A/N: Halo, minna! :D saya datang dengan chapter baru. Seneng dapat tracks yang lumayan dengan chapter satu itu. Maaf jika ada yang kurang berkenan, namanya juga saya masih sangat newbie. Maaf juga updatenya agak lama, saya juga salah satu author newbie yang paling ngaret di English. ._.

Disclaimer: Naruto bukan punya saya, punya Masashi Kishimoto tuh

Warning: kata-kata (sok) puitis, abal, aneh, dll.

FLAME doesn't work on me, people *big smile*

Psn tambahan: chapter ini semuanya dari Tenten POV okay okay ?

READY, SET, GO!

Chapter 2

What If?

Bagaimana jika fantasi-fantasiku menjadi nyata?

Bagaimana jika dia benar suka padaku?

Pada awalnya, aku tak mau terlalu berharap, tetapi, setelah sekian lama aku menyukainya, mengapa pikiranku malah dibukakan oleh sebuah buku?

Baru setelah lebih dari 7 tahun memendam perasaan, apakah aku ini tolol atau hanya lemot dengan soal seperti ini?

Mengapa pada akhirnya aku yang tegar ini tak bisa apa-apa?

Hanya memohon dan berdiam diri

Cinta itu rumit dan, mencontek kata Shikamaru, merepotkan

Tak peduli seberapa sakit perasaan itu, seberapa kecil kesempatan untuk bersamanya dan resiko di balik semua ini, aku menyukai dia. Absurd bukan? Bodoh bukan? Aku tak peduli dengan perkataan orang.

Ini cinta, perasaan yang kudapat setelah beberapa tahun dan juga sesuatu yang selama ini aku tidak mengerti. Terlalu gamblang dan reckless. Walaupun pada akhirnya, aku berhasil mengetahui apa itu, bagaimana perasaan orang yang sedang jatuh cinta dan juga kebodohan-kebodohan saat jatuh dalam surga dunia itu.

Karna sebuah buku! Katakan bahwa aku bodoh, tolol, atau apapun. Aku tak peduli karna mungkin aku pantas menerima semua ejekan itu. Pandanglah aku sebelah mata, itu tak apa! Karna aku tolol dan tersesat di jalan yang bernama 'love' tersebut.

Dia terlalu baik untukku, katakan itu! Sehingga pada akhirnya aku mungkin bisa merelakannya untuk orang lain. Untuk orang lain? Aku tidak kuat bahkan hanya untuk membayangkannya. Terlalu sulit untuk menaruh pikiran itu dalam otakku. Klise.

Hidupku terlalu mudah untuk dilewati jika tak ada masalah cinta ini. Aku tak mengerti apa yang sedang aku lakukan. Emosiku menjadi labil. Itukah yang harus dirasakan olehku di umur yang sudah mau mendekati 20 tahun? Emosiku seperti remaja yang baru menginjak 13 tahun.

Aku mulai berpikiran yang tidak jelas lagi, sebaiknya aku tidur supaya bisa berpikiran jernih pada pagi hari.


"Tenten," suara bariton yang sedikit serak itu memanggil namaku dari belakang. Suaranya. Tidak perlu waktu lama bagiku untuk mempercayai bahwa itu adalah dia.

"Neji," gumamku saat melihatnya. Rambut coklat panjangnya yang diikat di ujung seperti biasa, baju lengan panjang yang dipakainya, dan juga bagaimana dia berdiri gagah seperti ini. Sebuah karya Kami-sama yang luar biasa. Dia berjalan mendekatiku perlahan dan dapat kurasakan debaran-debaran pelan seperti setiap saat aku melihatnya.

"Tenten, aku harus pergi"

Apa? Aku terhenyak dengan perkataannya itu. Pergi? Ke mana? Orang yang kucintai selama 7 tahun ini harus pergi tanpa kuketahui alasan yang jelas. Matanya menatapku tajam, memperlihatkan bahwa dia benar-benar tidak sedang bercanda. Lagipula, Neji bercanda? Langka.

"Pergi? Pergi ke mana?"

"Ke suatu tempat, Ten. Maaf"

"A-Aku ikut!"

Tanpa kusadari aku mempunyai keberanian untuk mengatakan hal itu. Pergi dengan dia? Aku tak keberatan. Tetapi.. Sorot matanya aneh. Dia terlihat sayu dan kelihatan tidak mau aku ikut dengannya.

"Aku tak mau membuatmu jatuh dalam kegelapan, Ten.."

"Ne-ji," kataku terpatah-patah, tak mampu membendung segala emosi.

"Tenten, mungkin aku tidak berhaga untuk mengatakan ini, tapi, Ten, aishiteru."

"Ne-ji," panggilku dan menatap matanya yang indah tersebut.

"Dan bisakah? Bisakah kau menungguku sampai aku pulang?"

"Ne-neji, aishiteru no mata," akhirnya aku memberanikan diri mengatakan kata-kata tersebut dan dia tersenyum kecil.

"Selamat tinggal Tenten, jika Kami-sama mengizinkan, maka kita akan bertemu lagi," katanya sambil meninggalkanku dalam sekejap.

"NEJII!"

Peluh turun dari pucuk kepalaku dan terlihatlah kamar apartemen bobrokku di kedua mataku. Mimpi? Tapi itu semua terasa nyata, dari ujung rambutnya yang lembut itu melambai oleh angin hingga suara baritonnya yang khas terdengar di telingaku. 'Ten, aishiteru,' tiba-tiba kurasakan wajahku memerah dan merasakan perutku bergejolak. Suara baritonnya itu berubah menjadi lembut ketika mengucapkan kata-kata itu. Walau hanya di mimpi, tetapi aku dapat merasakan hati ini meleleh hanya dengar suara itu.

"Dreams feel real while we're in them. It's only when we wake up that we realize something was actually strange."

Cobb (Inception)

"Tenten!" seseorang memanggil namaku dari belakang. Terlihat seorang wanita pirang dengan bercepol 4 tersenyum merekah ke arahku. Dia Sabaku no Temari, kakak sulung dari Sabaku no Gaara, sepertinya baru datang dari Suna. Semenjak pertarungan kami sewaktu ujian Chuuninku yang pertama, aku mulai dekat dengannya, terlebih ketika aku menemuinya di Rumah Sakit Konoha sewaktu menjenguk Neji.

Senyumnya makin merekah ketika dia sudah dekat dan memelukku erat. "Tenten!" Suaranya yang manis membuatku tersenyum. Tidak ada salahnya jika para laki-laki di Suna dan Konoha banyak yang terpesona dengan kunoichi hebat satu ini. "Hey, hey, sudah. Nanti aku kehabisan nafas," kataku setelah dia memelukku makin erat. Dia melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar.

"Tenten, karena aku sedang free time, bagaimana kalau kita mengobrol? Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua," katanya sambil tersenyum. Senyumnya selalu tak bisa membuatku menolak keinginannya. Aku mengangguk dan raut mukanya terlihat lebih cerah.

"Ten, bagaimana latihan?"

"Hm, biasa saja dengan Neji yang terkenal dengan gila latihan, mungkin sedikit lebih ringan daripada dulu"

"Wow, akhirnya orang itu tobat juga."

Kami berdua tertawa lepas, menikmati dengan candaan-candaan satu sama lain tentang kegilaan Neji, terutama dengan latihan, wajah stoic-nya tersebut, atau tingkah lakunya yang lain.

"Oh ya, Ten. Bagaimana dengan perasaanmu padanya?" tanya Temari tiba-tiba.

Aku mendongak sejenak, melihat Temari yang tersenyum pahit. Dia adalah salah satu dari segelintir orang yang mengetahui tentang rasa sukaku pada Neji. Temarilah yang mendukung dalam setiap keputusanku, terutama ketika aku memutuskan supaya Neji tidak tahu akan perasaanku terhadapnya, walau dia sedikit tersenyum pahit. Temari juga yang mengetahui tangisan di dalam hatiku yang kupendam sendiri hanya dengan senyumnya yang mengkhawatirkan keadaan psikisku.

Dialah sang sahabat sejati yang mungkin kutemukan sekali di dalam seumur hidup. Aku tak tau bagaimana hidupku tanpa kehadirannya. Jika Kami-sama menginzinkan, mencontek kata-kata Neji di mimpiku, aku ingin kita berdua terus bersama hingga masa tua, memangku cucu-cucu manis yang mengitari dan mendengarkan cerita-cerita kami tentang masa muda.

"Begitulah Tem, dia masih tidak tahu, entah aku harus bersedih atau senang dengan kenyataan itu."

"Apapun yang terjadi, Ten, aku selalu ada buat kamu, walau sekecil apapun kemungkinan untukmu bersama Neji, aku selalu mendukung kebahagiaan kamu." Dia tersenyum kecil, menandakan bahwa dia serius dengan perkataannya.

"Makasih Tem," kataku. Tanpa perlu kubilang ke dunia pun, aku bahagia bahwa aku bertemu sosok wanita idaman sepertinya. Aku tersenyum dan memikirkan betapa galaunya aku semalam, betapa bingung aku memikirkan untuk memberitahukan kepada Neji atau memendamnya sendirian seperti sekarang.

"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Temari tiba-tiba, membuatku sadar dari lamunanku.

"Tem, aku sedang memikirkan bagaimana jika aku memberitahukan Neji apa yang kurasakan," kataku padanya.

"Apa? Menurutku, itu bagus Ten, mengingat betapa lamanya kau menyukai Neji tanpa dia ketahui," katanya tersenyum lebar, terlihat senang dengan keberanianku.

"Tapi, Tem, aku takut dia tak balik suka padaku,"

"Ten, jangan pesimis dahulu, jika kau tidak mencoba, kau akan menyesal di kemudian harinya."

"Aku takut, semuanya akan berubah, persahabatan kami berdua yang sudah dijalin dari 7 tahun lalu, aku takut itu lenyap, saat dia mengetahui bahwa aku menyukai dia,"

"Itu semua tak akan lenyap Ten, tidak peduli apakah jawaban dia di kemudian, mau dia menerima atau menolakmu, semuanya akan tetap sama,"

"Walau dia menerimaku, bagaimana kalau hubungan kami nanti kandas?" aku menelan ludah dengan pemikiran itu.

"Tenten, demi Kami-sama, daritadi yang kudengar bukan Tenten yang kutahu!" Aku mendongak mendengar perkataannya.

"Tenten yang kutahu selalu tegar, walau dia tak tahu dari klan mana dia sebenarnya berasal, siapa orang tuanya, atau latar belakang keluarganya. Tenten yang kutahu selalu sabar memendam semua ratap tangis di dalam hatinya. Tenten yang kutahu juga lah adalah Tenten yang selalu berpikiran positif terhadap masa depan. Tentenlah yang mengambil seluruh perhatianku saat dia bersamaku," kata Temari panjang lebar. Dapat kurasakan sesorot warna merah di kedua belah pipiku saat mendengar pujiannya tersebut.

"Temari, k-kau," dapat kurasakan lagi sebuah air mata terjatuh dari kedua pelupuk mataku. Aku tak dapat lagi membendung semua kesedihan, semua ratap tangis, dan semua sakit oleh karna cinta yang bodoh ini. Bukan, tetapi karna aku yang sama sekali tak tahu menahu tentang cinta dan juga tersesat di dalamnya.

"Semuanya akan baik-baik saja Ten, percayalah padaku, semuanya bakal baik-baik saja." Katanya sambil memelukku erat.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lewat, aku menangis di depan publik, tepatnya di sebuah restoran teh.

Semuanya tak mudah bagiku pada awalnya.

Aku berusaha, dengan sangat, supaya dia tidak mengetahui bahwa aku suka padanya.

Tanpa alasan yang jelas, aku tidak ingin dia tau.

Setelah insiden menangis di depan publik pada waktu itu, aku jadi semakin termotivasi untuk menunjukkan perasaanku pada Neji. Lebay? Terserah pandangan anda semua. Satu hal yang pasti sekarang, aku sayang dia dan itu tidak akan berubah, pada saat ini, karena di dalam hatiku sekarang telah ada api yang sedang berkorbar oleh perasaanku padanya.

Aku tak peduli jika nanti orang-orang akan menatapku sebelah mata karna kedekatanku padanya, buktinya, hanya bersikap sebagai teman saja, orang-orang sudah menatapku iri, terutama bagi kaum perempuan.

Seperti biasa, aku berjalan kaki melewati pertokoan di pagi hari. Orang-orang pun seperti biasa menyapaku yang hanya kubalas dengan senyuman. Pagi yang membosankan, seperti biasa, sebelum…

"TENTEN!"

Yap, satu suara cempreng yang sudah kuhapal. Seorang wanita berambut pirang -entah kenapa 2 hari ini aku bertemu orang pirang- yang sedang berlari dengan senangnya ke arahku. 'Memalukan,' pikirku dalam hati sambil menggelengkan kepala.

"Ino, bisa kan suaramu dikecilkan se-di-kit?" kataku sambil memberikan penekanan pada kata 'sedikit'.

"Maaf Ten, habis, akhir-akhir ini kau tidak datang ke acara 'Ladies Night' kita," kata Ino sambil cekikikan.

"Apa hubungannya?" tanyaku sambil menaikkan satu alis.

"Aku kan jadi kangen sama kamu," katanya sambil menggunakan intonasi yang menyebalkan. Melihat wajahku yang terlihat jijik dengan kelakuannya, dia tertawa lepas.

"Ten, kau harus melihat wajahmu yang tadi, lucu sekali!"

"Urusai,"

"Ayolah Ten, datanglah ke Pajamas Party yang akan kuselenggarakan besok malam,"

"Aku malas, Ino, kau sudah tahu aku tidak masuk ke hal-hal tersebut,"

"Ayolah Tenten, hanya satu malam dan aku yakin kau akan senang, lagipula kita tidak akan melakukan yang aneh-aneh kok,

"Ino, aku tidak suka dengan hal-hal yang terlalu feminim seperti itu, kau tahu bagaimana sifatku,"

"Ayolah Ten, Temari juga datang, selagi dia masih di Konoha," pinta Ino dengan wajah memelasnya. Mendengar nama Temari, aku pun bingung. Dia sahabatku dan aku tahu dia lebih suka menghabiskan malam dengan Rookie 9, terutama perempuan, dibandingkan dengan perempuan-perempuan Suna.

"Baiklah, tapi jangan berbuat yang aneh-aneh ya,"

"Makasih Tenten! Yeah! Kali ini Rookie 9 lengkap!" katanya girang. Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya yang satu itu.

"God, if you give me more braveness, maybe I can be with him now,"

Kulempar shuriken dan kunaiku secara acak. Inilah salah satu caraku untuk menghilangkan stress dan beban dari dalam tubuhku. Semua mengenai sasaran seperti biasa. Aku beralih pada kejadian setelah aku menemui Ino tadi pagi.


FLASHBACK STARTS

Ino melambaikan tangannya setelah aku menyanggupi ajakannya. Aku kembali berjalan ke jalan yang sama setiap pagi, menuju ke tempat di mana Memorial Stone itu berada.

"Kau telat," kata seseorang di belakangku dengan suaranya yang dalam.

"Neji?"

"Kau telat," dia mengulangi ucapannya itu.

"Telat?" kataku sambil melihat jam yang baru saja dibangun di belakang Memorial Stone. Benar katanya, aku telat 10 menit. Tapi hanya 10 menit kan? Itu bukan masalah yang besar.

"Aku hanya telat 10 menit, Neji," kataku sambil tersenyum simpul.

"Tapi tetap saja telat,"

"Neji," aku merajuk sedikit melihat wajahnya yang tidak terlihat gembira.

"Tenten, ada apa denganmu?" katanya datar.

"Maksudmu?"

"Ada yang aneh denganmu akhir-akhir ini, kamu ada masalah?"

"Tidak ada Neji, tidak terjadi apa-apa"

"Bohong," katanya.

"Neji, benar, tidak ada masalah yang besar,"

"Apa semuanya itu ada hubungannya denganku?"

Aku terhenyak mendengar perkataannya, yap, perkataannya tepat sekali, bahkan menusuk ke ulu hatiku. Tidak dapat kupikirkan bahwa dia akan menanyakannya langsung kepadaku.

"Benar kan, semuanya itu ada hubungannya denganku," kata Neji dengan wajah datarnya yang tetap saja seperti itu.

Aku hanya terdiam, entah kenapa aku tidak dapat membalas perkataannya tersebut. Tak ada suara yang bisa keluar dari mulutku. Sepertinya tubuh dan pikiranku tidak dapat menyatu seperti biasa lagi.

"Tenten, tatap aku," katanya sambil mengangkat daguku.

"Neji," panggilku kepadanya. Entah kenapa hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulutku.

"Tenten," katanya sambil mendekatkan mukanya ke arahku. Dahi kita bertemu dalam satu. Aku dapat melihat mata lavendernya yang menghinoptisku. Aku dapat merasakan degup jantungnya dan aku yakin dia dapat merasakan punyaku. Di tempat latihan itu, tepatnya di depan Memorial Stone, kami berciuman.

FLASHBACK ENDS


Seharusnya saat itu menjadi saat-saat yang paling menyenangkan dalam hidupku. Aku juga masih dapat merasakan bibirnya ternyata lembut tersebut berada di bibirku. Tetapi, ada satu hal yang tak membuatku tak yakin lagi membendung air mata ini. Setelah kita berciuman tiba-tiba dia membalikkan badannya dan berkata, "Maaf, anggap saja itu tak pernah ada."

Bagaimana mungin aku tidak menggila dan bingung seperti ini. Jikalau dia menyatakan perasaanku –oh tidak fantasi lagi- mungkin kita bersama sedang bermesraan. Pada kenyataannya, dia seperti tidak mau denganku atau ciuman itu hanyalah nafsunya belaka, bukan dari hati.

Aku tak mengerti seperti apa perasaannya yang sebenarnya terhadapku. Jika ia tak suka denganku, mengapa dia menciumku? Mengapa dia memberikanu harapan lebih? Itu semua akan lebih baik daripada aku bimbang dengan perasaannya yang sebenarnya terhadapku. Sakit? Tentu saja.

Segaris air mata menuruni pipiku. Terlalu besar cinta ini. Hingga semua ini terasa sakit, tanpanya di dekatku.

"Don't ever say that you can't live without someone, just say that your life isn't complete without that person"

Esok malam, aku sedang bersiap-siap dengan baju-baju di lemari pakaianku yang kecil. Aku baru menyadari bahwa aku tidak mempunyai baju yang cukup pantas untuk dipakai ke malam bersama perempuan-perempuan tersebut.

Sampai akhirnya, ekor mataku melihat satu rok mini yang tak pernah kupakai dalam keseharianku sebagai kunoichi. Rok mini itu adalah pemberian Temari sewaktu aku berulang tahun ke-16. Itu sudah lebih dari 3 tahun yang lalu. Aku sedang memikirkan apakah rok ini masih cukup atau tidak.

Pada akhirnya aku mencoba rok itu dan menyamakannya dengan kemeja panjang dan rompi yang juga sudah lama sekali tidak kupakai. Sepertinya malam ini aku akan tampil beda, mudah-mudahan saja teman-temanku itu tidak terlalu over dalam mengomentari. Aku juga menarik 2 cepolku sehingga rambut auburn dapat tergerai dengan bebas.

Aku berjalan menuju Toko bunga Yamanaka yang juga merupakan kediaman Ino. Malam itu tidak terlalu sepi, karna masih jam 8 dan juga banyak pasangan yang sedang jalan berduaan dengan mesra. 'Menganggu pemandangan saja,' pikirku melihat pasangan-pasangan tersebut dengan iri. Selama hampir 20 tahun hidupku, aku sama sekali belum pernah punya pacar. Bahkan Temari saja sudah 3 tahun berpacaran dengan Shikamaru. Itu semua karna Neji. Oh tidak,aku harus melupakan nama itu untuk malam ini.

Aku mengetuk pintu Toko Yamanaka dan menunggu Ino atau salah satu orang tuanya membukakan pintu, sampai..

"Tenten?"

"Neji?"

TO BE CONTINUED


A/N: akhirnya selesai juga chapter ini. Mudah-mudah readers semua senang dengan fic abal ini. Makasih untuk 3 orang yang sudah reviews. Ini semua repliesnya:

Liekichi-chan : thank you reviewsnya. Fic bagus? Arigatou *big smile* apa chapter ini sudah cukup dialog? Semoga suka yang satu ini ya

DeiSasuSaiKakaShikaHidan: Makasih reviewnya. Wah baguslah. Do you want to know a fact? Fic ini ada beberapa dari pengalaman. ;)

Pitophoy: Salam kenal juga. Mirip? Berarti kita sama *ngajak tos* semoga suka chapter yg ini. SENPAI? Sa-sa-saya masih newbie.

Dan maaf, mungkin chapter ke-3 agak lama update, soalnya mau fokus juga ama fic yang di English, udah ditagih soaln ya. Tapi saya akan berusaha mempercepat waktu update jikalau readers memberi reviews yang menyupport saya (^o^)

Jikalau ada typo, tolong beritahu saya letaknya

SELAMAT IDUL FITRI BAGI YANG MERAYAKAN

*telat*

SAMPAI JUMPA DI CHAPTER SELANJUTNYA

R n R please