikannya.
Kedelapan, dia membuatku memiliki keinginan kuat untuk menyentuhnya, merengkuhnya ke dalam pelukanku, dan memilikinya, lebih dari yang seharusnya. Dia membuat situasi sekarang jadi terlihat buruk karena itu.
Kesembilan, ia membuatku menderita. Haha. Tapi dia memang membuatku menderita sekarang. Dan ia juga bisa membuatku sangat bahagia di saat yang bersamaan. Lihat, betapa menyebalkannya dia.
Dan terakhir. Kesalahan terbesarnya yang nomor sepuluh. Dia membuatku mencintainya.
Aku amat sangat membencinya karena itu. Aku sangat mencintainya sekarang ini, atau akan selamanya begitu?
Kalau mengingat-ingat tentang sepuluh kesalahannya itu, aku hanya bisa menghela napas panjang.
Ketika menulis ini, tiba-tiba satu perkataan Naruto terlintas di otakku. Dulu, dia pernah berkata, "Kalau begitu sekarang coba ceritakan tentang dirimu, Sasuke." Ah, ya, saat itu ia masih memanggilku dengan namaku yang benar. Ia belum tercemar oleh ajaran sesat Inuzuka. Saat itu aku sama sekali tak tahu apa yang harus kuceritakan, jadi dia menyebutkan hal-hal yang ingin dia ketahui tentangku. Hal-hal yang sangat umum. Tapi aku sama sekali tak menyangka, dua tahun bersama Naruto bisa mengubah beberapa point penting dari jawabanku saat itu.
Kalau saat ini dia menyuruhku menceritakan tentang diriku lagi, maka tanpa ragu-ragu aku akan menjawab :
Aku Sasuke. Lahir tanggal dua puluh tiga Juli dua puluh dua tahun yang lalu. Makanan kesukaanku mungkin tomat, dan aku tidak punya minuman khusus yang aku suka. Aku juga tidak punya film favorit atau warna favorit. Aku tidak punya keluarga satupun sekarang ini, jadi tak ada yang perlu kau tahu tentang itu. aku belum pernah pacaran sebelumnya, tapi aku sudah pernah menikah. Hal yang tidak kusukai ada banyak, satu diantaranya adalah Uchiha. Hal yang kusukai, musik... dan Naruto. Dan hal paling membahagiakan dalam hidupku adalah... dua tahun bersama Naruto.
~w~
Sasuke
Sasuke menutup jurnalnya. Ia memandang sampul depan jurnalnya selama beberapa saat sebelum memasukkanny ke dalam tasnya. Mungkin suatu saat nanti, ia akan mengirimkan jurnal itu ke Naruto.
Ia memandang keluar jendela pesawat, ke arah awan-awan rendah di sekelilingnya. Pikirannya kembali melayang ke perkataan Naruto kemarin. Tiga kata macam apa yang diinginkan Si Pirang itu? Bagaimana mungkin hanya dengan tiga kata itu Naruto akan berubah pikiran untuk pergi?
Sasuke benar-benar tak mengerti. Ada sesuatu yang terlewat oleh otak jeniusnya sehingga ia tak bisa memahami maksud Naruto. Ia mendengus geli. Perumpamaan 'Because I can't go to the future without knowing the meaning of the words that you told on that day' benar-benar cocok untuknya saat ini. Perumpamaan yang ia dengar di lagu yang sedang ia dengarkan saat ini melalui iPod-nya.
Ngomong-ngomong tentang kebiasaannya mendengarkan lagu yang sama sekali bukan alirannya melalui iPod, Sasuke masih terus melakukannya sampai sekarang. Ia merogoh saku jaketnya untuk mengeluarkan iPod putihnya itu, hendak mengganti lagunya ke lagu berikutnya. Ia menekan tombol next, dan intro yang terdengar sekarang adalah intro lagu yang sama dengan yang Sasuke dan Naruto dnegarkan saat mereka berada di taman setengah tahun yang lalu.
Sasuke masih ingat bagaimana saat ia memandang mata biru Naruto dan menyanyikan lirik 'I love you's the only beginning', waktu di sekitarnya serasa berhenti.
'I love you's the only beginning…' lirik itu kembali terdengar di telinga Sasuke sekarang, membuat Sasuke tersenyum geli.
Tapi tiba-tiba Sasuke tercekat, senyumnya menguap lenyap secara mendadak. Ia menatap iPod-nya lurus-lurus. Tiga kata. Naruto hanya butuh tiga kata. Sasuke rasa ia tahu apa kata yang Naruto inginkan. Sayangnya, ia baru mengetahuinya sekarang. Sudah terlambat.
~w~
"Hey, Dobe. Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu."
Sasuke berdiri di samping nisan Naruto hari itu. Angin musim gugur bertiup lumayan kencang, tapi Sasuke mengabaikannya.
"Aku tak menyangka kau sudah banyak berubah," kata Sasuke, menekan kegetiran dalam suaranya dalam-dalam. "Sekarang kau sudah tidak memiliki imej oranye yang dulu melekat erat pada dirimu. Kau juga tidak berisik. Itu kemajuan, kau tahu."
Sasuke merasakan suaranya bergetar. Ia mencengkram nisan pualam dingin itu erat-erat. Sesuatu mengganjal tenggorokannya, membuatnya tercekat.
"Tapi justru keberisikanmu itulah yang kurindukan. Dan kalau kau kehilangan imej oranye-mu, lagu Orange and Blue yang pernah kubuat sebagai hadiah ulang tahunmu jadi tidak berarti." Buku-buku jari Sasuke memutih, tapi ia tetap mencengkram nisan Naruto kuat-kuat.
Ia mengeluarkan tawa yang dipaksakan, yang kalau Naruto mendengarnya dan berada di hadapannya sekarang, pasti akan membuat pemuda pirang itu memandangnya dengan tatapan tertawalah-dengan-benar-Teme.
"Tapi bukan hanya kau berubah, Dobe," lanjut Sasuke. Cincin pernikahannya dengan Naruto bertahun-tahun yang lalu masih melingkari jari manisnya. Ia benar-benar belum melepasnya sejak kunjungan Itachi saat itu. "Aku juga banyak berubah," ucapnya. "Aku telah menjadi apa yang sejak dulu kuinginkan. Aku telah menjadi pianis ternama. Aku juga sudah memiliki orchestra-ku sendiri. Aku sudah menyediakan tempat untukmu di sana. Aku ingin sekali lagi bermain musik bersamamu, alunan pianoku dan biolamu pasti akan terdengar sangat indah." Sasuke mengatupkan rahangnya erat-erat, sesuatu membuat dadanya terasa amat sesak. "Tapi kau pergi lebih dulu. Bahkan tak mengucapkan selamat tinggal padaku. Dasar tidak tahu terimakasih."
Awan mendung menggantung di langit, menutupi biru cerahnya, bersiap-siap meneteskan air hujan. "Apa kau juga tidak ingat pada anjing kesayanganmu, Kyuubi, eh?" Sasuke meneruskan. "Kau tak pernah menengoknya. Mungkin sekarang kau sedang digigitnya karena itu." Sasuke mendengus geli, yang sekali lagi dipaksakan. "Tapi setidaknya kalian bisa bertemu lagi di sana."
Terdengar gemuruh guntur dari langit. Tampaknya hujan kali ini akan cukup deras. "Aku masih ingat dengan jelas, dulu setiap kali aku sedang menceritakan sesuatu padamu, kau pasti memotong penjelasanku, membuatku kesal…" Sasuke menghela napas, "… tapi sekarang kau tidak melakukannya sekalipun. Itu sangat aneh, tahu."
Sasuke menarik napas dalam-dalam, berharap sesuatu yang membuat dadanya sesak sedikit berkurang, tapi yang terjadi malah sebaliknya. "Aku tak percaya kau pergi secepat ini," keluhnya. "Apa bahkan tak terbersit sedikitpun keinginan untuk bertemu denganku lagi, Dobe? Atau jangan-jangan kau mengira aku sudah melupakanmu? Kalau begitu kau memang benar-benar bodoh. Aku tak pernah melupakanmu. Aku pernah berjanji tentang itu, dan aku tak pernah mengingkari janjiku."
Tetes-tetes hujan mulai turun perlahan, mengaburkan pandangan Sasuke. Tapi tetes-tetes hujan itu terasa hangat di wajahnya. Apakah benar itu air hujan? Ia tak merasakan bagian tubuhnya yang lain basah.
"Kau sudah membaca jurnalku kan? Kau sudah melihat halaman partitur yang kuselipkan di sana? Aku membuatnya khusus untukmu." Kali ini hujan benar-benar turun, namun Sasuke tetap berdiri tegak di samping nisan Naruto. "Kenapa kau tidak menanyakan kenapa aku mengirim jurnalku untukmu? Apalagi aku mengirimkannya empat tahun kemudian. Kau pasti penasaran kan?" Air yang membasahi wajah Sasuke kali ini terasa sedingin es. "Itu karena aku tahu ingatanmu payah, Dobe. Saat itu, akulah yang takut kau terlalu menikmati kehidupan barumu dan melupakanku. Jadi aku memutuskan untuk mengirim jurnal itu. Dan aku butuh waktu empat tahun untuk benar-benar memantapkan diri dan mengirimkan jurnal itu padamu, aku mendapat alamatmu dari Inuzuka. Kau pasti sedang menertawakanku sekarang. Kenapa aku butuh waktu selama itu untuk meyakinkan diriku sendiri? Aku juga tak menyangka kalau aku mempunyai perasaan takut karena mungkin saja setelah jurnal itu sampai padamu dan kau tahu dari siapa itu, kau akan membuangnya. Bahkan tanpa membacanya terlebih dahulu. Tapi kemudian aku berpikir, kalaupun kau benar-benar melakukan itu, setidaknya kau sudah melihat nama pengirimnya, dan karena aku menggunakan nama asliku, aku yakin itu pasti akan membangkitkan kenanganmu tentangku di ingatanmu yang payah itu. Kalau kau semisal benar-benar tidak ingat tentangku, maka kau pastinya tidak akan membuang jurnal itu, dan akan membaca isinya. Aku tahu rasa penasaranmu itu sangat besar."
Sasuke mendongak menatap langit, merasakan curah hujan langsung menerpa wajahnya. "Aku belum pernah berbicara sepanjang itu pada orang lain. Kuharap kau tidak menyuruhku mengulanginya, Dobe." Sasuke menghela napas sekali lagi. Rasa sesak yang mengikat dadanya sudah sedikit berkurang, mungkin luntur terguyur air hujan yang sekarang membuatnya nyaris basah kuyup.
"Dulu kau pernah mengatakan kalau kau hanya butuh tiga kata, dan kau akan tetap berada di sisiku kalau aku mengatakannya, Dobe. Kau ingat?" Sasuke menarik napas, menghirup aroma tanah yang baru saja tersiram air hujan, mencoba membuat suaranya tidak terlalu bergetar. "Memang agak sedikit terlambat. Oke, ini memang sangat terlambat. Tapi aku akan mengatakannya sekarang, jadi dengarkan baik-baik."
Sasuke menghela napas dan mengucapkan tiga kata yang Naruto inginkan darinya bertahun-tahun yang lalu bersamaan dengan angin musim gugur bertiup amat kencang, membuat daun-daun gugur yang berserakan di sekitar situ beterbangan. Dan hujan turun turun setingkat lebih deras.
Cengkeramannya pada nisan Naruto sudah mengendur. Sekarang kedua tangannya berada di sisi tubuhnya, mengepal erat. Sasuke memejamkan matanya, menghela napas sekali lagi. "Aku sudah mengatakannya, Dobe. Kau harusnya tetap berada di sisiku sekarang." Sasuke terdiam. "Tapi kau tidak melakukannya."
Sasuke merogoh saku dalam jaketnya dan mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya. "Aku sudah menduga kau tidak akan menepati kata-katamu sendiri, jadi aku akan meninggalkan ini untukmu," kata Sasuke seraya meletakkan kertas itu di atas nisan Naruto, menindihnya dengan sebuah batu agar kertas itu tidak kabur tertiup angin atau tersapu hujan. "Ternyata perasaanku tidak berubah," lanjutnya. "Dan mungkin akan selamanya begitu."
Sasuke menepuk nisan pualam itu dua kali sebelum berbalik dan pergi dari situ.
~w~
Sakura berjalan cepat ke arah makam suaminya, memayungi dirinya sendiri dengan payung hitam agar terlindung dari guyuran air hujan. Sudah seminggu sejak kematian Naruto, dan selama itu pula Sakura tak pernah absen mengunjungi makamnya. Sakura masih sangat merindukan kehadiran sosok Naruto di sisinya. Ia belum bisa menerima kenyataan kalau takkan ada senyum Naruto yang menyambutnya tiap pagi.
Sakura berjalan menanjak di gundukan kecil yang berjarak beberapa meter sebelum makam Naruto ketika seorang pria dengan mantel hitam berkerah tinggi berjalan melewatinya, nyaris basah kuyup. Sakura mengerling pria yang berjalan cepat itu sekilas. Tak ada pelayat lain di situ selain dia selama seminggu ini, jadi dia agak heran mendapati ada orang lain hari ini. Di tengah guyuran hujan pula. Tapi Sakura hanya terhenti sebentar untuk mengamati sosok itu berjalan makin jauh sebelum meneruskan langkahnya ke makam Naruto.
Sekali lagi, seperti sudah menjadi rutinitas wajarnya, Sakura berdiri di samping nisan Naruto dan menatap nama suaminya yang terukirkan di sana dengan sorot mata sedih. Ia masih ingat kenginan Naruto untuk melepasnya dengan senyuman. Namun Sakura tak sanggup. Setidaknya biarkan ia bersedih sebelum akhirnya ia sanggup benar-benar melepaskan Naruto, walaupun ia tak yakin kapan tepatnya ia bisa benar-benar melepaskan orang yang sangat dicintainya itu.
"Paling tidak, sebelum kau pergi hari itu, yang kau lihat dariku adalah senyumku, Naruto. Persis seperti kenginanmu," gumamnya. Sakura mengelus nisan suaminya, dan ia menyadari ada secarik kertas yang terletak di atas nisan pualam dingin itu. Sakura menatap kertas yang basah itu selama beberapa saat sebelum mengambilnya.
Kertasnya sudah sangat basah sehingga Sakura, yang masih memegangi payung hitamnya, membutuhkan ketelitian ekstra agar tidak merobek kertas itu. Setelah ia berhasil membuka lipatannya, mata hijaunya menatap empat bait tulisan tangan rapi seseorang dengan tinta yang mulai luntur. Namun Sakura masih bisa membaca apa yang tertulis di dalamnya dengan jelas.
Sakura tertegun begitu ia selesai membaca. Secara otomatis ia langsung menoleh ke arah jalur datangnya tadi, ke tempat dimana ia berpapasan dengan pria bermantel hitam itu. Tapi tentu saja pria itu sudah lenyap. Dan kali ini, air mata mengalir keluar dari mata emerald Sakura, air mata yang dipikirnya telah mengering.
~w~
'Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back, but I know you did'
/the end/
Disclaimer : Masashi Kishimoto. Tohoshinki. Deluhi. David Fincher. James Patterson. Plain White T's. Maksim. Yurima. Frank Sinatra. JYJ. Dll.
Yey! XD tamat! Hahahaha. Sebagai keterangan, empat kalimat terakhir di atas itu adalah isi dari secari kertas yang Sasuke tinggalkan di makam Naruto ^^ Dan maaf disclaimer-nya banyak banget. Haha. Saya merasa harus mencatumkan semuanya di ending, biar kayak credit title. *digaplok*
Kalau ada yang nggak tahu tiga kata yang Naruto pengen, berati kebangetan u_u *plak!* saya sengaja nggak menuliskannya secara eksplisit karena menurut saya akan jadi… eh… sangat… ya… norak u_u wkwkwkw. Maaf kalau endingnya tidak sesuai harapan X3 *wajah tanpa dosa, digampar rame-rame*
Saya mengakui terjadi bloopers tentang timeline di fic ini. Dan saya benar-benar mohon maaf yang amat sangat untuk itu. *deep bows berulang kali*
Dan sebagai pemberitahuan, saya capek bikin angst! DX *curcol*
Mind to review? ^^
ALWAYS KEEP THE FAITH.
