24 WISHES

"Sasuke..!"

Naruto yang tadi ada di luar kembali masuk ke kelasnya, karena menyadari Sasuke tidak ada diantara para murid yang berlarian ke tempat evakuasi.

"...?"

Saat itu ia mendapati Sasuke tengah berdiri kaku dan menatap keluar sana.

"Ka..kakak? Kakaaakkkk...!"teriak Sasuke histeris.

"...!"

Naruto terdecak. Orang yang ada di kabin robot yang rusak parah itu adalah kakak Sasuke?

"Sasuke, kau mau kemana?"tegur Guru Iruka ketika Sasuke tiba-tiba saja berlari meninggalkan kelas.

"Aku akan menolong kakak!"

"Tunggu!"

Sebuah cengkraman cukup kuat menyambar lengan Sasuke.

"Kau tidak boleh ke sana! Disana berbahaya!"jelas Guru Iruka setengah panik.

"Aku tidak peduli!"erang Sasuke marah seranya berusaha melepaskan diri dari cengkraman Guru Iruka. Dipikirannya saat ini dipenuhi bayang-bayang kakaknya yang sekarat di dalam kabin itu.

"Tim paramedis akan segera datang menolongnya. Kau tidak perlu pergi ke sana. Kakakmu akan baik-baik saja. Percayalah!"

Sasuke terdiam. Usaha kerasnya untuk lepas dari cengkraman Guru iruka terhenti. Matanya menatap khawatir ke arah robot itu. Di sana...di dalam sana, ada kakaknya yang menunggu untuk diselamtkan.

"Sasuke..."panggil Naruto pelan.

"Aku mengerti!"

Sasuke pun bersedia mengikuti mereka menuju tempat evakuasi.

Guncangan keras dari sebuah robot yang terjatuh tiba-tiba itu juga terasa hingga ke kediaman keluarga Hyuuga, membuat semua yang ada di rumah besar itu berlarian dengan panik menuju tempat yang aman.

"Apa yang sedang terjadi?"tanya ? pada pelayan yang membantunya berdiri.

"Sepertinya terjadi pertarungan di atas. Kita harus segera pergi dari sini, Tuan!"

"Ta..tapi Hinata..."

Kata-kata ? terpotong oleh ledakan yang tiba-tiba muncul di dekat rumah mereka. Angin dan asap menyatu dan memecahkan seluruh kaca jendela. Alarm bahaya mulai berbunyi nyaring dari sebuah runagan dimana gadis berambut indigo itu terkurung. Layar besar yangb ada di pinggir ruangan itu pun menunjukkan warna merah menyala dan tulisan "bahaya". Itu membuat gadis itu terbangun!

"Tuan..?"

"Aku harus ke tempat Hinata! Kau pergilah!"

"Tuan..."

Kesetiaan dan kepercayaannya pada keluarga besar itu membuat sang pekayan yang sudah berumur itu tak tega untuk pergi meninggalkan majikannya. Ia pun menyusul sang majikan menuju tempat sang "putri" terkurung. Tapi di sana...

"Hinata..!Tidak ada..!"

Gadis itu sudah tidak ada di sana!

xxxxxxxxxx

sementara itu di atas sana, terjadi pertarungan tembak-menembak para robot tempur dari satuan pertahanan "Bumi Kedua" dengan robot-robot tempur tidak dikenal yang tiba-tiba muncul dan melakukan penyerangan.

"Sial! Sebenarnya apa yang mereka inginkan?"geram Anko-san sambil menembaki robot tempur yang menyerangnya.

"Ba..bagaimana sekarang, Anko-san?"tanya Shizune khawatir. Ia tampak kewalahan menghadapi sepasukan robot tempur itu.

"Itachi bagaimana?"

"Ada laporan kalau Sakura-chan dan tim paramedis lainnya sudah bergerak menolongnya,"jawab Shizune.

"Syukurlah,"Anko-san bernapas lega."hei, Kakashi! Sudah waktunya kau melakukan sesuatu!"

"Ya, akan segera kulakukan!"ucap laki-laki yang dipanggil Kakashi itu seraya melepas penutup mata kirinya.

xxxxxxxxxxxx

Beberapa hari setelah kejadian itu...

"Kita akan kemana?"tanya Sasuke dingin pada Guru iruka yang hari itu tiba-tiba memanggil ke kantornya setelah sekolah selesai. Tanpa menjelaskan apa pun, ia langsung meminta Sasuke untuk mengikutinya. Dan kini mereka sampai di sebuah stasiun kereta luar angkasa.

"Tentu saja, menjenguk kakakmu."

"...!"

Naruto terus melempar kerikil-kerikil kecil di tangannya ke arah kolam air mancur di taman. Seragam sekolahnya masih melekat di badannya. Buktin kalau ia tidak pulang ke rumah sejak 2 jam yang lalu. Entah kenapa, sesuatu mendorongnya untuk berpikir tentang Sasuke. Selama ini, ia tidak menyadari bahwa Sasuke tidak pernah bercerita ataupun mengadu tentang masalahnya, hidupnya, dan apapun tentangnya meski ia sudah menganggapnya sebagai teman. Baru sekarang ia merasa tidak tahu apa-apa tentang sahabatnya sendiri.

"Aku memang bodoh!"keluh Naruto seraya melempar kerikil terakhirnya ke kolam. Tiba-tiba...

"Maaf, apa kau punya makanan?"

"...?"

Naruto cuma bisa terpaku saat melihat gadis berambut indigo itu.

Di waktu yang sama di tempat lain...

"Maaf, kami harus mengatakan ini padamu, Sasuke,"ucap Anko-san lemah. Saat ini ia harus memberitahu informasi sulit yang harus diberitahukannya pada bocah berambut ayam itu. Informasi yang sudah memberinya pukulan berat sebagai teman seperjuangan. "Kakakmu...akan lumpuh!"

"...!"

Sebuah pukulan berat menghantam keras batin Sasuke. Tak ada kata-kata yang bisa terucapkan saat ketidakpercayaan memenuhi jiwa,pikiran, dan batinnya saat itu.

Bersambung...!

Next of 24 wishes...

"Aku...merasa bodoh karena aku baru menyadari aku tidak tahu apa-apa tentang sahabatku sendiri."

"Lakukan pencarian Hinata diam-diam!"

"Ijinkan aku bergabung dengan kalian!"