Chapter dua: Aku menemukan 2 hewan peliharaan.

Beberapa saat kemudian aku bangun dan mendapati diriku sedang bersandar pada sebuah pohon eek besar di atas bukit, kulihat seluruh tubuhku baik-baik saja, begitu juga Exeter yang belum kembali ke bentuk mainannya.

"Uggh—" keluhku. "Kenapa dengan ku?"

"Kau terlalu bersemangat saat melawan Faza." Jawabsuara aneh tersebut.

"Wha—kenapa kau masih ada di dalam otakku hah!" bentakku pada suara tersebut.

"Mana mungkin aku bisa pergi selagi kau tidak mengembalikan ku ke bentuk mainan." Jawabnya dengan dingin.

"M…maksud?" tanyaku heran.

"Kau belum—Geez… aku adalah benda yang berada di sampingmu."

"Ap—Tunggu, jangan bilang kau adalah Exeter."

"Yap." Jawabnya singkat.

"He…hei kau belum—Ah lupakan." Kataku.

"Awas!" peringat Exeter.

Aku yang menyadari apa yang datang ke arah ku langsung berguling ke samping.

"Hei!" Teriakku,

Kupikir seseorang mencoba menjahiliku, tapi ternyata perkiraan ku salah, yang sebenarnya terjadi adalah, di bawah sana sedang terjadi pertempuran antara gamers dan fiends.

"Wow wow wow..." kataku kagum. "Apakah ini nyata?"

"Tentu saja dasar bodoh!" teriak sebuah suara di belakangku.

Aku pun menoleh kebelakang dan melihat Fikri sedang memegang spearnya, aku yang pada saat itu berfikir ia akan mencoba menyerangku langsung mengambil Exeter.

"Relax, aku disini karena aku juga sama seperti mu, tak sadarkan diri." katanya dengan suara kesal.

"A…Apa maksudmu?" tanyaku heran.

"Tak lama setelah kau pingsan, sebuah gate terbuka dari sisi lain bukit." katanya singkat.

"Lalu, kau pingsan juga setelah berperang, begitu kan maksudmu?" tebakku.

"Yah, itu memang benar, dan—aku tak akan membiarkan teman-teman ku di bantai habis oleh para fiends."

"Yah," kataku sambil berdiri. "Aku pun berfikiran sama, just like ur said."

"Cih," katanya sedikit malu. "A…Ayo kita habisi mereka semua!"

"Kau yakin bisa mengalahkan mereka?"

"Aku tidak tau." jawabnya kebingungan.

"Kalau begitu ini pantas di coba bukan?" kataku memberi semangat.

"YEAH!" teriaknya yang sambil melompat dan meluncur ke bawah.

Aku pun mengikutinya di belakang, tak butuh waktu lama untuk sampai di bawah bukit, Fikri langsung berlari ke medan perang, sedangkan aku melihat sekeliling dahulu, dan ternyata semuanya sedang bertarung dengan gigih.

Kalau ku hitung seluruh gamers jumlahnya hanya 15 termasuk aku, sedangkan fiends ada lebih dari 50 ku kira, tapi mereka semua tidak gentar menghadapinya.

Ku lihat Faza sudah berubah menjadi iblis kembali dan menebas semua yang mencoba menyerangnya, Bu April mensupport dari jauh untuk mengheal para gamers yang terluka, dan Resna yang baru kali ini kulihat, ia menggunakan panah sebagai senjatanya.

"Wow." kataku. "Aku tidak bermimpi kan?"

"Tentu saja, kenapa?" tanya Exeter bingung.

"Aku sedang berada di dalam perang!" teriakku dan langsung berlari ke medan perang.

Fiends pertama yang kubunuh adalah fiends berbentuk singa tetapi berkaki keledai, dan mengeluarkan api, mirip seperti chimera tapi ini berbeda, aku terus berlari kesana kemari dan menghabisi semua fiends yang mencoba menyerang.

"Reza!" teriak seseorang dari kejauhan.

"Ya? Maaf ini siapa ya?" teriakku kembali.

"Ini –e—n—a"

"Aku sedang se—di—kit sibuk! Bicaralah lebih kencang!" teriakku yang sedang menghadapi Ox.

Pada saat Exeter dan senjata Ox tersebut beradu, sebuah benda menusuk kepalanya, dan kulihat benda itu adalah arrow berwarna silver.

"What th…" kataku yang langsung teringat pada senjatanya Resna yaitu Bow.

"Kubilang...ini Resna!" teriaknya.

Aku menoleh padanya—

"Aku tau!" teriakku sambil berlari ke arahnya.

"Kau kenapa bisa ada di sini?" Tanyanya.

"Kau kira aku mati, begitu maksudmu! Enak saja!" jawabku sambil menebas fiends yang mencoba menyerangku.

"Ya bukan beg—" katanya.

"Kukira jumlahnya ada 50, kenapa mere—" potongku yang lalu terhenti—

Resna memandangku bingung—

"Kenapa?" tanyanya.

"Di bukit sebelah sana? Apakah mereka keluar dari sana?" kataku sambil menunjuk ke arah bukit yang berlawanan dengan bukit yang ada pohon eek nya.

"Ya—oh AWAS!" jawabnya yang sambil memanah se-ekor fiends yang mencoba menyerangku.

"Dia—" kataku kaku.

"Hei! Lindungi dirimu." teriak Resna.

"Oh, Maaf!" kataku yang sudah tersadar kembali dan langsung menembakan shotgun Exeter ke sekeliling.

"Wow," kata Resna, "Hebat!"

"Kalau begini…" kataku.

"Jangan! Dasar bodoh! Terakhir kau melakukannya kan kau pingsan!" bentak Exeter.

"Waktu itu aku kelelahan, sekarang sih beda lagi." Jawabku singkat.

Aku pun langsung melakukan Overdrive dan seperti sebelumnya, Exeter kembali bersinar berwarna emas.

"Reza!" kata seseorang entah dari mana.

"Itu dia!" suara lain terdengar.

"Wow," kata Resna. "Kau cukup populer ya."

"Haha.." Aku tertawa kecil, dan langsung mengayunkan Exeter ke fiends yang mencoba mendekati Resna.

—BLUM!— suara fiends tersebut yang terlempar dan menabrak fiends lainnya, sehingga menciptakan celah lurus kosong.

"Thanks." Kata resna.

"It's ok." Jawabku singkat dan langsung melompat ke udara.

"Menunduk!" teriakku dari udara.

Dan semua orang menunduk kecuali fiends.

"Great, Thanks!" kataku.

"Jangan banyak bicara habisi mereka! Aku sudah melewati batas!" Teriak seseorang dari bawah.

"Tornado Fire!" teriakku.

Lalu aku pun langsung berputar dan secara otomatis Exeter menembakan shotgunnya ke segala arah, dan mengenai semua fiends yang ada di bawah, dan dalam sekejap para fiends tersebut menghilang menjadi asap berwarna hitam seperti biasa.

"Yeah!" teriak beberapa orang kegirangan.

"Fira!" teriak sebuah suara dari atas bukit.

Aku yang sedang berada di udara mendapati diriku sedang di serbu hujan bola api yang besar, aku pun menghentikan semua bola api tersebut dalam satu serangan.

"…" Aku terdiam sambil turun kebawah.

"Siapa itu?" tanya seseorang di belakangku saat aku sudah mencapai tanah lagi.

"I…itu." Kataku ragu.

"Siapa?" tanya semua orang berbarengan.

"Ilham." Jawabku singkat.

Lalu semua orang mulai berisik, dan Bu April langsung mendekatiku.

"Benarkah itu?" tanyanya.

"Dammit that girl." Kataku.

"Siapa y…yang kau maksud?" tanya Bu April ragu.

"Nia-Exa," jawabku. "Dia adalah pacar Ilham kurasa, dan kurasa dia juga yang menjerumuskannya ke pihak hacker."

"Nia-Exa—tunggu aku pernah mendengar nama itu." Kata Bu April.

"Program anti virus." Kata Resna asal-asalan.

"Hah? Bukan itu nick characternya di dalam game." Lanjutku.

"Nia-Exa Non player character yang bertugas untuk menghalang program-program virus dan hacking masuk ke internet, pada tahun 2013 ia diciptakan oleh seorang programmer bernama Chazz Willsmith, yang mendapatkan begitu banyak penghargaan, karena Nia-Exa berhasil menghalau semua virus hacking." Sebuah suara di belakangku, yang kukenal suara itu adalah suaranya Faza.

"Mungkin hanya kebetulan saja ia menggunakan nick itu di dalam game." Kata Resna.

"Tidak," Faza kembali menjelaskan. "Karena sudah menjadi anti global hacking virus maka, tak ada yang bisa menggunakan nama Nia-Exa dalam keadaan apapun tulisan tersebut."

"Kenapa?" tanyaku.

"Chazz pikir itu akan mengganggu semua sistem kinerja Nia-Exa yang sudah maksimal."

"Terus? Kenapa orang ini bisa menggunakan nick Nia-Exa?" tanyaku.

"Mungkin—" sebelum Faza kembali menjelaskan sebuah serangan datang kembali.

Bepuluh, tidak, beratus-ratus fiends datang menyerbu dari bukit.

"Damn!" Keluh ku.

"Kurasa kali ini kau akan benar-benar kalah." Kata Exeter yang masih berwarna emas.

"Kita—Tak akan kalah kan?" Tanya semua orang padaku.

Aku hanya terdiam tak menjawab, soalnya mana mungkin aku bisa mengalahkan beratus-ratus fiends hanya dengan 15 orang saja? Melawan 50 fiends saja sudah kewalahan.

"Hei—REZA!" Teriak semua orang. "Beri kami perintah!"

"Ap—hah! Perintah?" tanyaku heran.

"Mulai sekarang kau adalah leader kami." Kata Bu April dengan santai.

"Hei, kalian masih sempat-sempatnya bercanda di saat begini!" tanyaku heran.

"Siapa yang bercanda?" tanya Resna heran.

"Kalian lah," kataku dengan suara pelan. "Haaah…kalian bercanda kan?"

Semua orang tidak menjawab tapi malah menunjukan wajah serius, dan dari pada itu fiends sudah semakin dekat dengan kami.

"Alright—alright." Kataku pelan kepada semua orang.

"Begitu dong! That's our leader!" teriak semua orang.

"Yaya—Yang merasa dirinya hebat maju."

Lalu sesuai perintahku orang yang merasa hebat maju dan hanya ada 10 orang dan laki-laki semua, sementara itu fiends sudah mendekat hanya tinggal beberapa meter lagi.

"Bagus," kataku. " Sekarang… Bu April keluar dari sini dan panggil bantuan ke si Korry, atau kementrian."

"Tapi jika Ibu keluar dari sini, gate akan tertutup sampai ibu kembali lagi kesini—" jawab Bu April segan.

"Kami tau." Kata Faza dengan percaya diri.

"Tapi, bukan kah lebih baik kita pulang bersama?" tanya Bu April

"Tch…Ibu mau dunia kita dihancurkan?" kata salah seorang murid laki-laki.

"Lebih baik mengorbankan 15 orang untuk menyelamatkan dunia." Kata salah seorang murid perempuan yang berada di belakang.

"Meskipun be—" kata-kata Bu April dipotong oleh serangan salah seorang murid laki-laki yang melakukan magic thunder.

"Pergilah." Kata Resna.

"Ta—" kata-kata Bu April kembali dipotong.

"Saat ibu kembali lagi, aku berjanji semua orang disini akan selamat…" kataku dengan suara lantang, menyebabkan semua orang bersemangat bahkan yang terluka sekali pun.

"Aku," Lanjutku. "Bertaruh atas nama cinta dan kebenaran."

Semua orang langsung meneriakku dengan ejekan dan tawa sesaat.

"PERGILAH!" kali ini aku mulai serius.

"Baiklah, tapi berjanjilah satu hal…" Kata Bu April.

"KAMI AKAN SELAMAT KOK!" teriak semua orang.

Lalu setelah itu semua orang langsung maju, kecuali aku dan Resna.

"Ibu percaya padamu." Kata Bu April kepadaku.

"Aku pegang janji semua orang." Jawabku.

Setelah itu Bu April membuka gate dan kembali ke dunia nyata, meninggalkan kami dan 'the way to the heaven'

"Yah…" keluhku. "Aku tidak yakin, tentang kita akan kembali hidup-hidup."

"Tenang, disini kalian mempunyai angel." kata Resna tenang.

"Apa maksudmu?" kataku sambil berjalan menuju medan perang.

"Ada aku yang selalu meng-heal." Katanya.

"Selalu meng-heal tak berarti kau itu angel."

"Hahaha.." Tawanya singkat.

Lalu kami pun langsung berlari menyerbu fiends, aku yang masih membiarkan Exeter overdrive langsungmenggunakan skill Tornado Fire.

Sulit dijelaskan kalau kami semua mampu bertahan menghadapi ratusan fiends yang datang tanpa henti, dibalik semua itu sepertinya semua orang sudah bisa menggunakan skill equip nya dengan baik.

"Kalian—Hellsing Cross!" suara iblis Faza menggelegar di udara.

"Akhirnya! Banewind Gust!" suara Fikri sama menggelegarnya di udara.

"Here I go! Stardrop Hyme!" suara Resna menggelegar dari kejauhan.

Dalam sekejap para fiends musnah sudah, tapi itu bukan akhir dari peperangan ini, banyak sekali fiends yang tersisa, bahkan kali ini lebih kuat, banyak yang mengeluh dan mundur untuk istirahat sebentar. Pada saat aku mengeluarkan skill raylion, semua fiends yang berada di depanku musnah semua, begitu juga yang berada di belakangnya.

"Ini tak ada habisnya bocah," suara Exeter terdengar lagi. "Kau yakin bisa menang?"

"Belum tentu kalau belum dicoba." Jawabku.

Benar yang dikatakan oleh Exeter musuh memang tidak habis-habis, sekali pun musnah mereka pasti datang lagi.

"Reza, punya rencana lain?" tanya Fikri.

"Mana mungkin aku bisa berfikir dalam keadaan seperti ini?" jawabku dengan santai.

"Yang penting sekarang—"

Kalimat Fikri dipotong oleh terlukanya ia oleh fiends berbentuk slime?

"Ap—apa! Fiends kacangan sepertimu beraninya menyerangku." Gerang fikri.

"Awas di sampingmu!" Teriakku

"Série de tornades1!" Teriak Fikri.

Fikri memutarkan badannya beserta spearnya, dan dalam sekejap fiends yang berada di sekelilingnya musnah.

"Tak ada waktu mengobrol kurasa." Katanya dengan nada tenang.

"Hei, sejak kapan kau bisa bahasa prancis?" tanyaku padanya sambil menebas-nebas fiends yang mendekat.

"Sejak tadi kurasa."

Lalu kami pun kembali berpencar, aku yang merasa bertanggung jawab melompat untuk mengetahui keadaan semua orang. Dan ternyata keadaanya lebih buruk dari yang ku banyangkan, dari 15 orang, kini tinggal 4 orang, dan sisa nya sedang mundur.

"Wow, ke-empat orang itu pasti kalah, berserta kau juga bocah." Kata Exeter.

"Oh ya? Kalau aku mati, tak ada yang bisa menciptakan mu lagi." Sumpahku pada Exeter.

Belum sempat Exeter menjawab aku sudah di hujani oleh panah-panah dan tombak-tombak yang dilemparkan para fiends.

"Thundaga!" sebuah suara menggelegar dari udara.

Awan menjadi hitam di atasku, aku yang masih melayang di udara tak bisa melakukan apa-apa.

"REZA!" Teriak semua orang.

Dan bersamaan teriakan semua orang, sebuah petir yang sangat dahsyat sehingga menghancurkan sekelilingnya mengenaiku.

—JDAR!— Suara petir tersebut mengenai tanah.

Tanah yang dikenai petir tersebut menjadi gosong, dan fiends di sekelilingnya menjadi musnah, untungnya tak ada satupun gamers yang terkena.

"REZA!" Teriak semua orang.

Aku yang seharusnya sudah musnah menjadi asap karena terkena petir berkekuatan besar itu, malah tidak merasakan apa-apa, dan masih melayang di udara, tanpa luka.

"Ap—APA!" suara yang sama dengan yang mengeluarkan thundaga menggelegar di udara.

"Reza!" Resna terkejut, tentu saja karena melihat seorang pria yang sudah tersambar petir yang sangat besar, dan selamat.

"Hah? Kok?" aku keheranan melihat keadaanku yang masih sangat baik.

"Hei!" Teriak Exeter.

"Kenapa?" tanyaku.

Exeter tidak menjawab, aku pun semakin bingung, saat aku akan turun, aku menyadari ada yang salah dengan diriku.

"…" aku terdiam berfikir.

"Bocah!" Teriak Exeter keheranan.

Aku tidak menjawab, tetapi hanya langsung mengarahkan Exeter ke bukit tempat keluarnya fiends.

Tak ada yang bergerak di bawah, fiends maupun gamers semuanya diam kaku melihatku keheranan.

"Archés ánoixan tis pýles tou stoicheíou plásma." Kataku berbicara tak karuan.

"Heh! Jangan-jangan!"Exeter terkejut.

Lalu setelah mengucapkan kata-kata aneh tersebut langit berubah menjadi hitam, disertai bunyi guntur dimana-mana.

"Bocah, kau sungguh banyak kejutan." Kata Exeter dengan suara santai.

Setelah itu, sebuah makhluk yang hampir mirip dengan Unicorn tetapi kali ini tanduknya lebih aneh, yaitu tidak lurus seperti Unicorn muncul dari langit dan menghampiriku.

"ITU!" Teriak semua orang terkejut.

"Ixion!" teriak Resna.

Hewan dari Final Fantasy itu menyerupai Unicorn dengan tanduk menyerupai huruf 'p' dan tubuhnya berdominan berwarna biru atau hitam?

Aku pun membuka mataku, dan melihat Ixion yang sudah menunduk.

"Master." Kata Ixion.

Semua orang ternganga mendengarku di panggil master oleh Ixion.

"Ha—" aku akan mengatakan sesuatu tetapi langsung di potong oleh Exeter.

"Kau yang memanggilnya, dia bisa di panggil kapapun kau mau." Kata Exeter.

"Apa perintahmu, master." Kata Ixion.

Aku masih bingung, aku yang memanggilnya tapi aku kok tak ingat?

"Hmm—Baiklah," kataku. "Biarkan aku naik ke punggungmu, dan kau akan tau sendiri."

"Yes, master." Jawabnya dingin.

Wow! Dia menyetujuinya! Tapi, yang ku tau dia berelemen listrik, apakah tidak menyengat?

Dengan ragu-ragu aku pun naik ke punggungnya Ixion, dan wow! Ternyata tidak terasa apa-apa, seperti naik kuda biasa, yah hanya ia bisa terbang dan mengeluarkan listrik.

"Sekarang apa, master?" tanyanya dingin.

"Ayo kita segera pergi ke bukit sana." Kataku pelan.

"Yes, master." Katanya.

"Dan, selagi kau terbang kesana, musnahkanlah fiends-fiends yang berada di bawah, tak harus sampai bersih kok!" Lanjutku.

"Tapi master," kata Ixion ia terlihat keberatan. "—Tidak, maafkan kelancangan saya, master."

"Ayo kita serang!" Teriakku.

Semua orang yang berada di bawah sepertinya sadar kembali dan mulai mengeluarkan senjatanya lagi.

"Haha! Dia, memang penuh kejutan!" kata Faza yang belum berubah menjadi iblis.

"Benar." Kata Resna.

"Jangan biarkan dia kecewa kawan!" teriak Fikri.

Lalu karena pengobatan Resna yang secara diam-diam, dan kekuatan baruku, semua orang kembali bersemangat dan langsung maju ke menerjang para fiends tanpa penyesalan.

Sepertinya perjalanan menuju bukit sangat lama dan melelahkan, karena kecepatan lari Ixion yang lambat dikarenakan ia lari sambil menyerang fiends yang berada di bawah, dan juga karena serangannya tersebut mengambil dari staminaku. Yang aku baru sadari setelah Ixion mengeluarkan petir yang ke-3 kalinya.

"Hei, bocah." Kata Exeter.

"Apa?" tanyaku.

"Dari mana kau dapatkan kekuatan tersebut?" Exeter balik nanya.

"Tak tau." Jawabku singkat.

Exeter hanya diam tidak menjawab, mungkin sedang berfikir.

Kami ber-3 pun hanya diam tanpa kata, Aku mencoba istirahat, Exeter sepertinya sedang berpikir, Ixion sedang menghabisi para fiends.

Dan tak lama kemudian, kami sampai di belakang bukit, dan wow! Kosong banget!

"Apa?" kataku heran.

"Bocah awas!" teriak Exeter.

Aku yang mendengar peringatan Exeter melompat dari punggung Ixion, dan Ixion meledak sekaligus.

"IXION!" Teriakku di udara sambil jatuh.

"Yes? Master." Jawab Ixion, yang terbang dari asap ledakan tadi.

"Thunder bolt!" perintahku pada Ixion.

Secara langsung Ixion menembakan bola listrik ke arah gate.

—DUAR!— bola listrik tersebut tepat mengenai gate tersebut dan musnah berbarengan dengan jatuhnya aku.

"Dari mana kau dapatkan kekuatan itu?" sebuah suara terdengar di belakangku.

"Nia-Exa." Kataku.

"Right," katanya sambil mendekatiku. "Dari mana kau dapat kan—"

Ucapannya di potong oleh serangan Ixion yaitu aeon spark, tetapi ia dapat menahannya dengan shell.

"Bandel juga ya." Katanya yang sambil terus mendekatiku.

Aku pun berbalik dengan aba-aba siap menyerang.

"Agi!" teriakknya.

Kukira 'agi' disini 'agility' yang artinya menambah kecepatan, tetapi ternyata bukan, yang ada malah sebuah bola api terbang ke arahku.

Tanpa basa-basi aku langsung menebas bola api tersebut menjadi dua, dan meledak di belakangku dan Ixion.

"Jangan banyak tingkah Nia." Ancamku.

"Oh my, seperti—"

Sebelum Nia-Exa menyelesaikan kalimatnya aku dan Ixion membatin untuk menyerangnya, Ixion dari jauh mengeluarkan Thundaga dan aku menggunakan skill divine wave, serangan perpaduan elemen petir dan daya penghancur yang kuat, bersatu menyerang Nia-Exa.

—DUAAR!— ledakan yang super dahsyat menyebabkan 'The way to the Heaven' terguncang, semua orang terkejut sekaligus cemas.

"Reza!" teriak Resna.

"Tch…kekuatan—yang luar biasa—Reza! Jika kau mati—aku tak akan memaafkanmu!" acam Faza dengan suara iblis nya.

"Wow! Aku ingin kesana teman," kata Fikri yang sedang kewalahan menghadapi dua fiends. "Tapi kami juga sedang sibuk disini."

—BUUM!— terjadi guncangan lagi, tapi kali ini bukan dikarena kan oleh ledakan.

"Apa it—?" tanyaku heran.

"Makhluk lain," jawab Ixion. "Lebih kuat, dariku."

"Hei jangan—"

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, sebuah makhluk yang sangat besar itu menyerangku dengan pedang, Aku menghindar pada waktu yang tepat.

"Bravo," suara Nia-Exa dari atas makhluk itu. "Kau masih ingin menantangku bertarung?"

"Apa maksudmu?" tanyaku. "Dan makhluk apa itu?"

"Kronos2," jawabnya tenang. "Seorang dewa, kau pasti tau."

"APA! Kenapa dia bisa menguasai kronos!" kata Exeter berteriak di pikiranku.

"Master," kata Ixion. "Aku tidak yakin kita—menang."

"Tch…Seorang dewa ya." Kataku kalem.

"Kenapa kau begitu sangat—kalem?" nada Nia berubah.

"Biarlah, bukan urusanmu." Jawabku.

" Aku sangat membenci orang seperti mu!"

"Yah—" kataku.

Aku tidak melanjutkan kata-kataku tapi malah langsung berlari menerjang kronos dan Nia.

"Kau bodoh! Dewa itu sangat—" bentak Exeter.

Tapi sebelum Exeter menyelesaikan kalimatnya, aku sudah menebas tangan Kronos dengan mudahnya, dan tanpa menghiraukan serangan sihir komat-kamitnya Kronos aku langsung melompat ke pundaknya, yaitu tempat dimana Nia berdiri.

"Ixion!" teriakku.

"Yes, master." Jawabnya.

"Thundaga!" perintahku pada Ixion.

"Sebentar master." Jawabnya karena sedang menghindari sihir dan tebasan-tebasan dari Kronos, ada jeda pada saat tebasan Kronos yang mengenai gate kedua, dan jeda itu Ixion gunakan untuk menyerang dengan thundaga.

—DUAAR!— Sebuah petir berkekuatan besar menghantam Kronos, aku, dan Nia.

Tetapi Nia dan Kronos baik-baik saja, karena Nia menggunakan shell yang menyebabkan ia tidak bisa di serang dengan magic, sedangkan Kronos ia seorang dewa, serangan seperti apapun hanya menyebabkan luka ringan.

"Kau tau," Suara Nia terdengar kembali. "Manusia tak ada gunanya untuk berharap."

"Ya," jawabku. "Takdir mereka sudah ditentukan."

"Kau sendi—" sebelum Nia melanjutkan kalimatnya, aku sudah menebasnya dari belakang sebanyak 2 kali.

"Arrg!" teriaknya, ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menyesali kesalahannya.

Ia langsung berbalik mencoba menyerangku dengan pedang yang secara tiba-tiba muncul di tangannya, aku mempunyai firasat buruk jadi aku melompat sangat tinggi.

"Kau menghabiskan tenagamu untuk melompat? Padahal serangannya kan—" Exeter berkomentar.

Tapi ternyata firasat ku benar, itu bukan tebasan biasa, satu tebasan muncul sebuah sinar yang sangat dahsyat.

"Kau tau," kata Nia. "Aku tidak butuh waktu lama untuk menghabisimu!"

"Tch…"

Dan benar saja saat aku masih di udara, dan Ixion sedang sibuk menghindari serangan Kronos yang kali ini makin menjadi-jadi saja, sebuah pedang berukuran gedung monas, turun dari langit dan hampir menusukku.

"Magic?" tanyaku keheranan.

"No—kekuatan Kronos kau tau?" jawabnya.

Kronos? Mana mungkin ia kan sedang bertarung dengan Ixion?

Aku terkejut, pada saat Kronos berbalik dan melihatku, entah kenapa, padahal dia hanya melihatku .

"Tatapan Kronos," Kata Exeter. "Bisa membunuhmu kau tau, jika saja kau tidak mempunyai kekuatan sehebat sekarang."

"Oh! Death glare?" kataku.

"Benar." Jawab Exeter.

Kronos lama sekali memandangku, kali ini aku mulai ketakutan, dan merasa kepanasan, tetapi masih melayang di udara, aku tak tau apa yang di lakukan oleh Nia, dan Ixion.

"Master!" Teriak Ixion.

Teriak kan nya dapat ku dengar, saat aku akan menghindari sesuatu yang tak ku tau apa itu, tubuhku kaku, tak dapat di gerakan.

"Death!" teriak Nia.

—SLEEB!— 9 pedang menusuk tubuhku, entah dari mana datangnya pedang-pedang tersebut yang langsung begitu saja menusukku.

"Master!" teriak Ixion.

"Bocah!" kali ini Exeter berteriak.

Ke 9 pedang tersebut mengangkatku ke udara, sangat jauh dari tanah, dan menyebabkan semua orang melihatku di tusuk oleh 9 pedang, kesadaran ku mulai kabur, semua berubah menjadi hitam sesaat.

Hei…kau sudah berjanji kawan

Ini bohongkan?

Kau Leader kami, jangan mati semudah itu

Aku…tidak ingin meninggalkanmu.

Sebuah suara terdengar dalam kegelapan, dan—

Selamat datang.

Aku tersadar, bukan berada di 'The way to the Heaven' tetapi berada di sebuah pantai, pasir putih dan langit yang cerah.

Ah, kau pasti bingung.

Aku hanya menggeleng bingung dan berkata.

"Dimana ini? Siapa kau?" aku bertanya, tak ada seseorang di sini.

Kau tidak sedang berada di mana-mana

Aku terkejut, dan langsung bangun.

Bangun dasar kau bodoh!

Hei—Aku tak akan memaafkanmu!

Bangun!

Kali ini aku bisa mendengar suara teriakan Resna, Faza, dan Fikri.

Sepertinya, teman-teman mu mengharapkan kau bangun, ah…aku ingin bertanya satu hal.

"Apa?" jawabku.

Apakah hidup teman mu, sangat berarti?

"Tentu saja," jawabku. "Mereka sangat berarti, tak ada yang lebih berarti selain mereka."

Jika kau harus mati untuk temanmu, maukah kau menyerahkannya?

"Tentu, jika tak ada pilihan lain."

Then…kau sangat, baik hati sepertinya.

Aku tidak menjawab, hanya diam memandang ke atas.

Baiklah…aku akan menolongmu, panggil namaku...dan aku akan menjadi pelayanmu.

"Apa maksudmu?" tanyaku.

Sampai jumpa, dan oh ya… kau hanya mempunyai sedikit waktu.

"He—" aku merasakan sesuatu yang panas merasuki tubuhku, panas tetapi menyegarkan.

"Apa yang harus ku lakukan? Memanggil namanya?" tanyaku dalam hati.

Aku memejamkan mata, sebuah burung mirip garuda, tetapi mempunyai ekor yang lumayan panjang, memiliki bulu berwarna merah, dan ia menangis? Muncul di dalam pikiranku.

Aku membuka mataku, dan pantai yang tadinya damai sekarang menjadi tak stabil, sekeliling ku dihisap oleh kegelapan, saat itu aku tau aku tidak punya banyak waktu.

Aku berfikir sejenak, dan—

"Fo̱tiá Poulia!" teriakku, dan sebuah cahaya membuatku pingsan.

Aku terbangun, oleh hujan.

Bukan ini bukan hujan, melainkan, tangisan Phoenix3.

Ia menangis, sangat lama, air matanya membanjiri tubuhku.

"PHOENIX!" teriak Nia.

"Master!" Ixion kagum.

Semua orang berhenti bertarung, mereka kembali terpaku oleh kekuatanku, tapi Nia tidak tinggal diam, ia menyerangku dengan Gravija4 tetapi percuma, tubuhku tidak apa-apa.

"Terima kasih Phoenix." Kataku yang sudah mulai baikan.

"Sudah tugasku, dáskalos5."

Aku langsung mencabuti ke 9 pedang yang menusuk di tubuhku, dan melemparnya ke Nia, Nia menghindar dengan mudah. Kronos mengeluarkan pedang besar dari langit, tetapi aku bisa menghindarinya dengan mudah.

"Ixion." Kataku.

Ixion mendekat dan langsung berubah menjadi aura berwarna biru cerah.

Aku masih melayang di udara, dan mengangkat Exeter.

"Hebat bocah," kata Exeter. "Ayo kita habisi dia!"

"Poulia." Kataku sekali lagi.

Phoenix berhenti menangis dan langsung berbuah menjadi aura berwarna merah cerah.

Kali ini di kanan dan kiri ku terdapat dua elemen yang berbeda, listrik dan api. Dalam keadaan masih mengangkat Exeter, Exeter berubah menjadi emas dan beraura penghancur yang dahsyat.

Kedua aura biru dan merah tersebut tersedot oleh auranya Exeter, dan kali ini Exeter berubah menjadi berwarna biru, merah, dan emas secara bergantian berubah warna.

Aku menekan pelatuk Exeter dan sebuah ledakan terjadi, sebuah angin yang sangat dahsyat menghancurkan para fiends dan para gamers menusukan senjatanya ke tanah untuk bertahan.

Nia yang masih diam, memandang ke atas. Kali ini mengeluarkan 2 buah pedang, keduanya terlihat kembar, tanpa basa-basi ia melompat ke atas di sertai Kronos yang melompat juga membantunya.

"Kau! TERLALU BANYAK MENYUSAHKANKU!" Suaranya menggelegar di udara.

"Kau yang TERLALU MENYUSAHKAN MANUSIA!" Balasku dengan semangat.

—TRANG!— Exeterku dan kedua pedangnya beradu, dari belakang Kronos melancarkan serangan dengan cakarnya, aura penghancur muncul dari tangan Kronos, aku menghindarinya, dan langsung terjun menerjang Kronos dengan kecepatan yang luar biasa cepatnya, sebelum Kronos bisa bertahan, aku sudah menendangnya, ia pun tersungkruk ke tanah, terjadi debuman besar.

"Penguasa bangsa Titan! Diamlah jangan mengganggu!" Teriakku yang sambil melompat menerjang Nia yang sama-sama menerjangku juga.

Tanpa banyak basa-basi aku langsung menggunakan skill Leon Heart, dengan cepat aku sudah berada di belakang Nia, menyerangnya kedepan dan kebelakang beberapa kali, dan menusuknya membawanya ke atas. Dari atas aku melemparnya dengan sekuat tenaga.

Ia terlempar ke tengah menjauhi bukit, sehingga para gamers dapat melihatnya dengan jelas, semua bersiap dalam keadaan siap tempur saat Nia di lempar ke sana.

"RareKill!" teriakku dari atas, aku langsung mengangkat Exeter ke udara lalu menurunkannya lagi, dan menembakan beberapa peluru ke Nia, dan bang! Kena.

Selagi ia lengah dengan tembakanku yang sangat cepat, aku menerjang ke arahnya, sama cepatnya sampai-sampai tak ada orang yang melihatku sudah berada di belakang Nia.

Aku mengambil ancang-ancang layaknya pemain baseball yang akan memukul bola, dan langsung menebasnya, Nia terkejut karena kekuatan tebasanku ternyata melemparnya sampai ke atas.

Aku mengarahkan Exeter ke arahnya, dan melepaskan kekuatan yang berada dalam Exeter, sebuah tembakan sinar menabrak tubuh Nia.

Ia berteriak, sampai seluruh kekuatan yang berada di dalam Exeter tak tersisa, sehingga Exeter berubah menjadi pedang mainan lagi.

Aku masih berdiri melihat ke atas, menyadari Nia masih hidup.

"HAHAHA!" Nia malah tertawa. "Kau sangat hebat, aku tidak salah memilihmu, REZA!"

Nia mengeluarkan sebuah panah, dan dalam keadaan siap menembak, semua orang siap melompat, entah mau melindungiku atau menyerang Nia. Tetapi—

"Kau salah—" kataku dengan dingin.

"Ap—" tanya Nia.

Dan benar saja, Nia merasakan tubuhnya tertebas oleh sesuatu.

Ia menoleh kebelakang dan melihatku, Phoenix, dan Ixion.

"Ke…kenapa kau ada dua!" tanyanya kaget.

Aku yang di bawah menghilang menyatu dengan angin, "Kau tau, aku sangat berterima kasih mempunyai teman." Kataku yang asli, yaitu yang berada di belakang Nia.

"Apa!" teriaknya. "Aku tidak terima!"

"You'll accept it." Kataku.

Phoenix menyanyi, perlahan-lahan tubuh Nia mulai menghilang, bagaikan abu.

"Tch…Maafkan aku ayah…" katanya.

Aku hanya diam tak berkata apapun.

"Reza…kau sangat kuat, tetapi masih banyak fiends yang lebih kuat dariku."

Masih terdiam.

"Seluruh…dunia sedang berperang melawan fiends dan ayahku."

"Siapa ayahmu itu?" akhirnya aku bersuara.

"Aku tidak dapat menyebutkannya, kalian akan mati jika menyebutkannya."

"Nia…" kataku.

"Hmm?" jawabnya.

"Kau itu kan anti global hacking virus, kenapa memilih menjadi fiends?"

"Seperti kataku sebelumnya…" kali ini tubuh Nia mulai hilang. "Takdir manusia sudah ditentukan oleh ayah."

"Maksudmu? Setidaknya berilah kami petunjuk." tanyaku.

"Kau akan mencarinya sendiri." Katanya.

"Kenapa kau—tak bisa mengatakannya?" tanyaku kembali.

Kali ini sudah mencapai leher tapi Nia masih berbicara, mencoba mengatakan kalimat terkahirnya. "—Kutukan—Ma—n—usia—g—a—" katanya.

Nia pun menghilang menjadi abu, bersamaan dengan datangnya bala bantuan dari Bu April.

Aku turun dalam keadaan compang-camping, Bu April menghampiriku.

"Thank's god! Dunia maya sedang kacau, aku susah mencari bala bantuan." Katanya padaku.

"Kalian terlam—bat." kataku.

"Me—reka?" Bu April ternganga melihat Ixion dan Poulia di belakangku.

—BRUK!— Aku pingsan kembali, dunia menjadi hitam kelam, dalam samar-samar aku melihat semua orang berkumpul sambil memanggil-manggil namaku, mengharapkan aku bangun.