Balasan review non-login:

Shaneeta Chornicles: Wah tau aja. XD ah makasih koreksinya, saya upayakan chapter ini gak ada typo, oh ya, akhirnya The One and Only abis loh (dan saya lagi males buat A/N panjang-panjang)

Pokoknya Neji Ten Selama-lamanya : gomen, updatenya telat, ini aja baru selesai UAS, dan inilah THE LAST CHAPTER! *pake toa *ditabokin missal

Yuya Akatsuke eL – Gaara : Makasih reviewnya, iya saya semangat kok, ini the last chapternya dan yah, saya juga gak kepikiran bakal secepet ini.


READY, SET, GO!

The Last Chapter of…


The One and Only

Chapter 4, Feeling of This Heart

© kosukefan – brainproject

Disclaimer: Naruto is Masashi Kishimoto's great work

Warning: OOC bertebaran, mungkin typo juga bertebaran, lebay, dll.


"No matter how hard this life become, I still thank God that He gives me you to make my life more miserable"


Rintik-rintik hujan tidak kunjung berhenti semenjak kemarin. Semua ini hanya menambahku semakin khawatir. Salahkah ku bila hanya kau yang kini berada di kepalaku? Air di pelupuk mataku sudah kutahan supaya tidak keluar. Di ruangan kecil ini, aku masih tetap menunggumu untuk bangun dan menatap mataku lagi. Hari demi hari kulalui dengan datar tanpa menyelesaikan satu misi pun. Kau tahu? Saat ini kau masih yang terpenting bagiku. Lihat! Lihat wajahmu sekarang! Dengan senyuman simpul kau berbaring seakan ingin meninggalkanku sendirian. Apa daya, aku memang bukan siapa-siapa bagimu dan setiap detik kau terbaring di sini, rasanya aku ingin tetap di sini bahkan sampai maut datang menyambut kita berdua. Aku sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali aku makan denganmu, tapi bagiku semua ini tidak penting. Aku tertunduk sekali lagi, mengingat betapa lemahnya aku untuk tak melindungimu.

Aku juga masih ingat matamu yang sepertinya selalu ramah di dekat Sakura-san. Mengapa pada akhirnya takdir begitu kejam? Mengapa sekarang kau terbaring dengan sang ninja medis yang mengobatimu setiap waktu dengan senyumannya yang tulus dan perhatiannya yang begitu besar? Mengapa bukan aku? Kau tahu sekarang aku tersenyum perih menikmati segalanya. Sakura-san sekarang sedang memeriksa keadaanmu yang masih tetap terbujur diam dengan matanya yang tulus mencintaimu. Betapa beruntungnya dia yang dapat meluluhkan berbagai laki-laki dengan wajahnya yang manis dan tubuhnya yang sangat proporsional serta mungkin mendapatkan pria sepertimu, orang yang kucintai hampir seluruh hidupku.

"Tenten-san? Sepertinya Neji-kun sudah membaik, syukurlah," dengan mudah dia mengatakannya kepadaku dan berjalan menuju pintu. "Sakura-san? Bolehkah aku bertanya kepadamu?" aku masih menunduk dan menatap pria itu tanpa melihat sedikit pun ke arah wanita tersebut. "Maaf, Tenten-san, bisa lain kali saja? Masih ada beberapa pasien. Bagaimana kalau jam makan siang?" katanya dengan intonasi yang ramah dan lembut, tidak sepertiku, serta dapat kurasakan senyumannya yang dapat menghipnotis berjuta-juta lelaki di luar sana. "Tidak usah, maaf menganggu Sakura-san," kataku pelan tetapi mungkin masih dapat didengar olehnya. "Ie, tidak apa-apa Tenten-san, tolong jaga Neji-kun, ya?" dia berlalu dan dapat kudengar kenop pintu yang ditutup. 'Neji-kun?' sudah berulang-ulang aku mendengar kata-kata tersebut dan ternyata benar, ada sesuatu di antara mereka berdua. Aku hanya menghela nafas dan tetap menatap wajahnya yang datar dan tanpa ekspresi dalam tidur lelapnya.

Hujan mulai berhenti sore ini. Kubuka jendela perlahan-lahan mengikuti kata Sakura-san kemarin. "Ketika hujan telah berhenti, tolong dibuka jendelanya Tenten-san. Hal itu bagus untuk perkembangan Neji-kun. Mungkin sinar matahari dapat membangunkannya," kuingat-ingat kata-katanya yang begitu enak didengar dan lagi-lagi membuatku cemburu buta.

Perlahan, aku mengingat-ingat setiap detik bersamanya dulu, sebagai partner kerja tentunya. Bagaimana dia bisa mendampingiku dalam memperbaharui jutsu-jutsu yang aku punya. Dalam setiap waktu, aku ingat setiap saat tubuhnya yang sedang berjalan di sampingku. Setiap hembusan nafasnya yang teratur, mata lavendernya yang dapat menghinoptisku secara perlahan dan juga bibirnya yang lembut. Ciuman itu, lagi-lagi perlahan aku mengingat setiap inci bibirnya di bibirku. Setiap kehangatan yang kita berdua bagi dalam kedekatan mesra kita. Hanya satu yang mengganjal di hati, apakah dirinya benar-benar menginginkan hal tersebut atau hanya karena nafsu semata? Bolehkah aku berharap sedikit saja tentang hal tersebut? Aku sebenarnya sudah lelah berlama-lama seperti ini. Bertahun-tahun hanya menatap wajahnya dan tak punya keberanian untuk mengatakan setiap perasaan yang aku pendam. Berbagai bentuk emosi yang tetap tak bisa aku keluarkan di hadapan banyak orang, sejuta tangisan yang tetap tak bisa keluar dari kedua mataku. Satu hal yang aku takutkan selama mendampinginya di rumah sakit ini, aku takut… kehilangan dia.


"This is my dirty secret, I love you and I can't love anyone else"


Hari ini genap 1 minggu semenjak dia koma dan para dokter dan suster sekarang sudah mengusirku keluar dari kamar rawatnya. Entah mengapa, aku ingin melihat setiap sikap keras kepala yang keluar dari dalam dirinya saat dia berada di sebelahku. Seminggu hanya menemaninya di rumah sakit, aku tidak punya uang yang cukup untuk minggu depan. Sepertinya, satu misi tingkat D cukup untuk membiayai kebutuhan seminggu ke depan.

Sebenarnya, apa yang aku cari dari kehidupan ini? Uang dari misi? Menikah? Punya anak? Menikmati masa-masa tua? Atau mengikutsertakan diri dalam perang besar? Berdasarkan info yang kudengar belakangan ini, Uchiha Madara semakin kuat dan sepertinya perang besar akan segera tiba. Tetapi, dalam beberapa tahun hidupku ini, aku bimbang dengan apa yang aku inginkan. Hyuuga Neji kah? Menjadi kunoichi yang kuat? Setidaknya, untuk sekarang, Hyuuga Neji dan latihan sudah sama pentingnya.

Pusat kota inilah tempat aku dahulu dibesarkan. Aku yang sudah yatim piatu semenjak kecil hanya mengandalkan uang dari Hokage dan terbiasa hidup sendiri. Di tempat inilah, aku dulu diajarkan mengatur hidup sebatang kara dari para pedagang. Sampai sekarang pun namaku maish terkenal di sekitar sini. 'Toko Bunga Yamanaka' Plang tersebut tiba-tibat datang ke penglihatanku saat sedang melamun. 'Apa Ino ada di dalam?' batinku. Saat ini, aku butuh seseorang untuk mendengarkan celotehanku. Untuk pertama kalinya.

Bunga-bunga yang indah terpampang dengan rapi di toko Ino. "Ah! Selamat datang!" sapa Yamanaka-san dengan begitu anggunnya. "Konnichiwa, Yamanaka-san, Ino ada?" kataku sambil tersenyum simpul. "Tenten-chan, tumben sekali datang kemari duluan. Ino ada di kamarnya, seperti biasa," Ah, seandainya saja aku bisa seperti Yamanaka-san yang begitu anggun, pasti klan Hyuuga akan mempertimbangkan. Hei, sudah Tenten, berhenti berharap terlalu tinggi! Neji tidak menyayangimu lebih daripada teman. Aku mengambil langkah gontai menuju lantai atas. Pintu Ino yang bernuansa merah muda pun aku ketuk pelan. "Masuk!" terdengar suaranya dari dalam kamar. "Ino?" aku melonggokkan kepalaku masuk ke dalam kamar. "Tenten?" dia langsung berhamburkan diri ke pintu. "Tumben kau datang dengan sendirinya tanpa bilang-bilang," dengan muka yang kaget dia membukakan pintu dengan lebar, mempersilakanku masuk. "Hehe, gomen," jawabku sambil cengengesan, yang tentu saja palsu. Mana mungkin aku bisa tersenyum setelah apa yang diberitakannya. "Tidak apa-apa sih Ten, aku hanya kaget saja. Ada apa?" tanyanya langsung. Entah mengapa sahabat-sahabatku ini semuanya langsung tahu masalahku.

"Aku dengar Neji juga koma, ada apa sebenarnya, Tenten? Kau tidak cerita dengan satupun dari antara kami," katanya sambil menatap mataku. "Ino…" aku tidak kuat membendung semua ini, seakan seluruh lidahku kaku. Seakan-akan aku hanyalah wanita cengeng yang tidak ada artinya. "I-Ino… Semuanya ini salahku, bukan dia, tapi mengapa harus dia yang terbaring, bukan aku? Mengapa dia tidak membalasnya? Hah? HAH! Katakan semua ini salahku, Ino! Supaya aku mungkin bisa menghilang dari hadapannya dan tak pernah lagi ada!" aku meraung dan tidak bisa berhenti menyalahkan semuanya. Aku tahu semua ini, semua ini memang salahku. Rasanya semua seperti tak ada lagi. Sebenarnya untuk apa aku berada di samping dia selama ini? Aku tidak ada gunanya bagi dia. Aku mulai kehilangan kontrol emosiku. Tidak ada hal yang dapat membuatku tenang kali ini kecuali Hyuuga Neji.

Aku tidak tahan lagi dengan semua ini. Ino terlihat kebingungan dan menahanku supaya tidak jatuh langsung ke lantai. "Tenten, Ten, apa yang sebenarnya terjadi, hei? Ceritakan kepadaku," kedua tangannya memegang pipiku dan membuatku menatapnya. "A-aku tak bisa, I-Ino, aku tak bisa jika tidak ada dia," bicaraku mulai kacau dan tidak ada arahnya. Semua ini membuatku gila. Aku tidak dapat lagi membuat kata-kata yang jelas. "Tenten!" dia berteriak sambil tangannya beralih ke kedua bahuku yang mungil. "I-Ino… Kan-Kankurou memukulinya," kataku sambil mengucapkan adik dari sahabatku juga orang yang dekat denganku. "I-Ino... Aku tidak bisa menyalahkan Kankurou juga, dia melakukan itu se-semuanya karena dia cemburu," 'Setelah melihat Neji menciumku,' aku melanjutkan kata-kata tersebut dalam batinku saja. "Tenten… Malam ini kau boleh menginap di tempatku, tuangkan semuanya, Ten, dan tersenyum seperti biasa besok pagi," Ino memelukku makin erat. Semua ini hanya membuatku menangis makin menjadi-jadi.


"Cause when you're fifteen and somebody tells you they love you, you're gonna believe that, when you're fifteen and your first kiss, makes your head spin around"

Taylor Swift – Fifteen


Pagi ini tidak seperti hari-hari setelah kejadian ciuman waktu itu. Ino sedang tertidur dengan lelap setelah semalaman kubuat sibuk dengan tangisan-tangisan hebohku. Aku menatapnya nanar sambil tersenyum. 'Terima kasih, Ino,' batinku sambil merapikan bajuku. Apa lagi yang aku cari di dunia ini? Aku punya teman-teman yang bersedia membantuku. Mengapa rasanya sangat sulit untuk bisa menerima bahwa Neji tidak menyukai perempuan sepertiku? Aku melangkah keluar kamar dengan pelan-pelan sebelum Ino bangun dan menyadari bahwa aku sudah tidak ada di sana.

Langkah demi langkah aku tata ke apartemenku. Tas berisi seluruh perlengkapan ninja dan perlengkapan sehari-hari kuambil dan kutata lagi langkahku menuju tempat yang tidak kuketahui di mana ujungnya. Untuk saat ini, aku akan mengembara ke tempat yang tidak diketahui, meninggalkan seluruh kenangan-kenangan yang ada. Dini hari tersebut, aku, Tenten, telah pergi dari Konoha dan pada suatu saat nanti, jika Kami-sama mengizinkan, akan kembali lagi.


"Going back to the corner where I first saw you"

The Man Who Can't Be Moved – The Script


FINISH



A/N : Maaf kalau pendek banget DX

Mau sekuel? RnR!