A/N : Hola! UTS tempat kosu sudah selesai! SELESAI YEAH ! *menggila* tapi tetep ya, yang namanya Tahun Senior itu tugasnya tetap banyaaaak banget, dan semakin sedikit juga waktu buat update. Sorry if you think I updated this fic late. Salahkan guru-guru yang tetap saja memberi tugas seabrek-abrek gak berhenti, jadinya kosu ngerjain fic-fic juga di antara jam-jam pelajaran. *don't tell the teachers ;D* Yeah, inilah update fic The One and Only. Semoga semuanya suka seperti kosu yang cukup puas (walaupun tidak terlalu)
Disclaimer : Naruto bukan punya saya, tapi semua ide, alur fic ini hasil kerja otak saya yang abal ini.
Warning : (still) OOC, lebay, aneh, abal, blablabla, Don't Like? Click the button 'Back' please!
PS : (masih) Tenten POV
READY, SET, GO!
The One and Only
Chapter 3,Heart Stops
©kosukefan - brainproject
Bilanglah aku bodoh, aku tak apa
Katakanlah aku naïf, aku tak peduli dengan hal tersebut
Suruhlah aku untuk berhenti menyukai dia, sayangnya hal tersebut tak bisa kulakukan
Aku sudah jatuh terlalu dalam di cinta ini dan aku tak ingin dan akan menghentikan
Setiap kenikmatan dan pedih dalam lika-liku jalan cinta ini
"Neji.. Apa yang kaulakukan di tempat seperti ini?" tanyaku padanya dengan kebingungan yang sangat. Mana mungkin Neji mengikuti acara-acara wanita kan? Kecuali tiba-tiba dia mengganti kelaminnya yang sangat impossible. Oke, pikiranku mulai menggila dengan khayalan Neji yang tampan itu menjadi seorang wanita.
"Aku hanya... mengantar Hinata-sama sampai dengan selamat," katanya pelan. Neji terlihat sangat casual dengan kaos putih dan celana bahan hitam dan juga, sebenarnya aku tak ingin berkata seperti ini, tampan dengan rambut coklat panjangnya, yang aku yakin disisir dengan rapi oleh Hanabi, diikat seperti biasa. Wajah stoic-nya tetap dalam tempatnya tetapi sangat menggugah hati wanita, terlebih diriku, masuk dalam pesonanya yang luar biasa. Aku suka dia yang apa adanya, tetapi, sempurna.
Melihat dia yang seperti itu, rasanya aku ingin membawa dia dalam pelukanku, merasakan setiap kehangatan yang dapat terbagi di antara kita dan mengatakan kata "Aishiteru" di telinganya, tapi, hei aku perempuan kan?
Seandainya saja, wajah stoic itu mendekat ke arahku dan bibir lembut itu bertemu denganku seperti beberapa jam yang lalu. Seandainya saat aku membuka mata setelah kecupan yang sederhana itu, ada wajahnya yang tersenyum dan pandangannya yang menuju hanya ke arahku, tapi semua itu hanyalah mimpi, ya, mimpi. Aku hanya tak ingin segera berhenti berharap tentang semua ini.
"Tenten.." panggilnya membubarkan semua lamunan dan fantasi-fantasiku. "Bisakah kau menemaniku sebentar? Aku akan bilang kepada Ino sekalian pamit padanya," lanjutnya dengan bahasa yang sopan, walau aku dan dia sudah berkenalan lama, dan tutur katanya yang lembut tetapi sangat manly. Aku hanya mengangguk perlahan menunjukkan aku setuju dengan permintaannya. Lagipula, kapan lagi bisa kabur sebentar dari teman-teman, oke, sahabat-sahabat yang sangat girly tersebut dan sepertinya ini terlihat penting.
Angin malam berhembus dengan kencang dan kami berdua tetap jalan dalam diam. Lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan. Setiap rumah dihiasi dengan keindahan nyala lampu. Setiap detik berada di sebelahnya merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Setiap langkah yang kami ambil, aku tak tahu semua ini akan membawaku ke mana, hanya aku yakin, semuanya akan baik-baik saja.
"Can you feel the love in the air? 'Cause I feel it so much especially when you're around"
"Ten, tempat ini indah bukan?" tanya Neji dan dia siap mengambil ancang-ancang untuk duduk. Pandanganku meluas pada padang rumput di malam hari ini. Dia membawaku ke tempat yang indah, sangat indah, dan bersih. Dapat kulihat di seberang ada sungai kecil yang airnya sangat jernih. Tempat ini terlalu indah untuk dilupakan oleh sebagian besar orang, bahkan aku masih berpikir, apakah Konoha punya tempat sesempurna ini?
Hawa angin malam dapat kurasakan dan menambah kecantikan tempat ini. Aku dan dia duduk di antara rumput-rumput yang melambai-lambai. Pohon-pohon yang tidak terlalu besar ada beberapa di sekeliling padang rumput ini. Oh Tuhan, semua ini sangat sempurna dan aku merasa sangat beruntung dapat berada di sini terlebih dengannya.
Kurasakan otot-otot badanku melemas sebagai tanda bahwa tempat ini membuatku nyaman. Dia mulai rebah di antara padang rumput dengan santainya. Ketenangan, yang sangat jarang kutemui di sekitar Konoha yang aku kenal, menjadikan padang rumput ini akan menjadi kenangan tersendiri di otakku. Sekilas dapat kudengar suara-suara serangga di malam hari, menambah suasana alam di sekeliling kita berdua.
"Rebahlah, biarkan dirimu merasa nyaman, tempat ini akan membuatmu merasa demikian," katanya pelan sambil menyilangkan kedua tangannya di balik kepalanya. Aku pun mengikuti perkataannya dan merasakan suatu kesejukan yang masuk ke dalam jiwa.
"Neji, kita di mana?" tanyaku padanya yang sepertinya sudah sangat nyaman dengan posisinya. Aku masih ingat tadi kita melewati hutan yang menjadi saksi bisu Ujian Chuunin kita berdua.
"Di belakang hutan. Aku menemukan tempat ini saat mengawasi Ujian Chuunin 2 tahun yang lalu, semenjak saat itu, setiap ada masalah datang, terutama dari klan, aku selalu ke sini untuk menenangkan diri," jelasnya secara ringkas. Aku pun tersenyum melihat bagaimana dia mau memberitahu semua yang ingin kutanyakan langsung, seperti dia dapat menembus jauh ke pikiranku.
"Lihat, sekarang sedang bulan purnama," kataku sambil menunjuk langit. Langit di atas terlihat bersih, tanpa polusi, dan menunjukkan berbagai ragam keindahan sentuhan tangan Kami-sama. Bulan purnamanya pun terlihat sangat murni dan jelas jika dilihat dari bawah sini.
"Ya, indah sekali," katanya sambil mengecap kagum langit di atas. "Coba di pusat Konoha, langit seindah ini mungkin terlewatkan oleh penatnya pikiran, benar kan?" kataku masih sambil melihat langit. Lutut kami bersentuhan mengingat betapa dekatnya kami sekarang dan dapat kurasakan kehangatan tubuhnya lewat sentuhan ringan kami. Aku tersenyum melihat semuanya itu.
"Akhirnya kau tersenyum seperti itu juga," katanya tiba-tiba dan saat aku memalingkan wajah, kulihat matanya yang menatapku. Pandangan matanya yang tajam tetapi lembut itu dapat membuatku lupa akan segalanya, lupa bahwa saat ini dia bukanlah siapa-siapa selain hanya teman dan partner se-tim.
"Memang ada apa?" tanyaku perlahan, terlihat sangat grogi dengan pandangan matanya tersebut dan cara dia memperlakukanku seperti seorang wanita terhormat walaupun aku bukanlah siapa-siapa.
"Akhir-akhir ini, kau terlihat tak bersemangat dan seperti sedang banyak pikiran," katanya dengan jujur. Perkataan itu sedikit menohok hatiku dan menimbulkan rasa bahagia juga mengetahui bahwa dia memperhatikan perubahanku.
"Aku benar bukan?" katanya melihatku yang hanya diam saja. Mendengar hal itu, aku hanya mengangguk sambil memindahkan konsentrasiku ke langit di atas, berusaha untuk tidak memperdulikan hal tersebut.
"Sewaktu aku seperti itu, punya banyak masalah terlebih di klan seperti yang aku bilang, aku mencoba untuk merebahkan diri dan membuat badan menjadi sedikit relax dan cara itu berhasil. Aku jadi lebih tenang dalam menghadapi semuanya. Aku pikir, kau juga akan merasakan yang sama jika kuajak kemari," katanya padaku sambil tersenyum ringan.
Aku tak dapat percaya semua ini. Semua ini terlalu abstrak dan hanya mungkin terjadi di setiap khayalanku saja. Tetapi, semuanya terlihat nyata, terlebih lagi dengan senyumnya yang merekah di depanku, dengan beberapa helai rambutnya yang jatuh ke dalam mukanya. Kulitnya yang putih langsat bermandikan cahaya bulan yang remang-remang.
"Lalu, kenapa kau baru mengajakku sekarang?" tanyaku menggodanya, mengetahui dia sering memberitahukan hal-hal kepadaku.
"Kau tak pernah tanya," katanya singkat dan cukup untuk membuatku tertawa geli. Jarang-jarang dia menanggapi godaan yang aku berikan padanya. "Tapi kan kau bisa memberitahuku, padahal kau tahu aku pasti suka dengan tempat ini," kataku padanya sambil tertawa. Dia terlihat sedikit kesal dengan perkataan-perkataanku.
"Ayolah.. Neji, jangan ngambek,"
"Siapa yang ngambek?"
"Kau, Hyuuga Neji," kataku sambil tertawa lepas melihat tingkah lakunya yang kekanak-kanakan.
"Aku tidak ngambek,"
"Ya, kau ngambek,"
"Hhh, terserah kaulah Ten, berhentilah tertawa,"
"Tidak bisa, Neji. Seharusnya kau lihat mukamu pada saat sekarang ini! Lucu sekali,"
"Tenteeen!"
"Hahahahaha!" tawaku makin meledak mendengar suaranya yang memanggilku, terdengar sedikit cempreng walau masih dengan suara bassnya yang mendominasi. Tanpa sadar sekarang aku dan dia sudah duduk kembali di padang rumput ini.
Wajahnya masih terlihat kesal dengan semua godaanku dan merasa malu karna kutertawakan. Mau bagaimana lagi, dia memang terlihat lucu ketika sedang mengeluarkan setiap raut mukanya, seperti tadi aku melihatnya.
Aku siap melompat kaget ketika kurasakan 2 tangan besar yang melingkari tubuh mungilku ini. Dia, Hyuuga Neji, sedang memelukku dengan erat dari belakang dan aku tak dapat menahan untuk tidak berpikir bahwa kita berdua tidak memiliki hubungan apa-apa.
"Sekarang kau diam kan?" dia tersenyum dan menaruh kepalanya di atas kepalaku. Aku tersenyum juga merasakan kedekatan di antara kami. Kita berdua sama-sama melihat ke atas langit. Bulan purnama pada saat itu menjadi saksi bisu atas kegantungan hubungan ini.
"Can you feel the love tonight? It's where we are. It's enough for this wide-eyed wanderer that we got this far"
Elton John - Can You Feel the Love Tonight
"Kau tadi dibawa kemana Ten?" tanya Ino setelah dia membukakan pintu untukku.
"Memang ada apa Ino?"
"Tidak apa-apa, hanya sekarang sudah lewat jam 11, aku jadi takut kau tiba-tiba kesasar atau diculik atau.."
"Sudahlah Ino, lagipula aku dapat kembali dengan selamat, kau sedang mencoba untuk mengutukku ya? Haha"
"Bukan begitu Ten, tapi kau kan tau aku sangat khawatir,"
"Ya aku tahu, aku hanya bercanda, Ino, lagipula aku kunoichi dan Neji sudah jounin, mana mungkin ada orang non-ninja di desa ini yang berani melawannya,"
Dia mengangguk-ngangguk mendengar penjelasanku. Aku tahu dia khawatir dengan keadaanku, yang menghilang dibawa Neji. Aku juga keterlaluan dengan telat sampai larut seperti ini. Hanya saja, aku terlalu menikmati pelukan dari Neji. Kurasakan semburat merah di kedua belah pipiku mengingat kedekatanku dengan Neji tadi.
"Kenapa pipimu merah Ten? Kau membayangkan apa?"
"Tidak apa-apa Ino," jawabku parau
"Kau jadi terdengar seperti Neji, ne? Apa yang sebenarnya kalian berdua lakukan tadi? Aku jadi penasaran,"
"Kami berdua tidak melakukan apa-apa Ino! Jangan berpikir yang tidak-tidak,"
"Yang tidak-tidak seperti apa?"
"INO!"
Dia berlari ke arah tangga dan menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Mukanya terlihat puas dengan kekesalanku terhadap setiap kata-kata yang dia berikan. Sepertinya aku kena karma dari Neji karna menggodanya tadi.
Hyuuga Neji. Nama itu lalu menggenang di atas kepalaku lagi. Baru beberapa saat aku sudah rindu pada setiap senyumannya yang dia berikan, tapi apa daya, aku bukanlah siapa-siapa baginya. Aku hanyalah teman se-partnernya. Lalu, apa arti pelukan tadi? Apa arti ciuman yang dia berikan tadi siang? Semuanya membuatku semakin linglung dengan setiap masalah yang sekarang ada. Untuk pertama kali, aku membutuhkan nasihat dari teman-teman perempuanku itu.
Aku berjalan pelan di atas tangga, mengetahui bahwa teman-temanku semuanya tertidur di atas, dan mulai membuka kamar Ino yang besar tersebut. Nuansa pink langsung terlihat di depan mataku.
Ternyata, tidak semua. Temari masih terduduk di lantai dan melihatku sambil menghela nafas. "Tenten, kau telat," kata Temari dengan pelan. "Maaf Tem, Ino tidak cerita padamu?" tanyaku padanya. Dia terlihat sedikit kesal tetapi maklum dengan perbuatanku meninggalkan mereka malam itu. "Dia cerita dan aku maklum terhadap sikapmu yang memang seperti remaja jatuh cinta," katanya sambil tersenyum dengan manis. Lagi-lagi, semburat merah muncul di pipiku.
"Hanya saja, kau membuatku khawatir, bukan karna kau diculik atau apa, tetapi dengan Neji, bagaimanapun dia tetap laki-laki," katanya sambil menatap mataku tajam. Dia tetap bersikap seperti kakak perempuan bagiku ketimbang sahabat. Semuanya juga mungkin karna aku juga sebatang kara semenjak masih kecil.
"Maaf, Tem, aku tak bermaksud membuatmu khawatir," aku menunduk, menandakan aku sangat menyesal dengan kelakuanku. Wajahnya berubah menjadi wajahnya yang ramah dan bersemangat seperti biasa. "Baiklah Ten, kau dimaafkan, jadi, apa yang kau lakukan dengannya tadi?" tanyanya dengan penuh semangat. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang, sepertinya.
"Now, I love him like the first time I met him years ago"
Apa kau tau saat-saat yang paling menyenangkan dalam hidup? Saat kau mempunyai seseorang untuk berbagi cerita tentang setiap lika-liku kehidupan yang kau jalani dan dia jalani. Tak hanya itu, orang tersebut bisa menerima kita apa adanya, terlebih ketika kita bukanlah siapa-siapa, hanyala seorang gadis yang hidup sendirian tanpa bergelimangkan harta ataupun status yang tinggi di masyarakat. Aku juga beruntung, menemukan Temari yang tak pernah berhenti menjadi penopang hidupku.
Terlebih lagi di saat seperti ini, saat dimana cinta menjadi suatu masalah yang sangat sulit dihadapi. Di saat kita di tengah kegalauan yang hebat tetapi tak ada yang peduli dengan kita. Yah, kecuali Kami-sama dan Temari. Hyuuga Neji. Nama orang tersebut bisa membuatku merasakan kegalauan hati yang sangat parah. Membuatku menjadi sangat-sangat berlebihan dalam setiap kelakuanku.
Siapa yang memberiku support? Kunoichi-kunoichi Rookie 9, terutama, Sabaku no Temari. Dia selalu setia mendukungku saat aku tengah galau dalam menghadapi semua ini? Dia bukan? Yah, walau Neji selalu ada di sampingku dibandingkan dia.
Kami-sama? Katakan padaku mengapa dia tetap tidak menyadari setiap senyumanku padanya, setiap detik ku mencintai dia, mengapa dia tidak kunjung sadar juga? Aku lelah, semua ini hanya membuatku makin gila dengan harapan-harapan bahwa suatu saat aku bisa berdiri di sampingnya untuk selamanya. Kami-sama… Setiap pagi aku membuka mata, aku ingin sekali melihatnya ada di sebelahku, tersenyum, dan mengatakan "Ohayou". Kami-sama, Kau tahu aku sudah lama mencintainya. Memang cintaku ini tulus, tapi sampai kapan lagi aku hanya diberikan harapan-harapan kosong yang tak ada matinya. Sampai kapan, Kami-sama?
Aku tahu semuanya akan indah pada waktunya, tapi sampai kapan? Aku terlalu letih untuk tetap bertahan dalam konsidi seperti ini. Mungkin memang benar aku sudah lama mencintainya, tapi aku mengetahui dengan pasti bahwa kecil kemungkinan untuk dapat bersamanya. Aku bukanlah seorang wanita kaya, apalagi cantik, yang klannya anggap pantas untuk mendampingi jenius sepertinya. Aku hanyalah orang pinggiran yang bahkan tak diindahkan oleh binatang sekalipun.
Klan itu juga terlalu tinggi untuk dapat kuraih, mana mungkin suatu saat aku akan mendapatkan marga "Hyuuga" di namaku. Itu hanyalah mimpi kosong, mana mungkin para petinggi klan memperbolehkan aku bersama dengannya. Kami-sama, Kau juga tau kan?
Setiap keluhan yang aku keluarkan, itu semua karna aku sudah terlalu lama seperti ini. Menanti yang tidak pasti, yaitu Hyuuga Neji, dan sekarang dia malah memperlakukanku seperti kekasihnya yang dia cintai, walau aku tau dia pasti berfikir kebalikan. Aku hanya ingin dia melihatku, melihat kesungguhan yang aku punya untuk bisa bersamanya dalam setiap waktu. Mungkin, dia hanya menyangka aku hanya bersamanya sebagai teman dan partner biasa.
"You're like an Indian summer in the middle of the winter, like a heart candy with a surprise center, how do I get better once I've had the best? You said there's tons of fish in the water, so the water I will test"
Katy Perry – Thinking of You
"Tenten-san! Selamat datang kembali!" sapa sang pelayan restoran BBQ yang sering kukunjungi bersama tim geninku sebelum Neji menjadi Jounin. Sampai sekarang, aku masih sering datang ke mari untuk bernostalgia sebentar sendirian atau bersama Lee dan Neji. Suasana di sini masih seperti saat aku pertama kali makan malam pertama kalinya sekitar 7/8 tahun yang lalu. Ketika aku sedang sendirian, aku selalu duduk di kursi yang sama selama bertahun-tahun itu, sampai pegawai lama dan pegawai yang paling baru pun mengenalku di sini sebagai salah satu pelanggan tetap.
Wangi daging yang baru matang sampai pada hidungku. Wangi khas yang sudah aku kenal dari dulu dan tetap membuatku tergugah saat menciumnya. Daging BBQ di sini sangatlah empuk dan sangat enak di lidahku, tak pernah aku merasakan bosan atas daging-daging ini. Chouji pun juga menjadi pelanggan tetap bersamaan dengan timku.
"Selamat datang kembali, Tenten-san. Ambillah daging seperti biasa," sapa salah seorang koki lama di sini. "Terima kasih, Tenji-san. Seperti biasa, anda terlihat sehat," kataku dengan sopan sambil mengambil sumpit untuk mengambil daging-daging yang terlihat sangat enak di depanku. Tipe restoran ini bukan seperti restoran BBQ kebanyakan, melainkan seperti restoran sushi, dengan menaruh daging di tempat pembakaran yang bisa berputar, yang menjadi ciri khas dari restoran ini. Ada juga meja untuk memesan daging, tetapi tetap aku menyukai cara makan yang seperti ini.
Aku masih ingat pertama kali Neji diajak makan seperti ini. Dia kagok dengan meja berputar karena terbiasa makan yang dihidangkan oleh para saudaranya dan tidak pernah di tempat yang seramai ini. Bahkan, banyak orang yang berebut daging sambil bercanda, membuat dia tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Walaupun pada akhirnya, dia terbiasa dan bersikap tidak peduli dan menikmati makanan di sini.
Di tengah kesibukan kita berdua, aku juga masih sering mengajaknya makan di tempat ini dan dia tak mampu menolak, karna dia juga kecanduan dengan restoran ini walau tidak separah aku dan Lee. Dia merasa tenang jika aku ada di dekatnya dibandingkan disuruh makan sendirian, yang aku tahu dia akan langsung keluar dan mencari tempat yang lebih sepi.
Daging-daging itu kukunyah dengan pelan, menikmati keenakan rasa di setiap potongan daging tersebut dan tak lupa mengambil butir-butir nasi dengan pelan. Rasanya masih seperti dulu dan membuatku mengingat setiap kenangan antara tim geninku dulu. Mulai dari pertarungan pertama Neji dan Lee dengan Neji sebagai pemenangnya, mengakibatkan Lee nangis sesenggukan karena merasa gagal di depan Guy-sensei, hingga sekarang, saat Lee sudah makin dewasa tetapi tetap saja masih kekanakan dengan Guy-sensei sehingga membuat Neji sering mengejeknya dengan datar dan Lee mengerucutkan mulutnya, tanda tidak setuju dengan perkataan Neji.
Semua itu membuatku makin banyak makan dan memutuskan untuk berhenti. Aku mengambil daging sebagai potongan terakhir dan melumatnya dengan pelan, menikmati kunyahan demi kunyahan, serta membereskan piring serta sumpit. Saat hendak menelannya, sang ninja medis berambut merah muda datang dengan tergesa-gesa masuk ke restoran dan berjalan cepat ke arahku. Dia mengambil nafas dengan cepat dan dapat terlihat dengan jelas banyak peluh di mukanya. Aku masih mengunyah daging tersebut saat dia berkata,
"Tenten-chan! Neji-san masuk rumah sakit dan sedang kritis!"
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, potongan terakhir itu terasa pahit di lidahku
To Be Continued
A/N : Hhhhh, akhirnya selesai juga chapter ini. Readers tau? Kosu sudah menyelesaikan fic ini dari hari pertama selesai UTS dan baru seminggu setelah hasil rapor tengah semester keluar, baru selesai. Mumpung lagi libur, makanya ngebut bikin fic, mana kena mind block berkali-kali lagi. Sampai capek sendiri lihat file ini di laptop, bilang "Ini chapter kok gak selesai-selesai ya?" Sekitar 3 minggu buat chapter ini, dengan masih tersendat-sendatnya kosa kata dan otak yang pengen diajak berantem gara-gara udah kecapekan dengan tugas sekolah. *jadi curcol*
Tapi last but not least, overall, kosu lumayan puas dengan chapter yang ini. Kenapa? Karena setelah 3 minggu guling-guling cari kosa kata dan ide yang numpuk tapi sama sekali gak nyambung *maaf, kemampuan saya memang masih newbie banget* , kosu akhirnya baca ulang chapter ini sampai 3x *tapi maaf kalo ada typo* buat mikir apakah ini chapter layak buat di-update, kalo gak, kosu hapus filenya terus bikin baru *dan itu terjadi pas buat chapter 2*, kosu ngerasa puas aja dengan alur di sini, walau tetap bagi kosu fic ini gak ada apa-apanya dibandingkan fic-fic senior dan newbie yang lain. Apalagi pendek, sedang yang lain bisa di atas 3000 minus A/N. *mojok* *nangis* *minum racun serangga*
Okay, segitu aja deh curcolnya, kosu buat chapter ini sambil dengerin lagu Thinking of Younya Katy Perry (lagu slow yang nyentuh hati banget); One More Time, One More Chancenya Masayoshi Yamazaki; dan I Write Sins Not Tragediesnya Panic! At the Disco. Yang readers non log-in dibales di sini:
Tina Hatake : Salam kenal juga. Semoga senang dengan chapter yang ini. Kyaaa, makasih udah nunggu *lebay* Iya ya, sedih jadi Tenten. *nangis sendiri*
Aoiboshi : Hua, senang bisa membuat orang nostalgia *kicked* Makasih pujiannya, ini updatenya
YuYa AkaTsuki eL-Gaara : Udah update. Thanks for reviewed, semoga suka ama yang satu ini.
Mugiwara Piratez : Gak kayak newbie? Masa sih? *blush* Iya, ini fic memang fokus ke Tenten, tapi di chapter yang ntar bakal ada aktivitas ama chara yang lain selain Neji, Ino, sama Temari. Tetapi ama Temari tetap difokuskan *ops spoiler*
Segitu replies untuk yang non-login. Yang login? Periksa inbox masing-masing ya. Kosu bales cuma pas update ficnya, jadi maaf kalo misalnya ada yang marah-marah gara-gara reviewsnya telat dibalas. Gomen. (_ _)
Oh ya, ada yang udah baca Different World, Different Time, One Heart? *promosi* First One-shot kosu! Cuma kayaknya masih abal banget deh. *nangis di pojokan* Kosu juga lagi ngerjain multi chapter satu fic baru, tetap NejiTen. Ada beberapa perbedaan dengan fic ini, genrenya Angst *spoiler again* . Okay, udah sangat panjang A/Nnya, semoga suka dan tahan marah-marah karna kosu kebanyakan curcol, hati-hati, marah-marah dosa lho. *big smile*
Jaa ne!
